PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN RUANG ANGKASA UNTUK KEPENTINGAN MILITER BERDASARKAN HUKUM RUANG ANGKASA INTERNASIONAL DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP
KASUS PENGGUNAAN SATELIT KOMUNIKASI GSAT-7 UNTUK KEPENTINGAN MILITER DI INDIA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum
Universitas Islam Bandung Oleh
Nama : Amrul Fikri
NPM : 10040013178
Program Kekhususan : Hukum Internasional Dibawah Bimbingan
Dr.Neni Ruhaeni, S.H.,LL.M
FAKULTAS HUKUM
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : AMRUL FIKRI
NPM : 10040013178
Tempat/Tanggal lahir : Jakarta, 17 Maret 1995
Alamat : komplek mutiara garuda blok A8 No.14 Tangerang, Banten
Judul Skripsi : PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN RUANG ANGKASA UNTUK KEPENTINGAN MILITER BERDASARKAN HUKUM RUANG ANGKASA INTERNASIONAL DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP KASUS PENGGUNAAN SATELIT KOMUNIKASI GSAT-7 UNTUK KEPENTINGAN MILITER DI INDIA .
Apabila dikemudian hari temukan baik seluruh atau sebagian dari skripsi tersebut terdapat indikasi plagiarisme, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Unisba.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya tanpa ada paksaan dari siapa pun juga, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bandung, 31 Juli 2017
LEMBAR PENGESAHAN
Bandung, 31 Juli 2017
Disetujui Untuk Diajukan dalam Sidang Skripsi
Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung
Menyetujui, Pembimbing
(Dr. Neni Ruhaeni, SH.,LL.M.)
Diketahui Oleh: Dekan Fakultas Hukum
(Prof . Dr. Nandang Sambas , S.H., M.H.)
MOTO
Ketika kamu terjatuh, bangkitlah, ketika terjatuh lagi bangkitlah, dan ketika kamu terjatuh lagi bangkitlah, jangan pernah berhenti mencari kebenaran dan
memberikan kebaikan kepada sesama manusia. Sesungguhnya Tuhan bersama orang – orang yang sabar.
ABSTRAK
Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, Including the Moon and other Celestial Bodies 1967 (The Outer Space Treaty) merupakan perjanjian yang dibentuk oleh negara – negara peserta perjanjian untuk mengatur kegiatan penggunaan dan pemanfaatan ruang angkasa beserta benda – benda langit lainnya. Ruang angkasa memiliki sumber daya alam yang terbatas antara lain orbit, yaitu sumber daya alam yang merupakan jalur – jalur untuk pengorbitan satelit. Menurut The Outer Space Treaty, kegiatan penggunaan serta pemanfaatan benda – benda langit pada dasarnya secara eksklusif hanya untuk tujuan damai saja, sehingga bentuk kegiatan yang ditujukan untuk kepentingan militer merupakan pelanggaran atas perjanjian ini. Pada prakteknya terdapat beberapa negara yang melakukan
kegiatan keruangangkasaan yang ditujukan untuk kepentingan militer. Skripsi ini membahas permasalahan hukum dari kegiatan keruangangkasaan yang dilakukan untuk tujuan militer.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif yaitu dengan teori-teori hukum dalam praktek pelaksanaannya, penelitian yang
menggunakan sumber data sekunder dengan bahan hukum primer yaitu Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, Including the Moon and other Celestial Bodies 1967 disingkat Outer Space Treaty 1967 dan bahan hukum sekunder yaitu buku-buku, dokumen, hasil-hasil penelitian, hasil-hasil karya dari kalangan hukum, dan media online.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kegiatan manusia di ruang angkasa telah diatur didalam berbagai instrumen hukum ruang angkasa internasional. Lebih spesifiknya untuk pengaturan tentang kegiatan penggunaan dan pemanfaatan benda – benda langit yang ditujukan untuk kepentingan militer telah diatur didalam The Outer Space Treaty. Merujuk kepada aturan – aturan yang ditetapkan oleh hukum ruang angkasa internasional, kegiatan
keruangangkasaan yang dilakukan oleh India terdapat ketidaksesuaian dengan regulasi yang terdapat didalam The Outer Space Treaty dengan meluncurkan satelit GSAT-7 yaitu satelit yang diperuntukan untuk membantu komunikasi, navigasi, serta pemetaan wilayah yang ditujukan untuk kepentingan militer India, dengan demikian kegiatan tersebut termasuk kegiatan yang ditujukan untuk kepentingan militer walaupun bersifat non-agresif.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan kebaikan, rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan, shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:
“PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN RUANG ANGKASA UNTUK KEPENTINGAN MILITER BERDASARKAN HUKUM RUANG ANGKASA INTERNASIONAL DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP KASUS PENGGUNAAN SATELIT KOMUNIKASI GSAT-7 UNTUK KEPENTINGAN MILITER DI INDIA”
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian sidang sarjana untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S1) pada Bagian Hukum
dosen pembimbing dan wakil dekan 1 fakultas hukum universitas bandung yang dalam kepadatan jadwalnya masih sempat meluangkan waktu, tenaga, dan
pikirannya guna membimbing dan memberikan pengarahan yang sangat bermakna dan berharga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Serta terima kasih yang teramat tulus dan sebesar – besarnya kepada yang tercinta kedua orang tuaku Bapak RIDWAN dan Ibu SISDA BRISMA, serta kakak dan adik dari penulis yang telah memberikan do’a serta dukungan kepada penulis baik secara Materil maupun Imateril, tanpa dukungan dari keluarga penulis tidak akan bisa menjadi sosok seperti sekarang ini, memang penulis belum bisa membalas semua yang telah kalian berikan, tapi penulis akan selalu berusaha untuk membuat kalian bangga. Dalam kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Edi Setiadi, SH., MH. Selaku Rektor Universitas Islam Bandung
2. Bapak Prof. Dr. Nandang Sambas, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung.
3. Bapak Dr. M. Husni Syam, SH.,LL.M. selaku Ketua Bagian Jurusan Hukum Internasional.
4. Ibu Dr. Hj. Lina Jamilah, S.H, M.H, selaku wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung.
5. Ibu Nurul Chotidjah, S.H, MH, selaku dosen wali terbaik.
7. Bapak Arinto Nurcahyono, DRS.,M.Hum. selaku dosen yang telah membuka pikiran saya sehingga menjadi terang pikiran saya.
8. Seluruh Staf Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung, terutama tenaga pengajar dibidang kekhususan Hukum Internasional yang telah memberikan Ilmu pengetahuan dan Inspirasi penulis selama menjalani perkuliahan.
9. Seluruh Staf Administrasi Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung. 10. Kepada Grup Band Hordy Jones, terimakasih telah mewarnai dan
memberikan inspirasi kepada penulis
11. Kepada semua teman – teman penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang selalu memberikan motivasi dan inspirasi kepada penulis dan membantu penulis dalam masa kuliah dan saat penulisan skripsi ini. 12. Kepada Julinar Mutiara Dewi, terimakasih telah memberikan perhatian
dan waktu yang telah dicurahkan kepada penulis selama menempuh perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
13. Seluruh keluarga besar Fakultas Hukum Unisba angkatan 2013.
14. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelsaikan skripsi ini yang tentunya tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Akhirnya tiada kata yang sempurna kecuali Allah SWT. Penulis berharap dapat membalas apa yang telah mereka berikan, perlihatkan, dan ajarkan, semoga semua yang telah mereka berikan kepada penulis mendapat keridhoan dan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin Yaa Rabbal’alamin.
