Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
80 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL
TEACHING DAN LEARNING (CTL)
Rika Rostikaningsih, Uba Umbara, Ir. Irmakhamisah. STKIP Muhammadiyah Kuningan
[email protected] Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional serta respon positif siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan desain Pretest-Postest Control Group Design. Dari hasil postest pada uji perbedaan dua rata-rata diperoleh nilai thitung 15,30
kemudian dikonsultasikan dengan nilai ttabel 1,68 karena 15,30 > 1,68 maka H1
diterima, ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Kemudian besar peningkatan kemampuan berpikir kritis kelas ekperimen dihitung dengan cara uji-gain didapatkan rata-rata sebesar 0,71 dengan keriteria tinggi, ini menunjukkan bahwa siswa kelas eksperimen kemampuan berpikir kritisnya meningkat setelah memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL. Selanjutnya, nilai rata-rata skor respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL adalah 69,2% yang menunjukkan bahwa respon siswa terhadap pendekatan CTL sebagian besar siswa setuju dan responnya positif.
Kata Kunci : Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), Kemampuan Berpikir Kritis
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu aspek dalam kehidupan manusia yang memegang peranan penting. Suatu negara dapat mencapai sebuah kemajuan jika pendidikan dalam negara itu baik kualitasnya. Semakin baik kualitas pendidikan yang diterapkan maka akan semakin baik pula sumber daya manusia yang dihasilkan. Sumber daya manusia yang berkualitas yaitu manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, dan berinisiatif. Dengan demikian diperlukan suatu bidang ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir tersebut. Dan bidang ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, dan berinisiatif adalah matematika. Hal ini dapat dilihat dari tujuan diberikannya matematika di jenjang dasar dan menengah menurut Depdikbud (1994) yaitu “mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan
sehari-Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
81 hari, selain itu juga diharapkan agar siswa dapat menggunakan matematika sebagai cara bernalar (berpikir logis, kritis, sistematis, dan objektif)”.
Salah satu kemampuan berpikir yang dibutuhkan siswa untuk memahami permasalahan dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi atau sering pula disebut berpikir kritis (Critical Thinking). Menurut Ennis (2000) dalam tesis Moh. Syukur (2004:2) “berpikir kritis adalah berpikir rasional dan reflektif yang difokuskan pada apa yang diyakini dan dikerjakan.” Rasional berarti memiliki keyakinan dan pandangan yang didukung oleh bukti yang tepat, aktual, cukup, dan relevan. Sedangkan reflektif berarti mempertimbangkan secara aktif dan hati-hati segala alternatif sebelum mengambil keputusan.
Berdasarkan beberapa pengamatan di sekolah menengah pertama kelas VII ternyata siswa kesulitan dalam mempelajari pelajaran matematika, selain itu respon siswa terhadap proses belajar kurang begitu baik dan masih banyak yang jarang memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi didepan kelas. Guru juga kesulitan dalam mengajarkan pelajaran matematika yang wajib diajarkan ini, sementara pendekatan pembelajaran yang modern untuk mempermudah proses pembelajaran sangat kurang dijumpai. Kebanyakan guru menggunakan pendekatan pembelajaran biasa yang membuat siswanya kurang aktif dalam proses pembelajaran.
Ada beberapa pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatan kemampuan berpikir kritis dan respon siswa. Salah satunya dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL adalah pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Menurut Elane B. Johnson (2011:182) “CTL mengajarkan langkah-langkah yang dapat digunakan dalam berpikir kritis serta memberikan kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi dalam dunia nyata.”
Hal ini tentunya salah satu usaha menyiapkan generasi yang mampu menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan mendatang. “Ada 7 komponen utama pembelajaran efektif yang dilibatkan dalam pembelajaran konstektual menurut Aqib Zainal (2013:4) yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).” Dengan menerapkan atau melibatkan ketujuh komponen ini kedalam proses pembelajaran diharapkan siswa memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik.
