IV KESESUAIAN HABITAT BURUNG AIR
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian habitat burung air di Percut Sei Tuan terkait komponen habitat yang menyusun model kesesuaian habitat. Penelitian dilakukan pada bulan September 2010 sampai Maret 2011 di empat lokasi penelitian dengan berbagai tipe habitat. Untuk mendapatkan tipe habitat di Percut Sei Tuan menggunakan peta tutupan lahan 2009 dari Badan Planologi Kementerian Kehutanan Indonesia dan klasifikasi tutupan lahan menggunakan Google Map. Analisis spasial untuk mengidentifikasi kesesuaian habitat menggunakan ArcGis 9.3. Faktor fisik dan kimia dianalisis menggunakan regresi stepwise. Hasil pengamatan menunjukkan dari 10 tutupan lahan, burung air hanya memilih lima tutupan lahan yaitu: hamparan lumpur, sawah, tambak, belukar rawa dan hutan belukar. Analisis regresi stepwise terhadap faktor fisik dan kimia perairan meliputi makanan, kedalaman sedimen, salinitas, pH, ketinggian air, dan BOD menunjukkan pengaruh yang signifikan diatas 60% terhadap kehadiran burung air di lokasi penelitian. Pemilihan lokasi makan oleh burung air didasari oleh ketersediaan makanan, ketersediaan tempat mencari makan dan faktor keamanan. Burung merandai khususnya Mycteria cinerea dan
Leptoptilos javanicus lebih sensitif terhadap kehadiran manusia dibandingkan dengan burung pantai. Lokasi mencari makan burung pantai lebih luas dibandingkan dengan burung merandai.
IV SUITABILITY HABITAT OF WATERBIRDS
Abstract
The objective of the research was to analyze habitat suitability of waterbirds in Percut Sei Tuan by studying habitat component for habitat suitability models. The research was conducted in September 2010 until March 2011 in four sites, namely Bagan Percut, Pematang Lalang, Tanjung Rejo, and Pantai Labu. Land cover description 2009 from Ministry of Forestry was used to identify types of habitat and classification of land cover was used Google Map. A spatial analysis using ArcGis 9.3 was used to identify habitat suitability. Physical and chemical factor were analysis with stepwise regression. Only five from 10 land cover used to feeding ground by waterbird i.e. mud flat, rice field, fish pond, forest marsh and shrub. The analysis to physical and chemical factor i.e. macrozoobenthic (number of species and number of individual), height sediment, water depth, pH, BOD, and salinity were showed significant influenceover 60% of the presence ofwaterbirds. Food availability, habitat availability and degree of disturbance affected to habitat selection of feeding ground by waterbirds. Human distrusbancehad a high impact on the population and distribution of endangered
Mycteria cinerea and Leptoptilos javanicus. Shorebirds had larger feeding ground than wading bird. Shorebirds and wading birds were not selected Tanjung Rejo for feeding ground, and preferred Bagan Percut, Pematang Lalang and Pantai Labu. Habitat suitability was classified into three category i.e. highly suitable, suitable and unsuitable. The validation models showed that highly suitable covered above 50% (wading birds and shorebirds). Totally, for highly suitable and suitable class indicated that models covering 85% of the study areas. The Models of habitat suitability were indicated that Percut Sei Tuan was an important habitat for feeding ground of waterbirds.
PENDAHULUAN
Kesesuaian habitat adalah kemampuan habitat untuk mendukung kelangsungan hidup dan reproduksi dari spesies (Majka et al.2007). Kesesuaian habitat digunakan untuk mengetahui kualitas habitat dengan menggunakan komponen-komponen habitat yang diduga penting bagi individu atau kelompok spesies. Indeks kesesuaian habitat didasarkan pada asumsi bahwa individu atau kelompok spesies akan memilih habitat yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemilihan habitat adalah proses atau perilaku hewan untuk memilih atau melakukan seleksi habitat. Habitat yang dipilih harus mampu mendukung proses perkembangbiakan dan kelangsungan hidup (Majka et al. 2007; McClary & McGinley 2008).
Untuk meramalkan kehadiran/ketidak hadiran, distribusi atau ukuran populasi hewan yang disebabkan oleh asosiasi spesies dan lingkungannya maka dibuat model habitat. Model habitat digunakan untuk memprediksi pengaruh perubahan habitat terhadap variasi spesies, distribusi spesies hewan dan sebaran geografi, prediksi area dengan keanekaragaman spesies yang tinggi atau lokasi dimana ditemukannya spesies terkonsentrasi (Williams 2003).
Model kesesuaian habitat telah banyak digunakan untuk melihat preferensi, ketersediaan dan kualitas habitat ikan. Model ini dapat digunakan juga untuk melihat pengaruh yang disebabkan oleh aktivitas manusia terhadap sistem akuatik dan strategi untuk rehabilitasi habitat (Vélez-Espino 2006). Model HSI digunakan untuk melihat kualitas dan kuantitas habitat, dan berkurangnya program konservasi biologi. Lingkungan yang terganggu akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas habitat dan menimbulkan respon berupa meningkatnya variasi kelimpahan dan distribusi populasi (Vélez-Espino 2006). Variabel habitat yang dapat mempengaruhi kehidupan burung air diantaranya ketinggian air,
dimasukkan dalam dua kelompok (merandai dan pantai) dan dianggap menggunakan lokasi mencari makan yang sama, berdasarkan asumsi tersebut maka faktor yang dianggap paling menentukan tersebut diantaranya:
Air
Air merupakan salah satu komponen yang menentukan dalam pemilihan lokasi makan oleh burung air, hal ini berhubungan dengan kehadiran makanan yang dibutuhkannya dan kemampuannya memperoleh makanan. Indeks kesesuaian bagi burung air didasarkan pada jumlah mangsa dan keberhasilan burung untuk menangkap mangsa. Jumlah burung air pada lokasi mencari makan sangat dipengaruhi oleh ketinggian air (Gawlik 2002; Kushlan 1976; 1986). Jika terlalu tinggi atau terlalu dangkal maka kelimpahan burung sangat rendah. Ketinggian air yang ideal berbeda-beda untuk masing-masing spesies burung merandai. Ketinggian itu berkisar antara 0 – 40 cm, hal ini disebabkan burung merandai memiliki kaki yang panjang.
Makanan dan Lokasi Makan
Jenis makanan burung merandai sangat bervariasi yaitu: ikan, invertebrata akuatik dan terestrial, amphibi, reptil, krustase dan invertebrata. Kelimpahan makanan merupakan salah satu faktor yang menentukan perilaku individu, reproduksi atau dinamika populasi. Ketersediaan makanan sangat mempengaruhi kelangsungan hidup, pemilihan tempat dan pengunaan habitat burung merandai (Butler 1992). Fluktuasi populasi burung merandai (Ciconiiformes) secara spasial dan temporal sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan (Erwin 1983).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi makan oleh burung air diantaranya jarak antara patch dan jarak dari tempat bersarang atau beristirahat. Bagi burung air, ketersediaan makanan dan waktu makan merupakan faktor yang amat penting selama musim berbiak (Draugelis-Dale & Rassa 2008). Burung merandai memperoleh makanan yang dibutuhkan secara soliter (sendiri) atau berkelompok. Keberhasilan memperoleh mangsa bagi kelompok burung air ditentukan oleh ketebalan sedimen dan tekstur sedimen. Umumnya burung air memperoleh mangsa pada sedimen yang memiliki tekstur yang lembut dan ketebalan 0 – 25 cm.