Bandung, Juli 2017
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN...i
LEMBAR PENGESAHAN...ii
ABSTRAK...iv
KATA PENGANTAR...v
DAFTAR ISI...ix
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Identifikasi Masalah...8
C. Tujuan Penelitian...8
D. Kegunaan Penelitian...8
E. Kerangka Pemikiran...9
F. Metodologi Penelitian...15
1. Metode Pendekatan...15
2. Spesifikasi Penelitian...15
3. Sumber Data...16
4. Teknik Pengumpulan Data...17
5. Teknik Analisis Data...17
BAB II TINJAUAN UMUM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM RUANG ANGKASA INTERNASIONAL MENGENAI PENGGUNAAN RUANG ANGKASA UNTUK TUJUAN DAMAI ...18
1. Tinjauan umum mengenai Kedaulatan Negara dalam hukum
Internasional...21
B. Hukum Ruang Angkasa...24
1. Pengertian dan Istilah Hukum Ruang Angkasa...24
2. Sejarah Terbentuknya Hukum Ruang Angkasa...28
3. Prinsip Umum Hukum Ruang Angkasa...31
4. Lingkup Ruang (Delimitasi) Ruang Angkasa...32
5. Instrumen Hukum Ruang Angkasa (Corpus Juris Spatialis)...36
C. Treaty on Principles Governing the Activities in the Exploration and Use of Outer Space, Including Moon and other Celestial Bodies 1967 ( The Outer Space Treaty )...47
1. Sejarah Terbentuknya The Outer Space Treaty...47
2. Ruang Lingkup The Outer Space Treaty 1967...51
3. Hal – hal yang Diatur Dalam The Outer Space Treaty 1967...52
D. Tinjauan Umum Mengenai Objek Ruang Angkasa...54
1. Definisi Satelit...54
2. Jenis Dan Fungsi Satelit...54
3. Berdasarkan Ketinggian Garis Edarnya...57
BAB III PENGGUNAAN SATELIT KOMUNIKASI GSAT-7 OLEH INDIA UNTUK KEPENTINGAN MILITER...60
A. Tujuan Militer Menurut Hukum Ruang Angkasa Internasional...60
1. Exclusively for Peaceful Purposes...61
B. Peran International Communication Union (ITU) Tentang Pengaturan Satelit Komunikasi...63
2. Layanan dan Sistem Satelit...67
3. Isu Regulasi Internasional - Penggunaan Spektrum dan Orbital Sumber daya 68 4. Tantangan Regulasi: Satelit Virtual dan Masalah Koordinasi Internasional Lainnya - Solusi Yang Memungkin...70
C. Norma, Pedoman Dan Prosedur Untuk Komunikasi Satelit Di India...72
1. Pedoman Dasar...72
2. Klasifikasi Penggunaan...73
3. Alokasi Kapasitas...74
4. Lisensi Yang Diperlukan...75
5. Kewajiban Bertanggung Jawab Untuk Masalah Lisensi...76
D. Satelit GSAT-7...77
E. Satelit GSAT-7 Untuk Kepentingan Militer...78
F. Hukum Ruang Angkasa Nasional Mengenai Penggunaan Dan Pemanfaatan Ruang Angkasa Untuk Kepentingan Militer...80
BAB IV ANALISA TERHADAP PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN RUANG ANGKASA UNTUK KEPENTINGAN MILITER BERDASARKAN HUKUM RUANG ANGKASA INTERNASIONAL DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP KASUS PENGGUNAAN SATELIT KOMUNIKASI GSAT-7 UNTUK KEPENTINGAN MILITER DI INDIA...83
A. Pengaturan Kegiatan Keruangangkasaan Yang Ditujukan Untuk Kepentingan Militer Berdasarkan Hukum Ruang Angkasa Internasional...83
B. Implementasi Pengaturan Kegiatan Keruangangkasaan Yang Ditujukan Untuk Kepentingan Militer Berdasarkan Hukum Ruang Angkasa Internasional Terhadap Kasus Penggunaan Satelit Komunikasi GSAT-7 Untuk Kepentingan Militer Di India...90
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era globalisasi telah menjadikan dunia tanpa batas (borderless world), menjadikan negara-negara terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologinya termasuk didalam bidang kerdirgantaraan dan keruangangkasaan. Wilayah udara dan ruang angkasa kini telah menjadi suatu sumber daya yang penting bagi kehidupan manusia baik bidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun pertahanan dan keamanan.
Terhadap ruang angkasa semua negara diberikan kebebasan untuk melakukan eksplorasi dan memanfaatkan ruang angkasa tanpa diskriminasi berdasarkan asas persamaan dan sesuai dengan hukum internasional. Beberapa instrumen hukum internasional yang mengatur kegiatan manusia di ruang angkasa dikenal sebagai Corpus Juris Spatialis, yang terdiri dari :
Agreement on the Rescue of Astronauts, the Return of Astronauts and the Return of Objects Launched into Outer Space 1968, yang disingkat Rescue Agreement 1968, instrumen hukum ini mengatur tentang pertolongan serta pengembalian astronot dan pengembalian benda – benda yang diluncurkan ke antariksa.
Convention on Registration of Objects Launched into Outer Space 1975, instrumen hukum ini mengatur tentang registrasi objek yang diluncurkan keruang angkasa untuk membantu mengidentifikasi objek – obek yang telah diluncurkan keruang angkasa.
Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972, instrumen hukum ini mengatur tentang tanggung jawab internasional terhadap kerugian yang disebabkan oleh benda – benda ruang angkasa.
Agreement Governing the Activities of States on the Moon and Other Celestial Bodies
Pada dasarnya, negara – negara di dunia bebas untuk melakukan akses pada benda – benda langit1. Namun didalam kebebasan untuk melakukan akses
pada benda – benda langit di ruang angkasa, negara manapun tidak dapat mengklaim kedaulatannya di ruang angkasa sesuai dengan aturan The Outer Space Treaty dalam pasal 1 yang berbunyi “eksplorasi dan penggunaan ruang
angkasa termasuk benda – benda langit lainnya, harus dilaksanakan demi ke-manfaatan dan kepentingan semua negara tanpa memandang tingkat
perkembangan ekonomi atau ilmu pengetahuan mereka dan harus menjadikannya kawasan seluruh umat manusia”.
Ruang angkasa merupakan warisan bersama umat manusia. Dengan adanya prinsip “Common Heritage of Mankind” (Warisan bagi seluruh umat manusia)2 di dalam pemanfaatan ruang angkasa, membuat negara-negara maju
yang memiliki teknologi tinggi berlomba-lomba ingin menguasai pemanfaatan kawasan ruang angkasa tersebut dengan mengorbitkan teknologi satelit buatan manusia.
Ruang angkasa merupakan sumber daya terbatas yang harus dijaga
bersama oleh umat manusia, dengan adanya The Outer Space Treaty 1967 negara-negara terikat untuk melindungi sumber daya ini dengan melakukan eksplorasi ruang angkasa hanya untuk tujuan damai3. Ruang angkasa memiliki sumber daya
ruang yaitu berupa orbit yang dapat dimanfaatkan oleh umat manusia untuk menempatkan satelit – satelit buatan manusia. Menurut Husni Nasution dalam jurnalnya tentang orbit dan ketinggiannya terdapat 3 jenis orbit4 antara lain :
Orbit Polar
Orbit Stasioner
2 The Outer Space Treaty, art.11. 3 Ibid, Preamble, para.2.
Orbit Eliptikal
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia orbit merupakan jalan yang dilalui oleh benda langit dalam peredarannya mengelilingi benda langit lain yang lebih besar gaya gravitasinya. Orbit inilah yang merupakan tempat dimana satelit – satelit buatan manusia akan mengitari bumi.
Merujuk kepada kamus besar Bahasa Indonesia, satelit adalah bintang siarah5 yang mengedari bintang siarah yang lebih besar, misalnya bulan yang
mengedari bumi. Satelit alami adalah salah satu benda ruang angkasa yang telah ada (bukan buatan manusia) yang mengorbit suatu plane, sedangkan satelit buatan adalah salah satu benda ruang angkasa buatan manusia yang mengorbit suatu planet yang dalam pembuatannya memiliki jenis dan fungsi tertentu dengan tujuan untuk kepentingan manusia.
Berdasarkan fungsi pengoperasiannya satelit terbagi menjadi beberapa macam, antara lain satelit pemantau yang digunakan untuk tujuan militer bagi negara tertentu. Berdasarkan hukum ruang angkasa internasional, pemanfaatan satelit pada dasarnya harus menjamin penggunaan ruang angkasa untuk tujuan damai.6 Berikut ini adalah bunyi dari pasal 4 The Outer Space Treaty :
“States Parties to the Treaty undertake not to place in orbit around the Earth any objects carrying nuclear weapons or any other kinds of weapons of mass
destruction, install such weapons on celestial bodies, or station such weapons in outer space in any other manner.
The Moon and other celestial bodies shall be used by all States Parties to the Treaty exclusively for peaceful purposes. The establishment of military bases, installations and fortifications, the testing of any type of weapons and the conduct of military manoeuvres on celestial bodies shall be forbidden. The use of military personnel for scientific research or for any other peaceful purposes shall not be prohibited. The use of any equipment or facility necessary for peaceful
exploration of the Moon and other celestial bodies shall also not be prohibited”. Maksud dari pasal tersebut adalah negara – negara pihak traktat berjanji tidak akan menempatkan diorbit sekeliling bumi benda – benda yang membawa senjata nuklir atau senjata perusak masal lainnya, memasang senjata tersebut pada benda – benda langit atau menempatkan sebjata tersebut dengan cara – cara lain di ruang angkasa. Bulan dan benda – benda langit lainnya harus digunakan oleh semua negara pihak traktat secara eksklusif untuk tujuan – tujuan damai. Mendirikan pangkalan, instalasi – instalasi dan benteng – benteng militer, melakukan percobaan segala jenis senjata dan tindakan manuver militer pada benda – benda langit harus dilarang. Penggunaan personil militer untuk penelitian ilmiah untuk maksud – maksud damai lainnya tidak boleh dilarang. Penggunaan setiap peralatan atau fasilitas yang diperlukan untuk tujuan eksplorasi di bulan dan benda – benda langit lainnya juga tidak boleh dilarang.7
Merujuk kepada The Outer Space Treaty dalam pasal 4 paragraf 2
penggunaan benda – benda langit yang secara eksklusif hanya untuk tujuan – tujuan damai. Oleh karena itu satelit yang diterbitkan oleh suatu Negara apabila bertujuan selain untuk militer diperbolehkan, hingga penggunaan personel militer untuk penelitian ilmiah ataupun untuk maksud – maksud damai tidak dilarang. Yang merupakan pelarangan atas akses benda – benda langit dalam hal ini ialah
segala bentuk penggunaan benda – benda langit dengan maksud – maksud atau tujuan militer.8 Namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa Negara yang
melanggar isi dari traktat tersebut dengan muluncurkan satelit yang dimaksudkan untuk tujuan-tujuan militer.
