• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 1. Daftar taman nasional yang memiliki perencanaan zonasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lampiran 1. Daftar taman nasional yang memiliki perencanaan zonasi"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Lampiran 1.

Daftar taman nasional yang memiliki perencanaan zonasi

No Nama dan SK Kawasan SK Pengesahan dan

Revisi Zonasi Pembagian Zona & Luas (Ha) 1 Bukit Barisan Selatan

SK Mentan No. 736/Mentan/X/ 1982, 14 Oktober 1982 Dirjen PHPA No.57/Kpts/DJ-VI/1990, 31 Mei 1990  Inti (191.125);  Rimba (160.012,5);  Pemanfaatan (850);  Penyangga (4.812,5) 2 Bali Barat* SK Menhut No. 493/Kpts-II/1995, 15 September 1995

Dirjen PKA No. 186/Kpts/DJ-V/1999, 13 Pebruari 1999 SK tanpa peta  Inti (Daratan: 7.567,85; Perairan: 455,37);  Rimba (Daratan: 6.099,46; Perairan: 243,96);  Pemanfaatan Intensif (Daratan: 1.645,33; Perairan: 2.745,66);  Pemanfaatan Budaya (245,26) Revisi: SK.143/IV-KK/2010  Inti (8.023,22 ha)  Rimba (6.174,756)  Perlindungan Bahari (221,741)  Pemanfaatan (4.217,693)

 Religi Budaya Sejarah (50,570),  Khusus (3,967),  Tradisional (310,943) 3 Ujung Kulon* SK Menhut No. 284/Kpts-II/1992, 26 Pebruari 1992 (Perubahan fungsi CA) Penetapan: SK Menhut No. 758/Kpts-II/1999

Dirjen PKA No. 115/Kpts/DJ-VI/97, 7 Agustus 1997

 Inti; Rimba (Daratan: 35.064; Perairan: 42.231);  Pemanfaatan Intensif (Daratan: 440; Perairan: 656);  Pemanfaatan Tradisional (Daratan: 360; Perairan: 1450);  Rehabilitasi (3.200) Revisi peta zonasi belum ditandatangani

4 Kepulauan Seribu SK Menhut No. 162/Kpts-II/1995, 21 Maret 1995 Penetapan: SK Menhut No. 6310/Kpts-II/2002, 13 Juli 2002 Direktur TNHW No.02/VI/TN-2/SK/1986, 19 April 1986

 Inti (Inti I 1.356,8; Inti II 2.440,94; Inti III 507,7);  Pelindung (12.271,94);  Pemanfaatan intensif (13.934,13);  Pemanfaatan Tradisional (77.489,20) 5 Berbak SK Menhut No. 285/Kpts-II/1992, 26 Pebruari 1992 (Perubahan fungsi SM)

Dirjen PKA No. 18/Kpts/DJ-V/2001 06/02/2001  Inti (143.780);  Rimba (18.220);  Pemanfaatan Intensif (700)

6 Gunung Gede Pangrango SK Menhut No. 174 /Kpts-II/2003, 10 Juni 2003 (Perubahan fungsi CA, TWA, HP, HPT) Dirjen PHPA No.12/Kpts/DJ-VI/1992, 14/02/1992  Inti (11.300);  Rimba (3.616);  Pemanfaatan (300) Revisi  Inti (9.612,795),  Rimba (7.175,411),  Pemanfaatan (1.330,443),  Rehabilitasi (4.367,192),  Tradisional (312,136),  Khusus (3,19),  Konservasi Owa Jawa

(50,1) (2010-2030) 7 Kepulauan Karimun Jawa*

SK Menhut No. 161/ Menhut-II/1988, 23 Pebruari 1988

(Perubahan fungsi CA Laut) Penetapan: SK No. 78/ Kpts-II/1999, 22 Pebruari 1999 SK. 79/IV/Set-3/2005, 30 Juni 2005  Inti (444,629);  Perlindungan (2.587,711);  Pemanfaatan Pariwisata (1.226, 525);  Pemukiman (2.571, 546);  Rehabilitasi (122, 514);  Budidaya (788,213);  Pemanfaatan Perikanan tradisional (103.883, 862) 8 Baluran* SK Menhut No. 279/Kpts-VI/1997, 23 Mei 1997 Dirjen PKA No.187/Kpts/DJ-V/1999, 13 Desember 1999  Inti (12.000);  Rimba (Daratan: 4.574; Perairan: 1.063);  Pemanfaatan Intensif (800);  Pemanfaatan Khusus (5.780),  Rehabilitasi (783).

