Bagian I
Sistem Tulisan
Bab 1
Tulisan dan Bahasa
1.1 Pengantar
Topik kita dalam buku ini adalah kaligrafi, yang secara harafiah berarti “tulisan yang indah”—atau tepatnya, tulisan berseni (karena tidak semua kaligrafi, ataupun semua seni, harus indah).
Ada dua unsur di dalam kaligrafi: tulisan dan seni. Kedua unsur ini berbeda tujuannya. Tujuan dasar tulisan adalah mewujudkan bahasa secara visual untuk menyampaikan informasi atau pesan, pada orang lain, atau pada diri kita sendiri. Untuk mencapai tujuan ini, tulisan harus bisa dibaca dan dimengerti dengan jelas. Seni tidak selalu dibutuhkan untuk mencapai tujuan seperti ini.
Tujuan seni adalah menyampaikan sesuatu yang lepas dari (atau menambah pada) informasi dan pesan. Kalau diterapkan pada tulisan, seni bisa mewujudkan suatu
konsep mengenai proporsi dan keseimbangan atau bisa mencip takan suatu komposisi yang me ngesankan. Seni bisa juga meng ekspresikan sesuatu—misalnya, kepribadian si kaligrafer (penulis/ seniman), emosinya, semangat agamanya, atau suasana dan sikap yang menurut kaligrafer cocok dengan apa yang ditulisnya.
— Sistem Tulisan dan Kaligrafi
seni lebih dominan, sementara kepentingan penyampaian informasi berkurang atau malah hilang. Pada umumnya kaligrafi mencakup kedua tujuan itu sekaligus: memadukan pertimbangan informasi dan seni. Kadangkadang, pertimbangan yang satu lebih diutamakan, begitupun sebaliknya.
Gbr. 1-2 : Pertimbangan seni bisa lebih dominan daripada keterbacaan.
Bahan mentah seni kaligrafi adalah tulisan, dan kita tidak bisa membicarakan kaligrafi tanpa membicarakan tulisan. Tujuan kami di sini bukan untuk membedakan antara tulisan dan kaligrafi secara jelas. Tidak bisa ditentukan di mana tulisan berhenti dan di mana kaligrafi dimulai. Penjelasan dalam buku ini akan kami bagi dalam dua bagian. Bagian pertama menguraikan beberapa sistem tulisan dahulu, dengan memperhatikan fungsinya: bagaimana suatu sistem tulisan mewujudkan suatu bahasa. Lalu, bagian selanjutnya akan menguraikan beberapa tradisi kaligrafi dan perkembangannya.
1.2 Tulisan dan Bahasa
Apa itu tulisan? Sebagaimana telah disebutkan dalam Pengantar, tulisan adalah sarana untuk mewujudkan suatu bahasa secara visual. Definisi ini
biasanya dilengkapi dengan keterangan:
...diwujudkan dengan tanda pada suatu medium tetap (misalnya kertas, batu, logam—tidak mencakup bahasa isyarat) atau suatu medium elektronik (lewat komputer).
Tulisan tidak identik dengan bahasa. Satu sistem tulisan bisa dipakaiSatu sistem tulisan bisa dipakai untuk beberapa bahasa. Lihat contoh di bawah ini:Lihat contoh di bawah ini:
Di sini beberapa kata dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf Latin. (Bahasa Indonesia)
Here are some words in English written in the Latin alphabet. (Bahasa Inggris)
Voici des mots en français, écrits en alphabet latin. (Bahasa Perancis)(Bahasa Perancis)
Dan satu bahasa bisa ditulis dengan lebih dari satu sistem:
Gbr. 1-3: Judul suatu cerita, Hikayat Si Miskin, ditulis dalam tiga sistem tulisan: (atas) ditulis dengan huruf Latin, (tengah) ditulis dengan huruf Jawi [bahasa Melayu/Indonesia dalam huruf Arab], dan (bawah) ditulis dengan aksara Jawa [“hanacaraka”].
