MAKALAH
PELAKSANAAN DEMOKRASI DI INDONESIA
PADA ERA REFORMASI
Disusun oleh:
Ulliyah Sumanjaya (NIM. 14303241020) Andriani Wulansari (NIM. 14303241021) Very Ega Efrika (NIM. 14307141059) Denny Hadya K. (NIM. 14307144002)
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PELAKSANAAN DEMOKRASI DI INDONESIA PADA ERA REFORMASI” ini tanpa ada halangan suatu apapun.
Penyusunan laporan ini tidak lain dengan adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Suripno, S.H., selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
2. Orang tua, yang senantiasa memberikan dukungan dan dorongan kepada kami.
3. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah, rahmat, dan perlindungan-Nya atas semua budi luhur dan nama baik dari semua pihak tersebut diatas
Akhirnya penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Demokrasi telah menjadi istilah yang sangat diagungkan dalam sejarah pemikiran manusia tentang tatanan sosio-politik yang ideal. Ajaran demokrasi merupakan ide besar para filsuf untuk mengkonstruksi rasionalitas kekuasaan yang sulit dijinakkan. Kekuasaan menjadi tema sentral dalam ide demokrasi.
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang sudah sejak lama menerapkan demokrasi sebagai dasar pemerintahan Indonesia. Namun samapai saat ini, negara Indonesia belum memiliki kejelasan yang tepat tentang arti demokrasi itu sendiri. Jika kita melihat sistem demokrasi dalam struktur pemerintahan Indonesia dari level negara, provinsi, kabupaten, hingga kecamatan hampir dapat dipastikan demokrasi ini hanya sampai pada pembuatan kebijakan. Sementara jika mencari demokrasi yang merupakan ciri bahwa negara Indonesia mempunyai ciri demokrasi itu sendiri dapat dilihat di level desa.
Hal ini sebagaimana seperti yang ditulis oleh Moh. Hatta, “Di desa-desa sistem yang demokrasi masih kuat dan hidup sehat sebagai bagian adat istiadat yang hakiki.” Dasarnya adalah pemilikan tanah yang komunal yaitu setiap orang yang merasa bahwa ia harus bertindak berdasarkan persetujuan bersama. Struktur demokrasi yang hidup dalam diri bangsa Indonesia harus berdasarkan demokrasi asli yang berlaku di desa. Gambaran dari tulisan ini tidak lain merupakan pola-pola demokrasi tradisional yang dilambangkan oleh musyawarah dalam pencapaian keputusan dan gotong royong dalam pelaksanaan keputusannya tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa demokrasi desa memuat baik kepemimpinan.
bertentangan dari rakyat, pastinya kedua pendapat itu tidak mesti dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu adanya sosok pemimpin yang dapat memimbing dan memutuskan pendapat yang terbaik yang bisa digunakan.
Untuk itu, makalah yang kami susun ini akan membahas tentang bagaimana pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini, yang berdasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalah ini antara lain: 1. Apakah pengertian dari demokrasi itu?
2. Bagaimana perkembangan demokrasi di Indonesia? 3. Bagaimana pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian demokrasi.
2. Mengetahui perkembangan demokrasi di Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN DEMOKRASI
Beberapa pengertian demokrasi menurut para ahli secara lengkapnya dijelaskan seperti dibawah ini:
1. Menurut Henry B. Mayo
Kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana di mana terjadi kebebasan politik.
2. Menurut Samuel Huntington
Demokrasi ada jika para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuah sistem dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir seluruh penduduk dewasa dapat memberikan suara.
3. Menurut Yusuf Al-Qardhawi
Demokrasi adalah wadah masyarakat untuk memilih sesorang untuk mengurus dan mengatur urusan mereka. Pimpinanya bukan orang yang mereka benci, peraturannya bukan yang mereka tidak kehendaki, dan mereka berhak meminta pertanggungjawaban penguasa jika pemimpin tersebut salah. Merekapun berhak memecatnya jika menyeleweng, mereka juga tidak boleh dibawa ke sistem ekonomi, sosial, budaya, atau sistem politik yang tidak mereka kenal dan tidak mereka sukai
4. Menurut Hans Kelsen
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan kekuasaan negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan didalam melaksanakan kekuasaan negara.
5. Menurut John L. Esposito
itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
6. Menurut Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.
7. Menurut Kranenburg
Demokrasi terbentuk dari dua pokok kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos (rakyat) dan Kratein (memerintah) yang maknanya adalah “ cara memerintah oleh rakyat”.
8. Menurut Prof. Mr. Koentjoro Poerbobranoto
Demokrasi adalah suatu negara yang pemerintahannya dipegang oleh rakyat. Maksudnya, suatu sistem dimana suatu negara diikutsertakan dalam pemerintahan negara.
9. Menurut Abraham Lincoln
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (Democracy is government of the people, by the people, and for the people). Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan.
10. Menurut International Commission of Jurist
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas.
11. Menurut Merriam, Webster Dictionary
Demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintahan oleh rakyat; khususnya, oleh mayoritas pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada rakyat dan dilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung melalui sebuah sistem perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara mengadakan pemilu bebas yang diadakan secara periodik.
negara di pegang oleh rakyat, karena pemerintahan tersebut pada hakikatnya berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
B. SEJARAH DEMOKRASI
Kata “demokrasi” pertama muncul pada mazhab politik dan filsafat Yunani kuno di negara-kota Athena. Dipimpin oleh Cleisthenes, warga Athena mendirikan negara yang umum dianggap sebagai negara demokrasi pertama pada tahun 508-507 SM. Cleisthenes disebut sebagai “Bapak Demokrasi Athena”.
Demokrasi Athena berbentuk demokrasi langsung dan memiliki dua ciri utama: pemilihan acak warga biasa untuk mengisi jabatan administratif dan yudisial di pemerintahan, dan majelis legislatif yang terdiri dari semua warga Athena. Semua warga negara yang memenuhi ketentuan boleh berbicara dan memberi suara di majelis, sehingga tercipta hukum di negara-kota tersebut.
Demokrasi Athena tidak hanya bersifat langsung dalam artian keputusan dibuat oleh majelis, tetapi juga sangat langsung dalam artian rakyat, melalui majelis, boule, dan pengadilan, mengendalikan seluruh proses politik dan sebagian besar warga negara terus terlibat dalam urusan publik. Meski hak-hak individu tidak dijamin oleh konstitusi Athena dalam arti modern (bangsa Yunani kuno tidak punya kata untuk menyebut “hak”), penduduk Athena menikmati kebebasan tidak dengan menentang pemerintah, tetapi dengan tinggal di sebuah kota yang tidak dikuasai kekuatan lain dan menahan diri untuk tidak tunduk pada perintah orang lain.
Pemungutan suara kisaran pertama dilakukan di Sparta pada 700 SM. Apella merupakan majelis rakyat yang diadakan sekali sebulan. Di Apella, penduduk Sparta memilih pemimpin dan melakukan pemungutan suara dengan cara pemungutan suara kisaran dan berteriak. Setiap warga negara pria berusia 30 tahun boleh ikut serta. Aristoteles menyebut hal ini kekanak-kanakan, berbeda dengan pemakaian kotak suara batu layaknya warga Athena. Tetapi Sparta memakai cara ini karena kesederhanaannya dan mencegah pemungutan bias, pembelian suara, atau kecurangan yang mendominasi pemilihan-pemilihan demokratis pertama.
Dalam menjalankan demokrasi dalam suatu negara, harus mengacu pada prinsip prinsip dasar demokrasi sebagaimana berikut ini:
1. Pemerintahan berdasarkan konstitusi.
2. Pemilihan Umum yang bebas, jujur, dan adil. 3. Adanya jaminan Hak Asasi Manusia (HAM).
4. Diakuinya persamaan kedudukan di hadapan hukum. 5. Terciptanya peradilan yang bebas dan tidak memihak.
6. Dijaminya kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. 7. Kebebasan pers.
D. UNSUR-UNSUR DEMOKRASI
1. Partisipasi masyarakat dalam kehidupan bernegara
Dalam demokrasi, setiap warga negara berhak menentukan kebijakan publik, seperti penentuan anggaran, peraturan peraturan, dan kebijakan-kebijakan publik lainya. Namun karena secara praktis tidak mungkin melibatkan semua warga suatu negara dalam pengambilan keputusan, maka digunakan prosedur pemilihan wakil rakyat. Warga negara memilih wakil-wakil mereka di pemerintahan.
Para wakil inilah yang diberi mandat untuk mengelola masa depan bersama warga negara melalui berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Pemerintahan demokratis diberi kewenangan membuat keputusan melalui mandat yang diperoleh lewat pemilu.
2. Kebebasan
Unsur ke dua dan bahkan lebih mendasar dalam demokrasi adalah kebebasan, yaitu kebebasan berekspresi, berkumpul, berserikat, dan media (koran, radio, TV). Kebebasan memungkinkan demokrasi berfungsi. Kebebasan memberi oksigen agar demokrasi dapat bernafas. a. Kebebasan berekspresi memungkinkan segala masalah bisa
diperdebatkan, memungkinkan pemerintah dikritik, dan memungkinkan adanya pilihan-pilihan lain.
b. Kebebasan berkumpul memungkinkan rakyat berkumpul untuk melakukan diskusi.
c. Kebebasan berserikat memungkinkan orang-orang untuk bergabung dalam suatu partai atau kelompok penekan untuk mewujudkan pandangan atau cita-cita politik mereka.
dikendalikan oleh penguasa, membantu rakyat mendapatkan informasi yang diperlukan untuk membuat pilihan mereka sendiri. Tanpa Media yang bebas dan tanpa kebebasan berekspresi yang luas (melalui percakapan, buku buku, film film, dan bahkan poster-poster dinding), rakyat sering kali sulit mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi, dan bahkan sulit membuat keputusan yang berbobot mengenai apa yang harus mereka pilih demi mencapai suatu keadaan masyarakat yang mereka inginkan.
3. Supremasi hukum (Daulat hukum)
Unsur penting lainya, yang sering kali dianggap sudah semestinya ada di negara negara yang tradisi demokrasinya sudah lama adalah supremasi hukum (rule of law). Tidak ada gunanya pemerintah membiarkan semua kebebasan yang disebut di atas bertumbuh apabila pemerintah menginjak-injaknya. Pengalaman yang banyak negara menunjukan banyak pengkritik dijebloskan ke dalam penjara, banyak demonstran yang menentang kebijakan pemerintah dibubarkan dengan cara kekerasan, dan bahkan ada banyak diantara mereka ditembak mati secara diam-diam oleh agen-agen rahasia negara.
Agar kebebasan dapat tumbuh subur, rakyat harus yakin bahwa kebebasan itu berlaku tetap. Rakyat baru yakin akan hal itu apabila pihak-pihak yang bertugas untuk menegakkannya, terutama para hakim dan polisi, tidak dikendalikan oleh penguasa.
4. Pengakuan akan kesamaan warga negara
Dalam demokrasi semua warga negara diandaikan memiliki hak-hak politik yang sama, jumlah suara yang sama, hak-hak pilih yang sama, dan akses atau kesempatan yang sama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak seorang pun mempunyai pengaruh lebih besar dari pada orang lain dalam proses pembuatan kebijakan. Kesamaan disini juga termasuk kesamaan di depan hukum dari rakyat jelata sampai pejabat tinggi. Semuanya sama di hadapan hukum.
b. Di bidang budaya, setiap individu mempunyai kesamaan hak dalam mengembangkan seni, misalnya berkreasi dalam seni tari, seni lukis, seni musik, seni pahat, seni bangunan, dan sebagainya.
c. Di bidang politik, setiap orang memilih hak politik yang sama, yakni setiap individu berhak secara bebas memilih, menjadi anggota salah satu partai politik, atau mendirikan partai politik baru sesuai perundang-undangan yang berlaku. Juga memiliki hak dalam pengambilan keputusan baik dalam lingkup keluarga atau masyarakat melalui mekanisme yang disepakati dengan tidak membedakan status, kedudukan, jenis kelamin, agama, dan sebagainya.
d. Di bidang hukum, setiap individu memiliki kedudukan yang sama, yakni berhak untuk mengadakan pembelaan, penuntutan, berperkara di depan pengadilan.
e. Di bidang pertahanan dan keamanan, setiap individu mepunyai hak dan kewajiban yang sama dalam pembelaan negara.
5. Pengakuan akan supremasi sipil atas militer
BAB III
PEMBAHASAN
A. PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA
Dalam sejarah Negara Republik Indonesia, perkembangan demokrasi telah mengalami pasang surut. Masalah pokok yang dihadapi bangsa Indonesia adalah bagaimana meningkatkan kehidupan ekonomi dan membangun kehidupan sosial politik yang demokratis dalam masyarakat. Perkembangan demokrasi di Indonesia dibagi dalam empat periode:
1. Demokrasi pada masa Revolusi (1945-1950)
Tahun 1945-1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang ingin kembali ke Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan oleh masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan masih terdapat sentralisasi kekuasaan hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden dengan dibantu oleh KNIP. Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah negara yang absolut pemerintah mengeluarkan:
a. Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah menjadi lembaga legislatif.
b. Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan Partai Politik.
c. Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan sistem pemerintahn presidensiil menjadi parlementer.
2. Demokrasi pada masa Orde Lama
a. Masa Demokrasi Liberal (1950-1959)
Masa demokrasi liberal atau parlementer, presiden sebagai lambang atau berkedudukan sebagai kepala negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa demokrasi ini peranan parlemen akuntabilitas politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik.
Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal disebabkan:
1) Dominannya partai politik.
3) Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950.
Atas dasar kegagalan itu maka presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959:
1) Bubarkan konstituante.
2) Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUDS 1950. 3) Pembentukan MPRS dan DPAS.
b. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965 adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berintikan musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner dengan berporoskan nasakom dengan ciri:
1) Dominasi presiden.
2) Terbatasnya peran partai politik. 3) Berkembangnya pengaruh PKI.
Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:
1) Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan. oleh PKI yang menjadi tanda akhir dari pemerintahan Orde Lama. 3. Demokrasi pada masa Orde Baru (1966-1998)
Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini dianggap gagal sebab:
a. Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada. b. Rekrutmen politik yang tertutup.
c. Pemilu yang jauh dari semangat demokratis. d. Pengakuan HAM yang terbatas.
e. Tumbuhnya KKN yang merajalela. Sebab jatuhnya Orde Baru:
a. Hancurnya ekonomi nasional (krisis ekonomi). b. Terjadinya krisis politik.
c. TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba.
d. Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto untuk turun jadi Presiden.
4. Demokrasi pada masa Reformasi (1998-sekarang)
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:
a. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi.
b. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum.
c. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bebas dari KKN.
d. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI.
e. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV. f. Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum
sudah dua kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004.
B. DEMOKRASI ERA REFORMASI
Prinsip demokrasi di Indonesia tercantum dalam suatu Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea IV yang berbunyi:
“….maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Selain tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945, prinsip demokrasi Indonesia juga tercantum dalam Pancasila sila keempat serta secara eksplisit tercantum dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi, “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD.” Selain itu juga tercantum dalam Pasal UUD 1945 hasil amandemen dengan mewujudkan sistem penentuan kekuasaan pemerintahan negara secara langsung dalam memilih presiden dan wakil presiden, Pasal 6A ayat (1).
Sistem demokrasi dalam penyelenggaraan negara Indonesia diwujudkan dalam penentuan kekuasaan negara yaitu dengan menentukan dan memisahkan tentang kekuasaan eksekutif Pasal 4-16, legislatif Pasal 19-22, dan yudikatif Pasal 24 UUD 1945.
Secara filosofis, demokrasi Indonesia mendasarkan pada rakyat sebagai asal mula kekuasaan negara dan sebagai tujuan kekuasaan negara. Rakyat merupakan penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
C. PEMILU SEBAGAI PERWUJUDAN DEMOKRASI
Salah satu perwujudan pelaksanaan demokrasi di Indonesia adalah dengan diadakannya Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilihan Umum merupakan suatu ajang aspirasi rakyat sebagai perwujudan dari kedaulatan rakyat. Masalah Pemilu diatur dalam UUD 1945 tentang Pemilihan Umum Bab VII B Pasal 22E sebagai hasil dari amandemen UUD 1945 ke-3 Tahun 2001 yang berbunyi:
2. Pemilihan Umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
3. Peserta Pemilihan Umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Partai Politik.
4. Peserta Pemilihan Umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah perseorangan.
5. Pemilihan Umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri.
6. Ketentuan lebih lanjut tentang Pemilu diatur dengan Undang-Undang. Tujuan diselenggarakannya Pemilu adalah untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka mencapai tujuan nasional sesuai dengan UUD 1945.
Pemilu diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Komisi ini bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemilu dan dalam pelaksanaannya menyampaikan laporan kepada Presiden dan DPR.
D. INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI)
Pembangunan demokrasi dan politik merupakan hal yang sangat penting dan terus diupayakan oleh pemerintah. Pembangunan demokrasi memerlukan data empirik untuk dapat dijadikan landasan pengambilan kebijakan dan perumusan strategi yang spesifik dan akurat. Oleh karena itu, untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia sejak tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama stakeholder
lainnya merumuskan pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia (IDI).
IDI adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan sejumlah aspek demokrasi, diantaranya adalah Kebebasan Sipil (Civil Liberty), hak-Hak Politik (Political Rights), dan Lembaga-Lembaga Demokrasi (Institution of Democracy).
demokrasi sesuai dengan ketiga aspek yang diukur. Di samping level nasional, IDI juga dapat memberikan gambaran perkembangan demokrasi di level provinsi seluruh Indonesia.
Tahun 2013, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) nasional sebesar 63,72 dari skala 0 sampai 100, angka ini naik 1,09 poin dibandingkan dengan IDI nasional tahun 2012 sebesar 62,63. Meskipun mengalami peningkatan, tingkat demokrasi Indonesia masih tetap berada pada kategori sedang.
Berikut disajikan grafik perkembangan IDI nasional tahun 2009 sampai dengan 2013.
Grafik Perkembangan IDI Nasional, 2009 – 2013
(Sumber: Berita Resmi Statistik BPS No. 55/07/Th. XVII, 04 Juli 2014) Perkembangan IDI dari tahun 2009 hingga 2013 mengalami fluktuasi (2009 sebesar 67,30; 2010 sebesar 63,17; 2011 sebesar 65,48; 2012 sebesar 62,63; dan 2013 sebesar 63,72). Meskipun demikian, tingkat demokrasi Indonesia berdasarkan perhitungan indeks sejak tahun 2009 hingga 2013 masih tetap berada pada kategori sedang.
Jika kita bandingkan dengan indeks pada tahun 2009, nilai indeks pada tahun 2013 justru lebih rendah sebesar 3,58 dibandingkan IDI pada tahun 2009. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya kecenderungan penyampaian aspirasi dalam bentuk demonstrasi yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan seperti merusak, memblokir, membakar, dan melakukan penyegelan terhadap kantor-kantor pemerintah, dll.
Satu poin yang perlu dicermati dari sistem demokrasi adalah penentuan calon pemimpin atau wakil rakyat yang kelak menyuarakan kehendak rakyat. Demokrasi tidak mengatur detil dari poin ini. Semua diserahkan pada negara atau wilayah guna menyesuaikan sesuai dengan kepentingan. Mengingat azas kebebasan yang berlaku dalam sistem demokrasi, maka setiap warga negara punya hak dipilih dan memilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Celakanya jika dalam penetapan ini bermuatan kepentingan segelintir orang atau kelompok, maka akan dibuat kriteria selonggar mungkin. Ini yang terjadi ketika Aburrahman Wahid (Gus Dur) dicalonkan sebagai presiden RI. Atau standar minimum pendidikan SMA pada penetapan calon anggota legislatif indonesia. Itulah muncul kekhawatiran dari beberapa kalangan akan munculnya sosok-sosok boneka. Mereka yang sebenarnya jauh dari kompeten namun memenuhi syarat minimal berhak mencalonkan diri.
Sisi lain yang tak kalah menakutkan adalah proses pra pemilihan umum. Mengingat calon harus memenangkan suara terbanyak untuk bisa duduk di tempat yang ia inginkan, maka mau tak mau harus ada usaha untuk merebut hati rakyat. Kampanye sebagai mekanisme beriklan harus dimanfaatkan betul. Mereka yang lolos “Fit and Proper Test” ini dan berkampanye, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Diperbolehkan menggalang dana dan mencari sponsor dari individu atau kelompok. Dan tentu saja harus ada “transaksi” atau semacam kesepakatan antara kedua belah pihak. Intinya harus ada simbiosis mutualisme antara kerduanya.
Maka jadilah kampanye tidak sekedar pra pesta demokrasi melainkan pesta bisnis di sisi lain. Inilah poin berbahaya yang dimaksud. Celah ini sangat dipahami betul para pemilik modal. Mereka yang ingin mempertahankan hegemoni bisnisnya rela merogoh kocek lebih dalam guna mendukung salah satu calon yang dianggap menguntungkan bisnisnya kelak.
demokrasi tengah berada dalam kondisi yang tidak baik alias sakit (Simon Jenkins, mantan editor The Times, Guardian, 2010).
Analisa Simon Jenkins di atas memberikan gambaran jelas tentang cacat demokrasi. Selain prosesnya sering tidak fair, mekanisme dan hasilnya pun tak jarang menimbulkan petaka. Namun sayangnya kehebatan media dan “marketing” demokrasi yang dimiliki tangan-tangan tersembunyi, membuat demokrasi seolah batu karang gagah yang tak tergoyahkan.
