117
RESISTENSI Escherichia coli YANG DIISOLASI DARI TELUR
AYAM DI BEBERAPA WARUNG KOPI KAWASANDARUSSALAM
KECAMATAN SYIAH KUALA,BANDA ACEH TERHADAP
ANTIBIOTIK
Escherichia coli Resistance that isolated from Chicken Eggs in several Darussalam Coffee shop Syiah Kuala Sub-district Area Banda Aceh of Antibiotic
M.Arif Alfurqan1, Rastina2, Abdul Harris3, Nurliana2, Hennivanda3, Erina4
1Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 2Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala
3Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 4Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui resistensi beberapa jenis antibiotik terhadap Escherichia coli yang diisolasi dari telur ayam dari beberapa warung kopi kawasan Darussalam, Banda Aceh.Metode deteksi
E.coli mengacu pada Bacteriological Analytic Manual (BAM) dan pengujian kepekaan E.coli terhadap
antibiotik dilakukan dengan metode difusi cakram.Penelitian ini menggunakan 21 telur ayam yang dari tujuh warung kopi.Antibiotik yang digunakan yaitu ampisilin, gentamisin, streptomisin, siprofloksasin, eritromisin, sulfametoksasol dan tetrasiklin.Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan ampisilin, eritromisin dan sulfametoksasol yang resisten terhadap 12 koloniE.coli, tetrasiklin dan streptomisin resisten terhadap 11 koloni E.coli, dan gentamisin resisten terhadap 2 koloni E.coli. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan E. coli yang diisolasi dari telur ayam yang dijual di warung kopi kawasan Darussalam Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh menunjukkan tingkat resistensi yang sangat tinggi yaitu ampisilin 100%, eritromisin 100%, tetrasiklin 92%, streptomisin 92% dan sulfametoksasol 100%) dan tidak resisten terhadap antibiotik jenis siprofloksasin dan gentamisin.
Kata kunci: Esherichia coli, antibiotik, resisten, telur ayam.
ABSTRACT
The aim of this study was to determine of antibiotic resistance in some types of Escherichia coli which isolated from Chicken Eggs in several Darussalam Coffee shop Banda Aceh Area. The Detection test of E.coli that reference to Bacteriological Analytical Manual (BAM) method and sensitivity test for E. coli to antibiotics is done by disc diffusion method. This study used 21 Chicken Eggs samples that collected from 7 coffee shop, the antibiotics that used were ampicillin, gentamycin, streptomycin, ciprofloxacin, erythromycin, sulfametoxazole, and tetracycline. The data were analyzed descriptively. The results of this study showed resistance to the ampicillin antibiotic, erythromycin and sulfametoxazole to as well as 12 E. coli colonies, 11 E. coli colonies for tetracycline and streptomycin, and 2 E. coli colonies for gentamycin. The conclution is this study showed a fairly high level of resistance on the egg that isolated from several Darussalam coffee shop area banda aceh, there is resistance to ampicilin antibiotic 100%, eritromycin 100%, tetracycline 92%, streptomisin 92% and sulfametoxazole 100%, and not resistance of ciprofloxacyn and gentamycin antibiotics.
Keywords : Esherichia coli, antibiotic, resistance, Chicken Eggs.
PENDAHULUAN
Telur Ayam merupakan bahan makanan hewani bergizi tinggi dan digemari masyarakat.Telur juga sangat mudah terkontaminasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Kontaminasi ini berhubungan dengan higiene dan sanitasi tempat dimana telur tersebut berada, mulai dari peternakan hingga telur dijual di pasar (Botka, P. dkk., 2000). Kandungan protein yang cukup tinggi pada telur menjadi media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme (Apriadji, 2007).
Escherichia coli telah dilaporkan sebagai salah satu jenis bakteri yang dapat
ditemukan pada telur meskipun telah dilakukan perlakuan pemanasan (Botka, P. dkk., 2000). Bakteri E. coli adalah mikroba Gram negatif yang secara alami berada pada saluran pencernaan, feses hewan, dan manusia (de Verdier dkk., 2012). Namun demikian, beberapa
118
galur bakteri tersebut dapat menyebabkan kejadian penyakit yang berakibat fatal pada manusia dan hewan (Bonnet dkk., 2009).Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dapat menghambat atau membunuh bakteri. Senyawa kimia digolongkan ke dalam antibiotik apabila senyawa tersebut berasal dari hasil metabolisme,dengan kadar rendah mampu membunuh mikroorganisme dan bersifat antagonis terhadap mikroorganisme (Krisnaningsih dkk., 2005).
