• Tidak ada hasil yang ditemukan

silabus dan pengembangan dan mekanisme

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "silabus dan pengembangan dan mekanisme"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

SILABUS DAN PENGEMBANGANNYA

Guru merupakan komponen penting yang menunjang keberhasilan program kegiatan sekolah. Semua komponen yang ada di sekolah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi

pengembangan proses pembelajaran tanpa didukung oleh guru yang bekerja secara profesional. Dalam pembelajaran memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar tercapai pembelajaran seperti yang diamanatkan dalam PP No. 19 tahun 2005. Dalam pasal 19 PP No. 19 tahun 2005 dinyatakan bahwa “proses pembelajaran pada satuan pendidikan

diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Oleh karena itu guru perlu melakukan persiapan mengajar dengan baik. Silabi adalah salah satu kelengkapan administrasi guru yang seharusnya disusun oleh guru yang bersangkutan sebelum melaksanakan pembelajaran. Silabus disusun sebagai acuan bagi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajaran, dan melakukan penilaian dalam pembelajaran.

A. Prinsip Pengembangan Silabus

Prinsip-prinsip pengembangan silabus adalah: 1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.

(2)

Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang

7. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). B. Komponen Silabus

Komponen silabus adalah sebagai berikut: 1. Standar Kompetensi

Sesuai dengan yang tercantum dalam Permen No. 22 tahun 2005 tentang Standar Isi 2. Kompetensi Dasar

Sesuai dengan yang tercantum dalam Permen No. 22 tahun 2005 tentang Standar Isi 3. Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok mempertimbangkan: 1. potensi peserta didik;

2. relevansi dengan karakteristik daerah;

3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; b. kebermanfaatan bagi peserta didik;

c. struktur keilmuan;

d. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

(3)

f. alokasi waktu.

4. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi. Pengalaman belajar dimaksud dapat terwujud melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman Belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:

1. Memberikan bantuan guru agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional 2. Memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar

3. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran

4. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan siswa dan materi.

5. Indikator

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan indicator adalah: 1. Setiap KD dikembangkan menjadi beberapa indikator (lebih dari dua)

2. Indikator menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan/atau diobservasi 3. Tingkat kata kerja dalam indikator lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam KD maupun SK

4. Prinsip pengembangan indikator adalah Urgensi, Kontinuitas, Relevansi dan Kontekstual 5. Keseluruhan indikator dalam satu KD merupakan tanda-tanda, prilaku, dan lain-lain untuk pencapaian kompetensi yang merupakan kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten.

6. Penilaian

(4)

mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran. 7. Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8. Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

C. Contoh Model Silabus Contoh 1.

Nama Sekolah : Kelas/Semester : Mata Pelajaran : Waktu :

Standar Kompetensi: No

KD

Indikator

Kegiatan Pemb.

(5)

Penilaian

Sumber/Bahan

Contoh 2 Nama Sekolah: Kelas/Semester: Mata Pelajaran: Waktu:

Standar Kompetensi: Kompetensi Dasar: Indikator:

(6)

Sumber/Bahan:

D. Langkah-langkah Penyusunan Silabus

Langkah-langkah penyusunan silabus adalah sebagai berikut: 1. Mengisi identitas sekolah

2. Menentukan tema yang akan disusun silabusnya 3. Menentukan alokasi waktu

4. Menuliskan SK semua mata pelajaran yang dimasukan kedalam tema 5. Menuliskan KD

6. Menuliskan indikator

7. Merumuskan kegiatan pembelajaran 8. Menuliskan indikator

9. Menentukan bentuk penilaian 10. Menentukan sumber / bahan

. PENDAHULUAN

Sekarang kita dihadapkan pada era baru dengan suatu paradigma kurikulum yang berbasis kompetensi. Kurikulum dengan basis kompetensi dalam prakteknya di kelas banyak melibatkan

keaktifan dan juga kreatifitas baik guru maupun siswa dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi dalam suatu kegiatan pembelajaran diarahkan ke model interaksi multi arah, yaitu guru–siswa, siswa–guru, siswa–siswa, dan siswa–materi (Johnson & Johnson, 1994). Tentunya kemampuan siswa untuk mengungkapkan pengetahuan yang dimilikinya ataupun yang baru dipahaminya

menjadi sangat penting.

