• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Bio-Site(Biologi & Sains Terapan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Bio-Site(Biologi & Sains Terapan)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

12

Jurnal Bio-Site Vol.05(01) Mei 2019, pp 01 - 11

Isolasi dan Identifikasi Jamur Patogen pada Tanaman Nanas

Ananas comosus

(L). Merr. var. Tangkit

Isolation and Identification of Pathogenic Fungi on Pineapple

Ananas comosus

(L). Merr. var. Tangkit

Selvi Andriani, Fitratul Aini, Mahya Ihsan Program Studi Biologi

Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi

Jambi ABSTRACT

Ananas comosus (L). Merr. var. Tangkit is a type of tropical fruit that is the potential to be developed into a trade commodity in Indonesia. Due to its strategic geographical condition and fertile type of soil to support its growth, the majority of Tangkit Baru villagers utilize their land to cultivate the pineapples. One of the contributing factors that hinder the cultivation process is the presence of plant pest organisms that can interfere with the growth of the fruit and affect its production. This study aims to determine the types of pathogenic fungi and symptoms of diseases caused by pathogenic fungi in pineapple farm in Tangkit Baru village. This study consisted of two steps: isolation and identification. Based on the result of the isolation and identification steps of pathogenic fungi in pineapple, it was found that there were three fungal isolates namely BD 01, BD 02 and LYA. BD 01 isolate was a type of fungus coming from the

genus Penicillium, which caused regular leaf

spots, while the genus of BD 02 isolate was

Phoma, which caused irregular leaf spots and LYA isolate’s genus was Trichocladium, which caused wilt.

Keywords: pathogen fungi, pineapple, Tangkit Baru Village

ABSTRAK

Nanas (Ananas comosus (L). Merr.) merupakan

salah satu jenis buah tropis yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas perdagangan di Indonesia. Kondisi geografi dan jenis tanah yang mendukung pertumbuhan nanas, menjadikan sebagian besar masyarakat di Desa Tangkit Baru memanfaatkan lahannya untuk membudidaya tanaman nanas. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam proses budidaya adalah adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat mengganggu pertumbuhan dan mempengaruhi hasil produksi nanas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis jamur patogen dan gejala penyakit yang disebabkan oleh jamur patogen pada tanaman nanas di Desa Tangkit Baru. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu isolasi dan identifikasi. Tahap isolasi jamur patogen meliputi pengamatan gejala penyakit, penyiapan dan pembuatan media, pengukuran faktor lingkungan dan persiapan isolasi, dan isolasi.

Tahap identifikasi meliputi pemurnian,

karakterisasi dan identifikasi jamur patogen secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil isolasi dan identifikasi jamur patogen pada nanas ditemukan lima isolat jamur yaitu BD 01, BD 02 dan LYA. Isolat BD 01 merupakan jamur

dari genus Penicillium yang menyebabkan gejala

penyakit berupa bercak daun beraturan, isolat BD

02 merupakan jamur dari genus Phoma yang

menyebabkan gejala penyakit berupa bercak daun tidak beraturan dan isolat LYA merupakan

jamur dari genus Trichocladium yang

menyebabkan gejala penyakit berupa layu. Kata kunci: fungi patogen, nanas, Desa Tangkit Baru

Jurna

l

Bio

-Si

te

(B

iologi

&

Sa

ins

T

er

apa

n

)

Pr og ram S tu d i B iolo gi , F aku lt as Sa in s d an Te kn olo gi U n iver si tas Jam b i – Kam p u s P in an g M as ak Jl. J am b i-M a.B u li an Km .1 5 , M en d alo D ar at , Jam b i 3 6 3 6 1 Ht tp :/ /on li n e-jou rn al.ac .id /i n d ex.p h p /B ST

Journal Bio-Site Vol.04 (01) Mei 2019, pp 13-20 DOI: 10.22437/bs.v5i01.6579

Accepted (diterima) : 03 April 2019

Received (disahkan) : 04 April 2019

Published (diterbitkan) online : 21 Juli 2020

Corresponding email : [email protected]

© The Author(s) 2019. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

The online version of this article is located on the World Wide Web at: https://online-journal.unja.ac.id/BST/article/view/6579

