PERLINDUNGAN HUKUM PENGARANG/PENULIS BUKU MENURUT UU NO 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA

11  Download (0)

Teks penuh

(1)

YUSTISIA MERDEKA: Jurnal Ilmiah Hukum

MENURUT UU NO 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA

Anik Tri Haryani, S.H.,M.Hum

Dosen Fakultas Hukum Unmer Madiun Abstrak;

Buku adalah gudang pengetahuan, melalui buku-buku kita bisa belajar ilmu. Keberadaan buku tidak terlepas dari peran seorang penulis dan penerbit. Untuk menulis buku memerlukan pemikiran dan beberapa kreativitas untuk menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, penulis harus dilindungi atas pekerjaannya. Agar pelanggaran - pelanggaran dapat dicegah dan ditindaklanjuti sehingga mereka dapat bekerja lagi. Jika pelanggaran hukum dapat menuntut pidana atau perdata, selain Undang-Undang No. 28 Tahun 2014, telah membentuk manajemen kolektif untuk melindungi hak-hak ekonomi penerbit, pengguna yang menggunakan hak cipta dan pelayanan publik hak cipta terkait dalam bentuk bersifat komersial.

Kata kunci: perlindungan hukum, penulis, hak cipta Abstract

The book is a repository of knowledge , through books we can learn science. The existence of the book is inseparable from the role of a writer and publisher. To write a book requires thought and some creativity to pour ideas into written form . Therefore, the author should be protected to the work. In order for the violation - violation can be prevented and actionable so that they want to work again. If a violation of the author can prosecute criminal or civil , in addition to the law No. 28 of 2014 has established collective management organizations to protect the economic rights of the publisher of users who use copyright and copyright related public services in the form of a commercial nature.

Key word : legal protection, author, copyright

yang pengaturannya terdapat dalam ilmu hukum dan dinamakan Hukum HKI. Yang dinamakan hukum HKI meliputi suatu bidang hukum yang membidangi hak-hak yuridis atas karya-karya atau ciptaan-ciptaan hasil olah Pendahuluan

1. Latar Belakang

Hak cipta adalah bagian dari sekumpulan hak dinamakan hak kekayaan intelektual (HKI)

(2)

pikir manusia bertautan dengan kepentingan-kepentingan yang bersifat ekonomi.1

HKI mempunyai fungsi utama untuk memajukan kreatifitas dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas sedangkan hak cipta secara khusus juga berfungsi sebagai alat untuk memperkenalkan, memperkaya dan menyebarluaskan kekayaan budaya bangsa. Bahkan salah satu aspek yang melekat pada HKI adalah adanya aspek sosial bagi seluruh jenis HKI kecuali merek, manakala masa perlindungannya habis maka semuanya menjadi milik umum atau public

domain. Salah satu contoh jenis hak cipta yang

nyata memberikan manfaat bagi manusia adalah buku. Masyarakat tidak menyangkal lagi bahwa buku merupakan kebutuhan utama bagi dunia pendidikan. Banyak karya buku yang diciptakan oleh para penulis. Dari hasil kreativitasnya penulis mampu menciptakan buku ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat. Proses pembuatan buku membutuhkan tenaga, biaya dan waktu sehingga hasil karya penulis perlu diberikan perlindungan Hak cipta.

Di Indonesia sendiri perlindungan terhadap pencipta buku atau pengarang buku masih jauh dari harapan karena para pengarang belum memperoleh perlindungan secara maksimal dari berbagai macam pelanggaran hak cipta mulai dari plagiat, perbanyak ciptaan tanpa ijin bahkan sampai pada pembajakan karya cipta.

Pemerintah telah berupaya melalui berbagai macam cara dengan memperbaiki peraturan tentang hak cipta yang disesuaikan dengan kebutuhan penulis maupun pengarang dengan dikeluarkannya peraturan terbaru yaitu Undang-Undang Nomor 28 tahun 1Edy Damian, Hukum Hak Cipta , Alumni, Bandung,

2009, hal. 29

2014 tentang Hak Cipta yang menggantikan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang hak cipta. Menurut pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 yang dimaksud Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.2

Hak cipta merupakan hak kekayaan intelektual yang dapat dialihkan kepada orang lain. Dengan kata lain, hak cipta adalah hak yang bisa dijadikan uang.3

Perkembangan Hak Cipta yang didorong oleh berbagai aspek mempunyai dampak bagi penyempurnaan peraturan hukum di bidang hak cipta. Hak-hak yang timbul dari suatu ciptaan di bidang kekayaan intelektual, kepada si pencipta oleh hukum diberikan bersamaan dengan keistimewaan-keistimewaan tertentu yaitu hak untuk mengeksploitasi ciptaannya. Sedangkan untuk menghindari adanya pelanggaran berupa pembajakan atau penggandaan, perlu adanya rambu-rambu pengaturan secara seksama dan diformulasikan dalam peraturan perundang-undangan.

Ditempatkannya berbagai ciptaan yang dilindungi, misalnya buku terutama karena selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam Mukaddimah UUD 1945, juga karena terkaitnya dengan empat fungsi positif buku, yaitu:

1. Buku sebagai media atau perantara, artinya buku dapat menjadi latar belakang bagi kita atau pendorong untuk melakukan sesuatu.

2 UU No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta 3 Masri Maris, Buku Panduan Hak Cipta Asia,

(3)

2. Buku sebagai milik, artinya buku adalah kenyataan yang sangat berharga, tak ternilai, karena merupakan sumber ilmu pengetahuan

3. Buku sebagai pencipta suasana, artinya buku setiap saat dapat menjaditeman dalam situasi apapun, buku dapat men-ciptakan suasana akrab sehingga mampu mempengaruhi perkembangan dan karakter seseorang menjadi baik.

4. Buku sebagai sumber kreativitas, artinya dengan banyak membaca buku dapat membawa kreativitas yang kaya gagasan dan kreativitas biasa yang memiliki wawasan yang luas4.

Selain keempat fungsi tersebut, buku bagi bangsa Indonesia juga merupakan sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merupakan salah satu jenis ciptaan asli yang termasuk dalam perlindungan hak cipta seperti diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan konvensi Internasional. Dengan diaturnya buku sebagai salah satu ciptaan yang dilindungi oleh berbagai perundang-undangan nasional dan konvensi internasional Hak Cipta, tidak dapat disangkal lagi bahwa kehadiran buku sebagai ciptaan yang harus dilindungi sudah jelas diakui. Hal ini disebabkan buku yang merupakan kekayaan intelektual seorang pencipta selain mempunyai arti ekonomis bagi yang mengeksploitasinya, juga mempunyai arti yang penting bagi pembangunan spiritual dan material suatu bangsa. Oleh karena itu berbagai bentuk pelanggaran terhadap buku harus dicegah dan ditindaklanjuti.

Pelanggaran yang terjadi dalam hak cipta di bidang buku antara lain pembajakan buku. Perbuatan ini tidak hanya merugikan pengarang atau pencipta tapi juga merugikan

4 Edy Damian, op.cit, hal. 158

pihak toko buku, pemilik modal dan terutama pihak penerbit, karena penerbit menjadi sumber produksi, jika para penerbit lesu darah, maka pihak yang terkena dampak adalah pemilik modal, dan yang kedua adalah pengarang. Pembajakan yang dilakukan terhadap karya-karya, seperti lagu, film, dan buku telah merugikan negara cukup besar, yaitu mencapai Rp. 1 triliun setiap tahunnya. Namun, korban terparah dari pembajakan ini adalah para pencipta dan pekerja seni yang menciptakan karya tersebut.5 Persoalan

hak cipta selain menyangkut kepentingan pemegang hak cipta itu sendiri, juga secara tidak langsung mempengaruhi penerbit karena para penerbitlah secara langsung terlibat dalam melestarikan ciptaan para pengarang.6 Para pengarang/pencipta akan

enggan menulis buku karena penghasilannya rendah, sehingga menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat karena seharusnya para ilmuwan berlomba-lomba menyebarkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat. Pembajakan buku inipun dikhawatirkan akan membawa dampak serius terhadap program gemar membaca yang dicanangkan oleh pemerintah. Pembajakan buku dilakukan dengan mencetak buku yang diperkirakan dapat mendatangkan keuntungan, tanpa meminta izin kepada penerbit atau pengarang/ pencipta. Dengan demikian pembajak tidak perlu membayar honor pengarang dan penerbit. Pembajakan dilakukan dengan mencetak buku yang bersangkutan tanpa merubah bentuk tulisan, dan lain-lain, termasuk mutu kertas, tetapi ada pula yang merubah bagian-bagian, huruf,

5 http:/www.kompas cyber news.com, diakses 5

januari 2016

6 Harsono Adi Sumarto, Hak Milik Intelektual

Khususnya Hak Cipta, Akademi Pressindo, Jakarta, 1990, hal. 24

(4)

mutu kertas, cetakan dan sebagainya. Buku-buku bajakan biasanya dijual oleh pedagang-pedagang kecil yang menjual dengan mutu rendah dan kebanyakan diperdagangkan para penjaja di kios-kios. Para pembajak buku ini lebih mementingkan untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah hubungan antara penerbit dengan pengarang/penulis buku ?

2. Bagaimanakah perlindungan hukum yang diberikan kepada pengarang/penulis menurut Undang-Undang No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta ?

2. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

a) Menganalisis dan mengetahui hubungan antara penerbit dengan pengarang/penulis buku.

b) Mengetahui perlindungan hukum yang diberikan kepada pengarang/penulis menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

3. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi guna dan manfaat bagi :

1. Perguruan Tinggi (Universitas), khususnya Program Studi (Prodi) yang mengelola Prodi Ilmu Hukum, baik bagi dosen maupun mahasiswa dapat menambah wawasannya dibidang Hak Atas Kekayaan Intelektual, khususnya Hak Cipta.

2. Pengarang atau penulis buku juga masyarakat secara umum agar mengetahui hubungan antar penerbit dengan penga-rang dan perlindungan hukum yang diberikan oleh Undang-Undang Hak

Cipta kepada pengarang/penulis. 4. Metode penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penulisan hukum ini adalah penelitian normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder.7

Data sekunder tersebut terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.8 Sebagaimana tipe

dan pendekatan penelitian yang dipilih, maka memerlukan sumber bahan hukum yang dianalisis, yakni bahan hukum primer, ialah bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas, yang terdiri dari peraturan perundang-undangan dan sebagainya, maupun bahan hukum sekunder berupa publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, misalnya buku-buku teks, jurnal-jurnal hukum, dan sebagainya.9

Prosedur pengumpulan bahan hukum untuk penelitian ini dilakukan dengan cara inventarisasi dan kategorisasi. Sumber bahan hukum yang telah dikumpulkan kemudian dikategorikan. Selanjutnya, sumber bahan hukum yang telah dikumpulkan dan dikate-gorikan tersebut berdasarkan cara studi kepustakaan dilakukan dengan mempelajari pendapat para ahli yang tertuang dalam buku-buku literatur, kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan majalah hukum. Apabila

7 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian

Hukum Normatif suatuTinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hal.13

8 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian

Hukum, UI Press, Jakarta, 2005, hal. 52

9 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum,

Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007, hal. 142.

(5)

berkaitan dengan rumusan masalah yang sedang dibahas dapat dilakukan pengutipan jika diperlukan.

Dalam penelitian ini, semua bahan hukum, baik sumber bahan hukum primer maupun sumber bahan hukum sekunder, dianalisis dengan menggunakan metode deduktif, yaitu metode yang menganalisis ketentuan-ketentuan hukum sebagai suatu hal yang umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.

5. Hasil Pembahasan

a. Hubungan antara penerbit dengan pengarang/penulis buku

Pengertian hak cipta asal mulanya menggambarkan hak untuk menggandakan atau memperbanyak suatu karya cipta. Istilah copyright (Hak Cipta ) tidak jelas siapa yang pertama memakainya, tidak ada1 (satu) pun perundang-undangan yang secara jelas menggunakannya pertama kali. Menurut Stanley Rubenstain, sekitar tahun 1740 tercatat pertama kali orang menggunakan istilah “copyright”. Di Inggris istilah hak cipta ( copyright) pertama kali berkembang untuk menggambarkan konsep guna melindungi penerbit dari tindakan penggandaan buku oleh orang lain yang tidak mempunyai hak untuk menerbitkannya. Perlindungan bukan diberikan kepada si pencipta, melainkan diberikan kepada pihak penerbit. Perlindungan tersebut dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas investasi penerbit dalam membiayai percetakan suatu karya. Hal ini sesuai dengan landasan penekanan sistem hak cipta dalam “common law system” yang mengacu pada segi ekonomi.10

10 Muhammad Djumhana dan djubaedillah,

Hak Milik Kekayaan Intelektual, Sejarah, Teori,

Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta mempunyai perbedaan dengan hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.11

Hak terkait adalah hak yang berkaitan dengan hak cipta, yaitu hak eksklusif bagi pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukkannya; bagi produser rekaman suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi lembaga penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya.12

Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. Perlindungan hukum harus ditekankan kepada pencipta dalam arti memberikan perlindungan hukum terhadap hasil karya atau ciptaan seorang pencipta. Seseorang dapat dikatakan tidak menjiplak, meniru bahkan membajak hasil karya cipta dari pencipta apabila dalam hal ini ada suatu perjanjian antara pencipta dengan yang ingin meniru atau menjiplaknya bahwa suatu ciptaan itu benar-benar merupakan ciptaan dari pengarang itu sendiri. Perlindungan hukum hak cipta sebagai

dan Prakteknya di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal.47-48

11 Tim Lindsey dkk, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, PT. Alumni, Bandung,, 2006, hal. 120

12 Pasal 1 angka 5 UU Nomor 28 tahun 2014

(6)

hak khusus atau tunggal tersebut meliputi dua aspek yaitu hak ekonomi dan hak moral.

Hak ekonomi adalah hak yang dimiliki pencipta untuk mendapatkan keuntungan atas ciptaannya. Hak ekonomi yang melekat pada pencipta meliputi hak untuk mengumumkan, memperbanyak dan memberi ijin kepada orang lain untuk mengumumkan atau memperbanyak hasil ciptaan tersebut.

Sedangkan hak moral merupakan hak yang meliputi kepentingan pribadi/individu. Hak moral melekat pada pribadi pencipta. Hak moral yang dalam keadaan bagaimanapun dan dengan jalan apapun tidak dapat ditinggalkan daripadanya seperti mengumumkan karyanya, menetapkan judulnya, mencantumkan nama sebenarnya atau nama samarannya dan mempertahankan keutuhan/integritas ceritanya.

Seorang pencipta menurut Undang-undang Hak Cipta untuk melaksanakan haknya menikmati hasil ciptaan dapat melakukannya dengan pengalihan hak yang dimiliki. Hak yang dialihkan pada dasarnya tiada lain adalah hak pengalihan hak eksklusif pencipta atas suatu ciptaan yang dapat berupa suatu karya tulis misalnya kepada penerbit. Penerbit yang kemudian akan mengeksploitasi ciptaan karya tulis seseorang pencipta dalam suatu jangka waktu tertentu. Caranya dengan mendayagunakan atau mengelola suatu karya cipta seorang penulis selanjutnya pihak lain memberi suatu imbalan sebagai kompensasi atas hak untuk mengeksploitasi suatu ciptaan karya tulis misalnya berupa royalti, honorarium, fee atau bentuk-bentuk imbalan lain yang disepakati bersama dalam suatu perjanjian.13 Salah satu dari berbagai

jenis perjanjian yang mengatur pengalihan 13 Eddy Damian, op cit, hal.204

hak cipta suatu ciptaan khususnya karya tulis yang diterbitkan dalam wujud buku untuk dieksploitasi adalah perjanjian penerbitan buku antara penulis dengan penerbit buku.

Dunia perbukuan di Indonesia dewasa ini belum mengenal pembuatan perjanjian penerbitan buku antara penerbit buku dengan pencipta karya tulis (penulis/pengarang) yang telah distandarisir.14

Berbagai macam perjanjian penerbitan buku pada dasarnya sah-sah saja diadakan, asal memenuhi ketentuan-ketentuan per-undang-undangan yang berlaku terutama KUH Perdata dan UUHC, dan disetujui oleh pencipta dan penerbit buku. Secara tradisional buku didefinisikan sebagai penerbitan suatu karya tulis dan/atau gambar dalam bentuk sekumpulan halaman yang dijilid dan biasanya diproduksi dalam sejumlah eksemplar tertentu.15

Tidak sedikit para pencipta dan penerbit buku kurang menyadari apa saja yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang harus dituangkan dalam suatu perjanjian penerbitan buku.

Pada dasarnya suatu perjanjian penerbitan buku merupakan formulasi pengalihan hak cipta karya tulis dari penulis kepada penerbit buku. Formulasi atau konsep buku pengalihan hak cipta ini belum didapati dalam praktek.

Perjanjian lisensi penerbitan buku antara penulis dan penerbit buku dapat di-golong kan ke dalam di-golongan perjanjian untuk melakukan pekerjaan (jasa) tertentu sebagaimana diatur dalam KUH Perdata buku III, Bab ketujuh, pasal 1601 sampai 1601C.16

14 Ibid, hal. 224 15 Ibid, hal. 177 16 Ibid, hal. 214

(7)

Hubungan kerjasama antara penulis dengan penerbit, yang bertujuan untuk mengalihkan karya tulis (untuk dieksploitasi) dari penulis kepada penerbit. Hubungan itu dituangkan dalam akta otentik atau dibawah tangan, dinamakan perjanjian penerbitan buku. Penerbit yang menghendaki dari pihak penulis dilakukannya pekerjaan mencipta suatu karya tulis yang akan dieksploitasi hak-hak ekonominya oleh penerbit, dengan cara menerbitkan dalam bentuk buku.17

Suatu perjanjian penerbitan buku yang tergolong sebagai perjanjian lisensi eksklusif mengatur didalamnya beberapa hal tentang pengalihan atau transformasi hak cipta dari penulis kepada penerbit buku. Pada suatu pengalihan hak cipta dengan perjanjian penerbitan yang tergolong perjanjian lisensi esklusif, kepada penerbit hanya diberikan ijin untuk perbanyakan atau penggandaan karya tulis dalam bentuk buku.18

b. Perlindungan Hukum Pengarang/ Penulis Buku Berdasarkan UU No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

Perlindungan hukum terhadap hak cipta pada dasarnya dimaksudkan sebagai upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih baik bagi tumbuh dan berkembangnya gairah mencipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah Indonesia secara terus menerus berusaha untuk memperbaharui peraturan perundang-undangan di bidang hak cipta untuk menye-suaikan diri dengan perkembangan yang ada, baik perkembangan di bidang ekonomi maupun di bidang tekhnologi.

Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa pelanggaran hak cipta telah mencapai

17 Ibid, hal.214-215 18 Ibid, hal. 230

tingkat yang membahayakan dan dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat pada umumnya dan minat pengarang pada khususnya19.

Usaha yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam rangka perlindungan terhadap karya cipta ini ternyata belum membuahkan hasil yang maksimal. UUHC 2002 dalam memberikan perlindungan hukum terhadap suatu karya cipta maupun terhadap hak dan kepentingan pencipta atau pemegang hak cipta sudah cukup bagus dibandingkan dengan UUHC sebelumnya. Dalam realitasnya, pelanggaran hak cipta masih menggejala dan seolah-olah tidak dapat ditangani walaupun pelanggaran itu dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai macam bentuk pelanggaran yang dilakukan dapat berupa pembajakan terhadap karya cipta, mengumumkan, mengedarkan maupun menjual karya cipta orang lain tanpa seizin pencipta ataupun pemegang hak. Dampak lain dari pelanggaran ini di samping akan merusak tatanan masyarakat pada umumnya, juga akan mengakibatkan lesunya gairah untuk berkarya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra serta berkurangnya penghasilan atau pemasukan negara berupa pajak penghasilan yang seharusnya dibayar oleh pencipta atau pemegang hak cipta. 20

Pelanggaran hak cipta dapat berupa mengambil, mengutip, merekam, memper-banyak atau mengumumkan sebagian atau seluruh ciptaan orang lain, tanpa izin pen-cipta atau pemegang hak pen-cipta atau yang

19Insan Budi Maulana, Ridwan Khairandy, Nurjihad,

Kapita Selekta Hak Kekayaan Intelektual, Pusat Studi Hukum UII Yogyakarta Bekerjasama Dengan Yayasan Klinik Haki Jakarta, 2000, hal. 89

(8)

dilarang oleh undang-undang atau melanggar perjanjian.

Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:

a. Pengumuman, Pendistribusian, Komu-nikasi, dan/atau Penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;

b. Pengumuman, Pendistribusian, Komu-nikasi, dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan pada Ciptaan tersebut, atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan;

c. Pengambilan berita aktual, baik seluruh-nya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lainnya dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap; atau

d. Pembuatan dan penyebarluasan konten Hak Cipta melalui media teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat tidak komersial dan/atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait, atau Pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas pembuatan dan penyebarluasan tersebut. e. Penggandaan, Pengumuman, dan/atau

Pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pim pinan lembaga negara, pimpinan ke menterian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan

per-aturan perundang-undangan.21

Perbuatan pelanggaran hak cipta pada dasarnya ada dua kelompok, yaitu :

1. Dengan sengaja dan tanpa hak meng-umumkan, memperbanyak suatu cipta an atau memberi izin untuk itu. Termasuk perbuatan pelanggaran ini antara lain melanggar larangan untuk mengumum-kan, memperbanyak atau memberi izin untuk itu setiap ciptaan bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah di bidang pertahanan dan keamanan negara, kesusilaan dan ketertiban umum.

2. Dengan sengaja memamerkan, mengedar-kan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta.

Berdasarkan hal itulah, diperlukan adanya perlindungan hukum bagi pencipta dan penerbit hak cipta atas buku. Perlindungan hukum yang ada merupakan upaya yang diatur oleh Undang undang Hak Cipta guna mencegah terjadinya pelanggaran HAKI oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Perlindungan hukum diperlukan bagi pencipta atau pemegang hak cipta atas buku agar hak-hak yang dimiliki oleh pencipta atau pemegang hak cipta atas buku terlindungi.

Untuk melindungi hak-hak para pencipta buku negara melalui undang- undang juga telah menyediakan dua sarana hukum yang dapat digunakan untuk menindak pelaku pelanggaran terhadap hak cipta, yaitu melalui instrumen hukum perdata dan pidana.

Dalam konteks hukum perdata berdasarkan KUH Perdata, pihak pencipta buku dapat mengajukan gugatannya berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata sebagai suatu perbuatan 21 Pasal 43 Undang-Undang Nomor 24 tahun

(9)

melawan hukum. Hal ini disebabkan karena adanya suatu perbuatan pelanggaran hak subjektif orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum dari si pembuat sendiri.22

Hak subjektif orang lain merupakan hak cipta yang dimiliki oleh pencipta yang terdiri dari hak ekonomi untuk mendapatkan keuntungan yang bernilai ekonomi seperti uang, sedangkan hak moral yang menyangkut perlindungan atau reputasi dari si pencipta. Perbuatan yang dilakukan karena adanya perbuatan melawan hukum tersebut dapat digugat dengan ganti rugi yang ditentukan hukum dan hukum yang berlaku dalam Pasal 1365 KUH Perdata, yang berbunyi : “tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian”.

Sedangkan dalam konteks hukum ber-dasarkan UUHC Nomor 28 tahun 2014, jika ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang telah dilindungi oleh Undang-Undang dilanggar, maka si pencipta maupun penerbit hak cipta atas buku berhak mengajukan gugatan untuk menuntut ganti kerugian ke Pengadilan Niaga, dengan tidak mengurangi hak negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran hak cipta tersebut. Pencipta juga berhak untuk meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil perbanyakan ciptaan itu (Pasal 99 ayat (3) huruf a UUHC no 28 tahun 2014). Pemegang hak cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar memintakan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah, penemuan ilmiah, pertunjukan atau pameran karya, yang merupakan hasil pelanggaran hak 22Setiawan, Pokok-Pokok Perikatan, Bina Cipta,

Bandung, 1977, hal. 76

cipta (Pasal 99 ayat (2) UUHC no 28 tahun 2014). Sebelum memutuskan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan pengumumam dan/ atau perbanyakan ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran hak cipta pasal 99 ayat (3) huruf b UUHC no 28 tahun 2014. Selain penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 UUHC Nomor 28 tahun 2014, penyelesaian sengketa terhadap pelanggaran hak cipta bisa melalui alternatif penyelesaiaan sengketa arbiterase. Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999, yang dimaksud dengan arbitrase adalah penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang berdasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh pihak yang bersengketa.

Sedangkan alternatif penyelesaian seng-keta adalah lembaga penyelesaian sengseng-keta atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negoisasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli.23

Undang-Undang Hak Cipta telah men-jangkau perlindungan hukum terhadap karya cipta atas buku terutama bagi pengarang dan penerbit. Hal ini tampak jelas adanya hak-hak bagi pemegang hak cipta, dalam hal ini pencipta dan penerbit yang benar-benar dilindungi. Tidak hanya pencipta dan penerbit sebagai pemegang hak ciptaan, ahli waris dari pencipta pun mempunyai hak untuk melakukan penuntutan.

23 Pasal 1 ayat (10) Undang-Undang Nomor

30 Tahun 1999 tentang Arbiterase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

(10)

Pasal 96 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 ayat 1 menyebutkan bahwa :

“pencipta, pemegang hak cipta atau ahli warisnya yang mengalami kerugian hak ekonomi berhak memperoleh ganti rugi.”

Selain itu dalam UU Nomor 28 tahun 2014 mengatur tentang Lembaga manajemen kolektif. Lembaga manajemen kolektif adalah institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh pencipta, pemegang hak cipta, dan/atau pemilik hak terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalty.24

Pasal 87 UU no 28 tahun 2014 menyebut-kan bahwa :

”Untuk mendapatkan hak ekonomi setiap pencipta, pemilik hak terkait menjadi anggota Lembaga Manajemen kolektif agar dapat menarik imbalan yang wajar dari pengguna yang memanfaatkan hak cipta dan hak cipta terkait dalam bentuk layanan publik yang bersifat komersial.”

Berdasarkan hal tersebut maka peng-guna hak cipta dan hak cipta terkait yang memanfaatkan hak cipta dan hak cipta terkait dapat membayar royalty kepada pencipta, pemegang hak cipta melalui lembaga manajemen kolektif. Dengan adanya lembaga menajemen kolektif ini maka pencipta maupun pemegang hak cipta lebih terlidungi haknya dari para pengguna hak cipta karena lembaga manajemen kolektif akan menarik, menghimpun, dan mendistribusikan royalty dari pengguna yang bersifat komersial.

24 Pasal 1 angka 22 UU Nomor 28 tahun 2014

tentang Hak Cipta

Kesimpulan

1. Salah satu dari berbagai jenis perjanjian yang mengatur pengalihan hak cipta suatu ciptaan khususnya karya tulis yang diterbitkan dalam wujud buku untuk dieksploitasi adalah perjanjian penerbitan buku antara penulis dengan penerbit buku. Hubungan yang terjadi antar penerbit dengan penulis adalah hubungan kerjasama, yang bertujuan untuk mengalihkan karya tulis (untuk dieksploitasi) dari penulis kepada penerbit. Hubungan itu dituangkan dalam akta otentik atau dibawah tangan, dinama-kan perjanjian penerbitan buku.

2. Untuk melindungi hak-hak para pencipta buku Negara melalui Undang- Undang juga telah menyediakan dua sarana hukum yang dapat digunakan untuk menindak pelaku pelanggaran terhadap hak cipta, yaitu melalui instrumen hukum perdata dan pidana. Berdasarkan KUH Perdata, pihak pencipta buku dapat mengajukan gugatannya berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata sebagai suatu perbuatan melawan hukum Sedangkan dalam UUHC Nomor 28 tahun 2014, pencipta maupun penerbit hak cipta atas buku berhak mengajukan gugatan untuk menuntut ganti kerugian ke Pengadilan Niaga, dengan tidak mengurangi hak negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran hak cipta tersebut. Selain itu dalam pasal 87 UU no 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta dibentuk Lembaga Manajemen kolektif untuk melindungi hak ekonomi pencipta diman tugas lembaga ini adalah untuk menarik imbalan dari pengguna yang memanfaatkan hak cipta dan hak cipta terkait dalam bentuk layanan publik yang bersifat komersial.

(11)

Saran

1. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta sehingga masyarakat mengetahui adanya peraturan baru yang berbeda dengan Undang-Undang sebelumnya.

Penulis/pengarang hendaknya menjadi anggota Lembaga Manajemen Kolektif agar hak-haknya sebagai penulis terlindungi.

2. Sebaiknya hasil karya pencipta ( buku-buku ) didaftarkan pada kantor Hak Cipta Paten dan Merek untuk mendapatkan perlindungan dari pembajak.

Daftar Pustaka

Edy Damian, Hukum Hak Cipta , Alumni, Bandung, 2009

Harsono Adi Sumarto, Hak Milik Intelektual

Khususnya Hak Cipta, Akademi

Pressindo, Jakarta, 1990

Insan Budi Maulana, Ridwan Khairandy, Nurjihad, Kapita Selekta Hak Kekayaan

Intelektual, Pusat Studi Hukum UII

Yogyakarta Bekerjasama Dengan Yayasan Klinik Haki Jakarta, 2000

Muhammad Djumhana dan Djubaedillah,

Hak Milik Kekayaan Intelektual, Sejarah, Teori, dan Prakteknya di Indonesia, Citra

Aditya Bakti, Bandung, 2003

Masri Maris, Buku Panduan Hak Cipta Asia, IKAPI, Jakarta, 2006

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007

Setiawan, Pokok-Pokok Perikatan, Bina Cipta, Bandung,1977

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian

Hukum, UI Press, Jakarta, 2005

Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian

Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat,

PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006 Tim Lindsey dkk, Hak Kekayaan Intelektual

Suatu Pengantar, PT. Alumni, Bandung,

2006

Peraturan Perundang-Undangan

UU Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbiterase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa UU Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Internet

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di