8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. KomunikasiMenurut Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi suatu pengantar (Deddy Mulyana, 2004,41) komunikasi adalah suatu kebutuhan pokok bagi setiap umat manusia. Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial dapat mengisyaratkan bahwa komunikasi itu sangat penting untuk membangun konsep dalam diri, untuk mengaktualisasikan diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, dan terhindar dari ketegangan dan tekanan antara lain dan melalui komunikasi yang menghibur, dan untuk memupuk hubungan luas dengan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia juga ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Hal ini merupakan suatu hakekat sesama dalam kelompok dan masyarakat. Manusia dalam kehidupannya harus berkomunikasi. Komunikasi adalah satu aktivitas yang sangat fundamental dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, manusia memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Dalam suatu kelompok atau suatu komunitas, komunikasi bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama untuk mengubah persepsi, bahkan perilaku.
9
2.1.1. Proses Komunikasi
Komunikasi adalah proses yang berkelanjutan, ini berarti komunikasi akan terus berkembang dan menjadi lebih kompleks dengan perkembangan zaman. Hubungan komunkasi bukan suatu yang statis melainkan selalu berkembang dan berubah-ubah sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan. Seperti hubungan dalam pertemanan yang akan berkembang dari masa ke masa. Ketika kita baru berkenalan dengan seseorang lambat laun dengan seringnya berinteraksi akan berkelanjutan tidak memiliki awal dan akhir yang pasti. Pola komunikasi yang berkelanjutan membuat kita tidak dapat menghentikan prosesnya atau menarik perkataan yang sudah terlanjur kita ucapkan (Wood, 2013: 25-26)
2.1.2. Unsur-unsur Komunikasi
Proses komunikasi memiliki unsur-unsur atau komponen-komponen yang dimana pesan merupakan salah satu diantaranya. Komunikasi dapat berlangsung dengan didukung oleh beberapa unsur atau komponen seperti sumber, komunikator, pesan, saluran, komunikan dan efek. Banyak pendangan yang menyebutkan hanya membutuhkan tiga unsur atau elemen yang mendukung terjadinya komunikasi seperti Aristoteles menyebutkan ada tiga unsur yaitu siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan dan siapa yang didengarkan.
a. Komunikator
Komunikator adalah sumber komunikasi yang akan menyampaikan atau mengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber
10
atau komunikator bisa terdiri dari satu orang atau lebih yang membentuk kelompok seperti dalam sebuah masyarakat, organisasi atau lembaga. Sumber disebut dengan pengirim dan komunikator biasanya disebut source, sender, atau encoder.
b. Pesan
Pesan adalah sesuatu atau isi yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikannya yang berupa ilmu pengetahuan, informasi, nasihat, hiburan, propaganda dan sebagainya. Pesan disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi.
c. Komunikan
Komunikan atau disebut juga penerima pesan dari komunikator. Sama halnya dengan komunikator, penerima pesan bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Dalam proses komunikasi, keberadaan penerima adalah akibat adanya sumber, tidak ada penerima jika tidak ada sumber. Komunikan atau penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, jika suatu pesan diterima oleh komunikan akan menimbulkan berbagai macam masalah yang akan menghambat proses komunikasi, maka dari itu komunikator atau sumber sangat perlu untuk mengetahui karakter dari komunikannya dalam mencapai keberhasilan komunikasi.
d. Saluran
Saluran atau media ada lah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan atau informasi dari sumber kepada penerima. Dalam
11
komunikasi antarpribadi pancaindra dianggap sebagai alat atau media komunikasi selain pancaindra, telepon, surat, radio, televisi dan sebagainnya merupakan saluran atau media komunikasi.
e. Efek
Efek atau pengaruh adalah reaksi yang terjadi kepada komunikan dan komunikator setelah pesan disampaikan dan diterima. Reaksi komunikator dan komunikan bisa saja sama atau berbeda, reaksi komunikator akan sangat puas apabila komunikan mampu menerima dengan baik pesan yang disampaikannya begitu pula sebaliknya komunikan akan sangat tidak puas dengan pesan yang diterimanya. f. Noise (Gangguan)
Gangguan atau halangan adalah suatu hal yang dapat menghambat atau memperlambat proses interaksi komunikasi, sehingga pesan atau informasi yang diterma tidak jelas. Gangguan dalam proses komunikasi ada yang bersifat internal maupun eksternal. Gangguan internal adalah gangguan yang bersifat sematic yang berasal dari presepsi tau pengalaman partisipan yang berbeda-beda. Sedangkan gangguan eksternal adalah gangguan yang datang dari luar. Seperti suara atau bunyi yang “menutup” atau menghalangi pesan atau informasi yang sedang disampaikan, sehingga pesan atau informasi tersebut tidak terdengar atau terlihat.