B. Metode Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika konvensional, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode eksperimen.
Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
82 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah Pretest-Postes Control Group Desain.
Pola penelitian digambarkan sebagai berikut:
Eksperimen O1 X1 O2
Kontrol O1 X2 O2
Keterangan:
O1 : Tes awal yang diberikan sebelum proses belajar untuk kelas
eksperimen dan kelas control
O2 : Tes akhir yang diberikan setelah proses belajar untuk kelas
eksperimen dan kelas control
X1 : Pembelajaran dengan pendekatan CTL untuk kelas eksperimen
X2 : Pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol
Operasional Variabel Penelitian
Variabel Instrumen Responden
Varibel bebas:
Contextual Teaching and Learning (CTL) Lembar Respon Siswa (Angket) Siswa Kelas Eksperimen Varibel terikat:
Kemampuan Berpikir Kritis Instrumen tes
Siswa Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol
Teknik Pengumpulan Populasi dan Sampel - Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII MTs Ma’Arif Cipakem Kabupaten Kuningan pada tahun ajaran 2014/ 2015 yang berjumlah 76 siswa. Siswa SMP kelas VII sudah mampu menggunakan kemampuan berpikir kritisnya dan memperoleh pembelajaran dengan pendekatan CTL karena aspek kognitifnya telah berkembang.
- Sampel
Teknik pengumpulan sampel yang digunakan oleh penulis yaitu dengan cara Simple Random Sampling. Menurut Sugiyono (2013:120) dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
Alasan penulis mengambil teknik ini karena anggota sampel berasal populasi yang homogen, hal ini dilihat dari rata-rata kemampuan belajar yang dimiliki siswa hampir sama menurut rekomendasi guru matematika MTs MA’Arif Cipakem. Selain itu kemampuan siswa tersebut
Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
83 dapat mewakili seluruh siswa kelas VII di MTs MA’Arif Cipakem dan SMP/ MTs yang ada di kota Kuningan Dari hasil pengamatan secara acak didapat kelas yang menjadi sampel kelas eksperimen yaitu kelas VII B yang berjumlah 25 siswa dan kelas kontrol yaitu kelas VII C yang berjumlah 25 siswa.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan dua buah instrumen untuk mengumpulkan data yaitu: tes kemampuan berpikir kritis matematika dan lembar respon siswa (angket).
- Tes Kemampuan Berpikir kritis
Tes kemampuan berpikir kritis ini digunakan untuk untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan pendekatan konvesional. Dengan tes ini dapat diketahui perkembangan berpikir kritis siswa dilihat dari 3 indikator Klarifikasi elementer yaitu memfokuskan pertanyaan, menganilisis argumen, dan menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.
- Lembar Respon Siswa (Angket)
Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas eksperimen. Lembar respon siswa dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa selama proses pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Teknik Analisis
Data yang sudah terkumpul selama penelitian, selanjutnya dianalisis. Analisis data dilakukan dua kali yaitu pada saat sampel belum diberikan perlakuan dan setelah diberikan perlakuan.
- Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data pada dua kelompok sampel yang diteliti berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Menggunkan uji chi kuadrat, dengan rumus:
𝑋2= ∑ (𝑓0−𝑓𝑒)2
𝑓𝑒
𝑘
1 (Sudjana, 2002:273)
Membandingkan harga 𝑥𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙2 dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan (dk) = K – 3, dimana K banyak kelas, jika 𝑋ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔2 < 𝑋𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙2 maka data tersebut berdistribusi normal.
- Uji Homogenitas
Uji homogenitas data dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang sama (homogen atau tidak). Menggunakan Uji Fisher (Uji F) dengan rumus:
Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
84 Fhitung dibandingkan dengan Ftabel dengan α = 5% dengan dk pembilang =
(na−1) dan dk penyebut = (nb−1). Jika Fhitung ≤ Ftabel, maka variansnya
homogen.