9 Bromo Tengger Semeru* SK Menhut No. 278/Kpts-VI/1997, 23 Mei 1997 Dirjen PHPA No.47/Kpts/DJ-VI/ 1987, 12 Desember 1987  Inti (10.850);  Rimba (42.416,3);  Pemanfaatan (4.733,7);  Penyangga (909). 10 Meru Betiri SK Menhut No. 277/Kpts-VI/Um/1997, 31 Maret 1997 Dirjen PKA No.185/Kpts/DJ-V/1999, 13 Desember 1999  Inti (27.915);  Rimba (22.622);  Pemanfaatan intensif (1.285);  Pemanfaatan khusus (2.155),  Rehabilitasi (4.023).

(3)

No Nama dan SK Kawasan SK Pengesahan dan

Revisi Zonasi Pembagian Zona & Luas (Ha) 11 Alas Purwo*

SK Menhut No. 283/Kpts-II/1992, 26 Pebruari 1992

Dirjen PHPA No. 51/Kpts/DJ-VI/1987, 12 Desember 1987  Inti (17,200);  Rimba (24.767);  Penyangga (1.203), Peamanfaatan (250) SK No.26/IV-KK/2007, 19 Februari 2007  Inti (17.150);  Rimba (24.207);  Pemanfaatan (660);  Tradisional (783)  Rehabilitasi (620); 12 Betung Kerihun** SK Menhutbun No. 510 /Kpts-II/1999, 30 Juni 1999 Perubahan: SK Menhutan No. 467/Kpts-II/1995 (Perubahan nama TN) SK tanggal 12 Desember 2008, tetapi data tidak ditemukan

Data tidak ditemukan

13 Way Kambas

SK Menhut No. 67/Kpts-II/1991, 31 Januari 1991 Penetapan: SK Menhut No. 670/Kpts-II/1999, 26 Agustus 1999

Dirjen PHKA No. 188/Kpts/DJ-V/1999, 13 Desember 1999  Inti (58.375);  Rimba (55.693);  Pemanfaatan Intensif (6.932);  Pemanfaatan Khusus (9.000) 14 Gunung Leuser SK Menhut No. 276/Kpts-II/1997, 23 Mei 1997

Dirjen PHPA No. 48/Kpts-DJ-VI/1987, 12 Desember 1987  Inti (642.735);  Rimba (103.000);  Pemanfaatan (49.750);  Penyangga (11.184) 15 Gunung Rinjani* SK Menhut No. 280/Kpts-VI/1997, 23 Mei 1997 SK. 99/IV/Set-3/2005, 26 September 2005  Inti Darat (19.717,5);  Inti Danau (1.126);  Rimba (17.349,5);  Pemanfaatan (724);

 Budaya dan Sejarah (75);  Rehabilitasi (1.755);  Tradisional (583). 16 Kelimutu** SK Menhut No. 679/Kpts-II/1997, 10 Oktober 1997 Dirjen PKA No.16/Kpts/DJ-V/2001, 06 Pebruari 2001  Inti (350);  Rimba (4.000);  Pemanfaatan intensif (96,5);  Rehabilitasi (553,5) 17 Komodo SK Menhut No. 306/Kpts-II/1995, 26 Juni 1995 Dirjen PKA No.65/Kpts/DJ-VI/2001, 30 Mei 2001  Inti (31.257,94);  Rimba(23.529,58);  Bahari (34.612,2);  Pemanfaatan Khusus Pelagis (62.566,43);  Pemanfaatan Khusus Penelitian (1.146,21);  Pemanfaatan Wisata Daratan (1.161,65);  Pemanfaatan Wisata Bahari (1.658,35);  Pemanfaatan Tradisional Bahari (15.878,81);  Pemanfaatan Tradisional Daratan (1.112,59);  Pemukiman Masyarakat Tradisional (373,99) 18 Wasur** SK Menhut No. 282/Kpts-VI/1997, 25 Mei 1997 Perubahan fungsi SM dan CA

