HUBUNGAN ANTARA PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP SEKTOR PERTANIAN dan SEKTOR INDUSTRI
BAB 1 PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Jawa Tengah adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa. Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah utara. Luas wilayahnya 34.548 km², atau sekitar 28,94% dari luas pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan di sebelah selatan (dekat dengan perbatasan Jawa Barat), serta Kepulauan Karimun Jawa di Laut Jawa.
Perekonomian pada Provinsi ini yaitu Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Jawa Tengah, dimana mata pencaharian di bidang ini digeluti hampir separuh dari angkatan kerja terserap.
Kawasan hutan meliputi 20% wilayah provinsi, terutama di bagian utara dan selatan. Daerah Rembang, Blora, Grobogan merupakan penghasil kayu jati. Jawa Tengah juga terdapat sejumlah industri besar dan menengah.Daerah Semarang-Ungaran-Demak-Kudus merupakan kawasan industri utama di Jawa Tengah.Kudus dikenal sebagai pusat industri rokok.
RUMUSAN MASALAH
1. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi Sektor Pertanian dan Perindustrian provinsi Jawa Tengah
2. Besarnya pertumbuhan penduduk di provinsi Jawa Tengah 3. Pertanian daerah pada provinsi Jawa Tengah
TUJUAN
1. Mengetahui perekonomian dan pertumbuhan penduduk pada provinsi Jawa Tengah
2. Mengetahui Sektor Pertanian dalam provinsi tersebut.
BAB 2
LITERATUR REVIEW
PENGERTIAN PDRB
Salah satu indikator yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu wilayah/daerah.Karena keberhasilan suatu pembangunan sangat tergantung pada kemampuan daerah tersebut dalam memobilisasi sumberdaya yang terbatas adanya sedemikian rupa, sehingga mampu melakukan perubahan structural yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan struktur ekonomi yang seimbang.
Secara umum Pertumbuhan Ekonomi/Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat dihitung berdasarkan 2 (dua) pendekatan yaitu Produk pangan nasional, oleh karena itu produktivitas padi lebih diutamakan untuk terus dipacu. Pada tahun 2012, produktivitas padi sekitar 57,70 kuintal per hektar, meningkat 5,92 persen dibanding produktivitas tahun sebelumnya. Begitu pula dengan luas panen padi dan jumlah produksi padi yang juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 2,86 persen dan 8,95 persen. Sebagian besar produksi padi merupakan padi sawah, yaitu sekitar 96,86 persen. Produktivitas padi di Kabupaten Sukoharjo adalah tertinggi di antara produktivitas padi di kabupaten/kota lain, yakni sebesar 66,49 kuintal per hektar. Sedangkan produktivitas terendah tercatat di Kabupaten Batang yaitu sebesar 40,19 kuintal per hektar.
Secara umum, luas panen, produktivitas per hektar dan produksi tanaman palawija di Jawa Tengah tahun 2012 hampir semua mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan luas panen padi 2,86 persen, jagung 6,39 persen, ubi kayu 2,11 persen,, kacang tanah 11,64 dan kedelai 18,45 persen. Sedangkan untuk ubi jalar dan kacang hijau masing - masing mengalami penurunan sebesar 0,57 dan, 4,09 persen.
kedele 14,61 persen.
Secara umum, produksi beberapa jenis sayuran buah semusim (bawang merah, bawang putih, kentang, kubis, cabe, tomat, wortel, kacang panjang, buncis, ketimun, dll) selama tahun 2008-2012 mengalami fluktuasi. Produksi sayuran buah semusim di tahun 2012 sebesar 22,26 juta kuintal atau mengalami penurunan sebesar 2,28 persen dari tahun sebelumnya.
Produksi beberapa jenis buah sayur tahunan seperti mangga, rambutan, duku, klengkeng, belimbing, durian, pisang, salak, jeruk, nanas dan pepaya dalam periode tahun 2008–2012 juga berfluktuasi. Produksi buah sayur tahunan di tahun 2012 sebesar 21,90 juta kuintal atau mengalami penurunan sebesar 0,64 persen dari tahun sebelumnya. SEKTOR PERINDUSTRIAN
Perusahaan industri besar dan sedang di Jawa Tengah pada tahun 2011 tercatat sebesar 3.850 unit perusahaan dengan 732,03 ribu orang tenaga kerja. Berarti, dari tahun sebelumnya jumlah perusahaan industri besar dan sedang turun 0,95 persen dan jumlah tenaga kerja turun 0,39 persen.
Pada tahun yang sama, nilai output industri besar dan sedang mencapai 165 trilyun rupiah, lebih tinggi 9,48 persen dari nilai output tahun 2010. Nilai tambah bruto (NTB) atas dasar harga pasar naik, dari 57,46 triliun rupiah pada tahun 2010 menjadi 62,12 triliun rupiah pada tahun 2011. Nilai tambah bruto terbesar dihasilkan oleh industri pengolahan tembakau yaitu senilai 15,45 trilyun rupiah dan mempekerjakan sekitar 115 ribu orang. Nilai tambah terbesar kedua dihasilkan oleh industri pengolahan tekstil dengan NTB sebesar 11,99 trilyun rupiah dan menyerap tenaga kerja sebanyak 140 ribu orang. Industri Produk dari Batu bara dan
pengilangan minyak bumi merupakan sub sektor industri dengan NTB terkecil, yakni 11,31 milyar rupiah.
