• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PERAN IBU peran ayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP PERAN IBU peran ayah "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

Buku kumpulan puisi berjudul “Jendela Hati” merupakan buku kumpulan puisi yang terbilang baru dihitung dari tahun penerbitannya yaitu September 2013 dan berasal dari penulis yang belum terlalu dikenal dalam pentas nasional perpuisian Indonesia. RR Titi Isnani, kelahiran 9 September 1962 di Boyolali Jawa Tengah memang menyukai dunia tulis menulis sejak mudanya. Pada tahun 1995 dan 1996 ia mendapat penghargaan dalam perlombaan menulis di Dharma Wanita PLN Pusat, Dharma Wanita Departemen Pertambangan dan Energi serta Dharma Wanita pusat. Pada tahun 2002 meluncurkan buku “Buah Tangan dari Tanah Suci”.

Kumpulan puisi “Jendela Hati” menjadi menarik untuk penulis cermati sebagai bahan kajian dalam tugas mata kuliah kajian feminis dikarenakan kebaruan penerbitan bukunya dan juga latar belakang penulisnya. Dalam catatan di belakang buku disebutkan bahwa kegitan sehari-harinya adalah selain menjadi ibu rumah tangga, RR Titi Isnani juga aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti majelis taklim dan koperasi. Menarik untuk menggali makna mengani peran ibu atau perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki dan keluarga dari puisi-puisi yang dihasilkan oleh seorang ibu rumah tangga aktifis majelis taklim dan koperasi dan peraih penghargaan dari Dharma Wanita. Sebagai aktifis sudah sewajarnya bahwa ucapan dan pandangannya bisa mempengaruhi perempuan-perempuan dalam lingkungan sosialnya.

(2)

II. PERMASALAHAN

Kata “Ibu” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti yaitu wanita yg telah melahirkan seseorang; sebutan untuk wanita yg sudah bersuami; panggilan yg takzim kpd wanita baik yg sudah bersuami maupun yg belum. Dengan demikian, berdasarkan KBBI tersebut, sebutan “Ibu” adalah sebutan yang identik dan melekat pada perempuan. Secara otomatis, kata “ibu” yang diucapkan akan menuntun pikiran dan imajinasi kita pada sosok wanita atau perempuan Maria Josephine Kumaat Mantik menjelaskan konsep “Ibu” sebagai berikut :

(3)

III. PERSPEKTIF GENDER

Gender adalah pandangan yang hidup dalam kelompok masyarakat yang membedakan peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki dan perempuan. Di dalam masyarakat umum sudah tertanam pandangan bahwa ‘sewajarnya’ perempuan yang baik adalah perempuan yang memiliki sifat lembut, telaten dan sabar mengurus rumah dan segala permasalahan rumah tangga di dalamnya (wilayah domestik). Sedangkan laki-laki sudah ‘sewajarnya’ memiliki tanggung jawab sebagai sebagai pencari nafkah dan bekerja di luar rumah (publik). Laki-laki adalah pemimpin sedangkan perempuan adalah orang yang dipimpin. Karena itu keputusan dalam suatu rumah tangga ditentukan oleh pemimpin atau laki-laki. Pandangan mengenai perbedaan gender atau peran fungsi dan tanggung jawab antara laki dan perempuan ini sudah sangat umum ini berlaku di hampir seluruh lapisan masyarakat sebagai suatu sistem sosial. Mengenai terbentuknya perbedaan tersebut Fakih menjelaskan sebagai berikut:

“terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikontruksi secara social atau cultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan (Fakih,2013:9)

Perbedaan gender ini kemudian menimbulkan adanya stereotipe atau penandaan tertentu terhadap perempuan dan juga laki-laki, yang celakanya menimbulkan kerugian dan ketidakadilan, khususnya terhadap perempuan. Fakih menyebutkan contoh strereotipe tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami. Stereotipe terhadap kaum perempuan terjadi dimana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut.

