Materi Kedua
PENDAHULUAN
HUKUM & KODE ETIK KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS BUDI LUHUR
Hukum
Komunikasi
Sistem Hukum
Indonesia
Sistem Komunikasi
Indonesia
Sistem Hukum Indonesia
Pengertian
Hukum
Perangkat
Kaidah
Lembaga
Proses
Pengertian Hukum
•
Secara etimologis, kata ”hukum” berasal dari bahasa Arab {al hukmu}, recht (Belanda},
droit {Perancis}, recht {Jerman}, Jus {latin}, diritto {Itali}, derecho (Spanyol} yang pada
intinya mempunyai arti: tuntunan, bimbingan, pedoman hidup bagi manusia.
•
Prof. E.M. Meyers, hukum adalah aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan,
ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat, dan menjadi pedoman bagi
penguasa negara dalam melaksankan tugasnya.
•
Soerojo Wignjodipoero, hukum adalah himpunan peraturan2 hidup yang bersifat memaksa,
berisikan suatu perintah, larangan atau perizinan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu
serta dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.
•
J.C.T. Simorangkir, SH & Woerjono Sastroparnoto, Hukum adalah peraturan-peraturan yang
bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat
Prof. Van Apeldoorn, hukum itu banyak seginya dan demikian luasnya sehingga
Unsur-unsur hukum :
Berdasarkan pengertian dalam beberapa definisi tersebut
di atas, maka dapat diketahui bahwa hukum itu terdiri
dari beberapa unsur, yaitu:
1. Kaidah atau norma-norma kehidupan dalam
pergaulan hidup bermasyarakat.
2. Kaidah atau norma-norma kehidupan tersebut dibuat
oleh badan – badan resmi yang berwajib.
3. Kaidah atau norma-norma kehidupan tersebut bersipat memaksa.
4. Adanya sanksi bagi si pelanggar peraturan atau kaidah-kaidah hukum
yang dinyatakan secara tegas.
Isi kaidah hukum
Pada prinsipnya kaidah- kaidah hukum itu berisi tentang:
1.
Perintah
, artinya kaidah hukum tersebut mau tidak mau harus
dijalankan atau ditaati, mis: ketentuan syarat sahnya
suatu perkawinan, ketentuan wajib pajak dsb.
2.
Larangan,
yaitu ketentuan yang menghendaki suatu perbuatan
tidak boleh dilakukan, mis: mengambil barang milik orang lain,
menghukum seseorang tanpa salah, dsb.
3.
Perkenan atau kebolehan
, yaitu ketentuan yang tidak
mengandung kata perintah dan larangan, melainkan suatu
pilihan boleh digunakan atau tidak.
Sumber Hukum Formal
1. Undang-undang
2. Kebiasaan (Custom)
3. Yurisprudensi
4. Traktat
5. Doktrin
Sistem
Hukum
Keseluruhan kaidah-kaidah hukum positif
yang tersusun sebagai suatu sistem, yang
saling bertautan antara satu dengan lainnya,
dan tertata berdasarkan asas-asas tertentu
dalam rangka tercapainya tujuan hukum.
Sistem Hukum Nasional Indonesia
Sistem hukum nasional Indonesia adalah sistem hukum yang berlaku di seluruh
Indonesia yang meliputi unsur hukum (seperti isi, struktur, budaya, sarana
peraturan perundang-undangan dan semua sub unsurnya) yang antara yang
satu dengan yang lain saling bergantung dan yang bersumber dari Pembukaan
Klasifikasi Kaidah/Norma Hukum
• Norma Agama
: kaidah yang berisi tentang perintah atau larangan yg bersumber dari ajaran Tuhan. Pelanggran terhadap norma ini akan mendapat sanksi di akhirat.• Norma Kesusilaan
: Kaidah yang bersumber dari suara hati sanubari manusia Norma ini bersifat umum dan universil bagi seluruh ummat manusia. Pelanggaran terhadap norma kesusilaan ini bersifat perasaan penyesalan.• Norma Kesopanan
: Norma ini disebut juga norma sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma ini bersumber dari keyakinan masyarakat berupa kepatutan atau kepantasan yang berlaku dalam masyarakat. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat mendapat celaan dari masyarakat.• Norma Hukum
: Peraturan-peraturan yang dibuat oleh lembaga kekuasaan negara yang isinya mengikat setiap orang. Pelaksanaannya dapat dipertahankan dan dipaksakan melalui alat-alat kekusaan negara. Keistimewaan dari norma hukum ini adalah terletak pada sifatnya yang bersifat”memaksa”, dengan sanksi berupa hukuman pidana atau denda.PENGGOLONGAN HUKUM
• Penggolongan hukum dapat dilakukan
dengan mempergunakan ukuran-ukuran:
1) Sumber-sumber hukum
2) Bentuk kaidah hukum
3) Waktu/masa berlaku kaidah hukum
4) Cara mempertahankan kaidah hukum
5) Sifat kaidah hukum
SUMBER-SUMBER HUKUM
Secara sederhana, sumber hukum adalah tempat dimana kita dapat
menemukan hukum.
Kata sumber hukum juga dapat juga dipakai dalam beberapa arti, yaitu:
- Sebagai asas atau permulaan dari mana hukum itu berasal.
- Menunjukan adanya hukum yang terdahulu yang memberi bahan
kepada hukum yang sekarang berlaku.
- Sebagai sumber berlakunya yang memberi kekuatan secara formal
berlakunya hukum, dan
2. Kebiasaan (custom)
Kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam hal yang sama. Apabila suatu kebiasaan tertentu sudah diterima oleh masyarakat, maka tindakan yang berlawanan dengan kebiasaan itu dirasakan sebagai pelanggaran perasaan hukum.
Untuk timbulnya hukum kebiasaan diperlukan beberapa syarat :
1. Adanya perbuatan tertentu yang dilakukan secara berulang-ulang dalam masyarakat tertentu (syarat materiil)
2. Adanya keyakinan hukum dari masyarakat yang bersangkutan (opinio necessitatis = bahwa perbuatan tsb merupakan kewajiban hukum atau demikianlah seharusnya) = syarat intelektual
3. Adanya akibat hukum apabila kebiasaan itu dilanggar.
Selanjutnya kebiasaan akan menjadi hukum kebiasaan karena kebiasaan tersebut dirumuskan hakim dalam putusannya. Selanjutnya berarti kebiasaan adalah sumber hukum.
Kebiasaan adalah bukan hukum apabila UU tidak menunjuknya (pasal 15 AB = (Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia = ketentuan2 umum tentang peraturan per UU an untuk Indonesia
Disamping kebiasaan ada juga peraturan yang mengatur tata pergaulan masyarakat yaitu adat istiadat.
Adat istiadat adalah himpunan kaidah sosial yang sudah sejak lama ada dan merupakan tradisi serta lebih banyak berbau sakral, mengatur tata kehidupan masyarakat tertentu. Adat istiadat hidup dan berkembang di masyarakat tertentu dan dapat menjadi hukum adat jika mendapat dukungan sanksi hukum. Contoh Perjanjian bagi hasil antara pemilik sawah dengan penggarapnya. Kebiasaan untuk hal itu ditempat atau wilayah hukum adat tertentu tidak sama dengan yang berlaku di masyarakat hukum adat yang lain. Kebiasaan dan adat istiadat itu kekuatan berlakunya terbatas pada masyarakat tertentu.
1. Undang-Undang
:Undang-undang adalah suatu peraturan yang dibuat oleh lembaga negara yang sah. Undang-Undang mulai berlaku setelah diundangkan dalam LN (Staatsblad). Dahulu oleh
Mensesneg. Sekarang oleh Menkuhham (UU No. 10 Tahun 2004).
Kekuatan berlakunya undang-undang
.Secara operasional. kekuatan berlakunya uu harus memenuhi tiga persyaratan, yaitu: Kekuatan berlaku yuridis, sosiologis dan fiolosofis.
Kekuatan berlaku yuridis (Juristische Geltung).
Uu mempunyai kekuatan juridis apabila persyaratan formal terbentuknya uu itu telah terpenuhi.
Menurut Hans Kelsen, kaidah hukum mempunyai kekuatan berlaku apabila penetapannya didasarkan pada kaedah hukum yang lebih tinggi tingkatannya secara hierarchies.
Kaidah hukum itu merupakan norma dasar (Grundnorm) berlakunya system tata hukum.
Kekuatan berlaku sosiologis (Soziologische Geltung).
Pada intinya kekuatan berlakunya hukum dimasyarakat sudah merupakan kenyataan, lepas dari kenyataan apakah peraturan hukum itu terbentuk menurut persyaratan formal atau tidak.
Menuurut teori (Machtstheorie), hukum mempunyai kekuatan berlaku secara sosiologis apabila dipaksakan berlakunya oleh penguasa, terlepas dari diterima atau tidak oleh warga masyarakat.
Asas-asas dalam Peraturan Perundang-undangan
• Lex specialis derogat legi generali,
artinya: Asas hukum yang menyatakan peraturan atau UU yang bersifat khusus
mengesampingkan peraturan atau UU yang umum. Kalau terjadi
konflik/pertentangan antara undang-undang yang khusus dengan yang umum
maka yang khususlah yang berlaku.
• Lex superior derogat legi inferior
artinya: kalau terjadi konflik/pertentangan antara peraturan
perundang-undangan yang tinggi dengan yang rendah maka yang tinggilah yang harus
didahulukan.
Lex posteriori derogat legi priori
2.
Kebiasaan (custom)
Kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam hal yang sama. Apabila suatu kebiasaan tertentu sudah diterima oleh masyarakat, maka tindakan yang berlawanan dengan kebiasaan itu dirasakan sebagai
pelanggaran perasaan hukum.
Untuk timbulnya hukum kebiasaan diperlukan beberapa syarat :
1. Adanya perbuatan tertentu yang dilakukan secara berulang-ulang dalam masyarakat tertentu (syarat materiil)
2. Adanya keyakinan hukum dari masyarakat yang bersangkutan (opinio necessitatis = bahwa perbuatan tsb merupakan kewajiban hukum atau demikianlah seharusnya) = syarat intelektual
3. Adanya akibat hukum apabila kebiasaan itu dilanggar.
Selanjutnya kebiasaan akan menjadi hukum kebiasaan karena kebiasaan tersebut dirumuskan hakim dalam putusannya. Selanjutnya berarti kebiasaan adalah sumber hukum.
Kebiasaan adalah bukan hukum apabila UU tidak menunjuknya (pasal 15 AB = (Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia = ketentuan2 umum tentang peraturan per UU an untuk Indonesia
Disamping kebiasaan ada juga peraturan yang mengatur tata pergaulan masyarakat yaitu adat istiadat.
Adat istiadat adalah himpunan kaidah sosial yang sudah sejak lama ada dan merupakan tradisi serta lebih banyak berbau sakral, mengatur tata kehidupan masyarakat tertentu. Adat istiadat hidup dan berkembang di masyarakat tertentu dan
dapat menjadi hukum adat jika mendapat dukungan sanksi hukum. Contoh Perjanjian bagi hasil antara pemilik sawah dengan penggarapnya. Kebiasaan untuk hal itu ditempat atau wilayah hukum adat tertentu tidak sama dengan yang
3. Yurisprudensi.
Yurisprudensi adalah keputusan hakim terdahulu yang dijadikan dasar keputusan hakim lain terhadap suatu persoalan atau peristiwa hukum tertentu (perkara yang sama).
Ada 2 jenis yurisprudensi :
Yurisprudensi tetap keputusan hakim yang terjadi karena rangkaian keputusan yang serupa dan dijadikan dasar atau patokan untuk memutuskan suatu perkara (standart arresten)