Cover (Pelindung)
Intensifikasi pertanian, pembangunan industri, rekreasi dan pemanenan sumber daya merupakan aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan habitat burung merandai. Dalam konservasi biologi hal yang menjadi perhatian adalah hubungan antara area dan diversitas spesies, kelimpahan dan jumlah spesies yang menggunakan suatu area (Paracuellos & Tellería 2004). Penggunaan ruang untuk mencari makan oleh burung air sangat tergantung pada ketersediaan sumber makanan, serta komposisi dan struktur komunitas burung air (Boldreghini & Dall’Alpi 2008).
Lokasi makan yang terdegradasi atau terfragmentasi menyebabkan akibat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi menyebabkan berkurangnya wilayah mencari makan hal ini akan berpengaruh terhadap kehadiran burung air baik jenis maupun jumlah. Hilangnya habitat dan degradasi habitat mencari makan pada lokasi persinggahan burung pantai migran, umumnya disebabkan oleh adanya kegiatan pertanian dan kebutuhan ekonomi. Hal ini merupakan faktor utama penyebab berkurangnya populasi burung pantai (Brown et al. 2001).
Gangguan Manusia
Pengaruh gangguan manusia terhadap distribusi hewan merupakan hal yang menjadi perhatian pada akhir-akhir ini. Ada dua masalah yang ditimbulkan akibat gangguan manusia yaitu: kehadiran manusia menyebabkan hewan menghindar dari habitat yang digunakan dan menyebabkan kematian, keberhasilan reproduksi dan populasi (Gill et al. 2001).
Gangguan manusia, kerusakan habitat dan hilangnya lokasi mencari makan merupakan faktor yang menyebabkan berkurangnya populasi burung air. Burung air sangat rentan dengan kehadiran manusia. Kehadiran manusia menimbulkan pengaruh negatif bagi burung air diantaranya perburuan dan
Model kesesuaian habitat
Model kesesuaian habitat dibangun untuk melihat habitat yang digunakan untuk mencari makan dan istirahat burung air. Model ini ditujukan untuk mengetahui kualitas habitat di wilayah penelitian apakah masih layak sebagai lokasi makan burung air. Faktor yang diperhatikan adalah yang terkait langsung dengan keberadaan burung air diantaranya:
1. Tipe lahan basah: hamparan lumpur (mudflat), sawah, dan tambak 2. Makanan
3. Ketinggian air 4. Kedalaman sedimen 5. Aktivitas manusia
6. Kimia Air (pH, Salinitas, BOD, DO)
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi habitat burung air (burung merandai dan burung pantai) terkait dengan faktor lingkungan di Percut Sei Tuan dan membuat peta kesesuaian habitat burung air (burung merandai dan burung pantai) di Percut Sei Tuan.
Bahan dan Metode Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, Citra google maps, peta tutupan lahan 2009, Komputer, ArcGis 9.3, ERDAS 9.1, teropong binokuler, monokuler, GPS dan peta rupa bumi propinsi Sumatera Utara. Cara kerja
1. Kesesuaian Habitat Burung air
Analisis spasial tingkat kesesuaian habitat burung air dimulai dengan pengumpulan data primer dan sekunder meliputi peta digital, data survey lapangan, dan literatur. Komponen lingkungan dititik beratkan pada faktor-faktor penentu kualitas habitat burung air yaitu tipe penutupan lahan (berkaitan dengan tingkat aksesibilitas dan ketersediaan makanan), ketinggian air, kedalaman sedimen, faktor kimia air (salinitas, DO, BOD, dan pH) dan gangguan. Hasil
survey lapangan, digunakan sebagai dasar dalam penentuan nilai bobot setiap variabel dan dukungan literatur, selanjutnya dibangun suatu model kesesuaian habitat burung air.
Menentukan kesesuaian habitat dilakukan analisis terhadap komponen habitat, sehingga di dapatkan peta kesesuaian habitat burung air yang meliputi: tipe tutupan lahan (Fk1), makanan (Fk2), ketinggian air (Fk3), kedalaman sedimen (Fk4), aktivitas manusia (Fk5), pH (Fk6), salinitas (Fk7), DO (Fk8) dan BOD (Fk9). Selanjutnya dilakukan overlay dan analisis spasial sehingga didapat persamaan berikut:
Skor = a Fk1 + b Fk2 + c Fk3 + d Fk4 + e FK5+f FK6+g FK7+h FK8+ i FK9 Selanjutnya dilakukan penghitungan nilai indeks kesesuaian habitat burung air dan validasinya.
2. Analisis dan Interpretasi Citra Satelit
Kegiatan identifikasi lahan basah sebagai habitat (feeding ground) burung air di Percut dilakukan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan memanfaatkan citra google maps. Peta rujukan didapatkan dari peta Sumatera sumber dari Conservasi Internasional Indonesia (CI). Secara garis besar metode penelitian yang dilakukan disajikan pada Gambar 29.
3. Klasifikasi Citra Google Maps
Klasifikasi citra google maps secara digital dilakukan untuk memperoleh tutupan lahan kategori hamparan lumpur. Kategori lain mempergunakan tutupan lahan dari Badan Planologi Kementerian Kehutanan tahun 2009. Klasifikasi dimaksudkan untuk menginterpretasikan secara digital lahan basah yang berada di Kawasan Percut Sei Tuan sebagai tempat mencari makan burung air.
tambak dan tubuh air. Setelah lokasi-lokasi tersebut terklasifikasi kemudian diadakan survey keberadaan lahan basah di lapangan (ground truth).
Gambar 29 Diagram alir penelitian. 4. Lokasi Makan Burung Air dan Faktor Kimia
Untuk mengetahui distribusi lokasi makan burung air dilakukan dengan menandai lokasi-lokasi makan burung air menggunakan GPS berdasarkan peta topografi, baik berupa hamparan lumpur, sungai, sawah, ladang maupun tambak sehingga diperoleh titik-titik koordinat lokasi makan dan titik penyebaran pada peta akhir. Banyak dan letak sampel contoh dipilih berdasarkan biaya, waktu dan kemampuan pengamat. Pencatatan data meliputi: jenis burung, jumlah burung, tempat habitat terpilih untuk makan, istirahat dan berjemur.
5. Pengolahan Data Spasial
Semua data hasil ground cek lapangan diolah dengan metode interpolasi IDW (Inverse Distance weighted). Faktor-faktor penyusun model yang berpengaruh terhadap model kesesuaian habitat burung disajikan pada Tabel 24.