(4)

Konsep biologis adalah konsep yang sering dipertukarkan dan menimbulkan salah pengertian dengan konsep gender. Konsep biologis merupakan konsep mengenai kelamin lelaki dan perempuan yang bersifat permanen dan tidak bisa dipertukarkan. Sifat permanen ini melekat pada manusia sebagai ketentuan Tuhan atau sering disebut sebagai Kodrat.

Kajian feminis dan perspektig gender adalah seperangkat teori dan kajian yang mempertanyakan keadilan dan ‘kewajaran’ posisi fungsi dan perempuan dalam sistem sosial kehidupan bermasyarakat.

Namun apakah pemahaman mengenai gender, stereotipe dan ketidakadilan yang ditimbulkannya telah disadari dan kemudian didukung sebagai sebuah pencerahan baru bagi kaum perempuan? Puisi merupakan salah satu karya sastra yang dapat merefleksikan kesadaran dan pemikiran suatu masyarakat dalam menanggapi isu gender dan feminisme tersebut. Salah satunya adalah kumpulan puisi “Jendela Hati” karya RR. Titi Isnani yang akan dianalisis dalam tulisan ini. Untuk memperkuat pesan dalam puisinya, RR Titi Isnani selalu memberikan catatan pengarang di bawah puisinya.

(5)

Kumpulan puisi ini memuat 101 judul puisi. Setiap puisi dalam “Jendela Hati” biasanya terdiri dari beberapa belas larik yang kemudian dibagi dalam bebeberapa bait. Setiap larik dalam bait yang sama umunya menggunakan teknik akhiran yang sama (rima) atau diselang-seling. Bisa dikatakan bahwa ‘Jendela Hati” adalah puisi transparan (lugas, to the point) yang miskin dalam penggunaan lambang, metaphora, personifikasi dan juga latar. Pemilihan dan pengolahan kata lebih bertujuan untuk informatif dari pada untuk memancing imajinasi dan membangun suasana. Namun karena menggunakan kata yang lugas dan permainan bunyi (ritme) yang sederhana maka pesan yang disampaikan dalam puisinya menjadi lebih mudah dipahami.

Ada belasan puisi dalam “Jendela Hati” yang memunculkan tema peran dan fungsi perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Namun penulis hanya akan memilih lima puisi yang terkuat diantaranya sebagai bahan kajian dengan perspektif gender, yaitu

1. Aku laki-laki Indonesia 2. Ibu dan Ayah

3. Ibu Indonesia

4. Mengapa Lebih Banyak Perempuan di Neraka 5. Wanita Karir

Puisi dengan judul “Aku laki Indonesia” menggunakan aku lirik sebagai narator laki-laki yang menunjukkan rasa kekaguman dan kebanggan pada pahlawan nasional Indonesia. Terdiri dari 27 larik dalam 8 bait. Dua bait diantaranya sebagai berikut:

Aku punya Tuanku Imam Bonjol

Pesan yang disampaikan puisi tersebut sangat jelas. Teladan dari pahlawan nasional yang semuanya adalah laki-laki. Aku lirik dalam puisi ini adalah laki-laki. Namun yang menarik dalam puisi ini aadalah catatan pengarangnya di bawah puisi tersebut yang berbunyi sebagai berikut :

(6)

Isnani secara tidak sadar telah menempatkan dirinya sebagai perempuan dengan posisi subordinat terhadap laki-laki. Karena ia perempuan maka ia tidak mampu membela habis-habisan ibu pertiwi seperti yang telah dilakukan laki-laki pahlawan nasional yang dipuji dalam puisi tersebut. Terdapat pengandaian menjadi laki-laki dari seorang perempuan. Pengarang puisi tersebut telah menstereotipkan dirinya sendiri sebagai perempuan mahluk lemah dibanding laki-laki. Dengan kata lain, identitas gender sebagai perempuan telah mambatasi geraknya untuk membela ibu pertiwi tercinta. Pengarang sudah meletakkan posisi kemampuan perempuan dibawah laki-laki.

Puisi “ Ibu dan Ayah”

Puisi ini merupakan dialog tanya jawab antara laki dan perempuan. Ayah sebagai laki-laki mempertanyakan posisinya. Mengapa tidak ada hari ayah, tidak ada dirgahayu, tidak ada perayaan. Ibu menjawab pertanyaan laki-laki bahwa meskipun tidak ada hari ayah dan perayaan namun kedudukan perempuan selalu di belakang laki-laki, perempuan hanya sebagai insan kedua dan lelaki yang utama karena perempuan tercipta hanya dari patahan tulang rusuk laki-laki dan Tuhan telah melebihkan laki-laki dari pada perempuan. Seperti cuplikan dibawah ini

Sedangkan kau diciptakan lebih duluan

Kau juga telah ditakdirkan menjadi seorang imam

Sang pencipta telah melebihkan kau daripada perempuan Sedangkan aku hanya berasal dari patahan tulang rusukmu Aku rela menjadi insan kedua

Dan ikhlas kau yang menjadi utama (isnani, 2013;56)

(7)

Al Quran sebagai rujukan prinsip masyarakat Islam, pada dasarnya mengakui bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama. Keduanya diciptakan dari satu nafs (living entity), di mana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain. Bahkan Al Quran tidak menjelaskan secara tegas bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sehingga kedudukan dan statusnya lebih rendah. Atas dasar itu prinsip Al Quran terhadap kaum laki dan perempuan adalah sama, di mana hak istri diakui sederajat dengan hak suami (Fakih, 2013:129-130)

Dengan demikian, dalam perspektif gender puisi “Ayah dan Ibu” merupakan puisi yang telah keliru memposisikan hubungan kesetaraan ayah dan ibu atau perempuan dan laki-laki.

Puisi “Ibu Indonesia”

Dalam puisi ibu Indonesia narator memaparkan sosok ibu Indonesia yang luar biasa dengan segala fungsinya. Mungkin inilah gambaran sosok sempurna seorang ibu Indonesia. Beberapa bait puisi tersebut sebagai beriku:

Ibu hebat adalah ibu Indonesia Mereka bertrifungsi

Antara ibu istri dan anggota masyarakat yang mempesona Semua harus cerdas dan super

Jangan sampai keluarga keblinger Terucaplah selalu puji dan syukur

Sebagai istri yang selalu manis dipandang suami Sebagai ibu yang penuh kasih sayang. Tapi tegas

Sebagai anggota masyarakat yang merangkul (isnani, 2013:58)

(8)

Puisi “Mengapa Lebih Banyak Perempuan di Neraka”

Puisi ini menggunakan judul yang mengutip salah satu riwayat Islam yang mengatakan pada hari akhir nanti penghuni neraka akan lebih banyak perempuan dari pada laki-laki. Riwayat ini sendiri tidak jelas asal usulnya dan apakah benar Nabi Muhammad memang pernag mengatakan demikian. Yang pasti adanya riwayat ini membuat perempuan semakin diintimidasi dan ditakut-takuti dengan ancaman neraka. Jawaban dari pertanyaan pada judul puisi ini adalah bait-bait larik isi puisi ini, beberapa bait diantaranya sebagai berikut: Barangkali karena mereka mengumbar aurat dengan dalih tampil seksi

Barangkali karena mereka suka bergoyang seronok tapi berdalih seni Barangkali karena mereka tak peduli dosa sendiri

Tapi pandai mengoreksi dosa orang lain tanpa peduli Barangkali karena mereka suka lupa diri dalam membeli Atau mungkin karena banyak istri merasa terlalu berarti Sehingga suami kurang dipenuhi dan seringkali dijauhi Janji suci di depan illahi mesti dipenuhi

Bukan sekedar menjadi istri

Yang selalu ingin dimengerti tanpa peduli (isnani, 2013:99)

Sayang sekali narator dalam puisi ini tidak menyebutkan alasan laki-laki tidak lebih banyak di neraka dibandingkan perempuan. Salah satu jawaban dari pertanyaan sebagai judul puisi tersebut adalah mungkin karena istri merasa terlalu berarti atau memposisikan diri terlalu tinggi dihadapan suami sehingga dijauhi. Janji didepan tuhan harus dipenuhi yaitu bukan sekedar istri yang selalu ingin dimengerti namun jadilah istri yang peduli. Posisi perempuan atau istri dalam puisi ini memang berada di bawah karena terintimidasi dengan konsep agama yang kemungkinan besar salah dipahami. Pemilihan kata yang menjawab pertanyaan puisi tersebut justru semakin mengintimidasi perempuan dan meniggikan posisi laki-laki. Dengan demikian kesadaran aku lirik dalam posisi ini adalah, sekali lagi, menyimpang dari pemahaman gender yang memperjuangkan kesetaraan. Alih-alih memperjuangkan, catatan pengarang mengenai puisi ini justru semakin mengintimidasi dan menempatkan posisi istri yang harus berterima kasih pada suami

“Bersyukurlah kepada Allah, berterima kasih kepada suami dan tidak banyak membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Alias hindari iri, dengki, cemburu akan keadaan orang lain. Agar terhindari dari neraka (Isnani, 2013:100)

(9)

Puisi ini berisi himbauan kepada perempuan yang merasa melakoni hidup sebagai wanita

Ingin membantu atau sekedar mencari sensasi Sebagai istri janganlah lupa diri

Sebagai ibu tak pantas meninggalkan putra putri Sebagai sosialis jangan lupakan saudara-saudari Istri bukan wajib memenuhi keluarga yang dikasihi Kewajiban kebutuhan hidup ada pada suami

Bisnis hanya sekedar untuk berbagi

Kewajiban sebagai istri adalah yang utama Mengurus anak adalah yang pertama

Agar keluarga sakina mawadah warahmah (isnani, 2013: 150)

Secara struktur puisi ini menggunakan akhiran i pada 3 bait pertama dan bait keempat menggunakan akhiran a. Permainan bahasanya berirama seperti pantun. Miskin latar dan miskin suasana. Sehingga isi puisi ini lebih seperti himbauan atau doktrin. Secara perspektif gender, perempuan sebagai pihak yang selalu diperingatkan dan dihimbau yaitu kewajibannya sebagai istri dan mengurus anak. Menjadi wanita karir bukan sebuah keutamaan karena suami yang memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan hidup. Pembagian peran pekerjaan dalam wilayah domestic dan publik antara laki dan perempuan sangat kuat dalam puisi ini. Puisi ini juga semakin menguatkan stereotype bahwa wilayah perempuan adalah sebagai ibu di wilayah doemstik sedangkan wilayah laki-laki adalah bekerja memenuhi kebutuhan hidup di wilayah publik.

Catatan pengarang di bawah puisi semakin menegaskan stereotip bahwa peran perempuan adalah sebagai ibu dan istri yang mengabdi pada suami. Seperti dibawah ini

(10)

V. KESIMPULAN

Kumpulan puisi “Jendela Hati” karya RR. Titi Isnani memuat gagasan dan pandangan mengenai peran dan fungsi ibu yang sangat stereotipe, yaitu perempuan dengan karakter feminitasnya yang lembut, sabar, penyayang namun juga bisa tegas.

(11)

Pergeseran makna bahasa Ibu tersebut memberikan dampak bergesernya juga fungsi yang mengikuti makna. Dalam kumpulan puisi ini makna “ibu” yang telah bergeser itu kini memiliki fungsi lain, yang disebut sebagai trifungsi, yaitu selain sebagai perempuan yang melahirkan dan mengasuh anak juga sebagai, istri dan anggota masyarakat. Fungsi utama “ibu” adalah perempuan yang melayani suami. Dalam fungsinya tersebut perempuan juga harus mempesona, cerdas dan super selayaknya wonder woman dalam komik.

Stereotipe ini merupakan konstruksi yang sudah mapan dalam masyarakat Indonesia, diperkuat dengan pemahaman mengenai konsep biologis, gender dan juga kodrat yang keliru. Penulis sengaja mengambil kumpulan puisi terbitan terbaru untuk dapat mengetahui perkembangan gagasan kesetaraan gender dalam masyarakat melalui puisi yang ditulis sendiri oleh perempuan yang berperan sebagai ibu rumah tangga dalam kehidupan keseharian.

Meskipun gagasan dan pandangan mengenai peran dan fungsi ibu dan perempuan dalam puisi ini tidak mewakili keseluruhan perempuan sebagi ibu rumah tangga, namun posisi pengarang yang cukup terpandang, dihormati dan panutan di lingkungannya, maka gagasan pengarang puisi tersebut dapat merepresentasikan pemahaman gender dan stereotipenya di lingkungan masyarakatnya, khususnya perempuan.

Dengan demikian, gagasan mengenai kesetaraan gender masih sangat terbatas penyebarannya dan konsep mengenai peran perempuan dalam hubungan dengan keluarga dan laki-laki masihlah sama sebagaimana stereotipe yang sudah berlaku selama ini di masyarakat.

Dibutuhkan gerakan penyadaran tentang kesetaraan gender yang lebih masif agar peran perempuan dalam sistem sosial kemasyarakatan dapat te-revisi dan kemudian terposisikan dengan lebih adil dan setara dengan laki-laki.

(12)

VI. DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko Damono. Bilang Begini, Maksudnya Begitu. Buku Apresiasi Puisi,Ciputat: Editum, 2010

Fakih, Dr. Mansour. Analisis Gender & Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

(13)

Isnani, RR Titi. Kumpulan Puisi. Jendela Hati. Yogyakarta: Bahari Press, 2013

Mantik, Maria Josephine Kumaat. Gender Dalam Sastra. Studi Kasus Drama Mega-Mega, Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2006

______, Mencermati Unsur Feminitas Dalam Kumpulan Cerpen Membunuh Orang Gila Karya Sapardi Djoko Damono, essay

______, Perempuan dan Perang Dalam Cerpen Sejarah Mademoiselle Fifi Karya Guy De Maupassant, essay, Diakronik Vol.2, 2 juli 2012

Referensi

Dokumen terkait

v. Pasal 29-30 yaitu hendaknya segala pernyataan tersebut tidak dilanggar dan patuh terhadap undang-undang yang berlaku dalam suatu negara. Dari pasal-pasal diatas, pasal

Dari beberapa kendala telah terjadi maka Proyek Pembangunan Underpass di simpang Dewa Ruci Kuta Bali merupakan proyek yang memiliki risiko cukup tinggi.. Proyek

Keterangan P : Peneliti B : Bruder/Kepala Sekolah P : “Selamat siang bruder” B : “Selamat siang” P : “Apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter bruder?” B : “Pendidikan

Jika alat ini digunakan untuk jasa pengeboran dengan kedalaman minimal 35 meter, maka biaya dalam 2 (dua) kali jasa pengeboran tersebut sudah dapat mengembalikan

Namun subkultur dari eksplan yang berasal dari media yang mengandung TDZ 3,0 mg/1 ke media yang mengandung konsentrasi TDZ yang sama menunjukkan jumlah tunas yang

Bukti pertanggungjawaban berupa: bukti pembayaran berupa invoice apabila dilakukan pembelian, bukti transfer pembayaran bukti pembayaran berupa invoice dan kuitansi

Untuk tujuan penelitianya, maka orientasi penelitian kasus ini adalah : (1) persepsi kepala sekolah, guru, dan siswa terhadap pengembangan pendidikan demokrasi di sekolah;

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rakhmat dan karunia-Nya sehingga disertasi ini dapat diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah