• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Perlindungan Cagar Alam Gunu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengelolaan Perlindungan Cagar Alam Gunu"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGELOLAAN PERLINDUNGAN CAGAR ALAM GUNUNG PAPANDAYAN

Musyarofah Zuhri, Endah Sulistyawati

Pengelolaan Sumber Daya Hayati dan Lingkungan Hidup Tropika Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH)

Institut Teknologi Bandung Abstrak

Cagar Alam Gunung Papandayan (CAGP) memiliki potensi keanekaragaman hayati dan kepentingan pelestarian yang tinggi namun upaya perlindungan terhadap kawasan tersebut banyak mengalami hambatan yang berasal dari keterbatasan pengelola dan pemanfaatan sumber daya oleh masyarakat yang bermukim di sekitar CAGP. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pengelolaan perlindungan yang sesuai bagi kawasan tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi langsung, dan studi literatur untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Akar permasalahan perlindungan di CAGP berasal dari ketidakmampuan BKSDA Jabar II dalam mengelola kawasan CAGP sesuai dengan statusnya sebagai kawasan suaka alam yang memerlukan perlindungan penuh di dalam dan di luar kawasan. Solusi dari permasalahan pengelolaan perlindungan di CAGP adalah dengan mengintegrasikan fungsi konservasi dengan tata guna lahan di sekitarnya melalui pendekatan yang mencakup aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan perlindungan. Strategi pengelolaan perlindungan dikembangkan dengan mendirikan lembaga pengelolaan kolaboratif dan meningkatkan kontrol atas sumber daya dan masyarakat melalui program konservasi, penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat.

Kata kunci: Pengelolaan, Cagar Alam, dan Perlindungan.

I. Pendahuluan

Cagar alam sebagai salah satu kawasan suaka alam memiliki fungsi pengawetan keanekaragaman hayati dan penunjang sistem penyangga kehidupan. Oleh karena itu pengelolaan kawasan tersebut ditekankan pada upaya perlindungan untuk mendukung fungsi pokoknya. Namun perlindungan bagi kawasan cagar alam banyak mengalami hambatan terutama yang disebabkan oleh keterbatasan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya oleh masyarakat sekitar kawasan (Departemen Kehutanan, 2005).

Sistem klasifikasi dari IUCN menempatkan cagar alam sebagai kawasan yang secara ketat dilindungi (strict nature reserves) untuk mendukung pelestarian populasi berbagai spesies serta memungkinkan proses-proses ekologi berlangsung dengan hambatan sesedikit mungkin (IUCN, 1994; Mierauskas, 2004; Primack, et al.,1998). Cagar alam memiliki fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman hayati dan sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan (UU No.41 Tahun 1999).

Seminar Nasional Penelitian Lingkungan di Perguruan Tinggi 2007 Jakarta, 20 Juni 2007 Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia (IATPI), Program Studi Teknik Lingkungan dan Program Studi Ilmu

(2)

Pengelolaan cagar alam selain bertujuan untuk menunjang fungsi pokok kawasan juga agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat khususnya masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan cagar alam. Seperti manfaat ekologis kawasan antara lain sebagai sumber air, penyedia plasma nutfah, habitat satwa, mendaur ulang karbondioksida, mencegah erosi, longsor, dan banjir.

Sementara itu status cagar alam tidak dapat memberikan manfaat secara langsung bagi sosial ekonomi masyarakat sebab terdapat pembatasan akses masuk ke dalam kawasan. Pembatasan akses tersebut terkait dengan manfaat sosial ekonomi yang seringkali dianggap oleh pengelola sebagai pemanfaatan konsumtif yang dilarang dilakukan di dalam kawasan cagar alam karena dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan (Yunus, 2005).

Kegiatan pemanfaatan di dalam cagar alam yang diperbolehkan hanya sebatas untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan penunjang budidaya (PP No.68 Tahun 1998). Pembatasan akses dan pemanfaatan menyebabkan adanya tekanan terhadap pengelolaan kawasan cagar alam yang berpotensi menimbulkan permasalahan di kawasan cagar alam.

Hampir seluruh kawasan suaka alam dan pelestarian alam pada saat ini mengalami permasalahan yang pada dasarnya berkaitan dengan: (1) pengelolaan kawasan konservasi, (2) sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, serta (3) pandangan serta kepedulian sektoral mengenai pembangunan dan konservasi alam

(Saparjadi, 1998). Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada, maka diperlukan peningkatan efektifitas pengelolaan perlindungan kawasan cagar alam melalui kegiatan patroli di lapangan, pemberdayaan masyarakat, dan menjalin kerja sama lintas sektoral.

Salah satu kawasan suaka alam yang belum dapat terlepas dari permasalahan pengelolaan perlindungan adalah Cagar Alam Gunung Papandayan (CAGP). Indikator adanya permasalahan di kawasan CAGP adalah terjadinya kasus perambahan hutan seluas 139,89 ha pada tahun 1995-2003 (BKSDA Jabar II, 2005).

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pengelolaan perlindungan yang sesuai bagi CAGP berdasarkan pendekatan bottom-up. Penelitian mencakup aspek ekologi, pengelolaan, dan sosial ekonomi masyarakat. Model pengelolaan perlindungan diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola serta stakeholder lain untuk bersama-sama meningkatkan efektifitas perlindungan di CAGP.