Geokoreksi citra Google Maps
Peta yang berpeluang sebagai tempat mencari makan
Analisis spasial dan statistik
Skor = a fk1 + b fk2 + c fk3 + d fk4 + e FK5 + f fk6
Ya
Validasi
Cek lapangan (ground check) Burung air dan makanan, Faktor fisik&kimia air
Interpretasi citra dan identifikasi Google Maps Peta rupa bumi
Citra Google Maps Peta tutupan lahan
Peta kesesuaian habitat burung air
Tidak Interpolasi
Regresi berganda stepwise dilakukan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap model. Penentuan skoring pada masing-masing faktor penyusun model dilakukan berdasarkan metode rangking dengan melihat pengaruh masing-masing faktor terhadap burung air, sesuai dengan kebutuhan burung dalam memilih lokasi makan.
Urutan skoring dilakukan berdasarkan pertimbangan pada kebutuhannya, makin baik kriteria yang digunakan maka makin tinggi nilai skoring yang diberikan. Pengolahan peringkat dan bobot dilakukan pada masing-masing faktor. Pemberian peringkat dan bobot didasarkan atas nilai kepentingan atau kesesuaian bagi habitat burung air (Tabel 25 dan 26). Pembobotan menggunakan metode proporsi/skala (rating method) dengan cara memberikan langsung bobot secara eksplisit pada masing-masing faktor dengan mengalokasikan sejumlah nilai yang jika dijumlahkan akan menjadi 100 atau 1,0 (Jaya 2007). Alur pengolahan data sparsial dari lapangan disingkat pada Gambar 30.
0 < Wij< 100; ∑Wij = 100 untuk semua faktor
Pemodelan spasial kesesuaian habitat yang dibuat masuk kedalam kategori
coicidence modeling dengan melakukan overlay poligo (AGI 2010). Metode ini dilakukan dengan menggunakan bobot terhadap peubah yang telah di skoring sehingga skor total merupakan kombinasi yang linier (Jaya 2007).
atau Dimana C = skor komposit untuk suatu unit spasial tertentu dan n = jumlah peubah (variabel), Wi = bobot ke-i dan Xi = peubah atau variabel ke-i
Indeks kesesuaian habitat memiliki nilai 0 – 1, untuk mendapat nilai yang sesuai dengan nilai kesesuaian habitat nilai total hasil perkalian antara skor dan bobot dari faktor penyusun model dilakukan normalisasi.
Gambar 30 Pengolahan data sparsial menggunakan ArcGis 9.3.
Tabel 24 Faktor penyusun model kesesuian habitat burung merandai dan burung pantai
No Parameter Argumen
1. Tipe lahan basah Lahan basah yang digunakan untuk lokasi makan burung merandai dan burung pantai
2. Makanan Burung merandai dan burung pantai memakan berbagai jenis makanan diantara; makrozoobentos dan ikan
3. Ketinggian air Dalam melakukan aktivitas makan burung merandai dan burung pantai sangat dipengaruh oleh Ketinggian air.
4. Ketebalan substrat Keberhasilan memperoleh makanan burung pantai dipengaruhi oleh ketebalan substrat/sedimen
5. Gangguan/aktivitas manusia
Burung merandai dan burung pantai memiliki reaksi berbeda terhadap kehadiran manusia
6. Salinitas Salinitas mempengaruh makrozoobentos dan perilaku burung air dalam mencari makan
7. pH Kehadiran makrozoobentos, perilaku dan fisiologi burung air dalam mencari makan dipengaruhi oleh pH (bisa berpengaruh langsung ataupun tidak langsung dari makrozoobentos)
8. DO Kelimpahan makrozoobentos dipengaruhi oleh DO dan secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku dan fisiologi burung air dalam memperoleh makanan dipengaruhi DO
9. BOD Kelimpahan makrozoobentos dipengaruhi oleh BOD dan secara tidak langsung akan mempengaruhi Perilaku dan fisiologi burung air dalam memperoleh makanan
Tabel 25 Skoring dan bobot faktor penyusun model kesesuaian habitat burung merandai
No. Parameter Tingkatan Skala Skor Bobot 1. Tipe lahan basah Mudflat/hutan rawa Sawah/rawa belukar Tambak 3 2 1 15 2. Makanan Mudflat Sawah Tambak 4 klas 3 klas 2 klas 3 2 1 20 3. Ketinggian air Sangat rendah
Rendah Sedang Tinggi < 40 cm 40 – 70 cm 70 – 90 cm > 90 cm 4 3 2 1 15 4. Aktivitas manusia Rendah Sedang Tinggi 1 kegiatan 2 kegiatan > 3 kegiatan 3 2 1 20 5. Salinitas <20 20-25 25-34 >34 2 4 3 1 10 6. pH <6 6-6.5 6.5-7 >7 2 4 3 1 10 7. DO <3 3-4 4-5 >5 2 4 3 1 5 8. BOD <1 1-2 2-4 >4 2 4 3 1 5
Tabel 26 Skoring dan bobot faktor penyusun model kesesuaian habitat burung pantai
No. Parameter Tingkatan Skala Skor Bobot
1. Tipe lahan basah Mudflat/hutan rawa Sawah/rawa belukar Tambak Sungai 4 3 2 1 15 2. Makanan Mudflat Sawah Tambak 4 klas 3 klas 2 klas 1 klas 4 3 2 1 20
3. Ketinggian air Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi < 40 cm 40 – 70 cm 70 – 90 cm > 90 cm 4 3 2 1 10 4. Aktivitas manusia Rendah Sedang Tinggi 1 kegiatan 2 kegiatan > 3 kegiatan 3 2 1 20 5. Sedimen <40 cm 40-60 cm >60 cm 3 2 1 5 6. Salinitas <20 20-25 25-34 >34 2 4 3 1 10 7. pH <6 6-7 >7 2 3 1 10 8. DO <3 3-4 4-5 >5 2 4 3 1 5 9. BOD <1 1-2 2-4 >4 2 4 3 1 5
Analisis Data
Analisis data dilakukan melalui analisis spasial dan analisis statistika dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi, berdasarkan metode tumpang tindih (overlay), pengkelasan (class), pembobotan (weighting) dan pengharkatan (scoring). Model matematika adalah:
a. Nilai Skor klasifikasi kesesuian habitat burung
W1 xFk1
SKOR
W1 = bobot untuk setiap parameter Fk1 = faktor kelas dalam parameter
Skor = nilai dalam penetapan klasifikasi kesesuaian habitat b.Nilai selang skor klasifikasi kesesuaian habitat burung
K S Smaks
SELANG min
Smaks = nilai skor tertinggi Smin = nilai skor terendah
K = banyaknya klasifikasi kesesuian habitat
Selang = nilai dalam penetapan selang klasifikasi kesesuaian habitat c. Nilai indeks kesesuaian habitat burung air
Selang IKHn IKHN atau dan Selang S IKHn min / 1
Smin = nilai skor terendah
Selang = nilai dalam penetapan selang klasifikasi kesesuaian habitat IKHn-1 = Nilai indeks kesesuaian habitat sebelumnya
IKHn = Nilai indeks kesesuaian habitat ke n
d. Nilai validitas klasifikasi kesesuaian habitat burung air
% 100 X N n VALIDASI
HASIL
Ada delapan komponen habitat yang digunakan untuk membangun model kesesuaian habitat burung air di lokasi penelitian:
Tipe Tutupan Lahan
Tutupan lahan di area penelitian dapat dibagi menjadi 10 yaitu: lumpur, belukar rawa, hutan rawa sekunder, pemukiman, perkebunan, pertanian lahan kering, sawah, semak belukar, tambak dan tubuh air, hamparan lumpur memiliki luas 2.652 km2, tambak 28.624 km2 dan sawah 19.194 km2 (Gambar 31, Tabel 27).
