• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SSCS

(SEARCH, SOLVE, CREATE AND SHARE) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP

Rini Apriyanti, Uba Umbara, Evan Farhan Wahyu Puadi. STKIP Muhammadiyah Kuningan

([email protected])

ABSTRACT

Rini Apriyanti (NIM : 133223006), Using of SSCS (Search, Solve, Create and Share) Learning Model to Enhancement Mathematical Problem Solving Ability of Middle School Students. This research is based on the effort to improve students’ mathematical problem solving ability which get the learning model of SSCS (Search, Solve, Create and Share). Through the experimental method obtainded the initial test results of the control class with an average value of 7,20 and the average value of the experimental class 7,64. white in the final test obtained the average value of control class 9,14 and experimental class 13,10. From the results of initial data analysis and final sample data, it can be concluded that mathematics learning using SSCS (Search, Solve, Create and Share) learning model is better than mathematical problem solving ability of students who get conventional learning model. As for enhancement of mathematical problem solving ability of students experimental class is in the medium category. Other then that, from result the questionnaire of student responses known that student show positive response to SSCS learning model.

Keyword: Mathematical Problem Solving Abilities; SSCS (Search, Solve, Create and Share) Learning Model.

ABSTRAK

Rini Apriyanti (NIM : 133223006), Penerapan Model Pembelajaran SSCS (Serach, Solve, Create and Share) terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Penelitian ini dilatar belakangi oleh upaya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create and Share). Melalui metode eksperimen diperoleh hasil tes awal kelas kontrol dengan nilai rata-rata 7,20 dan nilai rata-rata kelas eksperimen 7,64. Sedangkan pada tes akhir diperoleh nilai rata-rata kelas kontrol 9,14 dan kelas eksperimen 13,10. Dari hasil analisis data awal dan data akhir sampel dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create and Share) lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran konvensional. Adapun peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis kelas eksperimen berada pada kategori sedang. Selain itu, dari hasil angket respon siswa diketahui bahwa siswa menunjukkan respon positif terhadap model pembelajaran SSCS.

(2)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

2 Kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis; Model Pembelajaran SSCS.

A. PENDAHULUAN

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki setiap siswa sekolah menengah adalah kemampuan pemecahan masalah matematis. Pentingnya memiliki kemampuan tersebut tercermin dari pernyataan Branca (dalam Hendriana dan Sumarmo, 2014: 23) bahwa kemampuan pemecahan masalah matematik merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran matematika bahkan proses pemecahan masalah matematik merupakan jantungnya matematika. Pendapat tersebut sejalan dengan tujuan umum pembelajaran matematika yang terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 (BSNP, 2006: 140). Tujuan tersebut antara lain: memecahkan masalah yang meliputi kemampuan yang memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh; mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Namun, pada kenyataannya saat ini kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih rendah.

Berdasarkan hasil penelitian TIMSS pada tahun 2011. Soal-soal yang diangkat dalam penelitian TIMSS diantaranya penalaran dan pemecahan masalah. Dalam hasil penelitian 2011 menunjukkan bahwa kemampuan siswa masih jauh dari nilai rata-rata pencapaian yang harapkan. Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 42 negara peserta dengan memperoleh skor 386 (Mullis, Martin, Foy, & Arora: 2012). Tidak tercapainya skala nilai pusat dari TIMSS ini mengindikasikan bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia masih belum memenuhi standar TIMSS.

Selain itu, hasil studi PISA 2012, Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara peserta dengan skor rata-rata 375, sedangkan skor rata-rata internasional 494 (OECD, 2014). Selanjutnya hasil studi PISA 2015, Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 70 negara peserta dengan skor rata-rata 386, sedangkan skor rata-rata internasional 490 (OECD, 2016). Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia, khususnya dalam bidang matematika masih tergolong rendah.

Permasalahan ini juga terjadi di SMP Negeri 1 Lebakwangi. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Lebakwangi, diperoleh informasi bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan di sekolah belum sepenuhnya dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini diperkuat dengan hasil tes observasi pendahuluan mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP Negeri 1 Lebakwangi yang dilakukan pada tanggal 09 Februari 2017 di kelas VIII-I. Dalam tes observasi pendahuluan tersebut peneliti memberikan 4 (empat) soal uraian dengan materi pokok Teorema Pythagoras. Materi teorema pythagoras ini dipilih karena siswa telah menerima materi tersebut pada semester I (satu). Dilihat dari hasil tes, hanya beberapa siswa saja yang dapat mengerjakan soal tetapi tidak sampai menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan benar.

