• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Penelitian Upaya Pemerintah Kota

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Penelitian Upaya Pemerintah Kota"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Globalisasi dan Dinamika Lokal

Oleh Citria Oktaviani

155120401111080

Lies Aisyah Fardini 155120407111069

Nuraviva Halimatus Husna 155120401111066

Renny Putri Irmando Reba 155120407111068

Rika Zulkarnaen 155120400111002

Tessalonika Dinda Dwi Permata 155120401111048

Dosen Pengampu Muhaimin Zulhair A, S.IP., MA

Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Brawijaya Malang

(2)

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang membahas tentang Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding Kota Layak Anak guna memenuhi tugas mata kuliah Globalisasi dan Dinamika Lokal. Tak luput juga penulis sampaikan terimakasih kepada Bapak Muhaimin Zulhair Achsin, S.IP., MA, selaku dosen pengampu mata kuliah Globalisasi dan Dinamika Lokal.

Penelitian ini masih masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Malang, 22 April 2017

(3)

DAFTAR ISI

2.1. Definisi Konseptual: The 5 Scapes Of Appadurai...16

2.1.1. Ideoscapes...17

4.1. Kota Malang sebagai Kota Layak Anak...23

4.2. Dinas yang Terkait dengan Kota Layak Anak...26

BAB V...29

PEMBAHASAN DAN ANALISA TEMUAN (FINDINGS)...29

5.1. Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding sebagai Kota Layak Anak...29

(4)

4

5.1.2. Hasil Wawancara Dinas Sosial Kota Malang...32

5.1.3. Hasil Wawancara Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Malang (DPKP Kota Malang)...38

5.2. Respon Warga Kota Malang terhadap Branding Kota Layak Anak di Kota Malang...39

5.2.1. Hasil Kuesioner...39

BAB VI...44

PENUTUP...44

6.1. Kesimpulan...44

6.2. Saran...44

DAFTAR PUSTAKA...46

Artikel dan Jurnal Online...46

Sumber Buku...46

(5)

DAFTAR TABEL

(6)

6

DAFTAR SINGKATAN

AKB : Angka Kematian Bayi

Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional GUIC : Growing Up In City

HAM : Hak Asasi Manusia

Kemendagri : Kementerian Dalam Negeri Kemenkumham : Kementerian Hukum dan HAM Kemensos : Kementerian Sosial

KHA : Konvensi Hak Anak

KLA : Kota Layak Anak

KRA : Kota Ramah Anak

KTT : Konferensi Tingkat Tinggi

Napza : Narkoba, Psikotropika, dan Zat Adiktif PRA : Puskesmas Ramah Anak

RANHAM : Rencana Aksi Nasional HAM SDM : Sumber Daya Manusia

UNESCO : United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization

(7)

1.1. Latar Belakang Masalah

Kota Hak Asasi Manusia (HAM) pertama kali disahkan pada deklarasi Gwangju, di Gwangju, Korea Selatan pada 17 Mei 2011. Kota HAM adalah sebuah komunitas lokal maupun proses sosial-politik dalam konteks lokal.1 Kota HAM adalah kota yang berupaya untuk melaksanakan kebijakan dan kelembagaan kota untuk menghormati dan melindungi HAM sesuai dengan konvenan HAM Internasional, UUD 1945 dan UU HAM Indonesia. Kota HAM memprioritaskan dan melaksanakan kebijakan menjadi kota yang layak, bebas diskriminasi-intoleransi, dan menjadi kota yang melindungi hak anak, perempuan dan lansia. Untuk menjadi Kota HAM kota harus memiliki kelembagaan yang kuat dan mampu untuk melaksanakan, memantau pelaksanaan serta realisasi di wilayahnya tersebut.2

Sebuah kota akan disebut Kota Ramah HAM jika di kota tersebut pemerintah dan penduduknya secara moral dan hukum, diatur dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia.3 Semua warga kota harus mengerti, memahami dan menghormati HAM. Jadi untuk menjadi Kota HAM harus ada keterlibatan penduduk kota dalam mempromosikan penghormatan pada HAM, kesetaraan dan perdamaian.4

Berikut adalah indikator sebuah kota bisa dikatakan sebagai Kota HAM: a. Komunitas yang melibatkan penduduk dalam mempromosikan

penghormatan pada HAM, kesetaraan dan non diskriminasi.

b. Kota yang menggunakan HAM sebagai nilai-nilai fundamental dan prinsip-prinsip panduan dalam kelola kota

c. Kota yang inklusif dan adil d. Kota yang non diskriminatif

1Antonio Pradjasto H, et al, Panduan Kabupaten dan Kota Ramah Hak Asasi Manusia (Jakarta Selatan: Infid) hlm.6

(8)

8

e. Kota yang menjadikan nilai dan prinsip-prinsip HAM sebagai kebiasaan dalam perilaku negara dengan warga negara dan antar warga negara.5

Salah satu alasan digagasnya Kota HAM adalah untuk melokalkan HAM, karena dipercaya bahwa penerapan norma dan standar HAM akan berjalan efektif jika dilakukan dari tingkat kota atau kabupaten. Hal ini dikarenakan di tingkat kota banyak terjadi masalah-masalah mengenai HAM dan akan lebih efektif jika permasalahan yang ada diselesaikan di tingkat kota tersebut.6 Pada tingkat kota juga warga negara dapat ikut berpartisipasi dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan maupun mengawasi jalannya pemerintahan.7

Di Indonesia sendiri, semenjak dikeluarkannya kebijakan mengenai Kota Ramah HAM atau Human Right Cities pada tahun 2015, tepatnya pada tanggal 11 Desember 2015, pemerintah menjadi semakin gencar untuk membuat program-program yang bertujuan untuk mempromosikan HAM.8 Yang mana kebijakan mengenai Kota Ramah HAM ini merupakan gabungan dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (kemenkumham), Kementrian Sosial (kemensos), Kementrian Dalam Negeri (kemendagri), dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).9 Kebijakan Kota Ramah HAM atau RANHAM (Rencana Aksi Nasional HAM) ini juga sebagai perwujudan untuk memenuhi hak-hak dasar yang tercantum dalam deklarasi HAM PBB.10 Mengingat karena masih banyaknya permasalahan terkait pelanggaran HAM di kota-kota atau daerah-daerah yang ada di Indonesia. Seperti masih banyaknya kekerasan pada anak dan perempuan, kerusuhan antar umat beragama, kurangnya perhatian terhadap para penyandang disabilitas, dan sebagainya.

Salah satu elemen yang ditekankan dalam penerapan kebijakan ini ialah pemenuhan hak untuk anak. Dengan adanya penerapan kebijakan ini, pemerintah berharap kepada seluruh kepala daerah yang ada di Indonesia untuk dapat

5Ibid, 6. 6Ibid, 10. 7Ibid, 11.

8 Elza Astari Retaduari, “Pemerintah Luncurkan Kebijakan Kota Ramah HAM Awal Desember”, Detik.com edisi Rabu 25 November 2015, diakses dari

http://news.detik.com/berita/3080305/pemerintah-luncurkan-kebijakan-kota-ramah-ham-awal-desember.

(9)

memastikan pemenuhan hak-hak dasar untuk anak, termasuk bagi penyandang disabilitas. Penerapan kebijakan ini juga digunakan pemerintah sebagai tolak ukur seberapa besar atau seberapa tinggi kepedulian kabupaten atau kota yang ada di tiap-tiap provinsi di Indonesia untuk memenuhi hak-hak dasar tersebut.

Menurut United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF), definisi Kota Ramah Anak (KRA), atau sering juga disebut Kota Layak Anak (KLA), adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Hal itu berarti keputusan anak akan berpengaruh terhadap kota dimana mereka tinggal. Hak-hak anak tersebut berupa anak berhak untuk mengekspresikan pendapat tentang kota yang mereka inginkan; ikut berperan serta dalam kehidupan keluarga, komunitas, dan sosial; menerima pendidikan dan kesehatan; mendapat akses terhadap air minum segar dan sanitasi yang baik; terlidungi dari eksploitasi, kekejaman, dan perlakuan salah; merasa aman saat berjalan di jalan; bertemu dan bermain dengan teman mereka; memiliki ruang terbuka hijau untuk tanaman dan hewan, hidup di lingkungan yang bebas polusi; ikut berperan dalam kegiatan budaya dan sosial; dan setiap warga secara seimbang berhak mengakses setiap pelayanan tanpa memperhatikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender, dan kecacatan.11

KLA menjadi penting karena menurut direktur World Health Organization (WHO) untuk kawasan Asia Tenggara, Dr. Uton Muchtar Rafei, perkembangan dan pertumbuhan kota dan industri telah menambah dampak buruk baru terhadap kesehatan anak. Selain itu juga sebagian besar anak yang hidup di kota belum merasa tenang dan nyaman melakukan kegiatan mereka seperti bersekolah, bermain, berekreasi, dll. Hal tersebut terutama dirasakan oleh anak yang tinggal di daerah pemukiman liar yang padat, kumuh dan kurang sehat dimana mereka sulit untuk mengakses pelayanan umum seperti air bersih, sanitasi dan tempat sampah. Keterbatasan dalam mengakses pelayanan umum tersebut ditambah lagi dengan pelayanan lain seperti pendidikan, kesehatan, arena bermain, rekreasi, kenyamanan menggunakan jalan serta pedestrian tersebut menunjukkan bahwa

(10)

10

kebijakan anggaran pemerintah kota di bidang anak belum menjadi prioritas dan masih sangat terbatas.12

Gagasan KRA atau KLA diawali dengan penelitian oleh Kevin Lynch mengenai “Children’s Perception of the Environment” pada tahun 1971-1975 yang dilakukan dalam rangka program Growing Up In City (GUIC) yang disponsori oleh United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), dimana salah satu tujuan program tersebut adalah mendokumentasikan persepsi dan prioritas anak, sebagai basis program peran serta perbaikan kota. Selanjutanya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi Konvensi Hak Anak pada 1989 dengan memasukkan ketentuan tentang hak anak untuk mengekspresikan pendapatnya yang juga berarti, selain prinsip-prinsip seperti non diskriminasi, kepentingan terbaik untuk anak, serta hak hidup dan mengembangkan diri anak, juga memiliki hak untuk mengekspresikan pendapatnya. Perkembangan selanjutnya pada KTT Bumi di Rio de Jeneiro, Brazil pada tahun 1992. Dimana saat itu para kepala pemerintahan di seluruh dunia menyepakati sebuah program yang kemudian mendorong pemeritah kota untuk menjamin bahwa anak, remaja, dan perempuan terlibat dalam proses pembuatan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan. Kemudian dilakukan penelitian lagi yang disponsori oleh UNESCO dan Child Watch International pada tahun 1994-1995. Dimana hasil penelitian itu menjadi indikator UNICEF dalam mengawasi pemenuhan hak anak di kota. Perkembangan selanjutnya pada Konferensi Habitat II atau City Summit di Istanbul, Turki pada tahun 1996. Yang mana dihasilkan agenda habitat yaitu sebuah aksi dimana anak dan remaja harus memiliki tempat tinggal yang layak, terlibat dalan proses pengambilan keputusan, terpenuhi kebutuhan dan peran anak dalam bermain dengan komunitasnya. Pada konferensi tersebut juga UNICEF dan UNHABITAT memperkenalkan Child Friendly City Initiative, terutama menyentuh anak kota, khususnya yang miskin dan yang terpinggirkan dari pelayanan dasar dan perlindungan untuk menjamin hak dasar mereka. Dan akhirnya pada UN Special Session in Children, yang diadakan pada Mei 2002, para walikota menegaskan komitmen mereka untuk aktif menyarakan hak anak. Hal tersebut mencakup 1) mengembangkan rencana aksi

(11)

untuk kota mereka menjadi Kota ramah dan melindungi hak anak dan 2) mempromosikan peran serta anak sebagai aktor perubahan dalam proses pembuatan kebijakan di kota mereka terutama proses pelaksanaan dan evaluasi kebijakan pemerintah kota.13

Untuk menjadi kota yang layak anak, sebuah kota harus memenuhi beberapa indikator. Indikator-indikator ini berjumlah 31 yang digolongkan menjadi lima klaster, yang akan dijabarkan sebagai berikut:

1. Penguatan Kelembagaan (6 Indikator)

a. Jumlah Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak

b. Persentase Anggaran Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak c. Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) terlatih KHA

d. Keterlibatan Lembaga Masyarakat dan Media Massa dalam Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak

e. Keterlibatan Dunia Usaha dalam Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak

f. Jumlah Kegiatan Inovatif

2. Klaster: Hak Sipil dan Kebebasan (3 Indikator)

a. Persentase Anak yang diregistrasi dan Mendapatkan Kutipan Akta Kelahiran

b. Tersedianya Fasilitas Informasi Layak Anak

c. Persentase Forum Anak, termasuk kelompok anak yang ada di Kabupaten atau Kota, Kecamatan dan Desa atau Kelurahan

d. Jumlah Kegiatan Peningkatan Kapasitas Forum Anak

3. Klaster: Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif (3 Indikator) a. Persentase Usia Perkawinan Pertama di Bawah 18 Tahun

b. Tersedia Lembaga Konsultasi bagi Orang Tua atau Keluarga yang Menyediakan Layanan Pengasuhan dan Perawatan Anak

c. Tersedia Program Pengasuhan Berkelanjutan

4. Klaster: Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan (9 Indikator) a. Angka Kematian Bayi (AKB)

b. Prevalensi Gizi Buruk, Gizi Kurang, Stunting dan Gizi Lebih pada Balita c. Persentase ASI Eksklusif

d. Persentase Puskesmas Ramah Anak (PRA) e. Persentase Imunisasi Dasar Lengkap

(12)

12

f. Jumlah Lembaga yang memberikan Layanan Kesehatan Reproduksi Remaja, Napza, HIV/AIDS, Kesehatan Jiwa dan Kesehatan bagi Anak Penyandang Disabilitas

g. Persentase Anak dari Keluarga Miskin yang memperoleh Akses Peningkatan Kesejahteraan

h. Persentase Rumah Tangga dengan Akses Air Bersih i. Tersedia Kawasan Tanpa Rokok

5. Klaster: Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya (5Indikator)

a. Angka Partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini b. Persentase Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun c. Persentase Sekolah Ramah Anak (SRA)

d. Jumlah Sekolah yang Memiliki Program, Sarana dan Prasarana Perjalanan Anak yang Aman ke dan dari Sekolah

e. Tersedia Fasilitas untuk kegiatan Kreatif yang Ramah Anak, diluar sekolah

6. Klaster: Perlindungan Khusus (4 Indikator)

a. Persentase Anak dalam Kategori Perlindungan Khusus yang Mendapat Layanan

b. Persentase Penyelesaian Kasus dengan Proses Diversi bagi Anak yang Berkonflik dengan Hukum

c. Tersedia Mekanisme Penanggulangan Bencana yang Memperhatikan Kepentingan Terbaik Anak

d. Persentase Anak yang Dibebaskan dari Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Anak.14

Kota Malang merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur yang memiliki branding Kota Layak Anak (KLA), yang mana dalam setiap pembuatan kebijakan kota Malang akan secara otomatis memperhatikan permasalahan-permasalahan yang menyangkut pemenuhan hak untuk anak. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam fasilitas yang dibangun dengan mengedepankan konsep untuk pemenuhan hak untuk anak.

14Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, “Pengembangan Kabupaten Kota

(13)

Branding Malang sebagai KLA tentunya diberikan bukan tanpa alasan. Sesuuai dengan yang dikutip dari salah satu laman berita Republika, dimana diberitakan jika Kota Malang telah memenangkan penghargaan KLA tingkat Pratama selama tiga tahun, dan sekarang telah naik ke tingkat Madya pada tahun 2015 kemarin.15 Penghargaan yang diterima oleh Kota Malang pun tidak semata-mata diterima begitu saja, keberadaan taman kota yang ramah sosial, keberadaan bus sekolah, bus wisata Malang City Tour (macyto), merupakan salah satu sumbangan poin terbesar bagi kota Malang untuk meraih penghargaan KLA tersebut.16

Tidak hanya sebagai KLA, namun Kota Malang akan terus meningkatkan pelayanannya agar tercipta Kota Malang yang ramah sosial baik untuk kelompok disabilitas, lansia, ibu-ibu, dan ramah untuk semua warga, seperti yang disampaikan oleh Wali Kota Malang, Mochammad Anton.17 Kota Malang saat ini sedang mengupayakan agar mampu meraih kategori Nidya, dimana salah satu poin penilaiannya adalah, Kota Malang harus melengkapi taman kota atau fasilitas publiknya dengan ruang laktasi atau ruang untuk ibu menyusui.18

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah yang akan dibahas kebih lanjut dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding sebagai Kota Layak Anak?

2. Bagaimana Respon Warga Kota Malang mengenai Branding Kota Layak Anak di Kota Malang?

1.3. Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah tersebut tujuan penelitian adalah:

15 Karta Raharja Ucu, “Malang Raih Penghargaan Kota Layak Anak”, Republika.co.id edisi Kamis 13 Agustus 2015, diakses dari

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/08/13/nszc4u282-malang-raih-penghargaan-kota-layak-anak.

(14)

14

1. Untuk memahami bagaimana Upaya Pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan branding sebagai Kota Malang.

(15)

1.4. Manfaat Penelitian Manfaat Akademis

Penulis berharap penelitian terkait Upaya Pemerintah kota Malang dalam Mewujudkan Branding sebagai KLA ini dapat memberikan manfaat akademis kepada penulis dan pembaca. Sehingga baik penulis maupun pembaca dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan dari adanya penelitian ini, dan nantinya dapat menjadi sumber rujukan bagi penulis selanjutnya.

Manfaat Praktis

(16)

BAB II

KONSEPTUALISASI 2.1. Definisi Konseptual: The 5 Scapes Of Appadurai

Dalam menganalisis hubungan antara upaya pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan branding sebagai Kota Layak Anak dengan mata kuliah Globalisasi dan Dinamika Global maka penulis menggunakan konsep globalisasi ‘’disjuncture’’ dari Arjun Appadurai. Dalam konsep tersebut globalisasi tidak membawa homogenisasi (penyeragaman kebudayaan). Globalisasi tidak hanya melahirkan suatu ruang global yang tugal, tetapi memunculkan ruang yang berbeda yang tetap berkesinambungan satu sama lainnya. Arjun Appadurai mengemukakan bahwa ruang pergerakan globalisasi ada lima scape, yakni terdiri dari ethnoscape, mediascape, technoscape, financescape, dan ideoscape.19

Yang pertama ialah ethoscape yaitu sebuah ruang pergerakan manusia yang melakukan perpindahan, seperti contohnya adalah imigran, turis, pengungsi dan lain sebagainya. Dengan adanya perpindahan individu ataupun kelompok dari satu tempat ke tempat lainnya membuat terjadinya pertukaran kebudayaan, dan juga para imigran, turis, ataupun pengungsi tersebut dapat menyebarkan globalisasi sehingga orang-orang yang tinggal di tempat yang mereka datangi tersebutpun akan mulai terkena dampak globalisasi.

Kedua ialah mediascape yaitu sebuah ruang pergerakan melalui berbagai media, yang mana mediascape merujuk pada distribusi kemampuan elektronik untuk memproduksi dan menyebarkan informasi melalui media-media yang ada seperti surat kabar, majalah, internet, stasiun televisi. Di dalam mediascape, media bisa dimiliki oleh kelompok kepentingan ataupun pihak yang netral. Dengan adanya media juga, setiap manusia dapat mendapatkan dan melihat informasi dari belahan dunia lain mengenai adanya globalisasi

(17)

Ketiga adalah technoscape yaitu pergerakan globalisasi terjadi karena adanya teknologi-teknologi yang mendukung proses penyebaran informasi. Dimana kita bisa mengetahuai apa yang dilakukan oleh negara-negara lain dengan mudah dan cepat. Dengan adanya perkembangan teknologi, membuat adanya ketergantungan antar negara, dan juga membuat teknologi tersebut melewati batas negara dan membuat pergerakan globalisasi semakin pesat.

Keempat adalah financescape yaitu ruang pergerakan uang yang melintasi batas-batas wilayah negara. Ekonomi global dapat memudahkan adanya pergerakan uang melalui adanya transfer modal dari negara satu ke negara lainnya. Adanya financescape membuat ruang pergerakan uang maupun modal menjadi lebih cepat.

Kelima yaitu Ideoscape ruang pergerakan mengenai ideologi politik yang mendunia, yang mana contoh dari ideoscape yakni seperti pemikiran atau pandangan terhadap suatu hal, gagasan atau istilah mengenai kebebasan, kedaulatan, perwakilan dan demokrasi. Di dalam ideoscape juga menjelaskan mengenai hubungan ideologi dengan pergerakan politik yang ada di negara-negara. Contohnya adalah ideologi liberalisme yang menyebarkan mengenai demokrasi dan kebebasan sehingga ideologi maupun pemikiran tersebut diadopsi oleh negara-negara lain di dunia.20

Ideoscapes

Dalam penelitian Globalisasi dan Dinamika Lokal penulis menjelaskan tentang Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding sebagai KLA menggunakan satu dari empat konsep yang dikemukakan oleh Appadurai yaitu Ideoscape. KLA merupakan suatu bagian dari pemikiran HAM. Yang mana HAM merupakan sebuah pemikiran mengenai adanya kebebasan hak manusia untuk dapat melakukan suatu hal seperti hak untuk hidup, hak untuk penghidupan yang layak, dan hak kepemilikan atas kebebasan pribadinya. HAM merupakan

(18)

suatu pemikiran dari filsuf barat, yang mana HAM cenderung berakar pada ideologi dan budaya liberal yang melindungi dan mengakui hak manusia.21 Jadi keterkaikatan antara konsep ideoscape dengan upaya pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan branding sebagai KLA adalah dengan menggunakan pemikiran ideologi pemikiran HAM dari barat yang digunakan untuk mendukung adanya program KLA tersebut. Awalnya bukan Kota Malang yang pertama kali mengusung pemikiran mengenai branding KLA, karena program awalnya langsung dari pemerintah pusat. Yang mana pemerintah Indonesia awalnya sangat menghargai Prinsip dan tujuan dari Universal Declaration of Human Right dan majelis umum PBB juga mengesahkan adanya cabang dari deklarasi tersebut yakni International Convenan on Economic, social dan Cultural Human Right (Konvenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya) dan International Convenan of Civil and Political Right (Konvenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik) hal itu tertuang dalam UU No.11 dan 12 Tahun 2005. Selanjutnya dari dua cabang tersebut maka Majelis Umum PBB membentuk adanya Convention on The Right of Children yang mana mengatur mengenai hak-hak anak seperti non diskriminasi, hak hidup dan lainnya. Indonesia dalam mendukung hak anak maka turut meratifikasi Konvensi Hak Anak sejak 5 September 1990 dan diatur dalam Keppres No.36 Tahun 1990 tentang pengesahan Konvensi mengenai Hak anak.22 Dari keikutsertaan pemerintah dalam meratifikasi konvensi tersebut maka dibuatlah sebuah program mengenai Indonesia Layak Anak, Provinsi Indonesia Layak Anak dan Kabupaten/Kota Layak Anak.23

21Kurniawan Kunto Yuliarso dan Nunung Prajarto, Hak Asasi Manusia: Menuju Democratic Governances, diakses dari https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/11046/8287 pada 22 Mei 2017 22 Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Kota Layak Anak, diakses dari

http://www.ykai.net/index.php?view=article&id=97:kota-layak-anak&option=com_content&Itemid=121 pada 22 Mei 2017

(19)

Konsep Variabel Indikator Ideoscape Upaya pemerintah Kota

Malang

Dalam hal ini pemerintah Kota Malang menerapkan sebuah pemikiran untuk menjaga dan menjamin hak anak dengan melakukan program pengupayaan kota menjadi layak anak.

Tabel 1. Konsep ideoscape yang dianalisa ke dalam penelitian mengenai upaya pemerintahan Kota Malang dalam mewujudkan branding sebagai kota layak anak.

Operasionalisasi Konsep

Peneliti menggunakan konsep Ideoscape milik Appadurai dalam memandang HAM dalam dinamika globalisasi lokal, dengan variabelnya yaitu upaya pemerintah Kota Malang, dan Indikatornya yaitu upaya-upaya Pemerintah Kota Malang dalam menjadikan Kota Malang sebagai KLA.

Melalui indikator tersebut, dapat diliihat apa sajakah upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menjadikan Kota Malang sebagai KLA dan apakah Kota Malang sudah dapat dikatakan kota yang layak anak atau tidak.

Hipotesis

(20)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Yang mana penelitian deskriptif yaitu penelitian yang memiliki tujuan untuk mengungkapkan suatu masalah sesuai dengan keadaan sebagaimana adanya dan juga dalam penelitian deskriptif cenderung melukiskan, memaparkan dan melaporkan suatu keadaan.24 Dalam penelitian mengenai Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding Kota Layak Anak, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif karena ingin mengungkapkan suatu permasalahan dengan sebagaimana adanya data-data yang ada di lapangan. Hasil penelitian ini juga nantinya bisa digunakan untuk memaparkan informasi mengenai upaya yang telah dilakukan pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan branding sebagai KLA.

3.2. Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian, yang mana penulis hanya akan meneliti mengenai branding kota Malang sebagai KLA, kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah kota Malang dalam rangka mewujudkan branding sebagai KLA, dan juga fasilitas-fasilitas apa saja yang telah tersedia yang mendukung indikator KLA. Dalam penelitian ini penulis hanya memfokuskan diri ke tiga dinas atau badan yang ada di kota Malang, yaitu Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Malang (Barenlitbang Kota Malang), Dinas Sosial Kota Malang, dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Malang (DPKP Kota Malang). Hal ini dilakukan penulis agar ruang lingkup dalam penelitian tidak terlalu luas dan untuk mempermudah penulis dalam menjelaskan.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian mengenai Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding Kota Layak

(21)
(22)

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 4.1. Kota Malang sebagai Kota Layak Anak

Kota Malang merupakan kota yang terletak di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Yang mana letak kota Malang secara geografis berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Malang. Secara astronomis Kota Malang terletak di 112,06° – 112,07° Bujur Timur dan 7,06° – 8,02° Lintang Selatan.25 Kota Malang ialah sebuah kota yang tebilang cukup banyak populasi penduduknya, yang mana pada tahun 2016 lalu jumlah penduduk kota malang sebanyak 887.443 jiwa. Pertahunnya kota Malang bertambah 1,58%, hal tersebut membuktikan bahwa tiap tahunnya bertambah jumlah penduduk yang merupakan anak-anak.26

Untuk menjaga dan melindungi hak-hak anak, pemerintah kota Malang melakukan suatu program mengenai rencana aksi daerah pengembangan KLA. Program tersebut pertama kali diputuskan oleh Wali Kota Malang pada tahun 2013 yang mana keputusan program tersebut diatur dalam Keputusan Wali Kota Nomor 188.45/149 /35.73.112/2013. Surat keputusan tersebut berisi mengenai upaya-upaya yang akan dilakukan oleh pemerintahan kota Malang dalam mewujudkan kota Malang sebagai KLA. Perencanaan pengembangan kota menjadi layak anak merupakan suatu bentuk dukungan terhadap Undang-undang pemerintahan tentang perlindungan anak.27 Dalam surat keputusan tersebut Wali Kota Malang memutuskan untuk Menetapkan aksi daerah pengembangan KLA tahun 2013-2017.

Visi Kota Malang mengupayakan menjadi KLA ialah mewujudkan anak-anak yang ada di kota Malang sehat, berpendidikan, aktif, kreatif, unggul,

25 Pemerintah Kota Malang, Geografis, diakses dari http://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/ pada 22 Mei 2017

26 Kompas, Menengok Intelektualitas di Kota Malang, diakses dari

http://lipsus.kompas.com/kotacerdas/read/2015/04/01/224600826/Menengok.Intelektualitas.di.Kot a.Malang pada 22 Mei 2017

(23)

berakhlak mulia dan terbebas dari kekerasan. Sedangkan Misinya antara lain yaitu mewujudkan hak-hak anak disetiap klaster indikator kota layak anak; membuat dan mendukung kebijakan program yang berorientasi pada pembangunan anak; membangun dan mengembangkan fasilitas dan prasarana yang ramah anak dan lain sebagainya.28

KLA memiliki empat kategori penilaian untuk mencapai angka mutlak dalam mencapai predikat sebagai kota yang layak bagi anak, dari yang tertinggi menuju terendah yaitu kategori utama, kategori nindya, kategori madya dan kategori pratama.

a) Kategori Utama: 801-900, dimana 31 komponen tidak ada angka di bawah 70% nilai maksimal dan komponen tertentu harus mencapai angka mutlak.

b) Kategori Nindya: 701-800, dimana 25 komponen tidak ada angka di bawah 70% nilai maksimal dan komponen tertentu harus mencapai angka mutlak.

c) Kategori Madya: 601-700, dimana 21 komponen tidak ada angka di bawah 70% nilai maksimal dan komponen tertentu harus mencapai angka mutlak.

d) Kategori Pratama: 501-600, dimana 17 komponen tidak ada angka di bawah 70% nilai maksimal dan komponen tertentu harus mencapai angka mutlak.29

Dari keempat kategori tersebut, Kota Malang sudah mencapai kategori Madya dalam mengupayakan kota Malang sebagai KLA. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya program-program, fasilitas dan prasarana yang dicanangkan oleh pemerintah kota Malang untuk memberdayakan dan melindungi hak-hak anak.

28 Ibid

29Barenlitbang, Malang, Kota Layak Anak Kategori Madya 2015, diakses dari

(24)

24

4.2. Dinas yang Terkait dengan Kota Layak Anak

Dalam mewujudkan branding KLA di Kota Malang tidak hanya dilakukan oleh satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) saja melainkan melibatkan banyak OPD untuk bekerja sesuai dengan bidang masing-masing agar upaya ini dapat terwujud secara efektif.

Dalam penelitian ini penulis hanya akan membahas mengenai tiga OPD yang terlibat secara langsung dalam upaya mewujudkan branding ini, OPD yang akan dijelaskan antara lain adalah Dinas Sosial, Badan Perencanaan Penelitian dan Pengemabangan dan Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman.

Berikut adalah profil dari masing-masing OPD yang akan dibahas: 1. Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan

Salah satu badan yang juga terlibat dalam program-progam Kota Layak Anak adalah Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang. Badan ini berlokasi di Jl. Tugu No. 1 Malang dan dikepalai oleh Drs. Wasto, SH, MH. Visis yang dimiliki oleh Barenlitbang Kota Malang ini adalah “mewujudkan perencanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat”.30 Jadi pada dasarnya, fungsi dari Barenlitbang adalah untuk merencanakan program-program dan merumuskna kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya, bidang penelitian dan pembangunan, bidang infrastruktur dan pengembangan wilayah serta dalam bidang pendataan dan pelaporan. Salah satu fungsinya adalah di bidang sosial, yang didalamnya tentu menyangkut kesejahteraan bagi anak-anak. Dalam program KLA yang dicanangkan oleh pemerintah Kota Malang Barenlitbang bertugas untuk menjadi koordinator dari program-program yang dilakukan oleh

(25)

OPD, dan nantinya akan mengawasi sejauh mana program-program tersebut berjalan.

2. Dinas Sosial

Selain Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan, dinas di Kota Malang yang secara langsung terlibat dengan program KLA yang kini sedang dicanangkan salah satunya adalah Dinas Sosial Kota Malang. Dinas Sosial Kota Malang diketuai oleh Dra. Sri Wahyuningtias, M.Si dan berlokasi di Jl. Raya Sulfat No. 12, Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang. Dinas Sosial melaksanakan tugas pokok penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dalam bidang sosial.31 Jadi, pada dasarnya, fungsi dari Dinas Sosial sendiri adalah merumuskan atau merencanakan dan melaksanakan kebijakan serta program-program di bidang sosial. Dan termasuk di dalamnya untuk meningkatkan kesejahteraan bagi anak-anak melalui program-program yang dicanangkan. Sejauh ini, sudah banyak program yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Malang untuk anak-anak, salah satunya adalah ‘Desaku Menanti’ yang merupakan sebuah kegiatan pelatihan membatik untuk anak jalanan.

3. Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman

Selain Dinas Sosial dan Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota Malang, ada juga Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Malang yang juga terkait dalam program KLA. DPKP Kota Malang berlokasi di Jl. Bingkil No. 37, Ciptomulyo, Sukun, Kota Malang dan dikepalai oleh Erik Setyo Santoso. Dinas ini melaksanakan tugas pokok penyusunan dan pelaksanaan kebijakan urusan pemerintah daerah di bidang kebersihan dan pertamanan.32 Dinas ini juga berperan dalam program KLA walaupun bukan dalam bentuk program spesifik, misalnya dengan

(26)

26

(27)

5.1. Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan Branding

sebagai Kota Layak Anak

Hasil Wawancara Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pembangungan Kota Malang (Barenlitbang Kota Malang)

Berikut hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis ke Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pembangunan Kota Malang (Barenlitbang Kota Malang), dengan narasumber Ibu Endang, selaku Kepala Divisi Pengembangan Manusia, Masyarakat, dan Sosial Budaya:

Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pembangunan Kota Malang atau disingkat Barenlitbang ini merupakan koordinator yang menangani KLA. Dalam melaksanakan tugasnya, Barenlitbang bekerja sama dengan dinas-dinas lain atau OPD yang ada di kota Malang. Masing-masing dinas-dinas memiliki program-program terkait dengan KLA, seperti contohnya Dinas Perhubungan yang menangani masalah zona aman sekolah, seperti zebra cross, bis-bis sekolah, kemudian dari Dinas Pendidikan yang menangani program terkait pelayanan pendidikan layak anak, pendidikan yang tidak menggunakan kekerasan, Dinas Sosial yang menangani masalah anjal (anak jalanan), dan masih banyak lagi dari dinas lainnya. Barenlitbang dan OPD senantiasa mengadakan rapat koordinasi mengenai pelaksanaan program-program yang telah dilakukan oleh masing-masing dinas. Dalam rapat koordinasi juga membahas mengenai sejauh mana pelaksanaan program tersebut. Sehingga hal ini akan meminimalisir adanya program yang tumpang tindih atau bahkan program yang berjalan tidak sesuai dengan rencana awal.

(28)

28

klaster ketiga mengenai kesehatan dasar dan kesejahteraan, klaster keempat mengenai pendidikan, pemanfaatan waktu luang anak dan kegiatan budaya, dan klaster kelima mengenai perlindungan khusus. Menurut narasumber, jika ditinjau dari klaster-klaster tersebut, kota Malang sudah dapat dikatakan sebagai KLA. Hal ini dapat dibuktikan dari pencapaian yang diperoleh kota Malang pada tahun 2015. Pada tahun 2015, kota Malang mendapatkan penghargaan KLA pada tingkatan Madya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa penghargaan KLA sendiri memiliki tingkatan-tingkatan tertentu. Tingkatan paling dasar yaitu Pratama, kemudian Madya, Nindya, dan tingkatan paling atas yaitu Utama, atau KLA.

(29)

merupakan wewenang langsung dari Wali Kota Malang, karena hal tersebut termasuk event besar sehingga membutuhkan wewenang khusus.

Branding KLA pada dasarnya merupakan inisiatif dari pemerintah pusat yang kemudian diterapkan kepada seluruh wilayah di Indonesia. Dalam penerapan terkait KLA ini pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah di masing-masing wilayah. Pemerintah pusat juga seringkali mengadakan pertemuan dengan seluruh pemerintah daerah, baik kota maupun kabupaten guna membahas mengenai KLA. Penerapan kebijakan atau program terkait KLA juga diatur dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 14 Tahun 2010 dan juga Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) No.23 Tahun 2002.

Mengenai branding KLA, pemerintah kota Malang juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Menurut narasumber, sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kota Malang sudah sampai pada tingkatan kelurahan. Hal ini dapat dilihat dari pembentukan forum anak yang terdapat di setiap kelurahan yang ada di kota Malang. Anggota dari forum anak sendiri yaitu anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Rata-rata anak yang ikut dalam forum anak yaitu anak-anak usia SMP dan SMA. Dapat dikatakan bahwa pemerintah kota Malang juga melibatkan anak-anak di seluruh kota Malang dalam mewujudkan branding KLA. Hal ini selaras dengan hak anak untuk berpartisipasi dan menyuarakan pendapat.

(30)

30

besar anak jalanan yang ada di kota Malang merupakan pendatang dari kota-kota lain, sehingga hal tersebut mempersulit penanganan, seperti dalam hal pendataan anak jalanan, dan sebagainya. Kemudian masih banyak penyalahgunaan infrastruktur maupun sarana dan prasarana yang telah dibangun oleh pemerintah kota Malang. Misalnya di taman-taman itu sendiri, masih banyak orang-orang yang memanfaatkan keberadaan taman secara tidak bertanggungjawab. Namun dalam hal ini pemerintah kota Malang telah secara tegas menyikapi, dengan diadakannya patroli oleh polisi taman. Dalam program penanganan pelecahan seksual juga masih mengalami kendala. Mengingat isu tersebut sangatlah rawan terjadi, terutama pada anak-anak, oleh karena itu penanganannya harus betul-betul diperhatikan.

Hasil Wawancara Dinas Sosial Kota Malang

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Dinas Sosial Kota Malang. Penghargaan yang diterima Kota Malang sebagai KLA ini tentu saja bukan muncul sebagai hasil dari kerja Dinas Sosial saja, melainkan dari kolaborasi semua dinas yang ada. Karena indikator sebuah kota dapat disebut sebagai KLA meliputi banyak hal. Termasuk pendidikan, kesehatan, perlindungan, layanan/fasilitas umum dan yang lainnya, dimana hal tersebut tidak dapat dijalankan sepenuhnya oleh Dinas Sosial saja.

Namun semenjak Kota Malang gencar untuk mendapatkan branding KLA, hingga sampai pada keberhasilan mendapatkan branding tersebut. Dinas Sosial memang kemudian lebih dituntut untuk memaksimalkan kerjanya, terutama yang berhubungan dengan program layak anak. Namun yang perlu digaris bawahi adalah meski digenjot untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, Dinas sosial tidak mendapat anggaran khusus untuk menjalankan program tertentu. Selain itu juga program-program baru dari Dinas Sosial juga kurang lebih tidak ada.

(31)

ini merupakan program dari Dinas sosial. Dalam mengatasi masalah anak jalanan ada beberapa pihak yang terlibat secara langsung yaitu pekerja di bagian Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan pekerja rehabilitasi sosial dengan salah satu program khususnya yakni Penyandang Masalah Kesehjateraan Sosial (PMKS). Upaya yang dilakukan oleh dinas sosial terkait dengan upaya mengangani anak jalanan yang masih sering kita jumpai ini adalah melalui beberapa tahap, yang pertama adalah razia yang dibantu oleh Satpol PP, kemudian para anak jalanan, yang terdiri dari pengemis dan anak-anak punk, dibawa ke tempat yang dimiliki oleh Dinas Sosial untuk ditampung disana. Dari sini kemudian di data lalu akan dikembalikan ke orang tua mereka masing-masing, namun bagi anak yang tidak memiliki keluarga atau terpisah dari keluarganya Dinas Sosial kemudian tetap menampung mereka, kemudian diberikanlah pelatihan-pelatihan sehingga diharapkan mereka tidak akan kembali menjadi anak jalanan. Pelatihan ini terwujud dari program dari Dinas sosial yaitu ‘Desaku Menanti’, yang kemudian juga dikenal dengan ‘Kampung Topeng’. Ini merupakan suatu tempat yang khusus dibuat oleh dinas sosial yang ditujukan untuk gelandangan dan pengemis dengan syarat-syarat yang telah dibuat oleh Dinas Sosial Kota Malang, yakni usia dibawah 55 tahun dan menjadi gelandangan dan pengemis memang didsarkan karena ketidaksengajaan, dan umumnya yang menempati Desaku Menanti ini adalah keluarga.

(32)

32

menanti atau Kampung Topeng ini dapat dikatakan merupakan tempat yang disulap menjadi desa wisata, dengan objek utamanya adalah topeng dari berbagai ukuran. Orang-orang disini disediakan tempat tinggal dan diberikan diberikan biaya hidup sementara untuk beberapa bulan ke depan. Lalu juga disediakan taman-taman untuk bermain anak, disediakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan diberikan akses kejar paket bagi yang tidak sempat lulus sekolah formal.

Meskipun sudah ada upaya untuk menyelesaikan masalah ini, anak terlantar dan jalanan memang salah tidak mudah diselesaikan, terutama di daerah perkotaan, begitu pula kota Malang. Meskipun Dinas Sosial sudah mengadakan Desaku Menanti dan Kampung Topeng, akan tetapi kedua tempat tersebut bukan tempat khusus untuk menampung anak-anak terlantar dan anak jalanan. Selama ini untuk kasus anak terlantar dan anak jalanan Dinas sosial Kota Malang hanya melimpahkan anak-anak tersebut ke panti asuhan dan tempat-tempat yang disediakan oleh volunteer, namun dengan catatan mereka telah memperoleh ijin resmi.

(33)

Namun keterbatasan yang dimiliki oleh Dinas Sosial Kota Malang ini kemudian menarik pihak-pihak diluar pemerintahan yang ingin membantu menangani masalah tempat bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan ini, misalnya dengan terus adanya ijin dari masyarakat maupun kelompok yang ingin mendirikan panti asuhan. Namun yang perlu diketahui, pemerintah Kota Malang tentu saja tidak memberikan ijin begitu saja kepada mereka meskipun tujuannya untuk membantu Dinas Sosial. Aada banyak prosedur yang harus dijalani sebelum mengantongi ijin mendirikan panti asuhan. Hal ini bukan dikarenakan pemerintah menyulitkan mereka, tapi hal ini bertujuan untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, misalnya fungsi panti tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Apalagi dengan isu penjualan manusia dan organnya yang kini semakin sering terdengar, membuat pemerintah semakin mengusahakan agar ijin yang diberikan memang tepat.

Dari data yang peneliti dapat untuk memperkuat penyataan dari Dinas Sosial dalam mengurus pemberian ijin pendirian panti asuhan, Kota Malang memiliki tata caranya tersendiri, yakni :

1. Persyaratan administrasi a) Foto Copy Akte Notaris

b) Rekomendasi/ Tanda Daftar Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat

c) Rekomendasi dari KKKS Kota Malang

d) Susunan Pengurus sesuai Akte Notaris dan Lampiran foto copy KTP

e) Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga f) NPWP

(34)

34

h) Program Kerja/Kegiatan di bidang Usaha Kesejahteraan Sosial

i) Sumber Dana dan modal kerja untuk melaksanakan kegiatan

j) Daftar nama anak asuh dilengkapi dengan pas poto k) Mengajukan permohonan

2. Prosedur pelayanan.

a) Permohonan disampaikan ke Sekretariat Dinas Ketenagakerjaan dan Sosial Kota Malang

b) Sekretariat meneruskan permohonan kepada Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Sosial Kota Malang

c) Kepala Dinas memerintahkan Kepala Bidang Sosial untuk memproses permohonan.

d) Bidang Sosial meneliti permohonan dan berkas-berkas. e) Apabila dianggap telah memenuhi syarat untuk diberikan

rekomendasi maka dibuatkan konsep surat rekomendasi. f) Konsep surat rekomendasi disampaikan kepada Kepala

Dinas.

g) Apabila telah ditandatangani oleh Kepala Dinas, maka surat rekomendasi disampaikan kepada Pemohon melalui bidang sosial.33

Persyaratan yang sedemikian banyaknya bukan merupakan usaha Pemerintah Kota Malang untuk mempersulit pendirian panti asuhan, namun lebih kepada menjamin bahwa panti asuhan yang ada di Kota Malang dapat lebih aman dan sesuai standar sebagai tempat tinggal anak.

33 Pemerintah Kota Malang, Ketenagakerjaan dan Sosial, diakses dari

(35)

Sementara program kedua yang menjadi fokus peneliti di Dinas Sosial adalah tentang perlindungan hukum anak. Artinya disini pihak Dinas Sosial mencoba mengupayakan agar anak-anak yang ada di Kota Malang yang terlibat kasus hukum dan posisinya tidak memiliki mendata anak-anak yang melapor.Yang sudah dibantu sejauh ini umumnya adalah anak yang berasal dari panti, anak jalanan dan anak-anak yang mendapat penolakan dari keluarga untuk memproses hukum tersebut dengan usaha yang terbaik agar pihak yang terlibat hukum ini mendapatkan hak-nya dengan benar. Sehingga Dinas sosial kemudian membantu mulai dari urusan administratif, melakukan identifikasi, penelusuran dan penelaah masalah. Mereka kemudian ditempatkan sementara di panti ataupun shelter khusus.

Kemudian menempatkannya pada program pelayanan, dengan memberikan pelayanan kebutuhan dasar, misalnya makan. Dinas sosial Kota Malang memberikan bantuan uang sebesar satu juta rupiah per-anak, namun uang tersebut tidak diberikan langsung dalam bentuk uang, namun berupa makanan, kesehatan, bimbingan psikologis ataupun kebutuhan dasar mereka.

(36)

36

jalanan yang ada di kabupaten Sidoarjo, karena Kota Malang belum memiliki tempat penampungan sendiri terkait anak jalanan tersebut.

Hasil Wawancara Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Malang (DPKP Kota Malang)

(37)

5.2. Respon Warga Kota Malang terhadap Branding Kota Layak Anak di Kota Malang

Hasil Kuesioner

Selain wawancara secara langsung dengan pihak-pihak Dinas Pemerintah Kota Malang, untuk mendapatkan data yang lebih banyak lagi untuk penelitian ini penetliti membagikan kuesioner secara online maupun offline kepada warga kota Malang sebagai responden. Kuesioner online peneliti sebarkan melalui sosial media yang banyak digunakan oleh warga kota Malang dan sumber online peneliti sebarkan pada warga yang sedang mngunjungi taman-taman di Kota Malang, yaitu Taman Merjosari, Slamet, Trunojoyo dan Alun-alun Kota Malang, secara acak.

Kuesioner yang peneliti sebarkan secara online diisi oleh 68 orang responden, sedangkan kuesioner yang disebar oleh peneliti secara offline adalah 51 kuesioner, sehingga total kuesioner yang terisi adalah 119 kuesioner. Pada Kuesioner yang peneliti sebarkan tersebut dapat diketahui data mengenai tanggapan warga Kota Malang terhadap branding KLA, seperti pengetahuan tentang branding ini, program apa saja yang mereka ketahui, serta pendapat warga kota Malang mengenai apa saja yang harus Pemerintah Kota Malang agar branding ini tercapai, dll, yang sedang dilakukan oleh pemerintah Kota Malang ini.

Berikut adalah deskripsi dari data yang peneliti dapat berdasarkan kuesioner yang peneliti sebar:

(38)

38

masuk kategori anak, akan tetapi masih memiliki peran dalam menyukseskan branding ini.

b) Frekuensi responden dalam mengunjungi taman di Kota Malang

No Frekuensi Presentase

1 Sering 58,5%

2 Tidak 41,5%

Dari tabel diatas diketahui bahwa lebih dari separuh responden mengatakan kalau mereka sering mengunjungi taman-taman di Kota Malang yang dibangun oleh DPKP Kota Malang.

c) Kota Malang nyaman untuk anak-anak

No Nyaman Presentase

1 Iya 75,4%

2 Tidak 24,6%

Dari tabel diatas diketahui bahwa warga Kota Malang merasa bahwa kota Malang ini nyaman untuk anak-anak.

d) Banyak anak yang terkena kasus hukum

No Anak terkena Kasus Hukum Presentase

1 Tahu 49,2%

2 Tidak 50,8%

Dari tabel diatas diketahui bahwa lebih dari separuh responden mengatakan bahwa mereka tidak tahu bahwa banyak terjadi kasus hukum pada anak-anak di Kota Malang.

e) Dinas-dinas yang terkait dengan Branding KLA

No Dinas terkait presentase

1 Tahu 28,2%

2 Tidak 68,4,%

3 Lain-lain 3,4%

(39)

f) Opsi untuk menindak lanjuti kejahatan oleh anak

No Opsi Presentase

1 Hukum sama dengan dewasa 6%

2 Hukum sesuai usia 84,7%

3 Lain-lain 9,3%

Dari tabel diatas diketahui bahwa kebanyakan warga Kota Malang menginginkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam kasus-kasus hukum dihukum sesuai dengan usia mereka. Dan ada juga beberapa yang mengatakan bahwa anak-anak yang terlibat kasus hukum ini dihukum sesuai dengan UU yang ada dan juga melakukan pembimbingan kepada anak-anak tersebut agar tidak merusak psikologis mereka.

g) Pengetahuan akan Branding KLA di Kota Malang

No Branding KLA Kota Malang Presentase

1 Tahu 24,4%

2 Tidak 75,6%

Dari tabel diatas diketahui bahwa masih sangat banyak warga Kota Malang yang tidak mengetahui branding ini. Hal ini menguatkan pernyataan salah satu narasumber bahwa sosialisasi masih lemah sehingga banyak warga yang tidak tahu.

h) Pengetahuan akan indikator KLA

No Indikator KLA Presentase

1 Tahu 29,4%

2 Tidak 70,6%

Dari tabel diatas diketahui bahwa kebanyakan warga Kota Malang tidak mengetahui indikator KLA.

i) Kota Malang pantas untuk menyandang predikat KLA

No Pantas Presentase

1 Iya 70,3%

(40)

40

Dari tabel diatas diketahui bahwa kebanyakan warga Kota Malang merasa bahwa Kota Malang sudah pantas untuk menyandang predikat KLA.

j) Pengetahuan akan Program-program yang dilakukan Pemerintah Kota Malang

Dari tabel diatas diketahui bahwa masih banyak warga Kota Malang yang tidak tahu mengenai program apa saja yang dilakukan oleh dinas-dinas di Kota Malang ini yang berhubungan dengan upaya untuk mewujudkan branding KLA ini. Akan tetapi sudah banyak juga yang menyadari beberapa program-program yang berhubungan dengan branding ini seperti program dalam bidang pendidikan seperti sekolah gratis, infrastruktur seperti taman-taman yang layak anak dan lainnya.

k) Yang harus dilakukan agar Kota Malang dapat mencapai level Kota layak Anak

(41)
(42)

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan

Kota Ramah HAM merupakan kota yang secara umum berupaya untuk melaksanakan kebijakan dan kelembagaan kota untuk menghormati dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan konvenan HAM Internasional, UUD 1945 dan UU HAM Indonesia. Hak Anak dalam ini juga tak lepas dari sorotan, yakni misalnya hak anak untuk mendapatkan fungsi sosial yang sesuai dengan apa yang seharusnya ia dapatkan. Hingga kemudian kita mengenal adanya KLA, yang merupakan cerminan secara spesifik Kota Ramah HAM yang targetnya mengerucut kepada anak-anak. Hal ini dipengaruhi oleh ide-ide tentang konsep liberal dari barat mengenai kebebasan yang kemudian lebih dikhususkan mengarah pada kebebasan dan distribusi hak yang adil bagi anak-anak. Kota Malang pada tahun 2015 mendapat penghargaan KLA tahap madya merupakan contoh nyata penerapan Kota Ramah HAM di Indonesia, meskipun masih berada dalam tahap madya. Pencapaian ini tentunya hasil kerjasama yang baik dari koordinasi semua pihak, terutama dari pemerintah Kota Malang yang terdiri dari beberapa dinas yang secara langsung ikut terlibat dalam membantu terwujudnya KLA. Namun sangat disayangkan dengan penghargaan yang dicapai ini, banyak masyarakat yang kurang tahu mengenai program-program tersebut sehingga kurang dapat memberi masukan terhadap Pemerintah terkait program-program kedepannya.

6.2. Saran

(43)
(44)

DAFTAR PUSTAKA

Artikel dan Jurnal Online

Kompas, Menengok Intelektualitas di Kota Malang, diakses dari http://lipsus.kompas.com/kotacerdas/read/2015/04/01/224600826/Men engok.Intelektualitas.di.Kota.Malang pada 22 Mei 2017

Retaduari, E. A. (2015). “Pemerintah Luncurkan Kebijakan Kota Ramah HAM

Awal Desember”. Diakses dari

http://news.detik.com/berita/3080305/pemerintah-luncurkan-kebijakan-kota-ramah-ham-awal-desember pada tanggal 5 April 2017. Ucu, K. R. (2015). “Malang Raih Penghargaan Kota Layak Anak”. Diakses dari

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/08/13/nszc4u 282-malang-raih-penghargaan-kota-layak-anak pada tanggal 5 April 2017.

Yuliarso, K. K. dan Prajarto, N., Hak Asasi Manusia: Menuju Democratic

Governances, diakses dari

https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/11046/8287 pada 22 Mei 2017

Sumber Buku

Appadurai, A. 2005. Modernity at Large: Cultural Dimension of Globalization. USA:University of Minnesota Press.

H, Antonio Pradjasto. Et al. 2015.Panduan Kabupaten dan Kota Ramah Hak Asasi Manusia. Jakarta Selatan: Infid.

(45)

Websites

Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota Malang. “Malang, Kota Layak Anak Kategori Madya 2015”. Diakses dari http://barenlitbang.malangkota.go.id/2015/08/12/malang-kota-layak-anak-kategori-madya-2015/ pada tanggal 22 Mei 2017.

Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota Malang. “Profil”. Diakses dari http://barenlitbang.malangkota.go.id/ pada tanggal 22 Mei 2017. Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Malang. “Tugas Pokok dan

Fungsi”. Diakses dari http://dpkp.malangkota.go.id/profil/tugas-pkpk-dan-fungsi/ pada tanggal 22 Mei 2017.

Dinas Sosial Kota Malang. “Tupoksi”. Diakses dari http://sosial.malangkota.go.id/ pada tanggal 22 Mei 2017Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2015). “Pengembangan Kabupaten Kota Layak

Anak”. sumbarprov.go.id. Diakses dari

http://www.sumbarprov.go.id/details/news/4713. pada tanggal 5 April 2017.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Bahan Advokasi

Kota Layak Anak” Diakses dari

www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/slider/09e6c-kla.pdf pada tanggal 23 Mei 2017.

Kota Layak Anak. “Kota Ramah Anak (Apa? Mengapa? Bagaimana?)”. kla.or.id. Diakses dari http://www.kla.or.id/index.php?

option=com_content&view=article&id=131:kota-ramah-anak&catid=56:artikel&Itemid=77 pada tanggal 5 April 2017.

Malang Kota Layak Anak. “Surat Keputusan Wali Kota Malang Mengenai

Malang Kota Layak Anak”. Diakses dari

(46)

46

Pemerintah Kota Malang. “Geografis”. diakses dari http://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/ pada tanggal 22 Mei 2017.

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia. “Kota Layak Anak”. Diakses dari http://www.ykai.net/index.php?view=article&id=97:kota-layak-anak&option=com_content&Itemid=121 pada tanggal 22 Mei 2017. Pemerintah Kota Malang, Ketenagakerjaan dan Sosial, diakses dari

Gambar

Tabel  1. Konsep  ideoscape yang dianalisa ke dalam penelitian mengenai  upaya

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat itu masyarakat yang tinggal di Kampung Kubur ini selalu berkumpul atau mungkin hanya untuk sekedar berbicara atau bercanda di depan rumah di sekitar tempat tinggal

Karena keterbatasan tenaga dan waktu dari beberapa masalah yang ada maka peneliti mengajukan rumusan masalah hanya pada ”Apakah dengan menggunakan alat peraga

-Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah apakah dengan penerapan metode demonstrasi yang diikuti pertanyaan peringkat tinggi dapat meningkatkan