Pemberlakuan kurikulum baru ataupun suatu strategi pembelajaran yang berorientasi siswa aktif (student oriented) bagi keadaan sekarang, bagaimanapun, perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian bagi semua pihak, terutama guru dan siswa sebagai subyek dan obyek langsung bagi

pembelajaran yang dimaksud. Ini akan memunculkan banyak kasus. Salah satu diantaranya adalah guru dituntut untuk mampu memetakan kurikulum dalam kegiatan pembelajaran yang

direncanakan secara baik dan berkesinambungan. Perencanaan itu salah satunya diwujudkan dalam bentuk pengembangan silabus dan sistem penilaian.

B. PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI

(7)

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Standar kompetensi peserta didik dikembangkan oleh para pakar bidang studi, pakar pendidikan

bidang studi, serta pakar psikologi perkembangan, dengan mengacu pada prinsip-prinsip : 1. Peningkatan Keimanan, Budi Pekerti Luhur, dan Penghayatan Nilai-nilai Budaya Keimanan, budi pekerti, dan nilai-nilai budaya perlu digali, dipahami, dan diamalkan untuk

mewujudkan karakter dan martabat bangsa.

2. Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika

Pengalaman belajar dirancang dengan memperhatikan keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.

3. Penguatan Integritas Nasional

Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan yang menumbuh kembangkan dalam diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia melalui pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang mampu memberikan sumbangan

terhadap peradaban dunia.

4. Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi

Kemampuan berpikir dan belajar dengan cara mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian serta menghadapi

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. 5. Pengembangan Kecakapan Hidup

Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup melalui budaya membaca, menulis, dan kecakapan hitung; keterampilan, sikap, dan perilaku adaptif, kreatif, kooperatif, dan kompetitif;

dan kemampuan bertahan hidup. 6. Pilar Pendidikan

Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam empat pilar, yaitu : (i) belajar untuk memahami, (ii) belajar untuk berbuat kreatif, (iii) belajar untuk hidup dalam kebersamaan, dan

(iv) belajar untuk membangun dan mengekspresikan jati diri yang dilandasi ketiga pilar sebelumnya.

7. Menyeluruh dan Berkesinambungan

Kompetensi mencakup keseluruhan dimensi kemampuan yaitu pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap, pola pikir dan perilaku yang disajikan secara berkesinambungan mulai dari usia

Taman Kanak-kanak atau Raudhatul Athfal sampai dengan pendidikan menengah. 8. Belajar Sepanjang Hayat

Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat (life Long Education)

Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian, menekankan pada pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada siswa melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan pembelajaran

yang mencakup pemilihan materi, strategi, media, evaluasi, dan sumber atau bahan pembelajaran. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai siswa dapat dilihat pada kemampuan

siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikuasai sesuai dengan standar prosedur tertentu.

(8)

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran di mana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencana perencanaan dimulai (McAshan, 1989). Dalam pembelajaran berbasis kompetensi perlu ditentukan standar minimum kompetensi yang harus dikuasai siswa. Sesuai pendapat tersebut, komponen materi pokok pembelajaran berbasis

kompetensi meliputi: 1 Kompetensi yang akan dicapai.

2 Strategi penyampaian untuk mencapai kompetensi.

3 Sistem evaluasi atau penilaian yang digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi.Dalam menentukan materi pembelajaran yang sesuia dengan kompetensi dasar menjadi kunci apakah konsep yang kita pilih itu benar-benar bisa mendukung ketercapaian

dari kompetensi dasar atau tidak. D. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS

Silabus merupakan penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang berisikan garis-garis besar materi pembelajaran., Beberapa prinsip yang mendasari

pengembangan silabus antara lain: ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, relevansi, konsistensi, dan kecukupan (Depdiknas, 2004).

1. Ilmiah.

Mengingat silabus berisikan garis-garis besar isi atau materi pembelajaran yang akan dipelajari oleh siswa, maka materi keilmuan yang disajikan dalam silabus harus benar. Untuk mencapai kebenaran ilmiah tersebut, dalam penyusunan silabus dilibatkan para pakar di bidang keilmuan masing-masing mata pelajaran. Hal ini dimaksudkan agar materi pelajaran yang disajikan dalam silabus sahih (valid).

