• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembimbing : Ahmaad Chairul Hadi, MA. Daftar Pustaka :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pembimbing : Ahmaad Chairul Hadi, MA. Daftar Pustaka :"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

v

ABSTRAK

Idrus Afandi. NIM 11150490000120. KLAUSULA EKSONERASI PADA PERJANJIAN TAKAFULINK SALAM MENURUT HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN HUKUM PERJANJIAN ISLAM. (Studi Kasus di PT Takaful Keluarga). Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M.

Studi ini membahas mengenai penerapan perjanjian baku pada polis asuransi dan analisis polis pada produk takafulink salam terhadap klausula eksonerasi atau klausula yang mengurangi atau bahkan menghapus tanggung jawab pelaku usaha. Produk takafulink salam ini merupakan bentuk penggabungan antara asuransi jiwa dan investasi sekaligus dalam satu produk.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian normatif empiris yakni mengkaji peraturan-peraturan yang berhubungan dengan penelitian serta melakukan wawancara kepada pegawai Asuransi Takaful Keluarga mengenai implementasi perjanjian baku atau polis pada produk Takafulink Salam. Penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), konseptual, dan pendekatan kasus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Pertama, aplikasi dari perjanjian baku pada polis produk Takafulink Salam sudah bersifat final dan tidak bisa direvisi oleh peserta. Kedua, polis yang dikeluarkan oleh perusahaan masih ditemukan pencantuman klausula eksonerasi seperti klausula-klausula pembatalan perjanjian, klausula-klausula daluarsa pengajuan klaim, klausula potongan pembayaran manfaat keadaan perang, klausula mengenai risiko investasi, klausula mengenai perusahaan yang dapat mengubah perhitungan nilai unit. Ketiga, larangan pencantuman klausula eksonerasi ini terdapat pada Pasal 18 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Dalam hukum perjanjian Islam juga tidak sesuai dengan prinsip hukum Islam yakni kedzaliman.

Kata Kunci : Klausula Eksonerasi, Asuransi Syariah, Perlindungan Konsumen, Perjanjian Islam.

Pembimbing : Ahmaad Chairul Hadi, MA. Daftar Pustaka : 1985-2019.

(6)

vi

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirrabil‟Alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan keberkahanNya sehingga penulis dapat menyelesaiakan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, semoga kita bisa mendapatkan syafa‟atnya kelak di akhirat nanti.

Skripsi ini mungkin tidak dapat diselesaikan oleh penulis tanpa bantuan serta dukungan dari pihak-pihak yang ikut berproses dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu izinkan penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada para pihak yang ikut andil dalam penyelesaian skripsi ini, kepada yang terhormat :

1. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. AM. Hasan Ali, M.A., selaku ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah dan Dr. Abdurrauf, Lc., M.A., sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

3. Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku Dosen Pembimbing skripsi yang senantiasa dapat meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan masukan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Dr. Muh. Fudhail Rahman, Lc., M.A., selaku Dosen Pembimbing Akademik. 5. Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

yang telah mendidik, membimbing serta memberikan ilmunya dengan ikhlas selama masa perkuliahan.

6. Ibu Fenti dan Ibu Puja selaku pegawai di Takaful Keluarga, terima kasih telah memberikan kesempatan untuk memperoleh data serta telah bersedia menjadi salah satu objek penelitian ini.

(7)

vii

7. Staf karyawan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum, Perpustakaan Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan staf akademik Fakultas Syariah dan Hukum.

8. Kepada orang tua tercinta yaitu Bapak Kasdini dan Ibu Siti Taruniasih, adikku tersayang Nur Ashinta, serta saudara sepupu Fitrianingsih dan Sahrul Mauludin yang selama ini selalu memberikan doa, dukungan, dan semangat kepada penulis.

9. Rijal Hanafi yang telah banyak membantu selama proses penulisan skripsi. 10. Teman-teman Hukum Ekonomi Syariah Angkatan 2015 dan sahabat-sahabat

Hukum Ekonomi Syariah D.

11. Join, teman nyaman selama masa perkuliahan Rijal, Faris, Bowo, Fadhel, Dhanang, Guntur, Anas, Fuad, Nazri, Rifan, Irwan.

12. Serta teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas doa-doa terbaiknya.

Jakarta, 24 November 2019

(8)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iviii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

F. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 7

G. Metode Penelitian ... 9

H. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

A. Tinjauan Umum Perjanjian Baku ... 15

1. Pengertian Perjanjian Baku ... 15

2. Prinsip-Prinsip Perjanjian Baku ... 17

3. Pengaturan Pencantuman Klausula Baku ... 18

4. Klausula Eksonerasi ... 19

B. Tinjauan Umum Asuransi Syariah ... 24

1. Pengertian Asuransi Syariah ... 24

2. Prinsip-Prinsip Asuransi Syariah ... 26

3. Dasar Hukum Asuransi Syariah ... 29

(9)

ix

5. Unit Link Syariah ... 32

C. Tinjauan Umum Perlindungan Konsumen ... 35

1. Pengertian Perlindungan Konsumen ... 35

2. Dasar Hukum Perlindungan Konsumen ... 36

3. Asas-Asas Perlindungan Konsumen ... 38

4. Prinsip-Prinsip Perlindungan Konsumen ... 39

D. Tinjauan Umum Hukum Perjanjian Islam ... 40

1. Pengertian Hukum Perjanjian Islam ... 40

2. Keabsahan Perjanjian menurut Hukum Islam ... 41

3. Asas-Asas Hukum Perjanjian Islam ... 42

BAB III GAMBARAN UMUM ASURANSI SYARIAH TAKAFUL KELUARGA ... 45

A. Profil Singkat Takaful Keluarga ... 45

B. Visi dan Misi ... 46

C. Struktur Organiasi ... 46

D. Produk-Produk Asuransi Takaful Keluarga... 47

BAB IV PENERAPAN KONTRAK BAKU DAN ANALISIS POLIS TAKAFULINK SALAM ... 52

A. Penerapan Perjanjian Baku Pada Polis Produk Takafulink Salam ... 52

B. Klausula Eksonerasi Pada Produk Takafulink Salam ... 59

C. Klausula Eksonerasi Pada Produk Takafulink Salam Menurut Hukum Perlindungan Konsumen dan Hukum Perjanjian Islam... 68

BAB V PENUTUP ... 71

A. Kesimpulan ... 71

B. Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

(10)
(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Proses globalisasi yang terjadi dalam sistem keuangan dan pesatnya kemajuan di berbagai bidang teknologi informasi serta investasi telah menciptakan sistem keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait. Ditandai dengan munculnya beberapa perusahaan-perusahaan baik dalam perbankan maupun lembaga keuangan non bank yang berbasis konvensional ataupun syariah, seperti contohnya asuransi.