India merupakan anggota dari the outer space treaties 19679, meskipun
tergolong pendatang baru dalam kompetisi ruang angkasa, program antariksa India telah menorehkan beberapa terobosan teknologi yang signifikan dan secara simultan mengembangkan reputasinya10 di bidang keruangangkasaan. India
melalui Indian Space Research Organisation (ISRO) telah meluncurkan beberapa seri satelit yang mereka usung ke orbit antara lain satelit seri GSAT11. Diantara
seri – seri satelit yang telah ISRO luncurkan, seri satelit GSAT-7 yang diluncurkan bersama rangkaian peluncuran Ariane-5 pada tanggal 30 Agustus 2013 silam merupakan satelit komunikasi canggih yang dibangun oleh ISRO untuk menyediakan berbagai spektrum layanan dari bit rate suara rendah ke bit rate suara tinggi tingkat komunikasi data.12 Komunikasi GSAT-7 payload dirancang
untuk memberikan kemampuan komunikasi untuk penggunanya di atas wilayah laut yang luas termasuk tanah India13. Pengguna satelit yang dimaksud dilakukan
oleh angkatan laut India guna memantau wilayah India serta untuk membantu
8 The Outer Space Treaty, loc.cit.
9 United Nations Office For Disarmament Affairs, diakses dari
http://disarmament.un.org/treaties/t/outer_space, pada tanggal 25 Maret 2017 pukul 21:40. 10 National Geographic Indonesia, “India Melaju dengan Ambisi Luar Angkasa”, diakses dari
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/06/india-melaju-dengan-ambisi-luar-angkasa, pada tanggal 25 Maret 2017 pukul 20:11.
11 ISRO Satelit Center, “SALIENT FEATURES OF GSAT-7”, diakses dari
http://www.isac.gov.in/communication/index.jsp, pada tanggal 25 Maret 2017 pada pukul 20:35 12 Departement of Space ISRO, “GSAT-7”, diakses dari http://isro.gov.in/Spacecraft/gsat-7, pada tanggal 25 Maret 2017 pukul 21:01.
komunikasi antara angkatan laut, kapal selam, pesawat udara serta angkatan darat India untuk mendapatkan informasi penting tentang pergerakan yang ada
diwilayah India14.
Pengaturan yang terdapat didalam The Outer Space Treaty tidak
menjelaskan apa yang dimaksud dengan peaceful purposes dalam kegiatan yang ditujukan untuk penggunaan militer di ruang angkasa.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis sangat tertarik untuk membahas masalah penggunaan dan pemanfaatan ruang angkasa untuk tujuan militer dengan judul “PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN RUANG ANGKASA UNTUK KEPENTINGAN MILITER BERDASARKAN HUKUM RUANG ANGKASA INTERNASIONAL DAN
IMPLEMENTASINYA TERHADAP KASUS PENGGUNAAN SATELIT KOMUNIKASI GSAT-7 UNTUK KEPENTINGAN MILITER DI INDIA”.
B. Identifikasi Masalah
1. Bagaimana pengaturan kegiatan keruangangkasaan yang ditujukan untuk kepentingan militer berdasarkan Hukum Ruang Angkasa Internasional ?
2. Bagaimana implementasi pengaturan kegiatan keruangangkasaan yang ditujukan untuk kepentingan militer berdasarkan Hukum Ruang Angkasa Internasional terhadap kasus penggunaan satelit komunikasi GSAT-7 untuk kepentingan militer di India?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan kegiatan keruangangkasaan yang ditujukan untuk kepentingan militer menurut Hukum Ruang Angkasa Internasional.
2. Untuk mengetahui bagaimana implementasi pengaturan kegiatan keruangangkasaan yang ditujukan untuk kepentingan militer berdasarkan Hukum Ruang Angkasa Internasional terhadap kasus penggunaan satelit komunikasi GSAT-7 untuk kepentingan militer di India.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran atau memberikan solusi dalam bidang hukum internasional ruang angkasa terkait dengan satelit yang digunakan untuk tujuan militer yang ada di India. Dengan demikian pembaca atau calon peneliti lain akan semakin mengetahui tentang bagaimana pengaturan tentang kegiatan Negara – negara dalam eksplorasi dan penggunaan antariksa termasuk bulan dan benda – benda langit lainnya.
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan penelitian dalam rangka meningkatkan kualitas penerapan hukum internasional khususnya dalam masalah hukum ruang angkasa.
E. Kerangka Pemikiran
Pokok bahasan dalam tulisan ini berhubungan dengan pelanggaran Negara dalam penggunaan satelit yang ditujukan untuk militer menurut The Outer Space Treaty 1967. Oleh karena itu, agar proses penulisan hukum terarah, penulis menggunakan teori hukum internasional dan hukum ruang angkasa.
Menurut Mochtar Kusumaatmadja, bahwa hukum internasional adalah seluruh kaidah dan asas yang mengatur hubungan yang melintasi batas-batas antarnegara. Hubungan yang melintasi batas – batas negara (hubungan
negara maupun negara dengan subjek hukum internasional lainnya bukan
negara.15 Berdasarkan pengertian di atas unsur-unsur dari hukum internasional itu
adalah adanya aturan yang mengatur mengenai hubungan-hubungan negara dengan negara sebagai subjek hukum internasional ataupun dengan subjek hukum internasional lainnya. Hubungan antar subjek internasional tentu memerlukan suatu instrumen hukum untuk dapat mengawasi dan membatasi setiap tindakan subjek hukum internasional. Salah satu instrumen hukum internasional itu adalah perjanjian internasional, adapun pengertian perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa – bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu.16
Perjanjian internasional memiliki dua macam bentuk. Yaitu, bilateral dan multilateral hal ini tergantung dari tujuan dibentuknya perjanjian itu sendiri, perjanjian biasanya diadakan untuk mengatur syarat-syarat dari negara yang berkepentingan ketika mengadakan suatu hubungan ataupun adanya suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara ataupun fenomena itu merupakan suatu masalah yang menjadi perhatian masyarakat internasional, maka diperlukan kerjasama dalam bentuk perjanjian agar masalah tersebut dalam diselesaikan. Karena perjanjian pada prakteknya bukan hanya mengikat bagi negara-negara yang terikat dalam perjanjian tersebut, namun juga akibat dari perjanjian ini mengikat bagi negara-negara di luar perjanjian tersebut terutama perjanjian yang berkaitan atau mengandung prinsip-prinsip umum hukum internasional.
Negara – negara telah melakukan beberapa kesepakatan dalam melakukan kegiatan di ruang angkasa, di antaranya yang berkaitan dengan pengeksplorasian dan pemanfaatan benda – benda langit, tanggung jawab negara atas benda – benda langit yang diluncurkan, registrasi terhadap benda – benda langit yang
diluncurkan, yang selanjutnya dikenal sebagai hukum ruang angkasa internasional.
Menurut John C. Cooper, Hukum Ruang Angkasa adalah hukum yang ditujukan untuk mengatur hubungan antar negara-negara, untuk menentukan hak – hak dan kewajiban - kewajiban yang timbul dari segala aktivitas yang tertuju kepada ruang angkasa dan di ruang angkasa – dan aktivitas itu demi kepentingan seluruh umat manusia, untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan, terrestrial dan non-terrestrial, di manapun aktivitas itu dilakukan17. Ruang angkasa
dipandang sebagai suatu keseluruhan yang utuh, yang dalam lingkupnya mencakup benda – benda langit lainnya.
Berkaitan dengan hukum ruang angkasa, The Outer Space Treaty
merupakan traktat yang dibuat dengan tujuan untuk mengatur hak, kewajiban, dan larangan bagi negara – negara dalam melaksanakan kegiatan eksplorasi dan penggunaan ruang angkasa, termasuk bulan dan benda – benda langit lainnya.
Kegiatan eksplorasi dan penggunaan ruang angkasa harus dilaksanakan demi untuk kemanfaatan dan kepentingan semua negara tanpa memandang tingkat ekonomi atau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara.
Traktat ini juga dibuat untuk membebankan kepada setiap negara untuk
pertanggungjawaban setiap negara pihak atas kegiatan ruang angkasa nasionalnya. Terdapat pula beberapa konvensi yang mengatur tentang ruang angkasa (corpus juris spatialis), yaitu:
Convention on Registration of Objects Launced into Outer Space 1975
Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972
Agreement Governing the Activities of States on the Moon and Other Celestial Bodies
Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies 1967 disingkat The Outer Space Treaty 1967
Agreement on the Rescue of Astronauts, the Return of Astronauts and the Return of Objects Launched into Outer Space 1968
keamanan internasional serta untuk memajukan kerja sama dan saling pengertian internasional.18 4 instrumen hukum lainnya merupakan instrumen yang
menjabarkan ketentuan pokok dalam The Outer Space Treaty.
