• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Kejadian Gangguan Reproduksi Sapi Bali dan Madura pada Sistem Pemeliharaan Kandang Kelompok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tingkat Kejadian Gangguan Reproduksi Sapi Bali dan Madura pada Sistem Pemeliharaan Kandang Kelompok"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

Gambar

Tabel 1. Persentase kejadian gangguan reproduksi berdasarkan umur induk waktu melahirkan
Tabel 2. Persentase  kejadian  gangguan  reproduksi  berdasarkan  bobot  badan  induk  waktu  melahirkan
Gambar 2. Persentase kejadian gangguan reproduksi berdasarkan bobot lahir pedet sapi Bali dan  Madura

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian infeksi cacing hati ( Fasciola spp) pada sapi bali pada tingkat umur, jenis kelamin dan lokasi di Kabupaten Karangasem,

Dengan demikian maka pertambahan berat badan harian (PPBH) adalah0,25 kg/ekor/hari. Tingkat PBB ini masih berada dibawah PBB yang diperoleh dalam penggemukan sapi

Terlepas dari semua spekulasi tersebut, ada tiga parameter yang penulis identifikasi sebagai penyebab rendahnya produktivitas ternak sapi Bali yang diperlihara pada sistem

Peningkatan kinerja reproduksi sapi Bali dilakukan melalui perbaikan teknologi pemeliharaan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tubuh induk, meningkatkan angka

Bersadarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa lama kebuntingan sapi bali dari hasil penelitian ini adalah 284,4±5,7 hari, bobot lahir rataan 18,4±1,6 kg dengan rasio

penelitian menunjukan bahwa sapi Bali pada sistem pemeliharaan semi intensif dengan sistem perkawinan alam di empat kelompok ternak di Desa Pukdale memiliki persentasi

Data penampilan reproduksi didapatkan dari data reproduksi sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif di BPTU (Balai Pembibitan Ternak Unggul) Desa Pulukan,

SEROPREVALENSI BRUCELLOSIS DAN TINGKAT GANGGUAN REPRODUKSI PADA SAPI PERAH DI KOTA BATU Seroprevalence of Bovine Brucellosis and Reproduction Problems Rate in Dairy Cattle of Batu