1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan orang lain di sekitarnya dalam memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan dalam hal ini dapat tercapai melalui sebuah proses komunikasi yang baik dengan individu lain yang ada di sekitarnya. Komunikasi memegang peranan penting bagi setiap orang guna mencari pembenaran terhadap pemikiran mengenai berbagai aturan sosial yang berlaku. Komunikasi diungkapkan oleh Everett M. Rogers merupakan sebuah rangkaian proses pengalihan sebuah ide atau gagasan yang disampaikan oleh sumber kepada penerima, baik satu orang ataupun lebih, yang memiliki tujuan untuk menciptakan sebuah perubahan perilaku dalam diri penerima. (dalam Mulyana, 2001 : 62) Definisi lain yang diungkapkan oleh Gerald R. Miller, menyatakan bahwa komunikasi tercipta ketika seorang komunikan menerima pesan dari komunikator yang secara sengaja ditujukan untuk mempengaruhi perilaku komunikan.(dalam Mulyana, 2001 : 62) Proses komunikasi ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk menjalin hubungan yang baik antar individu, maupun organisasi.
Proses komunikasi tersebut tidak terlepas dari peranan media sebagai alat untuk menyampaikan informasi secara luas. Salah satu media yang digunakan dalam menyampaikan informasi tersebut adalah media massa. Keberadaan media massa menyajikan kepada kita apa yang disebutkan oleh Marshall McLuhan sebagai global village, yang memungkinkan kita berada dalam dunia yang serba terkoneksi satu dengan yang lainnya, tanpa memiliki batasan waktu.(Littlejohn, 2009 : 405) Media bukan hanya memiliki keistimewaan untuk menyampaikan informasi saja, tetapi juga memberikan semacam agenda kepada khalayak terhadap peristiwa-peristiwa yang penting
2 dan menjadi trending topic yang beredar di hadapan khalayak. Peran penting media diungkapkan oleh George Gerbner, yaitu kemampuan dalam menciptakan masyarakat, menjelaskan sebuah permasalahan yang ada di public, memberikan sebuah catatan referensi terhadap sebuah peristiwa, serta mampu mengalihkan perhatian dan kekuasaan dari khalayak.(Littlejohn, 2009 : 405)
Media massa cetak merupakan salah satu media massa yang efektif dalam proses penyampaian pesan. Media cetak memiliki ciri khas yaitu dapat dibaca langsung tanpa terbatas ruang dan waktu. Proses penyimpanan informasi juga lebih mudah dibandingkan media massa lain seperti radio dan televisi yang membutuhkan recorder khusus. Kelebihan lain adalah informasi visual yang lebih jelas menggambarkan informasi bagi khalayak mengenai informasi yang disampaikan.
Salah satu media massa cetak terbesar di Indonesia adalah Harian KOMPAS. Harian KOMPAS merupakan salah satu bagian dari kelompok usaha yang bernama Kompas Gramedia (KG), yang didirikan oleh PK. Ojong dan Jakob Oetama sejak 28 Juni 1965.1 Surat kabar ini pada awal penerbitannya merupakan surat kabar bulanan dengan isi sebanyak 8 halaman yang kemudian berubah penerbitannya menjadi 4 kali dalam seminggu. Tahun 1967, surat kabar ini berubah menjadi surat kabar harian nasional dengan nilai oplah mencapai 30.650 eksemplar.2
Menjadi salah satu surat kabar nasional, harian KOMPAS memiliki pencapaian tingkat keterbacaan yang tinggi. Hal tersebut dapat dikatakan harian ini memiliki kredibilitas yang tinggi di mata masyarakat. Tingkat keterbacaan harian KOMPAS di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta menunjukan keterbacaan tinggi di wilayah sebar yang ditunjukan oleh tabel berikut.
1Diunduh dari website resmi Kompas Gramedia, http://profile.print.kompas.com/ pada Jumat, 26
Juni 2015, pukul 10.33 WIB.
2
Diunduh dari website resmi Kompas Gramedia, http://profile.print.kompas.com/ pada Jumat, 26 Juni 2015, pukul 10.48 WIB.
3 TABEL JUMLAH PEMBACA KOMPAS
JAWA TENGAH DAN D.I. YOGYAKARTA 2015
OPLAH PEMBACA
Semarang dan sekitarnya 12.480 49.921
Karisidenan Banyumas
(Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Kebumen, Gombong, Banjarnegara)
5.070 20.280
SOLO
(Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri)
7.019 28.077
TEGAL
( Pekalongan, Batang, Pemalang, Brebes, Tanjung, Bumiayu)
2.953 11.810
Karesidenan Kedu
( Muntilan, Magelang, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Kutoarjo, Purwokerto)
2.506 10.022
Karesidenan Rembang
(Pati, Kudus, Demak, Jepara, Rembang) 2.349 9.396
Total Jawa Tengah 32.377 129.507
D.I. Yogyakarta 13.441 53.762
TOTAL JAWA TENGAH DAN
YOGYAKARTA 45.817 183.269
Sumber : Media Kit KOMPAS Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta,2015
Data tabel tersebut menunjukan adanya perbedaan jumlah yang signifikan antara jumlah oplah yang tersebar dan tingkat keterbacan. Jumlah tersebut dapat diartikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap surat kabar ini memiliki kepercayaan yang tinggi.
Keberhasilan KOMPAS tersebut tidak terlepas dari adanya peran pengorganisasian yang baik di dalamnya. Sistem kerja organisasi yang baik berpengaruh terhadap efektifitas organisasi yang tidak terlepas dari adanya
4 efektifitas di tingkat individu dan kelompok.(Donnelly, 1996 : 29-32) Efektifitas seperti yang diungkapkan Donnelly, merupakan sebuah pencapaian maksimal dalam produksi, kualitas, efisiensi, fleksibilitas, kepuasan, sifat keunggulan dan pengembangan. (Donnelly, 1996 : 28) Hal tersebut merupakan sebuah proses yang berkesinambungan dan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Sebuah organisasi yang baik pastilah terdapat komunikasi yang baik dan seorang pemimpin yang mampu mengarahkan dan mengelola bawahannya. Komunikasi efektif antara pimpinan-bawahan, ataupun bawahan dengan sejawatnya memiliki pengaruh terhadap penyebaran informasi dalam organisasi. Pencapaian komunikasi efektif dalam organisasi ini tentunya tidak terlepas dari pola komunikasi dalam organisasi tersebut. Pola komunikasi dapat diartikan sebagai sistem yang digunakan dalam konteks proses komunikasi dalam penyampaian pesan.
Komunikasi organisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses penciptaan dan penafsiran pesan dari setiap unit komunikasi, atau setiap orang dengan jabatannya dalam organisasi, yang merupakan anggota dari sebuah organisasi.(Pace, 2010 : 31) Sistem komunikasi organisasi ini memfokuskan kepada setiap individu yang terlibat dalam organisasi, dalam perilaku pemrosesan sebuah pesan yang mampu menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi.(Pace, 2010 : 33)
Berkaitan dengan penelitian komunikasi organisasi tersebut, penulis memilih PT. Kompas Media Nusantara, karena perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahanan media massa dan percetakan besar di Indonesia. Produk yang dihasilkan oleh PT. Kompas Media Nusantara sudahlah tidak asing lagi di telinga kita yaitu surat kabar harian KOMPAS. Melihat pentingnya komunikasi organisasi tersebut, penulis memiliki keinginan untuk melihat pola komunikasi organisasi yang baik, khususnya di PT. Kompas Media Nusantara Semarang.
Dalam peneitian ini penulis mengambil batasan pada divisi Bisnis di PT. Kompas Media Nusantara. Pengambilan batasan tersebut dikarenakan divisi
5 ini bertanggung jawab terhadap brand activity harian Kompas untuk wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Divisi Bisnis ini bertanggung jawab terhadap kegiatan harian Kompas yang berkaitan dengan peningkatan oplah, penyelenggaraan event, serta iklan yang tayang untuk harian Kompas.
Selain itu, divisi Bisnis ini bertanggung jawab terhadap isi cetak halaman Klasika yang mulai bulan Maret 2015 ini terbit secara mandiri. Terbit secara mandiri ini yaitu menggunakan sistem cetak jarak jauh yang dipusatkan di kantor percetakan di Bawen, Kabupaten Semarang. Tanggung jawab untuk mengelola cetakan halaman Klasika ini dituntut adanya seorang pegawai yang memiliki spesialisasi di bidang desain grafis. Akan tetapi, divisi bisnis Kompas Jawa Tengah ini tidak memiliki seorang desainer grafis, akan tetapi hanya mengandalkan tenaga freelance.
Kekosongan tersebut menjadi kendala mengingat divisi bisnis ini memiliki tanggung jawab terhadap isi cetakan halaman Klasika. Kekosongan divisi tersebut mengakibatkan tertundanya proses pengerjaan layout yang dapat menghambat proses cetak halaman Klasika. Meskipun pada dasarnya kantor cabang Semarang dapat melimpahkan kepada kantor pusat Jakarta, akan tetapi proses pengerjaan hanya dapat dilakukan di atas pukul 16.00 WIB, sedangkan semua materi harus siap cetak sebelum pukul 19.00 WIB. Berdasarkan hal tersebut, adanya tenaga freelance menjadi opsi yang diambil oleh harian Kompas untuk mengisi kekosongan divisi tersebut. Keberadaan tenaga freelance menjadi salah satu jalan keluar menghadapi kekosongan divisi yang berdampak terhadap isi cetakan halaman Klasika. Akan tetapi, tenaga freelance yang bekerja secara lepas memiliki permasalahan tersendiri. Ada kalanya ketika tenaga freelance tersebut tidak menyanggupi tugas yang diberikan oleh accounting executive maupun front officer pada divisi bisnis harian Kompas tersebut.
Berangkat dari hal tersebut yang mendasari penulis untuk mengetahui bagaimana cara serta strategi yang diterapkan untuk menghadapi permasalahan kekosongan pada unit divisi khusus, sehingga akan terlihat bagaimana pola dan strategi komunikasi yang diterapkan antara accounting
6 executive, front officer dan freelance grafis pada divisi bisnis tersebut untuk mengatasi dan menghadapi permasalahan kekosongan divisi khusus tersebut.
1.2Rumusan Masalah
Bagaimana strategi komunikasi yang diterapkan antara Accounting
Executive dan Admin dengan Freelance Grafis pada Divisi Business
Representative harian Kompas untuk mengatasi dan menghadapi kekosongan
personel dalam divisi khusus ?
1.3Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi yang diterapkan antara Accounting Executive dan Admin dengan Freelance Grafis pada Divisi
Business Representative harian Kompas untuk mengatasi dan menghadapi
kekosongan personel dalam divisi khusus.
1.4Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini memiliki manfaat secara teoritik dan praktis, yaitu :
1.4.1Manfaat Teoritis
Dalam pengembangan ilmu komunikasi, diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi serta tambahan wawasan dalam penelitian, khususnya dalam penelitian strategi komunikasi.
1.4.2Manfaat Praktis
Dalam manfaat praktis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi serta gambaran mengenai strategi komunikasi yang diterapkan oleh Divisi Business Representative harian Kompas.