II. Area Penelitian dan Metode Penelitian dilakukan di kawasan yang berbatasan dengan Cagar Alam Gunung Papandayan (CAGP), yaitu di Desa Sirnajaya, Neglawangi, dan Cihawuk. Pengumpulan data dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara semi terstruktur terhadap penduduk desa, pihak pengelola, dan stakeholder lain serta melalui observasi langsung. Sementara itu data sekunder diperoleh melalui studi literatur.

(3)

untuk tiap desa dihitung menggunakan alokasi proporsional. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh jumlah sampel penduduk desa sebanyak 69 orang dengan proporsi 27 orang mewakili Desa Sirnajaya, 21 orang mewakili Desa Neglawangi, dan 21 orang mewakili Desa Cihawuk. Jumlah sampel yang mewakili pengelola CAGP sebanyak sepuluh orang yang dibatasi pengelola yang memiliki keterkaitan langsung dengan perlindungan kawasan Papandayan. Jumlah sampel sebanyak lima orang mewakili stakeholder lain yang terlibat dalam perlindungan di luar kawasan CAGP.

Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah keluarga atau rumah tangga. Hasil dari keseluruhan analisis kemudian digunakan untuk menyusun model pengelolaan perlindungan yang berkelanjutan untuk kawasan CAGP.

III. Hasil dan Pembahasan

III.1 Pengelolaan Perlindungan di CAGP

Definisi perlindungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah dan mengatasi gangguan dan ancaman terhadap integritas suatu ekosistem yang disebabkan oleh aktivitas manusia maupun sebab alamiah. Perlindungan merupakan salah satu bentuk kegiatan pengelolaan di CAGP yang meliputi seluruh wilayah CAGP dan kawasan di luar CAGP, namun sampai saat ini kegiatan perlindungan masih terbatas di dalam kawasan CAGP.

Perlindungan di dalam kawasan terutama dilakukan untuk menjaga potensi CAGP dari berbagai dampak negatif yang disebabkan oleh aktivitas

manusia. Sementara itu perlindungan di luar kawasan dilakukan untuk mendukung integritas CAGP, sebab kawasan di luar CAGP yang didominasi hutan pinus, kebun sayur, dan kebun teh menyediakan sumber daya bagi sejumlah spesies, seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi), toed (Lanius scach), dan babi hutan (Sus scrofa). Perubahan fungsi kawasan dapat mengancam keberadaan spesies yang bergantung pada sumber daya di luar kawasan CAGP.

Kegiatan pengelolaan perlindungan di CAGP dilaksanakan oleh Seksi Konservasi Wilayah II Garut yang berada di bawah BKSDA Jabar II. Tenaga pengaman terdiri dari polisi kehutanan (polhut) dan non-polhut yang diangkat dari masyarakat sekitar CAGP. Jumlah polhut sebanyak 22 orang dan tersebar di tiga satuan kerja, yaitu Papandayan, Kamojang dan Sancang. Sementara jumlah non-polhut sebanyak lima orang yang tersebar di berbagai desa di sekitar CAGP. Rasio ideal jumlah tenaga pengaman ditentukan berdasarkan tingkat kerawanan kawasan (Sitorus, 2006) yang dapat ditentukan berdasarkan historis kawasan yang mengalami perambahan hutan, aksesibilitas, dan tingkat interaksi masyarakat dengan kawasan.

(4)

tersedia untuk mendukung perlindungan CAGP. Keterbatasan dana menjadi kendala utama pengadaan prasarana yang memadai.

Jenis kegiatan perlindungan yang pernah dilakukan meliputi: patroli (operasi pengamanan), penegakan hukum, pemeliharaan batas, rehabilitasi lahan, pembinaan daerah penyangga, pelayanan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi), dan tersedianya papan peringatan.

III.2 Pemanfaatan Sumber Daya di Dalam dan Sekitar CAGP

Interaksi antara masyarakat dengan kawasan di dalam dan sekitar CAGP berupa pemanfaatan sumber daya hutan seperti kayu, air, dan satwa serta pemanfaatan sumber daya lahan untuk pertanian (Tabel III.1). Tidak semua responden dalam penelitian ini berinteraksi secara langsung dengan kawasan CAGP. Sebanyak 11,1% responden di Desa Sirnajaya dan 23,8% responden di Desa Neglawangi tidak melakukan kegiatan di kawasan CAGP. Lain halnya dengan responden di dua desa sebelumnya, semua responden di Desa Cihawuk memanfaatkan sumber daya di kawasan CAGP.

Tabel III.1 Jenis Kegiatan Pemanfaatan Sumber Daya dan Intensitasnya di Dalam dan Sekitar Kawasan CAGP

Desa 1 2 Jenis Kegiatan dan Intensitasnya 3 4 5 6 7 8 9

Sirnajaya *** ** * ** * - - - ***

Neglawangi *** ** ** - - * - - ***

Cihawuk *** * - ** - *** * * ***

Keterangan:

1. Memanfaatkan sumber air 6. Mengumpulkan kayu bakar Intensitas kegiatan: 2. Berburu satwa 7. Mengumpulkan jamur * Jarang 3. Melintasi CAGP 8. Mengumpulkan pakan ternak ** Agak sering 4. Rekreasi 9. Bertani di sekitar CAGP *** Terus-menerus 5. Mengumpulkan madu

Kegiatan pemanfaatan tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang menunjukkan bahwa masyarakat setempat bergantung pada sumber daya kawasan CAGP. Seluruh jenis kegiatan pemanfaatan tersebut (kecuali bertani di sekitar CAGP) tidak memberikan pendapatan tambahan bagi penduduk setempat, sebab pemanfaatannya hanya untuk konsumsi sendiri dan tidak untuk dijual. Meskipun demikian kegiatan tersebut berpotensi mengancam kelestarian cagar dan tidak sesuai dengan peruntukkan kawasan cagar alam yang hanya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan,

ilmu pendidikan dan penelitian, serta kegiatan penunjang budidaya.

Pemanfaatan sumber air yang berada di dalam kawasan CAGP untuk kegiatan pertanian disebabkan keterbatasan sumber air di luar kawasan. Kegiatan tersebut terutama dilakukan pada musim kemarau hampir oleh seluruh penduduk yang bertani di sekitar CAGP. Meskipun terdapat sumber air di luar kawasan CAGP, namun debit airnya tidak mencukupi untuk kegiatan pertanian bagi seluruh petani.

(5)

yang diburu antara lain babi hutan (Sus scrofa) yang dianggap sebagai hama pertanian, kijang (Muntiacus muntjak), dan burung jenis kepudang dan walik. Penduduk yang melakukan perburuan beralasan tindakan mereka dilakukan sekedar untuk menghilangkan kejenuhan dan bukan merupakan pekerjaan sampingan maupun hobi.

Pengambilan kayu bakar di dalam kawasan CAGP lebih banyak dilakukan oleh penduduk di Desa Cihawuk dibandingkan dengan dua desa penelitian lainnya. Intensitas pengambilannya tiap satu minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Rata-rata responden mengambil kayu bakar sebanyak satu pikulan yang berisi dua karung kayu bakar dengan berat total mencapai 40 kg. Pengambilan kayu dengan memungut ranting yang telah jatuh atau dengan menebang pohon. Jenis kayu yang biasa dimanfaatkan sebagai kayu bakar adalah kaliandra

(Calliandra callothyrsus), mara bereum (Macaranga tanarisus (L.) M.A.), rasamala (Altingia exelsa Norona), dan suren (Toona sureni Merr.).

Dilakukan analisis kebutuhan kayu bakar dan produksinya yang bertujuan untuk mengetahui alasan penduduk dalam melakukan kegiatan pengambilan kayu bakar ditinjau dari aspek penggunaan lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat surplus produksi kayu bakar di Desa Sirnajaya dan Neglawangi, sementara di Desa Cihawuk terjadi kekurangan produksi kayu bakar sebesar 1557,6 m3/tahun (Tabel III.2). Hal tersebut dapat menjelaskan alasan kegiatan pengumpulan kayu bakar di dalam cagar yang dilakukan oleh penduduk Desa Cihawuk dengan intensitas tinggi, sebab terdapat kekurangan produksi kayu bakar yang hanya dapat dipenuhi dari cagar alam.

Tabel III.2 Analisis Kebutuhan dan Produksi Kayu Bakar di Desa Penelitian Kategori Satuan Sirnajaya Neglawangi Cihawuk Kebutuhan kayu

bakar 1 m3/kapita/tahun 2149,2 2829 2994 Produksi kayu

bakar 2 m3/tahun 2920,754 4341 1436,4 Kekurangan/

surplus produksi

kayu bakar3 m

3/tahun Surplus

771,554 Surplus 1512 Kekurangan 1557,6 Keterangan 1 : 0,6 (asumsi konsumsi kayu bakar) x jumlah penduduk

2 : perkiraan produksi kayu bakar tiap tipe tutupan lahan x luas penggunaan lahan 3 : produksi kayu bakar – kebutuhan kayu bakar

Melintasi kawasan dilakukan untuk menuju ke Bandung atau Garut. Terdapat dua rute jalan yang membelah kawasan CAGP dan biasa dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu rute Bandung – Kampung Papandayan – Tibet – Kawah – Kecamatan Cisurupan – Garut dan rute Bandung – Cihawuk – Puncak Cae – Darajat – Garut. Kondisi ini menyebabkan

adanya fragmentasi habitat dan memudahkan akses masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam CAGP.

(6)

diperoleh mencapai dua sampai dengan dua setengah liter dalam sehari.

Berbeda dengan mengumpulkan madu, kegiatan mengumpulkan jamur dilakukan pada saat musim penghujan, dimana banyak terdapat jamur yang dapat dikonsumsi, seperti jamur kuping (Auricularia auricula) dan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus).

Kegiatan untuk tujuan rekreasi biasanya tidak dilakukan terpisah melainkan bersama-sama dengan kegiatan berburu satwa, mengumpulkan madu, dan mencari jamur. Rekreasi dalam pengertian kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas sehari-hari. Kegiatan tersebut dilakukan dengan berjalan kaki dan dengan suatu tujuan yang tidak terlalu jauh dari tepi hutan.