Semenjak berdirinya lembaga keuangan seperti perbankan syariah barulah para pakar ekonomi Islam mencoba membuka peluang investasi dalam hal perlindungan aset dan kepemilikan, disamping itu adanya kesadaran serta dukungan masyarakat muslim pada ketentuan ajaran Islam yang bersifat komprehensif, profesional integral, serta kesiapan diri dalam menghadapi tantangan zaman dengan demikian berkembanglah tuntutan untuk bermuamalah, khususnya di bidang perasuransian.1

Pola yang dikembangkan asuransi syariah dan konvensional mempunyai perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan diantara keduanya adalah asuransi konvensional dilakukan dengan cara memindahkan resiko, sedangkan asuransi syariah perusahaan hanya menjadi perantara dari peserta

1

Fitriyah, “Penyelesaian Sengketa Asuransi Syariah Menurut Perspektif Badan Arbitrase Syariah Nasional dan Badan Mediasi Asuransi Indonesia” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), hal.1

(12)

asuransi. Dalam konsep syariah yang diterapkan merupakan konsep tolong-menolong (ta‟awun).2

Dalam kemajuan dunia perasuransian, muncul salah satu produk terbaru dari asuransi jiwa, yaitu produk unit link. Produk unit link merupakan salah satu produk asuransi jiwa yang sedang berkembang saat ini disamping produk asuransi jiwa tradisional. Produk ini dibentuk dengan menggabungkan antara produk asuransi jiwa dengan instrumen investasi, dimana peserta diberikan dua manfaat sekaligus yakni manfaat atas risiko (proteksi) dan manfaat investasi (tabungan).3

Kontrak atau perjanjian pada dasarnya dibuat berlandaskan asas kebebasan berkontrak diantara dua pihak yang memiliki kedudukan seimbang dan kedua pihak berusaha mencapai kata sepakat melalui proses negoisasi. Dalam perkembangannya, banyak perjanjian dalam transaksi bisnis bukan melalui negoisasi yang seimbang di antara para pihak. Salah satu pihak telah menyiapkan syarat-syarat baku pada formulir perjanjian yang sudah ada kemudian disodorkan kepada pihak lain untuk disetujui dengan hampir tidak memberikan kebebasan sama sekali kepada pihak lainnya untuk melakukan negosiasi atas suatu syarat-syarat yang disodorkan.4

Dalam perjanjian antara perusahaan asuransi syariah dengan peserta asuransi yang digunakan merupakan perjanjian baku, yang berarti bahwa perusahaan telah menentukan isi, syarat-syarat, hak dan kewajiban para pihak

2

Moh Ma‟sum Billah, Kontekstualisasi Takaful dalam Asuransi Modern: Tinjauan

Hukum dan Praktek, (Jakarta: PT. Multazan Mitra Prima, 2010), hal.30.

3

Asri Hamdi Fauziah, “Analisis Kesesuain Syariah Terhadap Polis Asuransi Jiwa Unit Link Syariah Pada PT Prudential Life Assurance Jakarta” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), hal. 2.

4

M. Roji Iskandar, “Pengaturan Klausula Baku Dalam Undang-Undang

Perlindungan Konsumen dan Hukum Perjanjian Islam”, Amwaluna, Vol. 1, Nomor 2, (Juli, 2017), h. 212.

(13)

sehingga tidak ada kesempatan bagi peserta asuransi untuk mendiskusikan atau tawar-menawar isi dari polis yang dikhawatirnya memuat klausula eksonerasi (pengalihan tanggung jawab).

Adanya klausula eksonerasi ini tentunya merugikan bagi peserta atau debitur yang menginginkan perjanjian tersebut hanya dihadapkan pada dua pilihan yaitu menandatangani atau menolak perjanjian yang disodorkan kepada peserta asuransi tanpa bisa tawar-menawar. Pencantuman klausula ini terjadi karena posisi para pihak tidak seimbang, sehingga salah satu pihak lebih kuat kedudukannya. Kondisi seperti inilah yang rentan adanya penyalahgunaan dari pihak yang menentukan isi perjanjian.5

Dari hukum positif untuk melindungi kepentingan konsumen dari hal yang merugikan didalam polis yang dikenal dengan perjanjian baku tersebut berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, diantaranya melarang ketentuan baku yang terdapat dalam pasal 18 UU Perlindungan Konsumen.6 Kemudian Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan peraturan dengan Nomor 1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13/SEOJK.07/2014 Tentang Perjanjian Baku.

Pembatasan penggunaan klausula eksonerasi terdapat dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen membuat sejumlah larangan penggunaan klausula baku dalam standar kontrak. Dari ketentuan pasal tersebut, larangan penggunaan standar kontrak dikaitkan dua hal, isi dan bentuk penulisannya. Dari segi isi, dilarang menggunakan standar kontrak yang mencantumkan klausula-klausula yang

5

Zakiyah, “Klausula Eksonerasi Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen”, Volume XI Nomor 3, Desember 2017, hal 437.

6

Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian Dalam Transaksi di Lembaga

(14)

tidak adil. Sedangkan dari segi bentuk penulisannya, klausula-klausula itu harus dituliskan dengan sederhana, jelas, dan terang sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh konsumen.7

Dalam hukum perjanjian Islam juga menganut asas kebebasan berkontrak (al hurriyah) yaitu suatu perjanjian atau perikatan akan sah dan mengikat kedua belah pihak apabila ada kesepakatan suka sama suka (antaradhin) yang terwujud dalam dua pilar yaitu ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan).8 Asas ini menggambarkan adanya prinsip dasar muamalah yaitu kebolehan (mubah) yang berarti bahwa hukum Islam memberikan kesempatan yang luas untuk bermuamalah asalkan tidak melanggar syariat.

Pada dasarnya menurut hukum Islam perjanjian baku itu boleh sesuai dengan asas ibahah dan asas kebebasan. Tetapi kaitannya dengan klausula eksonerasi telah menyalahi asas perjanjian dalam Islam. Ada beberapa asas yang tidak ditemukan dalam klausula eksonerasi, yaitu tidak ditemukannya asas kebebasan, asas konsensualisme, asas keseimbangan, asas kemashlahatan, asas amanah, dan asas keadilan.9

Berdasarkan penjelasan dan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penyusunan skripsi tentang “KLAUSULA EKSONERASI PADA PERJANJIAN TAKAFULINK SALAM MENURUT HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN HUKUM PERJANJIAN ISLAM (STUDI KASUS PADA PT TAKAFUL KELUARGA).

7

M. Roji Iskandar, “Pengaturan Klausula Baku Dalam Undang-Undang

Perlindungan Konsumen dan Hukum Perjanjian Islam”, Amwaluna, Vol. 1, Nomor 2, (Juli, 2017), h. 201.

8

Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum Perbankan dan Peransuransian Syariah di

Indonesia (Jakarta: Kencana, 2004) h., 190.

9

Mu‟adil Faizin, “Keabsahan Klausula Eksonerasi Perjanjian Baku Dalam Perspektif Hukum Islam”, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2018), hal,. 89.

(15)

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut :

1. Adanya kemungkinan kerugian terhadap peserta asuransi syariah yang mencantumkan klausula eksonerasi dalam perjanjian baku.

2. Kesenjangan antara pelaku usaha dengan konsumen dalam penerapan perjanjian baku.

3. Adanya kedudukan yang tidak seimbang antara pelaku usaha dengan konsumen.

4. Perlindungan terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajiban konsumen.

C. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas sehingga pembahasannya lebih jelas dan terarah sesuai dengan yang diharapkan penulis. Dalam penelitian ini, penulis hanya akan membatasi pada polis produk takafulink salam di Asuransi Jiwa Syariah Takaful Keluarga sebagai objek penelitian. Adapun yang akan diteliti adalah polis produk takafulink salam.

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penerapan perjanjian baku pada polis produk takafulink salam di PT Takaful Keluarga?

2. Apakah polis produk takafulink salam mencantumkan klausula eksonerasi pada standar kontraknya?

(16)

3. Bagaimana klausula eksonerasi dalam polis produk takafulink salam menrurut hukum perlindungan konsumen dan hukum Islam?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah penulis uraikan di atas, maka tujuan diadakan penelitian adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana penerapan perjanjian baku pada polis asuransi pada produk takafulink salam di Takaful Keluarga.

b. Untuk mengetahui apakah polis produk takafulink salam telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

c. Untuk mengetahui perspektif hukum perlindungan konsumen dan hukum perjanjian Islam mengenai pencantuman klausula eksonerasi.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian akan lebih bermanfaat apabila mempunyai data yang akurat dan dapat menambah wawasan bagi pembaca, oleh karena itu, penulis merumuskan manfaat penelitian sebagai berikut :

a. Manfaat Teoritis

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi ilmiah dan teoritis terhadap perkembangan ilmu hukum ekonomi syariah. Terkhusus dalam hal klausula eksonerasi dalam polis asuransi syariah. 2) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian dan evaluasi serta sebagai bahan rujukan ilmiah dalam prosess belajar mengajar di

(17)

Fakultas Syariah Dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta, dan umumnya bagi seluruh akademisi, sarjana hukum dan praktisi hukum lainnya di seluruh Indonesia.

b. Manfaat Praktis.

