• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kawin Siri Ditinjau dari Perspektif Huku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kawin Siri Ditinjau dari Perspektif Huku"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Kawin Siri Ditinjau dari Perspektif Hukum dan Administrasi Kependudukan Rindri Andewi Gati - 105030500111002

Abstrak

Belakangan ini, praktek kawin siri atau nikah siri seakan-akan menjamur di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa beberapa pejabat publik dan banyaknya warga-warga di berbagai daerah yang melakukannya dengan berbagai macam alasan. Mulai dari menjauhkan diri dari zina sampai yang melakukan kawin siri hanya sebagai pelampiasan nafsu saja. Kawin siri sendiri oleh sebagian orang dianggap sah menurut hukum agama, namun kedudukannya terhadap hukum negara tidak dianggap kuat karena tidak adanya pencatatan di Kantor Pencatatan Sipil maupun KUA. Kawin siri dinilai hanya merugikan pihak perempuan dan anaknya serta dapat membebaskan pihak laki-laki untuk meninggalkan hubungannya dan lepas tangan terhadap istri serta anak hasil perkawinan siri secara leluasa. Dalam jurnal ini menjelaskan konsep perkawinan siri beserta prakteknya dalam pandangan hukum negara maupun hukum Islam, termasuk pengaruhnya dalam pencatatan administrasi kependudukan.

Kata kunci : kawin siri, hukum Negara, hukum Islam, administrasi kependudukan.

Abstract

In couple years, practice of marriage siri seems so popular among the people of Indonesia. This can be seen by the fact that some public officials and citizen itself did it with many varieties of reasons. From distance them from zina to the conduct siri marriage only for impingement of lust itself. Some people believe that marriage siri is valid based on religious law, but the position of the state law is not perceived to be strong due to the absence record in the Office of Civil Registry and the Office of Religious Affairs. Marriage siri assessed only harm the women and children and to liberate the men to leave relationship and hands-off with his wife and child of a marriage siri freely. This paper explains the concept of marriage siri and its practice in view of state and Islamic law including the influence in civil administrative records.

Keyword : marriage siri, state law, Islamic law, civil administration.

I. PENDAHULUAN

(2)

Jaminan kekuatan hukum yang melindungi tiap warga negaranya untuk mendapatkan pengakuan dan pelayanan yang sama ternyata tidak cukup membuat masyarakat menghindari hal-hal yang merugikan mereka di masa depan. Dalam hal nikah siri misalnya, pernikahan secara sembunyi-sembunyi dan tidak dipublikasikan ini rentan merugikan pihak perempuan dan anak hasil pernikahan siri tersebut. Berbeda dengan pernikahan yang sah dan dicatatkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) sehingga memiliki kekuatan hukum yang jelas dan apabila terjadi pelanggaran di dalamnya, pelaku dapat dikenai hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Pernikahan siri memiliki ketidakjelasan hukum, termasuk dalam hal penuntutan hak istri terhadap suami atau hak waris anak yang ternyata hanya diakui memiliki hubungan dengan keluarga dari ibunya saja. Merebak juga kontroversi di masyarakat dimana nikah siri dianggap sebagai sebuah pembenaran. “Yang penting sudah sah menurut agama,” begitu pembelaan para pelaku nikah siri. Mereka tidak memikirkan soal akibat-akibat apa saja yang mengikuti pernikahan siri tersebut. Maka dengan adanya permasalahan tersebut di atas, maka paper ini akan mencoba sedikit menjelaskan soal Pernikahan atau Perkawinan Siri ditinjau dari Perspektif Hukum dan Administrasi Kependudukan.

II. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Perkawinan

Secara bahasa, kawin berarti penyatuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “perkawinan” memiliki arti yang sama dengan pernikahan, hubungan seksual, dan perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri dengan resmi atau sah. Menurut Prof. DR. R. Wirjono Prodjodikoro, SH., perkawinan merupakan peristiwa yang sangat penting dalam masyarakat karena sudah menjadi kodrat alam, bahwa dua orang manusia dengan jenis kelamin yang berlainan, seorang perempuan dan seorang laki-laki, ada daya saling tarik menarik satu sama lain untuk hidup bersama. Sedangkan pernikahan adalah hidup bersama antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat tertentu (Wirjono, 1974). Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa (UU no. 1 Tahun 1974 pasal 1). Perkawinan sendiri adalah sebuah jalan untuk terbentuknya lembaga bernama keluarga dimana di dalamnya saling mencintai dan juga menyayangi secara bermartabat.