12 g. Encoding
Encoding adalah proses mengubah ide-ide atau perasaan menjadi sebuah symbol atau kode untuk disalurkan kepada orang lain (komunikan).
h. Decoding
Proses mengubah symbol atau kode yang diterima menjadi makna melalui penafsiran.
i. Field of expeince
Komunikan mempunyai pengalaman, pengetahuan, ide, nilai, perasaan, ideology dan lainnya yang selalu terlibat atau berkaitan dengan pesan-pesan yang disampaikan komunikator, sehingga terdapat pengaruh bagi komunikan tersebut.
j. Fram of reference
Seseorang yang dijadikan contoh atau rujukan yang dianggap penting atau berjasa seperti misalnya tokoh agama, tokoh masyarakat dan orang yang memiliki pengaruh besar yang dihormati, yang bisa menjadi dasar persepsi makna pada komunikan untuk menerima pesan (Hamidi, 2010:3-6)
(Mulyana, 2012:143), Dalam proses komunikasi akan dijumpai model-model komunikan mengidentifikasi proses dan unsur-unsur komunikasi secara ideal yang dibutuhkan dalam komunikasi dan terus berhubungan. Berikut ini ada tiga model dalam komunikasi yaitu:
13 a. Model Linear
Model linear atau model komunikasi satu arah. Kekurangan dari model ini adalah komunikasi satu arah dari pengirim ke penerima pasif. Pendengar hanya menerima dan menyerapnya secara pasif pesan dari pembicara. Pendengar biasanya hanya mengangguk, tersenyum, mengerut dahi, terlihat bosan atau tertarik dengan pesan tersebut. Model ini hanya menampilkan pengirim yang lebih aktif dari pada penerima sehingga Shannon dan Weaver dalam (Mulyana, 2012: 149-150) menyoroi adanya gangguan dalam penyampaian pesan.
Gambar 2. 1 Model Shannon dan Weaver (Mulyana, 2012: 149)
Pengirim menyampaikan pesan untuk dikomunikasikan, pemancar (Transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran adalah alat yang digunakan untuk mengirim sinyal. Dalam percakapan pengirim atau sumber adalah otak, Pemancar adalah mekanisme yang menghasilkan sinyal melalui udara, Penerima (receiver) yaitu Informasi
Source Transmmiter Receiver Destination
Noise Source
14
penerima melakukan operasi sebaliknya yang dilakukan pemancar dengan mengkontruksikan pesan dari sinyal. Sasaran adalah yang menjadi tujuan dari pesan. Gangguan sendiri adalah rangsangan tambahan yang tidak dikehendaki yang dapat menggangu keefektifan pesan.
b. Model Interaksional
Model interaksional ini merujuk kepada komunikasi sebagai proses di mana pendengar atau peserta memberikan umpan balik. Model interaksional ini pengembangan dari model linear. Dalam model ini pendengar atau peserta berhak mengirim dam menerima pesan (Wood, 2013: 20). Model interaksional ini adalah individu atau orang-orang yang mengemangkan potensi berfikirnya dan manusiawinya melalui interaksi sosialnya, yaitu dengan pengambilan peran orang lain (role-taking). Diri (self) berkembang melalui interaksi dengan orang lain.
Diri/Yang lain
Diri/Yang lain
Diri/Yang lain
Konteks Kultural
Gambar 2. 2 Model Interaksional (Mulyana, 2012: 173)
15 c. Model Transaksional
Model ini menerapkan pola komunikasi yang dinamis. Salah satu ciri dari model ini adalah penjelasan tentang pesan, pengetahuan, pengalaman dan gangguan dalam sewaktu-waktu. Model transaksional ini menganggap gangguan muncul di seluruh proses komunikasi interpersonal, model ini juga menjelaskan bahwa komunikasi terjadi dalam system yang mempengaruhi apa dan bagaimana seseorang dapat berkomunikasi serta apa makna yang terdapat atau tercipta dari proses tersebut. System ini termasuk dalam lingkar atau lingkungan bersama (Share system) antar komunikator dengan lingkungannya.
Model komunikasi transaksional ini melihat kedua pihak dalam posisi yang setara. Yang memiliki peran sama yang artinya komunikator dan komunikan bisa menjadi pihak yang mengirim pesan, menerima pesan atau keduanya dalam waktu yang bersamaan.
16
Dari tiga model komnikasi diatas, konsep penelitian peneliti lebih tepat kepada model interaksional, di mana pendengar atau peserta dapat memberikan umpan balik. Dalam model ini pendengar atau peserta berhak mengirim dan menerima pesan (Wood, 2013: 20). Model interaksional ini dalah individu atau orang-orang yang mengembangkan potensi berfikirnya dan manusiawinya melalui interaksi sosialnya, yaitu dengan pengambilan peran orang lain (role-taking), diri (self) berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Pada penelitian hambatan komunikasi dalam mengatasi disharmonisasi warga perumahan ini, proses komunikasi lebih dominan ke komunikator dan komunikan memberikan umpan balik dari pesan-pesan yang telah disampaikan oleh komunikator.
2.2. Hambatan Komunikasi
Hambatan komunikasi adalah segala sesuatu yang menghalangi atau menggangu tercapainnya sebuah komunikasi yang efektif. Hambatan komunkasi dapat mempersulit dalam mengirim pesan yang jelas, mempersulit pemahaman terhadap pesan yang dikirimkan, serta mempersulit dalam memberikan umpan balik yang sesuai (Onong, 2015: 11).
Secara garis besar, terdapat empat jenis hambatan komunikasi yaitu hambatan sosiologis-antropologis-psikologis, semantis, mekanis, dan ekologis.
17 2.2.1. Hambatan sosio-antro-psikologis
Proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional (situational context). Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi ketika komunikasi dilangsungkan, sebab situasi amat berpengaruh terhadap kelancaran berkomunikasi, terutama situasi yang berhubungan dengan factor-faktor sosiologis-antropologis-psikologis (Onong, 2015: 11).
a. Hambatan sosiologis
Seseorang sosiolog Jerman bernama Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan kehidupan manusia dalam masyarakat menjadi dua jenis pergaulan yang ia namakan Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft adalah pergaulan hidup yang bersifat pribadi, statis, dan tak rasional, seperti dalam kehidupan rumah tangga; sedang Gesellschaft adalah pergaulan hidup yang bersifat tak pribadi, dinamis, dan rasional, seperti pergaulan di kantor atau dalam organisasi.
Masyarakat terdiri dari berbagai golongan dan lapisan, yang menimbulkan perbedaan dalam status sosial, agama, ideology, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, dan sebagainya, yang semuanya dapat menjadi hambatan bagi kelancaran komunikasi (Onong, 2015: 11-12).
b. Hambatan antropologis
Manusia, meskipun satu sama lain sama dalam jenisnya sebagai mahluk “homo sapiens”, tetapi ditakdirkan berbeda dalam banyak
18
hal. Berbeda dalam postur, warna kulit, dan kebudayaan, yang pada kelanjutannya berbeda dalam gaya hidup (way of life), norma, kebiasaan, dan bahasa.
Dalam melancarkan komunikasinya seseorang komunikator tidak akan berhasil apabila ia tidak mengenal siapa komunikan yang dijadikan sasarannya. Yang dimaksudkan dengan “siapa” di sini
bukan nama yang disandang, melainkan ras apa, bangsa apa, atau suku apa. Dengan mengenal dirinya, akan mengenal pula kebudayaannya, gaya hidup dan norma kehidupannya, kebiasaan dan bahasanya
Komunikasi akan berjalan lancer jika suatu pesan yang disampaikan komunikator diterima oleh komunikan secara tuntas, yaitu diterima dalam pengertian received atau secara inderawi, dan dalam penegrtian accepted atau secara rohani (Onong, 2015: 12).
c. Hambatan psikologis
Factor psikologis sering kali menjadi hambatan dalam komunikasi. Hal ini umumnya disebabkan komunikator sebelum melancarkan komunikasinya tidak mengkaji diri komunikan. Komunikasi sulit untuk berhasil apabila komunikan sedang sedih, bingung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati, dan kondisi psikologis lainnya; juga jika komunikasi menaruh prasangka (prejudice) kepada komunikator. Prasangka merupakan salah satu hambatan berat bagi kegiatan komunikasi, karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah
19
bersikap menentang komunikator. Pada orang yang bersikap prasangka emosinya menyebabkan dia menarik kesimpulan tanpa menggunakan pikiran secara rasional. Prasangka sebagai factor psikologis dapat disebabkan oleh aspek antropologis dan sosiologis; dapat terjadi terhadap ras, bangsa, suku bangsa, agama, kelompok, dan apa saja yang bagi seseorang merupakan suatu perangsang disebabkan dalam pengalamannya pernah diberi kesan yang kurang mengenakkan (Onong, 2015: 12-13).
2.2.2. Hambatan Semantis
Factor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada
komunikan. Demi kelancaran komunikasinya seseorang kamunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan semantic ini, sebab salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau salah tafsir (misinterpretation), yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication) (Onong, 2015: 14).
2.2.3. Hambatan Mekanis
Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam memlancarkan komunikasi. Hambatan pada beberapa media tidak mungkin diatasi oleh komunkator, misalnya hambatan yang dijumpai pada surat kabar, radio, dan televisi. Tetapi pada beberapa media komunikator dapat saja mengatasinya dengan mengambil sikap tertentu, misalnya ketika sedang
20
menelpon terganggu oleh suara bising, barangkali dapat mengulanginya beberapa saat kemudian (Onong, 2015: 15).
2.2.4. Hambatan Ekologis
Hambatan ekologis terjadi disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi, yang datang dari lingkungan. Situasi komunikasi yang tidak menyenangkan seperti itu dapat diatasi komunikator dengan menghindarkannya jauh sebelum atau dengan mengatasinya pada saat sedang berkomunikasi (Onong, 2015: 16).
2.3. Komunikasi dan Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perseorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok-kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan saling berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial. Walupun orang-orang yang bertemu muka tersebut tidak saling berbicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi sosial telah terjadi, oleh karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan daalam perasaan maupun saraf orsng-orang yang bersangkutan, yang disebabkan oleh misalnya bau keringat, minyak wangi, suara berjalan, dan sebagainya. Kesemuanya itu menimbulkan kesan didalam pikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya (Soekanto, 1990: 61).
21
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai factor, antara lain factor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Factor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Apabila masing-masing ditinjau secara lebih mendalam, maka factor imitasi misalnya mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa faktor imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negative di mana misalnya yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Kecuali daripada itu, imitasi juga dapat melemahkan atau bahkan mamatikan pengembangan daya kreasi seseorang faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Jadi proses ini sebenarnya hamper sama dengan imitasi akan tetapi titik-tolaknya berbeda. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda oleh emosi, hal mana menghambat daya berpikirnya secara rasional. Faktor identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, oleh karena kepribadian seseoran dapat terbentuk atas dasar proses ini. Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya (secara tidak sadar), maupun dengan sengaja oleh karena seringkali seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya. Walaupun dapat berlangsung dengan
22
sendirinya, proses identifikasi berlangsung dalam suatu keadaan di mana sesorang yang beridentifikasi benar-benar mengenal pihak lain (yang menjadi idealnya), sehingga pandangan, sikap maupun kaidah-kaidah yang berlaku pada pihak lain dapat melembaga dan bahkan menjiwainya. Faktor simpati sebenarnya merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya (Soekanto, 1990: 63-64).
2.3.1. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan jga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Suatu pertikaian mungkin mendapatkan suatu penyelesaian. Mungkin penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, prosesnya dinamakan akomodasi (accomodation), di mana kedua belah pihak belum tentu puas sebelumnya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, 1964: 177).
1. Kerja Sama (Cooperation)
Bentuk dan pola-pola kerja sama dapat dijumpai pada semua kelompok manusia. Kebiasaan-kebiasaan dan sikap-sikap demikian dimulai sejak masa kanak-kanak di dalam kehidupan keluarga atau kelompok-kelompok kekerabatan. Atas dasar itu, anak tersebut akan
23
menggambarkan bermacam-macam pola kerja sama setelah dia menjadi dewasa. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakkan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua . juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama, supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik.
2. Akomodasi (Accommodation)
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti yaitu untuk menunjuk pada suat keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menujuka pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
Sebagai suatu proses, akomodasi menujuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha-usaha untuk mencapai kesetabilan. Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
24 3. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Apabila orang-orang melakukan asimilasi ke dalam suatu kelompok manusia atau masyarakat, maka dia tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok tersebut yang mengakibatkan mereka dianggap sebagai orang asing. Dalam proses asimilasi, mereka mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok. Apabila dua kelompok manusia mengadakan asimilasi, batas-batas antara kelompok-kelompok tadi akan hilang dan keduanya lebur menjadi satu kelompok.
4. Persaingan (Competition)
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian public atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan
25
mempunyai dua tipe umum yakni yang bersifat pribadi dan tidak pribadi. Bersifat pribadi yaitu orang perorangan atau individu secara langsung bersaing untuk, misalnya, memperoleh kedudukan tertentu di dalam suatu organisasi. Tipe ini dinamakan rivalry.
5. Kontravensi (Contravention)
Kontravensi pada hakikatnya adalah suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suak yang disembunyikan kebencian atau keraguan terhadap kepribadian seseorang.
Dalam bentuknya yang murni, kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Sikap tersembunyi tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak smapai menjadi pertentangan atau pertikaian.
6. Pertentangan atau Pertikaian (Conflict)
Pertentangan adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan.
Sebab musabab atau akar-akar pertentangan antara lain sebagai berikut.
26
a. Perbedaan antara individu-individu. Perbedaan pendirian dan perasaan mungkin akan melahirkan bentrok antara mereka. b. Perbedaan kebudayaan. Perbedaan kepribadian diri
orang-perorangan tergantung pula dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar-belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut. Seseorang antara sadar maupun tidak sadar, sedikit banyak akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya. Selanjutnya, keadaan tersebut dapat pula menyebabkan terjadinya pertentangan antara kelompok manusia.
c. Perbedaan kepentingan. Perbedaan kepentingan antarindividu maupun antarkelompok merupakan sumber lain dari pertetentangan. Wujud kepentingan dapat bermacam-macam, ada kepentingan ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Majikan dan buruh umpamanya mungki bertentangan karena yang satu menginginkan upah kerja yang rendah, sedng buruh menginginkan sebaliknya.
d. Perubahan sosial. Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dan ini menyebabkan terjadinya golongan-golongan yang berbeda pendirianya, umpamnya mengenai reorganisasi system nilai. Sebagaiman diketahui
27
perubahan sosial mengakibatkan terjadinya disorganisasi pada struktur.
2.4. Teori Interaksi Simbolis
George Herbert Mead adalah seorang pakar di bidang kontruksi sosial. Mead percaya bahwa pikiran kita, pola pikir, dan komunitas lingkungan sekitar kita adalah sesuatu yang terbentuk melalui komunikasi-interaksi simbolis yang digunakan manusia untuk membentuk makna dan struktur masyarakat melalui percakapan (Griffin, 2012: 54-61).
Menurut George Herbert Mead (Morissan, 2013: 224-225) interaksi simbolis mendasarkan gagasannya atas enam hal yaitu:
1. Manusia membuat keputusan dan bertindak pada situasi yang dihadapinya sesuai dengan pengertian subjektifnya.
2. Kehidupan sosial merupakan proses interaksi, kehidupan sosial bukanlah struktur atau bersifat structural dan karena itu akan terus berubah.
3. Manusia memahami pengalamannya melalui makna dari symbol yang digunakan di lingkungan terdekatnya (primary group), dan bahasa merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan sosial. 4. Dunia terdiri dari berbagai objek sosial yang memiliki nama dan
28
5. Manusia mendasarkan tindakannya atas interpretasi mereka, dengan mempertimbangkan dan mendefinisikan objek-objek dan tindakan yang relevan pada situasi saat itu.
6. Diri seseorang adalah objek signifikan dan sebagaimana objek sosial lainnya diri didefinisikan melalui interaksi sosial dengan orang lain.
Menurut George Herbert Mead (Griffin, 2012: 54-61) tanpa interaksi simbolik, rasa kemanusiaan yang selama ini kita kenal, tidak akan pernah ada. Mead menyatakan ada lima prinsip interaksi simbolik yang berhubungan dengan pemahaman, bahasa, pemikiran, cerminan diri dan bermasyarakat sebagai berikut:
1. Pemahaman.
Manusia cenderung bertingkah laku kepada manusia atau benda berdasarkan pemahamannya terhadap manusia atau benda tersebut. 2. Bahasa.
Pemahaman berkembang menjadi interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Yang artinya pemahaman bukanlah suatu objek yang mana lahir secara alami. Pemahaman adalah proses negoisasi yang memanfaatkan bahasa yang mana hal ini juga termasuk dalam interaksi simbolik. Mead, percaya bahwa penamaan simbol adalah dasar dari sosial bermasyarakat.
29 3. Pemikiran.
Pemikiran manusia tentang simbol, dimodifikasi oleh mereka sendiri (manusia) melalui proses interaksi simbolik menggambarkan bahwa pemikiran adalah bentuk komunikasi ke dalam (inerconversation). 4. Cerminan diri.
Saat kita mengetahui bahwa pemahaman, bahasa dan pemikiran adalah saling berkaitan, kita menjadi lebih paham ten tang konsep diri sendiri yang dimaksud oleh Mead. Ini adalah syatu bentuk fenomena dalam masyarakat yang mana manusia itu cenderung meniru gambaran dari orang lain. Pakar interaksi mengatakan bahwa jenis mental ini sebagai cerminan diri (Looking glass self), yang mana terbentuk dari kontruksi sosial.
5. Bermasyarakat
Mead melihat bahwa bermasyarakat itu terbentuk dari individu-individu yang hidup berdasarkan pilihan mereka sendiri. Yang mana individual-individual tersebut membuat sebuah kelompok dan mereka membentuk sebuah sistem kesehatan, hokum, ekonomi dan sistem lainnya.
Teori ini memberikan penekanan pada beberapa konsep seperti, simbol. Berfikir, diri, interksi dan definisi. Dengan kata lain teori ini mempfokuskan pada peran makna dalam kehidupan manusia terutama cara mereka dalam menggunakan simbol dalam berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu aspek simbol keagamaan, ritual, kepercayaan, pengalaman keagamaan serta
30
komunitas kegamaan merupakan unit yang diungkapkan lebih jauh dari perspektif.
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktifitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi dan pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana, 2010: 68). Interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Interaksi simbolik ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka.
Mulyana (2010: 71) menjelaskan secara ringkas interaksi simbolik didasarkan pada premis-premis berikut ini:
1. Individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen tersebut bagi mereka. Ketika mereka menghadapi suatu situasi, respon mereka tidak bersifat mekanis. Tidak pula ditentukan oleh faktor-faktor eksternal. Respon mereka tergantung pada bagaimana mereka mendefinisikan situasi yang dihadapi dalam interaksi sosial. Jadi individulah yang dipandang aktif untuk menentukan lingkungan mereka sendiri.
2. Makna adalah proses interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa.
31
Negosiasi ini dimungkinkan karena manusia mampu menamai segala sesuatu, bukan hanya objek fisik, tindakan atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran objek fisik, tindakan, atau peristiwa itu), namun juga gagasan yang abstrak.
3. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Manusia membayangkan atau merencanakan apa yang akan mereka lakukan.
Keunikan dan dinamika simbol dalam proses interaksi sosial menuntut manusia untuk lebih kritis, peka, aktif, dan kreatif dalam mengi-interpretasikan simbol-simbol yang muncul dalam interaksi sosial. Penafsiran yang tepat atas simbol tersebut turut menentukan arah perkembangan manusia dan lingkungan.Sebaliknya, penafsiran yang keliru atas simbol dapat menjadi petaka bagi hidup manusia dan lingkungannya
2.5. Harmonisasi dan Disharmonisai dalam Kehidupan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Artinya, manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Manusia akan membutuhkan orang lain untuk menyempurnakan hidupnya. Kita akan butuh orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti berbelanja, bekerja, dan menyelesaikan masalah. Tentu semua itu tidak mungkin dihadapi dengan sendiri. Harus ada orang lain yang menjadi rekan kerja, yang menjadi pedagang, juga yang menjadi teman.
32
Terlepas dari itu semua, dalam lingkungan tempat tinggal pun kita tidak akan hidup sendiri. Ada orang lain, rumah yang lain yang berdiri di samping, depan, dan belakang rumah kita. Itulah yang disebut sebagai tetangga. Maka dari itu kita membutuhkan keselarasan (Harmonis) untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam kehidupan sosial. Dan tidak keselarasan (disharmonis) juga sering kita jumpai saat berhubungan dengan orang lain yang menimbulkan masalah dalam kehidupan sosial.
2.5.1. Harmonis
Kata ”Harmonisasi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata ”Harmonia” yang artinya terikat secara serasi dan sesuai. Menurut arti filsafat, harmonisasi diartikan ”kerjasama antara berbagai faktor yang sedemikaian
rupa, hingga faktor-faktor tersebut menghasilkan kesatuan yang luhur”. Istilah harmonisasi secara etimologis menunjuk pada proses yang bermula dari suatu upaya, untuk menuju atau merealisasi sistem harmoni. Istilah harmoni juga diartikan keselarasan, kecocokan, keserasian, keseimbangan yang menyenangkan. Menurut arti psikologis, harmonisasi diartikan sebagai keseimbangan dan kesesuaian segi-segi dalam perasaan, alam pikiran dan perbuatan individu, sehingga tidak terjadi hal-hal ketegangan yang berlebihan. Dalam konteks membandingkan antara mentalis Barat dan Timur, Soetoprawiro mengemukakan mengenai harmoni yang menjadi faktor paling penting di dalam kehidupan masyarakat indonesia.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, istilah harmonis diartikan sebagai keselarasan, kesesuaian, kecocokan dan keseimbangan. Unsur-unsur
33
yang dapat di tarik dari perumusan pengertian harmonisasi, antara lain (Kusnu Goesniadhie, 2006: 59):
a. Adanya hal-hal ketegangan yang berlebihan.
b. Menyelaraskan kedua rencana dengan menggunakan bagian masing-masing agar membentuk suatu system.
c. Suatu proses atau suatu upaya untuk merealisasi keselarasan, kesesuaian, kecocokan, dan keseimbangan.
d. Kerjasama antara berbagai faktor yang sedemikian rupa, hingga faktor-faktor tersebut menghasilkan kesatuan yang luhur.
