• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU POST AND PRE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU POST AND PRE"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENYAKIT HUTAN

PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU POST AND PRE

EMERGENCE DAMPING OFF PADA TANAMAN SENGON

(Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen

OLEH :

DWI HARYATI NINGSIH / 201210320311024

ISMAEL PAKOPA / 201210320311039

KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN PETERNAKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

I. Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen, juga dikenal dengan nama sengon, merupakan salah satu jenis pionir serbaguna yang sangat penting di Indonesia. Jenis ini dipilih sebagai salah jenis tanaman hutan tanaman industri di Indonesia karena pertumbuhannya yang sangat cepat, mampu beradaptasi pada berbagai jenis tanah, karakteristik silvikulturnya yang bagus dan kualitas kayunya dapat diterima untuk industri panel dan kayu pertukangan. Di beberapa lokasi di Indonesia, sengon berperan sangat penting baik dalam sistem pertanian tradisional maupun komersial.

Menurut laporan Departemen Kehutanan dan Badan Statistika Nasional (2004), propinsi dengan luas tanaman sengon rakyat terbesar adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat, dimana total jumlah pohon yang dibudidayakan di kedua provinsi ini dilaporkan lebih dari 60% dari total jumlah pohon sengon yang ditanam oleh masyarakat di Indonesia.

Penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan pada tanaman sehingga tanaman tersebut tidak dapat bereproduksi atau mati secara perlahan-lahan.Penyakit benih ini dapat menyebabkan kerusakan dalam bentuk perubahan warna, bentuk, nekrose, penurunan daya kecambah, dan mengurangi nilai biji (ben ih).Kehilangan hasil yangdisebabkan penyakit benih mencapai lebih dari 5 %, dan infeksinya dapat mencapai 50%. Penyebab utama kerusakan pada benih adalah jamur, bakteri, dan virus (patogen). Benihdapat diserang patogen sebelum biji (benih) berkecambah (pre emergence damping off),sedang apabila menyerang setelah muncul kecambah disebut post emergence damping off. Bentuk kerusakan karena serangan patogen sangat bervariasi, tergantung macam patogen, benih dan faktor lingkungan.

Ciri-ciri penyakit pada tumbuhan :

- Penyebab penyakit sukar dilihat oleh mata telanjang

- Penyebab penyakit antara lain mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, atau cendawan) dan kekurangan zat tertentudalam tanah

- Serangan penyakit umumnya tidak langsung sehingga tanaman mati secara perlahan-lahan

(3)

Penyakit ini disebabkan oleh sejumlah fungi penghuni tanah yang merupakan parasit fakultatif tanpa disertai kekhususan dengan inangnya (Hartley, 1921).

I.2 Rumusan Masalah

 Apa saja gejala, tanda, penyebab, klasifikasi, siklus hidup, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit dari Layu post dan Pre emergency damping off?

 Bagaimana penyebaran penyakit dari Layu post dan Pre emergency damping off?

 Bagaimana cara pengendalian dari Layu post dan Pre emergency damping off? I.3 Tujuan

 Untuk mengetahui gejala, tanda, penyebab, klasifikasi, siklus hidup, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit dari Layu Post dan Pre emergency damping off.

 Untuk mengetahui penyebaran penyakit dari Layu Post dan Pre emergency damping off.

(4)

II. Tinjauan Pustaka

Penyakit lodoh semai (damping off) merupakan penyakit yang menyerang bibit di persemaian pada periode sukulen tumbuhan. Periode sukulen adalah periode semai ketika jaringan batang masih lunak dan belum terbentuk jaringan kayu. Periode ini dimulai sejak benih berkecambah sampai sekitar semai umur satu bulan pasca sapih (Mamat, 2013)

Penyakit layu ini menyerang tanaman. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum dan dapat menurunkan produksi 60%. Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bagian bawah. Setelah terlihat gejala lanjut dengan intensitas serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam waktu 7 hari(Birril,2014)

Serangan patogen lodoh dapat terjadi pada tiga fase pertumbuhan inang, yaitu :

1. Serangan terjadi pada benih yang baru ditanam dan belum berkecambah sehingga benih menjadi busuk, disebut lodoh benih (germination-loss) (Hartley, 1921).

2. Serangan terjadi pada benih yang sudah berkecambah tetapi belum sempat muncul ke permukaan tanah, sehingga kecambah mati di dalam tanah, disebut lodoh dalam tanah ( pre-emergence damping-off) (Wright, 1944).

3. Serangan yang terjadi pada benih yang telah berkecambah dan telah muncul di permukaan tanah disebut lodoh batang (post-emergence damping-off), umumnya terjadi pada semai berumur antara satu hingga empat minggu (Wright, 1944). Serangan pada fase ini sangat banyak menimbulkan kematian semai. Boyce (1961) membedakan serangan pada fase ini ke dalam lodoh pangkal batang (soil-infection type) jika invasi patogen terjadi pada akar atau pada hipokotil dekat permukaan tanah, dan lodoh tajuk (top-infection type atau top damping-off) jika patogen menyerang kotiledon atau hipokotil bagian atas.

Pada lodoh pangkal batang, patogen dengan cepat menyebar dalam jaringan inang, terutama dalam akar, sehingga semai menjadi layu atau rebah sebelum layu. Kerebahan semai sebelum layu bukan disebabkan oleh terhentinya suplai air melainkan akibat membusuknya hipokotil tepat di atas permukaan tanah ketika jaringan di atasnya masih segar. Lodoh tajuk tidak lazim ditemui, tetapi dapat sangat merusak terutama pada pesemaian yang padat setelah suatu periode cuaca berawan dan hujan (Boyce, 1961).

(5)

Fusarium spp., Rhizoctonia solani, dan Pythium spp., Phytophthora spp., Botrytis cinerea, Cylindrocarpon sp., Sclerotium sp., dan Pestalozia sp. (Boyce, 1961).

Serangan patogen lodoh dapat terjadi pada stadia benih yang baru ditanam dan belum berkecambah sehingga benih menjadi busuk, yang disebut germination loss (Hartley, 1921) atau diistilahkan dengan lodoh benih. Selain menyebabkan lodoh benih, patogen juga menyebabkan lodoh kecambah yang terbagi ke dalam tipe pre-emergence damping off bila patogen menyerang benih yang sudah berkecambah tetapi belum sempat muncul ke permukaan tanah, dan tipe post emergence damping off yaitu bila serangan terjadi pada kecambah yang sudah muncul ke permukaan tanah (Wright 1944).

Penyakit rebah kecambah (damping off), penyebab penyakit ini adalah pythium, pytophthora, fusarium dan thizoctinia. Gejalanya berupa pre emergency damping off, patogen menyerang benih tanaman sebelum benih muncul ke permukaan tanah (Anonymous, 2013)

(6)

III. Pembahasan

Gambar 1. Tanaman sengon berumur 2 tahun ditanam di lahan petani di Sukabumi, Jawa Barat

3.1 Taksonomi Tanaman Sengon;

Nama botanis: Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen Marga: Fabaceae

Submarga: Mimosoideae

Sinonim: Adenanthera falcata Linn., Adenanthera falcataria Linn., Albizia falcata (L.) Backer, Albizia falcata sensu Backer, Albizia falcataria (L.) Fosberg, Albizia moluccana Miq., Falcataria moluccana (Miq.) Barneby dan J. W. Grimes. (Soerianegara dan Lemmens 1993).

Nama umum/lokal:

Nama lokal di Indonesia: Jeungjing, sengon laut (Jawa); tedehu pute (Sulawesi); rare, selawoku, selawaku merah, seka, sika, sika bot, sikas, tawa sela (Maluku); bae, bai, wahogon, wai, wikkie (Papua) (Martawijaya dkk. 1989).

Nama umum di negara lain: Puah (Brunei); Albizia, batai, Indonesian albizia, moluca, paraserianthes, peacock plume, white albizia (Inggris); kayu machis (Malaysia); white albizia (Papua Nugini); falcata, moluccan sau (Filipina) (Soerianegara dan Lemmens 1993).

3.2 Tempat Tumbuh

(7)

(Soerianegara dan Lemmens 1993). Di Jawa, sengon dilaporkan dapat tumbuh di berbagai jenis tanah kecuali tanah grumusol (Charomaini dan Suhaendi 1997). Pada tanah latosol, andosol, luvial dan podzolik merah kuning, sengon tumbuh sangat cepat. Di tanah marjinal, pupuk mungkin diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan awal; setelah itu, pertumbuhan sengon akan lebih cepat karena kemampuan untuk mengikat nitrogen meningkat.

Di habitat alaminya, curah hujan tahunan berkisar antara 2000 dan 2700 mm, kadang-kadang sampai 4.000 mm dengan periode musim kering lebih dari 4 bulan (Soerianegara dan Lemmens 1993). Sengon mudah melakukan penguapan sehingga memerlukan iklim yang basah; curah hujan untuk pertumbuhan optimalnya adalah 2000–3500 mm per tahun

(Charomaini dan Suhaendi, 1997).

3.3 Botani Sengon

(8)

bawah lebih pucat dengan rambut-rambut halus (Soerianegara and Lemmens 1993, Arche dkk,1998).

3.4 Penyakit Layu Post dan Emergency Damping Off yang menyerang tanaman Sengon Damping-Off adalah suatu penyakit yang menyerang benih, kecambah, dan semaian. Secara tradisional, ada dua tipe jenis damping-off :pre-emergence damping-off, menyerang benih dan kecambah sebelum mereka muncul, dan post-emergence damping-off, menyerang semaian bibit muda sampai batang mereka menjadi berkayu. Bentuk kedua penyakit terjadi di dalam tempat penyimpanan benih dan disebabkan oleh kelompok fungi yang sama.

(9)

3.4.1 Gejala dan Tanda

Pre-Emergence damping-off adalah suatu penyakit yang sulit untuk didiagnosa sebab benih yang terkena tidak kelihatan gejalanya; sebagai konsekuensinya, kerugian yang ditimbulkan sering dihubungkan dengan “benih lemah” (Baker. 1957). Jika kecambah belum muncul dalam satu periode perkecambahannya, benih tersebut digali dan diuji; jika isi benih membusuk, maka jamur damping-off mungkin terlibat. Kadang-Kadang, benih yang berkecambah mati setelah calon akar (radikula) dari benih telah muncul.

Gejala klasik post-emergence damping-off termasuk pembusukan hipokotil semaian bibit pada garis tanah, menyebabkan semaian bibit sampai atasnya jatuh.

Gejala: (1) bercak-bercak kebasahan pada pangkal batang atau hipokotil; (2) pangkal batang busuk sehingga menyebabkan batang rebah dan mudah putus; (3) menyerang tanaman di semaian, tetapi dapat pula menyerang tanaman di lahan (Dimas, 2009)

3.4.2 Penyebab

(10)

and kalsium

Irigasi Teratur, pelaksanaan berat Teratur, pelaksanaan ringan

Lingkungan

 Lodoh dini (Pre-emergence damping off): benih atau kecambah mati busuk ketika masih dalam tanah.

 Lodoh batang (Post- emergence damping off): pangkal batang bibit yang telah muncul di permukaan membusuk, daun layu dan rebah.

 Lodoh akar (root decay): akar semai membusuk, daun layu tapi tidak rebah karena batang semai sudah berkayu (Anonymous, 2015)

3.5 Penyebaran Penyakit

Periode sekulen adalah periode semai ketika jaringan batang masih lunak dan belum terbentuk jaringan kayu. Periode ini dimulai sejak benih berkecambah sampai sekitar semai umur satu bulan pasca sapih. Gejala yang muncul berupa busuk pangkal batang; pangkal batang/leher akar semai muda menjadi lunak kemudian semai roboh. sehingga semai menjadi rebah. Penyebab penyakit ini antara lain jamur Fusarium, Pythium, Rhizoctonia, dan Sclerotium. Tingkat kematian semai akibat penyakit ini cukup tinggi, namun hampir tidak pernah didata. Data kematian semai umur sebulan pasca overspin/sapih akibat penyakit damping off ini dapat mencapai 30% (Anonymous, 2014)

Patogen menyebar melalui tanah (soil borne), patogen dapat hidup dan bertahan lama di dalam tanah (Djaglay, 2010)

(11)

3.6 Cara Pengendalian

Lima langkah untuk menghindari Damping – Off :

1. Tanah atau media pot di pasteurisasi. Apabila tanah terlalu gelap dan berat, tanahnya dapat bertahan terlalu basah dan mungkin sulit untuk dipasteurisasi secara efektif.

2. Gunakan tempat baru atau pot baru bila memungkinkan, karena tempat atau pot yang sudah terpakai sulit untuk disanitasi.

3. Jadwalkan irigasi untuk menyediakan kelembaban optimum untuk pertumbuhan benih dan perkecambahan, tetapi hindari aplikasi yang terlalu berlebih, karena media tumbuh yang basah dapat menimbulkan dumping – off.

4. Terapkan pemupukan secara hati-hati, karena level tinggi dari larutan garam dapat memperlambat pertumbuhan benih, menimbulkan luka pada benih, dan dapat menimbulkan dumping – off.

5. Hindari benih yang sedang tumbuh dibawah intensitas cahaya rendah yang dapat meningkatkan sukulen dari benih dan meningkatkan timbulnya dumping-off (Baskara, 2011).

Penyemaian benih sengon biasanya dilakukan dengan cara ditabur menyebar di bedeng semai. Sebelum penyemaian, tanah harus disterilkan terlebih dahulu untuk menghindari penyakit lodoh (rebah semai). Biji disemai dengan cara ditekan dengan lembut ke dalam tanah dan kemudian ditutup dengan lapisan pasir halus sampai ketebalan 1,5 cm (Soerianegara dan Lemmens 1993).

Bibit sengon di persemaian kadang-kadang rusak karena penyakit lodoh (rebah semai) sebagai akibat dari serangan jamur Pythium, Phytophthora dan Rhizoctonia (Nair dan Sumardi 2000). Serangan yang berat biasanya terjadi pada bulan November–Januari pada waktu musim hujan. Pengendalian secara tradisional dengan cara menaungi persemaian dengan atap dan mengurangi frekuensi dan intensitas penyiraman dapat mencegah infeksi penyakit ini (Anino 1997).

(12)

merupakan fungi penghuni tanah tetap (soil inhabitant) yang mampu hidup sebagai saprob bila tidak ada inang dan membentuk sklerotia, yaitu modifikasi dari miselia, sebagai struktur bertahan (Ogoshi 1987).

Perendaman benih Sengon selama 12 jam dalam filtrat biakan Lactarius sp. mampu melindungi benih tersebut dari serangan patogen lodoh Pythium irregulare dan Rhizoctonia praticola, sehingga benih yang berkecambah mencapai 93%, sedang bila benih direndam dalam air steril, perkecambahannya hanya 7% (Park, 1970)

(13)

IV. Penutup Kesimpulan

- Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen, juga dikenal dengan nama sengon, merupakan salah satu jenis pionir serbaguna yang sangat penting di Indonesia.

- Penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan pada tanaman sehingga tanaman tersebut tidak dapat bereproduksi atau mati secara perlahan-lahan.Penyakit benih ini dapat menyebabkan kerusakan dalam bentuk perubahan war na, bentuk, nekrose, penurunan daya kecambah, dan mengurangi nilai biji (benih). - Lodoh (damping-off) merupakan terminologi bagi setiap penyakit yang berakibat

busuknya semai atau tajuk muda yang masih sukulen secara cepat.

- Gejala dan Tanda; (1) bercak-bercak kebasahan pada pangkal batang atau hipokotil; (2) pangkal batang busuk sehingga menyebabkan batang rebah dan mudah putus; (3) menyerang tanaman di semaian, tetapi dapat pula menyerang tanaman di lahan. Penyebab; empat jenis fungi (Pythium, Fusarium, Phytophthora, dan Rhizoctonia). - Klasifikasi; Lodoh dini (Pre-emergence damping off), Lodoh batang (Post- emergence

damping off, Lodoh akar (root decay).

- Siklus hidup; Serangan yang berat biasanya terjadi pada bulan November–Januari pada waktu musim hujan.

- Faktor yang mempengaruhi; Kualitas Benih, Media Pertumbuhan, Ph, Kepadatan pertumbuhan, Nutrisi, Irigasi dan Lingkungan.

(14)

Daftar Pustaka

Anino, E. 1997 Commercial plantation, establishment, management, and wood utilization of Paraserianthes falcataria by PICOP Resources, Inc. Dalam: Zabala, N. (ed.) Workshop international tentang spesies Albizia dan Paraserianthes, 131–139. Prosiding workshop 13–19 November 1994, Bislig, Surigao del Sur, Filipina. Forest, Farm, and Community TreeResearch Reports (tema khusus). Winrock International, Morrilton, Arkansas, AS.

Anonymous. 2011. Penyebab Penyakit Pada Persemaian. (Online) http://www.forplan.or.id. Diakses 6 Juni 2015.

Anonymous. 2013. Penyakit Pada Tumbuhan. (Online) http://caramencegah.com. Diakses 6 Juni 2015.

Anonymous. 2015. Presentasi Teknik Pemeliharaan Bibit Teknologi. (Online) http://slideplayer.info. Diakses 6 Juni 2015.

Arche, N., Anin-Kwapong, J.G. dan Losefa, T. 1998 Botany and ecology. Dalam: Roshetko, J.M. (ed.) Albizia and Paraserianthes production and use: a field manual, 1–12. Winrock International, Morrilton, Arkansas, AS.

Baker, K.F. and R.J. Cook., 1974. Biological control of Plant Pathogens. WH Freeman & Co., San Francisco. 433 hlm.

Boyce, J. S., 1961. Forest Pathology. McGraw-Hill Co., Inc., New York. 368 hlm.

Charomaini MZ, Ismail B. 2008. Indikasi awal ketahanan sengon (Falcatariamoluccana) provenan Papua terhadap jamur Uromycladium tepperianum penyebab penyakit karat tumor (gall rust). Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan 2(2):1-9.

Departemen Kehutanan dan Badan Statistika Nasional 2004 Potensi Hutan Rakyat Indonesia 2003. Pusat Inventarisasi dan Statistika Kehutanan. Departemen Kehutanan dan Direktorat Statistika Pertanian, Badan Statistika Nasional, Jakarta, Indonesia.

Dimas. 2009. Budidaya Pertanian. (Online) http://dimasadityaperdana.blogspot.com. Diakses 11 Juni 2015.

Djaglay. 2010. Penyakit Tanaman. (Online) http://djaglay.blogspot.com. Diakses 6 Juni 2015.

(15)

Hartley, C. 1921. Damping-off in forest nursery. Bull. No.34 p. 1-90. Bureu of Plant Industry. Washington.

Herawan. 1987. Pengaruh Lama Penjemuran Tanah terhadap Timbulnya Penyakit Lodoh ("damping-off") pada Acacia mangium Willd. Skripsi sarjana. Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda. 53 hlm.

Mamat. 2013. Makalah Hama dan Penyakit Kehutanan. (Online) http://forester-untad.blogspot.com. Diakses 6 Juni 2015.

Martawijaya, A. Kartasujana, I., Mandang, Y.I., Prawira, S.A. dan Kadir, K. 1989 Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor, Indonesia.

Ngasih. 2014. Rebah Kecambah karena Damping Off. (Online) http:// www.ngasih.com. Diakses 11 Juni 2015.

Ogoshi A. 1987. Ecology and pathogenicity of anastomosis and intraspecific groups of Rhizoctoniasolani KÜhn. Annu. Rev. Phytopathol. 25:125-143.

Park, J.Y., 1970. Antifungal effect of an ectotrophic mycorrhizal fungus, Lactarius sp., associated with basswood seedlings. Can. J. Microbiol., 16:798.

Soerianegara I. Lemmens RHMJ. 1993. Plant resources of South-East Asia 5(1): Timber trees: Major commercial timbers. Wageningen: Pudoc Scientific Publishers.

Gambar

Gambar 1. Tanaman sengon berumur 2 tahun ditanamdi lahan petani di Sukabumi, Jawa Barat
Gambar contoh penyakit damping off yang menyerang beserta jamur penyebab damping off.

Referensi

Dokumen terkait

Hadirnya perusahaan star up telah merubah peta usaha di Indonesia. Sedikit banyak telah merubah cara pandang pelaku UMKM. Terlebih saat ini konsumen telah memandang era

Peppi on suunniteltu varta vasten pal- velemaan korkeakouluja, yliopistoja sekä toisen asteen oppilaitok- sia(Peppi-Konsortio, n.d.). Euroopan unionin ja Euroopan talousalueen

Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul “ Optimalisasi Pertumbuhan Tunas Kentang (Solanum Tuberosum L.) Varietas Granola Kembang dengan Perbandingan Auksin dan Sitokinin

Secara simultan hasil yang diperoleh dari analisis regresi menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara efikasi diri terhadap resiliensi pada

ketika ada salah satu dari teman saya yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah4. Saya ikut merasa kesal

menyetujui pemberian fasilitas sebesar Rp 200.000.000.000 yang bersifat non revolving dalam bentuk pembiayaan kredit kendaraan, yang berakhir pada tanggal 28 Pebruari 2013 dengan

berusaha melihat orientasi dari penggunaan produk perbankan syariah, apakah orientasi tersebut merupakan orientasi yang bersifat keagamaan ( religious ), yaitu

Beriman kepada qada’ dan qadar akan melahirkan sikap optimis,tidak mudah putus asa, sebab yang menimpanya ia yakini sebagai ketentuan yang telah Allah takdirkan kepadanya dan Allah