BAB 3
METOLOGI DAN DATA
Harga Rata-Rata Penjualan Hasil Hutan Dalam Negeri
Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Tahun 2007 - Februari 2012
jenis produksi jenis produksi 2007 2008 2009 2010 2011 februari
product kind unit 2012
kayu pertukangan jat Rp/m³ 2.549.516 3.360.483 3.539.776 3.332.015 3.485.406 3.512.137 kayu pertukangan
rimba Rp/m³ 511.725 592.452 558.527 651.624 612.775 718.428
kayu bakar jatn Rp/Sm 117.026 135.910 179.032 216.478 205.596 224.311
kayu bakar rimba Rp/Sm 87.913 69.462 54.383 70.346 69.959 54.434
Gondorukem Rp/Ton 6.877.000 7.895.920 8.262.000 12.834.000 21.337.000 13.328.000 Kopal Rp/Ton 6.633.000 6.495.430 8.722.000 9.096.000 9.008.000 9.582.000 Terpentn Rp/Ton 7.275.000 9.479.930 13.355.000 20.548.000 22.851.000 16.845.000 minyak kayu puth Rp/Kg 90.492 99.270 126.144 119.008 125.436 126.000
parquet mozaic Rp/m³ 15.986 - 16.603 15.668 -
-parquet block Rp/m³ 108.635 703.073 158.215 42.387 6.599
-vinir Rp/m³ 15.420 18.433 21.089 22.924.000 -
-lamp parquet / listoni Rp/m³ - 2.628 44.954 15.973 12.186
-pintu jat Rp/m³ - - -
-Dependent Variable: PDRB Method: Least Squares Date: 09/24/14 Time: 20:55 Sample: 2000 2004
Included observations: 5
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
PERTANIAN 0.707757 0.621220 1.139302 0.3726
INDUSTRI 2.085732 0.263493 7.915707 0.0156
C 1.60E+09 8.35E+08 1.910984 0.1962
R-squared 0.998410 Mean dependent var 1.41E+10
Interpretasi 1.Koefisien Variabel
Pertanian = Jika pertanian meningkat 1 unit maka gdp meningkat sebesar 0.707 unit ceteris paribus
Perindustrian = jika perindustrian meningkat 1 unit maka gdp meningkat sebesar 2,085 unit ceteris paribus
C = jika variabel independen lain tidak ada atau bernilai 0 maka gdp sebesar 1.60
2.R-squared
99,84% variasi variabel independen dapat menerangkan variabel dependennya sisanya 0,16% diterangkan variasi variabel lain diluar model
3.Uji hipotesis individu (uji t)
H0:variabel independen tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen
Ha:variabel independen signifikan mempengaruhi variabel dependen Variabel probability alpha
Pertanian 0,37 > 0,05 H0 tidak ditolak, Ha ditolak. Variabel pertanian tidak signifikan mempengaruhi variabel GDP
Perindustrian 0,01 > 0,05 H0 tidak ditolak, Ha ditolak. variabel perindustrian tidak signifikan mempengaruhi variabel gdp C 0,19 > 0,05 H0 tidak ditolak , Ha ditolak . variabel c tidak signifikan mempengaruhi variabel gdp
4.Uji F
H0 : secara bersama-sama variabel independen signifikan dapat menjelaskan varibel dependen
Ha : secara bersama-sama variabel independen tidak signifikan menjelaskan variabel dependen
0,00 < 0,05 H0 ditolak , Ha tidak ditolak secara bersama-sama variabel independen signifikan menjelaskan variabel dependen
Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah terhadapa Sektor Pertanian,Perikanan dan perindustrian.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu bagian dari sistem neraca ekonomi regional yang didalamnya merekam hasil-hasil dari kegiatan ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu (satu tahun). Dalam tahun 2005-2009 PDRB Kabupaten Purworejo atas harga berlaku berturut-turut sebesar 2.951.647,48; 3.443.170,90; 4.094.294,69; 4.660.785,05 dan 5.328.179,09 juta rupiah atau
meningkat tiap tahun sebesar 14,21%. PDRB Perkapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2005-2009 adalah 4.812.345,86; 5.707.718,23; 6.478.747,52; 7.376.755,82; dan 8.098.565,72 rupiah atau tiap tahun naik sebesar 13,94%.
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2009 kontribusi sektor pertanian sebesar 32,81% dengan laju pertumbuhan 7,78%. Kontribusi PDRB terkecil berasal dari lapangan usaha sektor listrik, gas, air yang menyumbang sebesar 0,79%. Lapangan usaha yang setiap tahun mengalami kenaikan adalah sektor industri pengolahan; bangunan; listrik, gas, air; pengangkutan dan komunikasi; keuangan; serta jasa-jasa.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pertumbuhan ekonomi terhadap sektor pertanian , perindustrian .
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berkontribusi tinggi dalam menyusun besaran PDRB Provinsi Jawa Tengah. Sektor pertanian sebagai salah satu penopang PDRB memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaannya. Guna mencapai produktivitas sektor pertanian yang maksimal, diperlukan perencanaan dan analisis yang tepat mengenai pembangunan sektor pertanian di tiap-tiap daerah. Dalam proses perencanaan pembangunan, terdapat target-target pembangunan pada daerah-daerah yang potensial.