2. Perkembangan dan kebutuhan siswa.

Dalam pembuatan silabus cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik dan psikologis siswa. Mengingat adanya perbedaan perkembangan fisik maupun psikologis siswa, maka materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa kelas satu berbeda dengan materi yang diberikan kepada siswa kelas dua maupun kelas tiga baik mengenai cakupan, kedalaman, maupun urutan penyajiannya.

3. Sistematis

Sesuai dengan konsep dan prinsip sistem, silabus dipandang sebagai suatu sistem, oleh karena itu penyusunannya juga harus dilakukan secara sistematis. Sebagai suatu sistem, silabus merupakan satu kesatuan yang mempunyai tujuan, terdiri dari bagian-bagian atau komponen yang satu sama lain saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Komponen pokok silabus meliputi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pokok/pembelajaran. Selain memandang silabus sebagai suatu sistem, sesuai konsep dan prinsip sistem, penyusunan silabus dilakukan secara sistematis, sejalan dengan pendekatan sistem atau langkah-langkah pemecahan masalah. Secara garis besar langkah-langkah sistematis pemecahan masalah meliputi identifikasi masalah atau kebutuhan, memilih alternatif pemecahan masalah, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengadakan revisi atau perbaikan. Sejalan dengan pendekatan sistem tersebut, langkah-langkah sistematis penyusunan silabus secara garis besar dimulai dengan identifikasi standar kompetensi. Setelah standar kompetensi ditentukan, langkah selanjutnya menentukan sejumlah kompetensi dasar dan materi pembelajaran yang diperlukan untuk mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi tersebut.

(9)

Dalam penyususnan silabus koherensi antara standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar siswa, sistem penilaian, dan sumber bahan.

Relevan berarti ada keterkaitan, misalnya standar kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa kemampuan "Memahami struktur dan fungsi tubuh hewan sebagai pendukung aktivitas kehidupannya". Kemampuan dasar yang relevan dengan standar kompetensi tersebut adalah: (1) Mengidentifikasi sistem organ pada hewan Avertebrata beserta fungsinya; (2) Mengidentifikasi sistem organ pada hewan vertebrata beserta fungsinya.

Konsisten berarti taat azas. Hubungan antara komponen-komponen silabus harus taat azas. Sebagai contoh, hubungan antara kompetensi dasar dengan pengalaman belajar. Kita ambil contoh dalam Bahasa Inggris. Salah satu materi pelajaran dalam Bahasa Inggris adalah Game "Find someone who...". Pengalaman belajar yang konsisten dengan materi pembelajaran tersebut adalah "Siswa menanyai teman sekelasnya dengan membawa angket untuk menemukan

seseorang yang dicari". Contoh lain, tentang konsistensi antara kompetensi dasar dengan soal ujian. Misalnya kompetensi dasarnya "Siswa dapat membuktikan bahwa udara menghantarkan suara". Soal ujian yang konsisten dengan kemampuan dasar tersebut adalah "Dengan melakukan percobaan, buktikan bahwa udara menghantarkan suara".

Adequate berarti cukup atau memadai. Prinsip adekuasi mensyaratkan agar cakupan atau ruang lingkup materi yang dipelajari siswa cukup memadai untuk menunjang tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang pada akhirnya membantu tercapainya standar kompetensi. Cukup, mengandung makna tidak terlalu sedikit tapi juga tidak terlalu banyak. Sebagai contoh, salah satu kompetensi dasar mata pelajaran Biologi adalah "Siswa dapat menjelaskan struktur keilmuan Biologi ditinjau dari objek dan persoalannya yang dikaji pada berbagai tingkat organisasi kehidupan". Materi pokok/pembelajaran yang memadai untuk mencapai standar kompetensi tersebut meliputi: (1) objek biologi; (2) tema persoalan biologi; (3) tingkat organisasi kehidupan; (4) Contoh objek dan persoalan biologi pada organisasi kehidupan tertentu.

E. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN SILABUS DAN SISTEM PENILAIAN Langkah-langkah dalam penyusunan silabus dan sistem penilaian meliputi tahap-tahap: identifikasi mata pelajaran; perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; penentuan materi pokok; pemilihan pengalaman belajar; penentuan indikator; penilaian, yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen; perkiraan waktu yang dibutuhkan; dan

pemilihan sumber/bahan/alat (format lihat lampiran 2 dan contoh isian silabus lampiran 3). Untuk lebih jelasnya dapat dibaca uraian berikut.

