• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK PANITIA KERJA KOMISI VIII DPR RI MENGENAI BANTUAN SISWA MISKIN KE PROVINSI SUMATERA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK PANITIA KERJA KOMISI VIII DPR RI MENGENAI BANTUAN SISWA MISKIN KE PROVINSI SUMATERA BARAT"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK PANITIA KERJA KOMISI VIII DPR RI MENGENAI BANTUAN SISWA MISKIN

KE PROVINSI SUMATERA BARAT MASA PERSIDANGAN III 2013-2014

SEKRETARIAT KOMISI VIII DPR RI JAKARTA 2014

(2)

DAFTAR ISI

1 Pendahuluan 3

2 Pelaksanaan dan Hasil Kunjungan Kerja Spesifik Panja Komisi VIII DPR mengenai BSM ke Sumatera Barat

7

3 Temuan dan Rekomendasi 10

(3)

BAB I PENDAHULUAN A. Umum

Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI, serta sesuai ketentuan Peraturan Tata Tertib DPR RI, maka pada masa persidangan III tahun sidang 2013-2014, Panja Komisi VIII DPR RI mengenai Bantuan Siswa Miskin (BSM) melakukan kunjungan kerja spesifik ke beberapa daerah, yaitu antara lain ke Provinsi Sumatera Barat untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program BSM. Oleh karena itu, pelaksanaan dan hasil kunjungan tersebut perlu dirumuskan dalam bentuk laporan

B. Dasar Kunjungan Kerja Spesifik

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 20A Ayat (1) Dewan Perwakilian Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. (3) Selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain Undang-Undang Dasar ini, setiap anggota Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul dan pendapat, serta hak imunitas. (4) Pasal 31 ayat 1,2,3,4,5 tentang Pendidikan dan Kebudayaan

2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009, tentang Majelis Permusyarawatan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

3. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

4. Pasal 4, Pasal 6, Pasal 53, 54, dan Pasal 55 tentang Peraturan Tata Tertib DPR RI Nomor 1/DPR/ 2009-2010.

5. Keputusan Rapat Pimpinan dan Keputusan Rapat Intern Komisi VIII DPR RI hari Rabu, tanggal 15 Januari 2014 .

C. Identifikasi Masalah BSM

1. Program BSM belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat, khususnya di lingkungan pengelola Madrasah. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya Madrasah yang kurang memahami tentang prosedur pengajuan BSM dan mekanisme pencairannya.

2. Beberapa hasil dari evaluasi dan studi berlanjut terhadap pelaksanaan Program BSM menunjukkan kelemahan dari program, yaitu terkait ketepatan penetapan sasaran BSM dimana ditemukan masih banyaknya rumahtangga tidak miskin yang menerima BSM dan jumlah beasiswa yang kurang memadai.

(4)

3. Banyak penerima manfaat BSM sendiri belum memiliki pemahaman yang cukup tentang hak mereka, termasuk jumlah uang yang berhak mereka terima. Tantangan ini ditambah dengan ketidakmampuan program dalam memastikan keberlanjutan transfer tunai pada periode transisi antar jenjang pendidikan (terutama sewaktu masa transisi dari SD/MI ke SMP/MTs, dan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA), jumlah transfer tunai yang terbatas, dan pencairan dana transfer tunai yang kerap terlambat kepada siswa yang berhak menerimanya.

4. Adanya keterlambatan dalam pendataan dengan menggunakan Kartu Perlindungan Sosial (KPS).

5. Lambatnya pencairan dana Bantuan Siswa Miskin. akibatnya, banyak siswa yang sudah masuk dalam data sebagai penerima bantuan, hingga saat ini masih belum menerima. Menurut Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, keterlambatan pencairan dana BSM akibat dua hal. Hal pertama adalah adanya revisi anggaran. Kendala kedua adalah belum semua provinsi memiliki izin dari Kemenkeu untuk memiliki rekening penyalur.

D. Maksud dan Tujuan Panja Komisi VIII DPR RI Mengenai BSM

1. Memahami Konsep dan program Bantuan Siswa Miskin Kementerian Agama RI sehingga terjadi kesamaan persepsi diantara Pemangku Kebijakan, Pengelola Madrasah, dan Masyarakat.