Ketika sebuah benda – benda langit buatan manusia antara lain satelit yang dioperasikan oleh praktisi milliter tanpa tujuan militer tidak menimbulkan
masalah dalam aturan yang terdapat didalam The Outer Space Treaty 1967. Hal yang menjadi masalah adalah ketika benda – benda langit yaitu satelit buatan manusia digunakan untuk tujuan militer.
Terdapat beberapa kegiatan manusia di ruang angkasa dengan tujuan damai, antara lain untuk kegiatan eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa untuk penelitian ilmiah, penempatan satelit, membantu navigasi dan lain
sebagainya. Seiring berkembangnya zaman, terdapat peningkatan – peningkatan berikutnya dimana kegiatan keruangangkasaan sudah bersifat komersial dengan wujud Space Tourism, space tourism adalah wahana dimana seseorang atau sekumpulan orang membayar sejumlah uang kepada suatu perusahaan penyedia jasaperjalanan ke ruang angkasa lalu kembali ke Bumi.19
Merujuk kepada ketentuan Pasal 4 The Outer Space Treaty mengenai larangan penggunaan ruang angkasa untuk tujuan militer, yang dimaksud dengan tujuan militer adalah mendirikan pangkalan – pangkalan, instalasi – instalasi, dan benteng – benteng militer, melakukan percobaan segala jenis senjata dan tindakan
18 The Outer Space Treaty, art.3.
19 Pebri Tuwanto, “Komersialisasi Ruang Angkasa dalam Space Tourism”,
manuver militer terhadap benda – benda langit.20 Setiap objek yang diluncurkan
oleh suatu negara harus didaftarkan kepada Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa – bangsa.21 Negara – negara yang meluncurkan benda – benda langit yang dapat
menyebabkan kerusakan serius harus mempertimbangkan supaya secepat mungkin memberikan bantuan yang sesuai kepada negara yang menderita kerugian tersebut.22
Pengorbitan GSAT-7 yang dilakukan oleh ISRO merupakan satelit bertujuan untuk pemantauan wilayah laut dan darat serta komunikasi antara angkatan laut, kapal selam, angkatan udara meliputi angkatan darat India pula. Hal – hal tersebut diatas merupakan sebuah manuver militer yang dimaksudkan didalam pasal 4 The Outer Space Treaty. Negara India merupakan anggota dari The Outer Space Treaty 1967.
Dengan demikian aspek hukum yang terkait didalam The Outer Space Treaty telah dilanggar didalam pasal 4 yang berbunyi :
“Bulan dan benda – benda langit lainnya harus digunakan oleh semua Negara Pihak Traktat secara eksklusif untuk tujuan – tujuan damai. Mendirikan pangkalan – pangkalan, instalasi – instalasi dan benteng – benteng militer, melakukan percobaan segala jenis senjata dan tindakan manuver militer pada benda – benda langit harus dilarang23”.
20 Lapan, op.cit, hlm.14.
21 Convention on Registration of Objects Launched into Outer Space 1975. Art.2.
Teknologi yang semakin berkembang dibidang keantariksaan membuat Negara – negara saling berlomba – lomba untuk menjadi yang terkuat diruang angkasa. Dengan semakin banyaknya pemantauan wilayah dan komunikasi yang dilakukan dan dengan tujuan militer haruslah dilarang untuk menghindari
timbulnya ancaman maupun gangguan terhadap perdamaian dunia24.
F. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah:
1. Metode Pendekatan
Mengacu pada judul dan perumusan masalah, maka penelitian ini termasuk kedalam kategori penelitian yang menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan – bahan tersebut disusun secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti.
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis, yaitu mengungkapkan peraturan perundang-undangan maupun instrumen Hukum Internasional yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian.
3. Sumber Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, yaitu data atau informasi hasil penelaahan dokumen penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya.
Menurut Soerjono Soekanto, data sekunder di bidang hukum ditinjau dari kekuatan mengikatnya dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, yang dalam hal ini adalah :
Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, Including the Moon and other Celestial Bodies 1967 disingkat Outer Space Treaty 1967
Convention on Registration of Objects Launced into Outer Space 1975
Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972
b. Bahan Hukum Sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti :
Hasil karya ilmiah para sarjana
Hasil – hasil penelitian
c. Bahan Hukum Tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, misalnya bahan dari media internet dan sebagainya.
4. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan metode pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini yang merupakan penelitian yuridis normatif, maka untuk memperoleh data yang mendukung, kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara pengumpulan (dokumentasi) data-data sekunder. Teknik pengumpulan data-data dilakukan dengan studi kepustakaan untuk mengumpulkan dan menyusun data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
5. Teknik Analisis Data
BAB II
TINJAUAN UMUM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM
RUANG ANGKASA INTERNASIONAL MENGENAI
PENGGUNAAN RUANG ANGKASA UNTUK TUJUAN DAMAI
A. Hukum Ruang Angkasa sebagai Hukum Internasional
Hukum ruang angkasa internasional merupakan salah satu bentuk hukum internasional, karena instrumen hukum ruang angkasa pada internasional
merupakan hasil kesepakatan masyarakat internasional baik dalam bentuk perjanjian internasional maupun resolusi – resolusi internasional. Dengan demikian, pembahasan tentang hukum internasional merupakan hal yang perlu dilakukan. Pemahaman hukum Internasional dengan baik sangat penting dalam menghadapi suatu masalah yang berhubungan dengan hukum Internasional.
Pengertian hukum Internasional diberikan oleh para ahli sebagai berikut :
Oppenheim : mendefinisikan hukum internasional adalah hukum bangsa-bangsa atau sebagai suatu sebutan untuk sekumpulan aturan-aturan kebiasaan dan traktat yang secara hukum mengikat negara-negara dalam hubungan mereka satu dengan yang lainnya.25
J.L Brierly menggunakan istilah Hukum Internasional atau Hukum bangsa-bangsa, mendefinisikannya sebagai sekumpulan aturan-aturan
dan prinsip tindakan yang mengikat atas negara-negara yang beradab dalam hubungan mereka satu dengan yang lainnya. Mochtar
Kusumaatmadja mengatakan bahwa hukum Internasional adalah seluruh kaidah dan asas yang mengatur hubungan yang melintasi batas-batas antarnegara. Hubungan yang melintasi batas-batas negara (hubungan internasional) tersebut dapat terjadi baik hubungan yang diadakan negara dengan negara maupun negara dengan subjek hukum internasional lainnya bukan negara satu sama lain.
Hukum internasional juga merupakan sistem hukum yang terintegrasi secara horizontal. Satu negara atau organisasi internasional maupun subjek hukum internasional lainnya berelasi satu sama lain. Negara merupakan subjek hukum internasional dalam arti klasik dan telah demikian halnya sejak lahirnya hukum internasional. Singkatnya, fakta bahwa negara memiliki personalitas internasional maka negara tunduk pada ketentuan hukum internasional.
Sumber hukum internasional diatur dalam Pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional terdiri atas.26
Perjanjian internasional (international conventions), baik yang bersifat umum maupun khusus.
Kebiasaan internasional (international custom), sebagai bukti dari suatu kebiasaan umum yang telah diterima sebagai hukum.
Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law), yang diakui oleh negara-negara beradab (recognized by civilized nation).
Keputusan pengadilan (judicial decisions)
pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya (teaching of the most highly qualified publicist) sebagai sumber tambahan untuk menetapkan kaidah hukum internasional.
Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa yang bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu. Perjanjian Internasional antar negara-negara yang dinyatakan dalam bentuk tertulis dan diatur oleh hukum internasional, entah itu termuat dalam satu atau lebih dokumen ataupun tujuanyang di kandungnya. Perjanjian internasional ada kalanya dinamakan traktat (treaty), pakta (pact), konvensi (convention), piagam (charter), statuta (statute), deklarasi (declaration), protokol (protocol), persetujuan (agreement), perikatan (arrangement), accord, modus vivendi, covenant, dan sebagainya. Secara yuridis semua istilah ini tidak mempunyai arti tertentu, dengan perkataan lain secara umum dapat disimpulkan memiliki makna yang sama.27
Hukum ruang angkasa merupakan hukum internasional yang bersumber pada beberapa perjanjian internasional dimana pelaksanaannya bergantung kepada ketentuan negara terhadap pelaksanaan hukum internasional tersebut berdasarkan prinsip kedaulatan negara.
1. Tinjauan umum mengenai Kedaulatan Negara dalam hukum Internasional
Sebagai subjek hukum internasional, Negara memiliki kedaulatan yang diakui oleh hukum internasional. Kedaulatan suatu negara dimaknai sejauh mana Negara memiliki kewenangan dalam kebijakan dan kegiatan dalam menjalankan kebijakan dan kegiatan dalam wilayah Negaranya melaksanakan hukum nasionalnya.