Hasil penelitian ini secara praktis dapat dijadikan sebagai pedoman mengenai ketentuan polis pada asuransi syariah maupun konvensional, penelitian ini juga bermanfaat bagi para peminat hukum ekonomi dan praktisi bisnis syariah dalam menganalisis tentang pencantuman klausula eksonerasi pada kontrak baku dalam asuransi syariah.

c. Manfaat Akademis

Secara akademis, penelitian ini merupakan syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum dalam Program Studi Muamalat (Hukum Ekonomi Syariah) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

F. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

Kontrak Baku Pada Asuransi Syariah Dalam Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen. Oleh Abdul Karim Munthe mahasiswa UIN

Jakarta tahun 2014. Dalam skripsinya menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian yaitu deskriptif analitis. Dari hasil penelitiannya menunjukan bahwa dalam polis yang dikeluarkan asuransi syariah masih mencantumkan klausula pengalihan tanggung jawab yakni penolakan pengembalian uang, memberi kuasa untuk tindakan sepihak, pemberian kewenangan untuk mengurangi kegunaan produk atau layanan, menyatakan tunduk pada peraturan baru, tambahan, lanjutan, pencantuman

(18)

klausula yang sulit dipahami, force majeur yang luas yang merupakan semua hal tersebut dilarang oleh perundang-undangan.

Klausula Eksonerasi Dalam Perjanjian Baku Pengiriman Barang Menurut Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Pada PT. Mutiara Express). Oleh Nurul Hikmah mahasiswa UIN Ar-Raniry Darussalam Banda

Aceh tahun 2018. Jenis penelitian berupa field research dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung. Dalam skripsinya membahas bahwa kontrak baku pada PT. Mutiara Express mengandung klausula eksonerasi yang isinya yaitu bila terjadi kecelakaan dalam perjalanan maka resiko ditanggung pengirim dan PT. Mutiara Express hanya menanggung 10 kali dari harga pengiriman jika barang yang tercatat hilang/rusak.

Dari hasil Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa, Pertama; Hak-hak konsumen yang dirugikan oleh pelaku usaha mendapatkan perlindungan hukum oleh UU Pasal 45 dan Pasal 19 ayat (1), (2), (3), dan (4) UU Perlindungan Konsumen, Kedua; Bentuk pertanggungjawaban dari kehilangan barang ditanggung sepuluh kali dari harga pengiriman lazimnya, tetapi proses pergantian barang juga dapat ditempuh dari negoisasasi kedua belah pihak dan Ketiga; Perjanjian baku yang mengandung klausula eksonerasi dalam PT. Mutiara Express tidak sesuai dengan hukum Islam, sehingga dengan adanya penelitian ini agar menjadi masukan perusahan-perusahaan pengiriman barang agar tidak memuat klausula eksonerasi. Penelitian ini memiliki persamaan yang membahas mengenai klausula eksonerasi, sedangkan perbedaannya pada objek penelitiannya.

Klausula Eksonerasi Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen.

(19)

2017. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian hukum normatif dan penelitian ini bersifat perspektif analitis. Dalam jurnalnya membahas mengenai keabsahan perjanjian baku yang mencantumkan klausula eksonerasi, berdasarkan hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa apabila dilihat dari syarat sahnya perjanjian, maka perjanjian baku yang memuat klausula pengalihan tanggung jawab pelaku usaha (klausula eksonerasi), terjadi karena penyalahgunaan keadaan yang mengakibatkan cacat kehendak. Perjanjian yang mengandung cacat kehendak berarti tidak memenuhi syarat “kesepakatan para pihak dalam membuat perjanjian”, yang termasuk dalam syarat subyektif. Perjanjian yang tidak memenuhi syarat subyektif berakibat dapat dibatalkan. Pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen berusaha memberikan perlindungan kepada konsumen dalam hal pencantuman klausula baku, dalam Pasal 18 disebutkan bahwa pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang berisi pengalihan tanggung jawab (klausula eksonerasi), dan pelanggaran ketentuan ini mengakibatkan klausula tersebut batal demi hukum. Penelitian ini memiliki persamaan yaitu membahas klausula eksonerasi dalam perspektif perlindungan konsumen, sedangkan memiliki perbedaan yang tidak membahas dalam pandangan hukum islam.

G. Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berdasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan

(20)

suatu pemecahan atau permasalahan-permasalahan yang timbul.10 Metode penelitian ini diuraikan melalui beberapa tahapan, mulai dari cara dan prosesnya yang meliputi:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis hukum normatif-empiris (applied law reseacrh), menggunakan studi kasus hukum normatif-empiris berupa produk perilaku hukum. Yakni pelaksanaan atau implementasi ketentuan hukum positif dan kontrak secara faktual setiap hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.11 Dalam hal ini terkait tentang kontrak baku pada produk takafulink salam di Asuransi Jiwa Syariah Takaful Keluarga.

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), konseptual, dan pendekatan kasus. Pendekatan perundang-undangan (statute approach) merupakan pendekatan yang digunakan untuk menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.12 Pendekatan konseptual merupakan pendekatan yang bertujuan menilik keselarasan antara konsep dengan dengan penerapan yang berlaku di asuransi syariah. Pendekatan

10

Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 6.

11

Suteki, Galang Taufani, Metodologi Penelitian Hukum (Filsafat, Teori, dan

Praktik), (Depok: Rajawali Pers, 2018), hal, 175.

12

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana, 2017), hal, 133.

(21)

kasus digunakan untuk mengetahui pelanggaran yang terjadi dalam klausula perjanjian dengan teori dan regulasi yang ada di asuransi syariah.13

3. Sumber Data

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan dua jenis data sebagai berikut:

a) Data Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan yang digunakan merupakan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian yang dilakukan, yaitu:

1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian 2) Fatwa DSN MUI No. 52 Tahun 2006 Tentang Akad Wakalah Bil

Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah

3) Fatwa DSN MUI No. 21 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah

4) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

5) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan

6) Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13/SEOJK.07/2014 Tentang Perjanjian Baku

7) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

13

Abdul Karim Munthe, “Kontrak Baku Pada Asuransi Syariah Dalam Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen”, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2014) hal. 12.

(22)

8) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

b) Data Sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan yang sudah diolah dan disajikan baik oleh data primer atau oleh pihak lainnya, lalu penulis anak proses lebih lanjut.14 Data sekunder pada umumnya berupa pendapat hukum atau doktrin, teori-teori yang didapat dari literatur hukum, hasil penelitian, artikel ilmial, website, serta kontrak atau polis di lembaga asuransi yang menjadi objek penelitian.

4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan teknik untuk memperoleh informasi, baik berupa informasi primer maupun sekunder yang berhubungan dengan penelitian ini. Metode yang diterapkan ialah metode kepustakaan dan wawancara. Metode kepustakaan adalah metode yang menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen maupun data-data terkait penelitian ini yang diperoleh dari buku, undang-undang, internet, jurnal, skripsi, dan bacaan lainnya terkait penelitian ini. Sedangkan metode wawancara merupakan bentk upaya untuk menghimpun data yang akurat agar dapat memecahkan masalah yang sesuai. Teknik yang digunakan berupa interview bebas terpimpin yang merupakan penulis mengajukan pertanyaan yang telah disiapkan, kemudian langsung dijawab oleh narasumber dengan bebas terbuka.15

14

Husein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta, Rajawali Pers, 2011), hal. 42.

15

Irwan Soeharto, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: PT. Raja Grafindo, 2004), cet. 6, h.72.

(23)

5. Teknik Pengelolaan dan Analisis Data

Bahwa analisis data kualitatif terdiri dari sejumlah kegiatan, yakni mengumpulkan data dan melakukan wawancara kepada narasumber di lapangan, menjadi data tersebut ke dalam beberapa bagian kemudian merubah data tersebut menjadi cerita dan menjabarkan ke dalam suatu paragraf

Untuk mempermudah dalam penguraian, data yang sudah diperoleh penulis mengolah data hasil wawancara terhadap pegawai Asuransi Jiwa Syariah Takaful Keluarga berupa audio visual menjadi data teks atau tertulis sesuai kebutuhan.

6. Subjek-Objek

a. Subjek penelitian ini yaitu pegawai Asuransi Syariah PT Takaful Keluarga

b. Objek penelitian ini yaitu kontrak baku atau polis pada produk takafulink salam di Takaful Keluarga

7. Teknik Penulisan

Teknik penulisan dan pedoman yang digunakan dalam penulisan ini adalah buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017”.

(24)

Untuk memahami lebih jelas gambaran materi dalam penelitian ini, maka peneliti menyusun menjadi beberapa sub bab dengan sistematika penyampaian sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN: Berisi Latar Belakang, Identifikasi Masalah,

Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian, Tinjauan (Review) Terdahulu, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA: Bab ini berisikan teori-teori yang

berhubungan dengan penelitian ini.

BAB III GAMBARAN UMUM: Bab ini menguraikan tentang objek

penelitian yang menjelaskan secara umum objek penelitian dan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini.

BAB IV HASIL PENELITIAN: Berisikan tentang hasil dan analisa dari

penelitian yang dilakukan.

BAB V PENUTUP: Berisikan tentang kesimpulan dan saran yang dapat

(25)

15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Perjanjian Baku

1. Pengertian Perjanjian Baku

Pengertian Perjanjian telah diatur dalam Pasal 1313 KUH Perdata. Pasal 1313 KUH Perdata merumuskan suatu perjanjian merupakan suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini bahwa perjanjian baku adalah perjanjian yang hampir seluruh klausula-klausulanya sudah dibakukan oleh pemakainya dan pihak yang lain pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan.16

Mariam Darus mendefisinikan perjanjian baku atau standar kontrak adalah perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. Hondius merumuskan bahwa kontrak baku merupakan sebagai konsep janji-janji tertulis, yang disusun tanpa membicarakan isi dan lazimnya dituangkan dalam perjanjian yang sifatnya tertentu.17

Isi perjanjian baku telah dibuat oleh satu pihak yang kedudukannya lebih kuat, sebagai pihak lainnya tidak dapat mengemukakan kehendak secara bebas. Singkatnya tidak terjadi tawar

16

Zakiyah, “Klausula Eksonerasi Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen ”, Al‟Adl, Vol. IX Nomor 3, (Desember, 2017), h. 438.

17

Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h.,66.

(26)

menawar atau mendiskusikan mengenai isi perjanjian sebagaimana menurut asas kebeban berkontrak. Dengan demikian, dalam perjanjian baku berlaku adagium, “take it or leave it contract”. Yang artinya apabila setuju silakan ambil, dan bila tidak tinggalkan saja, artinya perjanjian tidak dilakukan. Take it juga bermakna menerima segala ketentuan secara semua dan leave it bermakna tinggalkan saja secara keseluruhan. Ciri-ciri perjanjian baku, yaitu:

a. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisi (ekonominya) kuat. Perjanjian ini telah dibuat oleh salah satu pihak yang memiliki posisi yang lebih kuat atau lebih sering dikatakan pelaku usaha.

b. Masyarakat (debitur) sama sekali tidak ikut bersama-sama menentukan isi perjanjian. Perjanjian baku hanya dibuat oleh satu pihak, pelaku usaha, konsumen atau masyarakat tidak ikut serta dalam membuat atau menentukan perjanjian baku tersebut.

c. Terdorong oleh kebutuhannya debitur terpaksa menerima perjanjian itu. Isi perjanjian baku telah dibuat oleh satu pihak, sebagai pihak lainnya tidak dapat mengemukakan kehendak secara bebas. Singkatnya tidak terjadi tawar menawar mengenai isi perjanjian sebagaimana menurut asas kebebasan berkontrak.

d. Bentuk tertentu (tertulis).

Pada umumnya perjanjian baku tersebut dituangkan dalam bentuk formulir yang telah dibakukan. Seperti misalnya sebuah tiket yang memuat klausula didalamnya.18

18

Nurul Hikmah, “Klausula Eksonerasi Dalam Perjanjian Baku Pengiriman Barang Menurut Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Pada PT. Mutiara Express) ” (Banda Aceh:

(27)

Pada transaksi di era modern saat ini perjanjian baku memegagang peranan yang penting. Tujuan dari adanya standar kontrak atau perjanjian baku adalah untuk menghemat waktu, biaya, yang menjadikannya lebih efisien, cepat, dan praktis.

2. Prinsip-Prinsip Perjanjian Baku

Munir Fuadi memaparkan ada empat prinsip yang harus dilakukan dalam perjanjian baku, yaitu:

a. Prinsip kesepakatan para pihak.

Kesepakatan merupakan sebagai dasar sah atau tidaknya perjanjian tersebut, sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan perjanjian yang sah adalah ada kesepakatan diantara para pihak. Meskipun dalam perjanjian baku hanya disebut oleh satu pihak saja, unsur kesepakatan harus dipenuhi dengan ditanda tangani perjanjian baku tersebut.

d. Prinsip asumsi risiko dari para pihak

Yang maksudnya apabila salah satu pihak bersedia menanggung risiko, maka ketika risiko tersebut terjadi pihak yang bersedia harus menanggung risiko tersebut.

e. Prinsip kewajiban membaca (duty of read)

Setiap pihak wajib membaca klausula yang mereka tanda tangani. Tanda tangan tersebut adalah tanda kalau mereka telah membaca sepenuhnya klausula yang mereka sepakati.

(28)

f. Prinsip klausula mengikuti kebiasaan

Klausula sebagai rule yang mengatur apa yang wajib dilakukan dan tidak dilakukan para pihak bukan berarti apa yang tidak dicantumkan dalam klausula boleh dilakukan atau tidak dilakukan. Ada prinsip kebiasaan yang mengikat para pihak dalam perjanjian.19

3. Pengaturan Pencantuman Klausula Baku

Undang-Undang Perlindungan Konsumen Pasal 18 ayat (1) melarang pelaku usaha mencantumkan klausula baku pada setiap perjanjian dan dokumen apabila:

a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha.

b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen.

c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh koonsumen.

d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen.

19

Syahrul Rahmatullah, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengalihan Tanggung Jawab Pelaku Usaha kepada Konsumen Yang Terdapat Dalam Klausul Baku” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2017), hal. 52.

(29)

f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa.

g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan, d/an/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya.

h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

Undang-Undang Perlindungan Konsumen pada Pasal 18 ayat (2) juga melarang pelaku usaha mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dibaca dengan jelas, atau pengungkapannya sulit dimengerti.20

4. Klausula Eksonerasi

Kontrak baku atau standar kontrak pada dasarnya memberikan keuntungan dalam penerapannya, akan tetapi dibalik keuntungannya tersebut kontrak baku juga mendapat kritik yang dikarenakan bahwa di dalam kontrak baku tersebut mengandung unsur ketidakadilan sebagai akibat dari tidak adanya proses negoisasi yang membuat kedudukan menjadi kurang seimbang diantara para pihak yang melakukan perjanjian, maka pihak lemah biasanya tidak berada dalam keadaan yang bebas untuk menetapkan isi dari kontrak tersebut.

20

Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h.,75.

(30)

Pencantuman klausula di dalam kontrak baku yang hanya ditentukan secara sepihak oleh pelaku usaha, maka keadaan ini seringkali disalahgunakan oleh pelaku usaha sehingga isi dari kontrak tersebut lebih banyak menentukan kewajiban dari konsumen dibandingkan dengan kewajiban dari pelaku usaha serta lebih banyak hak-hak dari pelaku usaha dibandingkan dengan hak dari konsumen, bahkan tidak jarang di dalam kontrak baku disertai dengan adanya klausula eksonerasi yang menggeser risiko-risiko tertentu kepada pihak lain.21

Eksonerasi atau exoneration (Bahasa Inggris) diartikan oleh I.P.M. Ranuhandoko B.A. dalam bukunya “Terminologi Hukum Inggris-Indonesia”yaitu “Membebaskan seseorang atau badan usaha dari suatu tuntutan atau tanggung jawab.”Secara sederhana, klausula eksonerasi ini diartikan sebagai klausula pengecualian kewajiban/tanggung jawab dalam perjanjian.22

Klausula eksonerasi adalah klausula yang dicantumkan dalam suatu perjanjian, dimana satu pihak menghindarkan untuk memenuhi kewajibannya membayar ganti rugi seluruhnya atau terbatas, yang terjadi karena ingkar janji atau perbuatan melawan hukum. Klausula eksonerasi yang membebaskan tanggung jawab seseorang pada akibat-akibat hukum yang terjadi karena kurangnya pelaksanaan-pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang diharuskan perundang-undangan, antara lain masalah ganti rugi dalam hal perbuatan ingkar janji, ganti

21

Zakiyah, “Klausula Eksonerasi Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen ”, Al‟Adl, Vol. IX Nomor 3, (Desember, 2017), h.444.

22

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4d0894211ad0e/klausula-eksonerasi diakses pada tanggal 11 Agustus 2019 pukul 17.00 WIB.

(31)

kerugian tidak akan dijalankan apabila dala persyaratan eksonerasi tercantum hal demikian.23

Dalam suatu perjanjian bisa saja dicantumkannya klausula eksonerasi karena keadaan memaksa (force majeur), karena perbuatan para pihak dalam perjanjian. Perbuatan para pihak tersebut dapat mengenai kepentiangan pihak kedua dan ketiga. Ada tiga kemungkinan eksonerasi yang dapat dirumuskan dalam syarat-syarat perjanjian:24

a. Eksonerasi karena force majeur

Kerugian yang timbul karena keadaan memaksa bukan tanggung jaawab dari para pihak, tetapi dalam syarat-syarat perjanjian dapat dibebankan kepada konsumen sehingga pelaku usaha dibebaskan dari beban tanggung jawab. Misal dalam perjanjian jual beli, barang yang sebagai objeknya musnah karena terbakar. Sebab dari kebakaran bukan kesalahan para pihak, akan tetapi dalam hal ini pembeli wajib membayar lunas berdasarkan klausula eksonerasi.

b. Eksonerasi karena kesalahan pelaku usaha yang merugikan pihak kedua dalam perjanjian

Kerugian yang timbul karena pelaku usaha seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Hal ini tidak baik atau lalai dalam melakukan prestasi terhadap pihak kedua. tetapi dalam klausula-klausula perjanjian, kerugian akan dibebankan kepada konsumen dan pelaku

23

Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h.,67.

24

Fajar Wulandari, “Analisis Yuridis Terhadap Klausula Baku Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 338/Pdt.G/2016/PN.Jkt.Sel)” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), hal 22.

(32)

usaha dibebaskan dari tanggung jawab. Misalnya, dalam perjanjian pengangkutan terdapat klausula yang menyebutkan bahwa barang yang rusak atau hilang bukan tanggung jawab pelaku usaha.

c. Eksonerasi karena kesalahan pelaku usaha yang merugikan pihak ketiga

Kerugian yang timbul karena pelaku usaha seharusnya menjadi tanggung jawabnya, namun dalam isi perjanjanjian disebutkan kerugian yang timbul dibebankan kepada pihak kedua, yang ternyata menjadi beban pihak ketiga. Dalam hal ini pelaku usaha dibebaskan tanggung jawab, termasuk tuntutan pihak ketiga.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perjanjian baku, pencantuman klausula eksonerasi harus berupa, yaitu:25

a. Menonjol dan Jelas

Pengecualian terhadap tanggungan gugat tidak dibenarkan apabila dalam penulisannya tidak menonjol dan jelas. Dengan demikian, maka penulisan pengecualian tanggung gugat yang tertulis dibelakang suatu surat perjanjian atau yang ditulis dengan cetakkan kecil, kemungkinan tidak efektif karena dalam penulisan klausula tersebut tidak menonjol.

Agar suatu penulisan klausula dapat digolongkan menonjol, maka penulisannya dilakukan sehingga orang yang berkepentingan akan memperhatikannya, misalnya dicetak dengan huruf besar.

25

Syahrul Rahmatullah, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengalihan Tanggung Jawab Pelaku Usaha Kepada Konsumen Yang Terdapat Dalam Klausula Baku” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2017), hal 61-62.

(33)

b. Disampaikan tepat waktu

Pengecualian tanggung gugat hanya efektif apabila disampaikan tepat waktu. Setiap pengecualian tanggung gugat harus disampaikan pada saat penutupan perjanjian, sehinggga merupakan bagian dari klausula bukannya setelah perjanjian.

c. Pemenuhan tujuan-tujuan penting

Pembatasan tanggung gugat tidak bisa digunakan apabila pembatasan tersebut tidak akan memenuhi tujuan penting dari suatu jaminan, misalnya tanggung gugat terhadap cacat yang tersembunyi tersebut tidak ditemukan dalam periode tersebut.

d. Adil

Pencantuman klausula eksonerasi yang memberatkan konsumen ini dapat dikatakan merupakan pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak, karena kebebasan ini hanya dikuasai oleh pihak yang posisinya relatif lebih kuat, sehingga klausula-klausula dalam perjanjian baku hanya ditentukan oleh pelaku usaha tanpa melibatkan pihak konsumen, sehingga yang memungkinkan pelaku usaha dengan leluasa menyalahgunakan keadaan ini.26

26

Zakiyah, “Klausula Eksonerasi Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen ”, Al‟Adl, Vol. IX Nomor 3, (Desember, 2017), h.444.

(34)

B. Tinjauan Umum Asuransi Syariah 1. Pengertian Asuransi Syariah

Pengertian asuransi telah diatur dalam Pasal 246 kitab Undang-Undang Hukum Dagang (UUHD) yang mendifinisikan bahwa asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan menerima premi untuk memberi penggantian kepadanya karena suatu kerugian , kerusakan , atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan di deritanya karena suatu peristiwa yang tidak tertentu.

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Peransuransian bahwa asuransi merupakan perjanjian dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penangggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan pergantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum pada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau untuk memberikan pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidpnya seseorang yang dipertanggungkan.

Sedangkan asuransi syariah dikenal juga dengan istilah takaful. Takaful berasal dari kata kerja takafala, yatakafulu, takaful, yang berarti saling menanggung atau menanggyng bersama atau “menjamin seseorang untuk menghindari kerugian”. Dari sudut pandang ekonomi, kata takaful memiliki arti “menjamin bersama” (mutual guaranty) yang disediakan oleh sekelompok orang yang hidup dalam kelompok

(35)

yang sama terhadap resiko atau bencana tertentu yang menimpa hidup seseorang, kekayaan atau barang-barang lainnya. Oleh karenanya takaful dikenal sebagai asuransu bersama (cooperative insurance). 27

Dengan demikian takaful dalam pengertian muamalah adalah saling memikul resiko diantara sesama orang sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang muncul. Saling pikul resiko ini dilakukan atas dasar tolong menolong dalam kebijakan dengan cara masing-masing mengeluarkan tabarru‟atau dana kebajikanyang ditunjukkan untuk menanggung resiko.28

Dalam fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 21 tahun 2003 bahwa asuransi syariah (Ta‟min, Takaful, Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk asset atau tabarru‟ memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

Dari definisi asuransi syariah tersebut jelas bahwa berbeda dengan asuransi konvensional. Pertama, pada asuransi syariah setiap peserta sejak awal bermaksud saling menolong dan melindungi satu dengan lainnya dengan menyisikan dananya sebagai iuran kebajikan atau dana tabarru‟. Jadi sistem ini tidak menggunakan pengalihan resiko (transfer of risk) dimana tertanggung harus membayar premi, tetapi lebih merupakan pembagian resiko (sharing of risk) dimana peserta saling menanggung. Kedua, akad yang digunakan dalam asuransi syariah harus selaras dengan hukum Islam (syariah) artinya akad yang dilakukan harus terhindar dari riba, gharar, dan maysir.

27

Ahmad Chairul Hadi, Hukum Asuransi Syariah, (Jakarta: UIN Press, 2015), h., 5

28

(36)

Disamping itu juga investasi dana harus pada objek yang halal dan baik.29

2. Prinsip-Prinsip Asuransi Syariah

Prinsip utama dalam asuransi syariah adalah tolong menolong dalam kebaikan ketakwaan (ta‟awunu ala al birri wa attaqwa) dan perlindungan rasa aman (al-tamin). Prinsip ini menjadikan para peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung resiko. Hal tersebut dikarenakan transaksi yang dibuat dalam asuransi takaful adalah saling menanggung (takafuli), bukan saling menukar (tabaduli) yang selama ini digunakan asuransi konvensional.30

Para pakar ekonomi Islam mengemukakan bahwa asuransi syariah ditegakkan atas prinsip-prinsip utama yaitu:31

a. Saling kerja sama dan saling membantu

Asuransi syariah dibangun atas dasar tolong menolong, saling menjamin semata-mata tidak berorientasi bisnis atau keuntungan. Setiap peserta menyetor premi menurut jumlah yang ditentukan, harus disertai dengan niat membantu. Apabila ada anggota yang mengalami musibah maka diambillah sejumlah uang guna membantu peserta yang mengalami musibat tersebut, dengan prinsip ini para anggota bekerja sama untuk saling tolong menolongkepada peserta yang mengalami musibah yang diambil

29

Ahmad Chairul Hadi, Hukum Asuransi Syariah, (Jakarta: UIN Press, 2015), h.,7

30

Ahmad Chairul Hadi, Hukum Asuransi Syariah, (Jakarta: UIN Press, 2015), h.,8

31

(37)

dari dana premi yang dikelola oleh perusahaan. Surat Al Maidah (QS.5:2) menunjukan maksud tersebut.

“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”.

b. Saling bertanggung jawab

Para anggota asuransi sepakat untuk saling tanggung jawab antara satu sama lain memikul tanggung jawab dengan niat ikhlas ibadah. Tanggung jawab ini adalah penting untuk dipraktikkan secara bersama khususnya mengenai konsep menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam hadist Nabi bersabda yang artinya:

“Setiap orang dari kamu adalah pemikul tanggung jawab dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dibawah tanggung jawab kamu”. (HR. Bukhari Muslim)

c. Saling menjaga keselamatan dan keamanan

Asuransi syariah memberikan suatu perlindungan atas harta benda, jiwa, dan kesehatan seseorang supaya dalam kehidupannya tetap berjalan lancar meskipun mengalami kerugian atau kehilangan. Peserta membayarkan sejumlah uang kepada perusahaan asuransi untuk memperoleh perlindungan atas kerugian, oleh karena itu para peserta juga harus menjaga keselamatan dan keamanan tidak seenak-enaknya atas harta benda

(38)

dikarenakan sudah memperoleh perlindungan dari perusahaan asuransi. Al Qur‟an Surat Al Baqarah (2) :261:

“Perumpamaan derma orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah serupa dengan benih yang menumbuhkan tujuh bulir pada tiap-tiap bulir asa seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah maha luas karuniaNya lagi maha mengetahui”.

d. Pencegahan dan mengurangi resiko

Terdapat juga hadist Rasul yang mengisyaratkan bahwa manusia harus berupaya mengambil langkah pencegahan atau mengurangi resiko.

“Nabi saw memperhatikan seorang Badawi meninggalkan seekor unta lalu Nabi bertanya kepada Badawi itu, “Mengapa kamu tidak mengikat unta kamu?, Badawi itu menjawab “aku bertawakkal kepada Allah, “Nabi berkata, “Ikatlah unta kamu itu dahulu, kemudian bertawakkal kepada Allah,”

Dalam hadist ini jelas menunjukan bahwa seseorang harus selalu mengambil langkah-langkah preventif yang baik untuk menjaga dirinya atau hartanya dari resiko.

g. Berserah diri dan Ikhtiar

Allah merupakan pemilik mutlak seluruh harta kekayaan, Ia adalah pencipta alam semesta dan Ia pula yang maha memilikiNya. Maka milik Allah pula memberikannya kepada siapa saja yang

(39)

dikehendakiNya atau merenggutnya dari siapa saj ayang dikehendakiNya.

4. Dasar Hukum Asuransi Syariah

Hukum asuransi syariah merupakan sumber pengambilan hukum praktik asuransi syariah, karena sejak awal asuransi syariah diartikan sebagai wujud dari bisnis pertanggungan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam, yaitu Al-Qur‟an, Sunnah, Ijma, dan Ijtihad.

Selain prinsip-prinsip umum Al-Qur‟an dan Sunnah, untuk regulasi asuransi syariah saat ini berpedoman kepada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia. Fatwa tersebut dikeluarkan karena perundang-undangan yang mengatur tentang asuransi di Indonesia saat ini tidak dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan asuransi syariah. Fatwa DSN MUI ini memang bukan merupakan produk hukum nasional karena tidak termasuk peraturan perundang-undangan di Indonesia. Walaupun sebenarnya bisa dimasukkan kategori doktrin dalam ilmu hukum. Beberapa fatwa yang terkait dengan asuransi syariah yaitu:32

1. Fatwa DSN-MUI Nomor 21 tahun 2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah

2. Fatwa DSN-MUI Nomor 50 tahun 2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah

3. Fatwa DSN-MUI Nomor 51 tahun 2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah Pada Asuransi Syariah

32

(40)

4. Fatwa DSN-MUI Nomor 52 tahun 2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah Pada Asuransi dan Reasuransi Syariah

5. Fatwa DSN-MUI Nomor 53 tahun 2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi dan Reasuransi Syariah

Selain bersumber dari hukum Islam, operasional asuransi syariah di Indonesia didasarkan pada hukum positif yang saat ini berlaku yaitu:33

1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

2. Ketentuan mengenai kegiatan asuransi dalam KUH Perdata diatur dalam bab kelima belas tentang perjanjian untung-untungan. 3. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

4. Undang-Undang No. 2 tahun 1992 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.

5. Peraturan Pemerintah No. 63 tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian. Mengingat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tidak menjelaskan secara spesifik asuransi syariah, maka untuk mengisi kekosongan hukum dibuat beberapa peraturan hukum oleh pemerintah sebagai berikut:

a. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 426/KMK.06/2003 Tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Peraturan inilah yang dapat dijadikan dasar untuk mendirikan asuransi syariah sebagaimana ketentuan dalam pasal 3 yang menyatakan bahwa, “setiap pihak dapat melakukan usaha asuransi atau usaha reasuransi berdasarkan prinsip syariah.

33

(41)

b. Keputusan Menteri Keuangan RI No. 424/KMK.06/2003 Tentang Kesehatan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi. Ketentuan yang berkait dengan asuransi syariah tercantum dalam pasal 15-18 mengenai kekayaan yang diperkenankan harus dimiliiki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.

c. Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan No. Kep. 4499/LK/2000 Tentang Jenis, Penilaian dan Pembatan Investasi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan sistem syariah.