Mengumpulkan rumput sebagai pakan ternak lebih banyak dilakukan oleh penduduk Desa Cihawuk, dimana sebagian masyarakatnya memiliki hewan ternak berupa kambing dan sapi perah. Pengambilan rumput dilakukan tiap hari sebanyak satu pikulan yang terdiri dari dua karung seberat 30 kg.

Pada umumnya masyarakat tidak hanya melakukan kegiatan di dalam CAGP namun juga sekaligus melakukan kegiatan di sekitar CAGP. Sebagian besar penduduk di ketiga desa penelitian melakukan kegiatan di

sekitar kawasan CAGP dalam bentuk bercocok tanam sayuran pada lahan milik Perhutani dan PTPN VIII yang letaknya berdampingan dengan CAGP. Komoditas yang ditanam merupakan jenis sayuran khas dataran tinggi, seperti kubis, kentang, wortel, tomat, dan daun bawang.

Kegiatan bertani dilakukan di sekitar kawasan CAGP sebab terdapat keterbatasan kepemilikan lahan di desa. Kebanyakan responden memiliki lahan garapan dengan luasan kurang dari 0,5 ha dan sebanyak 16,4% dari total responden tidak memiliki lahan garapan dan hanya menggantungkan penghasilan dengan menjadi buruh tani. Banyaknya jumlah penduduk yang tidak memiliki lahan garapan atau memiliki namun kurang dari 0,5 ha menunjukkan adanya kekurangan lahan di tiap desa penelitian.

Kekurangan lahan pertanian juga dapat dilihat dari rasio luas lahan dibandingkan dengan jumlah petani di desa setempat (Tabel III.3). Di Desa Sirnajaya dan Cihawuk rasio luas lahan pertanian dengan jumlah petani berturut-turut sebesar 0,13 dan 0,20. Sementara di Desa Neglawangi yang seluruh kawasan merupakan milik PTPN VIII, tidak ada areal yang diperuntukkan bagi lahan pertanian sehingga rasio menunjukkan angka 0.

Tabel III.3 Rasio Luas Lahan dengan Jumlah Petani (Anonim, 2004, 2005a, 2005b dan hasil analisis)

Desa Luas Desa (ha)

Luas Lahan Pertanian*

(ha)

Persentase Luas Lahan

Pertanian (%)

Jumlah Petani** (orang)

Rasio Luas Lahan/Petani

(ha/orang)

Sirnajaya 480 449,648 93,7 3577 0,13

Neglawangi 2413,58 - - 385 -

(7)

Keterangan: * : sawah, ladang, dan kebun

** : petani pemilik, petani penyewa lahan, dan buruh tani

Eksplorasi Panas Bumi

Selain berbagai jenis kegiatan pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat, terdapat pula jenis pemanfaatan yang dilakukan oleh pihak swasta yaitu Chevron Texaco Energy Indonesia Ltd. (CTEI) di kawasan CAGP dalam bentuk eksplorasi panas bumi untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. Kapasitas produksinya mencapai 300 MW dan menjadi sumber pasokan listrik untuk Jawa dan Bali. Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan surat persetujuan Dirjen PHPA No.520/Menhut/V/36 tanggal 22 Oktober 1986 melalui mekanisme pinjam pakai kawasan. Luas total kawasan yang dimanfaatkan untuk kegiatan eksplorasi seluas 41 ha dan terletak di Blok Darajat, dimana 26 ha terletak di CAGP dan 15 ha di kawasan hutan lindung (BKSDA Jabar II, 2005).

III.3 Permasalahan Perlindungan CAGP

Permasalahan pengelolaan perlindungan di CAGP menunjukkan ketidakmampuan otoritas CAGP dalam mengelola kawasannya sehingga muncul berbagai gangguan dan ancaman dengan tingkat yang rendah sampai tinggi dan diindikasikan oleh adanya kegiatan perambahan hutan di kawasan tersebut. Permasalahan perlindungan di CAGP mencakup permasalahan keanekaragaman hayati, pemantapan kawasan, pemanfaatan kawasan dan jasa lingkungan, serta organisasi.

Keanekaragaman Hayati

Permasalahan keanekaragaman hayati di CAGP merupakan dampak ekologis dari kegiatan perambahan hutan yang terjadi pada tahun 1996 sampai dengan 2003 dengan luas mencapai 340,38 ha.

Meskipun sudah dilakukan rehabilitasi di kawasan bekas perambahan hutan, namun tidak dapat memulihkan keanekaragaman hayati yang telah hilang sebab kawasan hutan hujan tropis memiliki daya lenting (resilience) yang sangat rendah (Richards, 1998). Sehingga terjadi gangguan maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat pulih atau tidak dapat pulih sama sekali karena hara tanah dan siklus air tidak mampu lagi mendukungnya.

Pemantapan Kawasan

Pemantapan kawasan CAGP masih mengalami banyak kendala yang berasal dari geografis kawasan yang terletak di dua kabupaten (Bandung dan Garut) dengan akses yang tinggi. Hal tersebut tidak didukung oleh tata guna lahan di sekitar CAGP yang belum berfungsi sebagai derah penyangga. Selain itu batas kawasan CAGP dengan areal lahan di sekelilingnya tidak dipelihara dengan baik sehingga rawan akan terjadinya tumpang tindih kawasan dan pemanfaatan lahan di dalam kawasan CAGP.

Pemanfaatan Kawasan dan Jasa Lingkungan

Pemanfaatan sumber daya di dalam kawasan dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar CAGP. Kedekatan CAGP dengan desa secara tidak langsung juga menimbulkan ketergantungan penduduk terhadap kawasan yang dapat dilihat dari adanya berbagai kegiatan pemanfaatan sumber daya dengan tingkat intensitas yang berbeda di tiga desa penelitian.

(8)

Ruang kelola dari Seksi Konservasi Wilayah II Garut terlalu luas sebab terdiri dari tiga kawasan cagar alam dan tiga buah TWA serta tidak ditunjang oleh sumber daya manusia dan peralatan penunjang kegiatan perlindungan. Keterbatasan sumber daya manusia pengelola terlihat dari jumlahnya yang tidak disesuaikan dengan tingkat kerawanan kawasan, kurangnya pendidikan dan pelatihan, serta motivasi. Selain itu juga terdapat keterbatasan jumlah sarana dan ketiadaan prasarana penunjang perlindungan yang juga menjadi alasan kurang efektifnya pelaksanaan perlindungan di CAGP.

Berdasarkan uraian di atas mengenai permasalahan perlindungan di CAGP maka dapat ditarik akar permasalahan perlindungan di CAGP yaitu ketidakmampuan BKSDA Jabar II dalam mengelola kawasan CAGP sesuai dengan statusnya sebagai kawasan suaka alam yang memerlukan perlindungan penuh di dalam dan di luar kawasan. Perlindungan di luar kawasan tidak dapat dilaksanakan sebab pihak pengelola yang tidak mempunyai kontrol terhadap penggunaan lahan (land use) di luar kawasan CAGP tidak menjalin kerja sama dan komunikasi dengan otoritas kawasan yang berbatasan dengan CAGP dan dengan masyarakat setempat.

III.4 Solusi Permasalahan Perlindungan CAGP

Solusi dari permasalahan di atas dirancang dengan tetap mempertahankan status kawasan sebagai cagar alam meskipun terdapat kemungkinan untuk mengubah status kawasan menjadi taman nasional atau cagar biosfer yang memungkinkan adanya pemanfaatan sumber daya di

dalam kawasan. Mempertahankan status sebagai cagar alam dianggap penting sebab keberadaan cagar alam sebagai benteng pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati yang semakin terancam akibat peningkatan populasi manusia.

Solusi dari seluruh permasalahan pengelolaan perlindungan di CAGP adalah dengan mengintegrasikan fungsi konservasi dengan tata guna lahan di sekitarnya. Usaha tersebut dilakukan sebab perlindungan bagi kawasan konservasi tidak akan berhasil tanpa turut melindungi kawasan lain yang berbatasan dengannya. Pengintegrasian fungsi konservasi dengan tata guna lahan di sekitar CAGP memerlukan pendekatan yang mencakup aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan perlindungan untuk dapat mencapai tujuan penetapan kawasan sebagai cagar alam.

Aspek Ekologi

Pencapaian usaha mengintegrasikan fungsi konservasi dengan tata guna lahan di sekitarnya melalui pendekatan ekologi mencakup upaya konservasi tanah dan menstabilkan fungsi hidrologi. Kedua pendekatan tersebut secara umum bertujuan untuk melindungi daerah di sekitar CAGP dan sekaligus mengembangkan manfaatnya bagi masyarakat.

(9)

dilakukan usaha konservasi tanah untuk mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan aliran permukaan, memperbaiki tanah yang kritis, mendukung kapasitas cagar, memelihara produktivitas tanah, dan mencegah terjadinya banjir serta longsor.

Usaha konservasi tanah untuk lahan pertanian yang berada di sekitar CAGP dapat diterapkan melalui Sistem Usaha Tani Konservasi (SUK). Prinsip SUK adalah pengendalian erosi tanah dan konservasi air secara efektif, serta peningkatan produktivitas tanah dan stabilitas lereng. Komponen teknologi SUK meliputi pengendalian erosi tanah, penataan aliran air permukaan, introduksi ternak dan hijauan pakan, serta penggunaan tanaman tahunan penguat teras (Abas, et al., 2003). Usaha konservasi tanah melalui penerapan SUK pada lahan pertanian di sekitar CAGP diharapkan dapat memperbaiki sistem pertanian menjadi pertanian berkelanjutan yang turut mendukung usaha pelestarian cagar alam.

Menstabilkan fungsi hidrologi bertujuan untuk meningkatkan fungsi CAGP bagi masyarakat secara luas. Sebagai hulu dari dua sungai besar yang ada di Jawa Barat yaitu Sungai Citarum dan Cimanuk, CAGP memiliki kepentingan pelestarian yang sangat tinggi. Kerusakan hutan di kawasan hulu akan berdampak terhadap penurunan debit air dan penurunan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Oleh karena itu diperlukan perlindungan bagi kawasan tangkapan air (hutan kawasan CAGP) dan penghijauan di sepanjang bantaran sungai.