Dirjen PKA No. 15/Kpts/DJ-V/2001, 6 Pebruari 2001  Inti (127.590);  Rimba (211.320);  Pemanfaatan Intensif (56.100);  Pemanfaatan Khusus/Pemukiman Budidaya Desa (18.800) 19 Teluk Cenderawasih** SK Menhut No. 472/Kpts-II/1993, 2 September 1993 (Perubahan fungsi CA Laut) Penetapan: SK Menhut No. 8009/Kpts-II/2002, 29 Agustus 2002 SK.121/IV-KK/2009 15/07/2009  Inti (4.610);  Perlindungan Bahari (110.000);  Rimba (26.150);  Pemanfaatan Pariwisata (15.140);  Pemanfaatan Umum (900.000)  Tradisional (387.500);  Khusus (10.000)

20 Bukit Tiga Puluh** SK Menhut No. 539/Kpts-II/1995, 5 Oktober 1995 (Perubahan fungsi HL dan HPT)

Dirjen PKA No. 17/Kpts/DJ-V/2001, 06 Pebruari 2001  Inti (60.000);  Rimba (45.958);  Pemanfaatan Intensif (2.300);  Pemanfaatan Tradisional (9.690);  Rehabilitasi (8.700) 21 Lore Lindu** SK Menhut No. 646/Kpts-II/1999, 23 Juni 1999 SK.168/IV-KK/2009, 10 September 2009  Inti (112,810,44);  Rimba (86,629,69);  Pemanfaatan (4.294,43);  Rehabilitasi (13.079,47);  Khusus (1.177,15)

(4)

No Nama dan SK Kawasan SK Pengesahan dan

Revisi Zonasi Pembagian Zona & Luas (Ha) 22 Rawa Aopa Watumohai**

SK Menhut No. 756/Kpts-II/1990, 17 Desember 1990

Indikatif zonasi  Inti (56.799);  Rimba (36.390);  Pemanfaatan Intensif (8.885);  Pemanfaatan Tradisional (390);  Pemanfaatan Khusus (32);  Rehabilitasi (2.598);  Kepentingan Khusus (100) 23 Kepulauan Wakatobi** SK Menhut No. 393/Kpts-VI/1996, 30 Juni 1996

Dirjen PHPA No. 198/Kpts/DJ-VI/1997, 31 Desember 1997  Inti (683.500);  Pelindung (160.500);  Pemanfaatan (70.500);  Pemanfaatan Tradisional (300.500);  Rehabilitasi (175.000) 24 Bunaken SK Menhut No. 730/Kpts-II/1991, 15 Oktober 1991 Perubahan fungsi CA Laut

Dirjen PHPA No. 147/Kpts/DJ-VI/1997, 29 September 1997  Inti (1.391,05);  Pemanfaatan (1.153,34);  Rehabilitasi (191,98);  Pendukung Perairan (11.680,31);  Pendukung Daratan (2.342,29);  Pendukung Umum (72.279,77);  Pemulihan (26,29) 25 Bogani Nani Wartabone

SK Menhut No. 724/Kpts-II/1993, 8 Nopember 1993 Perubahan fungsi SM dan CA Dirjen PHPA No.191/Kpts/DJ-VI/1997, 24 Desember 1997  Inti (188.927);  Rimba (77.250);  Pemanfaatan (20.678);  Pemanfaatan Tradisional (260) Revisi: SK.28/IV-KK/2008, 12 Maret 2008 26 Siberut** SK Menhut No. 1082/Kpts-II/1992, 21 Nopember 1992 Penetapan: SK Menhut No. 407/Kpts-II/1993, 10 Agustus 1993 Dirjen PKA No.14/Kpts/DJ-V/2001, 6 Pebruari 2001  Inti (46.533);  Rimba (99.555);  Pemanfaatan Intensif (20);  Pemanfaatan Tradisional (44.392) 27 Kerinci Seblat** SK Menhut No. 192/Kpts-II/1996, 1 Mei 1996 Penetapan: SK Menhut No. 901/Kpts-II/1999, 14 Oktober 1999

Perluasan: SK Menhut No. 420/Menhut-II/2004 (Perubahan fungsi HP) Indikatif zonasi Revisis: SK. 07/IV-KK/2007, 16 Januari 2007  Inti (744.990,3);  Rimba (463.394,7);  Pemanfaatan (17.802,6);  Rehabilitasi (136.790,9);  Khusus (13.793,3);  Tradisional (12.733,1). 28 Gunung Palung Penyataan Menhut 1990 SK Menhut No. 448/Menhut-VI/1990, 6 Maret 1990 Indikatif zonasi 29 Tesso Nilo SK Menhut No. 255/Menhut-II/2004, 19 Juli 2004 Perubahan fungsi HPT Indikatif zonasi 30 Batang Gadis*** SK Menhut No. 126/Menhut-II/2004, 29 April 2004 Perubahan fungsi HL, HPT dan HP Indikatif zonasi

Sumber: kompilasi data dari Ditjen PHKA sampai tahun 2010

Keterangan: * terkait dengan situs dan/atau budaya; ** terkait dengan wilayah adat (diolah dari berbagai sumber)

(5)
(6)
(7)

Lampiran 3.

Tempat-tempat penting Suku Kanume di Taman Nasional Wasur

(8)

Lampiran 4.

Tempat-tempat penting Suku Marori Meng-gey di Taman Nasional

Wasur

(9)

Lampiran 5.

Tempat-tempat penting Suku Imbuti di Taman Nasional Wasur

(10)

Lampiran 6.

Tempat-tempat penting Suku Yeinan di Taman Nasional Wasur

(11)

Lampiran 7.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Apokayan

(12)

Lampiran 8.

Peta potensi sumberdaya alam di wilayah masyarakat adat

Apokayan

(13)

Lampiran 9.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Hulu Bahau

Sumber: Pemetaan Desa Partisipatif, WWF Kayan Mentarang Project tahun 1993 sampai 1998

Hutan pemanfaatan terbatas Hutan pemanfaatan sehari-hari Lahan pertanian

(14)

Lampiran 10.

Peta sebaran budaya di wilayah masyarakat adat Hulu Bahau

(15)

Lampiran 11.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Krayan Darat

(16)

Lampiran 12.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Krayan Hilir

(17)

Lampiran 13.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Krayan Hulu

(18)

Lampiran 14.

Peta sebaran budaya dan sumberdaya alam di wilayah masyarakat

adat Krayan Hulu

(19)

Lampiran 15.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Krayan Tengah

(20)

Lampiran 16.

Peta sebaran budaya dan sumberdaya alam di wilayah masyarakat

adat Krayan Tengah

(21)

Lampiran 17.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Lumbis

(22)

Lampiran 18.

Peta sebaran budaya dan sumberdaya alam di wilayah masyarakat

adat Lumbis

(23)

Lampiran 19.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Mentarang Hulu

(24)

Lampiran 20.

Peta sebaran budaya dan sumberdaya alam di wilayah masyarakat

adat Mentarang Hulu

(25)

Lampiran 21.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Pujungan

(26)

Lampiran 22.

Peta potensi sumberdaya alam di wilayah masyarakat adat

Pujungan

(27)

Lampiran 23.

Peta sebaran budaya di wilayah masyarakat adat Pujungan

(28)

Lampiran 24.

Peta tata guna lahan di wilayah masyarakat adat Tubu

(29)

Lampiran 25.

Peta sebaran budaya dan potensi sumberdaya alam di wilayah

masyarakat adat Tubu

(30)

Lampiran 26.

Luas tata guna lahan di setiap wilayah adat di Taman Nasional Kayan Mentarang

Tataguna Lahan

Luas Tata Guna Lahan (Ha)

Jumlah (Ha) Prosentase (%) Lumbis Krayan Hilir Mentarang Krayan Darat Krayan Tengah Krayan Hulu Tubu Hulu

Bahau Pujungan Kayan Hilir Bekas Ladang Baru

(1-10 tahun)

0,00 1.239,36 495,74 1.487,23 0,00 1.982,98 0,00 0,00 6.940,42 0,00 12.145,73 0,91 Bekas Ladang Agak Lama

(11-20 tahun)

0,00 247,87 0,00 495,74 0,00 0,00 0,00 0,00 16.359,55 0,00 17.103,17 1,28 Bekas Ladang Lama (>21

tahun)

4.461,70 17.103,17 3.222,34 2.974,46 743,62 5.701,06 0,00 0,00 21.812,73 32.719,10 88.738,17 6,63 Balah Tokan/Jekau Tua 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 37.924,41 0,00 0,00 0,00 37.924,41 2,83

Balah Uyung/Jekau Muda 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 495,74 0,00 0,00 0,00 495,74 0,04

Bekas Sawah 0,00 743,62 0,00 495,74 247,87 991,49 0,00 0,00 0,00 0,00 2.478,72 0,19 Sawah 0,00 495,74 0,00 991,49 0,00 991,49 0,00 0,00 0,00 0,00 2.478,72 0,19 Hutan Rimba 991,49 56.762,68 0,00 24.787,20 9.667,01 5.948,93 6.940,42 0,00 0,00 287.531,49 392.629,20 29,33 Hutan/Kebun Buah-buahan 1.735,10 1.239,36 247,87 247,87 0,00 0,00 1.487,23 0,00 2.478,72 247,87 7.684,03 0,57 Ladang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 743,62 0,00 0,00 247,87 991,49 0,07 Lahan Kritis 0,00 0,00 0,00 247,87 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 247,87 0,02 Daerah Pemanfaatan Sehari-hari 0,00 10.410,62 7.684,03 6.444,67 1.735,10 20.573,37 28.257,40 32.966,97 59.985,02 0,00 168.057,20 12,55 Daerah Pemanfaatan Terbatas 60.480,76 3.470,21 1.239,36 2.726,59 4.709,57 11.897,85 13.137,21 217.383,72 170.288,04 1.487,23 486.820,55 36,36 Tana' Ulen/Tana' Jakah 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 7.931,90 0,00 33.214,84 743,62 41.890,36 3,13

Lahan Pertanian 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2.478,72 0,00 0,00 2.478,72 0,19 Daerah Gaharu 16.359,55 0,00 10.410,62 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 26.770,17 2,00 Daerah Pemanfaatan Bersama Tetangga 19.829,76 495,74 0,00 2.230,85 0,00 743,62 0,00 0,00 0,00 0,00 23.299,97 1,74 Padang Gembala 0,00 247,87 0,00 743,62 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 991,49 0,07

(31)

197

Tataguna Lahan

Luas Tata Guna Lahan (Ha)

Jumlah (Ha) Prosentase (%) Lumbis Krayan Hilir Mentarang Krayan Darat Krayan Tengah Krayan Hulu Tubu Hulu

Bahau Pujungan Kayan Hilir Daerah Pengambilan Gaharu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 16.607,42 0,00 0,00 0,00 0,00 16.607,42 1,24 Daerah Pengambilan Rotan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1.735,10 0,00 0,00 0,00 0,00 1.735,10 0,13 Laman Kerbau 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 991,49 0,00 0,00 0,00 0,00 991,49 0,07

Tana' Paye/Payeh (Tanah Dataran Luas)

0,00 0,00 0,00 743,62 0,00 1.239,36 0,00 0,00 0,00 0,00 1.982,98 0,15

Daerah Berburu 0,00 0,00 0,00 3.965,95 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3.965,95 0,30

Daerah Tangkapan Air 0,00 0,00 0,00 0,00 247,87 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 247,87 0,02

103.858,36 92.456,24 23.299,97 48.582,91 17.351,04 69.404,15 96.917,94 252.829,41 311.079,32 322.977,18 1.338.756,51 100,00

Sumber : diolah dari peta pemetaan desa partisipatif tahun 2006 WWWF Indonesia Kayan Mentarang Project

Keterangan: Luas wilayah adat lebih luas dari kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang

Luas lahan dihitung berdasarkan luas di atas peta

(32)

Lampiran 27.

Kesepakatan pengukuhan nilai-nilai kearifan tradsional masyarakat

adat di Taman Nasional Wasur

(33)
(34)
(35)

Lampiran 29.

Jenis, kriteria dan fungsi zona berdasarkan Peraturan Menteri

Kehutanan No. P.56/Menhut-II/2006

1.

Jenis zona

Zona dalam kawasan taman nasional terdiri dari:

a.

Zona inti;

b.

Zona rimba; Zona perlindungan bahari untuk wilayah perairan

c.

Zona pemanfaatan;

d.

Zona lain, antara lain:

1.

Zona tradisional;

2.

Zona rehabilitasi;

3.

Zona religi, budaya dan sejarah;

4.

Zona khusus.

Penataan zona taman nasional didasarkan pada potensi dan fungsi kawasan

dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial, ekonomi dan budaya.

2.

Kriteria zona

Kriteria zona inti meliputi:

a.

Bagian taman nasional yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan

dan satwa beserta ekosistemnya;

b.

Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya yang

merupakan ciri khas ekosistem dalam kawasan taman nasional yang

kondisi fisiknya masih asli dan belum diganggu oleh manusia;

c.

Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan

tidak atau belum diganggu manusia;

d.

Mempunyai luasan yang cukup dan bentuk tertentu yang cukup untuk

menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis tertentu untuk menunjang

pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis

secara alami;

e.

Mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang

keberadaannya memerlukan upaya konservasi;

f.

Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa liar beserta ekosistemnya

yang langka yang keberadaannya terancam punah;

(36)

g.

Merupakan habitat satwa dan atau tumbuhan tertentu yang prioritas dan

khas/endemik;

h.

Merupakan tempat aktivitas satwa migran.

Kriteria zona rimba meliputi:

a.

Kawasan yang merupakan habitat atau daerah jelajah untuk melindungi

dan mendukung upaya perkembangbiakan dari jenis satwa liar;

b.

Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu

menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan;

c.

Merupakan tempat kehidupan bagi jenis satwa migran.

Kriteria zona pemanfaatan meliputi:

a.

Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi

ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik;

b.

Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan

daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;

c.

Kondisi lingkungan yang mendukung pemanfaatan jasa lingkungan,

pengembangan pariwisata alam, penelitian dan pendidikan;

d.

Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangunnya sarana prasarana

bagi kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata alam, rekreasi,

penelitian dan pendidikan;

e.

Tidak berbatasan langsung dengan zona inti.

Kriteria zona tradisional meliputi:

a.

Adanya potensi dan kondisi sumberdaya alam hayati non kayu tertentu

yang telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat setempat guna

memenuhi kebutuhan hidupnya;

b.

Di wilayah perairan terdapat potensi dan kondisi sumberdaya alam hayati

tertentu yang telah dimanfaatkan melalui kegiatan pengembangbiakan,

perbanyakan dan pembesaran oleh masyarakat setempat guna memenuhi

kebutuhan hidupnya.

Kriteria zona rehabilitasi meliputi:

a.

Adanya perubahan fisik, sifat fisik dan hayati yang secara ekologi

berpengaruh kepada kelestarian ekosistem yang pemulihannya diperlukan

campur tangan manusia;

(37)

b.

Adanya invasif spesies yang mengganggu jenis atau spesies asli dalam

kawasan;

c.