5. Polis Asuransi

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32 tahun 2015 tentang Produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi, polis asuransi adalah akta perjanjian atau dokumen lain yang dipersamakan dengan akta perjanjian asuransi, serta dokumen lain yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan perjanjian asuransi, yang dibuat secara tertulis dan memuat perjanjian antara pihak asuransi dengan pemegang polis.34

Dalam pasal 225 KUHD perjanjian asuransi wajib dibuat secara tertulis dalam bentuk sebuah akta yang biasa disebut polis. Yang berisi kesepakatan, syarat-syarat khusus, dan janji-janji khusus yang dijadikan dasar pemenuhan hak dan kewajiban bagi perusahaan dengan pemegang polis untuk mencapai orientasinya. Dengan demikian, polis asuransi merupakan alat bukti tertulis yang berarti

34

POJK No. 23 Tahun 2015 Tentang Produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi

(42)

bahwa telah terjadinya perjanjian antara para pihak (peserta dan perusahaan asuransi).

Polis asuransi juga termasuk ke dalam perjanjian baku, hal tersebut dikarenakan pada bentuk dokumen polis mencantumkan klausula-klausula yang telah dibuat oleh perusahaan. Sedangkan pemegang polis atau peserta hanya diminta untuk menerima atau menolak isi perjanjian. 35

Polis juga mempunyai beberapa manfaat diantaranya yaitu, bukti jaminan atas uang ganti rugi yang akan diberikan perusahaan asuransi, sebagai bukti pembayaran kontribusi atau premi dari peserta kepada perusahaan asuransi. Polis asuransi memuat hal-hal sebagai berikut yaitu nomor polis, nama dan alamat tertanggung, uraian risiko, uraian pengelolaan investasi, jumlah pertanggungan, jangka waktu pertanggungan, besar kontribusi, bea materai, bahaya-bahaya yang dijaminkan, dan ketentuan lainnya sesuai ketentuan para pihak.36

6. Unit Link Syariah

Produk asuransi unit link merupakan suatu penggabungan program proteksi dan investasi sekaligus dalam satu wadah. Definisi unit link syariah dalam konteks perasuransian menurut syariah secara umum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konvensional yaitu pembagian risiko secara egaliter melalui usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang atau pihak, merupakan

35

Asri Hamdi Fauziah, “Analisis Kesesuain Syariah Terhadap Polis Asuransi Jiwa Unit Link Syariah Pada PT Prudential Life Assurance Jakarta” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), hal 25.

36

Asri Hamdi Fauziah, “Analisis Kesesuain Syariah Terhadap Polis Asuransi Jiwa Unit Link Syariah Pada PT Prudential Life Assurance Jakarta” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), hal 25-26.

(43)

gabungan asuransi dan investasi yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perjanjian) yang sesuai dengan prinsip syariah.37

Unit link juga dapat disebut sebagai bentuk asuransi jiwa yang mengandung tabungan (saving). Produk unit link ini dapat memberikan bentuk perlindungan untuk perorangan yang mengikatkan dan merencanakan pengumpulan dana sebagai investasi yang diperuntukan bagi ahli waris jika peserta meninggal dunia atau sebagai bekal peserta di hari tua.38

Unit link sendiri ialah sesuatu kegiatan yang baru dari asuransi jiwa, yang sebelumnya muncul ke permukaan terlebih dahulu merupakan bentuk asuransi jiwa tradisional yang nilai premi atau kontribusi dan tanggal jatuh tempo pembayaran sudah sudah ditetapkan oleh perusahaan asuransi. Sedangkan unit link ialah bentuk asuransi jiwa kolaborasi antara manfaat untuk proteksi dan investasi.

Ada dua jenis unit link (termasuk syariah) yang telah dipasarkan oleh perusahaan asuransi syariah di Indonesia, yaitu:39

a. Back End Load Sharia Link

Pada model unit link ini, perusahaan tidak akan memungut biaya akuisisi (ujrah) yang presentasenya cukup besar diawal pertanggungan meskipun perusahaan sudah mengeluarkan biaya

37

Mila Sartika, “Konsep dan Implementasi Dana Premi Unit Link Syariah” Asuransi dan Manajemen Resiko, Vol. 1 No. 2, (September 2013), hal. 26.

38

Asri Hamdi Fauziah, “Analisis Kesesuain Syariah Terhadap Polis Asuransi Jiwa Unit Link Syariah Pada PT Prudential Life Assurance Jakarta” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), hal 26.

39

Bahrul Ulum, “Perbandingan Asuransi Jiwa Unit Link PT Prudential antara Konvensional dengan Syariah” (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim, 2015), hal. 47-48.

(44)

yang cukup besar untuk upah agen maupun bancassurance. Sehingga nilai dari investasi kita akan lebih besar.

Namun dalam model ini, biasanya peserta tidak diperkenankan mengambil dananya (withdrawal) dan tetap menyetor kontribusi dalam periode tertentu. Apabila peserta tidak menepati perjanjian dan mengambil dana pada periode tertentu tersebut, maka perusahaan akan mengenakan biaya atau biasa yang disebut surrender charger (biaya akuisisi).

b. Front End Load Sharia

Berbanding balik dengan model sebelumnya, pada front end perusahaan asuransi memberikan ujrah yang presentasenya sangat besar diawal masa asuransi. Yang biasanya pada dua tahun pertama ujrah berkisar antara 60-100% dari kontribusi dasar yang akan dibayarkan oleh peserta.

Dalam hal pembayaran terdapat dua bentuk produk unit link syariah, yaitu:

1. Kontribusi Tunggal (Single Contribution)

Pada model kontribusi tunggal ini, peserta diwajibkan membayar sekali saja dan pada lazimnya lebih banyak untuk tujuan investasi. Kirsaran besaran dari dari kontribusi tunggal ini pada umumnya antara delapan sampai dua belas juta rupiah. Dalam model ini juga, ujrah asuransi hanya dibebankan sekali di awal dan dana yang akan diinvestasikan pada instrumen investasi syariah yang dipilih sendiri oleh nasabah.

(45)

2. Regular Contribution

Pada model pembayaran ini, peserta diharuskan untuk membayar kontribusi secara berkala sesuai kesepakatan bersama. Pada model ini juga, peserta boleh memilih komposisi pembayaran kontribusi sesuai keinginannya berapa bagian untuk basic contribution dan berapa bagian untuk top up.

C. Tinjauan Umum Perlindungan Konsumen 1. Pengertian Perlindungan Konsumen

Perlindungan konsumen adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang merugikan konsumen itu sendiri. Undang-Undang Perlindungan menyatakan bahwa, perlindungan konsumen merupakan segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. 40

Hukum konsumen adalah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang atau jasa konsumen di dalam pergaulan hidup, sedangkan yang dimaksud dengan hukum perlindungan konsumen adalah keseluruhan asas dan kaidah yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalah penyediaan dan penggunaan produk baik

40

Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h.,21

(46)

barang dan juga jasa terhadap konsumen antara penyedia dan penggunaannya dalam kehidupan bermasyarakat.41

Dapat disimpulkan bahwa konsumen, perlindungan konsumen, dan hukum perlindungan konsumen memiliki hubungan yang saling berkaitan, karena hukum perlindungan konsumen bertujuan mengatur dan melindungi konsumen dari semua perbuatan yang bisa merugikan konsumen atas produk atau barang dan jasa yang mereka pakai.

Dalam Islam, hukum perlindungan konsumen mengacu kepada konsep halal dan haram, serta keadilan ekonomi, berdasarkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip ekonomi Islam. Aktivitas ekonomi Islam dalam dalam perlindungan konsumen meliputi perlindungan terhadap zat, proses produksi, distribusi, tujuan produksi, hingga akibat menggunakan barang atau jasa tersebut. 42

2. Dasar Hukum Perlindungan Konsumen

Dasar hukum perlindungan konsumen di Indonesia terdiri dari beberapa peraturan perundang-undangan. Adapun dasar hukum perlindungan konsumen, sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), pasal 27, dan Pasal 33.

2. Undang –Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 42 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3821.

41

Waldi Nopriansyah, Hukum Bisnis Di Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia, 2019), h.,203

42

Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h.,25

(47)

3. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

4. Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

5. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen. 6. Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No.

235/DJPDN/VII/2001 tentang Penanganan Pengaduan Konsumen. 7. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No.

795/DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen.

8. Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

9. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Seiring perjalanan waktu, hukum perlindungan konsumen di Indonesia beralih kepada Otoritas Jasa Keuangan sesuai Pasal 31 Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Perlindungan konsumen ini mencakup semua perilaku pelaku usaha jasa keuangan. 43

43

Waldi Nopriansyah, Hukum Bisnis Di Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia, 2019), h.,204.

(48)

3. Asas-Asas Perlindungan Konsumen

Melindungi konsumen adalah suatu hal yang wajib dalam aktivitas usahanya, ada beberapa asa perlindungan konsumen yang harus diterapkan. Adapun asas-asas tersebut:44

1. Asas manfaat

Dalam memberikan perlindungan terhadap konsumen, upaya tersebut harus memiliki manfaat terhadap konsumen agar konsumen merasa terlindungi. Manfaatnya tidak hanya bagi konsumen tetapi pelaku usaha juga.

c. Asas keadilan

Demi menjaga rasa keadilan, kewajiban sebagai konsumen maupun pelaku usaha harus dilaksanakan secara adil.

d. Asas keseimbangan

Asas ini memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen dan kepentingan pelaku usaha.

e. Asas keamanan dan keselamatan

Asas ini merupakan termasuk salah satu faktor penting bagi konsumen, untuk pelaku usaha harus memberikan rasa aman dan keselamatan atas produk yang dipakai atau yang digunakan dan jasa yang diberikan.

44

Waldi Nopriansyah, Hukum Bisnis Di Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia, 2019), h.205.

(49)

f. Asas kepastian hukum

Asas kepastian hukum ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum terhadap konsumen agar tercipta rasa keadilan dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen.

4. Prinsip-Prinsip Perlindungan Konsumen

Memberikan perlindungan konsumen merupakan suatu hal yang penting. Untuk itu ada beberapa prinsip perlindungan terhadap konsumen sesuai dengan ketentuan yuridis, yaitu:45

a. Prinsip transparansi

Pada prinsip ini pelaku usaha wajib memberikan keterbukaan tentang produk dan jasanya kepada konsumen dan memberikan informasi secara jelas tentang usaha yang akan dikenalkan kepada konsumen.

b. Prinsip perlakuan yang adil

Bagi konsumen untuk mendapatkan perlakuan yang adil dari pelaku usaha merupakan hal yang wajib tanpa harus memandang kasta atau jabatan seseorang, sehingga rasa keadilan tersebut timbul dengan sendirinya.

c. Prinsip keandalan (reliability principle)

Adalah melakukan pencatatan transaksi dalam sistem akuntansi yang dapat diverifikasi dengan bukti objektif, seperti kuitansi

45

Waldi Nopriansyah, Hukum Bisnis Di Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia, 2019), h.,206

(50)

pembayaran dan laporan bank. Dalam hal perlindungan konsumen prinsip keandalan adalah salah satu prinsip yang harus diterapkan, contohnya dalam pembelian barang, konsumen harus memiliki kuitansi pembelian atas barang tersebut. Sebab kuitansi merupakan bukti bagi konsumen apabila barang yang dibeli rusak atau cacat, sehingga konsumen dapat mengklaim barang tersebut.

d. Prinsip kerahasiaan dan keamanan data atau informasi konsumen

Dalam dunia bisnis mengenal prinsip kerahasiaan terhadap data dan informasi nasabah. Prinsip ini harus dijalani, karena jika data dan informasi nasabah diketahui orang lain dapat disalah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan mengakibatkan kerugian bagi nasabah tersebut.

e. Prinsip penanganan pengaduan serta penyelesaian sengketa konsumen secara sederhana, cepat, dan biaya terjangkau.

D. Tinjauan Umum Hukum Perjanjian Islam 1. Pengertian Hukum Perjanjian Islam

Secara etimologis perjanjian dalam bahasa Arab diistilahkan dengan Mu‟ahadah Ittifa‟, atau Akad. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan perjanjian, kontrak, atau persetujuan yang berarti adalah suatu perbuatan di mana seseorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap seseorang lain atau lebih. Dalam Al-Qur‟an sendiri setidaknya ada dua istilah yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu kata akad (al-„aqadu) dan kata „ahd (al-„ahdu), Al-Quran memakai kata pertama dalam arti

(51)

perikatan atau perjanjian, sedangkan kata yang kedua berarti, masa, pesan, penyempurnaan, dan janji atau perjanjian.46

Istilah akad dapat disamakan dengan istilah perikatan atau verbintenis, sedangkan Al-„ahdu dapat disamakan dengan perjanjian atau overeenkomst, yang dapat diartikan sebagai suatu pernyataan dari seseorang untuk menjalankan atau tidak menjalankan sesuatu. Rumusan akad tersebut mengindikasikan bahwa perjanjian yaitu perjanjian kedua belah pihak yang bertujuan untuk saling mengikatkan diri tentang perbuatan yang akan dikerjakan dalam suatu hal yang khusus setelah akad secara efektif mulai diberlakukan.47

2. Keabsahan Perjanjian menurut Hukum Islam

Dalam ajaran Islam untuk sahnya suatu perjanjian, harus dipenuhi rukun dan syarat dari suatu akad. Rukun merupakan unsur yang mutlak harus dipenuhi dalam sesuatu hal, peristiwa, dan tindakan. Sedangkan syarat yaitu unsur yang harus ada untuk sesuatu hal, peristiwa, dan tindakan tersebut.48

Rukun akad yang utama adalah ijab dan qabul. Syarat yang harus ada dalam rukun bisa menyangkut subjek dan objek dari suatu perjanjian. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi agar ijab qabul mempunyai akibat hukum:49

46

Abdul Ghofur Anshori, Pokok-Pokok Hukum Perjanian Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Citra Media, 2006), h.,19.

47

Abdul Ghofur Anshori, Pokok-Pokok Hukum Perjanian Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Citra Media, 2006), h.,20.

48

Abdul Ghofur Anshori, Pokok-Pokok Hukum Perjanian Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Citra Media, 2006), h.,21.

49

Abdul Ghofur Anshori, Pokok-Pokok Hukum Perjanian Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Citra Media, 2006), h.,21.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui lebih jauh tentang keberadaan kecerdasan spiritual (SQ) yang sudah bekerja secara efekftif atau bahwa SQ itu sudah bergerak ke arah perkembangan yang

Hasil penentuan aktivitas antioksidan dengan DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun gendola mempunyai daya aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan

Berdasarkan data observasi dan tes hasil belajar pada siklus II, guru pengajar dan observer sepakat untuk tidak melanjutkan tindakan karena tindakan yang diberikan pada

menguji beberapa persamaan debit sedimen dengan menggunakan data angkutan dasar dari model saluran (flume) untuk material dasar dengan distribusi ukuran butir seragam

• Cd : timbul rasa sakit dan panas pada dada, dalam 24 jam penyakit paru-paru, merusak kelenjar produksi, tulang rapuh • Pb : tekanan darah dan berat badan3. menurun,

Karena program kita adalah PPMP, maka kewajiban pembayaran MP akan berkepanjangan seakan tanpa batas dan berakhir pada saat ahli warisnya sudah tidak berhak lagi,

Hasil-hasil dari medan magnet total dan anomali magnet disajikan dalam bentuk kontur, sedangkan untuk hasil pemodelan dari sayatan anomali magnet sisa yang