(3)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

3 Melihat kondisi tersebut, maka diperlukan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu cara yang diperkirakan cocok untuk mengatasi hal itu adalah dengan menggunakan model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create and Share). Menurut Pizzini, Abell, & Shepardson (1988) model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create, and Share) adalah model yang mengajarkan suatu proses pemecahan masalah dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan memperbaiki kemampuan memecahan masalah. Pizzini, dkk. (dalam Irwan, 2011: 5) menyatakan bahwa model SSCS ini mengacu kepada empat langkah penyelesaian masalah yang urutannya dimulai pada menyelidiki masalah (search), merencanakan pemecahan masalah (solve), mengkonstruksi pemecahan masalah (create), dan yang terakhir adalah mengkomunikasikan penyelesaian yang diperolehnya (share). Adapun aktivitas tiap fase SSCS dapat dilihat pada tabel 1. Metode mengajar dalam penelitian ini menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Pada hakikatnya, pembelajaran tidak cukup memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga memberi pemahaman dan penguasaan tentang “mengapa hal itu terjadi”. Berpijak pada permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diajarkan.

Tabel 1 Langkah-langkah Model Pembelajaran SSCS

Fase Kegiatan

Search 1. Memahami soal atau kondisi yang diberikan kepada

siswa, yang berupa apa yang diketahui, apa yang tidak diketahui, apa yang ditanyakan.

2. Melakukan observasi dan investigasi terhadap kondisi tersebut.

3. Membuat pertanyaan-pertanyaan kecil.

4. Menganalisis informasi yang ada sehingga terbentuk sekumpulan ide.

Solve 1. Menghasilkan dan melaksanakan rencana untuk

mencari solusi.

2. Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif, membentuk hipotesis yang dalam hal ini berupa dugaan jawaban.

3. Memilih metode untuk memecahkan masalah. 4. Mengumpulkan data dan menganalisis

Create 1. Menciptakan produk yang berupa solusi masalah

berdasarkan dugaan yang telah dipilih pada fase sebelumnya.

2. Menguji dugaan yang dibuat apakah benar atau salah. 3. Menampilkan hasil skreatif mungkin.

Share 1. Mengkomunikasikan dengan guru dan teman

sekelompok dan kelompok lain atas temuan, solusi masalah. Siswa dapat menggunakan media rekaman, video, poster, dan laporan.

(4)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

4

Fase Kegiatan

balik dan mengevaluasi solusi.

(Sumber: Khoirifah, Saptaningrum, & Saefan, 2013: 2)

Sebagaimana dijelaskan di atas, keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor. Memilih model pembelajaran yang tepat adalah salah satu kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran. Salah satu aspek yang dapat digunakan untuk mengukur ketepatan pemilihan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru adalah dengan mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran tersebut. Dengan model pembelajaran SSCS yang dapat duterapkan guna mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa serta memberi kesempatan siswa untuk menyelesaikan masalahnya sesuai dengan kemampuannya serta bervariasinya kegiatan dalam model pembelajaran ini diharapkan model pembelajaran SSCS mendapatkan respon positif dari siswa sehingga model pembelajaran SSCS ini dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan oleh seorang guru matematika dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait dengan model pembelajaran SSCS, sehingga judul penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create and Share) terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP”

B. METODE PENELITIAN

Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai menggunakan metode eksperimen dengan cara membandingkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Menurut Sugiyono (Sugiyono, 2015: 107) metode eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lebakwangi Tahun 2016/2017. Teknik pengambilan sampel yang dipilih oleh penulis yaitu dengan cara Simple Random Sampling. Pemilihan kelas penelitian dilakukan dengan cara pengundian dari 9 kelas, maka dari hasil pengundian tersebut diperoleh dua kelas yaitu kelas VIII–I sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII–E sebagai kelas kontrol.

Untuk mengetahui peningkatan pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran SSCS dibutuhkan data-data yang dapat dianalisis sehingga dapat ditarik kesimpulan yang akurat dari hasil eksperimen yang dilakukan. Variabel yang akan diukur adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang diberi perlakuan (X) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran SSCS. Sedangkan variabel terikat (Y) adalah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes uraian dan lembar angket respon siswa.

Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian True Experimental Design. Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, penelitian True Experimental Design ini dilaksanakan dengan desain Pretest-Posttest Control Grup Design. Ilustrasi desain yang dituju terdapat pada Gambar 1.

(5)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

5

O1 X O2

O3 O4

Gambar 1 Desain Penelitian (Sugiyono, 2015: 112)

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random. Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create and Share), sedangkan kelas kontrol adalah siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Sebelum diberi perlakuan kedua kelompok memperoleh tes awal (pretest). Tes awal (pretest) ditujukan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masing-masing kelompok sebelum diberi perlakuan. Setelah perlakuan selesai kedua kelompok diberikan tes akhir (posttest). Tes akhir (posttest) ditujukan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis matematis siswa masing-masing kelompok setelah diberikan perlakuan.

Teknik pengambilan data untuk menguji instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda serta untuk mengetahui kualitas instrumen angket, peneliti berkonsultasi dengan ahlinya, dalam hal ini adalah dosen pembimbing. Selain itu peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan rumus dan aturan yang sama seperti pengujian validitas dan reliabilitas tes uraian. Butir pernyataan yang dilibatkan dalam proses analisis data adalah butir pernyataan yang valid dan reliabel.

Analisis yang digunakan untuk data kuantitatif adalah uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata, uji perbedaan dua rata-rat, serta uji proporsi z. Sedangkan untuk analisis data kualitatif peneliti melakukan analisis terhadap angket dengan membandingkan rata-rata.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian mengenai penerapan model pembelajaran SSCS terhadap peningkatan kemampuan pemecahan matematis siswa SMP dilakukan di SMP Negeri 1 Lebakwangi. Penelitian diarahkan untuk membuktikan dua hipotesis yang diajukan peneliti. Hipotesis yang pertama adalah dugaan mengenai kemampuan pemecahan matematis siswa dengan model pembelajaran SSCS lebih baik daripada kemampuan pemecahan matematis siswa dengan model pembelajaran konvensional. Sedangkan hipotesis yang kedua ditujukan untuk membuktikan bahwa kemampuan pemecahan matematis siswa kelas eksperimen berada dalam kategori tinggi.

Dalam melaksanakan penelitian, penelitian memulai dengan penyusunan perangkat ajar berupa silabus dan RPP. Silabus dan RPP disesuaikan dengan rencana kegiatan penelitian yang dilakukan. Tatap muka dilakukan sebanyak empat kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 × 40 menit, 2 × 40 menit, 2 × 40 menit dan 2 × 40 menit.

Setelah mempersiapkan silabus dan RPP, peneliti menyiapkan instrumen berupa soal uraian untuk mengevaluasi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa

(6)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

6 sebelum dan sesudah pembelajaran. Sebelum digunakan soal tersebut terlebih dahulu diuji cobakan di kelas XI-J SMP Negeri 1 Lebakwangi. Uji coba dilakukan di kelas IX karena kelas tersebut telah menerima materi mengenai bangun ruang sisi datar pada sub pokok bahasan kubus dan balok Dari 7 soal yang memiliki kategori valid tersebut 43% soal memiliki interpretasi tinggi dan 57% soal memiliki interpreatsi sedang. Dari segi realiabilitas, instrumen soal tersebut berada pada kategori tinggi. Dari segi tingkat kesukaran 57% soal mempunyai kriteria interpretasi sedang dan 43% soal mempunyai kriteria interpretasi sukar. Selanjutnya dari segi daya pembeda 14% soal memiliki kriteria interpretasi sangat baik, 29% soal memiliki kriteria interpretasi baik, dan 57% soal memiliki kriteria interpretasi jelek. Dari 7 soal yang valid tersebut semua digunakan, akan tetapi ada empat soal memiliki daya pembeda yang jelek sehingga soal tersebut harus diperbaiki. Berdasarkan beberapa hal yang diuji tersebut dari 10 soal yang diuji cobakan hanya 3 butir soal yang memenuhi kriteria dan 4 soal harus diperbaiki untuk digunakan dalam proses penelitian.