(2)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

PENDHULUAN

Nanas (Ananas comosus (L). Merr.) merupakan jenis buah tropis yang

berpotensi menjadi komoditas perdagangan di Indonesia. Potensi tersebut didasarkan karena nanas dalam produksi buah tropis dunia, termasuk jenis buah terpenting ketiga setelah pisang dan jeruk (Botella & Smith, 2008). Kosta Rika, Brazil, Filipina, Thailand, Indonesia dan China merupakan negara produsen nanas terbesar di dunia (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2016). Selain itu, nanas juga memiliki kandungan biokimia misalnya sebagai sumber vitamin dan mineral, sumber penghasil serat, dan penghasil enzim bromelin, bahan pemurni industri minuman, penghancur gelatin dan anti inflamasi (Manuwoto et al., 2003). Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah sentra produksi nanas di Indonesia dengan kontribusi sebesar 8,23%.

Desa Tangkit Baru merupakan daerah sentra produksi nanas Provinsi Jambi. Data statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2008 terdapat seluas 639,05 Ha tanaman nanas yang diusahakan oleh 659 petani di Desa Tangkit Baru (Kemala & Wulandari, 2015). Varietas nanas tangkit merupakan varietas unggulan daerah yang banyak dibudidayakan di Desa Tangkit Baru dan telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2000 berdasarkan SK No. 103 (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010).

Dalam proses budidaya, faktor serangan hama penyakit yang disebabkan oleh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi kendala yang dapat mempengaruhi hasil produksi. Salah satu penyakit yang paling sering dijumpai dan dilaporkan adalah penyakit bercak daun dan layu yang disebabkan oleh jamur. Penelitian Ningsih (2016) melaporkan jenis-jenis jamur patogen yang ditemukan pada nanas varietas Queen di daerah Lampung Tengah yaitu: Curvularia sp., Thielaviopsis sp., Fusarium sp., Penicillium sp., dan Trichoderma sp. kemudian Puspita et al. (2004) jenis penyakit yang menyerang nanas di Desa Rimbo Panjang yaitu penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Culvularia maculans dan penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Thielaviopsis paradoxa. Data dan informasi ilmiah mengenai jenis jamur patogen yang menyebabkan bercak daun dan layu akar pada nanas di Desa Tangkit Baru belum pernah dilaporkan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi dari gejala penyakit bercak daun dan layu akar dan mengetahui jenis-jenis jamur patogen penyebab penyakit bercak daun dan layu akar pada nanas di Desa Tangkit Baru Jambi.

METODE PENELITIAN Pengamatan Gejala Penyakit

Pengamatan gejala penyakit pada tanaman nanas dilakukan pada tanaman nanas berumur >5 tahun dan >1 tahun menggunakan metode survei yaitu dengan melihat secara langsung kondisi tanaman berdasarkan gejala umum yang terlihat seperti adanya bercak, layu, nekrosis, karat, busuk, dan tumor. Berdasarkan informasi dari pemilik, luas lokasi pertama sebesar 1,5 Ha sedangkan luas lokasi kedua sebesar 500 m2. Pengambilan sampel tanaman dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan mengambil bagian tanaman yang bergejala penyakit saja (daun dan akar).

(3)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

14

Isolasi Patogen

Sampel bagian tanaman yang memiliki gejala penyakit (daun dan akar)

dipotong menggunakan gunting atau cuter. Bagian tersebut dipotong sekitar 1 x 1 cm2 dan dilakukan sterilisasi permukaan menggunakan alkohol 70% selama

3 menit dan dibilas akuades sebanyak 3 kali, kemudian diisolasi di media PDA dan diinkubasi selama 7 hari pada suhu 27 ºC (Isnaini et al., 2006; Suryanti et al., 2013 dan Rahayu, 2015 dengan modifikasi).

Identifikasi Jamur

Identifikasi dilakukan dengan mengamati karakter makroskopis meliputi warna permukaan atas, warna balik, tekstur permukaan, margin koloni, dan bentuk tepi koloni (Ningsih et al.., 2012), dan karakter mikroskopis menggunakan metode Block square untuk mengamati struktur hifa (bersekat atau tidak, hialin atau berwarna), bentuk struktur reproduksi aseksual (spora, konidia dan konidiofor). Identifikasi tingkat genus mengacu pada buku Barnett & Hunter (1972), dan Watanabe (2002).

