• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIABETES MELLITUS. dr. Renny A. Puspitasari, Sp.PD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DIABETES MELLITUS. dr. Renny A. Puspitasari, Sp.PD"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

DIABETES MELLITUS

(2)

Definisi

Penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya

(3)

Patofisiologi

(4)
(5)

Mekanisme Cara

Kerja Obat diabetes

(6)
(7)

Profil Obat

Diabetes

(8)
(9)

Metformin

• Pilihan pertama OAD

• Dosis diturunkan pada gangguan fungsi ginjal

(LFG 30-60 ml/menit/1,73m2)

• Tidak boleh diberikan pada : LFG <30 m/menit/1,73 m2

Gangguan hati berat

Kecenderungan Hipoksemia (Sepsis, penyakit

cerebrovascular, PPOK, Gagal jantung NYHA class 3-4)

(10)

Tn. J, 55 tahun, datang dengan keluhan sering buang air kencing dan haus pada malam hari. Saat malam hari pasien mengatakan bahwa dapat bangun untuk kencing hingga tiga kali sehari. Berat badan pasien juga turun 5 kg

sejak 3 bulan lalu. Pada pemeriksaan fisik dan tanda vital pasien tidak ditemukan kelainan. Dokter ingin melakukan pemeriksaan glukosa plasma 2 jam TTGO. Berapakah beban glukosa yang diberikan pada pasien

a. 10 mg b. 25 mg c. 50 mg

d. 75 mg

(11)

Untuk mengukur indeks derajat kerusakan sel beta, WHO menggunakan suatu parameter yang disebut

a. Glyclated hemoglobin

b. Glukosurik uremic c. Hemoglobin Alpha d. Hemoglobin glucose

(12)

Metofrmin bekerja dengan cara meningkatkan penggunaan glukosa oleh jaringan perifer yang dipengaruhi oleh … yang merupakan

regulator utama bagi metabolisme lipid dan glukosa a. UMP Activated Protein Kinase

b. AMP Activated Protein Kinase

c. C-Peptide kinase d. Pro-K kinase

(13)

Berikut ini merupakan efek samping dari metformin, kecuali a. Asidosis laktat

b. Mual c. Muntah

d. Peningkatan berat badan

(14)

Berikut ini merupakan kontraindikasi pada metformin, kecuali a. Gangguan fungsi hati

b. Infeksi berat

c. Penggunaan alcohol berlebih

d. Riwayat gejala gastrointestinal

(15)

Hipoglikemi

• Menurunnya kadar glukosa <70 mg/dL

• Penurunan konsentrasi

glukosa serum dengan atau tanpa adanya gejala-gejala system autonom

(16)
(17)

Tatalaksana Hipoglikemi

Hipoglikemi belum teratasi, pertimbangkan pemberian antagonis insulin :

glucagon 0,5-1 mg IV/IM

Hidrokortison 100 mg per 4 jam selama 12 jam I.V Deksametason 10 mg iv bolus, dilanjutkan 2 mg tiap 6 jam

(18)

Tn. J, 50 tahun, tiba-tiba tidak sadar sejak 2 jam lalu dan dibawa oleh

keluarganya ke UGD. Pada pemeriksaan fisik ditemukan GCS pasien

234, TD 110/80, HR 90, RR 20, suhu 36,5 derajat celcius. Saat diperiksa

gula darah sewaktu pasien 30 g/dl. Untuk mendiagnosis hipoglikemia perlu ditemukan adanya

a. Trias Conrad b. Olive sign

c. Trias Whipple

d. Trias Beck e. Trias James

(19)

Dalam mengatur keseimbangan glukosa terdapat beberapa mekanisme yang berpengaruh. Mekanisme tersebut adalah melalui Sel Alfa, Sensor Glukosa di hipotalamus dan …

a. Hipofisis posterior

b. Hipofisis anterior

c. Adrenal anterior d. Hipofisis lateral e. Adrenal superior

(20)

GAGAL JANTUNG

(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

Klasifikasi

(27)
(28)

Gagal Jantung Akut

Serangan yang cepat dari gejala dan tanda gagal jantung sehingga membutuhkan

terapi segera  mengancam jiwa

Acute de novo (serangan baru dari gagal jantung akut, tanpa ada kelainan jantung sebelumnya)

Dekompensasi akut dari gagal jantung kronik

(29)

Faktor Pencetus GJA :

• Dekompensasi pada GJK • SKA

• Komplikasi mekanik dari SKA (rupture septum intraventricular, rupture korda katup mitral, infark ventrikel kanan)

• Krisis hipertensi • Aritmia akut

• Diseksi aorta

• Tamponade jantung

• Kardiomiopati peripartum

• Faktor presipitasi non kardiovasukular (Masalah bedah dan perioperative, Infeksi, PPOK, Asma, Anemia, disfungsi ginjal, feokromasitoma, dsb)

(30)

Presentasi

klinis GJA

(31)
(32)
(33)

Edema Paru

• Edema paru adalah akumulasi cairan pada jaringan interstitial paru yang disebabkan ketidakseimbangan antara tekanan hidrostatik dan onkotik di dalam pembuluh darah kapiler paru dengan jaringan

sekitarnya.