- Uji Kesamaan Dua Rata-Rata
Uji kesamaan dua rata-rata bertujuan untuk mengetahui kesamaan rata-rata yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada saat pretes. Uji hipotesis ini menggunakan rumus t-test dengan ketentuan sebagai berikut:
H0 : µ1 = µ2 H1 : µ1≠ µ2 Rumus: 𝑡𝑡 = 𝑥̅1−𝑥̅2 𝑆�𝑛11+𝑛21 Dengan: 𝑆 = � (𝑛1−1)𝑠12+(𝑛2−1)𝑠22 𝑛1+𝑛2−2 (Sudjana, 2005:239)
Kriteria pengujian dengan taraf signifikan = 1 2𝛼
terima H0 jika - ttabel < thitung < ttabel dan tolak H0 dalam hal lainnya. - Uji Perbedaan Dua Rata – Rata
Uji perbedaan dua rata-rata bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata yang signifikan antara hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah diberi perlakuan. Uji kesamaan dua rata-rata menggunakan uji t (satu pihak). Rumusan hipotesis statistik adalah sebagai berikut:
𝐻0 : µ1 ≤ µ2
𝐻1 : µ1 > µ2
Hipotesis dalam uji perbedaan rata-rata adalah sebagai berikut:
𝐻0 : Kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) tidak lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika konvensional.
𝐻1 : Kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baikdaripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika konvensional.
Kriteria uji yaitu terima H1 jika ttabel (α) < thitung dan tolak H1 dalam hal lainnya.
- Uji Gain
Setelah melakukan uji dua rata-rata, apabila nilai tes awal siswa lebih besar dari nilai tes akhir, maka dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan. Untuk melihat seberapa besar peningkatan hasil tes akhir kemampuan berpikir kritis siswa dari kedua kelas (eksperimen dan kontrol) dapat dilihat dari uji gain. Gain yang dinormalisasi adalah proporsi gain aktual dengan gain maksimal yang telah dicapai, rumusnya adalah:
Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
85 NG =Skor tes akhir (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑒𝑠𝑡𝑡) − Skor tes awal (𝑝𝑟𝑒𝑒𝑡𝑡𝑒𝑒𝑠𝑡𝑡)Skor maksimal − Skor tes awal (pretest)
- Analisis Data Lembar Respon Siswa
Lembar respon siswa atau angket yang termasuk data kualitatif dianalisis dengan menggunakan Skala Likert. Dimana terdapat 4 kategori sebagai derajat penilaian siswa terhadap suatu pernyataan yaitu Sangat Setuju (SS) Positif 5, negatif 1, Setuju (S) Positif 4, negatif 2, Tidak Setuju (TS) Positif 2, negatif 4 dan Sangat Tidak Setuju (STS) Positif 1, negatif 5. kemudian dihitung persentasenya dengan rumus berikut.
𝑃 = 𝐹𝑛 x 100% C. Hasil dan Pembahasan
Pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) berhasil meningkatkan salah satu komponen kemampuan berpikir kritis yakni kemampuan berpikir kognitif. Dalam penelitian ini, ingin ditingkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam aspek Klarifikasi Elementer yang mempunyai tiga indikator atau tiga keterampilan kognitif yaitu Memfokuskan Pertanyaan, Menganalisis Argumen, dan Menjawab Pertanyaan yang Membutuhkan Penjelasan.
Berdasarkan analisis keterampilan kognitif, ketiga keterampilan itu mengalami peningkatan dilihat dari hasil tes akhir yang didapatkan oleh siswa. Berdasarkan hasil temuan penulis yang dibuktikan melalui analisis statistik pretest menunjukan bahwa kemampuan berpikir kritis awal siswa antara siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pretest kelas eksperimen sebesar 40,9 dan kelas kontrol sebesar 35,7. Hal ini dibuktikan juga dengan menggunakan uji t dua arah untuk melihat persamaan dua rata- rata kedua sampel. Dari hasil perhitungan pretest diperoleh nilai thitung = 1,73 dibandingkan dengan nilai ttabel =
2,01. Ternyata nilai thitung pretest terletak antara - ttabel dan ttabel. Maka dapat
disimpulkan H0 diterima artinya pada taraf signifikan α = 0,025 rata-rata
kemampuan berpikir kritis awal siswa antara siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Kurva Penerimaan dan Penolakan Ho Uji Kesamaan
Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
86 Hal ini dikarenakan kedua sampel belum diberi perlakuan (pembelajaran) dan siswa belum mempelajari materi yang diujikan.