2. Mendapatkan peta permasalahan terkait dengan penyelenggaraan dan implementasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM) Kementerian Agama RI, serta berbagai kendala, hambatan, dan permasalahan terkait.

3. Merumuskan formulasi, konsep, serta mekanisme yang ideal terkait dengan penyelenggaraan program Bantuan Siswa Miskin Kementerian Agama RI serta mekanisme pencairanya.

E. Target Panja Komisi VIII DPR RI Mengenai BSM

1. Adanya persepsi yang sama diantara Pemangku Kebijakan dan Pengelola Madrasah, dan Masyarakat.

2. Terinventarisnya berbagai informasi dan data terkait dengan implementasi program Bantuan Siswa Miskin Kementerian Agama RI, serta berbagai kendala, hambatan, dan permasalahan terkait.

3. Adanya rumusan formulasi, konsep, serta mekanisme yang ideal terkait dengan penyelenggaraan program Bantuan Siswa Miskin Kementerian Agama RI serta mekanisme pencairanya.

F. Daftar Anggota Tim Kunjungan Kerja Spesifik Panja Komisi VIII DPR RI Mengenai BSM ke Provinsi Sumatera Barat

No No. Ang. Nama Anggota Jabatan/ Fraksi 1. A-66 Hj. Ledia Hanifa Amaliah, S.Si,

M.Psi.T

Ketua Tim/Wakil Ketua Komisi VIII/ FPKS

(5)

2. A-433 Drs. Dalimi Abdullah DT Indokayo, SH

Anggota /FPD 3. A-489 H. Nurul Iman Mustopa, MA Anggota /FPD 4. A-473 Inggrid Maria Palupi Kansil, S.Sos Anggota/FPD 5. A-512 H. Sholeh Soe’aidy, S.H. Anggota/FPD

6. A-223 HM Busro Anggota/FPG

7. A-186 Ir. HM Idris Laena Anggota/FPG

8. A-326 H.R. Erwin Moeslimin Singajuru Anggota/FPDIP

9. A-364 Hj. Ina Amania Anggota/FPDIP

10. A-45 H. Raihan Iskandar, Lc., MM Anggota/FPKS 11. A-120 Drs. H. Abdul Rozaq Rais, MM Anggota/FPAN 12. A-282 Drs. H. Hasrul Azwar, MM Anggota /FPPP

13. Sumarman, S.Sos. Sekretariat

14. Bambang Wigijono Sekretariat

(6)

BAB II

PELAKSANAAN DAN HASIL KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK PANJA KOMISI VIII DPR RI MENGENAI BSM KE SUMATERA BARAT

Untuk memastikan bahwa program BSM dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan dan tidak terjadi penyimpangan, pelaksanaan kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI mengenai BSM ke Sumatera Barat melakukan pengawasan dengan mengadakan pertemuan dan kunjungan lapangan.

A. Pertemuan

Petemuan dilakukan dengan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) Model Padusunan, Kota Pariaman dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lubuk Alung Kabupaten Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.

Pertemuan Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM dengan MTSN Model Padusunan selain dihadiri kepala sekolah, guru, dan staf MTSN Padusunan, juga dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman, Staf Ahli Gubernur Sumatera Barat Bidang Sumber Daya Manusia, dan Asisten I Wali Kota Pariaman serta beberapa kepala madrasah swasta yang ada di wilayah Kota Pariaman.

Kepala Sekolah MTSN Model Padusunan memberikan penjelasan kepada Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM, antara lain sebagai berikut:

1. Jumlah anak didik di MTSN Model Padusunan sebesar 715 siswa dengan jumlah rombongan belajar sebanyak 18. Sedangkan tenaga pendidik sebanyak 50 orang dan tenaga kependidikan sebanyak 10 orang;

2. Dari jumlah 715 siswa di MTSN Model Padusunan, sebanyak 37 siswa mendapatkan alokasi BSM yang berasal dari DIPA Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman tahun 2013 yang masing-masing anak mendapatkan alokasi Rp550.000-, (Lima

Ratus Lima Puluh Ribu) pertahun. Dengan demikian, jumlah

total dana BSM yang dialokasikan untuk MTSN Model Padusunan adalah sebesar Rp20.350.000,- (Dua Puluh Juta

Tiga Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah);

3. Sedangkan siswa MTSN Model Padusunan yang mendapatkan alokasi BSM yang bersumber dari APBN-P tahun 2013 di DIPA MTSN Model Padusunan sebanyak 60 siswa. Dengan total BSM yang berasal dari APBN-P tahun 2013 untuk MTSN Model Padusunan sebesar Rp28.900.000-, (Dua Puluh Delapan Juta Sembilan Ratus Ribu Rupiah), dengan rincian Kelas VII : 20 orang x 295.000= Rp. 5.900.000, Kelas VIII : 20 orangx

(7)

575.000 = Rp.11.500.000, dan Kelas IX : 20 orang x 575.000 = Rp.11.500.000;

4. Mekanisme pencairan BSM di MTSN Model Padusunan, Kota Pariaman meliputi (secara berurutan); penetapan penerima dengan surat keputusan, pengajuan pencairan BSM ke Kantor Pusat Pembendaharaan Negara (KPPN) Padang, KPPN mentrasnsfer dana BSM ke rekening masing-masing siswa penerima melalui Bank Syariah Mandiri Pariaman dan siswa bersama orang tua mencairkan BSM tersebut ke Bank Syariah Mandiri Pariaman; dan

5. Kendala pencairan BSM di MTSN Model Padusunan, Kota Pariaman meliputi: revisi anggaran/DIPA revisi yang terlambat, tidak semua siswa miskin memiliki Kartu Perlindungan Sosial (KPS) dan KPS diterima tidak serentak. KPS ini menjadi kendala karena KPS menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh anak didik untuk mendapatkan BSM

Pertemuan Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM dengan MAN Lubuk Alung, Kabupaten Pariaman selain dihadiri oleh kepala sekolah, guru, dan staf juga dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pariaman.

Kepala Sekolah MAN Lubuk Alung memberikan penjelasan kepada Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM antara lain sebagai berikut:

1. Jumlah siswa di MAN Lubuk Alung Kabupaten Pariaman sebanyak 612 orang siswa dan 54 orang guru dengan 19 rombongan belajar; dan

2. Jumlah siswa penerima BSM dim MAN Lubuk Alung pada tahun 2013 sebanyak 544 orang, dengan rincian sebanyak 180 orang siswa menerima BSM yang bersumber dari DIPA Kementerian Agama RI, sebanyak 205 orang siswa menerima BSM yang bersumber dari APBN-P, dan sebanyak 159 orang siswa menerima BSM yang bersumber dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pariaman;

B. Peninjauan Lapangan

Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM melakukan peninjauan lapangan ke lokasi yang akan dibangun Madrasah Aliyah Insan Cendikia Sumatera Barat di Kota Pariaman. Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM, dalam peninjauan lapangan ini, mendapatkan informasi:

1. Lahan dan pagar Mandrasah Insan Cendikia Sumatera Barat di Kota Pariaman adalah merupakan hibah dari Pemerintah Daerah Kota Pariaman;

(8)

2. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan sarana-prasarana Madrasah Aliyah Insan Cendikia Sumatera Barat pada tahun anggaran 2014 sebesar Rp4.000.000.000-, (Empat Milyar Rupiah) yang bersumber dari DIPA Kementerian Agama RI; dan

3. Madrasah Aliyah Insan Cendikia Sumatera Barat di Kota Pariaman direncanakan mulai menerima siswa baru pada tahun 2015.

(9)

BAB III

TEMUAN DAN REKOMENDASI A. Temuan

Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM dalam melakukan kunjungan kerja spesifik ke Provinsi Sumatera Barat mendapatka temuan, antara lain, sebagai berikut:

1. Mekanisme pendataan anak didik penerima BSM lebih banyak ditentukan oleh pemerintah berdasarkan kuota yang telah ditetapkan untuk masing-masing madrasah. Apabila ada anak didik yang seharusnya mendapatkan BSM, namun tidak termasuk ke dalam kuota yang dialokasikan pemerintah untuk masing-masing madrasah, maka madrasah yang bersangkutan mengusulkan ke pemerintah secara hirarkis.

2. Persyaratan untuk mendapatkan BSM tidak mudah dipenuhi oleh anak didik, misalnya anak didik yang mendapatkan BSM harus memiliki Kartu Perlindungan Sosial (KPS), padahal ada anak didik yang tidak memiliki KPS.

3. Data anak didik, penerima BSM tidak valid, yaitu ditemukan adanya ketidaksinkronan antara data anak didik penerima BSM yang ada di madarasah dan yang ada di Kantor Wilayah Kementerian Agama RI. 4. Ada anak didik yang menerima BSM ganda, yaitu menerima BSM

yang bersumber dari APBN dan APBN-P tahun 2013.

5. Data anak didik, penerima BSM, tidak dilengkapi dengan nama dan alamat.

6. Proses pencairan dana BSM tidak sederhana, yaitu mengharuskan anak didik penerima BSM membuka rekening di bank, padahal secara geografis wilayah Indonesia merupakan kepulauan sehingga menyulitkan anak didik untuk membuat rekening bank.

B. Rekomendasi

Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM, berdasarkan temuan di lapangan, merekomendasikan beberapa hal, antara lain, sebagai berikut: 1. Kementerian Agama RI hendaknya memperbaiki mekanisme

pendataan anak didik yang menerima BSM, yaitu dengan menggabungkan data yang diusulkan oleh madrasah dan data pemerintah yang telah diverifikasi.

2. Persyaratan KPS yang harus dipenuhi oleh anak didik penerima BSM hendaknya dipertimbangkan kembali. Sebagai pengganti KPS, anak didik dapat menggunakan Surat Keterangan Miskin yang dikeluarkan oleh kepala madrasah dan diketahui oleh kepala desa.

(10)

3. Kementerian Agama RI hendaknya melakukan validasi terhadap anak didik, penerima BSM tahun 2014 dengan mensinkronkan data anak didik penerima BSM yang ada di madrasah dan yang ada di pemerintah.

4. Kementerian Agama RI hendaknya menghindari adanya anak didik yang menerima BSM secara ganda dengan tujuan untuk mewujudkan pelaksanaan program BSM secara adil dan merata.

5. Data anak didik penerima BSM hendaknya dilengkapi dengan nama dan alamat anak didin yang menerima BSM, bukan nama dan alamat orang tuanya, karena kalau nama dan alamat orang tuanya, dikhawatirkan anak didik yang bersangkutan telah tidak menyelesaikan studinya.

6. Perlu dilakukan penyederhanaan terhadap prose penyaluran dan BSM, sehingga dapat dipastikan sampai secara cepat dan mudah kepada anak didik penerima BSM.

(11)

BAB IV PENUTUP

Demikianlah laporan pelaksanaan Kunjungan Kerja Spesifik Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM ke Provinsi Sumatera Barat. Rekomendasi Panja Komisi VIII DPR RI mengenai BSM berdasarkan hasil temuan di lapangan hendaknya dilaksanakan oleh pihak terkait.

Referensi

Dokumen terkait

Tim Kunjungan Kerja Spesifik (Kunsfik) Panitia Kerja Komisi VIII DPR RI mengenai Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi Islam Negeri di Masa Pandemi Covid-19

Berdasarkan hasil Kunjungan Kerja Spesifik Panitia Kerja Komisi VIII DPR RI mengenai RUU tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, maka dapat

Dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak atau terdapat hubungan yang bermakna diantara kedua variabel “prematur merupakan faktor risiko gangguan fungsi pendengaran pada

Jumlah neuron masukan LVQ pada penelitian ini memiliki 2400 yang didapat dari 16 segmen x 3 kelas x 5 perulangan x 10 naracoba dengan panjang data satu set data latih

Korelasi antara Imunoekspresi LMP-1 Virus Epstein-Barr dengan Respon Kemoterapi CHOP pada Limfoma Maligna Non-Hodgkin Tipe Diffuse Large B Cell.. Inas Susanti,

goods and honours to each according to his place in the community, adalah keadilan yang secara proposional ditetapkan dalam lapangan hukum publik secara umum,

Pada Gambar 11 makrostruktur hasil pengujian pada posisi 3 baut 1 mengalami patah pada beban maximum 9,20 ton dan putus pada beban 7,66 ton.pada gambar menunjukkan

1) Perhitungan Margin of Safety untuk Tahu Baxo Rebus :.. Hasil Perhitungan untuk produk yang dijual yaitu tahu baxo rebus, maksimum penurunan yang boleh terjadi sebesar