Di sisi lain, pelaku-pelaku politik yang sudah jauh tenggelam dalam dahaga duniawi dan kekuasaan semakin banyak bermunculan. Individu hasil didikan tangan-tangan inilah yang akan dijadikan boneka dan atau wayang. Inilah cacat bawaan dan sisi gelap demokrasi yang sudah banyak memakan korban. Pelan tapi pasti, dunia saat ini sedang berjalan ke arah proses destruktif massal. Satu per satu negara teracuni. Satu per satu pula negara-negara tersebut dikuasai secara kasat mata melalui tangan-tangan tersembunyi lewat mekanisme pemilu dalam sistem demokrasi.
F. KONDISI DEMOKRASI SAAT INI
Tahun 2014 menjadi tahun ketiga pelaksanaan pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat, yang sebelumnya telah dilaksanakan pada tahun 2004 dan 2009. Selain itu juga telah dilaksanakan Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD yang juga dilakukan secara langsung oleh rakyat. Hal ini telah mencerminkan bahwa negara Indonesia telah berhasil menerapkan paham demokrasi terutama Demokrasi Pancasila yang telah diterapkan oleh negara Indonesia.
Menurut Ahmad Amran Nur, Sekertaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sulawesi Barat, pilkada langsung dengan melibatkan rakyat lebih sesuai dengan perwujudan Demokrasi Pancasila. Pancasila memiliki jiwa dan semangat integrasi bangsa, yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia bukan lagi mengenai jumlah sila yang terdapat dalam pancasila, lebih dari itu yang perlu dijalankan adalah implementasi dari makna yang terkandung dalam kelima sila itu sendiri.
“Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa bukanlah ideologi yang ingin menguasai bangsa di atas bangsanya sendiri, sehingga semangat DPR memutuskan pilkada tidak lansung bertentangan dengan nilai demokrasi dalam pancasila, karena tidak melibatkan masyarakat secara utuh,” katanya. Sila keempat Pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, sebenarnya dapat dipahami bahwa keputusan sejatinya diambil melalui proses berpikir secara kolektif seluruh masyarakat.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan makalah yang telah kami susun, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Demokrasi adalah suatu paham yang menegaskan bahwa pemerintahan suatu negara di pegang oleh rakyat, karena pemerintahan tersebut pada hakikatnya berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
2. Demokrasi di Indonesia mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang terbagi menjadi empat periode, yakni: Demokrasi Parlementer (1945-1959), Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Demokrasi Pancasila Era Orba (1966-1999), dan Demokrasi Pancasila Era Reformasi (1999-sekarang).
3. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia sudah cukup baik sesuai dengan yang tercantum dalam UUD 1945. Namun, pada akhir-akhir ini demokrasi di Indonesia sedikit mengalami kecacatan dengan keputusan DPR yang telah mengusulkan pilkada tidak langsung. Sehingga hak kedaulatan rakyat untuk menentukan pemimpinnya akan hilang.
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Amal, Ikhlasul. 2011. Makalah Implementasi Demokrasi Pancasila Sebagai Perwujudan Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta: STMIK AMIKOM.
Azizah, Abu. 2013. Cacat dan Sisi Gelap Demokrasi. [Online]. Tersedia:
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/cacat-dan-sisi-gelap-demokrasi.htm#.VD9m71f_Rzs [16 Oktober 2014].
Badan Pusat Statistik. 2014. Berita Resmi Statistik: Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2013. No. 55/07/Th. XVII, 04 Juli 2014.
Magnis, Franz, dan Suseno SJ. 1995. Mencari Sosok Demokrasi: Sebuah Telaah Filosofis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nurtjahjo, Hendra. 2006. Filsafat Demokrasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Putra, Febrianto. 2014. Hakikat Demokrasi: Pengertian dan Prinsip. [Online]. Tersedia: http://www.febrian.web.id/2014/03/hakikat-demokrasi-pengertian-dan-prinsip.html [15 Oktober 2014].
Rochimudin. 2013. Pengertian dan Prinsip-Prinsip Budaya Demokrasi. [Online]. Tersedia: http://pkndisma.blogspot.com/2013/09/pengertian-dan-prinsip-prinsip-budaya.html [15 Oktober 2014].
Sunarso, dkk. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: UNY Press. Tim Eska Media. 2002. Edisi Lengkap UUD 1945. Jakarta: Eska Media. Hlm 51. Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum anggota DPR,
DPD, dan DPRD. Hlm 1.
Wikipedia Bahasa Indonesia. 2013. Demokrasi. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi [15 Oktober 2014].