Setelah proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol, kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata postest kelas eksperimen sebesar 82,7 dan kelas kontrol 62,2. Kemudian untuk mengetahui perbedaan dua rata-rata nilai tes akhir kedua kelas dibuktikn dengan menggunakan uji t . Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai thitung= 15,30.
Sedangkan dari tabel pada α = 0,05 ttabel= 1,68 dengan derajat kebebasan 48.
Karena 1,68 < 15,30 maka H1 diterima, artinya pada taraf α = 0,05 terdapat
perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai tes akhir kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Kurva Penerimaan dan Penolakan Ho Uji Perbedaan
Hal ini dikarenakan kedua kelas telah diberikan dua pembelajaran yang berbeda, maka pada postest kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran denagn pendekatan CTL lebih baik daripada siswa yang memperoleg pembelajaran matemtika konvensional.
Pada analisis uji gain hasil yang didapat dari kedua kelas memiliki kriteria yang berbeda, kriteria untuk kelas eksperimen mendapat kriteria tinggi dengan nilai hitung rata-ratanya 0,71 sedangkan untuk kelas kontrol mendapat kriteria rendah dengan rata-ratanya 0,56. Hal ini berarti kemampuan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki peningkatan yang lebih baik daripada yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Hasil analisis respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Taeching and Learning (CTL) adalah positif. Hal tersebut diketahui dari perhitungan lembar respon siswa, dimana rata-rata 19,4% menjawab sangat setuju, 69,2% menjawab setuju, 7,4% menjawab tidak setuju dan 4% menjawab sangat tidak setuju. Artinya respon belajar siswa pada mata pelajaran matematika yang menggunakan pendekatan pembelajaran Contextual
t t
Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 1 No.2 November 2015
87 Taeching and Learning (CTL) rata-rata mayoritas menjawab setuju. Hal ini terlihat dari hasil rekapitulasi dengan rata-rata persentase 69,2% (sebagian besar). Sehingga respon siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagian besar setuju dan responnya baik. Oleh karena itu pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL dapat digunakan sebagi alternatif dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil uraian diatas, maka dapat dikatakan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran pendekatan Contextual Taeching and Learning (CTL) lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika konvensional dan siswapun merespon positif.
D. Simpulan
Berdasarkan analisis data dan temuan penelitian yang diperoleh di lapangan selama menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) di MTs Ma’Arif Cipakem, dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) kemampuan berpikir kritisnya lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran matematika konvensional. Pada analisis uji gain hasil yang didapat dari kedua kelas mempunyai kriteria yang berbeda. Hal ini berarti kemampuan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki peningkatan yang lebih baik daripada yang menggunakan pembelajaran matematika konvensional. Respon yang diberikan oleh siswa pun sangat baik, sebagian besar siswa setuju atau suka terhadap pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan demikian penerapan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
E. Daftar Pustaka
Aqib Zainal. 2013. Model-Model Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (INOVATIF). Bandung: Yrama Widya
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-Garis Besar Program Pengajaran Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Muliti Pressindo
Elaine B. Johnson. 2011. CTL (ContextualL Teaching & Learning). Bandung: Kaifa
Moh. Syukur, “Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU Melalui Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Open-Ended” (Tesis S2 Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia, 2004) Tidak diterbitkan
Sudjana, 2002. Metoda Statistika, Bandung: Tarsito
Sugiyono, 2010. Metode Penulisan Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kuualitaif dan R dan D, Bandung: Alfabeta