ResistensiE. coli terhadap antibiotik sudah banyak dilaporkan. Hasilpenelitian
antimicrobial resistancedi Indonesia (AMRIN-Study) terbukti) terbukti 43% E. coliresisten
terhadap berbagai jenis antibiotik. Di antaranya resisten terhadap ampisilin (34%), ko-trimoksazol (29%) dankloramfenikol (25%) (Suparmanto, 2005). Munculnya kemampuan bakteri, khususnya E. coli untuk bersifat resisten terhadap penggunaan senyawa antibiotik tentunya menimbulkan masalah yang besar bagi manusia, hewan, dan lingkungan (Diarra dkk., 2007).
Warung kopi merupakan salah satu tempat yang disukai masyarakat, khususnya golongan muda (pelajar dan mahasiswa), bahkan tak jarang kaum tua yang memanfatkan warung kopi sebagai tempat bermusyawarah. Beberapa Warung kopi di Darussalam yang biasa beroperasi mulai dari pukul 07.00 sampai malam hari tersebut menyediakan beranekaragam makanan dan minuman, salah satunya adalah telur kocok. Menurut Usman (2013), bakteri pada telur akan mati dengan sempurna jika dimasak pada suhu 66°C selama 12 menit.
Kecamatan Syiah Kuala dikenal sebagai daerah yang dipadati warung kopi dikarenakan kecamatan ini dekat dengan area kampus sehingga hampir setiap hari warung kopi selalu ramai dikunjungi. Melihat fenomena tingginya konsumsi telur ayam di warung kopi dan berdasarkan penelitian Hutasoid (2017) yang telah melakukan penelitian Deteksi
Salmonella enterica pada telur ayam kampung di kawasan Darussalam Kecamatan Syiah
Kuala Banda Aceh, Peneliti tertarik untuk mengetahui cemaran E. coli dan tingkat resistensinya terhadap antibiotik.
MATERI DAN METODE
Metode pengujian yang dilakukan mengacu pada SNI 01-2897-2008 tentang cemaran mikroba dalam daging, telur dan susu, serta hasil olahannya Badan Standarisasi Nasional (BSN, 2008). Pengujian kepekaan Escherichia coli terhadap antibiotik dilakukan dengan metode difusi cakram.Metode deteksi E.colimengacu pada Bacteriological Analytic Manual,
Food and Drug Administration, OAAC International (BAM, 2006) dan intrepretasi hasil
mengacu pada Clinical and laboratory Standars Institute (CLSI, 2012).Penelitian ini menggunakan 21 telur ayam kampung yang dibeli dari 7 warung kopi, antibiotik yang digunakan yaitu ampisilin, gentamisin, streptomisin, siprofloksasin, eritromisin, sulfametoksasol, dan tetrasiklin.
Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel berupa telur ayamdiperoleh dari 7 warung kopi di kawasan Darussalam Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh sebanyak 3 butir setiap warung kopi yang dilakukan secara acak dan diberikan quesioner kepada pedagang untuk mencari sumber pemasukan telur yang berbeda.Sampel telur ayam kampung ditempatkan di kantong plastik dan dibawa ke Laboratorium KESMAVET untuk langsung diuji secara mikrobiologi.
PengujianEscherichia colipadaTelur
Isi telur (putihtelurdankuningtelur) dimasukkan kedalam plastik steril, kemudian dihomogenkan menggunakan stomacher.Selanjutnya diambil 1ml telur dan tuangkan ke media NB (Nutrien broth) 9ml dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Isolasi kedalam
119
suspensi media NB (yang telah di campurkan dengan telur) lalu goreskan pada petri yang sudah terisi sebanyak 20ml media EMBA,diinkubasipadasuhu 37°C selama 24 jam.
PengujianResistensiAntibiotik (KepekaanMikroorganisme)
Koloni E.colidari media EMBA dipindahkan ke 5ml media NB dalam tabung dan diinkubasikan dengan temperatur 37°C selama 24 jam, Selanjutnya pindahkan koloni ketabung yang berisi 5ml NaCl fisiologis, kemudian dilihat kekeruhan yang terjadi hingga sama dengan kekeruhan pada larutan 0,5 McFarland. Dengan menggunakan swab steril, celupkan dalam larutan, lalu swab merata pada cawan petri yang berisi media MHA.Kemudian paper disk yang mengandung antibiotik dimasukkan dalam Mueller Hinton
Agar (MHA) dan diinkubasi dengan temperatur 37°C selama 24 jam. Setelah 24 jam
dilakukan pengukuran diameter zona hambat yang terjadi. Jenis antibiotik yang digunakan serta interpretasi hasil sesuai dengan Tabel 2.Koloni bakteri ditentukan kepekaannya terhadap antibiotik dengan mengukur diameter zona hambat yang terbentuk.Penentuan susceptible (S), intermediet (I) dan resisten (T) ditentukan melalui ukuran diameter zona hambat yang terbentuk berdasarkan rekomendasi standar CLSI.
Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi Escherichia coli dari Sampel telur ayam
Sampel telur ayam yang diambil dalam penelitian ini adalah berasal dari tujuh warung kopi di Kawasan Darussalam Banda Aceh, dimana setiap warung kopi di ambil tiga butir telur ayam.Berdasarkan uji deteksi E.coli ditemukan pada 12 telur yang tercemar dari 21 telur.Selanjutnya tiap koloni E.coli dari 12 telur digunakan untuk pengujian resistensi antibiotik.Hasil deteksi E.coli pada telur ayam disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cemaran E.coli dari tujuh warung kopi, hanya tiga warung kopi yang benar-benar positif tercemar E.coli.Keberadaan
E.coli pada telur dapat diketahui berdasarkan perubahan yang terjadi pada media yang
digunakan.Media yang digunakan adalah EMBA.Hasil isolasi dapat dilihat pada Gambar 1.
Tabel 1. Deteksi E.coli pada telur
Warung Kopi Jumlah Sampel Cemaran E.coli
A 3 Negatif B 3 Positif C 3 1 Positif D 3 Positif E 3 2 Positif F 3 Negatif G 3 Positif
120
Eosin Methyle Blue Agar (EMBA) adalah media selektif dan differensial.Media ini
mengandung eosin dan metilen biru, yang menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, maka media ini dipilih untuk bakteri Gram negatif.Warna media sebelum pemupukan bakteri berwarna merah keunguan. Perubahan warna hijau metalik pada media EMBA karena E.coli dapat memfermentasi laktosa yang mengakibatkan peningkatan kadar asam dalam media. Kadar asam yang tinggi dapat mengendapkan methylen blue dalam media EMBA (Lindquist dan Jhon, 2004).
Kepekaan Esherichia coli Terhadap beberapa Antibiotik
Pengujian kepekaan bakteri E.coli terhadap antibiotik dilakukan menggunakan metode difusi cakram (disc diffusion method).Cakram antibiotik diletakkan secara individual memakai forsep steril pada permukaan cawan petri berisi Mueller Hinton agar yang telah diinokulasi bakteri E.coli.Hasil zona hambat resistensi antibiotik dapat dilihat pada Gambar 2 dan hasil pengukuran resistensi antibiotik ditampilkan pada Tabel 2.
Gambar 2.Hasil pengukuran resistensi antibiotik pada media Mueller Hinton Agar.Terbentuk
zona hambat (A), tidak terbentuk zona hambat (B)
Berdasarkan metode Kirby-Bauer terdapat tiga kategori kepekaan mikroorganisme terhadap obat antibiotik atau zat antimikroba lain, yaitu: a. sensitif, bila mikroorganisme merespon obat antibiotik atau antimikroba dan pertumbuhannya dapat terhambat; b. intermediet, mikroorganisme memiliki kepekaan sedang karena beberapa hal seperti: toksisitas antibiotik rendah sehingga harus diberikan dosis tinggi, antibiotik hanya bekerja pada fokus infeksi, antibiotik memiliki toksisitas tinggi sehingga tidak dapat diberikan dengan dosis yang lebih tinggi; c. resisten, apabila mikroorganisme tidak berespon terhadap antibiotik.