Analisis Data

Data dianalisis secara deskriptif terhadap jenis-jenis jamur yang menyebabkan penyakit melalui pengamatan gejala pada tanaman nanas. Identifikasi jenis jamur mengacu pada buku identifikasi Barnett & Hunter (1972) dan Watanabe (2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Penyakit pada Tanaman

Hasil pengamatan gejala penyakit pada tanaman nanas di lokasi, ditemukan tiga gejala serangan penyakit yaitu bercak daun bulat beraturan (BD 01), bercak daun tidak beraturan (BD 02) dan layu akar (LYA). Masing-masing gejala penyakit memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda (Gambar 1).

Gambar 1. Gejala penyakit pada daun dan akar nanas

A. Bercak Daun Bulat Beraturan, B. Bercak Daun Tidak Beraturan, C. Layu pada akar Gejala penyakit bercak daun bulat beraturan memiliki ciri-ciri mula-mula ukuran bercak kecil yang kemudian menjadi besar. Bercak memiliki warna coklat tua pada bagian pinggir dengan pusat atau bagian bercak berwarna putih

(4)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

kekuningan yang lama kelamaan menjadi hitam. Bercak daun beraturan ini ditemukan pada daun nanas yang tua dan daun muda. Umumnya bercak tidak hanya ditemukan di bagian tengah daun dan ditemukan di bagian pinggir daun. Pada satu helaian daun biasanya jumlah bercak lebih dari satu (Gambar 1A).

Gejala bercak daun tidak beraturan memiliki ciri-ciri yaitu bercak berbentuk tidak beraturan dengan warna bercak coklat kemerahan. Ukuran bercak mula-mula sedang kemudian menjadi semakin besar. Pada umumnya bercak ditemukan di daun yang tua (Gambar 1B).

Gejala penyakit layu pada nanas memiliki ciri seperti Pada daun tanaman nanas mengalami perubahan warna dari hijau menjadi kuning pucat, gejala ini disebut dengan klorosis. Selain itu, kondisi tanaman yang memiliki gejala layu berukuran lebih kecil dibandingkan dengan tanaman nanas yang lain. Perubahan warna daun tersebut terjadi hampir di seluruh permukaan daun. Bagian ujung daun mati atau menjadi kering (Gambar 1C).

Munculnya gejala penyakit bercak daun dan layu akar pada nanas yang ditemukan kemungkinan dapat disebabkan oleh sistem penanaman dan kondisi lingkungan di lokasi sesuai untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan patogen khususnya jamur. Berdasarkan informasi pemilik, sistem penanaman nanas dilakukan hanya satu kali untuk seterusnya kemudian nanas dibiarkan berkembang biak sendiri, dengan sistem penanam tersebut menjadikan jarak tanam semakin lama akan menjadi semakin rapat. Menurut Purwanto et al. (2016) semakin dekat jarak tanam akan mempengaruhi perkembangan penyakit menjadi lebih tinggi.

Jarak tanam yang rapat akan menyebabkan kelembaban yang tinggi hal tersebut dapat dilihat berdasarkan hasil pengukuran suhu udara dan kelembaban

di lokasi dimana suhu udara berkisar antara 26˚-29˚C dengan kelembaban 71

-81%. Menurut Amanda et al. (2017) suhu udara dan kelembaban udara merupakan faktor penting yang berpengaruh dalam pertumbuhan, reproduksi dan perkembangan patogen. Perkembangan patogen dan keparahan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi.

Selain suhu dan kelembaban udara, faktor fisik lain yang juga mempengaruhi jamur patogen adalah pH, suhu dan kelembaban tanah. Berdasarkan hasil pengukuran, pH tanah pada lokasi berkisar antara 5,2-6,2

dengan suhu tanah 27˚-28˚C dan kelembaban tanah 22-59%. Nilai pH tanah

dilokasi berdasarkan hasil pengukuran dapat digolongkan asam hal ini sesuai dengan jenis tanah pada lokasi yang berjenis tanah gambut yang mengandung keasaman yang cukup tinggi. Menurut Rosita et al. (2014) bahwa faktor lingkungan seperti pH tanah, suhu tanah, kelembaban tanah mempengaruhi keberadaan jamur. Derajat keasaman lingkungan, pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan jamur, karena enzim-enzim tertentu hanya akan menguraikan suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya pada pH tertentu.

Nilai pH, suhu dan kelembaban pada lokasi dapat dikatakan cukup sesuai untuk mendukung pertumbuhan dari jamur patogen. Menurut Waluyo (2007) bahwa jamur merupakan organisme aerob dan memiliki rentang pH yang luas yaitu berkisar 2,0-8,5. Kemudian Jumiyati et al. (2012) bahwa suhu lingkungan optimum untuk pertumbuhan jamur berkisar 25-30°C dan suhu maksimum 35-47°C dan untuk kelembaban yang optimal yaitu dibawah 80%.

(5)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

16

Isolasi dan Identifikasi Jamur Patogen pada Nanas

Proses identifikasi jamur patogen meliputi pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Hasil pengamatan makroskopis isolat jamur dapat dilihat pada (Gambar 2), sedangkan hasil pengamatan mikroskopis dapat dilihat pada (Gambar 3).

Gambar 2. Hasil pengamatan makroskopis isolat jamur (A) Isolat BD 01A dan BD 01B (B) Isolat BD 02A dan BD 02B (C) Isolat LYA

Berdasarkan hasil pengamatan bagian hifa diketahui bahwa semua isolat

jamur patogen memiliki hifa yang bersekatdan memiliki struktur

perkembangbiakan aseksual dengan tipe spora yang berbeda-beda. Menurut Watanabe (2002) spora aseksual terdapat pada siklus hidup kelompok jamur Ascomycota dan kelompok Basidiomycota, namun pada kelompok Basidiomycota dicirikan pada hifa yang memiliki clamp connection. Maka berdasarkan pengamatan hifa, ketiga isolat jamur patogen dapat dikelompokkan dalam kelas Ascomycota.

Gambar 3. Hasil pengamatan mikroskopis isolat jamur (A) Isolat BD 01A dan BD 01B (B) Isolat BD 02A dan BD 02B (C) Isolat LYA (a) hifa (b) konidiofor (c) konidia (d) fialid

(e) metula (f) klamidospora (g) sklerotium (aleuriokonidia)

Isolat BD 01A dan BD 01B pada hasil pengamatan ciri-ciri makroskopis dan mikroskopis (Gambar 2A dan 3A) dapat dimasukkan kedalam genus Penicillium. Menurut Singh & Mathur (1991) bentuk dari koloni Penicillium adalah pertumbuhan cepat, datar, berserabut, beludru atau seperti tekstur kapas. Koloni awalnya adalah putih dan berubah menjadi biru kehijaun, abu kehijaun,

(6)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

abu zaitun terkadang kuning atau kemerah-merahan. Secara mikroskopis genus Penicillium memiliki kemiripan ciri dan berada pada genus yang dekat dengan genus Paecilomyces. Ciri utama yang membedakan Penicillium dan Paecilomyces adalah bentuk dari konidia. Peniciilium memiliki bentuk konidia yang bulat sampai bundar sedangkan Paecilomyces berbentuk seperti lemon (Limoniform) (Watanabe, 2002).

Jamur dari genus Penicillium merupakan jamur yang memiliki habitat kosmopolit dan jenis yang beragam. Jamur ini umumnya bersifat saprofit dan beberapa parasit pada tanaman tingkat tinggi (Ilyas, 2006). Pada penelitian ini, jamur dari genus Penicillium diisolasi dari bagian daun yang memiliki gejala berupa bercak beraturan berwarna kecoklatan. Berdasarkan literatur, adanya jamur Penicillium sp. pada daun dapat berasal dari spora yang terbawa angin atau dapat berasal dari percikan air dari tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukan oleh Samson et al. (2010) yang menyatakan bahwa jamur Penicillium sp. merupakan mikroorganisme yang penyebaran sporanya dilakukan dengan bantuan air dan angin.

Beberapa penelitian pendukung yang melaporkan mengenai gejala penyakit berupa bercak beraturan pada daun yang disebabkan jamur Penicillium sp. dilakukan oleh Rahayu (2015) yaitu pada tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) dengan gejala mula-mula daun berwarna hijau dengan bercak kuning, setelah itu bercak berubah menjadi coklat tua seperti busuk. Gejala penyakit lainnya yang juga disebabkan jamur genus Penicillium yaitu pada penelitian Senthil et al. (2010) terhadap bercak daun mentimun yang disebabkan oleh Penicillium notatum ditemukan gejala penyakit dengan ciri-ciri terdapat bintik-bintik dengan ukuran tidak terbatas, pada awalnya berwarna kuning kemudian bintik-bintik menjadi sedikit bundar dengan pusat coklat muda dan dikelilingi tepi berwarna coklat gelap.

Isolat BD 02A dan BD 02B pada pengamatan makroskopis koloni dan mikroskopisnya (Gambar 2B dan 3B) dapat dikelompokkan kedalam genus Phoma. Menurut Watanabe (2002) genus Phoma secara mikroskopis memiliki ciri piknidia berbentuk globose, subglobose atau seperti cakram. Konidia hialin, elips dengan 1 sel. Klamidospora berwarna coklat gelap dan soliter. Pada saat pengataman piknidia tidak berhasil ditemukan, hal tersebut dapat dikarenakan preparasi saat melakukan pengamatan kurang teliti dan hati-hati sehingga kemungkinan piknidia telah pecah dan memencar. Selain piknidia beberapa karakter penting yang harus diperhatikan dalam pengelompokkan genus Phoma menurut Boerema et al. (2004) menyatakan bentuk, dimensi dan septasi (septation) dari konidia merupakan salah satu hal yang penting dalam identifikasi spesies.

Menurut Aveskamp et al. (2008) secara geografis genus Phoma memiliki persebaran yang luas. Beberapa jenis Phoma bersifat saprofit tetapi beberapa lainnya merupakan jamur patogen penting pada tanaman khususnya tanaman yang penting secara ekonomi. Lebih dari 50% spesies yang dijelaskan sejauh ini diketahui dapat berada pada jaringan hidup baik sebagai oportunis atau sebagai patogen.

Beberapa penelitian mengenai serangan penyakit bercak daun yang disebabkan jamur genus Phoma pernah dilaporkan oleh Avasthi et al. (2016) pada tanaman lidah buaya oleh Phoma eupyrena Sacc, gejala penyakit dimulai dari adanya bercak tidak beraturan menjadi bercak yang memanjang dan cekung pada permukaan atas dan bawah daun. Warna bercak berubah krem kecoklatan

(7)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

18

kemudian pada tahap selanjutnya bercak menjadi kering, nekrotik dan berwarna

coklat. Selanjutnya penelitian Aghapour et al. (2009) mengenai bercak daun pada Ficus elastica yang disebabkan oleh Phoma glomerata, gejala penyakit berupa bercak berbentuk lingkaran atau tidak beraturan yang saling memisah atau bergabung dan tumumnya terletak di tepi daun. Bercak daun berwarna coklat pada bagian pinggir dan coklat pucat pada pusat bercak.

Isolat LYA pada hasil pengamatan ciri makroskopis dan mikroskopis (Gambar 2C dan 3C) dapat dikelompokkan kedalam genus Trichocladium. Menurut Park et al. (2017) karakteristik dari genus Trichocladium yaitu koloni seperti kapas, warna koloni pada awalnya putih kemudian menjadi keabuan, konidiofor micro micronematous, semi- micronematous dan mononematous, konidia bersifat soliter, kering. Tipe konidia dari genus Trichocladium adalah Aleuriosporae dimana konidia berada pada bagian terminal, spora dibentuk oleh puncak konidiofor dan dibatasi oleh septat pada tahap awal.

Menurut Park et al. (2017) kelas Sordariomycetes memiliki persebaran yang luas (kosmopolit) dan kebanyakan termasuk kelompok taxa terestrial, meskipun beberapa anggota ditemukan di habitat akuatik. Anggota kelas jamur ini dikenal sebagai patogen, endofit tumbuhan, agen penyebab penyakit pada arthopoda dan mamalia serta mikoparasit dan saprofit yang terlibat dalam dekomposisi dan siklus nutrisi. Anggota genus Trichocladium bereproduksi secara aseksual dan dematiaceous (berpigmen gelap) hyphomycetes dalam family Chaetomiaceae.

Jamur dari genus Trichocladium menurut Ellis (1971) umumnya diisolasi dari tanah. Berdasarkan penelitian Elfina & Puspita (2008) pada rizosfir tanaman nanas di Desa Rimbo panjang ditemukan beberapa jamur rizosfer yaitu Trichocladium sp. Bispora sp. Trichoderma harzianum dan Trichoderma longibrachiatum. Selain itu, menurut Ellis (1971) jamur Trichocladium sp. dilaporkan menyebabkan penyakit busuk akar hitam pada tanaman stroberi. Keberadaan jamur dari genus Trichocladium pada akar dari tanaman nanas yang memiliki gejala layu dimungkinkan karna habitat dari jamur genus Trichocladium yang banyak terdapat di tanah.

KESIMPULAN

Jamur penyebab adanya gejala pada bercak daun beraturan yaitu BD01 yang diidentifikasi merupakan genus Penicillium, gejala bercak daun tidak beraturan yaitu BD02 merupakan genus Phoma dan gejala layu akar yaitu LYA yang merupakan genus Trichocladium.

DAFTAR PUSTAKA

Aghapour, B., Fotouhifar, K.B., Ahmadpour, A., and Ghazanfari K. (2009). First

Report of Leaf Spot Disease on Ficus elastica caused by Phoma glomerata in

Iran. Australian Plant Disease Notes. 4: 82-83

Agrios, G.N. (1996). Ilmu Penyakit Tumbuhan. Edisi Ketiga. Terjemahan M. Busnia.

(8)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

Amanda, N., Mukarlina, and Rahmawati. (2017). Inventarisasi Jamur yang Diisolasi

dari Daun Mentimun (Curcumis sativus L.) Bergejala Sakit di Desa Rasau Jaya,

Kalimantan Timur. Jurnal Protobiont. 6(3): 222-227

Avasthi, S., Gautam A.K., and Bhadauria R. (2017). First Report of Leaf Spot Disease

Caused by Phoma eupyrena Sacc. on Aloe vera from Madhya Pradesh India.

Archives of Phytopathology and Plant Protection. 50: 1-8

Aveskamp, M.M., Gruyter D., and J. de Crous, P.W. (2008). Biology and Recent Developments in the Systematics of Phoma, a Complex Genus of Major

Quarantine Significance. Fungal Diversity. 31: 1-18

Barnett, H.L., and Hunter, B.B. (1972). Ilustrated Genera of Imperfect Fungi. Burges

Publishing Company. USA.

Boerema, G.H., J. de Gruyter, Noordeloos, M.E., and Hamers, M.E.C. (2004). Phoma

Identification Manual. London: CABI Publishing.

Botella, J.R., and Smith, M. (2008). Genomics of Pineapple, Crowning the King of

Tropical Fruits. Springer 1: 441-451.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi. (2005). Produksi Nanas Tahun

2004 per Kabupaten Provinsi Jambi. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi. Jambi.

Ellis, M.B. (1971). Dematiaceous Hyphomycetes. Commonwealth Mycological

Institute Kew, Surrey. England.

Elfina, Y., and Puspita, F. (2008). Identifikasi Jamur pada Rizosfir Tanaman Nenas (Ananas comosus L.) dan Uji Indikasi Antagonisnya terhadap Patogen

Thielaviopsis paradoxa di Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang

Kabupaten Kampar. Jurnal SAGU. 7(1): 45-52

Ilyas, M. (2006). Isolasi dan Identifikasi Kapang pada Relung Rizosfir Tanaman di

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis, Nusa Tenggara Timur. Biodiversitas.

7(3): 216-220.

Isnaini, M., Muthahanas, I., and Jaya, I.K.D. (2006). Studi Pendahuluan tentang Penyakit Busuk Batang pada Tanaman Buah Naga di Kabupaten Lombok

Utara. Artikel Universitas Mataram: 109-114

Jumiyanti, Bintari, S.H., and Mubarok, I. (2012). Isolasi dan Identifikasi Khamir secara Morfologi di Tanah Lokasi Wisata Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Biosaintifika 4(1)

Kemala, N., and Wulandari, S.A. (2015). Dampak Kemasan terhadap Kuantitas Penjualan Produk Usaha Aroindustri CV. Tuli Mario di Tangkit Baru Kota

Jambi. Jurnal Ilmiah UNBARI. 15(1): 1-7

Manuwoto, S., Poerwanto, R., and Darma, K. (2003). Pengembangan Buah-Buahan

Unggulan Indonesia. Ringkasan Penelitian Riset Unggulan Strategis Nasional

(Rusnas). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ningsih, M.G.D. (2016). Inventarisasi Patogen di Pertanaman Nanas (Ananas

comosus L.) Varietas Queen di Desa Astomulyo Kecamatan Punggur

Kabupaten Lampung Tengah. Skripsi. Program Studi Agroteknologi Fakultas

(9)

ANDRIANI dkk,

isolasi dan identifikasi jamur patogen

20

Ningsih, R., Mukarlina, Linda, R. (2012). Isolasi dan Identifikasi Jamur dari Organ

Bergejala Sakit pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobiis var. Microcarpa).

Protobiont. 1(1): 1-7.

Park, S., Ten, L., Lee, S.Y., Back, C.G., Lee, J.J., Lee, H.B., and Jung, H.Y. (2017). New Recorded Species in Three Genera of the Sordarimycetes in Korea.

Mycobiology. 45(2): 64-72

Purwanto, D.S., Nirwanto, H., and Wiyatiningsih, S. (2016). Model Epidemi Penyakit Tanaman: Hubungan Faktor Lingkungan terhadap Laju Infeksi dan Pola

Sebaran Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis) pada Tanaman Jagung di

Kabupaten Jombang. Plumula. 5(2): 138-152

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. (2016). Outlook Komoditas Pertanian

Sub Sektor Hortikultura (Nenas). Kementerian Pertanian. Jakarta.

Puspita, F., Elfina, Y., and Aminah, S. (2004). Identifikasi Penyakit Nenas (Ananas

comosus L.) dan Tingkat Serangannya di Desa Rimbo Panjang Kecamatan

Tambang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Jurnal Sagu. 3(1): 16-19.

Rahayu, L.A., (2015). Identifikasi dan Deskripsi Fungi Penyebab Penyakit pada

Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.). Skripsi. Jakarta: Jurusan Biologi

Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah.

Senthil, V., Elaiyaraja, C., and Elizabeth, A.R. (2010). Some Phytochemical

Prosperities Affected by the Infection of Leaf Spot Disease of Cucumis sativus

(Linnaeus) caused by Penicillium notatum. African Journal of Basic & Applied

Sciences. 2(3-4): 64-70

Singh, K., Frisvad, J.C., Thrane, U., and Mathur, S.B. 1991. An Illustrated Manual on

Identification of Some Seed-born Aspergilli, Fuscaria, Penicillia and their Mycotoxins. Department of Biotechnology the Technical University of Denmark. Lyngby Denmark.

Samson, R.A., Houbraken, J., Thrane, U., Frisvad, J.C., and Andersen, B. (2010). Food

and Indoor Fungi. Fungal Biodiversity Centre Utrecht. The Netherlands. Suryanti, I.A.P., Ramona, Y., and Proborini, M.W. (2013). Isolasi dan Identifikasi

Jamur Penyebab Layu dan Antagonisnya pada Tanaman Kentang yang

Dibudidayakan di Bedugul, Bali. Jurnal Biologi. 17(2): 37-41.

Waluyo, L. (2007). Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang

Watanabe, T. (2002). Pectorial Atlas of Soil and Seed Fungi Morphologies of Cultured

Gambar

Gambar 1. Gejala penyakit pada daun dan akar nanas
Gambar 3. Hasil pengamatan mikroskopis isolat jamur (A) Isolat BD 01A dan BD 01B   (B) Isolat BD 02A dan BD 02B (C) Isolat LYA (a) hifa (b) konidiofor (c) konidia (d) fialid

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,