“Prospek Penangkaran Benih Kelompok Tani “Kerto Raharjo” (Studi Kasus Desa Sumber Porong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang)
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembangunan ekonomi lokal adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut.
Masalah pokok dalam pembangunan lokal di Indonesia berada pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal atau daerah.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor primer dalam perekonomian Indonesia, artinya pertanian merupakan sektor utama yang menyumbang hampir dari setengah perekonomian oleh karena itu perlu diadakannya pembangunan ekonomi lokal dalam sektor pertanian sehingga dapat bersaing dalam pasar negeri maupun luar negeri yang akan memacu adanya pertumbuhan dan pembanguna ekonomi daerah.
Menurut display ekonomi PDRB kabupaten Malang harga konstan, menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor basis yang menjadi sektor unggulan pertama penyumbang PAD terbesar dari tahun ke tahun.
Pembangunan ekonomi daerah atau lokal yang berada di Kecamatan Lawang sebagai bagian dari Kabupaten Malang sangat terkenal dengan bidang pertaniannya. Menurut data BPS Kabupaten Malang,tenaga kerja di Kecamatan Lawang, penduduk yang berumur 10 tahun ke atas yang bekerja pada tahun 2013 tercatat untuk sektor pertanian mempunyai kontribusi tenaga kerja tertinggi yaitu 19.813 orang di banding sektor-sektor lainnya. hal ini membuktikan bahwa kecamatan lawang sebagian besar masyarakatnya berprofesi pada sektor pertanian dan dapat di katakan sumbangan PAD terbesar juga berada pada sektor pertanian.
Di wilayah ini juga terdapat instansi-instansi pemerintah yang berperan dalam perkembangan pertanian di Kecamatan Lawang. Salah satu instansi tersebut adalah UPT Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Lawang. Dalam wilayah kerja UPT BPP Kecamatan Lawang mempunyai daerah binaan sekitar instansi.Pada akhirnya, hasil panen dari budidaya tanaman padi semi organik berupa beras akan dipasarkan hingga kekonsumen akhir. Dalam perjalanannya, pemasaran hasil budidaya padi ini melalui beberapa tahap seperti saluran distibusi dan fungsi pemasaran yang sangat berpengaruh akhirnya pada konsumen.
Kabupaten Malang) di Lihat dari Pendekatan Analisis SWOT untuk Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal”.
B. FOKUS PENELITIAN
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis mengambil fokus penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengelolaan usaha pertanian penangkaran benih kelompok tani “Kerto Raharjo” di Desa Sumber Porong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang ?
2. Bagaimanakah pengembangan usaha pertanian penangkaran benih kelompok tani “Kerto Raharjo” di Desa Sumber Porong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang ?
C. KEGUNAAN PENELITIAN
Kegunaan penelitian adalah:
1. Bagi peneliti, selain memperoleh pengalaman secara langsung sebagai pengamat dan partisipan, penelitian ini juga sebagai sarana untuk melatih diri dan berpikir kritis terhadap pemasalahan yang dihadapi sehingga turut memberikan dan menemukan solusi dari masalah tersebut secara ilmiah.
2. Bagi mahasiswa, penelitian ini dapat menjadikan sebagai bahan kajian dan acuan bagi penelitian selanjutnya yang lebih relevan.
Usaha Pertanian
Penangkaran Benih Kelompok Tani “Kerto Raharjo”
Pengelolaan Pengembangan
Struktur Organisasi
Teknik Penangkaran Benih
Biaya
Analisis SWOT
BAB II PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM USAHA
Kelompok tani “Kerto Raharjo” adalah kelompok tani yang bergerak dibidang penangkaran benih. Kelompok tani ini beralamat di desa Sumber Porong kecamatan Lawang kabupaten Malang. Kelompok tani ini berdiri sejak tahun 2006.
Ketersediaan lahan pertanian seluruh desa Sumber Porong adalah 80 hektar. Akan tetapi saat ini yang digunakan untuk penangkar benih seluas 2 hektar saja. Sedangkan lahan yang lain digunakan untuk menanam padi konsumsi, sehingga cadangan pangan dalam desa ini telah tercukupi.Anggota kelompok tani dalam penangkaran benih ini sebanyak 5 orang,sebelumnya anggota kelompok tani ini banyak, akan tetapi karena kendala dalam pemasaran menyebabkan jumlah anggota terus berkurang.