Menurut data quisoner, keseluruhan warung kopi mensuplai telur dari pedagang tetap yang berbeda-beda. Adapun penanganan terhadap telurnya adalah dibiarkan didalam egg tray disudut meja, pada suhu ruangan serta tidak menggunakan pendinginan. Lamanya penyimpanan juga menjadi faktor pemicu terjadinya cemaran bakteri pada telur. Pada warung kopi A dengan pemasokan oleh supplier tetap memiliki rentang waktu terlama di tempat penjualan dengan jumlah telur 5 papan adalah 7 hari dan 5 hari yang tercepat, sedangkan pada warung kopi F mendapati rentang waktu terlama 5 hari dengan jumlah telur 5 papan dan yang tercepat 2 hari.
121
Tabel 2. Hasil Pengukuran resistensi berdasarkan diameter zona hambat (mm)
E. coli (CIP) (AMP) (E) (CN) (T) (S) (SXT)
W1 (A) - - - - - - - W2 (B) Koloni I 24(S) 8 (R) 11(R) 9 (R) 8 (R) 8 (R) 10 (R) Koloni II 23(S) 8 (R) 7 (R) 13 (I) 8 (R) 8 (R) 8 (R) Koloni III 26(S) 8 (R) 0 (R) 15(S) 9 (R) 7 (R) 7 (R) W3 (C) Koloni II 31(S) 0 (R) 8 (R) 17(S) 8 (R) 8 (R) 8 (R) W4 (D) Koloni I 29(S) 11(R) 7 (R) 17(S) 15(I) 0 (R) 7 (R) Koloni II 27(S) 7 (R) 8 (R) 16(S) 0 (R) 7 (R) 8 (R) Koloni III 25(S) 8 (R) 0 (R) 11(R) 7 (R) 7 (R) 0 (R) W5 (E) Koloni I 29(S) 10(R) 7 (R) 17(S) 8 (R) 6 (R) 8 (R) Koloni II 27(S) 7 (R) 6 (R) 16(S) 8 (R) 16 (S) 7 (R) W6 (F) - - - - W7 (G) Koloni I 23(S) 8 (R) 6 (R) 16(S) 7 (R) 7 (R) 0 (R) Koloni II 26(S) 0 (R) 0 (R) 17(S) 7 (R) 0 (R) 6 (R) Koloni III 29(S) 7 (R) 7 (R) 17(S) 8 (R) 8 (R) 0 (R)
Keterangan :W; WarungKopi,Negatif (-) terhadap cemaran E.coli) Siprofloksasin(CIP); Ampisillin (AMP); Eritromisin (E); Gentamisin (CN); Tetrasiklin (TE); Streptomisin (S); dan Sulfametoksasol (SXT), S = Susceptible; I = Intermediet; R = resisten.
E.coli ditemukan pada seluruh sampel uji dari warung kopi A dan warung kopi F, serta
negatif cemaran pada telur 1 dan 2 pada warung kopi C dan pada telur 1 dari warung kopi E (Tabel 2). Menurut Standar Nasional Indonesia SNI 3926-2008 tentang telur ayam konsumsi, telur ayam paling lama disimpan pada suhu kamar maksimal 14 hari setelah ditelurkan, dengan kelembaban antara 80-90%. Adapun karakteristik telur yang dijadikan sampel pada warung kopi ini adalah tidak retak, berwarna putih kecokelatan, bersih serta tidak cacat fisik, namun juga ditemukan beberapa telur yang masih terdapat kotoran pada kerabang.
Hasil pengujian cemaran E. coli ditemukan pada warung kopi B positif tercemar E.
coli pada ketiga sampel telur ayam kampung, warung kopi C terdapat cemaran pada sampel
kedua, warung kopi D pada ketiga sampel, warung kopi E pada sampel pertama dan kedua serta warung kopi F pada ketiga sampel. Masuknya bakteri ke dalam telur setelah telur berada di luar tubuh induknya misalnya berasal dari kotoran yang menempel pada kulit telur.Kotoran tersebut diantaranya adalah debu, tanah dan feses yang banyak mengandung bakteri perusak. Bakteri ini masuk ke dalam telur melalui kulit telur yang retak atau menembus kulit ketika lapisan tipis protein yang menutupi kulit telur telah rusak dan lubang-lubang kecil yang terdapat pada permukaan telur yang disebut pori - pori (Pelczar dan Chan 1988).
Hasil pengujian terhadap 21 sampel, ditemukan hanya 12 sampel yang tercemar E.coli dan diambil 1 koloni dari setiap sampel sehingga terdapat 12 koloni untuk dilakukan uji kepekaan mikroorganisme. Standar interpretasi hasil resisten apabila terbentuk zona hambat berdasarkan (CLSI, 2012) yaitu ≤13 pada ampisillin, ≤12 pada gentamisin, ≤11 pada streptomisin, ≤15 pada siprofloksasin, ≤13 pada eritromisin, ≤12 pada sulfametoksasol serta ≤14 pada tetrasiklin. Hasil menunjukkan resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yaitu 12 koloni resisten terhadap Ampisillin (100 %), Eritromisin (100 %) dan Sulfametoksasol
122
(100 %). 11 koloni resisten terhadap Tetrasiklin (92 %) dan Streptomisin (92 %), Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Refdanita (2004) yaitu E. coli lebih banyak resisten terhadap antibiotik Ampisillin, Sulfametoksasol dan Eritromisin sedangkan terhadap Siprofloksasin dan Gentamisin lebih banyak yang sensitif meskipun perbandingan dengan yang sudah resisten hanya sedikit.
Resistensi terhadap antibiotik yang didapatkan dari penelitian ini adalah ampisilin, tetrasiklin, eritromisin, streptomisin, ampisilin, dan sulfametoksasol. Resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik eritromisin dan streptomisin di peternakan diduga karena kedua antibiotik tersebut banyak digunakan dan mempunyai daya kerja spektrum yang luas.Namun berbeda dengan hasil yang dilaporkan Suandy (2011), menunjukkan pola resistensi yang sedikit berbeda, dimana resistensi terhadap tetrasiklin merupakan resistensi antibiotik yang tertinggi dari bakteri E. coli.Penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan terutama sebagai pemacu pertumbuhan ayam juga menjadi salah satu penyebab terjadinya resistensi antibiotik di Indonesia.
Silbergerd dkk.(2008) menyatakan bahwa penambahan antibiotik dalam pakan merupakan faktor utama terjadinya peningkatan kejadian resistensi antibiotik.Pakan dalam usaha peternakan ayam merupakan komponen utama yaitu mencapai 60%, sehingga jika pakan yang beredar di peternakan mengandung antibiotik bisa menjadi sumber terjadinya resistensi.
Pemakaian antibiotika, khususnya bila digunakan tanpa aturan yang jelas seperti yang banyak terjadi di negara berkembang akan menyebabkan penggunaan antibiotika secara tidak rasional. Adanya penggunaan antibiotika secara berlebihan menyebabkan tingginya prevalensi resistensi pada flora normal aerobik (Yenny dan Herwana, 2007). Perkembangan resistensi bakteri terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh intensitas pemaparan antibiotika di suatu wilayah, tidak terkendalinya penggunaan antibiotika cenderung akan meningkatkan resistensi bakteri yang semula sensitif (Refdanita dkk., 2004).
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian koloni E.coli yang diisolasidari telur ayam yang dijual di beberapa warung kopi kawasan Darussalam Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh menunjukkan tingkat resistensi terhadap antibiotik yang sangat tinggi, yaitu Ampisilin 100%, Eritromisin 100%, Tetrasiklin 92%, Streptomisin 92%, dan sulfametoksasol 100% dan tidak resisten terhadap jenis antibiotik siprofloksasin dan gentamisin.
Saran
Bagi peternak yang melakukan terapi antibiotik terhadap E.colisebaiknya menggunakan siprofloksasin dikarenakan tingkat resistensi yang masih sangat rendah.
DARTAR PUSTAKA
Apriadji, W.H. 2007.Makan enak untuk hidup sehat, bahagia dan awet muda. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
[BAM] Bacteriological Analytical Manual. 2006. Food and Drug Administration. AOAC International.
Bonnet, C. F., Diarrassouba, R. Brousseau, L. Masson, E. Diarra. 2009. Pathotype and Antibiotic Resistance Gene Distributions of Escherichia coli Isolates from Broiler Chickens Raised on Antimicrobial-Supplemented Diets. Appl EnvironMicrobiol 75(22): 6955-6962.
Botka-Petrak K., T. Petrak, H. Medic, P. Novakovic.2000.Bacteriolo-gical contamination of egg products after thermal preservation processes.Acta Aliment Hung 29: 315-322.
123
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2008. Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam daging, Telur dan Susu, serta Hasil Olahannya. SNI 01-2897-2008. Dewan Standarisasi Nasional, Jakarta.
[CLSI] Clinical and Laboratory Standards Institute. 2012. Performance Standards for Antimicrobial Susceptibility Testing; Twenty-Second Informational Supplement.
Clinical and Laboratory Standars Institute, West Valley.
De Verdier K, A. Nyman , C. Greko, B. Bengtsson. 2012. Antimicrobial resistance and virulence factors in Escherichia coli from Swedish dairy calves. Acta Vet Scand 54: 2. Diarra, M.S, F.G. Silversides, F. Diarrasouba, J. Pritchard, L. Masson, R. Brousseau, C.
Bonnet, P. Delaquis, S. Bach B.J. Skura E. Topp. 2007. Impact of feed supplementation with antimicrobial agents on growth performance of broiler chickens,
Clostridiumperfringens and Enterococcus counts, and antibiotic resistance phenotypes
and distribution of antimicrobial resistance determinants in Escherichia coli isolates.
Appl Environ Microbiol 73: 6566–6576.
Hutasoid K.T, Rastina dan A. Mahdi .2017. Deteksi Salmonella enteric Serovar enteriditis pada telur ayam buras dari warung kopi di Kecamatan Syiah Kuala banda Aceh. Krisnaningsih, F.M, W. Asmara, dan M.H. Wibowo. 2005. Uji Sensitivitas Isolat Escherichia
coli Pada Ayam Terhadap Beberapa Jenis Antibiotik.Journal sain, 1, pp. 13-18.
Lindquist dan John. 2004. Diferensial Media:Eosin Methylene BlueAgar Eosin Metilen Blue Agar. http://www.jlindquist.net/generalmicro/dfemb.html.Diakses pada tanggal 07 Januari2018.
Pelczar, M.J. dan E.C.S. Chan.1988.Dasar-DasarMikrobiologi 1.Jakarta Universitas Indonesia.
Refdanita., R. Maksum, A. Nurgani, dan P. Endang. 2004. Pola kepekaan bakteri terhadap antibiotika di ruang rawat intensif rumahSakitFatmawati JakartaTimurtahun2001- 2002. Makara Kesehatan.8:41-48.
Silbergerd, E.K., J. Graham, and L.B. Price. 2008. Industrial food animal production,antimicrobial resistance, and human health. Ann Rev Public Health.29:151-169.
Suandy,I. 2011. Antimicrobial resistance in Escherichia coli isolated from commercialbroiler farms in Bogor District, West Java. Thesis.Chiang Mai University, Chiang Mai.
Suparmanto, A S.2005. Antimicrobial Resistance, Antibiotic Usage, and infection control. Directorate General Of Health, Republic of Indonesia.
Usman, D., T. Ashar., dan Naria. 2013. Analisa Kandungan Salmonella sp Pada Telur Mentah dan Telur Setengah Matang Pada Warung Kopi Di Jalan Samanhudi Kelurahan Hamdan Kecamatan Medan Maimun.Skripsi. Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Yenny dan E. Herwana. 2007. Resistensi dari bakteri enterik: aspek global terhadapantimikroba. Univ Medicina. 26(1):46-56.