Dalam Islam, hukum dari perkawinan itu sendiri bisa dibagi menjadi lima, yaitu pertama

(3)

Syarat-syarat perkawinan seperti yang diatur dalam Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai. Usia kedua calon mempelai telah mencapai usia minimal 19 tahun bagi mempelai laki-laki dan minimal 16 tahun untuk mempelai perempuan (Pasal 7 ayat 1). Ketentuan yang diatur dalam Undang-undang tersebut berlaku sepanjang hukum agama dan masing-masing kepercayaan dari yang bersangkutan tidak menentukan hal yang lain (Pasal 6 ayat 6). Undang-undang nomor 1 tahun 1974 ini tidak hanya mengatur soal pelaksanaan perkawinan saja namun juga hak dan kewajiban suami isteri, pembagian harta benda dalam perkawinan, putusnya perkawinan karena kematian atau perceraian, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua dan anak, perwakilan dan ketentuan-ketentuan lain soal perkawinan. Hal ini berarti negara sangat melindungi kesakralan dan kesucian pernikahan itu sendiri serta memberi tameng hukum yang kuat sehingga apabila terjadi pelanggaran atau penyelewengan terhadap undang-undang di atas, pelakunya bisa dikenai sanksi yang mengikutinya.

Definisi Nikah Siri

Istilah nikah siri atau kawin siri lekat dengan kontroversi. Kata sirri berasal dari Bahasa Arab yang berarti rahasia, sembunyi-sembunyi, serta diam-diam. Hal ini memang identik dengan praktek nikah siri yang biasanya dilangsungkan dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa publikasi. lain dnegan pernikahan pada umumnya yang malah diselenggarakan secara besar-besaran dan meriah sampai mengundang beribu-ribu orang. Nikah siri dalam perjalanannya di Indonesia khususnya diterjemahkan menjadi nikah di bawah tangan, yaitu proses nikah yang tidak dilegalisasi dalam hukum positif dan tidak mempunyai kekuatan hukum negara. Nikah siri biasanya dianggap sah di mata agama karena memiliki syarat-syarat pernikahan yaitu adanya mempelai laki-laki dan perempuan, wali, dua orang saksi laki-laki, mahar, serta ijab dan kabul (akad nikah) namun dalam pencatatannya nikah siri ini tidak dicatat melalui Kantor Urusan Agama atau oleh Petugas Pencatat Nikah.

Apabila dilihat dari sisi sejarah, nikah siri yang terjadi pada zaman Imam Malik bin Anas adalah peristiwa nikah yang terjadi dimana kedua belah pihak tidak memenuhi syarat-syarat pernikahan. Hal ini terjadi karena keadaan masyarakat yang belum sekompleks sekarang, sehingga pada zaman dahulu dianggap sah saja apabila melakukan pernikahan dan tidak mencatatkannya ke lembaga pencatatan. Pasalnya, para penguasa dan ulama-ulama kaum Muslim saat itu memahami bahwa hukum asal pencatatan pernikahan bukanlah wajib, akan tetapi mubah. Mereka juga memahami bahwa pembuktian syar’iy bukan hanya dokumen tertulis1. Pergeseran makna ini terjadi di Indonesia. Di Indonesia, yang dimaksud nikah siri adalah pernikahan yang hanya secara agama dan tidak dicatatkan ke KUA maupun Petugas Pencatat Pernikahan. Nikah siri ini sendiri di Indonesia mulai muncul ketika diberlakukan Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pada dasarnya nikah siri adalah nikah yang berlawanan dengan apa yang sudah dicantumkan oleh hukum. Apabila nikah yang diatur dalam UU Perkawinan adalah nikah yang dianggap sah oleh hukum maka bisa dibilang nikah siri dianggap sebagai tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum.