• Non kardiogenik : Perubahan permeabilitas alveolar-kapiler membrane (ARDS), kelainan system limfe (lymphangitic

carcinomatosis), tekanan onkotik plasma menurun akibat hipoalbumin (sindroma nefrotik, peny hati kronis)

• Kardiogenik : Peningkatan tekanan vena pulmonalis

Edema paru adalah akumulasi cairan di paru- paru yang dapatdisebabkan oleh tekananintrvaskular yang tinggi (edema parukardiak) atau karena peningkatan permeabilitas membran kapiler(edema paru non kardiak) yang mengakibatkan terjadinya ekstravasasicairan

(34)

Edema paru kardiak dan Edema paru non kardiak

Edema Paru Kardiak Edema Paru non-Kardiak

Riwayat penyakit Penyakit jantung akut Penyakit dasar diluar jantung Pemeriksaan klinis Orthopneu

Akral dingin S3 gallop

Distensi vena jugularis Ronkhi basah

Akral hangat

Pulsasi nadi meningkat Tidak terdengar gallop

Tidak ada distensi vena jugular Rhonki kering

Pemeriksaan penunjang EKG : biasanya abnormal

Ro : distribusi edema perihilar PCWP :>20 mmHg

Echo : Umumnya abnormal

EKG : biasanya normal

Ro : distribusi edema perifer PCWP :<20 mmHg

Echo : Umumnya normal

(35)

Butterfly Appereance Batwing

Non-kardiogenik kardiogenik

(36)

Seorang pasien datang dengan keluhan sesak sejak 3 jam yang lalu. Sesak disertai dengan napas yang cepat. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan

TD 100/70, HR 132, RR 34, T 36,5, saturasi oksigen 89%. Pada pemeriksaan fisik nampak ronkhi pada kedua lapang paru. Pada pemeriksaan foto polos ditemukan gambaran Batwing Apperance. Jika dokter mencurigai adanya gagal jantung pada pasien ini, ini merupakan gagal jantung tipe apakah?

a. Gagal jantung kronik

b. Edema paru

c. Syok kardiogenik

d. Gagal jantung hipertensif

(37)

Tn. J, 65 tahun, datang dengan keluhan sering sesak ketika berjalan. Ketika berjalan jauh, Tn. J mengaku langsung sesak dan membaik ketika beristirahat. Pada malam hari pasien mengaku sering tidak bisa tidur, dan harus tidur dengan 3 bantal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya

distensi vena leher, ronki paru, dan pergeseran pinggang jantung kiri. Diagnosis yang paling mendekati pada pasien ini adalah

a. PPOK

b. Asma bronkial c. Diabetes melitus

d. Gagal jantung

(38)

Terapi untuk gagal jantung kongestif dan ditemukan retensi cairan adalah

a. Diuretik

b. Calcium channel blocker c. Digitalis

d. Glikosida jantung e. Digoksin

(39)

ATRIAL FIBRILASI

(40)

Pendahuluan

• Atrial berkontraksi lebih cepat dari biasanya.

• Ketika ini terjadi, ventrikel tidak memiliki cukup waktu untuk mengisi sepenuhnya dengan darah untuk memompa ke paru-paru dan tubuh

(41)

Ciri-ciri AF pada gambaran EKG :

• Pola interval RR yang ireguler • Tidak dijumpainya gelombang P

yang jelas

• Interval antara dua gelombang aktivasi atrium tersebut biasanya bervariasi, umumnya kecepatannya melebihi 450x/ menit.

(42)

Klasifikasi (waktu dan durasi)

1. AF yang pertama kali terdiagnosis

2. AF paroksismal (terminasi spontan < 48 jam, namun dapat berlanjut

hingga 7 hari)

3. AF persisten (>7 hari atau FA yang memerlukan kardioversi dengan

obat atau listrik)

4. AF persisten lama (long standing persistent) (>1 tahun  strategi

kendali irama masih akan diterapkan)

5. AF permanen (ditetapkan sebagai permanen)  strategi kendali

(43)

• AF sorangan (lone): FA tanpa disertai penyakit struktur kardiovaskular lainnya, termasuk hipertensi, penyakit paru terkait atau abnormalitas anatomi jantung seperti pembesaran atrium kiri, dan usia di bawah 60 tahun.