— Sistem Tulisan dan Kaligrafi
Apakah Gambar Merupakan Tulisan?
Apakah gambar tanpa kata—rambu-rambu lalu lintas (Gbr. 1-4), gambar-gambar pada tombol dalam lift (buka pintu, tutup pintu, naik, turun), atau petun-juk pemakaian alat dengan gambar—bisa dianggap tulisan?
Gambar-gambar tersebut memang menyampaikan pesan, tetapi tidak teri-kat pada teri-kata-teri-kata tertentu atau bahasa tertentu. �alau seorang �ndonesia melihat�alau seorang �ndonesia melihat gambar di bawah ini,
dia langsung menafsirkannya “Jangan merokok.” �alau seorang dari �nggris meli-hatnya, dia akan berpikir “No smoking.” Seorang Perancis: “Défense de fumer.” Seorang Jerman: “Nicht rauchen.”
Jadi, mengacu pada definisi di atas (bahwa tulisan adalah sarana untuk mewujudkan suatu bahasa secara visual), gambar-gambar tersebut tidak bisa di-anggap tulisan.
Gbr. 1-4: Apakah gambar dua tanda lalulintas ini termasuk tulisan?
1.3 Jenis Sistem Tulisan
Dalam sejarah manusia, beberapa jenis sistem tulisan pernah diciptakan. Kami akan mengurainya dengan contoh dalam babbab berikut, namun jenisjenis sistem tulisan akan disebut di bawah ini:
• sistem logografis – setiap grafem menandai satu kata seluruhnya, bukan bunyibunyi di dalamnya. �isalnya, dalam bahasa Indonesia, grafem�isalnya, dalam bahasa Indonesia, grafem <2> adalah simbol logografis untuk kata dua. Kita tidak bisa mengetahui bagaimana <2> diucapkan dengan melihat grafemnya saja—kita harus tahu dulu, baru bisa mengucapkannya. (Tetapi Bahasa Indonesia bukan suatu sistem logografis—penggunaan grafem logografis dalam Bahasa Indonesia sangat terbatas.) Dalam suatu sistem logografis murni, setiap kata dalam bahasanya harus ditulis dengan grafem sendiri, dan ada ribuan atau puluhan ribu kata dalam suatu bahasa.
• sistem silabis – menggunakan grafem untuk menandai suku kata (silabel, syllable). Jadi kalau kita mengetahui bunyi dari setiap grafem (suku kata) dalam sebuah kata, kita bisa menggabungkannya untuk mengetahui bunyi kata seluruhnya. Dalam suatu sistem silabis murni, setiap suku kata mempunyai grafem sendiri—tetapi jumlah silabel dalam suatu bahasa jauh lebih sedikit daripada jumlah kata.
• sistem alfabetis – menggunakan grafem untuk menandai bunyi yang terdapat dalam suatu kata. Ada tiga macam sistem alfabetis:
Dua Istilah: Grafem dan Morfem
Dalam buku ini, kami akan menggunakan dua istilah khusus: grafem (bahasa �nggris: grapheme) dan morfem (bahasa �nggris: morpheme).
Grafem adalah suatu simbol yang dipakai dalam suatu sistem
tulisan—sim-bol apa saja: huruf; angka; titik, koma, dan tanda-tanda lain; tanda vokal di atas dan di bawah huruf dalam tulisan Arab; “karakter” dalam tulisan Tionghoa; dan sebagainya.