Aspek Ekonomi

Di bidang ekonomi, usaha untuk mengintegrasikan fungsi konservasi dengan tata guna lahan di sekitarnya

dilakukan dengan cara

mengembangkan daerah di sekitar CAGP agar dapat berfungsi sebagai penyangga hutan yang bertujuan untuk mengurangi interaksi masyarakat terhadap CAGP. Diharapkan masyarakat tidak perlu lagi mengakses sumber daya di dalam cagar sebab sumber daya yang dibutuhkan telah tersedia di kawasan penyangga. Selain sebagai penyangga hutan, daerah penyangga juga berfungsi sebagai penyangga ekonomi masyarakat.

Pengembangan daerah di sekeliling CAGP disesuaikan dengan pemanfaatan sumber daya di tiap desa. Kegiatan mengumpulkan jamur dan madu yang selama ini dilakukan di dalam kawasan CAGP dikembangkan untuk dapat dibudidayakan di luar kawasan CAGP yaitu lahan yang dikelola oleh Perum Perhutani dan PTPN VIII. Pengembangan fungsi kawasan di sektar CAGP selain sebagai hutan produksi dan perkebunan teh namun juga dapat berfungsi untuk meningkatkan kesempatan berusaha bagi masyarakat setempat memerlukan koordinasi dan kerja sama yang baik dengan otoritas kawasan.

Aspek Sosial Budaya

(10)

kekurangan produksi kayu bakar (lihat Tabel III.2). Luas area untuk hutan tanaman kayu bakar disesuaikan dengan kekurangan produksi kayu bakar sebanyak 1557,6 m3/tahun. Sehingga diperlukan lahan seluas 89 ha yang diperuntukkan sebagai hutan tanaman kayu bakar (perkiraan produksi kayu bakar untuk hutan tanaman kayu bakar sebesar 17,5 m3/ha/tahun).

Jenis tanaman yang dikembangkan sebagai kayu bakar adalah kaliandra (Calliandra calothyrsus) sebab kaliandra memiliki perumbuhan yang cepat dan kayunya cukup padat serta kering sehingga sesuai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kayu bakar. Kondisi optimal untuk perumbuhan kaliandra adalah lokasi dengan ketinggian antara 200-1800 mdpl, memiliki rata-rata suhu minimum tahunan 18-22oC, dan curah hujan 1000-4000 mm/tahun (Roshetko, 2000). Hal tersebut sesuai dengan kondisi fisik daerah penelitian dimana ketinggian di tiga desa berkisar 1300-1780 mdpl, suhu udara mencapai 10-26oC, dan curah hujan 2500-3000 mm/tahun.

Selain dapat sebagai sumber kayu bakar, kaliandra juga merupakan sumber pakan ternak, pelindung tanah, sumber pakan untuk lebah madu, serta dapat digunakan untuk kepentingan reklamasi dan rehabilitasi lahan (Roshetko, 2000). Banyaknya fungsi dari kaliandra menyebabakan tanaman tersebut sesuai dikembangkan di kawasan seitar CAGP karena dapat menyediakan beragam manfaat bagi penduduk dan lingkungan.

Selain itu diperlukan kerja sama dengan otoritas kawasan yang berbatasan dengan CAGP diperlukan agar

masyarakat dapat menanam hijauan ternak di bawah tegakan hutan produksi sehingga mereka tidak perlu mengakses sumberdaya di CAGP. Tanaman hijauan untuk ternak dapat berupa rumput maupun tanaman leguminosa. Pola pengelolaan dapat menggunakan sistem PHBM, seperti yang telah berjalan di kawasan hutan BKPH Pangalengan yang menerapkan pemanfaatan kawasan hutan dengan penanaman rumput gajah dengan produktivitas rata-rata 12 ton/ha/bulan (Perum Perhutani, 2006). Rumput selain berfungsi sebagai sumber pakan ternak juga merupakan pelindung tanah yang baik.

Fasilitas untuk akses pendidikan, kesehatan, pamasaran hasil pertanian, dan berbagai bantuan perlu ditingkatkan mengingat keberadaannya di tiap desa sangat terbatas. Jenis bantuan yang dibutuhkan berupa pengadaan sapi perah, bibit tanaman kaliandra, rumah jamur, serta pelatihan, bimbingan, dan pendampingan dalam melakukan budidaya lebah madu dan jamur. Fasilitas pendidikan untuk sekolah lanjutan dan penempatan bidan desa juga sangat diperlukan di ketiga desa penelitian. Fasilitas tersebut sebagai insentif atas pembatasan kegiatan pemanfaatan yang dilakukan di kawasan CAGP, sehingga penduduk dapat memperoleh manfaat tidak langsung dari keberadaan cagar alam.

(11)

perolehan keuntungan kegiatan budidaya.

Hubungan kerja sama antara pengelola CAGP, otoritas kawasan yang berbatasan dengan CAGP, dan masyarakat setempat dikembangkan melalui pendekatan kolaboratif. Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa dukungan masyarakat merupakan hal penting agar usaha konservasi dapat berkelanjutan dengan cara memfasilitasi perbedaan kepentingan diantara pihak pengelola dan masyarakat melalui pembagian peran dan tanggung jawab untuk tiap stakeholder (Polet, 2003). Pendekatan ini merupakan pengembangan dari pola kemitraan dan konsep partisipasi dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dilandasi oleh pembagian wewenang dan tanggung jawab diantara stakeholder (Carter dan Gronow, 2005; Borrini-Feyerabend, 1996). Dalam penelitian ini upaya kolaboratif dilakukan pada lingkup kawasan yang mengelilingi CAGP.

Penyuluhan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi mengingat selama ini masyarakat menganggap kawasan CAGP sebagai sumber kehidupan yang menyediakan berbagai kebutuhan pemenuhan hidup. Melalui penyuluhan yang dilakukan oleh pihak pengelola CAGP maupun oleh tokoh masyarakat setempat diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat mengenai CAGP menjadi sumber kehidupan yang harus dilestariakan agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Informasi yang disampaikan dalam penyuluhan berupa keuntungan yang diperoleh dari kelestarian kawasan, tujuan penetapan kawasan, tata batas kawasan, peran masyarakat dalam ikut

menjaga CAGP, dan sebagainya. Selain itu kegiatan penyuluhan juga sebagai upaya untuk menciptakan komunikasi dan menciptakan dukungan bagi CAGP. Berdasarkan pengamatan di desa penelitian, kegiatan penyuluhan lebih efektif bila dilaksanakan secara informal. Kegiatan yang bersifat formal seringkali dianggap oleh masyarakat sebagai paksaan sehingga mereka enggan menghadirinya.

Aspek Perlindungan

Kegiatan perlindungan di dalam kawasan ditekankan pada upaya pengawasan terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan, memelihara batas kawasan, mengunjungi desa di sekitar CAGP, dan pencatatan informasi hayati melalui upaya memantau perubahan yang terjadi di dalam cagar, mengumpulkan data mengenai ketersediaan air, musim berbunga dan berbuah, jumlah populasi spesies tertentu, serta perkembangbiakan satwa. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan sebagai rangkaian kegiatan dari pelaksanaan patroli rutin yang dilakukan oleh polhut.

Intensitas kegiatan perlindungan di tiap kawasan disesuaikan dengan tingkat kerawanan kawasan yang ditentukan berdasarkan kriteria kedekatan desa dengan CAGP, sejarah perambahan hutan, serta rasio luas lahan dan jumlah petani (Tabel III.4). Dari analisis diperoleh hasil bahwa ketiga desa memiliki tingkat kerawanan yang sama yaitu sedang namun dengan ancaman yang berbeda.

(12)

sumber daya manusia dan peralatan yang memadai. Intensitas kegiatan patroli di ketiga desa penelitian perlu

ditingkatkan menjadi dua kali dalam satu minggu.

Tabel III.4 Tingkat Kerawanaan Kawasan di Desa Penelitian

Desa Sirnajaya Neglawangi Cihawuk

Kedekatan

dengan CAGP 1 km dan dibatasi oleh hutan produksi

2 km dan dibatasi oleh hutan produksi serta perkebunan teh

< 1 km dan

dibatasi oleh hutan produksi

Sejarah perambahan hutan

25,94 ha yang tersebar di tiga lokasi

57,29 ha yang tersebar di tujuh lokasi

22,27 ha yang tersebar di dua lokasi

Rasio luas lahan dengan jumlah

petani 0,13 - 0,20

Tingkat kerawanaan

kawasan1 ** ** **

Keterangan 1= * : rendah

** : sedang *** : tinggi

III.5 Usulan Model Pengelolaan Perlindungan di CAGP

Usulan model pengelolaan disusun berdasarkan solusi dari permasalahan perlindungan di CAGP. Tujuan dari penyusunan model pengelolaan adalah untuk merencanakan perlindungan di kawasan cagar alam agar tercapai fungsi pokok kawasan. Proses perencanaan strategis terdiri dari tiga tahap, yaitu formulasi strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi (Gambar III.2). Formulasi strategi meliputi kegiatan mengembangkan visi dan misi, penilaian faktor internal dan eksternal, menetapakan tujuan jangka panjang, serta merumuskan alternatif strategi.

IV. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1. Akar permasalahan pengelolaan

perlindungan di CAGP berasal dari ketidakmampuan pengelola dalam menjaga keutuhan kawasannya dan

melindungi kawasan yang berbatasan dengan CAGP.

2. Permasalahan perlindungan di CAGP terdiri dari empat aspek, yaitu (1) keanekaragaman hayati berupa perambahan hutan; (2) pemantapan kawasan berupa permasalahan tata batas dan tidak adanya daerah penyangga; (3) pemanfaatan sumber daya di dalam kawasan; dan (4) keadaan organisasi yang tidak ditunjang sumber daya manusia dan peralatan yang memadai.

3. Solusi dari permasalahan perlindungan di CAGP adalah pengintegrasian fungsi kawasan terhadap tata guna lahan di sekitarnya yang mencakup aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan perlindungan.

Daftar Pustaka

1. Abas, A., Soelaeman, Y.,

(13)

usaha tani konservasi terhadap tingkat produktivitas lahan perbukitan Yogyakarta, Jurnal Litbang Pertanian, 22 (2), 49-56. 2. Anonim. (2004), Profil Desa

Neglawangi Tahun 2004,

Pemerintah Desa Neglawangi, 1-17. 3. Anonim. (2005a), Profil Desa

Sirnajaya Tahun 2005, Pemerintah Desa Sirnajaya, 1-17.

4. Anonim. (2005b), Profil Desa Cihawuk Tahun 2005, Pemerintah Desa Cihawuk, 1-17.

5. Borrini-Feyerabend, G. (1996), Collaborative Management of Protected Areas: Tailoring the Approach to the Context, Issues in Social Policy, IUCN, Switzerland, 2-9.

http://iucn.org/themes/spg/Tailor/Ta ilor.html

6. BKSDA Jabar II. (2005), Rencana Pengelolaan Cagar Alam Gunung Papandayan 2005-2030, Buku III: Rencana Pengelolaan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam II Jawa Barat, I.1-V.21.

7. Carter, J., Gronow, J. (2005), Recent Experience in Collaborative Forest Management; A Review Paper, Center for International Forestry Research, Bogor, 1-17. 8. Departemen Kehutanan. (2005),

Pengelolaan Kolaboratif,

Departemen Kehutanan Republik Indonesia, 4-18.

9. IUCN. (1994), Gudelines for Protected Area Management Categories, Gland, Switzerland.

http://www.iucn.org/themes/wcpa/p ubs/parks.htm#143

10.Mierauskas, P. (2004), An evaluation of the strict nature reserve management in Lithuania

and their correspondence to international requirements, Environmental Research, Engineering, and Management, 3(29), 62-70.

http://www.apini.lt/LT/Zurnals/Stra ipsniai/29/08_P.Mierauskas.pdf

11.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

12.Perum Perhutani. (2006),

Pengelolaan Sumber Daya Hutan KPH Bandung Selatan, Perum Perhutani, 13-17.

13.Primack, R., Supriatna, J., Indrawan, M., Kramadibrata, P. (1998), Biologi Konservasi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 265-308.

14.Richards, P.W. (1998), The

Tropical Rain Forest an Ecological Study, Cambridge University Press, 7-22.

15.Roshetko, J.M. (2000), Calliandra calothyrsus di Indonesia, dalam Lokakarya Produksi Benih dan Pemanfaatan Kaliandra, ICRAF/Winrock, Bogor, 27-30. 16.Saparjadi, K. (1998), Kerjasama

kemitraan dalam mendukung pengelolaan kawasan pelestarian alam dan kawasan suaka alam, dalam Proceeding and Background Paper Pengembangan Kerjasama Kemitraan dalam Mendukung Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam dan Kawasan Suaka Alam, Ditjen PHPA Dephutbun, Jakarta, II.1-II.10.

http://www.nrm.bappenas.go.id/Do c/Rpt_Tech/%2310_Pengembanga

n%20Kerjasama%20Kemitraan.p

(14)

17.Sitorus, T. (2006), Pola

Perlindungan Hutan yang Mantap pada Tingkat Hulu.

http://www.fkkm.org

18.Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.

19.Yunus, L. (2005), Simbiosis mutualisme: masyarakat dan kawasan cagar alam, dalam Prosiding Seminar Nasional

Membangun Teluk Bintuni Berbasis Sumberdaya Alam, Jakarta, Sihite, J., Lense, O., Gustiar, C., Suratri, R., Kosamah, K, Editor, 75-85.

(15)

Gambar

Tabel III.1 Jenis Kegiatan Pemanfaatan Sumber Daya dan Intensitasnya di Dalam dan Sekitar Kawasan CAGP
Tabel III.3 Rasio Luas Lahan dengan Jumlah Petani ab
Gambar III.2 Usulan model pengelolaan perlindungan di CAGP

Referensi

Dokumen terkait

Sterilisasi panas lembab adalah sterilisasi dengan menggunakan uap panas dibawah tekanan yang berlangsung di dalam autoklaf, umumnya dilakukan dalam uap jenuh

Ho : Pelatihan ,motivasi dan kompensasi tidak mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja karyawan. Ha : Pelatihan ,motivasi dan kompensasi mempunyai pengaruh yang

​ Results: ​ The study found that there was no correlation between toluene exposure in the air with the incidence of peripheral neuropathy in offset printing workers

Motivasi pada karyawan KPRI “Perta- guma” Kota Madiun adalah baik. Hal ini juga dapat terlihat pada keadaan di koperasi me- ngenai motivasi yang timbul dari dalam diri individu

31.Seorang wanita berusia 33 tahun datang ke praktek dokter membawa hasil pap smear yang telah dilakukan sebelumnya untuk didiskusikan dengan dokter.. Dari hasil pap smear

Berdasarkan sajian data hasil wawancara dengan kepala sekolah, konselor dan guru kelas, dapat disimpulkan untuk penanganan yang telah diberikan oleh konselor untuk

Yang bertanda tangan dibawah ini saya, Niken Alyani, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : Pengaruh Pelatihan Dan Lingkungan Kerja Terhadap Loyalitas Karyawan

The exposure coefficient shows that there are two sources of economic exposure: the the variance of the exchange rate and the covariance between the dollar value of the asset