Kedaulatan sendiri ialah kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh suatu negara untuk secara bebas melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan kepentingannya asal saja tidak bertentangan dengan hukum
internasional28, kedaulatan memiliki tiga aspek utama yaitu : ekstern,
intern, dan teritorial.
a. Aspek ekstern kedaulatan adalah hak bagi setiap negara untuk secara bebas menentukan hubungannya dengan berbagai negara atau kelompok-kelompok lain tanpa kekangan, tekanan atau pengawasan dari negara lain.29
b. Aspek intern kedaulatan ialah hak atau wewenang eksklusif suatu negara untuk menentukan bentuk-bentuk lembaganya, cara kerja
28 Nkambo Mugerwa, Subjects of International Law, New York, 1968, hlm. 253, dalam Boer Mauna, op.cit, hlm. 24.
lembaga-lembaga tersebut dan hak untuk membuat undang-undang yang diinginkannya serta tindakan-tindakan untuk mematuhi.30
c. Aspek territorial kedaulatan berarti kekuasaan penuh dan eksklusif yang dimiliki oleh negara atas individu-individu dan benda-benda yang terdapat di wilayah tersebut.
Disamping itu, kedaulatan juga memiliki pengertian negatif dan positif.31
a. Pengertian negatif
1) Kedaulatan dapat berarti bawah negara tidak tunduk pada
ketentuan-ketentuan hukum internasional yang mempunyai status yang lebih tinggi
2) Kedaulatan berarti bahwa Negara tidak tunduk pada kekuasaan apapun dan dari manapun datangnya tanpa persetujuan negara yang bersangkutan.
b. Pengertian positif
1) Kedaulatan memberikan kepada titulernya yaitu negara pimpinan tertinggi atas warga negaranya. Ini yang dinamakan wewenang penuh dari suatu negara,
2) Kedaulatan memberikan wewenang kepada Negara untuk mengeksploitasi sumber-sumber alam wilayah nasional bagi kesejahteraan umum masyarakat banyak. Ini yang disebut kedaulatan permanen atas sumber-sumber kekayaan alam.
Namun, perlu dicatat bahwa berkembangnya organisasi-organisasi internasional apalagi yang bersifat supranasional,
30 kedaulatan yang bersifat internal (Interdependence dan domestic sovereignty), lihat Husni Syam, http://husnisite.wordpress.com/2012/04/14/pengaruh-globalisasi-terhadap- kedaulatan-negara/.
kedaulatan tidak dapat lagi dikatakan secara absolut. Keanggotaan suatu organisasi banyak sedikitnya telah membatasi kedaulatan negara tersebut.32 Hak dan kewajiban yang timbul sebagai konsekuensi bagi
suatu negara ketika mengikatkan diri dalam suatu organisasi
internasional dalam suatu perjanjian internasional memberi dampak terhadap kedaulatan negara terkait sehingga menimbulkan tanggung jawab negara terhadapnya.
Tanggung jawab negara merupakan suatu prinsip
fundamental dalam hukum internasional yang bersumber dari doktrin kedaulatan dan persamaan hak antar negara.33 Hukum tentang
tanggung jawab negara adalah hukum mengenai kewajiban negara yang timbul manakala negara telah atau tidak melakukan suatu tindakan.
G. Hukum Ruang Angkasa
1. Pengertian dan Istilah Hukum Ruang Angkasa
Hukum Ruang Angkasa adalah sebuah wilayah dari hukum yang mengatur aktivitas pemerintahan negara dan hukum
internasional di ruang angkasa.
Beberapa pengertian hukum ruang angkasa menurut para ahli :
32 Boer Mauna, op.cit, hlm.25.
a. Priyatna Abdurrasyid, hukum Antariksa adalah hukum yang mengatur ruang angkasa dengan segala isinya atau hukum yang mengatur ruang yang hampa udara (outer space).34
b. T.May Rudy, hukum ruang angkasa adalah hukum yang ditujukan untuk mengatur hubungan antar negara-negara untuk menentukan hak-hak dan kewajiban yang timbul dari segala aktivitas yang tertuju pada ruang angkasa dan demi seluruh umat manusia, untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan, terrestrial dan non-terrestial, dimana pun aktivitas itu dilakukan.35
c. John C. Cooper, hukum ruang angkasa adalah hukum yang ditujukan untuk mengatur hubungan antar negara-negara, untuk menentukan hakhak dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari segala aktivitas yang tertuju kepada ruang angkasa dan di ruang angkasa – dan aktivitas itu demi kepentingan seluruh umat manusia, untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan, terrestrial dan non-terrestrial, dimana pun aktivitas itu dilakukan.36
Mengenai istilah – istilah didalam hukum ruang angkasa internasional Ernest NYS merupakan orang pertama yang
menggunakan istilah khusus bagi bidang ilmu hukum untuk ruang udara ini. Istilah yang ia gunakan ialah “Droit Aerien” dan dipakainya di dalam laporan-laporannya kepada Institute de Droit Internationale pada rapat di tahun 1902 dan kemudian di dalam tulisan- tulisan
34 Priyatna Abdurrasyid, Hukum Ruang Angkasa Nasional Penempatan dan Urgensinya,
Rajawali Pers, Jakarta, 2007, hlm 183.
35 T. May Rudy, Hukum Internasional 2, Refika Aditama, Bandung, 2001, hlm. 51.
ilmiahnya. Oleh karena itu, istilah-istilah yang ditemukan sebelum tahun 50-an dan sesudahnya ialah misalnya istilah “Luchtrecht, Luftrecht atau Air Law ” yang banyak digunakan orang.37
Di Indonesia sendiri dipakai istilah hukum udara, istilah yang telah membaku di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran sejak tahun 1963. Setelah Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit
buatannya yang pertama maka timbullah istilah hukum yang lebih luas lagi, yakni Air and Space Law, Lucht en Ruimte Recht atau Hukum Angkasa. Ada pula digunakan orang istilah “Aerospace Law”. Semua istilah ini memang menunjukkan adanya suatu bidang ilmu hukum yang mempersoalkan berbagai macam pengaturan terhadap medium ruang.
Istilah hukum ruang angkasa dianggap lebih tepat daripada penggunaan istilah Hukum Antariksa, karena masih belum jelas apa yang dimaksud dengan antariksa. Secara garis besar dapat dikatakan, untuk ilmu hukum ini dipakai istilah “Hukum Angkasa”, “Air and Space Law” di Kanada, “Aerospace Law” di Amerika Serikat, “Lucht en Ruimte Recht” di Belanda, “Droit Aerien et de l’espace” di
Perancis, “Luft und Weltraumrecht” di Jerman, yang mencakup dua bidang ilmu hukum dan mengatur 2 sarana wilayah penerbangan yakni hukum udara yang mengatur sarana penerbangan di ruang udara yaitu ruang di sekitar bumi yang berisi gas-gas udara. Kemudian
hukum ruang angkasa yakni hukum yang mengatur ruang yang hampa udara (outer Space).38
Seringkali istilah ruang angkasa ini (outer Space)
dicampuradukkan dengan istilah angkasa luar atau antariksa. Secara legalistis, dapat disimpulkan bahwa antariksa itu ialah ruang angkasa dengan segala isinya. Tata surya kita secara geografis yuridis dapat kita klasifikasikan sebagai berikut:39
a. Ruang udara ialah ruang di sekitar bumi yang berisikan gas-gas udara yang dibutuhkan manusia demi kelangsungan hidupnya. b. Ruang angkasa mempunyai arti sebagai berikut:
1) Ruang angkasa yakni ruang yang kosong/hampa udara (aero space) dan berisikan langit.
2) Bulan dan benda-benda atau planet-planet lainnya. 3) Orbit geostasioner (Geo Stationary Orbit - GSO).
Hukum ruang angkasa adalah hukum yang ditujukan untuk mengatur hubungan antar negara, untuk menentukan hak – hak dan kewajiban – kewajiban yang timbul dari segala aktivitas yang tertuju kepada ruang angkasa dan di ruang angkasa aktivitas itu demi kepentingan seluruh umat manusia, untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan, terrestrial dan non terrestrial, dimana pun aktifitas itu dilakukan.40
Dalam definisi yang terakhir itu ruang angkasa dipandang sebagai suatu keseluruhan yang utuh, yang dalam lingkupnya
mencakup bendabenda langit lainnya. Juga terdapat definisi Hukum Angkasa (Aerospace Law) yang berusaha untuk mencakup kedua bidang ilmu hukum itu, secara gabungan menjadi bagian hukum tunggal. Karena itulah, dalam sebuah glossary yang diterbitkan tahun 1955 oleh Research Studies Institutes pada Maxwell Air Force Base, dapat ditemui sebuah definisi istilah “aerospace”. Istilah tersebut didukung oleh mereka yang berkeyakinan bahwa Hukum Udara dan Ruang Angkasa hanya disatukan dalam suatu cabang hukum tunggal, karena bidang tersebut mewakili bidang hukum yang secara langsung maupun tidak langsung berlaku pada penerbangan-penerbangan yang dilakukan manusia.
6. Sejarah Terbentuknya Hukum Ruang Angkasa
Proses pembentukan hukum ruang angkasa didasarkan terutama kepada hukum internasional. Oleh karena itu, peranan hukum internasional sangat menentukan. Hukum internasional yang berlaku dapat diterapkan pada bagian-bagian yang masih kurang atau belum diatur oleh hukum ruang angkasa.41
Status hukum ruang angkasa merupakan karya yang paling baru, karena hanya berkembang semenjak permulaan tahun 1960-an. Hukum antariksa pada umumnya bersifat orisinil jika ditinjau dari
kondisi bagaimana lahirnya hukum ini, selain itu hukum ruang
angkasa juga bersifat klasik jika dilihat dari karakteristik pokok rezim yuridiknya seperti halnya dengan rezim yuridik laut lepas.42
Proses pembentukan hukum ruang angkasa didasarkan terutama kepada hukum internasional. Pembentukan hukum ruang angkasa ini ditandai dirumuskannya kesepakatan - kesepakatan atas sekumpulan prinsip-prinsip dasar segera sesudah peluncuran satelit pertama Sputnik I oleh Uni Soviet pada bulan Oktober 1957, dan kemudian disusul oleh peluncuran manusia pertama ke ruang angkasa pada tahun 1961.43 Oleh karena itu, peranan hukum internasional
sangat menentukan.
Proses pembentukan hukum ruang angkasa bergerak ke arah dua tahap. Tahap pertama ditandai oleh pengajuan serentetan resolusi oleh Majelis Umum PBB. Resolusi ini meliputi petunjuk-petunjuk dan cara-cara meningkatkan kerja sama internasional serta penetapan prinsip-prinsip dasar tentang pengaturannya.
Sebagai tahapan selanjutnya dari pembentukan hukum ruang angkasa ini adalah dengan diterimanya deklarasi prinsip-prinsip hukum untuk mengatur kegiatan-kegiatan negara di ruang angkasa yang berhubungan dengan penyelidikan dan penggunaan ruang
42 Boer Mauna, Hukum Internasional : Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, PT. Alumni, Bandung, 2008, hlm. 438.
angkasa.44 Hukum Udara dan Ruang Angkasa merupakan bagian
komponen dari Hukum Angkasa, untuk itu perlu diteliti apa-apa saja yang merupakan bagian dari/ruang lingkup dari hukum ruang angkasa, yakni:45
a. Sifat dan luas wilayah di ruang angkasa dimana hukum angkasa diterapkan dan berlaku.
b. Bentuk kegiatan manusia yang diatur di ruang tersebut. c. Bentuk peralatan penerbangan seperti pesawat udara dalam
penerbangan di ruang udara dan pesawat ruang angkasa untuk ruang angkasa yang mempunyai sangkut-paut dan diatur oleh hukum ruang angkasa, atau dengan perkataan lain segala peralatan penerbangan yang menjadi objek hukum ruang angkasa.
Hukum ruang angkasa sebagai salah satu cabang dari ilmu hukum yang relatif muda, oleh para ahli hukum maupun masyarakat internasional dirasakan perlu untuk lebih dikembangkan.
Pengembangan yang dilakukan bertujuan agar hukum angkasa dapat menjadi cabang ilmu hukum yang dapat mengantisipasi kemajuan teknologi yang sangat pesat.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut antara lain dengan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang timbul dari ditemukannya dimensi ruang angkasa hingga
44 Ibid, hlm.23.
menelaah berbagai dampak hukum atas dimanfaatkannya dimensi tersebut oleh manusia. Hal inilah yang mendasari adanya pembagian hukum angkasa itu sendiri secara umum pada saat ini.
Kegiatan negara-negara di bidang eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa dengan peluncuran berbagai satelit ke ruang angkasa dengan cepat telah menambahkan berbagai kegiatan seperti pengawasan wilayah-wilayah yang dilintasi, pencarian sumber-sumber daya alam, darat, dan laut, serta siaran radio dan televisi langsung, hubungan telepon, penentuan posisi kapal-kapal,
metereologi , observasi astronomi dan berbagai eksperimen lainnya.
7. Prinsip Umum Hukum Ruang Angkasa
Hukum ruang angkasa merupakan hukum intemasional, dengan demikian prinsip-prinsip dalam hukum intemasional menjadi sumber hukum baginya.46 Prinsip-prinsip itu adalah :
1. Prinsip "pacta sunt servanda" dimana suatu perjanjian harus ditaati, karena bila tidak demikian, maka konvensi-konvensi intemasional tidak ada gunanya.
2. Prinsip bahwa semua negara berdaulat dan sederajat, dalam arti bahwa setiap negara bagaimanapun kecilnya atau kurang dalam materi dan penguasaan teknologi, akan tetapi mempunyai hak untuk berdiri sendiri, sama tingginya dengan negara lain atas dasar saling menghormati.
3. Prinsip bahwa setiap negara berhak untuk membela dirinya bila ia diserang, dan berhak untuk melindungi diri demi
keselamatan dan keamanannya.
4. Prinsip bahwa setiap negara berhak atas sumber-sumber alamnya.
8. Lingkup Ruang (Delimitasi) Ruang Angkasa
Ruang merupakan dasar untuk menentukan suatu sistem hukum. Sehubungan dengan ini ruang angkasa merupakan jenis ruang yang baru dikenal dan yang paling menonjol ialah luas yang pada kenyataannya melampaui segala ukuran yang ada di dalam suatu kerangka hukum dan hubungan fisiknya dengan bumi kita.47
Permasalahan mengenai sampai sejauh mana suatu negara berdaulat atas ruang udara diatas wilayahnya mulai muncul sejak Perang Dunia I, namun pasca Perang Dunia II persoalan justru
mengarah ke arah yang lebih jauh , yakni ruang angkasa (outer space).
Dalam hukum ruang angkasa berlaku prinsip kebebasan yang tercantum dalam Outer Space Treaty 1967 . Traktat Ruang Angkasa 1967 ini disahkan sepuluh tahun setelah Uni Soviet mengorbitkan Sputnik I.
Prinsip kebebasan dalam Space Treaty 1967 itu terangkum dalam kalimat :
“ Ruang angkasa termasuk bulan dan benda-benda langit lain, bebas untuk dieksplorasi dan pemanfaatan oleh setiap negara dan ruang angkasa termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya itu tidak dapat dimiliki oleh negara-negara manapun juga, dengan alasan pemakaian atau pendudukan atau dengan cara apapun”.48
Hal ini berarti bahwa ruang angkasa termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya bebas untuk dimanfaatkan. Akan tetapi, kepemilikan atas ruang angkasa dan benda-benda langit lainnya tidak dibenarkan.
Hukum udara internasional mengenal beberapa teori delimitasi ruang udara dan ruang angkasa. Antara lain Schater Air Space Theory diperkenalkan oleh Oscar Scahater. Jenks Free Space Theory (teori ruang angkasa bebas) diperkenalkan oleh C Wilfred Jenks, Haley’s International Unanimity Theory (teori persetujuan internasional) diperkenalkan oleh Andrew G. Haley dan Cooper’s Control Theory (teori pengawasan) diperkenalkan oleh John Cobb Cooper.49
Banyaknya para ahli memberikan argumentasi keilmuan tentang delimitasi ruang udara dan ruang angksa. Mereka memberikan warna tersendiri dan pemahaman yang mendalam serta teliti. Pendapat mereka dijadikan sebagai doktrina (pendapat para ahli hukum)
sebagaimana tertera dalam pasal 38 Statuta Mahkamah Pengadilan
48 Outer Space Treaty, Treaty on Principles Governing the Activity in the Exploration and Use for Outer Space, Including Moon and Other Celestial Bodies.
Internasional yang dijadikan sebagai sumber hukum formil bagi para hakim dalam memutus sebuah perkara hukum.
Namun ada juga beberapa teori yang dilahirkan dari organisasi internasional, perjanjian internasional, cara bekerja sebuah pesawat angkasa, cara bekerja transmisi gelombang radio, teori orbit satelit. Antara lain :
1. Teori ICAO (International Civil Aviation Organization). Teori ini berdasarkan pada bunyi konvensi Chicago tahun 1944 dengan segenap annex-nya yang menggunakan batas berlakunya ketentuan hukum udara internasional. Dimulai batas maksimum yang dapat dipakai oleh pesawat udara (aircraft) dengan mendefinisikan pesawat udara sebagai”. Setiap alat yang mendapat gaya angkat aerodinamis di atmosfir karena reaksi udara (any machine can derive support in the atmosphere from the reaction of the air). Konvensi ini tidak menyebutkan secara jelas dan pasti batas ketinggian kedaulatan suatu negara atas ruang udaranya. Dapat dikatakan bahwa ruang angkasa dimulai pada saat tidak ada reaksi udara menurut teknologi penerbangan berkisar 25 mil sampai 30 mil dari permukaan bumi atau sekitar 60.000 kaki.
batas tersebut melainkan kembali memantul ke bumi 22 ketinggian berdasarkan teori berkisar 150 mil sampai 300 mil dari permukaan bumi.