1. Identifikasi. Pada setiap silabus perlu identifikasi yang meliputi identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/program, dan semester.

2. Pengurutan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Matematika dirumuskan berdasarkan struktur keilmuan Matematika dan tuntutan kompetensi lulusan. Selanjutnya standar kompetensi dan kompetensi dasar diurutkan dan disebarkan secara sistematis. Sesuai dengan kewenangannya, Depdiknas telah merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran.

(10)

pokok dan uraian materi pokok adalah: a) prinsip relevansi, yaitu adanya kesesuaian antara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai; b) prinsip konsistensi, yaitu adanya keajegan antara materi pokok dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi; dan c) prinsip adekuasi, yaitu adanya kecukupan materi pelajaran yang diberikan untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Materi pokok inipun telah ditentukan oleh Depdiknas.

4. Pemilihan Pengalaman Belajar. Proses pencapaian kompetensi dasar dikembangkan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar. Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar. Pengalaman belajar dilakukan oleh siswa untuk menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Baik pembelajaran tatap muka maupun pengalaman belajar, dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Untuk itu, pembelajarannya dilakukan dengan metode yang bervariasi.

Selanjutnya, pengalaman belajar hendaknya juga memuat kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh siswa. Kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problem hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. Pembelajaran kecakapan hidup ini tidak dikemas dalam bentuk mata pelajaran baru, tidak dikemas dalam materi tambahan yang disisipkan dalam mata pelajaran, pembelajaran di kelas tidak memerlukan tambahan alokasi waktu, tidak memerlukan jenis buku baru, tidak

memerlukan tambahan guru baru, dan dapat diterapkan dengan menggunakan kurikulum apapun. Pembelajaran kecakapan hidup memerlukan reorientasi pendidikan dari subject-matter oriented menjadi life-skill oriented.

Secara umum ada dua macam life skill, yaitu general life skill dan spesific life skill . General life skill dibagi menjadi dua, yaitu personal skill (kecakapan personal) dan social skill (kecakapan sosial). Kecakapan personal itu sendiri terdiri dari self-awareness skill (kecakapan mengenal diri) dan thinking skill (kecakapan berpikir). Spesific life skill juga dibagi menjadi dua, yaitu

academic skill (kecakapan akademik) dan vocational skill (kecakapan vokasional/kejuruan). Kecakapan-kecakapan hidup di atas dapat dirinci sebagai berikut. Pertama, kecakapan mengenal diri meliputi kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran akan eksistensi diri, dan kesadaran akan potensi diri. Kedua, kecakapan berpikir meliputi kecakapan menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan kecakapan memecahkan masalah. Ketiga, kecakapan sosial meliputi kecakapan komunikasi lisan, komunikasi tertulis, dan kecakapan bekerjasama. Keempat, kecakapan akademik meliputi kecakapan mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan hipotesis, dan kecakapan melaksanakan penelitian. Kelima, kecakapan vokasional sering disebut juga sebagai kecakapan kejuruan. Kecakapan ini terkait dengan bidang pekerjaan tertentu. Dalam memilih pengalaman belajar perlu dipertimbangkan kecakapan hidup apa yang akan dikembangkan pada setiap kompetensi dasar. Untuk itu diperlukan analisis kecakapan hidup setiap kompetensi dasar. (Lihat table 1)

Dalam mata pelajaran Matematika di SMA kecakapan hidup (life skill) yang dikembangkan adalah general life skill dan academic skill (kecakapan akademik). Rumusan pengalaman belajar yang diturunkan dari kompetensi dasar hendaknya memuat kecakapan hidup di atas. Kecakapan hidup dalam pengalaman belajar ditulis dalam tanda kurung dengan cetak miring. Misalnya; mendiskusikan pangkat, mengaplikasikan rumus-rumus pangkat (kecakapan hidup: kesadaran akan eksistensi diri, kesadaran akan potensi diri, menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, identifikasi variabel, dan memecahkan masalah).

