• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah TEKNIK DESAIN MEKANIKA Vol. No., November 2015 (1 7)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Ilmiah TEKNIK DESAIN MEKANIKA Vol. No., November 2015 (1 7)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

E-mail: [email protected]

Karakteristik porositas paduan perunggu timah putih (80%Cu -

20%Sn) dan perunggu silikon (95%Cu – 5%Si) dengan variasi

laju pendinginan pada pengecoran cetakan pasir

Made Septa Setya Wigangga, I Ketut Gede Sugita, dan I. G.N Priambadi

Jurusan Teknik Mesin Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali

Abstrak

Perunggu timah putih banyak diaplikasikan dalam pembuatan alat musik gambelan, namun perunggu timah putih mudah retak atau patah akibat adanya porositas pada proses pengecoran serta bersifat getas. Dalam upaya mengatasi hal itu perunggu silikon direkomedasikan, dengan variasi laju pendinginan pada proses pengecoran untuk mengetahui karakteristik porositas material perunggu timah putih dan perunggu silikon.Penelitian dilakukan dengan mengamati porositas dan karakteristik porositas material perunggu timah dan perunggu silikon dengan menggunakan pengujian porositas, SEM dengan variasi laju pendinginan pada setiap zone (chill zone, columnar zone dan equiaxed zone). Semakin cepat laju pendinginan maka porositas semakin besar serta karakteristik porositas dan cacatnya semakin beragam. Ini terlihat pada chill zone perunggu timah putih dimana laju pendinginan mencapai 4,45oC/detik dengan besar porositas mencapai 6,27% dan chill zone perunggu silikon dimana laju pendinginan mencapai 2,05oC/detik dengan porositas mencapai 5,16%. Cacat yang terjadi pada laju pendinginan yang cepat berupa porositas gas, shirinkage dan crack Sedangkan semakin lambat laju pendinginan maka semakin kecil porositas, ini terlihat pada equiaxed zone perunggu silikon dimana laju pendinginan 1,21oC/detik dengan porositas 3,51% serta equiaxed zone perunggu timah putih dengan laju pendinginan mencapai 2,01

o

C/detik besar porositas 3,63% jenis cacat yang terjadi adalah cacat berupa porositas gas. Kata Kunci : Perunggu timah putih, perunggu silikon , chill zone, columnar zone da equiaxed

Abstract

Tin bronze widely applied in the manufacture of the gamelan music, but white tin bronze easily cracked or broken due to porosity in the casting process, and are brittle, in order to overcome it silicon bronze is recommended, with a variation of the cooling rate in the casting process to determine the characteristics of porosity and the hardness of tin bronze and silicon bronze. Research is carried out by observing the porosity, the porosity characteristics and hardness of the tin bronze and silicon bronze using porosity testing, and SEM, with a variation of the cooling rate in each zone ( chili zone, columnar zone, and equiaxed zone ). When the cooling rate becomes faster, porosity characteristic and the damage is increasingly diverse. This can be seen in the chill zone on tin bronze where the cooling rate reaches 4,45oC/sec with large porosity reaching 6.27% and silicon bronze chill zone where the cooling rate reaches 2,05oC/sec with porosity reaching 5.16%. Defects that occur in such rapid cooling rate of gas porosity, shirinkage and crack, while the slower the cooling rate, the smaller the porosity, is seen in equiaxed zone where the cooling rate of silicon bronze 1,21oC/sec with a porosity of 3.51% and equiaxed zone bronze tin with the cooling rate reaches 2.01°C/sec 3.63% porosity major types of defects are defects that occur in the form of gas porosity.

Keywords:Tin bronze, silicon bronze, chill zone, columnar zone dan equiaxed zone

1. Pendahuluan

Perunggu merupakan material terbaik untuk pembuatan alat musik seperti lonceng, bel, simbal drum, senar gitar dan beberapa alat tiup seperti terompet, saxophone dan clarinet. Di Bali perunggu banyak digunakan untuk pembuatan barang kerajinan seperti bokor, hiasan dan

perunggu menjadi material utama dalam

pembuatan instrument alat musik gamelan. Hal ini dikarenakan perunggu timah putih memiliki sifat tahan korosi, memiliki kekerasan material yang bagus serta memiliki sifat akustik yang baik, yang mampu menghasilkan bunyi yang panjang dengan waktu bergetar yang lama. Namun gamelan yang terbuat dari paduan perunggu timah putih ini mudah retak ataupun patah akibat adanya porositas pada proses pengecoran. serta diperparah oleh sifat material yang getas dari paduan perunggu timah

putih. Hal ini sangat berpengaruh terhadap sifat mekanik dan akustik yang menjadi pertimbangan penting dalam menentukan material sebagai instrumen musik.

Perlu dipikirkan cara mangatasi retak atau patah pada gamelan. Seperti yang diketahui gamelan yang terbuat dari paduan perunggu timah putih ini mudah retak atau patah, akibat dari porositas dan sifat material yang getas sehingga berakibat pada jeleknya kualitas suara yang.

Mangatasi hal itu dalam kajian jurnal [1] tentang rekayasa perunggu silikon (CuSi) sebagai

pengganti perunggu timah putih untuk

mendapatkan sifat akustik dan mekanik yang lebih baik, merekomendasikan perunggu silikon sebagai pengganti perunggu timah putih (CuSn) untuk bahan instrument alat musik.

(2)

2

Sifat akustik khususnya damping capacity perunggu silikon relatif lebih besar sebesar 0,015% dan kemampuan memancarkan gelombang getaran serta sifat mekanik yang relatif sama dengan paduan perunggu timah putih (CuSn). Proses kedua bahan untuk pembuatan gamelan tersebut bertumpu pada proses pengecoran. Proses pengecoran yang tidak benar serta lama waktu laju pendinginan akan berpengaruh pada cacat-cacat hasil pengecoran, cacat yang sering terjadi adalah porositas yang sangat berpengaruh pada sifat mekanik dan akustik dari perunggu timah putih dan perunggu silikon

Penelitian ini akan dikaji lebih mendalam efek laju pendinginan terhadap karakteristik porositas pada paduan perunggu timah putih (CuSn) dan paduan perunggu silikon (CuSi). Seperti yang sudah dijelaskan porositas sangat berpengaruh pada sifat mekanis dan akustik suara dari instrument alat musik gamelan. Pada pengujian ini diharapkan mendapatkan karakteristik paduan perunggu yang memiliki porositas yang sedikit, sifat mekanik dan akustik suara yang baik untuk material pembuatan alat musik.

Dalam hal ini maka ada beberapa

permasalahan yang akan dikaji, yaitu:

1. Mengetahui besar dan karakteristik porositas

yang terjadi akibat variasi laju pendinginan

pada proses pengecoran menggunakan

cetakan pasir.

Beberapa batasan ditetapkan dalam penelitian ini meliputi:

1. Pengecoran menggunakan cetakan pasir

silika.

2. Temperatur lebur 1050oC.

3. Spesimen benda uji adalah perunggu timah

putih dengan komposisi (80%Cu-20%Sn) dan perunggu silikon (95%Cu-5%Si).

2. Dasar teori

2.1 Paduan Perunggu

Perunggu merupakan suatu paduan dari logam yang berbasis tembaga dengan timah sebagai aditif utama. Beberapa paduan perunggu, memiliki fosfor, mangan, alumunium, atau silikon sebagai bahan paduan utama. Perunggu biasanya kuat, tangguh, dan tahan korosi dengan konduktivitas listrik dan termal yang tinggi. Perunggu yang paling umum digunakan dalam aplikasi bushing dan bantalan.

