2.2.1.3 Perlindungan Terhadap Kekerasan Psikis

Teks penuh

(1)

Disusun oleh :

Tim Parenting PAUD Universal Agape Kids

SERI BACAAN HEBAT ORANGTUA BIJAK

(2)

KATA PENGANTAR

Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih dan rahmatnya, tim penyusun buku untuk bacaan orangtua yang bertajuk STOP Kekerasan Fisik pada anak, bisa kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah kami jadwalkan.

Kekerasan fisik pada anak bisa terjadi dan menimpa anak di mana , kapan dan tidak pandang bulu. Bahkan para pelaku utama kekerasan fisik pada anak justru mereka orang-orang terdekat pada anak. Berbagai persoalan, tekanan ekonomi adalah faktor utama terjadinya kekerasan fisik pada anak. Sehingga perlulah lembaga TK Universal Agape Kids menyusun buku bacaan serta kegiatan ringan untuk para orangtua didalam meminimalis tindak kekerasan fisik pada anak.

Semoga bacaan ini bermanfaat serta mampu menambah wawasan luas kepada orangtua, orang dewasa disekitar anak bagaimana menderitanya dampak dari tindak kekerasan fisik terhadap anak.

(3)

Bisnis.com, JAKARTA - Anda penggemar acara bincang-bincang televisi yang dipandu Oprah Winfrey? Jika ya, mungkin Anda mengingat salah satu episode yang menayangkan kisah tragis tentang seorang anak bernama Danielle yang diabaikan oleh ibunya sendiri.

Dia tinggal bersama ibu kandungnya di dalam sebuah rumah yang kotor dan berantakan, penuh dengan sampah, sarang laba-laba, dan kecoa. Ibunya yang terjerat kemiskinan tidak mengurusnya dengan baik, bahkan tidak mengganti popoknya untuk kurun waktu yang lama.

Danielle masih berusia sekitar 6 tahun ketika dia ditolong petugas sosial dan kisahnya menyedot perhatian

publik. Saat ibunya ditanya petugas mengapa dia tegas mengabaikan anaknya, si ibu hanya menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin.”

Dua tahun setelahnya, bocah malang tersebut diadopsi oleh keluarga baru yang melimpahinya dengan kasih sayang. Namun, trauma pengabaian yang dialaminya sewaktu kecil tidak serta merta sembuh dengan limpahan perhatian yang dicurahkan keluarga barunya.

Saat Danielle menginjak usia 15 tahun, Oprah kembali memantau kabar anak itu melalui tayangan Where Are

They Now? Ketika ditemui lagi, Danielle telah tumbuh menjadi remaja putri dan mengenyam bangku

pendidikan SMA seperti layaknya gadis-gadis seusianya.

Namun, satu hal yang pasti, luka akibat pengabaian yang dirasakannya sewaktu kecil mengakibatkan

kelainan perilaku pada gadis yang tinggal di pinggiran Nashville itu. Dia tidak menyukai figur perempuan yang menyerupai ibu, termasuk ibu angkatnya.

Dia juga susah berkomunikasi, apalagi dengan orang asing, dan sangat agresif terhadap makanan seolah-olah ketakutan tidak akan diberi makan lagi. Bahkan keluarganya sampai harus menggembok kulkas dan lemari makanan di rumah mereka.

Danielle juga sangat sulit bersosialisasi, dan hanya dekat dengan ayah angkat, saudara angkat, serta gurunya

di sekolah. Ayah angkatnya menggambarkan Danielle seperti “bocah 2 tahun di dalam tubuh seorang gadis 15 tahun.”

Kisah pilu Danielle membuktikan bahwa selama ini masih banyak orang tua dan dokter yang menganggap kekerasan emosional seperti kesalahan pola asuh atau pengabaian tidak berdampak lebih buruk ketimbang kekerasan fisik dan seksual pada anak.

Banyak orang tua yang gengsi mengakui telah melakukan kekerasan emosional, meskipun perlakuan mereka terhadap anaknya keliru. Mereka merasa tidak bersalah dan normal-normal saja selama tidak melakukan kekerasan fisik atau seksual terhadap anaknya.

Padahal, kekerasan—entah itu terkait fisik maupun psikis—memiliki dampak yang sama fatalnya bagi

kesehatan jasmani dan mental anak. Tidak memenuhi kebutuhan emosional anak saja sebenarnya bisa dikategorikan kekerasan psikis.

Di dalam sebuah riset yang dibakukan di jurnal JAMA Psychiatry, terkuak fakta bahwa anak-anak yang mengalami trauma kekerasan apapun bentuknya, akan tumbuh dengan berbagai masalah perilaku; mulai kecemasan, depresi, agresi, hingga pemberontakan.

(4)

“Tidak ada istilah ‘dampak kekerasan emosional lebih ringan ketimbang kekerasan fisik’. Anak korban kekerasan dalam bentuk apapun menunjukkan gejala masalah perilaku yang sama,” jelasnya, dikutip

dariReuters.

Vachon melakukan studi terhadap hampir 2.300 anak yang berpartisipasi di kemping musim panas antara

periode 1986—2012. Mayoritas dari mereka berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.

Sejumlah 1.200 anak di antara obyek studi tersebut ternyata pernah mengalami kekerasan dari keluarganya,

berupa kesalahan pola asuh (maltreatment). Anak-anak tersebut diamati perilakunya selama mengikuti

kemping. Mereka juga diminta mengevaluasi diri sendiri.

Secara umum, Vachon menemukan anak-anak dengan pengalaman kekerasan (seperti pengabaian, seksual, emosional, dan fisik) cenderung lebih rentan depresi, putus asa, cemas, dan

terserang neuroticism dibandingkan anak-anak yang tidak memiliki sejarah kekerasan.

“Ternyata, gejala yang ditimbulkan akibat kekerasan psikis sama buruknya dengan kekerasan fisik. Baik

kekerasan yang dilakukan di lingkungan keluarga maupun pergaulan,” kata peneliti psikologi William

Copeland dari Duke University di Durhan, North Carolina.

Menurutnya, studi tersebut membuktikan pandangan bahwa kekerasan emosional anak bukan hal yang perlu dikhawatirkan adalah sebuah kesalahan besar. Jadi, orang tua tidak bisa lagi semena-mena dalam

memperlakukan buah hatinya.

“Masalah kekerasan anak, baik pencegahannya maupun skrining dan pengobatannya harus dipandang secara holistik. Tidak ada hierarki apapun dalam hal kekerasan terhadap anak. Tidak relevan jika kita

menganggap pengabaian anak adalah hal yang normal,” tegasnya.

Kenali Jenis Kekerasan Psikis pada Anak

3 Mei 2017 12:25 Diperbarui: 3 Mei 2017 12:33 4601 1 0

Kekerasanpsikis merupakan suatu tindakan “penyiksaan kepada jiwa” yang berpengaruh besar pada

berbagai aspek perkembangan manusia, terutama bagi perkembangan sosial dan emosional. Kekerasan psikis meliputi perilaku-perilaku non-fisik namun sangat berakibat fatal, terutama bagi perkembangan psikis

anakusia dini yang notabene masih dalam proses “pembangunan”.

Di negara kita, tidak terhitung banyaknya kasus kekerasan psikis yang dialami anak di lingkungan rumah maupun sekolahnya, namun hanya sedikit yang terekspos di media. Bahkan pada kacamata kelam dunia pendidikan, ada banyak kasus kekerasan psikis yang benar-benar parah namun sama sekali belum ada penanganan serius karena sepertinya masyarakat terlalu fokus pada kekerasan fisik saja. Padahal anak yang mengalami kekerasan psikis akan mengalami kemunduran dalam kesejahteraan hidup apabila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh.

(5)

Dalam buku Domestic Psychological Violence: Voice of Youth (2008), Sinclair meng-klasifikasikan kekerasan psikis pada anak usia dini menjadi enam dengan penjabaran sebagai berikut:

1. Ancaman dan terror

Jenis kekerasan psikis yang pertama ini sering tidak disadari oleh mayoritas orang tua. Salah satu bentuk ancaman kepada anak yang paling sederhana dan mungkin sering tidak sengaja dilakukan oleh orang tua

yakni melalui kalimat “kalau tidak patuh nanti Ibu akan blablablabla lho”. Kalimat tersebut memang tidak

terbilang kasar, namun jika sering dikatakan akan mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri pada anak. Sehingga kelak mereka akan merasa ragu ketika akan mengambil keputusan, alias tidak punya rasa inisiatif. Contoh lainnya yakni perilaku mengancam untuk membunuh atau melukai anak, mengatakan keburukan anak yang terjadi di masa lalu, mengancam untuk menyita atau merusak barang yang disenangi anak, dan

sebagainya.

2. Verbal

Kekerasan psikis dalam bentuk verbal dilakukan melalui perkataan atau tulisan yang sifatnya menyakiti hati anak, contohnya seperti berkata kasar atau tidak pantas, memanggil mereka dengan sebutan yang tidak baik, membentak, mencaci maki, dan lain-lain. Kekerasan yang seperti ini akan menyebabkan anak menjadi

“bandel” dan keras hatinya. 3. Pemaksaan

Pemaksaan dapat berupa menyuruh anak untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya atau melakukan

tindakan yang tidak pantas seperti “memuaskan” birahi orangtuanya, menyuruhnya untuk memakan makanan

binatang, dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan anak menjadi trauma atau frustasi karena dituntut untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.

4. Emosi

Kekerasan psikis dalam bentuk emosi meliputi tindakan memarahi anak, menyangkal emosi yang mereka ungkapkan, tidak memberi perhatian yang sewajarnya, yang akan mengakibatkan terciptanya rasa takut dan was-was pada anak. apabila kekerasan ini sering dilakukan, anak akan sulit untuk mengontrol dan

menampakkan emosinya secara normal.

5. Kontrol

Biasanya kekerasan ini dilakukan oleh orangtua dengan gaya pengasuhan yang otoriter, yakni mengatur

segala kebutuhan anak dengan mengacuhkan pendapat mereka. Contoh perilakunya yaitu membatasi keinginan anak, menghilangkan kesenangan mereka, merampas hak primary anak seperti waktu bermain maupun istirahat untuk menuruti ambisi orang tua, mengisolasi anak dari kegiatan sosial, dan sebagainya.

6. Penyalahgunaan dan pengabaian.

Jenis kekerasan yang terakhir ini juga sering dilakukan orang tua tanpa sadar. Beberapa contoh perilaku penyalahgunaan dan pengabaian yaitu mendiskriminasi atau membeda-bedakan anak dengan anak yang lain, menyalahgunakan kepercayaan anak untuk kepentingan pribadi, merasa selalu benar, tidak

(6)

Saya pribadi juga belum bisa memberi solusi yang tepat untuk menekan angka kekerasan psikis di bumi pertiwi yang semakin tahun justru semakin meningkat. Entah apa yang menjadi penyebabnya, apakah faktor teknologi kah? Faktor globalisasi kah? Faktor pendidikan kah? Hmm, ini lucu, sebab orang-orang ber-jas rapi di luar sana kini senantiasa menggalakkan pendidikan karakter dalam setiap pidatonya. Pendidikan karakter

naon? Wong kita semua tahu bahwa masyarakat terdahulu lebih tawadhu’ bila dibandingkan dengan

masyarakat masa kini.

Pendidikan karakter yang seharusnya mengutamakan pembentukan sikap di samping pengetahuan dan keterampilan malah justru dirusak dengan kekerasan-kekerasan yang entah pelakunya mikir opo. Jadi, saya hanya bisa menulis ini sambil berdoa, semoga pemerintah juga punya big attention terhadap kasus-kasus kekerasan psikis maupun fisik yang terjadi pada anak bangsa, tidak hanya dibicarakan di depan khalayak tanpa ada tindakan. Please deh. Karena bagaimanapun, masa depan negara ini ada di tangan mereka.

Jakarta - Anak-anak memiliki kondisi emosi yang sensitif dan rentan terluka. Pada anak-anak, kekerasan psikologis memiliki efek merusak kesehatan sebanding dengan kekerasan fisik seperti menampar, memukul atau menendang. Salah satu bentuk kekerasan psikologis pada anak yang paling banyak ditemui adalah penelantaran.

"Kekerasan atau pelecehan psikologis meliputi tindakan seperti meremehkan, merendahkan, meneror, memperdaya, mengabaikan atau tindakan apapun yang berisiko merugikan kesejahteraan anak," kata Dr Harriet MacMillan, profesor di departemen psikiatri, ilmu saraf dan perilaku anak dari McMaster University

seperti dilansir News Medical, Rabu (1/8/2012).

Tindakan yang merugikan kesejahteraan anak merupakan segala perilaku yang membuat anak merasa tidak berharga, tidak dicintai atau tidak diinginkan. Misalnya ibu meninggalkan bayinya sendirian di boks sepanjang hari atau ayah mengajak anak remajanya untuk ikut mencandu narkoba.

Namun apabila orangtua berseru kepada anaknya untuk melakukan perintah setelah 8 kali tak digubris, maka hal itu bukan dikategorikan sebagai kekerasan psikologis.

Lain halnya jika berteriak setiap hari kepada anak dan memberi pesan bahwa anak tidak dinginkan oleh orangtua. Tindakan seperti itu merupakan contoh bentuk kekerasan psikologis yang berpotensi bahaya.

Dalam laporan yang dimuat jurnal Pediatrics, penelitian menemukan bahwa kekerasan psikologis mengganggu perkembangan anak, merusak kelekatan dengan orangtua, memicu masalah akademik, menyebabkan kesulitan dalam bersosialisasi dan memicu gangguan perilaku.

Kekerasan psikologis pada anak dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan dan mempengaruhi kesejahteraan sosialnya.

Penelitian menemukan bahwa anak-anak korban kekerasan lebih besar kemungkinannya tumbuh menjadi orang dewasa yang bermasalah dan menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri.

"Dampak dari kekerasan psikologis selama 3 tahun pertama kehidupan sangatlah mendalam. Kekerasan ini bisa terjadi dalam berbagai jenis keluarga, tapi lebih sering terjadi di rumah tangga yang banyak berkonflik, depresi atau terlibat penyalahgunaan zat," kata MacMillan.

(7)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (7 Halaman)