2.5.2. Disharmonis
Suatu keadaan dikatakan disharmonisasi atau tidak selaras adalah keadaan yang mencerminkan suatu kondisi atau situasi yang terjadi dalam sebuah kelompok manusia ( Gunarsa, 1993 : 34).
Disharmonisasi adalah suatu tidak terjadinya keselarasan secara keseluruhan yang dianggap mempunyai nilai negative dengan beberapa aspek penilaian. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa disharmonisasi adalah suatu keadaan atau kondisi yang terlihat tidak bahagia dalam suatu kumpulan manusia.
34
2.5.3 Peranan Masyarakat dalam Membangun Harmonisasi Sosial
Manusia pada umumnya bercita-cita agar ada perbedaan kedudukan dan peranan dalam masyarakat. Akan tetapi cita-cita tersebut selalu akan tertumbuk pada kenyataan yang berlainan. Setiap masyarakat harus menempatkan individu-individu pada tempat-tempat tertentu dalam struktur sosial dan mendorong mereka untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai akibat penempatan tersebut. Dengan demikian masyarakat menghadapi dua persoalan, pertama menempatkan individu-individu tersebut dan kedua mendorong agar meraka melaksanakan kewajibanya.
Apabila semua kewajiban selalu sesuai dengan keinginan si individu, dan sesuai pula dengan kemampuan-kemampuan dan seterusnya, maka persoalannya tak akan terlalu sulit untuk dilaksanakan. Tetapi kenyataan tidaklah demikian. Maka mau tidak mau ada sistem lapisan masyarakat, karena gejala tersebut sekaligus memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat: yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan kedudukan serta perannya. Pengisian tempat-tempat tersebut merupakan daya pendorong agar masyarakat bergerak sesuai dengan fungsinya. Akan tetapi wujudnya dalam setiap masyarakat juga berlainan. Karena tergantung pada bentuk dan kebutuhan masing-masing masyarakat. Jelas bahwa kedudukan dan peranan yang dianggap tertinggi oleh setiap masyarakat adalah kedudukan dan peranan yang dianggap terpenting serta
35
memerlukan kemampuan dan latihan-latihan yang maksimal (Soekanto, 1990: 254-255).
2.6. Masyarakat
Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya berhubungan secara golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu sama lain (Shadily, 1984: 47).
2.6.1. Kehidupan Masyarakat
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, namun demikian mengapa harus hidup bermasyarakat? Di dalam hubungan antar manusia dengan manusia lain, yang agaknya paling penting adalah reaksi timbul sebagai akibat hubungan-hubungan tadi. Reaksi tersebutlah yang menyebabkan tindakan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau seseorang menyanyi, dia memerlukan reaksi, entah yang berwujud pujian atau celaan yang kemudian merupakan dorongan bagi tindakan-tindakan selanjutnya. Di dalam memberikan reaksi tersebut ada suatu kecenderungan manusia untuk memberikan keserasian dengan tindakan-tindakan orang lain. Karena sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu (Soekanto, 1982: 113-115) :
1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (yaitu masyarakat).
36
2.6.2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial
Untuk mempelajari perubahan masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi selaras. Mungkin saja karena ada factor baru yang lebih menyelaraskan masyarakat sebagai pengganti factor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi untuk menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih dahulu.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sebab-sebab tersebut mungkin sumbernya ada yang terletak di dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar. Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri, antara lain adalah (Soekanto, 1982: 317-325):
1. Bertambahnya atau Berkurangnya Penduduk. Pertambahan penduduk yang sangat cepat di pulau jawa menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain (Transmigrasi). Perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan, yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan. 2. Penemuan-penemuan Baru. Suatu proses sosial dan kebudayaan yang
besar, tetapi yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, adalah inovasi atau innovation. Proses tersebut meliputi suatu
37
penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat dan cara-cara unsur kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan. Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
3. Pertentangan (conflict) masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan-pertentangan mungkin terjadi antara individu dengan kelompok atau perantara kelompok dengan kelompok. Kepentingan idividu walaupun diakui, tapi mempunyai fungsi sosial. Tidak jarang timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan kelompoknya, yang dalam hal-hal tertentu dapat menimbulkan perubahan-perubahan.