• AF non-valvular: FA yang tidak terkait dengan penyakit rematik mitral, katup jantung protese atau operasi perbaikan katup mitral. • AF sekunder: FA yang terjadi akibat kondisi primer yang menjadi pemicu FA, seperti infark miokard akut, bedah jantung, perikarditis, miokarditis, hipertiroidisme, emboli paru, pneumonia atau penyakit paru akut lainnya. Sedangkan FA sekunder yang berkaitan dengan penyakit katup disebut FA valvular.

(44)
(45)
(46)
(47)
(48)

Kardioversi elektrik dengan arus bifasik lebih dipilih dibandingkan arus

monofasik karena membutuhkan energi yang lebih rendah dan

(49)
(50)

Kardioversi

Kardioversi elektrik dengan arus bifasik lebih dipilih dibandingkan

arus monofasik Hipotensi Syok Chest pain Heart failure UNSTABLE

(51)

Tn. D, 40 tahun, datang dengan keluhan sesak dan dada berdebar-debar. Pada pemeriksaan fisik ditemukan TD 100/80 HR 145 kuat angkat ireguler. Pada pemeriksaan fisik ditemukan irama gallop S3 pada auskultas jantung. Pada pemeriksaan EKG ditemukan adanya gelombang QRS yang ireguler dan menghilangnya gelombang P. Diagnosis untuk pasien ini adalah

a. Fibrilasi atrial

b. Atrial flutter

c. Takikardi ventricular d. NSTEMI

(52)

Berikut ini yang merupakan patofisiologi pembentukan trombus pada fibrilasi atrium

a. Peningkatan kecepatan flow atrial

b. Penurunan kecepatan flow atrial

c. Peningkatan kardiak output d. Penurunan stroke volume

(53)

Kadioversi elektrik dimulai dengan dengan energi a. 50 Joule b. 100 Joule c. 150 Joule d. 500 Joule e. 200 joule

(54)

Berikut ini merupakan efek samping amiodaron sebagai tatalaksana fibrilasi atrial, kecuali

a. Fotosensitivitas b. Polineuropati c. Bradikardia

d. Hepatotoksisitas

(55)

Tatalaksana utama pada gagal jantung dengan fibrilasi atrium adalah dengan menggunakan

a. ACE inhibitor

b. Calcium channel blocker c. ARB

d. Glikosida jantung

(56)

PNEUMONIA

(57)

Definisi

• Peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit)

• tidak termasuk Mycobacterium tuberculosis

• Pneumonitis : Peradangan paru nonmikroorganisme • CAP :

- Peradangan akut parenkim paru yang didapat di masyarakat

(58)
(59)

Diagnosis

• Diagnosis pneumonia ditegakan jika pada foto toraks terdapat infiltrat paru • baru atau progresif ditambah dengan minimal dua gejala:

• Peningkatan / onset baru dari batuk. • Purulensi / perubahan karakter sputum.

• Secara auskultasi sesuai dengan pneumonia (tanda-tanda konsolidasi, suara napas bronkial, dan ronki).

• Dispnoe, takipnoe, atau hipoksemia (SaO2 < 90% atau PaO2 < 60 mmHg). • Demam (>380C).

(60)

Pemeriksaan

Pewarnaan Gram dan kultur dahak

Kultur darah

Analisis gas darah.

kultur dari tindakan bronkoskopi (BAL)

Biomarker inflamasi : CRP, prokalsitonin

Radiologi

(61)

Radiologi

• Infiltrat

• Konsolidasi dengan air bronchogram

(62)

Indikasi Rawat Inap

• Skor PSI > 70

• Pneumonia pada pengguna NAPZA

• Skor PSI < 70, ditemukan salah satu dari kriteria di bawah ini:

• Frekuensi napas > 30 kali/menit • PaO2/FiO2 < 250 mmHg

• Foto toraks menunjukkan infiltrat multilobus • TDS < 90 mmHg

(63)

Antibiotik

Empiris

(64)
(65)

Tn. Y, 45 tahun, datang dengan keluhan batuk sejak 2 minggu. Batuk tidak membaik

walaupun diberikan obat batuk. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan normal, kecuali suhu pasien yang mencapai 38,5 derajat Celcius. Pada pemeriksaan penunjang foto polos dada ditemukan gambaran air bronchogram. Diagnosis yang paling mendekati adalah

a. PPOK

b. Pneumonia

c. Asma bronkial d. Asma kardinal e. TB Paru

(66)

Berikut ini yang merupakan kriteria mayor yang mejadi indikasi perawatan di ICU pada pasien pneumoniae adalah

a. Syok kardiogenik

b. Syok septic

c. Tekanan darah sistolik < 90 mmhG d. Pneumonia multilobar

(67)

ASMA BRONKIAL

(68)

• Penyakit dengan manifestasi yang heterogen yang dicirikan

dengan inflamasi kronik saluran napas. • Asma umumnya ditandai dengan gejala

saluran napas seperti sesak, napas

pendek, bunyi napas mengi (wheezing), batuk yang timbul dengan intensitas

yang berbeda pada waktu yang berbeda, serta adanya keterbatasan saat

ekspirasi. (GINA, 2017)

(69)

Patofisiologi Asma

Inflamasi saluran

nafas atas dan bawah

Perubahan struktur jaringansaluran nafas

Bronkokonstriksi

Hipereaktivitas bronkus

(70)
(71)

Pemeriksaan Penunjang

Pengukuran VEP 1 (volume ekspirasi paksa dalam 1 detik) dan KVP (Kapasitas vital paksa) serta pengukuran APE (Arus puncak eskpirasi)

Spirometri :

Peningkatan VEP 1 ≥ 12% dan 200 cc setelah pemberian bronkodilator

Peningkatan APE 60 L/menit (atau ≥ 20% dari APE pre bronkodilator) atau variasi diurnal lebih dari 20% (lebih dari 10% dengan pemeriksaan 2x/hari)

(72)
(73)
(74)

Tatalaksana

Asma

Eksaserbasi

Akut

Oksigen dengan target SO2 95%

B2 agonis inhalasi (tiap 20 menit selama 1 jam pertama, selanjutnya setiap jam) Kombinasi B2 agonis + ipratoprium bromide Kortikosteroid Metilsantin tidak dianjurkan. Teofilin dapat digunakan jika b2

agonis inhalasi tidak tersedia

Mg sulfat 2 gram IV pada pasien eksaserbasi

berat yang tidak respon dg bronkodilator dan KS

sistemik

Antibiotik (bila ada infeksi)

(75)
(76)
(77)

© Global Initiative for Asthma, www.ginasthma.org

(78)

© Global Initiative for Asthma, www.ginasthma.org

(79)

© Global Initiative for Asthma, www.ginasthma.org

(80)
(81)
(82)

Berikut ini salah satu jalur patofisiologi munculnya asma bronkial diperantarai oleh a. IgM b. NK Cell c. Neutrophila d. IgE e. IgA

(83)

Tn. J, 28 tahun datang dengan keluhan sesak hilang timbul sejak 2 hari. Sesak muncul setelah pasien membersihkan rumah barunya. Pasien datang sendiri dan dapat duduk di bed periksa. Pasien dapat berbaring, dan dapat bicara dengan jelas. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan nadi 98x per menit, RR 24 x per menit, dan ditemukan mengi pada kedua lapang paru. Derajat serangan asma pada pasien ini adalah

a. Ringan

b. Sedang c. Berat

d. Sangat berat e. Morbid

Referensi

Dokumen terkait

i. Praktik menutup pelajaran. Selama praktik mengajar, mahasiswa lain bertindak sebagai siswa, pengawas maupun komponen lain di dalam kelas. Selama rekannya melakukan

Menimbang, bahwa setelah memeriksa dan meneliti dengan seksama berkas perkara beserta surat – surat yang berhubungan dengan itu serta berikut salinan

siswa fokus pada kegiatan 4 dan kegiatan 5 untuk mendiskusikan pertanyaan pada LKS. Guru meminta siswa yang mendapat kartu pertanyaan untuk memberikan lembar

Pengambilan sampel yang tidak mencukupi dikarenakan waktu proses produksi yang lama, pekerja harus menyelesaikan produksi untuk produk lain selain pintu triplek

Aktivitas fisik dapat merangsang peningkatan level testosteron pada tikus jantan, berkaitan dengan peningkatan asam laktat dalam darah, seperti pada latihan

Akan tetapi, melihat bahwa dalam ruwatan anak ontang anting terdapat banyak sekali unsur Islam, dan tujuan pelaksanaannya pun mengandung nilai yang positif dan tidak

Contoh lain dari pelapukan biologis adalah lumut yang ada di atas bebatuan. Atau akar tumbuhan yang terselip di antara bebatuan. Lama-kelamaan, ketika si akar membesar, dia

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Lestari dan Galuh Ngreni Luberingtyas Menghasilkan video profil Madrasah Aliyah Negeri1 Sragen yang dapat dijadikan media