Morfem adalah satu unit makna dalam bahasa (bukan dalam tulisan) yang tidak bisa dibagi lagi menjadi unit makna yang lebih kecil. Dalam bahasa
�ndone-sia, satu kata bisa terdiri dari satu morfem saja: misalnya tebal, merah, apa,
bina-tang. �ata-kata semacam ini tidak bisa dibagi menjadi te– dan –bal, karena kalau
terpisah, kedua suku kata itu tidak memiliki arti. Hanya te+bal yang memiliki arti. Ada pula kata yang terdiri dua morfem atau lebih. Bagaimana = bagai+mana,
sia-pa= si+apa, rambutan=rambut+an (–an adalah sebuah morfem yang di sini berarti
— Sistem Tulisan dan Kaligrafi
a) yang hanya menandai bunyi konsonan (b, c, d, f, g, m, s, dan seba gainya) dan tidak menandai bunyi vokal (a, e, i, o, u)
b) yang menandai konsonan dengan tanda ekstra di atas, di bawah, atau di sekitar grafem konsonan, untuk menandai vokal yang diucapkan bersama konsonan itu (lihat keterangan mengenai sistemsistem tulisan India dan Indonesia)
c) yang menandai konsonan dan vokal masingmasing dengan grafem sendiri. Sistem tulisan Latin—yang Anda baca saat ini—adalah seSistem tulisan Latin—yang Anda baca saat ini—adalah se buah sistem alfabetis model c.
• sistem campuran, sebagian logografis dan sebagian silabis atau alfabetis.
1.4 Semua Sistem Tulisan Terbatas
Dengan satu pengecualian saja, tidak ada sistem tulisan yang bisa mencakup
semua bahasa di dunia. Kenapa? Karena semua sistem tulisan (kecuali yang satu itu) disesuaikan menurut bahasanya sendiri. Suatu sistem logografis atau silabis hanya menandai kata dan silabel yang terdapat dalam bahasanya sendiri—tak mungkin menandai semua kata dalam semua bahasa! Dan suatu sistem alfabetis hanya akan menandai bunyibunyi dari bahasanya sendiri, bukan dari bahasabahasa lain. �isalnya, alfabet bahasa Indonesia tidak harus mencakup bunyi yang tidak terdapat dalam bahasanya, seperti bunyi u Perancis (yang dibuat begini: ucapkan bunyi i [misalnya dalam di], tetapi dengan bibir dimajukan seolah mau mengucapkan bunyi o), atau bunyi “klik” yang terdapat dalam beberapa bahasa di Afrika Selatan.
Suatu sistem tulisan biasanya diperuntukkan bagi orang yang sudah memahami bahasanya. Dan bagi penutur asli, ada beberapa hal yang tidak perlu diberi tanda, walau bisa membingungkan orang asing. �isalnya, dalam bahasa Indonesia, satu grafem bisa menandai dua bunyi. DalamDalam kata luput, bunyi grafem <u> pertama tidak sama dengan bunyi grafem <u> kedua. Tetapi semua orang Indonesia tahu bahwa vokal dalam suku kata yang “terbuka” (yang tidak berakhir dengan konsonan; misalnya lu–)
Pengecualian yang sudah disebut di atas adalah International Phonetic Alphabet (IPA), yang diciptakan oleh ahliahli linguistik supaya semua bunyi dalam semua bahasa bisa ditulis demi kepentingan analisis. Jadi pengetahuan seorang penutur asli tidak mem pengaruhi alfabet. Ketiga bunyi yang ditulis dalam bahasa Indonesia dengan grafem <e> ditulis dalam IPA begini:
dalam kata empat ə dalam kata Medan e dalam kata zed ε
berbeda dari vokal dalam suku kata yang “tertutup” (berakhir dengan konsonan; misalnya –put). Dan kalau semua orang tahu hal itu, sistem tulisannya tidak perlu repotrepot memberikan tanda. Contoh lagi: grafem <e> menandai tiga bunyi dalam bahasa Indonesia: bandingkan bunyi <e> dalam empat, Medan, dan zed.
Dalam bahasa Inggeris, grafem <s> bisa menandai bunyi /s/ (misalnya dalam house) dan bunyi /z/ (dalam houses). Grafem ganda <gh> bisa menandai /f/ (laugh), /g/ (ghost), atau bisa hilang saja dari ucapan (night, through).