4. Terjadinya pemberontakan atau revolusi. Segenap lembga kemsyarakatan, mulai dari bentuk Negara sampai keluarga batih mengalami prubahan-perubahan yang mendasar. Suatu perubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri, yaitu: sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia, peperangan, pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
2.6.3. Konflik dalam masyarakat
Pengertian konflik adalah fenomena sosial yang bersifat semesta (universal) dan melekat (inherent) dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena
38
itu konflik tidak perlu dilihat sebagai gejala patologis yang bersumber dari tingkah-laku devian/abnormal, karna setiap komunitas masyarakat mempunyai kapasitas untuk menciptakan norma-norma dan mekanisme-mekanisme tersendiri untuk menyelesaikan konflik-konflik yang muncul dalam pergaulan sosial warga masyarakat.
Dalam perspektif Antropologi Hukum, fenomena konflik mempunyai makna ganda yaitu makna negatif dan makna positif, makna negatif, konflik menimbulkan disintegrasi suatu kehidupan sosial dan melemahkan kohesi sosial atau menimbulkan kerusakan suatu sistem hubungan sosial dalam masyarakat. Makna positif, konflik dapat mempertahankan integrasi sosial, memperkokoh ikatan sosial, memberi kontribusi untuk mengembalikan keseimbangan hubungan sosial antar individu atau kelompok. Makna positif akan terwujud jika pihak-pihak yang terlibat konflik secara bersama-sama dapat mengelola, mengendalikan, dan menyelesaikan konflik yang dihadapi secara dewasa, bijak, damai, dengan atau tanpa mengundang kehadiran pihak ketiga (Gluckman, 1956 dalam buku Habib Achmad).
Secara umum dikatakan bahwa terjadinya konflik dalam masyarakat bersumber dari persoalan-persoalan sebagai berikut:
1. Penguasaan, pemanfaatan dan distribusi sumber daya alam (natural resources control and distribution)
2. Ekspansi batas wilayah kehidupan suatu kelompok masyarakat (terittoriality expantion)
39
3. Kegiatan ekonomi masyarakat (economic activities) dan kepadatan penduduk (density of population)
Dalam perspektif Antropologi Hukum, konflik yang terjadi dalam masyarakat paling tidak dapa dikategorikan menjadi 3 macam yaitu :
Konflik kepentingan (conflict of interests)
Konflik nilai-nilai (conflict of values)
Konflik norma (conflict of norms)
Nader dan Todd (1978) menyatakan bahwa pada dasarnya konflik-konflik yang terjadi dimasyarakat melalui tahapan-tahapan konflik-konflik sebagai berikut :
Pra konflik, adalah keadaan yang mendasari rasa tidak puas seseorang,
bersifat monadik
Konflik, adalah keadaan dimana para pihak menyadari atau
mengetahui adanya perasaan tidak puas tersebut, bersifat diadik
Sengketa, adalah keadaan dimana konflik tersebut dinyatakan di muka
umum atau melibatkan pihak ketiga, bersifat triadic atau publik.
Sedangkan model-model penyelesaian konflik yang dikenal dalam masyarakat sederhana maupun modern adalah sebagai berikut :
Membiarkan saja (limping if), salah satu pihak tidak menanggapi
keluhan, gugatan, tuntutan pihak lain atau mengabaikan konflik yang terjadi dengan pihak lain
40
Menghindar (avoidance), salah satu pihak menghindari konflik karena
tidak berdaya atau untuk menjaga hubungan dengan pihak lain
Kekerasan (coersion), penyelesian dengan mengandalkan kekuatan
fisik dan kekerasan, seperti melakukan tindakan hukum sendiri (self help atau eigenrichting)
Negoisasi, melalui proses kompromi antara pihak-pihak yang
berkonflik.
Mediasi, melalui kesepakatan antara pihak-pihak yang dilibatkan
pihak ketiga mediator dalam penyelesaian konflik, walau hanya berfungsi sebatas perantara (go-between) yang bersifat pasif, karena inisiatif untuk mengambil keputusan tetap didasarkan pada kesepakatan pihak-pihak yang berkonflik
Arbitrase, memalui kesepakatan untuk melihat pihak ketiga yang
disebut arbitrator sebagai wasit yang memberi keputusan dan keputusan tersebut harus ditaati dan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkonflik
Ajudikasi, melalui institusi pengadilan yang keputusannya mengikat
para pihak
Sistem nilai, norma, politik, ekonomi, dan keyakinan sangat
mempengaruhi pilihan bentuk institusi dan model-model penyelesaian konflik dalam masyarakat.