3. Teori Outer Space Treaty 1967. Teori ini memberi batas antara ruang udara dan ruang angkasa berdasarkan teori titik terendah orbit suatu satelit atau suatu space objects. Pembatasan teori outer space treaty bersifat tidak pasti. Hal ini bergantung pada
karakteristik suatu satelit buatan dan kepadatan atmosfir di suatu orbit pada waktu tertentu. Menurut teori ini, ruang angkasa dimulai pada ketinggian 80 Km diatas permukaan bumi yang merupakan batas ketinggian minimum (lower limit) dari suatu orbit satelit. 4. Teori GSO (Geo Stationary Orbit). Teori ini dipakai oleh
negara-negara “kolong” dimana negara-negaranya dilalui garis khatulistiwa termasuk Indonesia untuk memperjuangkan klaim hak-hak berdaulat, mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alam di ruang angkasa yang berbentuk cincin ketinggian berkisar 36.000 km dari permukaan bumi. Teori ini lahir dari kegigihan perjuangan negara-negara equator (khatulistiwa) untuk memperoleh
preferential rights atas GSO. Ide ini diusulkan pada sidang ke-22 sub komite hukum UNCOPOUS (United Nations Committee of Peacefull of Outer Space) untuk memperkuat argumentasi yuridis atas kekayaan alam ruang angkasa bagi negara- negara
khatulistiwa.
hukum atas pesawat ulang alik. Di satu sisi tunduk pada hukum ruang angkasa dan di sisi lain tunduk pada hukum udara
internasional. Untuk memperkuat argumen yuridis terhadap teori yang berkenaan dengan batas delimitasi ruang udara dan ruang angkasa dapat dilihat dari proses kerja pesawat ulang alik pada saat menjalankan misinya. Meluncur ke ruang angkasa melalui tiga tahapan yakni tahap ascend/launching (peluncuran), tahap orbital (penempatan ke orbit), dan tahap descend (pulang turun kembali ke bumi memasuki atmosfir). Turunnya pesawat dengan gaya
aerodinamis menggunakan reaksi udara mirip pesawat udara komersial biasa. Dari proses kerja pesawat ini dapat diambil teori penentuan delimitasi ruang udara dan ruang angkasa. Teori tersebut adalah batas ruang udara berlaku pada saat tangki luar bahan bakar pecah dan terbakar disusul dua roket pendorong lepas pada
ketinggian 50 mil dari permukaan bumi.
9. Instrumen Hukum Ruang Angkasa (CorpusJurisSpatialis)
a. Treaty on Principles Governing the Activities in the Exploration and Use of Outer Space, Including Moon and other Celestial Bodies 1967 ( The Outer Space Treaty )
1967. Pesatnya perkembangan teknologi dalam bidang penerbangan mendorong adanya keinginan negara-negara maju untuk melakukan penerbangan lintas wilayah udara yakni ruang angkasa, yang
kemudian diikuti oleh pesawat ruang angkasa Amerika Serikat. Namun, usaha-usaha yang dilakukan oleh negara - negara maju tersebut , kemudian dianggap sebagai ancaman oleh negaranegara lain bagi keamanan mereka, oleh karena itu dibentuklah suatu komite melalui PBB untuk merancang peraturan-peraturan bagi semua kegiatan dalam bidang ruang angkasa ini.50
Setelah beberapa resolusi disahkan oleh PBB, maka sebuah traktat khusus mengenai ruang angkasa dibentuk pada tahun 1967, tepatnya sepuluh tahun setelah peluncuran Sputnik milik Rusia. Perjanjian yang diprakarsai oleh PBB didasarkan atas konsep bahwa ruang angkasa (outer space) harus dipertahankan sebagai milik seluruh umat manusia dan harus dieksplorasi dan digunakan bagi keuntungan serta kepentingan semua negara ( Pasal I). Definisi yang lebih spesifik tidka berhasil disepakati dalam Outer Space Treaty 1967 ini. Adapun tujuan utama dari perjanjian ini adalah untuk mencegah tuntutan – tuntutan kedaulatan di ruang angkasa oleh negara-negara secara individu dan untuk membuat ketentuan-ketentuan bagi penggunaan secara damai ruang angkasa tersebut.
Menurut Outer Space Treaty 1967 bahwa seluruh aktivitas – aktivitas keruangangkasan hanya dapat dilakukan sesuai UN Charter (Piagam PBB) dan prinsip – prinsip hukum internasional, namun demikian masalah kedaulatan sangat erat kaitannya dengan beberapa aktivitas keruangangkasaan.51
Dalam hukum ruang angkasa, kita menghadapi suatu fakta bahwa kebebasan bereksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa berada dalam lingkup hubungan antar negara yang berdaulat sama atas
wilayah ruang angkasa itu di dalam Pasal 2 Outer Space Treaty 1967 yang secara khusus terdapat adanya suatu larangan bagi semua negara , terhadap pemilikan secara nasional atas wilayah ruang angkasa oleh suatu negara melalui tuntutan-tuntutan kedaulatan, pemakain atau pendudukan atau dengan caracara lainnya. Dengan kata lain bahwa yang dinamakan sebagai wiilayah ruang angkasa tersebut adalah milik semua negara yang tidak dapat dikuasai secara sepihak dengan alasan apapun juga oleh suatu negara tertentu.
d. The Agreement on the Rescue of Astronauts, the Return of
Astronauts and the Return of Objects Launched into Outer Space 1968
Rescue Agreement adalah perjanjian internasional yang mengatur hak dan kewajiban negara mengenai penyelamatan orang di ruang angkasa. Perjanjian itu dibuat oleh 19 Desember 1967 dengan
konsensus suara di Majelis Umum PBB (Resolusi 2345 (XXII)). Perjanjian ini mulai berlaku pada tanggal 3 Desember 1968. Hal ini merupakan ketentuan yang rumit pada ketentuan penyelamatan dalam Pasal V dari 1967 Outer Space Treaty. Meskipun lebih
mengkhususkan dan lebih detail dibandingkan ketentuan penyelamatan dalam Pasal V dari Outer Space Treaty, Rescue Agreement masih belum memiliki penyusunan jelas dan dapat menimbulkan kemungkinan penafsiran yang berbeda.
Majelis Umum PBB mengadopsi teks Rescue Agreement pada tanggal 19 Desember 1967 melalui Resolusi 2345 (XXII). Perjanjian dibuka untuk ditandatangani pada 22 April 1968 dan mulai berlaku pada tanggal 3 Desember 1968. Pada Mei 2013, 92 negara telah meratifikasi Perjanjian Penyelamatan, 24 telah menandatangani, dan dua organisasi internasional antar pemerintah (the European Space Agency dan the European Organisation for the Exploitation of Meteorological Satellites) telah menyatakan penerimaan mereka dari hak dan kewajiban yang diberikan oleh perjanjian.
mungkin untuk menyelamatkan personil dari pesawat ruang angkasa yang mendarat di dalam wilayah yang negara, apakah karena
kecelakaan, kesusahan, darurat, atau arahan yang tidak diinginkan. Jika kesusahan yang terjadi di daerah yang berada di luar wilayah negara mana pun, maka setiap negara pihak yang berada dalam posisi untuk melakukannya harus, jika perlu, memberikan bantuan dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
e. Convention on Registration of Objects Launched into Outer Space 1975
Convention on Registration of Objects Launched into Outer Space berakar pada ketentuan yang ditetapkan bagi International Geophysical Year, dalam suatu periode selama 18 bulan dimulai tanggal 1 Juli 1957 sampai dengan 31 Desember 1958. Dimana masyarakat ilmiah melakukan kajian-kajian di seluruh dunia mengenai lingkungan manusia dengan bumi dan lautan, atmosfir dan ruang angkasa. Peluncuran satelit- satelit bumi buatan merupakan salah satu dari proyekproyek yang direncanakan, dan untuk hal tersebut maka Manual on Rockets and Satellites menetapkan ketentuan-ketentuan mengenai pendaftaran objek-objek yang diluncurkan ke wilayah ruang angkasa.
orbit dan memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada Comittee on The Peaceful Uses of Outer Space (COPUOS) melalui Sekretaris Jenderal PBB dengan tujuan untuk melakukan pendaftaran peluncuran-peluncuran ini. Sekretaris Jendral PBB dengan
permohonan dimintta untuk mengurus suatu daftar umum informasi tersebut. Tidak ada kewajiban mengikat di pihak negara-negara peluncur, akibatnya sistem tersebut berjalan hanya berdasarkan kesukarelaan semata-mata. Dan pada umumnya dikatakan bahwa sistem sukarela ini berjalan cukup baik dan hal ini terlihat dari hampir semua negara yang berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas
keruangangkasaan telah meberikan informasi mengenai peluncuran-peluncuran yang mereka lakukan.
Dalam hukum ruang angkasa terdapat ketentuan penting dalam Registration Convention berkenaan dengan situasi dimana dua negara atau lebih bersama-sama berpartisipasi dalam suatu peluncuran khusus. Pada pasal 21 Registration Convention menyerahkan
penandaan nomor pendaftaran sebuah objek ruang angkasa yang dapat dipergunakan kembali setelah pendaftarannya dan akan didaftarkan berdasarkan pada Registration Convention sebagai sebuah objek yang diluncurkan ke ruang angkasa dan bukan sebagai pesawat udara seperti ketentuan di dalam konvensi Chicago 1967.
tanggal 15 Desember 1976 setelah masuknya lima ratifikasi dari negara-negara yang menandatangani sebelumnya. Pada bulan Maret 1981, lebih dari 30 negara telah menandatangani konvensi ini. Hal ini membuat ketentuan mengajukan informasi mengenai pendaftaran telah menjadi suatu kewajiban untuk negara peserta konvensi ini. Tujuan utama dari konvensi ini adalah :
1) Membuat ketentuan untuk mendaftar objek-objek ruang angkasa oleh negara-negara peluncur.
2) Menyediakan suatu daftar terpusat mengenai objek-objek ruang angkasa yang akan di tetapkan serta diurus atas dasar kewajiban oleh PBB.
3) Membuat ketentuan tentang cara-cara tambahan untuk membantu mengidentifikasi objek-objek ruang angkasa.
f. Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects 1972
Perkembangan pemanfaatan wilayah ruang angkasa khususnya wilayah orbit geostasioner, menimbulkan kesadaran masyarakat internasional akan timbulnya suatu malapetaka yang kemungkinan timbul di kemudian hari. Malapetaka itu yakni,
Maka, sejak tahun 1960 sebuah badan khusus PBB mengenai ruang angkasa yakni United Nations Committee on The Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS), telah mulai
membicarakan hal tersebut dalam forum PBB karena telah ada contoh-contoh kejadian yang nyata dan tidak dapat disangkal lagi oleh
masyarakat internasional.
Amerika Serikat kemudian mengusulkan agar bahaya jatuhnya benda buatan manusia dari ruang angkasa itu dapat
diselesaikan secara tuntas. Akhirnya pada tanggal 29 Maret 1972 PBB mensahkan “Convention on International Liability Damage Caused by Space Objects”, setelah lebih dari lima negara (yang merupakan syarat dapat berlakunya konvensi ini) meratifikasinya dan hingga tahun 1976 jumlah negara yang telah meratifikasi berjumlah 40 negara.
Konvensi yang didasari oleh beberapa Pasal Space Treaty 1967 mempunyai tujuan sebagai berikut:
1) Untuk membentuk kaidah hukum tentang tanggung jawab internasional terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh benda-benda angkasa.
Hal tersebut didasari adanya kemungkinan yang besar jatuhnya (kembali ke permukaan bumi) benda-benda yang
diluncurkan ke ruang angkasa. Maka, bila terjadi, sistem ganti rugi ditetapkan secara “Absolute Liability”, dimana merupakan suatu usaha hukum yang berlaku mutlak tanpa pembuktian yang ketat. Dan beberapa tahun kemudian dibuat suatu aturan mengenai cara
pengidentifikasian benda-benda angkasa (yang mungkin jatuh), yang diusahakan melalui “Convention on Registration of Objects Launched into Outer Space” pada tahun 1976.”52Negara Indonesia telah
meratifikasi konvensi ini melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 20 tahun 1996.
g. Agreement Governing the Activities of States on the Moon and Other Celestial Bodies 1979
Moon Agrement didiskusikan, dinegosiasikan, dan
disepakati sekitar tahun 1970 oleh UNCOPOUS. Pada saat itu, negara maju berperan penting dalam perdebatan ini dan memiliki pengaruh terhadap urusan internasional tertentu. PBB mengadopsi Moon Agreement ini melalui konsensus. Hal itu terjadi, di sebagian besar, berkat mobilisasi politik dan upaya diplomatik dari negara-negara berkembang. Selama tahun 1970-an, sebuah koalisi besar negara-negara berkembang untuk pertama kalinya dalam sejarah diusulkan
untuk PBB terciptanya tatanan ekonomi internasional yang baru untuk merangsang pengembangan semua negara, dan dengan cara ini untuk mengatasi ketidaksetaraan besar yang ada di dunia-masalah yang masih menantang masyarakat internasional. Ide-ide ini terinspirasi beberapa elemen kunci dari Moon Agreement. Namun, Moon Agreement dalam bentuk akhirnya tercermin pada beberapa isu penting, harapan negara-negara berkembang.
Negara-negara berkembang memperkenalkan prinsip pembagian yang adil dari manfaat dari eksplorasi sumber daya alam bulan dan benda langit lainnya. Pada bulan Juli 1972, delegasi Argentian, Prof.Aldo armando Cocca, yang didukung oleh Mesir, India, dan Amerika Serikat, yang disajikan pertama rancangan kesepakatan tentang penggunaan sumber daya alam bulan th. Dalam Pasal I menyatakan:53
"The natural resources of the Moon and other celestial bodies shall be the common herritage of mankind."
Berarti bahwa: “ Sumber daya alam yang terdapat di Bulan dan benda langit lainnya akan menjadi warisan bersama umat manusia”
Pada bulan April tahun 1972, Mesir dan India mengusulkan sebuah pasal tentang sumber daya alam bulan, mendukung prinsip the common herritage of mankind (CMH) serta konsep "sharing benefits".
Mobilisasi mendukung gagasan tersebut mulai meningkat di kalangan tidak hanya negara berkembang tetapi juga perkembangan dunia.
Duta Besar Swedia menganggap konsep CMH sebagai bagian dari masalah yang jauh lebih besar dari proses eksplorasi dan eksploitasi ruang angkasa, dari itu hadir tujuan unilateral ataupun bilateral yang menjadi suatu usaha internasional dengan keterlibatan nyata PBB.
Pada tahun 1974, mereka menyarankan confrence untuk melaksanakan rezim internasional untuk mengatur eksploitasi atas sumber daya bulan. Penting untuk dicatat bahwa common herritage of mankind adalah sebagai tujuan utama untuk negosiasi berkepanjangan 1970-1979 mengarah ke Moon Agreement.
Dari ke-5 instrumen hukum ruang angkasa, The Outer Space Treaty merupakan ketentuan pokok yang mengatur tentang kegiatan manusia di ruang angkasa. 4 perjanjian yang lain merupakan penjabaran dari The Outer Space Treaty
Karena kajian skripsi tentang penggunaan dan pemanfaatan ruang angkasa untuk kepentingan militer berdasarkan hukum ruang angkasa internasional dan implementasinya terhadap kasus
H. Treaty on Principles Governing the Activities in the Exploration and Use of Outer Space, Including Moon and other Celestial Bodies 1967 ( The Outer Space Treaty )
1. Sejarah Terbentuknya The Outer Space Treaty
Peluncuran satelit pertama pada tanggal 4 Oktober 1957 mencuri perhatian dunia. Di awal perkembangan ruang angkasa, kemampuan melakukan kegiatan di luar angkasa dikuasai oleh dua negar superpower, yaitu Amerika Serikat dan Uni Sovyet (Russia). Kedua Negara superpower ini merupakan Negara yang lahir sebagai pemimpin setelah berakhirnya perang dunia kedua. Negara-negara superpower ini kemudian membuat suatu aliansi, dan melindungi Negara-negara yang lemah yang terdapat di aliansinya. Dengan terbaginya dua kutub ini, maka kemudian terjadi persaingan di berbagai bidang seperti pengaruh penyebaran ideologi, militer, serta teknologi.
meluncurkan satelit buatan ke ruang angkasa selama masa IGY untuk memetakan permukaan bumi.
Resolusi yang dikeluarkan oleh ICSU tersebut akhirnya membuat kedua Negara superpower menjadi tertantang. Pada bulan Juli di tahun 1955, Amerika Serikat membuat suatu rencana dan mengirimkan suatu proposal kepada berbagai departemen riset Negara-negara untuk meluncurkan satelit yang akan mengorbit, yang diberi nama Vanguard. Namun kemudian pada tanggal 4 Oktober 1957 secara mengejutkan justru Uni Sovyet yang meluncurkan satelit Sputnik I yang merupakan satelit yang lebih baik dibandingkan dengan satelit Vanguard yang hanya bisa membawa beban seberat 3,5 pound (1,5 kg). Kemampuan meluncurkan satelit ini pun kemudian ditafsirkan pula oleh public bahwa Uni Sovyet telah mampu untuk membuat misil balistik antar benua yang mampu membawa senjata nuklir dari Eropa menuju Amerika Serikat. Keberhasilan meluncurkan satelit Sputnik I ini membuat Uni Sovyet kembali meluncurkan satelit Sputnik II pada 3 November di tahun yang sama. Namun kali ini dengan membawa serta hewan percobaan, yaitu seekor anjing yang diberi nama Laika. Hal ini memacu Amerika Serikat untuk