1

(4)

Banyak faktor yang melandasi seseorang lebih memilih untuk menikah siri. Pertama, karena kedua belah pihak belum siap untuk mempublikasikan atau meramaikan pernikahan mereka. Faktor kedua, nikah siri dilakukan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan supaya tidak terjerumus ke perbuatan yang dilarang agama. Ketiga, dalam beberapa kasus poligami, nikah siri biasanya dilakukan karena mengingat status sang suami yang sudah menikah dan berpikir bahwa akan terlalu sulit apabila harus meminta izin kepada istri pertamanya untuk menikah lagi. Dalam Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa

“Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3

ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah

tempat tinggalnya”. Pihak laki-laki merasa dipersulit karena harus berurusan dengan hukum lagi

dan apabila harus izin dulu kepada istrinya secara logika saja kita bisa menarik kesimpulan bahwa tidak ada perempuan yang bersedia untuk dimadu.

Nikah siri sendiri memiliki dampak positif dan negatif. Positifnya, meminimalisasi adanya seks bebas dan penyakit kelamin seperti HIV, AIDS maupun penyakit kelamin lainnya. Nikah siri juga mengurangi beban atau tanggung jawab seorang wanita menjadi tulang punggung keluarga. Dampak negatifnya, nikah siri tidak memiliki hukum yang kuat sehingga kebanyakan istri dan anak hasil nikah siri tidak memiliki kejelasan status. Nikah siri juga bisa membuat kasus poligami makin banyak. Hak istri terhadap suami pun juga berkurang karena secara hukum istri yang dinikah secara siri tidak dapat menuntut suami termasuk menuntut nafkah lahir dan bathin2.

Administrasi Kependudukan

Menurut Undang-undang nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. Administrasi kependudukan erat kaitannya dengan pendaftaran penduduk, peristiwa kependudukan, pencatatan sipil, dan berbagai peristiwa penting kependudukan lainnya yang menyangkut komposisi penduduk dalam sebuah dokumen kependudukan. Dokumen kependudukan adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti otentik yang dihasilkan dari pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.

Pendaftaran penduduk sendiri meliputi proses pencatatan dan pendataan atas pelaporan peristiwa kependudukan dalam rangka penerbitan dokumen identitas penduduk (Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk, dan lain-lain) atau surat keterangan kependudukan lainnya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Setiap kejadian yang dialami oleh penduduk dan memiliki dampak langsung terhadap penerbitan atau perubahan dokumen kependudukan harus dilaporkan, hal ini meliputi pindah datang, perubahan alamat, tinggal sementara serta perubahan status orang asing

2

(5)

dari status kunjungan menjadi tinggal terbatas atau dari status tinggal terbatas menjadi tinggal tetap3.

Sementara itu, pencatatan sipil adalah pencatatan peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana. Pencatatan sipil ini dilakukan oleh pejabat pencatatan sipil atau seseorang yang melakukan pencatatan peristiwa penting yang dialami seseorang pada instansi pelaksana yang pengangkatannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Peristiwa penting yang dimaksud dan harus dicatat meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama, dan status kewarganegaraan (Pasal 1 UU no. 1 Tahun 1974).

III. PEMBAHASAN

Kawin Siri dalam Pandangan Hukum Islam

Istilah nikah siri sudah dikenal oleh para ulama semenjak zaman Imam Malik bin Anas. Nikah siri yang dahulu dilakukan dengan yang sekarang mempunyai pengertian yang berbeda. Zaman dahulu nikah siri adalah pernikahan yang memenuhi unsur-unsur atau rukun perkawinan dengan syarat yang terpenuhi. Syaratnya antara lain adanya mempelai laki-laki dan mempelai perempuan, adanya ijab qabul yang dilakukan mempelai laki-laki dan disaksikan oleh dua orang saksi. Hal ini yang membedakan dengan pernikahan biasanya karena saksi diminta untuk tidak mengabarkan pernikahan itu ke khalayak ramai. Dalam nikah siri tidak ada i’lanun nikah dalam bentuk walimatul-‘ursy4 (penyaksian pernikahan, umumnya menyembelih seekor kambing di sambing adanya kesaksian nikah dari para saksi). Pada zaman dahulu, hukum Islam tidak mengenal adanya pencatatan perkawinan secara konkrit karena tidak disebutkan adanya pencatatan perkawinan sebagai rukun atau syarat perkawinan. Dimungkinkan juga bahwa masyarakat ada zaman itu kondisinya tidak sekompleks masyarakat zaman sekarang. Di Arab sendiri pada masa itu kurang berkembang kebudayaan menulis dan hanya mengandalkan ingatan serta hafalan, maka bisa dimaklumi apabila pencatatan pernikahan bukan merupakan sebuah sebuah konsentrasi administrasi pemerintahan zaman itu.

Seiring berkembangnya kebudayaan dan berkembangnya zaman, pikiran-pikiran tersebut mulai mengalami perkembangan. Termasuk sekarang adanya pencatatan pernikahan. Namun, dengan adanya peraturan tentang pencatatan nikah, bukan berarti nikah siri kemudian sudah tidak dilakukan lagi. Prakteknya masih ada sampai sekarang dan tidak hanya berlaku di Indonesia. Di sejumlah negara-negara Islam termasuk di Arab terkenal istilah nikah urfi dan nikah misyar. Pemerintah Mesir dan Saudi Arabia bahkan memiliki sanksi yang tegas dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan terhadap siapapun pelaku nikah urfi dan misyar. Bahkan apabila wanita Mesir melakukan nikah urfi dengan lelaki dari luar Mesir, maka anak hasil nikah urfi tersebut tidak memiliki kewarganegaraan Mesir. (Hoda, Osman dan Fahimi, 2005; Jabarti, 2005; Zakaria, 2010).

3

http://dukcapil.kalbarprov.go.id/artikel/tentang-administrasi-kependudukan

4

(6)

Di Indonesia sendiri, para pelaku menganggap nikah siri adalah sah karena dasarnya tidak melanggar syarat pernikahan dan rukun pernikahan. Faktor banyaknya terjadi nikah siri di Indonesia antara lain, pihak laki-laki ingin berpoligami namun sulitnya meminta persetujuan dari istri secara tertulis melalui pengadilan. Boro-boro mau meminta persetujuan secara tertulis, baru mengungkapkan keinginan untuk berpoligami saja biasanya malah menimbulkan pertengkaran suami istri (Vitayala, 2010). Ada juga pelaku nikah siri yang menyatakan mereka tidak mampu membayar besarnya biaya pencatatan nikah di KUA. Nikah siri sebetulnya tidak menjadi masalah ketika keemudian hari dari pihak mempelai ketika sudah mempunyai modal yang cukup pada akhirnya mencatatkan ke Pejabat Pencatatan Nikah.

Menurut Prof. Azzyumardi Azra dalam dialog Indonesia Lawyers Club di TVOne pada tanggal 18 Desember 2012 lalu menyatakan bahwa dari segi fiqih munakahatnya termasuk sah walaupun dari segi hukum negara tidak memiliki kekuatan hukum yang sah. Pendapat ini juga diperkuat oleh pendapat dari Neneng Zubaedah, pakar hukum pernikahan, dalam forum dialog yang sama. Nikah siri dianggap sah apabila menaati rukun dan syarat pernikahan dan merujuk kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 1, namun sebagai warga negara Republik Indonesia yang baik memiliki kewajiban untuk mencatatkan pernikahan. Dari berbagai pemaparan di atas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa sebuah pernikahan siri dianggap sah di hadapan agama apabila memenuhi syarat dan rukun pernikahan dan diiringi oleh niat yang baik dan sepanjang hidup, bukan untuk menikah sementara selama beberapa waktu.

Kawin Siri dalam Pandangan Hukum Negara

Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pada awalnya lahir karena adanya praktek poligami dimana-mana, nilai perceraian yang tinggi hingga mencapai 50%, pernikahan dini yang marak, dan ada berbagai prosedur pernikahan yang tidak lazim (contohnya mengirimkan talak dalam bentuk surat kilat)5. Perkawinan secara agama diakui dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1) yang berbunyi “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”. Dalam Kompilasi Hukum Islam tercantum di pasal 4 : “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan”, kemudian pasal selanjutnya dalam pasal 5 ayat (1) : “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat” dan ayat 2 : Pencatatan perkawinan tersebut apada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diaturdalam Undang-undang No.22 Tahun 1946 jo Undang-undang No. 32 Tahun 1954”. Bila ditarik kesimpulan maka pernikahan yang diakui dan mempunyai kekuatan hukum Negara adalah pernikahan yang sah di mata agama dan kepercayaan masing-masing yang kemudian dicatatkan di hadapan pejabat pencatat nikah. Kenapa harus dicatatkan? Pencatatan pernikahan adalah sebuah tindakan administratif bahwa secara hukum agama dia sudah sah, tetapi secara hukum negara tergantung apakah pernikahan itu dicatatkan atau tidak. Dari sini bisa disimpulkan dengan adanya perintah

5

(7)

untuk mencatatkan pernikahan terdapat nilai tertib administrasi dan perlindungan serta kekuatan hukum6.

Bahkan jauh sebelum ada Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sudah ada Undang-undang Nomor 22 tahun 1946 yang mengatur Nikah, Talaq dan Rujuk disebutkan: (1) perkawinan diawasi oleh Pegawai Pencatat Nikah, (2) bagi pasangan yang melakukan perkawinan tanpa pengawasan dari Pegawai Pencatat Nikah dikenakan hukuman karena merupakan suatu pelanggaran dan dikenakan sanksi sebesar Rp 50,00 (senilai dengan Rp 1,000,000,00 sekarang). Dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa tujuan pancatatan perkawinan di depan Pejabat Pencatat Nikah adalah demi terjaminnya ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam (pasal 5 ayat (1)). Dengan adanya peraturan perundang-undangan di atas, negara tidak mengakui nikah siri. Walaupun secara agama nikah siri sudah sah, tapi tidak akan mempunyai kekuatan dan kepastian hukum apabila belum dicatatkan di depan Pejabat Pencatat Nikah. Karena dengan adanya pencatatan maka status istri, anak, dan hal-hal lain yang mengikuti pernikahan tersebut akan dijamin secara hukum dan hak asasinya, lain dengan pernikahan siri yang dianggap belum mempunyai kepastian hukum.

Kawin Siri dan Administrasi Kependudukan

Seperti dijelaskan di atas, perihal perkawinan telah diatur dalam Undang-undang nomor 1 Tahun 1974. Terutama soal pencatatan nikah yang merupakan syarat diakuinya suatu pernikahan oleh negara. Sementara itu, dalam Undang-undang nomor 23 tahun 2006 pasal 2 berbunyi : “Setiap Penduduk mempunyai hak untuk memperoleh : (a) Dokumen Kependudukan; (b) pelayanan yang sama dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil; (c) perlindungan atas Data Pribadi; (d) kepastian hukum atas kepemilikan dokumen; (e) informasi mengenai data hasil Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil atas dirinya dan/atau keluarganya; dan (f) ganti rugi dan pemulihan nama baik sebagai akibat kesalahan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil serta penyalahgunaan Data Pribadi oleh Instansi Pelaksana. Serta di pasal 3 : “Setiap Penduduk wajib melaporkan Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialaminya kepada Instansi Pelaksana dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil”. Kedua pasal tersebut mengatur soal hak dan kewajiban tiap Warga Negara indonesia dalam Administrasi kependudukan, khususnya pencatatan peristiwa penting kependudukan. Dalam Bagian Ketiga hingga Bagian Keenam pasal 34 sampai dengan pasal 43 Undang-undang nomor 23 tahun 2006 juga membahas tentang pencatatan pernikahan hingga pembatalan perceraian.

Fakta di masyarakat sendiri kebanyakan yang menderita kerugian adalah pihak perempuan namun selain itu apabila kita melihat lebih mendalam dari pihak laki-laki juga terkadang mengalami masalah dengan adanya nikah siri tersebut. Karena tidak adanya pencatatan pernikahan oleh Pejabat Pencatat Nikah, perempuan dalam hal ini istri menjadi subjek yang tidak memiliki kepastian hukum. Salah satu contoh pernikahan siri yang paling heboh di Indonesia adalah kasus pernikahan siri penyanyi dangdut Machica Mochtar dengan Moerdiono, mantan

6

(8)

Menteri Sekretaris Negara di era Orde Baru7. Pernikahan mereka menghasilkan satu anak laki-laki bernama Mohammad Iqbal Ramadhan, kabarnya Iqbal tidak pernah berjumpa dengan ayahnya semenjak pasangan Machica-Moerdiono berpisah pada 1998. Ketika di kemudian hari Machica meminta pertanggungjawaban sang ayah dengan entengnya Moerdiono meminta bukti catatan pernikahan antara Machica dengan dirinya. Karena pernikahan mereka yang dilakukan secara siri, otomatis tidak ada dokumen yang mendapat pengakuan di mata hukum untuk memenuhi tuntutan tersebut. Konflik ini berlangsung kurang lebih selama 8 tahun sampai akhirnya Machica Mochtar mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi salah satunya terhadap Pasal 43 ayat (1) Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 yang awalnya berbunyi “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan

keluarga ibunya”. Kabar terakhir yang saya dapat dari forum Indonesia Lawyers Club di TVOne

edisi 18 Desember 2012, MK mengabulkan perubahan terhadap pasal 43 ayat 1 menjadi “anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. Dalam kasus lain, pihak laki-laki bisa menjadi korban dari terlaksananya nikah siri, biasanya pihak ayah dari anak tersebut kesulitan untuk menemui anaknya karena pihak perempuan masih memendam emosi dan faktor-faktor lainnya.

Dikarenakan banyaknya kasus yang serupa dengan kasus yang ada di atas maka negara berupaya melindungi hak-hak warga negaranya, namun dengan adanya pemenuhan hak maka warga negaranya sendiri harus memiliki kesadaran bahwa mereka perlu melaksanakan kewajiban tersebut terlebih dahulu. Bila dilihat dari sini apabila kita merujuk pada Undang-undang nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, nikah siri bisa dianggap melanggar hukum karena peristiwa pernikahan adalah salah satu dari berbagai peristiwa kependudukan yang wajib didaftarkan atau dilaporkan. Apabila nikah siri dengan syarat pernikahan yang tercantum di atas bisa dianggap melanggar hukum, maka dalam beberapa kasus nikah siri seperti tidak adanya wali dari pihak perempuan, tanpa saksi bahkan tanpa sepengetahuan orang tua salah satu pihak bisa dianggap pernikahan yang tidak sah dari kacamata hukum Agama maupun hukum negara. Apabila pernikahan siri tersebut tetap dilakukan padahal negara sudah memberikan dampak positif dan negatif maka hal-hal yang mengikuti pernikahan siri tersebut pihak negara tidak mau ikut campur.

IV. KESIMPULAN

Nikah siri pada awalnya terjadi di negara-negara Islam, selain karena belum adanya pencatatan dan belum kompleksnya penduduk masa itu seperti masa sekarang, pada saat itu

wanita dianggap sebagai penduduk “kelas dua” yang pekerjaannya hanya sebatas dapur dan

kasur. Namun seiring dengan berkembangnya zaman dan berbagai pemikiran, permasalahan gender menjadi konsentrasi masyarakat dan perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Di Indonesia sendiri pernikahan sendiri marak dilakukan untuk dijadikan pembenaran

7

(9)

bahwa pernikahan siri adalah sah walaupun hanya sah di mata agama dan tanpa dicatatkan dalam sebuah administrasi kependudukan. Akibat yang biasanya ditimbulkan dengan dilakukannya nikah siri ini terbagi atas dua yaitu akibat secara hukum dan dalam administrasi kependudukan. Secara hukum, perempuan yang menikah siri tidak mendapatkan hak atas harta bersama, penelantaran dan bahkan istri siri dibiarkan begitu saja karena sang suami terburu pergi tanpa kabar yang jelas. Dalam hal administrasi kependudukan dengan tidak adanya pencatatan nikah maka anak hasil pernikahan siri mengalami kesulitan ketika akan membuat akte kelahiran. Padahal akte kelahiran diperlukan di hampir semua pendaftaran sekolah.

Antara hukum negara dan hukum agama dalam hal ini memang tidak bisa “dibenturkan”. Islam bisa saja dianggap ketinggalan karena hanya berdasarkan fiqih dan kajian dari kitab suci

Al-Qur’an serta kurang memperhatikan wanita serta anak-anak secara total. Dalam hal ini, MUI

di Indonesia diharapkan mengembangkan pemikiran-pemikiran untuk diterapkan ke dalam aturan-aturan negara. Permasalahan pernikahan nikah siri intinya bukanlah soal sah atau tidak sahnya pernikahan, namun bagaimana perlindungan hak mempelai (baik pria maupun wanita) dan anak atas akibat pernikahan siri tersebut termasuk dalam hal administrasi kependudukan. Pemerintah diharapkan lebih mengakomodir peraturan-peraturan yang dapat melindungi pihak-pihak yang terlibat dari pernikahan siri tersebut.

Solusi yang terpikirkan oleh saya adalah pemerintah membuat pencatatan administrasi dengan harga yang terjangkau dan dapat dipenuhi oleh semua kalangan masyarakat, dimudahkan juga dalam pelaksanaan istbat nikah. Karena walaupun sudah jelas secara hukum, sebagai warga negara yang baik seharusnya mencatatkan pernikahan sebagai suatu peristiwa penting yang harus dicatat dalam dokumen administrasi kependudukan agar adanya jaminan hukum yang pasti dan kuat untuk melindungi hak asasi manusia, dalam hal ini khususnya perlindungan hukum dan administrasi kependudukan terhadap anak hasil pernikahan siri.

V. DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. 2004. Kompilasi Hukum Islam. Jakarta : Akamedika Pressindo.

Anonim. . Pencatatan Perkawinan dan Akta Nikah. (diakses 24 Desember 2012). (http://www.makalahkuliah.com/2012/06/pencatatan-perkawinan-dan-akta-nikah.html)

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta : Balai Pustaka

Ma’ruf, Farid. 14 Maret 2009. Hukum Islam tentang Nikah Siri. (diakses tanggal 25 Desember

2012). (http://konsultasi.wordpress.com/2009/03/14/hukum-islam-tentang-nikah-siri/)

Nurhaedi, Dadi. 2003. Nikah di Bawah Tangan Praktik Nikah Siri Mahasiswa Yogya. Yogyakarta : Saujana.

Pemprov Kalimantan Barat. 1 September 2012. Tentang Administrasi Kependudukan. (diakses tanggal 30 Desember 2012). (http://dukcapil.kalbarprov.go.id/artikel/tentang-administrasi-kependudukan)

(10)

Rofei. 29 Maret 2012. Hukum Nikah Siri Menurut Perspektip Hukum Islam dan Hukum Positif

Indonesia. (diakses tanggal 25 Desember 2012).

(http://liamulyawati.blogspot.com/2009/07/hukum-nikah-siri-menurut-perpektip.html)

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tenta ng Perkawinan. Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Deprtamen Dalam Negeri Republik Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat ini TB Harmoni Bangunan dalam melakukan penilaian kinerja karyawan belum menerapkan sebuah sistem terkomputerisasi yang dapat melakukan penilaian terhadap kinerja

Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes kemampuan berpikir ilmiah yang terdiri dari 25 item soal yang mengandung aspek berpikir ilmiah yaitu: ( 1 ) inquiry ; (2) analisis;

Semua pelajar hendaklah mematuhi arahan ketika membuat pembayaran yuran pengajian / yuran asrama / bayaran pelbagai di Bank Islam (M) Berhad (BIMB).. Pihak Politeknik KPT

Berdasarkan hasil pengamatan selama 7 kali pemetikan, produksi pucuk menunjukkan hasil signifikan terhadap perlakuan pupuk mikro Zn dan Cu (melalui daun) dengan pupuk

Sehingga, pada kosakata yang memiliki suku kata lebih dari jumlah yang lazim digunakan akan diterapkan pemendekan sesuai dengan proses yang berlaku pada

Tänu Gustav Vilbaste pärandile ja viljakale elutööle on Eestis sellel alal tehtud veel mitmeid uurimusi – eelkõige eestlaste ravimtaimede tundmise ja nende nimetuste kohta ning

2004 – 2006, sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Friska Sihite (2012), DAU berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi yang dilakukan pada Kab/Kota di Provinsi

Proses Fermentasi dimulai dengan menambahkan sejumlah starter beserta ergosterol ke dalam medium fermentasi (nira nipah) dengan komposisi yang sesuai dengan