(11)

secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian hasil pembelajaran. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang bisa diukur dan dibuat instrumen penilaiannya. Seperti halnya standar kompetensi dan kompetensi dasar, sebagian dari indikator telah pula ditentukan oleh Depdiknas. Namun untuk revisi kurikulum 2004 yang direncanakan 2006 akan di keluarkan, indikator pencapaian belajara tidak lagi ditentukan oleh pusat melaikan akan benar-benar menjadi tanggung jawab guru dalam mengolah dan menentukan indikator pencapaian belajar.

6. Penjabaran Indikator ke dalam Instrumen Penilaian. Indikator dijabarkan lebih lanjut ke dalam instrumen penilaian yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen. Setiap indikator dapat dikembangkan menjadi 3 instrumen penilaian yang meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif.

Jenis tagihan yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut.

a. Kuis. Bentuknya berupa isian singkat dan menanyakan hal-hal yang prinsip. Biasanya dilakukan sebelum pelajaran dimulai, kurang lebih 5 -10 menit. Kuis dilakukan untuk

mengetahui penguasaan pelajaran oleh siswa. Tingkat berpikir yang terlibat adalah pengetahuan dan pemahaman.

b. Pertanyaan Lisan. Materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip, atau teorema. Tingkat berpikir yang terlibat adalah pengetahuan dan pemahaman.

c. Ulangan Harian. Ulangan harian dilakukan secara periodik di akhir pembelajaran satu atau dua kompetensi dasar. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya mencakup pemahaman, aplikasi, dan analisis.

d. Ulangan Blok. Ulangan Blok adalah ujian yang dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa kompetensi dasar dalam satu waktu. Tingkat berpikir yang terlibat mulai dari pemahaman sampai dengan evaluasi.

e. Tugas Individu. Tugas individu dapat diberikan pada waktu-waktu tertentu dalam bentuk pembuatan klipping, makalah, dan yang sejenisnya. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, sampai sintesis dan evaluasi.

f. Tugas Kelompok. Tugas kelompok digunakan untuk menilai kompetensi kerja kelompok. Bentuk instrumen yang digunakan salah satunya adalah uraian bebas dengan tingkat berpikir tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi.

g. Responsi atau Ujian Praktik. Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya. Ujian responsi bisa dilakukan di awal praktik atau setelah melakukan praktik. Ujian yang dilakukan sebelum praktik bertujuan untuk mengetahui kesiapan peserta didik melakukan praktik di laboratorium atau tempat lain, sedangkan ujian yang dilakukan setelah praktik, tujuannya untuk mengetahui kompetensi dasar praktik yang telah dicapai peserta didik dan yang belum.

h. Laporan Kerja Praktik. Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya. Peserta didik bisa diminta untuk mengamati suatu gejala dan melaporkannya. Bentuk instrumen dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Bentuk instrumen tes meliputi: pilihan ganda, uraian objektif, uraian non-objektif, jawaban singkat, menjodohkan, benar-salah, unjuk kerja (performans) dan portofolio, sedangkan bentuk instrumen nontes

meliputi: wawancara, inventori, dan pengamatan. Para guru diharapkan menggunakan instrumen yang bervariasi agar diperoleh data tentang pencapaian belajar siswa yang akurat dalam semua ranah.

(12)

a. Pilihan Ganda. Bentuk ini bisa mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif, dan bisa dikoreksi dengan mudah. Tingkat berpikir yang terlibat bisa dari tingkat pengetahuan sampai tingkat sintesis dan analisis.

b. Uraian Objektif. Jawaban uraian objektif sudah pasti. Uraian objektif lebih tepat digunakan untuk bidang Ilmu Alam. Agar hasil penskorannya objektif, diperlukan pedoman penskoran. Hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walaupun diperiksa oleh orang yang berbeda. Tingkat berpikir yang diukur bisa sampai pada tingkat yang tinggi.

c. Uraian Non-objektif/Uraian Bebas. Uraian bebas dicirikan dengan adanya jawaban yang bebas. Namun demikian, sebaiknya dibuatkan kriteria penskoran yang jelas agar penilaiannya objektif. Tingkat berpikir yang diukur bisa tinggi.

d. Jawaban Singkat atau Isian Singkat. Bentuk ini digunakan untuk mengetahui tingkat

pengetahuan dan pemahaman siswa. Materi yang diuji bisa banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah.

e. Menjodohkan. Bentuk ini cocok untuk mengetahui pemahaman atas fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berpikir yang terlibat cenderung rendah.

f. Performans. Bentuk ini cocok untuk mengukur kompetensi siswa dalam melakukan tugas tertentu, seperti praktik ibadah atau perilaku yang lain.

g. Portofolio. Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja siswa, dengan menilai kumpulan karya-karya dan tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswa. Karya-karya ini dipilih dan kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan siswa.

7. Menentukan Alokasi Waktu. Alokasi waktu adalah perkiraan berapa lama siswa mempelajari suatu materi pelajaran. Untuk menentukan alokasi waktu, prinsip yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi baik di dalam maupun di luar kelas, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari.

8. Sumber/Bahan/Alat. Istilah sumber yang digunakan di sini berarti buku-buku rujukan, referensi atau literatur, baik untuk menyusun silabus maupun mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan dan alat adalah bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan dalam praktikum atau proses pembelajaran lainnya. Bahan dan alat di sini dapat bervariasi sesuai dengan karakteristik mata pelajarannya.

F. PENUTUP

Edisi revisi kurikulum 2004 yang direncanakan akan ditandatangani tahun 2006, hanya akan memuat standart kompetensi dan kompetensi dasar tanpa adanya indikator pencapaian belajara sebagai mana yang lama (Edisi 2004). Indikator belajar tidak lagi ditentukan oleh pusat melaikan akan benar-benar menjadi tanggung jawab guru dalam mengolah dan menentukan indikator pencapaian belajar. Hal ini dipandang penting untuk mengurangi doktrin pusat pada daerah dan memberikan peluang seluas-luasnya pada sekolah untuk mendisian sendiri indikator hasil belajar. Banyak macam-macam form Silabus dan Sistem penilaian, namun acuannya tak jauh dari contoh form silabut yang ada pada lampiran makalah ini. Silabus banyak sekali yang sudah jadi dan disebarkan melalui kegiatan semacam MGMP atau yang lainnya. Namun sebagai guru kita harus mampu merumuskan dan mendisain ulang silabus untuk kita sesuaikan kembali dengan realita yang ada dilapangan, dengan kekhususan yang adapa ada pada serkolah kita, agar kita bisa melaksanakan pembelajaran yang PAKEM (Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efisien dan

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Adams, Anna R. (1995). Competency Based Training. Directorate Vocational Education, IATVEP A Project.

Abdul Gafur (1986). Disain Instruksional: Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar. Sala: Tiga Serangkai.

Abdul Gafur (1985). Media Besar Media Kecil: Alat dan Teknologi Pengajaran. Semarang: IKIP Press.

Bloom et al. (1956). Taxonomy of educational objectives: the classification of educational goals. New York: McKay.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2004). Silabus dan Sistem Penilaian Matematika untuk SMA/MA. Surabaya: LPMP Jawatimur akarta

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003). Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Matematika untuk SMA/MA. Jakarta: Dirjen Dikdasmen

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003). Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Sekjen Debdikbud. Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2001). Kebijakan Pendidikan Menengah Umum.

Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Edwards, H. Cliford, et.all (1988). Planning, Teaching, and Evaluating: A Competency Approach. Chicago: Nelson-Hall.

Hall, Gene E & Jones, H.L. (1976). Competency-Based Education: A process for the improvement of education. New Jersey: Englewood Cliffs, Inc.

Johnson, D.W. & Johnson, R.T. 1994. Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning, Fourth Edition. Massachusets: Allyn & Bacon.

Marzano RJ & Kendal JS (1996). Designing standard-based districts, schools, and classrooms. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

McAshan, H.H. (1989). Competency-Based Education and Behavioral Objectives. New Jersey: Educational Technology Publications, Engelwood Cliffs.

Referensi

Dokumen terkait

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan /atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi

Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator,

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator,

a. Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan secara nasional untuk seluruh mata pelajaran harus dijadikan acuan utama dalam merumuskan komponen-komponen

• Membimbing guru dalam menentukan tujuan pendidikan yang sesuai, berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata

a. Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan secara nasional untuk seluruh mata pelajaran harus dijadikan acuan utama dalam merumuskan komponen-komponen

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajaran,