• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOTAL SEL HEMOSIT UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIPAPAR DENGAN BAKTERI Vibrio harveyi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TOTAL SEL HEMOSIT UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIPAPAR DENGAN BAKTERI Vibrio harveyi"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TOTAL SEL HEMOSIT UDANG WINDU (Penaeus monodon)

YANG DIPAPAR DENGAN BAKTERI Vibrio harveyi

Bunga Rante Tampangallo dan Endang Susianingsih Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau

Jl. Makmur Dg Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan E-mail: litkan [email protected]

ABSTRAK

Sistem pertahanan tubuh udang windu merupakan sistem pertahanan non spesifik dan sebagian besar dilakukan oleh sel hemosit. Penelitian dengan tujuan untuk mengetahui total sel hemosit pada hemolim udang windu yang dipapar dengan bakteri vibrio harveyi secara injeksi telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros. Perlakuan yang dicobakan adalah kepadatan bakteri yang diinjeksikan, yaitu : A = 106 CFU/mL, B = 104 CFU/mL, dan C = 102 CFU/mL. Pengamatan total hemosit dilakukan setelah 96 jam infeksi. Hemolim diambil di bagian abdomen pertama dengan menggunakan syringe volume 1 mL, yang berisi larutan antikoagulan (trisodium sitrat 3,8%). Hemosit kemudian dihitung dengan menggunakan haemocitometer di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total hemosit pada perlakuan A adalah 2,0x107 sel/mL yang berbeda nyata terhadap perlakuan B (9,737x106 ) dan perlakuan C (7,225x106 ). Hal ini menunjukkan bahwa infeksi vibrio akan memicu tubuh udang memproduksi sel hemosit untuk melawan infeksi.

KATA KUNCI: total hemosit, udang windu (Penaeus monodon), Vibrio harveyii

PENDAHULUAN

Udang windu (Penaeus monodon) yang merupakan komoditas unggulan perikanan telah mengalami penurunan produksi akibat adanya serangan penyakit, baik itu berupa penyakit yang disebabkan oleh virus seperti WSSV (Supriyadi et al., 2005), Monodon Baculo Virus (MBV), Infectious Hypodermal and

Haemotopoeitic Necrosis Virus (IHHNV), dan Baculovirus Midgut Necrosis Virus (BMNV), serta Hepatopancreatic Parvovirus (HPV) (Walker & Cowley, 2003; Flegel et al., 2004); parasit seperti

Zoothammium (Maharani et al., 2009) maupun oleh bakteri seperti Vibrio harveyii (Moriarty, 1999). Serangan bakteri Vibrio yang menyebabkan udang dan media pemeliharaan berpendar pada malam hari, umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Vibrio khususnya Vibrio harveyii. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit kunang-kunang atau vibriosis. Bakteri Vibrio merupakan genus yang dominan hidup di air payau dan estuaria, mempunyai bentuk batang pendek yang bengkok (koma) atau lurus, berukuran panjang 1,4-5,0 nm dan lebar 0,3-1,3 nm serta mempunyai flagella polar.

Vibriosis pada udang windu yang telah berukuran besar biasanya akan mempengaruhi penampakan

luar dari udang tersebut dan menyebabkan penurunan produksi oleh karena udang malas makan, akan tetapi dapat juga menyebabkan munculnya serangan virus sebagai serangan sekunder. Namun serangan vibriosis pada larva udang windu dapat menyebabkan kematian hingga 100%. Hal ini disebabkan oleh karena lemahnya sistem pertahanan tubuh pada fase larva.

Sistem pertahanan tubuh terdiri atas sistem pertahanan tubuh spesifik dan non spesifik. Hal ini didasarkan oleh adanya kemampuan organisme untuk mempertahankan diri terhadap serangan patogen dan lingkungannya. Udang windu merupakan hewan invertebrata yang hanya memiliki sistem imunitas non spesifik sehingga perlu respons imun secara berulang, dengan sistem pertahanan tubuh mencakup sistem pertahanan tubuh selular dan humoral. Dalam sistem pertahanan tubuh udang secara selular, yang paling berperan dan yang pertama kali melakukan perlawanan terhadap adanya serangan patogen adalah sel hemosit (Maharani et al., 2009; Supamattaya et al., 2006).

Kemampuan dari udang windu untuk melakukan pertahanan secara seluler melawan serangan

(2)

total hemosit pada hemolim udang windu yang dipapar V. harveyi dengan kepadatan yang berbeda. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dalam mengetahui proses pertahanan tubuh secara seluler pada udang windu dan dapat dijadikan acuan untuk pemantauan tingkat kesehatan udang melalui aktivitas sel hemosit pada hemolim.

BAHAN DAN METODE

Perbanyakan Bakteri Vibrio har veyi

Bakteri V. harveyi (teridentifikasi dengan menggunakan 16sRNA) yang akan digunakan diperbanyak dengan menggunakan nutrient broth. Bakteri tersebut sebelumnya diremajakan di TCBSA (Thiosulphate

citrate bile sucrose agar) plate dengan metode gores lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang.

Setelah itu, bakteri dipanen dengan menggunakan jarum ose bundar lalu dimasukkan ke dalam

nutrien broth steril. Nutrien broth yang berisi bakteri vibrio ini kemudian diinkubasi di atas shaker

inkubator selama 6 jam. Selanjutnya bakteri disentrifuge 6.000 rpm selama 10 menit pada suhu 4°C untuk memadatkan bakteri. Pelet bakteri kemudian dilarutkan dalam larutan saline solution (NaCl 0,85%) sebanyak 50 mL dan siap untuk digunakan.

Injeksi Bakteri Vibrio harveyi

Injeksi bakteri V. harveyi dilakukan pada udang windu (P. monodon) ukuran 15-20 g yang telah diketahui bebas dari bakteri Vibrio yang ditandai dengan tidak tumbuhnya bakteri Vibrio di media TCBSA yang diisolasi dari hemolim. Injeksi dilakukan di bagian abdomen pertama masing-masing udang sesuai dengan perlakuan, yakni : A= populasi bakteri V. harveyi 106 CFU/mL, B= populasi

bakteri V. harveyi 104 CFU/mL, dan C= populasi bakteri V. harveyi 102 CFU/mL.

Setelah diinjeksi, masing-masing udang uji dipelihara dalam akuarium volume 10 L dengan kepadatan 5 ekor/akuarium. Tiap akuarium dilengkapi dengan selang dan batu aerasi untuk mensuplai oksigen. Selama pemeliharaan juga dilakukan pemberian pakan pelet sebanyak 5%/hari.

Pengambilan Sampel Hemosit

Sampel hemosit pada hemolim diambil dengan menggunakan syringe volume 1 mL. Syringe ini telah diisi dengan antikoagulan 3,8% trisodium sitrat sebanyak 0,3 mL. Hemolim diambil dari bagian abdomen pertama udang windu yang telah memberikan ciri-ciri terserang V. harveyi.

Perhitungan Total Hemosit

Sampel hemolim yang telah dikoleksi diteteskan di atas haemocitometer kemudian diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 x. Hemosit yang ada kemudian dihitung secara manual kemudian dimasukkan ke dalam rumus berikut (Brock & Madigan, 1991):

THC = N x 25 x 50 x 103 sel/mL

di mana:

THC = total hemosit

N = rata-rata hemosit yang ditemukan

Analisis Data

Data total hemosit dianalisis dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan bila perlakuan memberikan pengaruh, maka dilanjutkan dengan uji BNT. Perubahan morfologi udang windu yang terinfeksi ditampilkan secara deskriptif.

HASIL DAN BAHASAN

Udang yang telah diinfeksi dengan bakteri V. harveyi menunjukkan gejala terinfeksi setelah 3 hari injeksi yakni pergerakan mulai melemah, nafsu makan berkurang, kehilangan beberapa kaki renang, warna tubuh memucat hingga bercak hitam, dan ekor geripis (Gambar 1). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Anonim (2011) bahwa ciri-ciri udang yang terserang vibriosis adalah kondisi

(3)

badan lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, badan mempunyai bercak merah-merah (red

discoloration) pada pleopoda dan abdominal (perut), pada malam hari terlihat menyala serta

menunjukkan gejala nekrosis. Bagian kaki renang (pleopoda) dan kaki jalan (pereiopoda) menunjukkan melanisasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa bagian mulut yang kehitaman adalah kolonisasi bakteri pada esophagus dan mulut.

Tingkat mortalitas udang windu yang diinfeksi pada penelitian ini cukup rendah disebabkan karena adanya kemampuan udang uji untuk mempertahankan diri terhadap serangan bakteri V. harveyi. Tingkat kematian udang yang terinfeksi bakteri Vibrio berbeda-beda. Udang windu yang terserang vibriosis di areal pertambakan Filipina mengakibatkan produksi sangat merosot yang disebabkan oleh karena rendahnya sintasan udang yang dipelihara (Moriarty, 1999). Rengpipat et al. (2000) telah melakukan uji tantang V. harveyi 1526 (kepadatan ~107 CFU/mL) terhadap udang windu yang

telah dipelihara dengan menggunakan bakteri probiotik Bacillus S11 selama 90 hari dan mengakibatkan mortalitas udang pada kontrol tanpa probiotik sekitar 65% dan pada perlakuan probiotik 45%. Selanjutnya Prayitno & Latchford, 1995 dalam Muliani, 2002 melaporkan bahwa pada stadia zoea 1 tingkat kematian udang yang terserang vibriosis mencapai 74%, stadia mysis 1: 73%, postlarva 1: 69%; postlarva 2: 51,5% dan untuk udang windu dewasa yang diinjeksi V. harveyi isolat B-2 dengan kepadatan 8,20x105 cfu/ekor sebesar 100%. Tingginya mortalitas udang windu akibat vibriosis

disebabkan oleh kerana adanya produksi ekstraselular (ECP) dari bakteri V. harveyi yang bersifat patogen, seperti enzim protease, phospholipase, haemolysins, dan zat toksin lainnya (Soto-rodriguez et a l., 2003 dalam Austin, 2006).

Adanya perbedaan tingkat mortalitas pada setiap stadia udang disebabkan oleh karena perbedaan dari udang windu untuk melakukan pertahanan tubuh dan faktor eksternal lainnya, seperti lingkungan. Pada udang windu dan avertebrata pada umumnya, yang berperan dalam melakukan pertahanan tubuh adalah haemocite sebagai pertahanan seluler dan proPO, phenoloksidase, lecitin, dan aglutinin sebagai pertahanan humoral. Aktivitas dari reaksi seluler ini berhubungan dengan sistem oksidasi profenol (Pro-PO). Pro-PO sistem disimpan dalam granula dari hemosit granular dan semi granular dan dilepaskan ke dalam hemolimp jika bertemu dengan benda asing. Produk akhir dari reaksi enzimatis ini adalah melanin, melanin mempunyai efek biosidal, oleh karena itu, proses malanisasi sering dibarengi dengan reaksi pertahanan seluler (Alday-Zanz, 1995).

Total hemosit udang windu yang diamati berkisar antara 106 sampai 107 sel/mL. Jumlah tertinggi

didapatkan pada perlakuan A (2,0x107 sel/mL) dan berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya. Nilai

ini tergolong tinggi, di mana total hemosit udang normal berkisar 104-105 sel/mL (Supamattaya et

Gambar 1. Morfologi anatomi udang windu (P. monodon) setelah diinfeksi Vibrio harveyii, a = kepadatan 107 cfu/mL; b = kepadatan 104 cfu/mL; c, d, dan e = kepadatan

106 cfu/mL (Foto: Kadriah, 2011, komunikasi pribadi)

e

(4)

al., 2006). Selanjutnya dikatakan bahwa total hemosit udang yang terserang vibriosis, YHV, dan

WSSV masing-masing sekitar 1,5x107 sel/mL; 0,6x107 sel/mL; dan 1,9x107 sel/mL.

Tingginya nilai total hemosit yang didapatkan disebabkan oleh karena adanya usaha dari udang untuk melakukan pertahanan tubuh. Sel yang bertanggung jawab untuk melakukan pertahanan pada udang adalah hemosit, sehingga udang berusaha untuk memproduksi sel hemosit lebih banyak. Tingginya total haemolymph pada penelitian ini menunjukkan bahwa udang yang diinfeksi mempunyai tingkat kondisi yang baik sebelumnya sehingga mampu memproduksi hemosit lebih banyak untuk melakukan pertahanan tubuh ketika terjadi infeksi. Tingginya sel hemosit dapat menjadi petunjuk terjadinya infeksi patogen tahap awal pada udang windu (Anderson & Siwicki, 1995 dalam Effendy et al., 2004). Ini dapat dilihat dari hasil penelitian ini, di mana tempat penyuntikan bakteri berdekatan dengan tempat pengambilan hemolim, yakni di bagian abdomen pertama.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan hemosit udang meningkat antara lain pemberian beberapa imunostimulan seperti â-glukan (Rantetondok, 2002), lipopolisakarida (Ilmiah, 2009), ekstrak ragi roti (Effendy et al., 2004), protein (Mahasri, 2008), dan probiotik (Moriarty, 1999). Pemberian imunostimulan akan menstimulasi jaringan hematopoietic yang terletak tepat di bagian dorsal pada lambung bagian depan (anterior stomach) untuk mensintesis hemocyanin. Peningkatan aktivitas haemocyanin dapat secara langsung meningkatkan jumlah haemocite, termasuk sel hyalin, semigranular, dan granular.

KESIMPULAN

Total hemosit cenderung lebih tinggi pada injeksi bakteri dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Infeksi V. harveyii ditandai dengan melanisasi/bercak hitam, ekor keripis, dan pergerakan serta nafsu makan menurun.

DAFTAR ACUAN

Alday-Sanz, V. 1995. Technical Report in Short Course on Shrimp Disease and Health Management, SpSNC –

Levalin International Inc., in Association with International Development Program of Australian University and Colleges, PT Hasfrom Dian Konsultan, Makassar.

Anonim. 2011. Jenis-jenis penyakit akibat mikroba: Bakteri. Bahan kuliah pengendalian dan penanggulangan

penyakit dalam akuakultur. Program alih jenjang D4 bidang konsentrasi akuakultur. Intitut Teknologi

Bandung.

Austin, B. & Zhang, X.H. 2006. Vibrio harveyi: a significant pathogen of marine vertebrates and invertebrates. J. Applied Microbiology, 43: 119-124.

Brock, T.D. & Madigan, M.T. 1991. Biology od microorganism. Sixth Edition. Prentice Hall International. Effendy, S., H. Batubara, & Suriana. 2002. Pengaruh pemberian hasil fermentasi ragi roti sebagai immunostimulan terhadap sintasan juwana udang windu (Penaeus monodon Fab.) yang diuji tantang dengan Vibrio sp. Balai Budidaya Air Payau Takalar. Laporan Tahunan.

Flegel, T.W., Nielsen, L., Thamavit, V., Kongtim, S., & Pasharawipas, T. 2004. Presence of multiple

Perlakuan Total hemolim (sel/mL)

A 20x106a

B 9,37x106b

C 7, 225x106b

Tabel 1. Total hemolim udang windu yang diinfeksi bakteri Vibrio harveyii selama penelitian

* Huruf yang berbeda dibelakang angka

(5)

viruses in non-diseased, cultivated shrimp at harvest. Aquaculture, 240: 55-68.

Gunanti Mahasri. 2008. Respon Imun Udang Windu (Penaeus Monodon Fabricus) Yang Diimunisasi Dengan Protein Membran Imunogenik Mp 38 Dari Zoothamnium Penaei. Prosiding Seminar Nasional

Hasil Riset Kelautan dan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya,

Malang.

Ilmiah. 2007. Peranan Imunostimulan Dalam Meningkatkan Sintasan Benur Windu (Penaeus Monodon Fab.) Terhadap Serangan Virus Wssv. J. Protein, 4(1): 75-78.

Maharani, G., Sunarti, Triastuti, J., & Juniasti, T. 2009. Kerusakan dan Jumlah Hemosit Udang Windu (Penaeus monodon) yang Mengalami Zoothamniosis. J. Ilmiah Perikanan dan Kelautan Universitas

Airlangga, 1(1): 21-29.

Moriarty, D.J.W. 1999. Disease Control in Shrimp Aquaculture with Probiotic Bacteria. Microbial

Biosystems: New Frontiers. Proceedings of the 8th International Symposium on Microbial Ecology Bell CR, Brylinsky M, Johnson-Green P (Eds.) Atlantic Canada Society for Microbial Ecology, Halifax, Canada.

Muliani. 2002. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asal Laut Sulawesi untuk Biokontrol Penyakit Vibriosis pada Udang Windu. Institut Pertanian Bogor.

Rantetondok, A. 2002. Pengaruh immunostimulan â-glukan dan lipopolisakarida terhadap respons imun

dan sintasan udang windu (Penaeus monodon Fabricius). Disertasi. Program Pascasarjana Universitas

Hasanuddin, Makassar.

Rengpipat, S., Rukpratanporn, S., Piyatiratitivorakul, S., & Menasaveta, P. 2000. Immunity enhancement in black tiger shrimp (Penaeus monodon) by a probiont bacterium (Bacillus S11). Aquaculture, (191): 271-278.

Supamattaya, K., Chittiwan, V., & Boonyaratpalin, M. 2006. Immunological factors in Black tiger shrimp, Penaeus monodon Fabricus. Courtesy of Altech Inc.

Supriyadi, H., Taukhid, Sunarto, A., & Koesharyani, I. 2005. Prevalensi Infeksi White Spot SyndromeVirus (WSSV) pada Induk Udang Windu (Penaeus monodon) hasil tangkapan dari alam. J. Pen. Per. Indonesia, 11: 69-73.

Walker & Cowley. 2003. Viral genetic variation: Implications for desease diagnosis and detection of shrimp pathogen. Co-operative Research Centre for Aquaculture, PMB3 Indooropily, Q 4068. Australia, 5 pp.

Gambar

Gambar  1. Morfologi anatomi udang windu (P. monodon) setelah diinfeksi Vibrio harveyii, a = kepadatan 10 7  cfu/mL; b = kepadatan 10 4  cfu/mL; c, d, dan e = kepadatan

Referensi

Dokumen terkait

(2) Dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP

Untuk menentukan sikap bahasa responden, kajian ini mengukur tujuh jenis sikap dalam tujuh kategori, iaitu sikap terhadap masyarakat antarabangsa (Kategori 1),

Sehingga akan didapatkan gambaran umum mengenai hubungan durasi bermain game online dengan tingkat stres pada siswa SMPN yang berada di kecamatan Sungai Raya

Agar kreativitas dimaksud dapat berkembang tumbuh dan berkembang dengan baik, maka dalam melaksananakan PBM, seorang guru harus lebih banyak memberikan

Selama proses pendampingan keluarga Bapak Jero Madri terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh penulis yaitu sebagai berikut. a) Sulitnya bertemu dengan kepala keluarga karena

pengamatan yang sama selama 2 jam,dimana nyamuk yang mati rata – rata mencapai 19 ekor (76 %) dengan tiga kali pengulangan, Hal ini berarti bahwa lama waktu kontak

Harga jual fillet salai Patin dijual dengan harga Rp 45.000,- per kg, sehingga margin penjualan yang diperoleh cukup besar, dan bila dibanding dengan ikan salai

Lubis dan Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam , (Jakarta: Sinar Grafika, 2007).. mengurus dan memanfaatkan sebahagian harta warisan suaminya dan beberapa ahli warisnya.