1. Perunggu timah putih (Tin Bronze)

Perunggu timah (Sn), yaitu perunggu tuang dari Cu ditambah 10%, 14%, atau 20% Sn tanpa campuran tambahan lain. Bahan itu digunakan untuk patung, senjata canon, dan alat-alat music seperti (lonceng, gamelan, sibal drum dll) yang harus mempunyai syarat tinggi terhadap korosi dan ketangguhan (10%Sn). Selain itu pada bantalan harus mempunyai syarat-syarat tinggi untuk sifat luncur (14%Sn) dan untuk bantalan-bantalan tekan

dengan syarat tinggi untuk kekerasan (20% Sn ) [2]

2. Perunggu Silikon (Silikone Bronze)

Mengandung 4-5% Si dan akan menambah daya tahan ( resistensi ) terhadap asam ( acid ),

memungkinkan untuk dibuat rol berbentuk

batangan panjang sampai diameter 1/4" - 2" in. Bersifat akan menjadi keras apa bila mengalami

pengerjaan dingin (work hardenable) dan

merupakan bronze yang mempunyai tahanan tarik dan kekerasan yang paling baik diantara bronze yang lain. Sifat mekanisnya setara dengan baja lunak (baja karbon rendah, mild steel) sedangkan sifat ketahanan korosinya setara dengan logam tembaga. Banyak dipakai untuk tanki, bejana tekan (pressure vessel), marine construction, dan pipa tekan hidrolik. [2]

2.2 Pengecoran Logam

Pengecoran merupakan suatu proses

manufaktur untuk membuat atau menghasilakan produk, dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian di tuangkan kedalam rongga cetakan yang memiliki bentuk geometri mendekati bentuk asli dari produk cor yang akan dibuat. Tujuan dari pengecoran adalah untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan ekonomis, yang bebas cacat dan sesuai dengan kebutuhan seperti kekuatan, keuletan, kekerasan, dan ketelitian dimensi [3].

2.3 Pengecoran Cetakan Pasir (Sand Casting) Pengecoran menggunakan cetakan pasir merupakan teknik pengecoran tertua di dunia. Teknik pengecoran cetakan pasir ini sampai sekarang masih banyak digunakan karena biaya produksi yang murah dan dapat memproduksi benda cor dengan kapasitas yang banyak.

Cetakan pasir adalah cetakan yang terbuat dari pasir yang diberi bahan pengikat. Pasir yang paling banyak digunakan adalah pasir silika, baik pasir silika dari alam maupun pasir silika buatan dari kwarsit. Bahan pengikat yang paling banyak digunakan adalah bentonit.[4].

(3)

3

a. Kelebihan cetakan pasir

 Dapat mencetak logam dengan titik lebur yang tinggi, seperti baja, nikel dan titanium

 Dapat mencetak benda cor dari ukuran kecil

sampai dengan ukuran besar

 Jumlah produk yang dihasilkan dari satu sampai

jutaan

b. Kelemahan cetakan pasir

 Permukaan benda cor kurang halus

Mudah terjadi cacat pada hasil pengecoran

seperti porositas.

2.4 Cacat-Cacat Pengecoran (Porositas).

Porositas dapat terjadi karena terjebaknya gelembung-gelembung gas pada logam cair ketika dituangkan ke dalam cetakan . Porositas pada produk cor dapat menurunkan kualitas benda tuang. Salah satu penyebab terjadinya porositas pada penuangan logam adalah gas hidrogen [5].

1. Porositas Gas

Cacat porositas gas disebabkan karena adanya pembentukan gas ketika logam cair dituangkan. Cacat porositas gas berbentuk bulat akibat tekanan gas ini pada proses pembekuan. Ukuran cacat porositas gas sebesar ± 2 mm sampai 3 mm, lebih kecil bila dibandingkan dengan cacat porositas

shrinkage. [6].

2. Porositas Shrinkage

Penyebab adanya cacat porositas shrinkage adalah adanya gas hidrogen yang terserap dalam logam cair selama proses penuangan, gas yang terbawa dalam logam cair selama proses peleburan, dan pencairan yang terlalu lama

2.5 Pengujian Porositas

Menurut [7] porositas yang terbentuk dapat diketahui dengan melakukan pengukuran densitas dengan menggunakan metode Piknometri dan perhitungan presentase porositas yang terjadi dapat diketahui dengan membandingkan densitas sempel material dengan densitas berdasarkan teori. Densitas adalah besaran fisis yaitu perbandingan massa (m) dengan volume benda (V).

 Densitas Sampel

O

H

m

m

m

m

g s s 2

)

(

1.

m = Densitas sample (Gram/cm

3

)

2. ms = Massa sample kering (Gram)

3. mg= Massa sample basah (Gram)

4. ρH2O = Massa jenis air (1 Gram/cm3)  Densitas teoritis Sn Sn Cu Cu th

V

V

(2) Si Si Cu Cu th

V

V

(3) 1.

th = Densitas teoritis (gr/cm3) 2.

cu = Densitas tembaga (gr/cm 3 ) 3.

Sn = Densitas timah putih (gr/cm3)

4.

Si = Densitas silikon (gr/cm 3

) 5. Vcu = Fraksi volume tembaga (%)

6. VSn = Fraksi volume timah putih (%)

7. VSi = Fraksi volume silikon (%)  Perhitungan porositas th m

porositas

1

(4) 2.6 Pembekuan Logam

1. Chill Zone (daerah pembekuan cepat)

Chill zone adalah Daerah ini berada paling

luar yang mana lebih dipengaruhi oleh heat

removal (kehilangan panas). Struktur ini terbentuk

pada kontak pertama antara dinding cetakan dengan logam cair pada saat dituang ke dalam cetakan.

2. Columnar Zone

Columnar zone merupakan struktur yang

tumbuh setelah gradien suhu pada dinding cetakan turun dan kristal pada chill zone tumbuh memanjang , kristal-kristal tersebut tumbuh memanjang berlawanan dengan arah perpindahan panas.

3. Equiaxed Zone

Equiaxed Zone Struktur ini terdiri dari butiran

yang bersumbu sama yang arah acak. Asal dari butiran ini adalah mencairnya kembali lengan dendrit. Bila suhu di sekitar masih tinggi, setelah cabang dendrit tersebut terlepas dari induknya dan tumbuh menjadi dendrit yang baru.[8]

(1)

Gambar 2. Porositas

(4)

4

3. Metode Penelitiane

3.1 Alur Penelitian

3.2 Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan a. Tembaga b. Timah putih c. Silikon d. Pasir Cetak 2. Alat Pengecoran

a.

Tungku Peleburan

b.

Blower

c.

Kowi

d.

Timbangan

e.

Cetakan pasir

f.

Pola cetakan 3. Alat Pengujian a. Timbangan digital

b. Alat SEM(Scanning Electron Microscopy)

c. Thermokopel type K

d. Varnier Caliper

e. Gregaji Mesin dan Gregaji Tangan f. Amplas

g. Aoutosol h. Kain Beludru

3.2 Proses Pembuatan Spesime Uji. a. Pemotongan spesimen b. Pengukuran spesimen c. Penimbangan berat spesimen d. Pengamplasan

e. Pemolesan

4. Hasil Penelitian

1.1 Data Penurunan Temperatur

Mulai

Persiapan alat dan bahan

Alat untuk pengecoran Alat pengerjaan specimen untuk pengujian Pembuatan Cetakan

Peleburan logam Pemasangan termokopel

Pada cetakan

Perunggu Timah Putih Perunggu Silikon

Pengecoran 1.2.3 Pengecoran 1.2.3 Penuangan kecetakan Pendinginan Pembongkaran Cetakan Analisa data Selesain Kesimpulan Uji Porositas Uji Densitas Uji SEM Pemotongan spesimen Equiaxed Zone Columnar Zone Chill Zone Pemerikasaan hasil pengecoran Pengecoran Perunggu Timah Putih Pengecoran Perunggu Silikon

Gambar 4. Grafik penurunan suhu perunggu timah putih

Gambar 5. Grafik penurunan suhu perunggu silikon

(5)

5

Pada tabel 4.1 dapat dilihat laju pendinginan tercepat terjadi di chill zone paduan perunggu timah putih dengan laju pendinginan mencapai 4,45oC/detik . laju pendinginan terlamabat terjadi pada equiaxed zone perunggu silikon dengan kecepatan 1.21 oc/detik.

4.2 Data Pengujian Porositas

Paduan Chill Zone Columnar Zone Equiaxed Zone Perunggu Timah putih 6,27% 4,04% 3,63% Perunggu Silikon 5,16% 3,86% 3,51%

Dari tabel 2 dan gambar grafik 6 menunjukan prositas terbesar terjadi pada chill zone perunggu timah putih dengan presentase 6,27% dan chill zone perunggu silikon dengan 5,16%, dan untuk porositas terkecil terjadi pada equaxed zone pada perunggu silikon dengan 3,51% dan perunggu timah putih dengan 3,63%.

4.4 Data Pengujian SEM

No Zone Laju Pendinginan (

ik

c

det

) Perunggu Timah Putih 1 Chill Zone 4,45 2 Columnar Zone 3,26 3 Equiaxed Zone 2,01 Perunggu Silikon 1 Chill Zone 2.03 2 Columnar Zone 1,67 3 Equiaxed Zone 1.21

Tabel 2. hasil pengujian porositas

Gambar 6. Grafik hasil pengujian porositas

Tabel 1. hasil laju pendinginan

Gambar 10. Chill zone perunggu silikon

Crack Porositas gas

Gambar 9. Equiaxed zone perunggu timah putih

Gambar 7. Chill zone Perunggu timah putih

Porositas gas

Crack

Gambar 8. Columnar zone perunggu timah putih

(6)

6

Dari pengujian SEM dapat dilihat

karakteristik dari porositas disetiap zone seperti di gambar 7 merupakan crack dan porositas gas, di gambar 8 merupakan porositas shrinkage, gambar 9 merupakan porositas gas. Gambar 10 merupakan crack dan porositas gas, gambar 11 merupakan gambar porositas gas dan gambar 12 merupakan crack.

5. Kesimpulan

Variasi laju pendinginan yang berbeda pada setiap zone mempengaruhi besar presentase porositas dan karakteristik porositas dari paduan perunggu timah putih dan perunggu silikon,

Semakin cepat laju pendinginan maka nilai presentase porositas semakin besar serta semakin beragamnya karakteristik porositas dan cacat yang terjadi. Hal ini terlihat dari data chill zone perunggu timah putih dan silikon, dimana pada chill zone perunggu timah putih laju pendinginan mencapai 4.45oC/detik dengan porositas mencapai 6,27%, porositas yang terjadi berupa porositas gas dan crack. Chill zone perunggu silikon dengan laju

pendinginan mencapai 2,05oC/detik, besar

presentase porositas 5,16% dengan porositas yang terjadi berupa porositas gas dan crack.

Berbanding terbalik dengan diatas semakin lambat laju pendinginan maka semakin kecil presentase dari porositas dan semakin sedikit karakteristik porositas yang terjadi, ini terlihat pada equaxed zone perunggu silikon dimana laju

pendinginan mencapai 1,21oC/detik dengan

presentase porositas mencapai 3,51%, porositas yang terjadi berupa crack. Equaxed zone perunggu timah putih dengan laju pendinginan mencapai

2,01oC/detik dengan presentase porositas mencapai

3,63% dan karakteristik porositas yang terjadi berupa porositas ga.

Daftar pustaka

[1] Sugita, I.K.G., 2012. Rekayasa Perunggu

Silikon Sebagai Pengganti Perunggu Timah Putih dengan Variasi Komposisi, Laju Pembekuan dan Proses Anil untuk Mendapatkan Sifat Akuistik dan Mekanik yang Lebih Baik. Jurnal Penelitian.

Universitas Gadjah Mada .Yogyakarta. [2] Surdia, T & Chijiiwa, K. 1982. Teknik

Pengecoran Logam. Jakarta: P.T Pradnya

Paramita.

[3] Hermawan. 2003. Analisa Pengaruh Variasi

Temperatur Tuang pada Pengecoran Squeeze Terhadap Struktur Mikro dan Kekerasan Produk Sepatu Kampas Rem dengan Bahan Aluminium (Al) Silikon (Si) Daur Ulang. Jurnal Ilmiah . Universitas

Wahid Hasyim. Semarang.

[4] Astika, I.M., Negara, D.N.K.P, dan Susantika, M.A. 2010. Pengaruh Jenis Pasir Cetakan

dengan Zat Pengikat Bentonit terhadap Sifat Permeabilitas dan Kekuatan Tekan Basah Cetakan (Sand Casting). Jurnal

Ilmiah. Teknik Mesin Universitas Udayana.

Page.133. Vol.4 No.2.

[5] Budinski, G.K., 1996. Engineering Material

Properties and Selection. New Jersey:

Prentice Hall, Inc,Englewood Cliffs.

[6] Wibowo, Agung Dwi. 2013. Pengaruh

Variasi Jenis Cetakan dan Penambahan Serbuk Dry Cell Bekas Terhadap Porositas Hasil Remelting Al-9%Si Berbasis Piston Bekas . Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

[7] Taylor, R. P., McClain, S. T. & Berry, J.T. (1999). Uncertainty Analysis of Metal

Casting Porosity Measurement Using Archimedes Principle. International Journal

of Cast MetalsResearch, ,

[8] Prasetya, C., Irawan. Y.S dan Oerbandono Tjuk. 2003. Pengaruh Jumlah Saluran

Masuk pada Pengecoran Impeller Turbin

Crossflow Terhadap Cacat Permukaan dan

Porositas. Jurnal Ilmiah . Universitas

Brawijaya , Malang

Gambar 12. Equiaxed zone perunggu silikon

Gambar 11. Columnar zone perunggu

silikon

(7)

7

Made Septa Setya Wigangga menyelesaikan studi program sarjana di Jurusan Teknik Mesin Universitas Udayana dari tahun 2011 sampai 2015. menyelesaikan studi program sarjana dengan topik penelitian KARAKTERISTIK POROSITAS PADUAN PERUNGGU TIMAH PUTIH (80%Cu - 20%Sn) DAN PERUNGGU SILIKON (95%Cu – 5%Si) DENGAN VARIASI LAJU PENDINGINAN PADA PENGECORAN CETAKAN PASIR. Area penelitian yang diminati adalah teknik cetakan dan pengecoran logam, dst.

Gambar

Gambar 1. Diagram Fase Perunggu Timah Putih
Gambar 3. Chill zone, columunar zone dan equiaxed zone
Gambar 5. Grafik penurunan suhu perunggu  silikon
Gambar 6. Grafik hasil pengujian porositas Tabel 1.  hasil laju pendinginan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi laju pendinginan terhadap karakteristik mekanik yaitu kekuatan tarik, kekuatan bending dan kekuatan impak

Daerah hasil pengelasan mengalami pemanasan berbeda dan selama proses pendinginan laju pendinginan masing-masing titik juga berbeda. struktur mikro dimasing - masing

Manfaat penelitian ini yaitu mengetahui seberapa besar kestabilan pondasi perkuatan buis beton dari penurunan dan angka keamanan, dari variasi kedalaman dan material limbah yang

Dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sifat mekanik serta hubungan lainnya dari hasil pengelasan SMAW dengan variasi kuat arus listrik dalam

Laju penguapan rata-rata pada variasi pertama lebih tinggi dibandingkan dengan laju penguapan yang lain dikarenakan tingginya intensitas radiasi matahari pada saat

Setiap sampel mempunyai keunggulan penyerapan yang berbeda beda dari setiap frekuensi tertentu dan fraksi volumenya, baik itu dari frekuensi 400 Hz sampai 4000 Hz,

Dari penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi tegangan listrik dan jarak anoda dengan katoda pada proses anodisasi terhadap tingkat kilap

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning