LAPORAN PENDAHULUAN LUKA BAKAR
Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Profesi Ners
Departemen Surgicaldi Ruang 16 RSSA
Disusun Oleh:
Siti Ulfa Maulida
170070301111100
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
HALAMAN PENGESAHAN
LUKA BAKAR
RUANG 16 RSUD dr SAIFUL ANWAR MALANG
Untuk memenuhi tugas Profesi Ners Departemen Surgikal Ruang 16 RSSA Malang
Oleh :
SITI ULFA MAULIDA
NIM. 170070301111100
Telah diperiksa dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan
LAPORAN PENDAHULUAN
1.1. ANATOMI FISIOLOGI KULIT
Kulit terbagi atas 3 lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis, dan jaringan subkutan/hipodermis.
A. Epidermis
Lapisan epidermis terdiri dari:
1. Lapisan basal atau stratum germinatium disebut juga stratum basal karena sel-selnya terletak di bagian basal stratum germinatium. Menggantikan sel-sel yang diatasnya dan merupakan sel-sel yang induk. Bentuknya silindris (tabung) dengan inti yang lonjong, di dalamnya terdapat butir-butir yang disebut melanin. Warna sel tersebut tersusun seperti pagar (palisade) dibagian bawah sel tersebut terdapat suatu membrane yang disebut membrane basalis. Sel-sel basalis dengan membran basalis merupakan batas terbawah dari epidermis dan dermis. 2. Lapisan malpigi atau stratum spinosum merupakan lapisan yang paling
tebal
3. Lapisan sianular atau stratum granulosum merupakan lapisan yang terdiri dari sel-sel pipih seperti kumparan
4. Lapisan tanduk atau stratum korneum
Fungsinya mengatur suhu tubuh menyebabkan panas di lepaskan dengan cara penguapan kelenjar ekrin terdapat di semua daerah kulit, tidak terdapat pada selaput lendir. Kelenjar sebasea terdapat pada seluruh tubuh kecuali di telapak tangan, kuku dan punggung kuku.
Pada telapak kaki dan tangan terdapat lapisan tambahan di atas lapisan granular yaitu stratum lusidium atau lapisan jernih. Rambut terdapat diseluruh tubuh, rambut tubuh dari folikel rambut di dalamnya epidermis. Kuku merupakan lempeng yang terbuat dari sel tanduk yang menutupi bagian dorsal dari tangan dan kaki.
B. Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua kulit batas dengan epidermis dilapisi oleh membrane basalis dan di sebelah bawah berbatasan dengan subkutis tetapi batas ini tidak jelas hingga kita ambil patokannya adalah mulai terdapatnya sel lemak.
C.
Subkutis/
Hipodermis
Menurut Desizulfa (2013) system integument memiliki beberapa fungsi, yaitu: a. Fungsi kulit
Menutup dan melindungi organ di bawahnya
Melindungi tubuh dan masuknya mikroba/benda asing
Ekskresi melalui respirasi/berkeringat
Tempat penimbunan lemak
Pengatursuhu tubuh
b. Sensori persepsi mengandung reseptor terhadap panas, dingin, nyeri, sentuhan dan tekanan
c. Proses berkeringat
Panas merangsang hipotalamus anterior (area pre optic) untuk dipindahkan melalui 5 anak otonom ke medulla spinalis dan melalui saraf simpatis ke kulit seluruh tubuh. Saraf simpatis merangsang kelenjar keringat untuk produksi keringat
d. Proses absorbsi
1.2. LUKA BAKAR A. DEFINISI
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi (Moenajat, 2001). Luka bakar merupakan luka yang unik diantara luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah bersar jaringan mati
yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang cukup lama.
B. ETIOLOGI
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energy dari sumber panas ke tubuh melalui kondusksi atau radiasi elektromagnetik, meliputi: Etiologi luka bakar dapat dibagi menjadi Scald Burns, Flame Burns, Flash Burns, Contact Burns, Chemical Burns, Electrical Burns, Frost Bite (Jeschke, 2007).
a. Scald Burns
Luka karena uap panas, biasanya terjadi karena air panas, merupakan kebanyakan penyebab luka bakar pada masyarakat. Air pada suhu 60°C menyebabkan luka bakar parsial atau dalam dengan waktu hanya dalam 3 detik. Pada 69°C, luka bakar yang sama terjadi dalam 1 detik (Jeschke, 2007).
b. Flame Burns
bermotor dan kain terbakar oleh kompor atau pemanas ruangan juga bertanggung jawab terhadap luka terbakar (Jeschke, 2007).
c. Flash Burns
Flash burns adalah berikutnya yang paling sering. Ledakan gas alam, propan, butane, minyak destilasi, alkohol dan cairan mudah terbakar lain seperti aliran listrik menyebabkan panas untuk periode waktu. Flash burns memiliki distribusi di semua kulit yang terekspos dengan area paling dalam pada sisi yang terkena (Jeschke, 2007).
d. Contact Burns
Luka bakar kontak berasal dari kontak dengan logam panas, plastik, gelas atau bara panas. Kejadian ini terbatas. Balita yang menyentuh atau jatuh dengan tangan menyentuh setrika, oven dan bara kayu menyebabkan luka bakar yang dalam pada telapak tangan (Jeschke, 2007).
e. Chemical Burns
Luka bakar yang diakibatkan oleh iritasi zat kimia, apakah bersifat asam kuat atau basa kuat. Kejadian ini sering pada karyawan industri yang memakai bahan kimia sebagai bagian dari proses pengolahan atau produksinya. Penanganan yang salah dapat memperluas luka bakar yang terjadi. Irigasi dengan NS (NaCl 0.9%) atau akuabides atau cairan netral lainnya adalah pertolongan terbaik, tidak dengan cara menetralisirnya (Jeschke, 2007).
f. Electrical Burns
yang terjadi, mengingat perlu banyak pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya untuk mengevaluasi keadaan penderita. Gangguan jantung, ginjal, kerusakan otot sangat mungkin terjadi. Besarnya luka masuk atau luka keluar tidak berhubungan dengan kerusakan jaringan sepanjang aliran luka masuk sampai keluar. Maka dari itu setiap luka bakar listrik dikelompokan pada derajat III (Jeschke, 2007).
g. Frost Bite
Adalah luka akibat suhu yang terlalu dingin. Pembuluh darah perifer mengalami vasokonstriksi hebat, terutama di ujung-ujung jari, hidung dan telinga. Fase selanjutnya akan terjadi nekrosis dan kerusakan yang permanen. Untuk tindakan pertama adalah sesegera mungkin menghangatkan bagian tubuh tersebut dengan pemanas dan gerakan-gerakan untuk memperlancar sirkulasi (Jeschke, 2007).
C. KLASIFIKASI LUKA BAKAR 1. Menurut kedalamannya
a. Luka bakar derajat I
Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis
Tampak merah dan kering seperti luka bakar matahari
Tidak dijumpai bullae
Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari
b. Luka bakar derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.
Dijumpai bulae.
Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.
Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal.
- Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari. Derajat II dalam (deep)
- Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
- Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan. c. Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam.
Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
Tidak dijumpai bulae.
Kulit yang terbakar berwarna putih hingga merah, coklat atau hitam
Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.
Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian
2. Klasifikasi keparahan luka bakar menurut American Burn Association
N o
Derajat luka bakar Ringan/minor Sedang Mayor
1 Derajat 2 Dewasa Dewasa Dewasa
TBSA <15 TBSA 15-25 >25%
Anak Anak Anak
<10% 10-20% >20%
Rule Of Nine
Pembagian Zona Kerusakan Jaringan a. Zona koagulan
Terdiri dari jairngan yang mati membentuk sisa-sisa luka bakar yang berlokasi pada pusat luka bakar yang berhubungan langsung dengan sumber panas
b. Zona statis
Terdiri dari jaringan yang berbatasan dengan luka yang nekrosis dan masih tetap hidup tetapi ada risiko berupa defisiensi darahg yang terus menerus selama penurunan perfusi
c. Zona hiperemia
Terdiri dari kulit normal yang mengalami vasodilatasi dan mengisi aliran pembuluh darah akibat respon luka
D. PROSES PENYEMBUHAN LUKA 1. Fase inflamasi
Fase ini terjadi sejak terjadi luka sewaktu hari ke 5. Fase ini terjadi respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat luka/cedera pada jaringan yang bertujuan untuk menghentikan pendarahan, membersihan darah luka, benda asing, sel-sel mati dan bakteri. Pada fase ini terputusnya pembuluh darah akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha untuk menghentikannya (hemostatis) dimana dalam proses itu terjadi:
a. Kontruksi pembuluh darah (vasokontriksi)
b. Agregasi (pelengketan) platelet/trombosit dan pembentukan jala=jala fibrin
c. Aktivitas serangkaian reaksi pembuluh darah
Proses tersebut berlengsung beberapa menit dan kemudian diikuti dengan permeabilitas kapiler sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah, penyuburan sel radang disertai vasodilatasi (pelebrana pembuluh darah) selain itu juga terjadi rangsangan terhadap ujung saraf sensorik pada daerah luka sehingga pada fase ini ditemukan tanda-tanda inflamasi yaitu seperti kemerahan, teraba hangay, edema dan nyeri.
2. Fase proliferasi
fibroblas menghasilkan mukopolisakarida asam amino dan protein yang merupakan bahan dasar kolagen yang akan mempertemukan tepi luka. Fase ini dipengaruhi oleh substansi yang disebabkan growth factors. Pada fase ini terjadi proses:
1. Angiogenesis: proses pembentukan kapiler baru untuk menghantarkan nutrisi dan oksigen ke daerah luka. Angiogenesis di stimulasi oleh suatu growth factors (Tnf αβ)
2. Granulasi: pembentukan jaringan kemerahan yang mengandung kapiler pada dasar luka dan permukaan yang bersisi jaringan halus 3. Kontraksi: pada fase ini terpi-tepi luka akan tertarik ke arah tengah
luka yang disebabkan oleh kerja miofibrinoblas sehingga mengurangi luas luka, proses ini kemungkinan dimediasi oleh TGF α
E. FASE LUKA BAKAR 1. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik
2. Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
a. Proses inflamasi dan infeksi.
b. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.
3. Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
F. MANIFESTASI LUKA BAKAR
Manifestasi awal menurut Betz (2009) - Takikardia
- Tekanan darah menurun
- Ekdtremitas dingin dan perfusi buruk - Perubahan tingkat kesadaran
- Dehidrasi (penurunan turgor kulit, penurunanurine, lidah dan kulit kering) - Peningkatan frekuensi pernapasan
- Pucat (tidak terjadi pada luka bakar derajat II dan III) Menurut Grace (2007) menifestasi kronis adalah: 1. Umum :
- Nyeri
- Edema dan bula 2. Khusus:
- Inhalasi asap (gejala pada hidung/sputum, suara serak, luka bakar dalam mulut)
- Luka bakar pada mata/alis mata - Luka bakar sirkum tersiol
Kedalaman Jaringan
Nyeri Sekitar 5 hari
Ketebalan
Basah : pink atau merah, lepuh
Nyeri : hiperestetik
(derajat
Sedikit nyeri Tidak dapat beregenerasi pengeluaran darah yang banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya cedera, pada Ht (Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan Ht turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh panas terhadap pembuluh darah.
2) Leukosit: Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau inflamasi.
3) GDA (Gas Darah Arteri): Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi. Penurunan tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan karbon dioksida (PaCO2) mungkin terlihat pada retensi karbon monoksida.
mungkin menurun karena kehilangan cairan, hipertermi dapat terjadi saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis. 5) Natrium Urin: Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan
cairan, kurang dari 10 mEqAL menduga ketidakadekuatan cairan.
6) Alkali Fosfat: Peningkatan Alkali Fosfat sehubungan dengan perpindahan cairan interstisial atau gangguan pompa, natrium.
7) Glukosa Serum: Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon stress.
8) Albumin Serum: Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada edema cairan.
9) BUN atau Kreatinin: Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau fungsi ginjal, tetapi kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan. 10) Loop aliran volume: Memberikan pengkajian non-invasif terhadap efek
atau luasnya cedera.
11) EKG: Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau distritmia.
12) Fotografi luka bakar: Memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar.
H. PENATALAKSANAAN
Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma, karenanya harus dicek Airway, breathing dan circulation-nya terlebih dahulu.
1. Airway
Apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: terkurung dalam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang hitam.
2. Breathing
Eschar yang melingkari dada dapat menghambat pergerakan dada untuk bernapas, segera lakukan escharotomi. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax, dan fraktur costae.
3. Circulation
kebocoran plasma yang luas. Manajemen cairan pada pasien luka bakar, dapat diberikan dengan Formula Baxter.
Formula Baxter
a. Total cairan: 4cc x berat badan x luas luka bakar
b. Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama, sisanya dalam 16 jam berikutnya.
4. Obat - obatan:
a. Antibiotika: tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian.
b. Analgetik: Antalgin, aspirin, asam mefenamat, dan morfin.
Rehabilitasi Cairan Protokol pemberian cairan Formula Cairan 24 jam
pertama
Kristaloid 24 jam kedua
Koloid 24 jam ketiga
Baxter RL 4ml/kgBB/%LLB 20-60% estimate vol plasma
Memantau output urine 30ml/jam Evans Larutan NS
(ml/kg/%LLB, 200ml DSW dan koloid 1mg/ kg/%LLB)
50% vol cairan 24jam pertama x 200ml/DSW
50% vol cairan 24 jam pertama
Salter RL 2l/24jam + fresh frozen plasma
1 fresh frozen plasma
Broke RL = 1,5ml/kg/%LLB Koloid =
metrohealth RL + 50mEq sodiumbikarbonat 4ml/kg/%LLB
Rumus Kebutuhan Cairan A. DEWASA
RL
4 cc/24jam x kg BB x %LLB 24 jam pertama cairan dibagi:
a. 8 jam pertama diberikan 50% dari kebutuhan cairan /24 jam b. 16 jam kedua diberikan 50% dari kebutuhan cairan /24 jam
c. 18 jam setelah kejadian ditambah cairan koloid sejumlah 500ml pada luka bakar sedang, 1000ml pada luka bakar berat
24 jam kedua
a. Diberikan 50% dari kebutuhan cairan /24 jam
B. ANAK
2 cc x kg BB x % LLB + kebutuhan faal/24 jam Kebutuhan Faal:
< 1 tahun : BB x 100 ml 1-5 tahun : BB x 75 ml 5-15 tahun : BB x 50 ml RL : koloid = 17:3
Cara pemberian
24 jam pertama dibagi 2:
- 8 jam = ½ kebutuhan cairan/24 jam - 16 jam = ½ kebutuhan cairan/24 jam 24 jam kedua
Sesuai kebutuhan faal
I. PERAWATAN DI UNIT LUKA BAKAR a) Perawatan luka umum
1. Pembersihan luka, cuci dengan savlon NaCL 0.9% 1:3 + buang jaringan nekrotik
2. Topical dan tutup luka Tule
Silver sulfoidiazin
Tutup kasa tebal evaluasi 5-7 hari balutan kotor 3. Ganti balutan
5. Terapi obat-obatan: antibiotic, analgesic, antacid 6. Debridement
7. Balutan luka biosintetik dan sintetik bio-brone/sufratulle 8. Penalaksanaan nyeri
9. Dukungan nutrisi 10. Fisioterapi/mobilisasi 11. Perawatan rehabilitasi
J. KOMPLIKASI
1. Hipertrofi jaringan parut
Terbentuk hipertrofi jaringan parut dipengaruhi oleh: a. Kedalaman luka bakar
b. Sifat kulit c. Usia klien
d. Lamanya waktu penutupan
Jaringan parut terbentuk secara aktif pada 6 bulan post luka bakar dengan warna awal merah muda dan menimbulkan rasa gatal. Pembentukan jaringan parut terus berlangsung dan warna berubah merah, merah tua dan sampai coklat muda dan terasa lebih lembut.
2. Kontraktur
Kontraktur merupakan komplikasi yang sering menyertai luka bakar serta menimbulkan gangguan fungsi pergerakan. Beberapa hal yang dapat mecegah atau mengurangi terjadinya kontraktor antara lain: a. Pemberian posisi yang baik dan benar sejak dini
b. Latihan ROM baik pasif maupun aktif
c. Presure garmen yaitu pakaian yang dapat memberikan tekanan yang bertujuan menekan timbulnya hipertrofi scar
4. Multiple Organ Dysfunction Syndrome/ MODS) didefinisikan sebagai adanya fungsi organ yang berubah pada pasien yang sakit akut, sehingga homeostasis tidak dapat dipertahankan lagi tanpa intervensi. Disfungsi dalam MODS melibatkan >2 sistem organ
K. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen kimia / termal ditandai dengan melaporkan nyeri secara verbal
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit klien menunjukkan kriteria hasil sesuai dengan skala NOC
NOC: Pain Level
Indikator 1 2 3 4 5
Level nyeri ≥7 5-6 3-4 1-2 0
Ekspresi nyeri
TD Sistole >170 >161-170 151-160 140-150 <140 Diastole >120 110-120 100-109 90-99 <90
RR ≥ 32 29-32 25-28 21-24 12-20
NIC: Pain Management
1. Kaji klien secara komperehensif
2. Amati isyarat non verbal terkait keluhan nyeri 3. Monitor TTV terhadap nyeri
4. Ajarkan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri 5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti nyeri 2. Kerusakan integritas kulit b.d cidera termal ditandai dengan
kerusakan integritas kulit
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam integritas kulit klien dapat membaik
Kriteria hasil sesuai skala NOC
NOC: Burn Healing
Indikator 1 2 3 4 5
Prosentase luka bakar >70% 60-70% 41-59% 20-40% <20%
Tanda-tanda infeksi Ya Tidak
Edema luka bakar Ya Tidak
TD Sistole <105 105-109 110-114 115-119 ≤ 120
TD Diastole < 40 40-59 60-69 70-79 ≤ 80
RR ≥ 32 29-32 25-28 21-24 12-20
Nadi >130x/
mnt
121-130x/mnt
111-120x/mnt
101-110x/mnt
60-100x/ mnt
Suhu >39 34,4-39 38-38,3 37,6-37,9 36,5-37,5
NIC: Wound care burn 1. Rawat luka
2. Monitor TTV klien (nadi, suhu, tekanan darah, RR)
3. Monitor tanda dan gejala infeksi pada luka Berikan kenyamanan sebelum mengganti balutan
4. Berikan nutrisi dan intake cairan adekuat
5. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat topikal dan pemeriksaan penunjang
3. Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan defisiensi volume cairan ditandai dengan penggunaan serum elektrolit
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit kebutuhan cairan dan elektrolit klien terpenuhi
Kriteria Hasil : Sesuai Skala NOC
NOC: Electrolite Acid/bare balance
Indikator 1 2 3 4 5
Serum natrium <120 120-125 125-130 130-135 136-145 Serum kalium <2,3 2,3-2,6 2,6-3,0 3,1-3,4 3,5-5,5 Serum klorida <7,0 7,0 – 7,9 8,0 – 8,9 9,0 – 9,7 9,8 –
urine
NIC: Fluid Electrolyte
1. Monitor serum elektrolit pasien
2. Monitor tanda-tanda kekurangan cairan dan elektrolit 3. Monitor tanda dan gejala retensi cairan
4. Monitor TTV
5. Kolaborasi dengan tim medis mengenai koreksi Elektrolit
DAFTAR PUSTAKA
Broghers VL, 2003, Aplikasi dan patofisiologi: pemeriksaan dan manajemen ED 2. Jakarta : EGC
Grace et al, 2007. At giance ilmu bedah. Jakarta: Erlangga Mancon, m, 2003. Manajemen Luka, Jakarta : EGC
Sabistan D, 2000. Buku Ajar Bedah, Jakarta : EGC
Sam, 2011. Asuhan Keperawatan dengan Combustio, Jakarta: EGC
Stöppler, Melissa Conrad MD. Frost bite. http://www.emedicinehealth.com/frostbite/article_em.htm#Frostbite
Causes
Wahab, Abdul. 2011. Resusitasi Cairan Pasien Luka Bakar. PPT Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin: Makassar.