B. STRUKTUR ORGANISASI
C. TEKNIK PENANGKARAN BENIH
Desa Sumber Porong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang memiliki lahan pertanian seluas 80 hektar. Saat ini, luas lahan yang digunakan untuk menangkar benih seluas 2 hektar. Adapun teknik penangkaran benih adalah sebagai berikut.
1. Kegiatan Pra Panen
Di Desa sumber Porong ini, setiap hektar lahan membutuhkan 25-30 kg benih untuk ditaman. Kelompok tani ini menggunakan jenis benih FS yang akan menghasilkan benih SS. Benih yang digunakan diambil dari kelas benih yang lebih tinggi dari benih yang akan diproduksi. Kelas benih dalam sistem sertifikasi benih di Indonesia berdasar Permentan No 39/Permentan/OT.140/8/2006:
a) Benih Penjenis (BS) / Breeder Seed (BS) / label kuning. b) Benih Dasar (BD) / Foundation Seed (FS) / label putih. c) Benih Pokok (BP) / Stock Seed (SS) /(SS) label ungu. d) Benih Sebar (BR) / Extension Seed (ES) / label biru.
Para penangkar benih di desa ini memperoleh benih yang akan ditanamnya dari penangkar benih yang lebih besar. Luas lahan yang digunakan untuk penangkar benih adalah 2 hektar. Setiap hektar lahan membutuhkan 25-30 kg benih untuk ditaman.Benih yang ditanam penangkar merupakan jenih benih FS, benih ini hanya boleh dibeli oleh penangkar benih, tidak untuk kalangan petani umum. Setelah panen benih FS ini menghasilkan benis jenis SS sebanyak 6 ton per hektar.Sementara untuk jenis benih BS diciptakan oleh Pemerintah.Di Malang ini ada dua penangkar yang menanam benih BS yaitu di daerah Kepanjen dan Singosari.
Jenis-jenis benih beserta harganya adalah sebagai berikut. a) Benih BS seharga Rp50.000,-/kg
b) Benih FS seharga Rp13.000,-/kg c) Benih SS seharga Rp 8.500,-/kg d) Benih ES seharga Rp 8.000,-/kg
Pilih areal sawah yang subur, irigasi terjamin, bebas dari kekeringan dan banjir, serta mudah diakses. Selain itu areal yang digunakan pada musim sebelumnya tidak boleh ditanami varietas yang berbeda dengan varietas yang akan ditangkarkan.
c. Diawali Pembuatan Persemaian
Lokasi untuk persemaian sebaiknya bekas lahan bera atau tanaman selain padi atau jika lahan bekas penanaman padi harus dilakukan pengolahan tanah sempurna dengan diikuti pembersihan lokasi.Luas persemaian adalah 4 % dari luas areal pertanaman atau sekitar 400 m untuk tiap hektar pertanaman.Sebelum di sebar benih direndam terlebih dahulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam. Benih ditabur di persemaian sebanyak 0,5 – 1 kg per 20 m.
d. Pengolahan Lahan
Tanah diolah secara sempurna, yaitu dibajak (pertama), digenangi selama dua hari dan dikeringkan selama tujuh hari, lalu dibajak kembali (kedua), digenangi selama dua hari dan dikeringkan lagi selama tujuh hari.Diperlukan waktu jeda agar singgang padi tumbuh dapat dimusnahkan.Terakhir, tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah.
e. Pengelolaan Kebenaran Varietas
Kegiatan ini dilakukan agar tidak terjadi percampuran, isolasi jarak dengan pertanaman padi disekitarnya dengan jarak ± 3 meter atau isolasi waktu (selisih waktu mekarnya malai selama 3 minggu) agar varietas yang ditanam hanya menyerbuk sendiri.
f. Menggunakan Pendekatan PTT
Pada padi sawah Teknologi PTT yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan, kondisi agroklimat, sosial budaya dan minat petani.
2. Kegiatan Pemeliharaan, Panen dan Pasca Panen a. Pemeliharaan
seleksi/rouging.Rouging dilakukan pada tanaman yang tumbuh diluar jalur barisan, tanaman/rumpun yang tipe pertunasan awal menyimpang dari sebagian besar dengan rumpun-rumpun yang lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda, tanaman yang warna kaki atau daun pelepahnya berbeda, tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok).
Waktu pelaksanaan Rouging:
Pada stadia vegetatif awal (35-45 HST)
Pada stadia vegetatif akhir / anakan maksimum (50-60 HST)
Pada stadia generatif awal / saat berbunga (85-95 HST)
Pada stadia generatif akhir / masak (100-115 HST)
Pada stadia generatif, rouging dilakukan juga pada tanaman yang yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda, tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat, tanaman/rumpun yang terlalu cepat matang/ menguning (mencolok), tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah, warna gabah, dan ujung gabah berbeda. b. Menentukan Waktu Panen
Waktu panen yang tepat ditandai dari kondisi pertanaman 90-95 % bulir sudah memasuki fase masak fisiologis (kuning jerami) dan bulir padi pada pangkal malai sudah mengeras.Untuk pertanaman padi tanam pindah dicapai pada umur 30-42 hari setelah bunga merata bagi pertanaman padi musim hujan (MH), dan 28-36 hari setelah berbunga merata bagi pertanaman musim kemarau (MK).
c. Pemanenan
Proses panen harus memenuhi standar baku sertifikasi:
Mengeluarkan rumpun yang tidak seharusnya dipanen,
Menggunakan sabit bergerigi untuk mengurangi kehilangan hasil.
Perontokan biji segera dilakukan setelah panen dengan dibanting atau dengan tresher,
Lakukan pembersihan pendahuluan, dan ukur kadar air gabah, beri label dengan identitas sekurang-kurangnya asal blok, nama varietas, berat, kelas calon benih, dan tanggal panen.
d. Pengeringan
Pengeringan dilakukan dengan 2 cara, yaitu : 1) Pengeringan dengan sinar matahari
Dengan cara ini dianjurkan menggunakan lantai jemur yang terbuat dari semen, dilapisi terpal agar tidak terlalu panas dan gabah tidak tercecer, serta dibolak-balik setiap 3 jam sekali. Calon benih dikeringkan sampai mencapai kadar air maksimal 13 %, dan sebaiknya 10-12 % agar tahan disimpan lama.
2) Pengeringan buatan dengan dryer
Dryer dibersihkan setiap kali ganti varietas, hembuskan udara sekitar 3 jam tanpa pemanasan, kemudian diberikan hembusan udara panas suhu rendah dimulai dari 320C, selanjutnya ditingkatkan seiring dengan menurunnya kadar air gabah calon benih, sampai suhu mencapai panas 420C pada kadar air 14%. Atur laju penurunan kadar air 0,5% per jam. Suhu disesuaikan setiap 3 jam, bahan dibolak-balik agar panas merata, dan lanjutkan pengeringan sampai diperoleh kadar air maksimal 13% dan sebaiknya 10-12%.
3) Pembersihan
Pembersihan dilakukan untuk memisahkan dan mengeluarkan kotoran dan biji hampa sehingga diperoleh ukuran dan berat biji yang seragam.
Dilakukan secara manual jika jumlah bahan sedikit.
Apabila bahan dalam jumlah yang besar dilakukan dengan menggunakan mesin pembersih seperti blower, separator, dan gravity table separator.
Bersihkan alat tersebut setiap kali akan digunakan.
Petugas pengawas benih tanaman pangan setempat diminta untuk tumbuh awal sekitar 90% dan kadar air 10-12%.
Gunakan gudang yang memenuhi syarat, bebas dari hama gudang seperti tikus, hama bubuk, dan lainnya.
Gunakan kantong yang kedap udara. Kemasan ditata teratur, tidak bersentuhan langsung dengan lantai dan dinding gudang.
3. Cara Mendapatkan Benih Bersertifikat
Produsen benih mengajukan permohonan sertifikasi benih kepada Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Hasil Pertanian dan Hasil Hutan (BPMSHPHH).
Pengawas benih melakukan pemeriksaan lapangan.
Pemeriksaan tanaman di lapangan yaitu pemeriksaan pendahuluan (saat semai), pemeriksaan fase vegetative (± 30 hari setelah tanam), pemeriksaan fase berbunga, pemeriksaan fase masak (± 80% fisiologis / 3-5 hari sebelum dipanen).
Pemeriksaan alat prosessing benih, gudang penyimpanan dan lain sebagainya.
Pengambilan contoh benih untuk pengujian benih laboratoris.
Pengawasan pelabelan terhadap benih-benih yang telah lulus pengujian di laboratorium
.
D. BIAYA ATAU KEUNTUNGAN MEMBELI BENIH DI KELOMPOK
Kebutuhan benih se Kec. Lawang (12 desa)
(±41.000 kg x @ Rp 10.000) Rp 410.000.000,00
Rp 328.000.000,00
Rp 82.000.000,00. Bila membeli benih bersertifikat di kelompok tani Kerto
Raharjo dengan harga (±41.000 kg x @Rp 8.000,- )
Rupiah yang bisa diefisiensikan dan untuk dikelola bersama
Dengan adanya analisis biaya tersebut, Para petani se Kecamatan Lawang jika membeli benih bersertifikat di kelompok tani “Kerto Raharjo” mempunyai harga yang lebih murah yaitu Rp 8.000,00 per kg di banding dengan membeli benih di luar kelompok tani “Kerto Raharjo”. Adapun hasil rupiah yang bisa di efisienkan cukup banyak , yaitu mencapai Rp 82.000.000,00.
E. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA BERDASARKAN ANALISIS SWOT 2. Daya tumbuh benih lebih baik
3. Hasil produksi benih tahan terhadap OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan)
4. Jika menggunakan benih dari hasil penangkaran benih kelompok tani “Kerto Raharjo” produksinya lebih tinggi dibandingkan benih biasa
5. Harga benih lebih murah dari pada membeli di penangkar lain 6. Benih sudah mempunyai sertifikat yang terjamin mutunya
1. Struktur Organisasi kelompok tani “Kerto Raharjo” kurang berjalan dengan baik dikarenakan kurangnya dukungan dari para anggota kelompok yang kurang aktif, disertai jumlah anggota kelompok yang semakin berkurang.
2. Pemasaran hasil penangkar benih “Kerto Raharjo” hanya memasarkan produknya ke kios atau di jual ke penangkar yang lebih besar tanpa label dikarenakan para anggota tidak mau menggunakan plastik atau label yang diberikan oleh ketua kelompok.
3. Belum adanya informasi yang diberikan kepada petani lain tentang adanya penangkar benih di kelompok tani “Kerto Raharjo”
Peluang (Opportunity)
1. Persaingan usaha pertanian penangkar benih di kecamatan lawang masih sangat sedikit sehingga kelompok tani “Kerto Raharjo” berpeluang besar untuk mengembangkan usahanya.
2. Dengan adaya kelompok tani “Kerto Raharjo” yang bergerak pada usaha pertanian penangkar benih bersertifikat maka usaha ini berpeluang untuk menciptakan lapangan usaha baru bagi para anggota kelompok petani dimana mempunyai keterampilan lebih di banding petani yang hanya memproduksi beras saja.
Ancaman (Threat)
1. Kemungkinan munculnya usaha pertanian penangkaran benih dari kelompok tani lain yang lebih unggul.
benih dari kelompok tani lain yang lebih unggul dikarenakan adanya kualitas dari kelompok tani lain yang lebih bagus dan bersertifikat dimana mempunyai pemasaran yang cukup luas dan di kenal oleh kalangan petani lain serta struktur organisasi yang berjalan lebih baik di bandingkan kelompok tani “Kerto Raharjo”. Selain itu subsidi benih dari pemerintah juga merupakan suatu ancaman karena pemerintah memberikan bantuan pada petani yang kurang mampu dalam pemenuhan benih untuk produksi beras, meskipun terkadang subsidi tersebut kualitas nya masih rendah dan belum sebagaus benih dari “Kerto Raharjo”
Dari uraian analisa SWOT usaha pertanian penangkar benih diatas dapat diprediksikan bahwa perkembangan usaha pertanian penangkar benih ini akan memiliki prospek usaha yang baik dan lebih maju dengan mengatasi kelemahan-kelemahan seperti yang di rekomendasikan oleh penulis pada sub bab berikutnya.
D. SOLUSI ATAU SARAN SEBAGAI BAHAN PERTIMBANGAN DAN PEMIKIRAN AGAR USAHA PERTANIAN PENANGKARAN BENIH KELOMPOK TANI “KERTO RAHARJO” LEBIH BERKEMBANG DAN MAJU.
Solusi yang di tawarkan untuk kendala penangkaran benih adalah sebagai berikut:
1. Pemasaran dan Sumber Daya Manusia
Dalam hal pemasaran diketahui bahwa penangkar benih “Kerto Raharjo” hanya memasarkan produknya ke kios atau di jual ke penangkar yang lebih besar tanpa label dikarenakan para anggota tidak mau menggunakan plastik atau label yang diberikan oleh ketua kelompok. Maka dari itu solusi yang ditawarkan adalah :
a. Adanya penyuluhan terhadap anggota kelompok tentang pentingnya pengemasan suatu produk. Dalam hal ini adalah benih padi. Karena dengan adanya kemasan yang baik dan menarik produk akan lebih laku di pasaran dan memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen.
c. Memberikan penyuluhan kepada kelompok petani lain tentang keunggulan produk benih “Kerto Raharjo” serta memberikan penjelasan tentang manfaat menggunakan benih berlabel.
d. Bekerja sama dengan dinas pertanian dalam penyuluhan tentang manfaat menggunakan benih berlabel dan bersertifikasi
e. Perlu adanya pertimbangan petani dalam pengambilan keputusan untuk menjual dengan sistem tebasan
f. Dalam mengatasi potongan harga dari karungoleh pedagang, petani dapat mempersiapkan karungnya sendiri untuk mengurangi biaya potongan tersebut
g. Perlu adanya penyuluhan di tingkat petani untuk mengetahui fungsi pemasaran
h. Pembayaran tunai oleh pedagang ke petani harus sesuai dengan kesepakatanantara kedua belah pihak, sehingga keterlambatan pembayaran dapat dipertanggungjawabkan.
i. Mengikutkan produk ke dalam pameran-pameran hasil pertanian baik yang bersifat lokal maupun nasional.
j. Membuat brosur-brosur tentang benih “Kerto Raharjo” k. Melakukan promosi melalui social media misalnya facebook. l. Membuat koperasi unit desa yang bergerak di bidang penangkaran
benih.
m. Perlu adanya keterbukaan informasi pasar oleh pemerintah atauinstansi terkait bagi tingkat petani
2. Kelembagaan
Dalam hal kelembagaan diketahui bahwa struktur organisasi penangkar benih “Kerto Raharjo” tidak aktif, dikarenakan kurangnya kesadaran anggota. Selama ini proses produksi hanya ditangani oleh ketua. Maka untuk itu solusi yang ditawarkan adalah sebagai berikut.
c. Perlu adanya penyuluhan mengenai penghitungan biaya usahatani bagi petani agar dapat menghitung biaya usahatani
d. Setiap koordinator harus membuat laporan hasil produksi dan hasil pemasaran
e. Ibu-ibu petani meningkatkan peran mereka dalam peningkatan hasil produksi
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pembangunan ekonomi lokal adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut.
Pembangunan ekonomi daerah atau lokal yang berada di Kecamatan Lawang sebagai bagian dari Kabupaten Malang sangat terkenal dengan bidang pertaniannya. Adapun penelitian yang di lakukan di bagi menjadi dua bagian, yaitu:
Pengelolaan
Pengelolaan usaha pertanian penangkaran benih kelompok tani “Kerto Raharjo” di Desa Sumber Porong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang di lihat berdasarkan struktur organisasi , teknik penangkaran benih dan biaya.
Pengembangan
Pengembangan usaha pertanian penangkaran benih kelompok tani “Kerto Raharjo” di Desa Sumber Porong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang di analisis berdasarkan analisis SWOT untuk strategi pengembangan ekonomi lokal.
DAFTAR RUJUKAN
Rodriguez-Pose, A.2002.The role of The ILO implementing local economic development strategies in a globalised world.Geneva: ILO
Tijmstra, Sylvia.2005.Sensitizing Package on Local Economic Development 5 Modules.London:Department of Geography and Enviroment London School of Economics.
LAMPIRAN
1. Tempat penggilingan padi
2. Bagian dalam gudang penggilingan
4. Lahan kawasan benih padi
5. Kantor sekertariat kelompok tani Kertoraharjo