Burung air sangat tergantung pada lahan basah untuk mencari makan meliputi: belukar rawa, hutan belukar, hamparan lumpur, sawah dan tambak. Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa burung air lebih memilih hamparan lumpur yang terbentuk saat air laut surut di sepanjang garis pantai dibandingkan sawah dan tambak. Luas area mencari makan bagi burung air sangat mempengaruhi jumlah burung air. Total luas area lahan basah yang diperkirakan menjadi lokasi mencari makan burung air mencapai 60%.
Tabel 27 Luas tutupan lahan di lokasi penelitian
No Tutupan lahan Luas (km2)
1. Belukar rawa 7.852
2. Hutan rawa sekunder 0.476
3. Lumpur 2.652
4. Pemukiman 4.284
5. Perkebunan 1.742
6. Pertanian lahan kering 27.654
7. Sawah 19.194
8. Semak belukar 5.643
9. Tambak 28.624
Gambar 31 Tutupan lahan di lokasi penelitian. Makanan
Makanan merupakan faktor yang paling menentukan kehadiran burung air. Berdasarkan jumlah individu dan jumlah spesies burung air yang ditemukan dilokasi penelitian secara garis besar dapat dibagi menjadi burung merandai dan burung pantai. Jenis makanan yang ditemukan terdiri dari makrozoobentos (bivalvia, gastropoda, crustacea dan polychaeta) dan ikan. Hamparan lumpur memiliki jenis makrozoobentos lebih beragam, sebanyak empat klas (bivalvia, gastropoda, crustacea dan polychaeta), dibandingkan dengan sawah dan tambak yang hanya memiliki dua klas (gastropoda dan polychaeta). Masing-masing hamparan lumpur memiliki jumlah jenis makrozoobentos yang berbeda. Sebaran
Gambar 32 Sebaran makanan di lokasi penelitian. Ketinggian Air
Keberhasilan memperoleh makanan bagi burung air sangat ditentukan oleh ketinggian air. Ketinggian air sangat dipengaruhi oleh siklus pasang surut air laut. Perbedaan siklus pasang surut air laut dan ketinggian air akan berpengaruh terhadap ketersediaan hamparan lumpur sebagai tempat untuk mencari makan (feeding ground) burung air. Pada saat pasang tinggi ketinggian air dapat mencapai 200 cm, sedangkan pada saat pasang rendah umumnya ketinggian air berkisar di 80-100 cm. Pada saat pasang mati, ketinggian air berkisar 50-80 cm. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan dan interpolasi terhadap ketinggian air, ada 13 kategori ketinggian air (Gambar 33). Ketinggian air terendah yang diukur adalah dibawah 10 cm dan tertinggi 110 cm.
Burung merandai dapat mencari makanan (ikan) di sekitar perairan dengan ketinggian air antara 0 sampai 40 cm sedangkan bagi burung pantai ketersediaan lokasi makan sangat dipengaruhi oleh lamanya waktu pasang surut. Waktu pasang
surut yang terjadi di lokasi penelitian mengalami fluktuasi. Umumnya lama waktu surut berkisar 2 sampai 4 jam.
Gambar 33 Sebaran ketinggian air di lokasi penelitian. Kedalaman Sedimen
Ketebalan sedimen sangat menentukan kehadiran makanan burung air. Makrozoobentos pada lokasi penelitian ditemukan pada kedalaman 0 sampai 40 cm. Keberhasilan burung air, khususnya burung pantai, dalam memperoleh makanan sangat dipengaruhi oleh ketebalan sedimen dan tekstur sedimen.
Burung pantai memiliki ukuran paruh yang bervariasi, ada yang panjang dan pendek. Burung yang memiliki paruh panjang dapat memperoleh makanan sampai kedalaman 40 cm, sedangkan burung dengan paruh yang pendek hanya
Gambar 34 Kedalaman sedimen di lokasi penelitian. Gangguan (Aktivitas Manusia)
Gangguan yang terjadi di lokasi penelitian akan sangat mempengaruhi keberhasilan burung air dalam memperoleh makanan. Gangguan ini akan menyebabkan burung air menghindar atau terbang untuk mencari lokasi yang aman, gangguan ini akan menghabiskan waktu dan energi burung air sehingga mempengaruhi perolehan makanan. Pada beberapa kali pengamatan ditemukan bahwa burung merandai berusaha menghindar dari kehadiran manusia dengan terbang menjauh. Hasil analisis dengan ArcGis mendapatkan bahwa sebaran aktivitas manusia di lokasi penelitian dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis kegiatan (Gambar 35).
Gangguan yang ditemukan selama penelitian berlangsung terdiri dari: 1. Pemasangan jaring untuk menangkap ikan atau untuk menangkap burung air 2. Transportasi; lalu lalang perahu motor di sekitar lokasi penelitian akan
mempengaruhi kenyamanan burung air mencari makan 3. Pemasangan bubu atau perangkap kepiting
4. Pemancingan
5. Perburuan burung air 6. Penjualan burung air
7. Pengunaan wilayah makan sebagai area permainan billyard yang mengakibatkan kegaduhan dari para pemain
Gambar 35 Aktivitas manusia di lokasi penelitian. Salinitas
Burung air, terutama burung pantai, mencari makan di sepanjang pantai yang memiliki kadar salinitas yang berbeda-beda. Burung air harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Keterkaitan burung air dengan keberadaan makrozoobentos sebagai makanannya sangat dipengaruhi oleh salinitas. Salinitas
mempengaruhi kehadiran spesies makrozoobentos sebesar 72% dan individu makrozoobentos 61%. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan salinitas di lokasi penelitian berkisar antara 21‰ sampai 28 ‰. Hasil pengukuran ini menunjukkan bahwa salinitas di lokasi penelitian masih baik. Hasil interpolasi dengan ArcGis memperoleh sebanyak delapan kategori salinitas (Gambar 36).
Gambar 36 Sebaran salinitas di lokasi penelitian. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanan burung air. Pengaruh pH terhadap burung air secara langsung berkaitan dengan kehadiran sumber makanan dalam hal ini makrozoobentos. Hasil uji regresi stepwise menujukkan pengaruh pH terhadap jumlah spesies burung air 78% dan terhadap jumlah individu burung air 53%. Pengaruh pH terhadap jumlah spesies makrozoobentos 73% dan terhadap jumlah individu makrozoobentos 77%. pH yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan mempengaruhi kehadiran makrozoobentos dan fisiologi burung air
yang hidup dan mencari makan disekitar wilayah perairan terutama di sepanjang garis pantai.
Hasil pengukuran di lapangan mendapatkan kisaran pH antara 6 sampai 6,9, dengan hanya 4 titik memiliki pH lebih dari 7 (7,1 – 7,2). Hasil interpolasi berdasarkan data lapangan memperoleh tujuh kategori (Gambar 37). Mengingat bahwa pH yang sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut 7 – 8,5 maka secara umum pH hasil pengukuran di lokasi penelitian masih cukup baik.
Gambar 37 Sebaran pH (derajat keasaman) di lokasi penelitian. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut (DO) merupakan salah satu faktor yang menentukan kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanan burung air. Hubungan langsung DO dengan kehadiran burung air di lokasi penelitian berkaitan langsung
Hasil analisis regresi stepwise menunjukkan bahwa pengaruh DO bagi jumlah spesies burung air sebesar 64% dan pengaruh DO terhadap jumlah individu burung air adalah 51%. Pengaruh DO terhadap jumlah individu makrozoobentos sebesar 64% dan terhadap jumlah spesies makrozoobentos sebesar 46%.
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan ditemukan kisaran DO antara 3,7 sampai 4,5 sehingga masih memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut sesuai KepMenLH No. 51 tahun 2004. Hasil ini menunjukkan DO di lokasi penelitian masih baik. Hasil pengukuran di lapangan memperoleh empat kategori DO (Gambar 38).
Gambar 38 Sebaran oksigen terlarut (DO) di lokasi penelitian. Biochemical Oxygen Demand BOD
Biochemical Oxygen Demand (BOD) merupakan salah satu faktor yang menentukan kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanan burung air. Hubungan langsung BOD dengan kehadiran burung air di lokasi penelitian berkaitan langsung dengan makrozoobentos sebagai sumber makanannya.
Makrozoobentos sebagai hewan yang hidup pada sedimen membutuhkan oksigen terlarut untuk kehidupanya, BOD yang terlalu tinggi akan mempengaruhi jumlah dan kehadiran makrozoobentos.
Hasil analisis regresi stepwise menunjukkan pengaruh BOD bagi jumlah spesies burung air sebesar 69% dan jumlah individu burung air sebessr 29%. Pengaruh BOD bagi jumlah spesies makrozoobentos sebesar 68% dan jumlah individu makrozoobentos sebesar 60%. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan ditemukan kisaran BOD antara 1,1 mg/l sampai 2,9 mg/l, masih memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut sesuai KepMenLH No. 51 tahun 2004. Hasil pengukuran di lapangan memperoleh sembilan kategori BOD (Gambar 39).
Kesesuaian Habitat Burung Merandai
Hasil analisis terhadap komponen habitat mendapatkan tiga kelas kesesuaian habitat bagi burung merandai yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Sangat sesuai meliputi hamparan lumpur dan tambak, sesuai meliputi: tambak, hutan belukar dan belukar rawa (Gambar 40).
Komponen habitat yang dipergunakan untuk membangun model kesesuain habitat terdiri dari: tipe lahan basah (tutupan lahan), makanan, ketinggian air, salinitas, pH, BOD, DO dan gangguan. Hasil penghitungan terhadap total skor semua komponen habitat untuk membangun model kesesuaian habitat bagi burung merandai berkisar antara 0 sampai 335 (Tabel 28).
Tabel 28 Pembagian selang kelas kesesuaian habitat burung merandai
Selang Skor Kategori Klasifikasi
kesesuaian
1-0.33 = 0.67 ≥ 0.80 HSI1 Sangat sesuai
0.67-0.33 =0.34 0.80 – 0.65 HSI2 Sesuai
0.34 ≤ 0.65 HSI3 Tidak sesuai
Untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap model yang dibangun dilakukan uji validasi model kesesuaian habitat burung merandai dengan mencocokkan hasil analisis spasial dengan data titik pertemuan burung merandai yang ditemukan di lapangan. Hasil uji validasi menunjukkan tingkat akurasi untuk memprediksi habitat burung merandai dengan kelas sangat sesuai mencapai 53,33% dan kelas sesuai 46,67% (Tabel 29).
Tabel 29 Penentuan klasifikasi kesesuaian habitat burung merandai di Percut Sei Tuan Tingkat kesesuaian Klas kesesuaian Habitat Jumlah titik Pertemuan Validasi (%) 1 Sangat sesuai 8 53,33 2 Sesuai 7 46,67 3 Tidak sesuai Total 15
Kesesuaian Habitat Burung Pantai
Hasil analisis terhadap komponen habitat mendapatkan tiga kelas kesesuaian habitat bagi burung pantai yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Sangat sesuai meliputi hamparan lumpur, tambak, belukar rawa, hutan belukar dan sawah, sesuai meliputi: tambak, sawah dan semak belukar (Gambar 41).
Komponen habitat yang dipergunakan untuk membangun model kesesuain habitat terdiri dari: tipe lahan basah (tutupan lahan), makanan, ketinggian air, ketebalan sedimen, salinitas, pH, DO, BOD dan gangguan. Hasil penghitungan terhadap total skor untuk semua komponen habitat untuk membangun model kesesuaian habitat bagi burung pantai berkisar antara 0 sampai 335 (Tabel 30). Tabel 30 Pembagian selang kelas kesesuaian habitat burung pantai
Selang Skor Kategori Klasifikasi
kesesuaian
1-0.33 = 0.63 ≥ 0.80 HSI1 Sangat sesuai
0.63-0.33 = 0.34 0.80– 0.60 HSI2 Sesuai
0.34 ≤ 0.60 HSI3 Tidak sesuai
Untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap model yang dibangun dilakukan uji validasi model kesesuaian habitat burung pantai dengan mencocokkan hasil analisis spasial dengan data titik pertemuan burung pantai yang ditemukan di lapangan. Hasil uji validasi menunjukkan tingkat akurasi untuk memprediksi habitat burung pantai dengan kelas sangat sesuai mencapai 60% dan sesuai 26,67% dan tidak sesuai 13,33% (Tabel 31).
Tabel 31 Penentuan klasifikasi kesesuaian habitat burung pantai di Percut Sei Tuan Tingkat kesesuaian Klas kesesuaian Habitat Jumlah titik Pertemuan Validasi (%) 1 Sangat sesuai 9 60 2 Sesuai 4 26.67 3 Tidak sesuai 2 13.33 Total 15
PEMBAHASAN
Tipe tutupan lahan
Hanya lima dari 10 kategori tutupan lahan di lokasi penelitian yang digunakan burung air untuk lokasi mencari makan, yaitu: hamparan lumpur, tambak, hutan rawa, belukar rawa dan sawah. Kelima tutupan lahan tersebut merupakan lahan basah. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa hamparan lumpur yang terbentuk saat air laut surut merupakan lokasi mencari makan yang paling sering digunakan oleh burung air (merandai dan pantai). Lahan basah merupakan habitat penting bagi jenis-jenis burung termasuk burung air. Burung air menggunakan lahan basah sebagai tempat untuk mencari makan, bersarang dan tempat tinggal (Weller 2003).
Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa tambak dan pertanian lahan kering merupakan tutupan lahan yang paling luas. Hal ini sesuai keadaan di lapangan, terutama di Tanjung Rejo. Pertanian lahan kering yang banyak ditemukan di lapangan adalah kebun kelapa sawit dan tanaman pertanian seperti cabe dan jagung. Hamparan lumpur merupakan lokasi mencari makan yang paling dipilih oleh burung air dibandingkan sawah dan tambak. Hal ini disebabkan hamparan lumpur menyediakan sumber makanan yang dibutuhkan burung air lebih beragam dibandingkan dengan sawah dan tambak. Sawah yang di lokasi penelitian merupakan sawah tadah hujan (memiliki kecenderungan kering dan tekstur tanah yang keras). Tambak di area penelitian memiliki ketinggian air sampai mencapai 70 cm. Kondisi sawah dan tambak tidak menguntungkan bagi burung air yang memiliki keterbatasan morfologinya (ukuran paruh dan kaki) pada ketinggian air dan kemampuan memperoleh makan pada tanah bertekstur lembut.
Intensifikasi pertanian, pembangunan industri, rekreasi dan pemanenan sumber daya merupakan aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan habitat. Dalam melakukan upaya konservasi biologi perlu diketahui hubungan antara satu wilayah dengan keanekaragaman spesies, kelimpahan dan jumlah spesies yang menggunakan suatu wilayah baik itu untuk mencari makan, bersarang maupun beristirahat (Paracuellos & Tellería 2004). Penggunaan ruang untuk mencari
makan oleh burung air sangat tergantung pada ketersediaan sumber makanan, komposisi dan struktur komunitas burung air (Boldreghini & Dall’Alpi 2008). Makanan
Pemilihan habitat oleh burung air pada lahan basah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan dan kemudahan untuk memperoleh makanan sesuai dengan kebutuhan harian masing-masing spesies burung air yang mencari makanan pada suatu area tertentu. Umumnya burung air memiliki kecenderungan mendatangi lokasi makan yang kaya akan sumber makanan dan lokasi makan yang sama dari tahun ke tahun (bagi burung migran). Burung pantai migran merupakan tipe predator yang senantiasa menggunakan lokasi persinggahan yang sama setiap tahun untuk tempat beristirahat dan memperoleh makanan (Morrison & Myers 1989).
Sumber makanan baik itu spesies makrozoobentos dan jumlah individu makrozoobentos memperlihatkan pengaruh yang positif sebesar 94% dan 85% terhadap kehadiran burung air. Ini menunjukkan makin banyak jumlah dan spesies makrozoobentos pada suatu wilayah akan mempengaruhi keanekaragaman burung air. Menurut Krebs (1978) dan Newton (1980) suplai makanan dan kelimpahan makanan merupakan faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan populasi hewan. Kebutuhan makan burung pantai dipengaruhi oleh kepadatan mangsa, ukuran mangsa, kandungan kalori, kemampuan mencerna, aktivitas, dan kemampuan memperoleh makan (Zwarts et al. 1996). Burung merandai umumnya pemakan ikan, crustacea, amfibia, reptil dan makrozoobentos lain (Erwin et al. 2003).
Kelimpahan dan ketersediaan makrozoobentos merupakan faktor yang penting untuk menentukan kualitas habitat, distribusi dan perilaku burung pantai. Distribusi dan kelimpahan makrozoobentos ini sangat dipengaruhi oleh ketinggian
Pemilihan lokasi mencari makan oleh burung pantai dipengaruhi oleh sedimen dan ketersediaan mangsa. Kondisi fisik sedimen yang terbentuk akibat pasang surut akan mempengaruhi ketersediaan mangsa dan mempengaruhi perilaku dan distribusi burung pantai. Sedimen yang lembut dan lembab akan mempengaruhi keberhasilan memperoleh mangsa dalam sedimen dan pergerakan burung pantai selama mencari makan serta mempermudah penetrasi paruh burung untuk mendeteksi mangsa dan memperolehnya secara cepat (Velasquez & Navarro 1993).
Ketinggian air
Hasil pengukuran di lapangan memperlihatkan ketinggian air terendah pada saat air laut surut disekitar hamparan lumpur berkisar antara 40 sampai 70 cm. Bagi burung merandai ketinggian air mencapai 40 cm masih dapat memperoleh makanan berupa ikan dan udang, sebaliknya burung pantai dalam mencari makan benar-benar dalam keadaan surut. Ketinggian air yang masih ditolerir hanya mencapai 1 cm. Bagi burung pantai ketersediaan hamparan lumpur saat air surut merupakan habitat yang penting untuk mencari makanannya. Sehingga siklus pasang surut merupakan salah satu faktor pembatas.
Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan yang positif dan berpengaruh sebesar 73% bagi kehadiran spesies burung air. Ini menunjukkan spesies burung merandai dan burung pantai memiliki respon yang sama terhadap ketinggian air di lokasi makan. Fluktuasi hidrologi pada lahan basah sangat menentukan spesies burung air untuk memperoleh makan, hal ini terkait dengan ketersediaan tempat untuk mencari makan. Penggunaan habitat dan kepadatan burung pantai sangat dipengaruhi oleh ketinggian air. Umumnya burung pantai banyak ditemukan pada lokasi yang memiliki ketinggian air rendah dan keanekaragamannya berkorelasi positif dengan sistem hidrologi (Powell 1987).
Jumlah burung merandai pada lokasi mencari makan sangat dipengaruhi oleh ketinggian air (Gawlik 2002; Kushlan 1976; 1986). Jika terlalu tinggi atau terlalu dangkal maka kelimpahan burung sangat rendah. Ketinggian air yang ideal berbeda-beda untuk masing-masing spesies. Ketinggian itu berkisar antara 0 – 40 cm, hal ini disebabkan burung merandai memiliki kaki yang panjang.
Kimia Air (Salinitas, pH, DO dan BOD)
Kimia perairan yang turut menentukan keberadaan burung air karena terkait langsung dengan kehadiran sumber makanan maupun lokasi mencari makan yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mempengaruhi keberhasilan mencari makan dan memperoleh makanan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan dan perkembangan maupun untuk melanjutkan keturunan.
Pengaruh salinitas terhadap spesies burung air menunjukkan pengaruh positif sebesar 74%, untuk jumlah individu burung air berpengaruh negatif sebesar 54%. Ini menunjukkan bahwa spesies burung air memiliki batas tolerasi terhadap salinitas. Perubahan nilai salinitas pada suatu perairan akan mempengaruhi jumlah individu burung air. Keanekaragaman dan jumlah burung air pada suatu area makan dipengaruhi oleh salinitas. Jumlah dan keanekaragam burung air berkurang seiring dengan meningkatnya salinitas (Warnock et al. 2002).
Secara umum pengaruh DO, BOD dan pH air berpengaruh secara tidak langsung terhadap burung air hal ini terkait dengan kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanannya, walaupun secara analisis regresi memperlihatkan adanya hubungan terhadap ketiga faktor kimia air. Hubungan antara burung air dengan faktor kimia air (salinitas, DO, BOD dan pH) lebih pada kehadiran sumber makanan (makrozoobentos). Kunci keberhasilan memperoleh makan oleh burung air lebih banyak dipengaruhi oleh faktor morfologi burung air diantaranya: ukuran leher, panjang kaki dan panjang paruh (Bolduc 2002).
Pengaruh DO terhadap spesies burung air memperlihat hubungan positif sebesar 78%, pengaruh DO terhadap jumlah individu burung air menunjukkan hubungan negatif sebesar 51%. DO yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi kehadiran spesies maupun jumlah individu burung air. Pengaruh DO terhadap jumlah individu burung air memperlihat hubungan yang negatif yaitu peningkat DO akan menyebabkan menurunnya jumlah individu burung air.
Pengaruh BOD terhadap spesies burung air memperlihat hubungan positif sebesar 68%, pengaruh BOD terhadap jumlah individu burung air menunjukkan hubungan negatif sebesar 23%. Spesies burung air kehadirannya sangat dipengaruhi oleh kadar BOD. Perubahan BOD baik itu naik atau turun akan memberi pengaruh positif. Pengaruh BOD terhadap jumlah individu burung air sangat lemah. Kehadiran burung dilingkungan perairan juga dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan lingkungan. Diduga hal ini berkaitan erat dengan keadaan fisik dan kimia perairan tempat burung mencari makan dan memperoleh makanan.
Faktor yang mempengaruhi distribusi burung air adalah salinitas. Salinitas merupakan salah satu faktor yang menentukan kesesuaian habitat terkait dengan ketersediaan makanan terutama bagi burung pantai migran, dimana distribusi dan kelimpahan burung air dipengaruhi oleh distribusi mangsa dan keberhasilan memperoleh makan (Ysebaert et al. 2000).
Keanekaragaman dan jumlah burung air pada suatu area makan dipengaruhi oleh salinitas. Peningkatan salinitas akan menyebabkan berkurangnya jumlah dan keanekaragam burung air dan makrozoobentos. Burung air akan menghindari kadar salinitas yang tinggi untuk mencari makan maupun beristirahat hal ini disebabkan peningkatan salinitas akan mengakibatkan sifat tahan air bulu burung air, yang berakibat pada peningkatan termoregulasi (Warnock et al. 2002). Kedalaman sedimen
Tekstur dan kedalaman sedimen yang terbentuk saat air surut menentukan keberhasilan mencari makan burung pantai. Tekstur sedimen dan ketebalan sedimen berkaitan erat dengan kehadiran sumber makanan (makrozoobentos) pada suatu wilayah. Kepadatan makrozoobentos pada hamparan lumpur dipengaruhi oleh ukuran sedimen. Kepadatan makrozoobentos berkurang dengan meningkatnya ukuran sedimen (Yates et al. 1993). Umumnya makrozoobentos hidup dan ditemukan pada sedimen yang lembut dan kedalaman mencapai 40 cm. Hasil pengamatan memperlihatkan makin bertambah ketebalan sedimen jumlah spesies maupun individu makrozoobentos berkurang.
Pengaruh sedimen terhadap spesies burung air memperlihatkan hubungan positif sebesar 73% dan individu burung air memberi pengaruh negatif sebesar 38%. Hal ini menunjukan spesies burung air sangat tergantung pada tekstur sedimen dalam mencari makanan. Tekstur sedimen yang lembut menentukan keberhasilan memperoleh makanan bagi spesies burung pantai, sangat berpengaruh pada kemampuan penetrasi paruh burung untuk menangkap mangsa pada kedalaman tertentu, serta pergerakan burung untuk memperoleh mangsa. Gangguan (Aktivitas Manusia)
Ancaman yang paling berbahaya bagi kehadiran burung air di lokasi penelitian pada saat pengamatan berlangsung adalah pemasangan jaring yang ditujukan untuk menangkap burung air khususnya burung pantai. Jaring ini dibiarkan terpasang seharian atau sampai dua hari. Ancaman lainnya adalah kegiatan perburuan dan penjualan burung pantai. Walau tidak melihat langsung pemburu menembak burung pantai, pada beberapa kali pengamatan ditemukan pemburu yang sedang berburu menggunakan senapang angin di sekitar areal mencari makan burung air.
Aktivitas berburu, memancing dan rekreasi merupakan gangguan yang ditimbulkan oleh manusia yang dapat mempengaruhi dinamika populasi hewan dalam hal ini perilaku, kelimpahan dan distribusinya. Burung memiliki respon bervariasi terhadap kehadiran manusia. Kehadiran dan aktivitas manusia pada suatu ekosistem akan mempengaruhi kehadiran, distribusi dan kelimpahan burung. Kemampuan mengkonsumsi makrozoobentos, komposisi mangsa dan preferensi terhadap mangsa sangat dipengaruhi oleh adanya aktivitas manusia. Kehadiran manusia akan menyebabkan burung mempercepat waktu mencari makan dan terbang pada saat manusia terlalu dekat dengannya. Ada banyak faktor yamg mempengaruhi keberadaan burung air pada suatu wilayah, sehingga sangat
yang berukuran kecil. Umumnya burung migran memiliki toleransi lebih rendah terhadap kehadiran manusia dibandingkan spesies residen (Lee et al. 2006; Santoul et al. 2004).
Kesesuaian habitat burung air
Hasil analisis spasial penentuan kelas kesesuaian habitat bagi burung air untuk mencari makan berdasarkan komponen habitat memperlihatkan tiga kategori yaitu:1) sangat sesuai, skor tertinggi yang menunjukkan komponen habitat paling optimum, 2) sesuai, merupakan feeding ground yang digunakan pada saat hamparan lumpur belum terbentuk dan komponen habitat kurang optimum, 3) tidak sesuai, komponen habitat yang terdapat pada wilayah ini tidak memenuhi persyaratan sebagai feeding ground burung air. Kelas sangat sesuai terdapat pada hamparan lumpur dan sawah, kelas sesuai terdapat pada sawah dan tambak. Hasil analisis spasial menunjukkan perbedaan lokasi mencari makan burung pantai dan merandai. Hal ini terlihat pada pemilihan lokasi mencari makan yang berbeda antara burung merandai dan burung pantai.
Bagan Percut
Model kesesuaian habitat burung merandai dan burung pantai ditemukan pada area berbeda yaitu hamparan lumpur dan belukar rawa. Burung pantai memiliki luas area kelas sangat sesuai lebih luas dibandingkan dengan burung merandai. Burung pantai ditemukan mencari makan di sepanjang hamparan lumpur dan belukar rawa, sedangkan burung merandai hanya mempergunakan sebagian kecil hamparan lumpur. Hal ini diduga berkaitan erat dengan sensitifitas burung dalam merespon kehadiran manusia dan faktor kebisingan.
Pemilihan lokasi makan (Pematang Lalang dan Pantai Labu) oleh burung merandai yang merupakan jenis diduga merupakan respon dari perubahan atau konversi habitat yang terjadi di Bagan Percut dan Tanjung Rejo. Hal ini menunjukkan jenis residen lebih peka terhadap perubahan habitat dibandingkan dengan jenis migran, hal dibuktikan dengan jumlah individu burung pantai yang mencari makan di Bagan Percut lebih banyak dibandingkan dengan lokasi lainnya.
Kemungkinan lain yang diduga mempengaruhi pemilihan Bagan Percut sebagai lokasi makan oleh burung pantai karena hamparan lumpur yang terbentuk lebih luas dibandingkan lokasi lainnya dan lamanya waktu surut karena adanya penimbunan serta kebiasaan burung pantai yang senantiasa mendatangi lokasi makan yang sama.
Pantai Labu
Model kesesuaian habitat burung merandai maupun burung pantai pada wilayah ini ditemukan pada area yang sama yaitu hamparan lumpur dan tambak. Luas area untuk kelas sangat sesuai dan sesuai bagi burung merandai lebih luas dibandingkan dengan burung pantai. Hamparan lumpur yang luas tanpa adanya fragmentasi dan gangguan manusia yang relatif rendah diduga menjadi faktor penentu pemilihan lokasi makan terutama oleh burung merandai. Pada wilayah ini terjadi konversi mangrove menjadi tambak dan pertanian lahan kering (kelapa sawit).
Pematang Lalang
Model kesesuaian habitat burung merandai dan burung pantai pada wilayah ini ditemukan pada area yang hampir sama yaitu hamparan lumpur, dan tambak. Selaindihamparan lumpur dan tambak, burung pantai juga ditemukan di belukar rawa. Pada wilayah ini kelas sesuai lebih luas dibandingkan dengan kelas sangat sesuai. Hasil pengamatan dilapangan memperlihatkan bahwa tambak yang ditemukan banyak yang tidak aktif dan dibiarkan terlantar menjadi tempat pemancingan dan area pertanian lahan kering yang sebagian besar telah ditanami sawit. Pengamatan mengalami kendala karena lokasi yang susah dicapai terutama pada musim hujan, dan untuk mencapai hamparan lumpur harus melalui lahan perkebunan kelapa sawit yang menjadi sengketa dengan warga.
menimbulkan suara yang mengganggu burung pantai dan burung merandai mencari makan, perburuan dan penangkapan burung pantai. Pada dua kali pengamatan ditemukannya jaring yang sengaja dipasang untuk menangkap burung saat terbang, di sawah dan hamparan lumpur.
Susahnya mencapai wilayah ini dan transfortasi yang minim, diduga mempengaruhi faktor pengawasan sangat kurang, terbukti dengan ditemukannya tempat permainan billyar di sekitar burung air mencari makan lebih kurang 10 m dan aktivitas perburuan.
Perbandingan Kesesuaian Habitat Burung Merandai dan Burung Pantai Model kesesuaian habitat antara burung merandai dan burung pantai secara umum ditemukan pada tempat yang sama, yaitu hamparan lumpur, sawah dan tambak. Perbedaan model terlihat pada luas area dan pemilihan lokasi. Burung merandai memilih mencari makan di Pematang Lalang dan Pantai Labu, sedangkan burung pantai memilih Bagan Percut, Pematang Lalang dan Pantai Labu. Burung pantai memiliki habitat mencari makan lebih luas dibandingkan burung merandai. Hal ini diduga berhubungan erat dengan kondisi di lapangan dan kebiasaan makan burung merandai yang mencari makan pada lahan yang berair dangkal seperti sawah, tambak dan sungai. Sawah di lokasi penelitian merupakan sawah tadah hujan sehingga memiliki tekstur tanah yang keras. Pemilihan Pantai Labu dan Pematang Lalang sebagai lokasi mencari makan dibandingkan dengan Bagan Percut dan Tanjung Rejo diduga karena ketersediaan sumber makanan dan faktor keamanan, meskipun demikian burung merandai memilih Tanjung Rejo sebagai tempat berbiak dan beristirahat.
Walaupun menyediakan sumber makanan yang berlimpah (Bagan Percut maupun Tanjung Rejo), tetapi burung merandai lebih memilih Pematang Lalang dan Pantai Labu sebagai lokasi makan hal ini diduga berkaitan erat dengan faktor gangguan yang relatif rendah. Ukuran tubuh burung air turut menentukan tingkat sensitifitas terhadap kehadiran manusia. Ini terlihat dari beberapa kali pengamatan burung merandai akan terbang pada saat kehadiran manusia sangat dekat dengan tempat mencari makan. Burung merandai lebih sensitif terhadap kehadiran manusia di area lokasi mencari makan dibandingkan dengan burung pantai.
Burung berukuran besar lebih sensitif terhadap kehadiran manusia dibandingkan dengan burung yang berukuran kecil (De Boer 2002).
Model yang dibangun dengan faktor penyusunnya menunjukkan bahwa Percut Sei Tuan masih merupakan wilayah yang sesuai untuk mencari makan baik burung merandai maupun burung pantai. Hasil validasi model dengan kondisi di lapangan memperlihatkan ”kelas sangat sesuai diatas 50% (burung merandai dan burung pantai). Hasil penjumlahan ”kelas sangat sesuai dan sesuai” menunjukkan bahwa model yang dibangun memiliki tingkat kesesuaian diatas 85%.
SIMPULAN
Dari 10 tutupan yang terdapat di Percut Sei Tuan, hanya 5 tutupan lahan yang digunakan oleh burung air sebagai lokasi mencari makan yaitu: lumpur, belukar rawa, hutan rawa, tambak dan sawah. Komponen habitat yang menyusun model kesesuaian habitat burung merandai terdiri dari: tutupan lahan, makanan, ketinggian air, salinitas, pH, DO, BOD dan gangguan. Komponen habitat yang menyusun model kesesuaian habitat burung pantai terdiri dari: tutupan lahan, makanan, ketinggian air, kedalaman sedimen, salinitas, pH, DO, BOD dan gangguan. Pengaruh faktor fisik dan kimia perairan lebih kuat terhadap spesies burung air dibandingkan dengan jumlah individu.
Kelas kesesuaian habitat burung air terdiri dari dari tiga kategori yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Ada perbedaan lokasi mencari makan antara burung pantai dan burung merandai. Burung merandai lebih memilih Pantai Labu dan Pematang Lalang sebagai tempat mencari makan, sedangkan burung pantai memilih Pantai Labu, Pematang Lalang dan Bagan Percut.Validasi model burung merandai untuk kelas sangat sesuai (53%), sesuai (46,67%) dan burung pantai untuk kelas sangat sesuai (60%), sesuai (26,7%) dan tidak sesuai (13,37%).