Pemulihan kawasan pada huruf a dan b sekurang-kurangnya memerlukan

waktu 5 (lima) tahun.

Kriteria zona religi, budaya dan sejarah meliputi:

a.

Adanya lokasi untuk kegiatan religi yang masih dipelihara dan

dipergunakan oleh masyarakat;

b.

Adanya situs budaya dan sejarah baik yang dilindungi undang-undang

mapun tidak dilindungi undang-undang.

Kriteria zona khusus meliputi:

a.

Telah

terdapat

sekelompok

masyarakat

dan

sarana

penunjang

kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ditetapkan

sebagai taman nasional;

b.

Telah terdapat sarana prasarana antara lain telekomunikasi, fasilitas

transportasi dan listrik, sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ditetapkan

sebagai taman nasional;

c.

Lokasi tidak berbatasan dengan zona inti.

3.

Fungsi zona

Peruntukan masing-masing zona meliputi:

a.

Zona inti untuk perlindungan ekosistem, pengawetan flora dan fauna khas

beserta habitatnya yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber

plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, untuk kepentingan

penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang

budidaya.

b.

Zona rimba untuk kegiatan pengawetan dan pemanfaatan sumberdaya

alam dan lingkungan alam bagi kepentingan penelitian, pendidikan

konservasi, wisata terbatas, habitat satwa migran dan menunjang budidaya

serta mendukung zona inti.

c.

Zona pemanfaatan untuk pengembangan pariwisata alam dan rekreasi, jasa

lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang

pemanfatan, kegiatan penunjang budidaya.

(38)

d.

Zona tradisional untuk pemanfaatan potensi tertentu taman nasional oleh

masyarakat setempat secara lestari melalui pengaturan pemanfaatan dalam

rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

e.

Zona rehabilitasi untuk mengembalikan ekosistem kawasan yang rusak

menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alamiahnya.

f.

Zona religi, budaya dan sejarah untuk memperlihatkan dan melindungi

nilai-nilai hasiI karya, budaya, sejarah, arkeologi maupun keagamaan,

sebagai wahana penelitian; pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi

dan religius.

g.

Zona khusus untuk kepentingan aktivitas kelompok masyarakat yang

tinggal diwilayah tersebut sebelum ditunjuk/ditetapkan sebagai taman

nasional dan sarana penunjang kehidupannya, serta kepentingan yang tidak

dapat dihindari berupa sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan

listrik.

(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)

Lampiran 32.

Pernyataan sikap masyarakat adat Krayan terhadap keberadaan

Taman Nasional Kayan Mentarang

(50)
(51)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diatas, maka dalam penelitian ini berjudul “Peningkatan Unjuk Kerja Sistem Transmisi Komunikasi Digital Pada Penerima

SP (Surat Peringatan) diberikan kepada nasabah jika setelah dikonfirmasi nasabah tersebut belum melakukan pembayaran cicilan kredit. Hal ini juga dapat berupa

Penelitian oleh Ruthdiah Aprilia dengan judul Kontrol Kualitas Hasil Pengukuran Pihak Ketiga Pada PTSL Tahun 2017 di Kabupaten Semarang adalah bagaimana Kontrol

aegypti dari kelurahan endemis, sporadis dan potensial DBD di Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga masih rentan terhadap larvasida temephos dengan kematian jentik sebesar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehubungan dengan berakhirnya kegiatan DIPA tahun anggaran 2016. Kami telah menyelesaikan laporan akhir

Natrium selenit yang diperoleh diasamkan dengan asam sulfat sehingga menjadi asam selenit yang larut dan telurit (jika ada) akan mengendap...

Walaupun banyak turunan dalam bagian ini yang mempergunakan transformasi umum, yaitu proses yang didasarkan atas lebih dari sebuah kalimat (dasar), kami tidak memasukannya ke

Berdasarkan wawancara dan observasi yang peneliti lakukan kepada Melati, Melati juga termasuk perempuan yang kuat untuk tetap bertahan menjalani ujian yang