Setelah soal diputuskan dapat digunakan dalam penelitian, peneliti memberikan tes awal kepada kedua kelas, kelas VIII-I sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-E sebagai kelas kontrol. Sebelum diberi perlakuan, rerata kelas eksperimen adalah 7,64 dengan nilai tertinggi 10 dan terendah 3. Sedangkan rerata kelas kontrol adalah 7,20 dengan nilai tertinggi 10 dan nilai terendah 0. Dari hasil tes awal, diketahui bahwa data kedua kelas tidak berdistribusi normal akan tetapi kedua data tersebut homogen, sehingga pengujian tidak dapat dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik. Peneliti kemudian menggunakan Uji Mann-Whitney (Uji-U) untuk menelaah kesamaan kemampuan awal kedua kelas. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai U = 522. Karena terdapat beberapa angka kembar maka dilakukan pengkoreksian terhadap simpangan baku yang selanjutnya digunakan untuk mencari nilai z. Nilai U terlebih dahulu diubah menjadi nilai z karena penelitian yang dilakukan pada sampel yang besar. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai

z

hitung

0

,

29

sementara

z

tabel pada taraf signifikan 0,05 adalah 1,64. Ketika dikonsultasikan pada tabel z, nilai

z

hitung berada didalam daerah penerimaan H0. Hal ini karena pengujian yang digunakan adalah uji dua pihak

dengan kriteria penerimaan adalah terima H0 jika

2 1

< z

zhitung dan tolak H0 pada

situasi lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa

z

hitung

< z

0,45 maka terima H0, yaitu

kemampuan awal pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen sama dengan kemampuan awal pemecahan masalah matematis siswa kelas kontrol. Setelah dipastikan bahwa kedua kelas memiliki kemampuan awal pemecahan masalah matematis yang sama, perlakuan yang berbeda diberikan pada kedua kelas tersebut. Siswa kelas eksperimen memperoleh pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran SSCS sedangkan siswa kelas kontrol memperoleh pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

Setelah melakukan proses pembelajaran, siswa diberikan tes akhir untuk mengetahui bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Data yang diperoleh juga digunakan untuk menguji kedua hipotesis yang diajukan. Pada hipotesis pertama, peneliti hendak mengetahui apakah kemampuan pemecahan

(7)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

7 masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran SSCS lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran konvensional. Dari hasil tes akhir, diketahui bahwa data kedua kelas berdistribusi normal dan homogen. Oleh sebab itu peneliti melakukan uji-t. Setelah diberi perlakuan, rerata kelas eksperimen adalah 13,10 dengan nilai tertinggi 19 dan terendah 4. Sedangkan rerata kelas kontrol adalah 9,14 dengan nilai tertinggi 17 dan nilai terendah 1. Untuk menguji hipotesis pertama, kriteria pengujiannya adalah terima H0 jika

t

tabel

<

t

<

t

tabel dan tolak H0 pada situasi lainnya. Dari perhitungan yang

telah peneliti lakukan, diketahui bahwa

t

hitung

3

,

701

dan

t

tabel

1

,

669

. Dari kedua data tersebut kita ketahui bahwa

t

hitung

>

t

tabel maka H0 ditolak. Hal ini menunjukan

bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran yang memperoleh model pembelajaran SSCS (Search, solve,

Create and Share) lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

Mengenai kategori peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan menggunakan model pembelajaran SSCS, peneliti menduga bahwa peningkatan tersebut berada pada kategori tinggi. Hal tersebut dituangkan pada hipotesis yang kedua. Dalam hipotesis tersebut peneliti menggunakan nilai rerata N-gain kelas eksperimen. Suatu peningkatan mencapai kategori tinggi jika nilai N-N-gain lebih dari 0,70. Sebelum melakukan perhitungan, peneliti mencari nilai N-gain kelas eksperimen selanjutnya dicari normalitas dari data tersebut. Setelah memastikan bahwa data tersebut berdistribusi normal peneliti membandingkan rerata N-gain kelas eksperimen dengan kriteria yang telah ditetapkan dalam hipotesis. Uji rerata tersebut dilakukan dengan menggunakan uji z. Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh nilai

24

,

8

hitung

z

karena 1,64 2 1

z maka kita ketahui

2 1

< z

zhitung . Nilai tersebut berada dalam daerah penerimaan H0, hal ini berarti peningkatan kemampuan

penalaran matematis kelas eksperimen tidak berada pada kategori tinggi. Menelaah nilai rerata N-gain, dapat diketahui bahwa rerata N-gain = 0,303 berada dalam kategori sedang.

Respon siswa terhadap model pembelajaran SSCS baik. Hal ini terbukti dari 30 responden hasilnya 28 responden memberikan respon positif, 2 responden memberikan respon netral, dan tidak ada responden yang memberikan respon negatif. Apabila dinyatakan dalam persentase, 93,67% responden memberikan respon positif, 6,33% responden memberikan respon netral, dan 0% responden memberikan respon negatif. Dalam perhitungan angket diperoleh rerata skor dari 30 subyek adalah 4,158. Jika rerata skor subyek makin mendekati 5, sikap siswa makin positif. Sebaliknya jika mendekati 1, sikap siswa makin negatif. Dari rerata yang peneliti peroleh yaitu 4,158, maka dapat disimpulkan rerata skor subyek tersebut mendekati 5 sehingga respon siswa adalah positif. Dengan kata lain kita dapat mengetahui bahwa siswa menunjukkan respon positif terhadap pembelajaran yang dilakukan di kelas yaitu model pembelajaran SSCS.

(8)

Jurnal Matematika Ilmiah STKIP Muhammadiyah Kuningan Vol. 3 No.2 November 2017

8 D. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang peneliti lakukan mengenai penerapan model pembelajaran SSCS terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di SMP Negeri 1 Lebakwangi, terdapat beberapa hal yang dapat peneliti simpulkan antara lain: kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran SSCS lebih baik daripada kemampuan pemecahan maslaah matematis siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional, peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran SSCS berada pada kategori sedang serta pembelajaran matematika dengan model pembelajaran SSCS memperoleh respon positif dari siswa. Hal ini terbukti dari hasil rekapitulasi jawaban siswa yang menunjukkan respon positif terhadap pembelajaran yang telah diterapkan.

E. DAFTAR PUSTAKA

BSNP. 2006. Standar Isi, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP/MTS. Jakarta: BSNP.

Hendriana, H., & Sumarmo, U. 2014. Penilain Pembelajaran Matematika. Bandung: PT Refika Aditama.

Irwan. 2011. Pengaruh Pendekatan Problem Posing Model Search, Solve, Create, and Share (SSCS) dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematis Mahasiswa Matematika. Jurnal Penelitian Pendidikan. 12(1).

Khoirifah, S., Saptaningrum, E., & Saefan, J. 2013. Pengaruh Pendekatan Problem Solving Model Search, Solve, Create and Share (SSCS) Berbantuan Modul Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis. Seminar Nasional 2nd Lonttar Physiics Forum. ISBN:

978-602-8047-80-7.

Mullis, I. V. S., Martin, M. O., Foy, P., & Arora, A. 2012. TIMSS 2011 International Results in Mathematics. Chestnut Hill, MA: Boston College, TIMSS and PIRLS International Study Center. [Online] Diakses pada Tanggal 19 Juli 2017 Tersedia di https://timssandpirls.bc.edu/timss2015/ frameworks.html

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). 2014. PISA 2012 Results in Focus. [Online] Diunduh pada Tanggal 19 Juni 2017 Tersedia di https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). 2016. PISA 2015 Results in Focus. [Online] Diunduh pada Tanggal 19 Juli 2017 Tersedia di https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf

Pizzini, E. L., Abell, S. K., & Shepardson, D. S. 1988. Rethinking Thinking in the Science Classroom. The Science Teacher. [Online] Diunduh pada Tanggal 19 Juni 2017 Tersedia di plato.acadiau.ca/courses/educ/GMacKinnon/Educ4143/ graphics/Rethinking%20thinking.pdf

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Gambar

Tabel 1 Langkah-langkah Model Pembelajaran SSCS

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) kemampuan analisis siswa dengan model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS) pada materi pokok

Dari penjelasan diatas, dapat diasumsikan bahwa model pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) dapat meningkatkan aspek disposisi matematika yang menjadi bahasan

Walaupun kelompok siswa yang menggunakan model Make A Match lebih baik dalam pemecahan masalah siswa pada pembelajaran matematika dibandingkan dengan kelompok

Keunggulan dari pendekatan Open-Ended dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa karena dalam proses pembelajarannya siswa belajar dengan masalah kontekstual

Dengan asas uatam “bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru) dan antarkan dunia kita (guru) ke dunia mereka (siswa) serta perancangan pembelajaran yang dinamis

Pemberdayaan kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan melalui model pembelajaran Search, Solve, Create and Share (SSCS) dengan media video.Tujuan penelitian adalah

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perbedaan peningkatan hasil belajar siswa terhadap kemampuan representasi matematis, antara siswa yang memperoleh

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS) dapat meningkatkan kemampuan analisis