MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI “Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Permainan Balok ”
AYU CITRA DEWI NIM :1200777
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGRI PADANG 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kurniaNya, sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah psikologi perkembangan anak usia dini tentang
“Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Kegiatan Permainan Balok” tepat pada waktunya. Penulis sangat berterima kasih kepada semua pihak yang berjasa dalam penyelesaian tugas akhir ini dengan tidak menyebutkanya satu persatu. Seperti kata pepatah “tak ada gading yang tak retak” begitu juga dengan pembuatan tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat membutuhkan kritik dan saran dari pembaca. Demi pembuatan tugas yang lebih baik lagi kedepannya.
Atas perhatian dan ktrik sarannya penulis mengucapkan terima kasih. Padang, Desember
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan BAB II ISI
2.1 Hakikat Anak Usia Dini 2.2 Kreatifitas
2.3 Bermain
2.4Hubungan kreatifitas dengan anak usia dini
2.5 Cara meningkatkan kreatifitas anak melalui permainan balok BAB IV Penutup
3.1 Kesimpulan 3.2 Saran
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam bermain anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan segala sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan. Dengan bermain, anak sebenarnya sedang mempraktekkan keterampilan yang di milikinya secara lansung karena dengan mempraktekkan anak akan menghasilkan pengalaman unik yang dapat membangun pengetahuannya. Anak mendapatkan kepuasan dalam bermain karena secara tidak lansung anak berarti mengemabangkan dirinya sendiri.. Bermain memberikan suatu kesenangan bagi anak dan dapat membantu perkembangan pertumbuhan dan perkembangan anak baik dari segi perkembanagn otot kasar dan halus anak, meningkatkan penalaran anak, dan memahami keberanaan lingkungannya, membentuk daya imajinasi anak dan mengembangkan kreatifitas kreativitas.
Area bermain dimana anak secara lansung mengobservasi linkungan sekitarnya sehingga anak dapat berinteraksi lansung dengan lingkungannya. Dengan bermain anak dapat menemukan lingkungan orang lain, dan menemukan dirinya sendiri, sehingga anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan tersebut, anak dapat menghargai orang lain, tenggang rasa terhadap orang lain, tolong menolong sesama teman dan yang lebih utama anak dapat menemukan pengalaman baru dalam kegiatan tersebut. Bermain dapat memotivasi anak untuk mengetahui segala sesuatu secara lebih mendalam dengan bereksperimen sederhana.
Anak yang kreatif dapat terlihat dari tindakan yang dilakukannya. Yaitu selalu aktif dalam segala kegiatan,tidak pernah diam dan selalu ingin bergerak karena rasa ingin tahunya terhadap sesuatu yang baru di lihatnya, selalu bertanya tentang hal yang baru saja di lihatnya,memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya, suka denagn hal-hal yang menantang keingintahuannya, lebih mengutamakan diri sendiri, dan memiliki konsentrasi yang sangat pendek atau cepat merasa bosan.
Dalam kenyataan sekarang ini sering dijumpai bahwa kreativitas anak terhambat oleh
anak usia dini banyak yang terstruktur dan formal, sehingga celah bagi anak untuk bermain sambil belajar semakin sempit. Padahal kegiatan bermain bebas sering merupakan kunci untuk mengembangkat bakat kreatif yang dimiliki setiap anak dan mengembangkan kreativitas anak. Fungsi bermain bagi anak usia dini dapat dijadikan sebagai modal yang jika dilaksanakn dengan tepat, baik dilengkapi dengan alat maupun tanpa alat akan sangat membantu mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak baik perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan afektif pada umumnya, dan mengembangkan daya kreativitas anak.
Untuk itu penulis berupaya mencarikan solusi permainan yang dapat meningkatkan kreatifitas anak melalaui bermain seperti kegiatan eksperimen sederhana. Dimana kegiatan eksperimen ini tidak akan jauh dari unsur bermain bagi anak. Karena anak akan secara lansung berinteraksi sendiri dengan objeknya dan sesuai dengan kemauan anak.Tentunya kegiatan ini tidak akan luput tanpa bimbingan dan arahan seorang guru TK.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah ,yaitu :
1. Apa yang di maksud dengan kreatifitas anak ? 2. Apa hubungan kreatifitas dengan anak usia dini ?
3. Bagaimana cara meningkatkan kreatifitas anak melalui permainan balok ? C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan permasalahan yang dipaparkan, tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan kreatifitas
2. Untuk mengetahui apa hubungan kreatifitas dengan anak usia dini
BAB II ISI
A. Hakikat Anak Usia Dini 1. Pengertian anak usia dini
Pengertian Anak usia dini secara umum adalah anak-anak yang berusia di bawah 6 tahun. Jadi mulai dari anak itu lahir hingga ia mencapai umur 6 tahun ia akan dikategorikan sebagai anak usia dini. Beberapa orang menyebut fase atau masa ini disebut sebagai ‘golden age” karena masa ini merupakan masa fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak dan masa sangat menentukan seperti apa anak kelak jika dewasa nanti baik dari segi fisik, mental maupun kecerdasan. Anak usia dini dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat.
Menurut Slamet Suyanto (2005 )Di mana pertumbuhan dan perkembangantelah di mulai sejak prenatal yaitu dalam kandungan. Pembentukan sel syaraf otak , sebagai modal pembentukan kecerdasan, terjadi saat anak dalam masa kandungan. Setelah lahir tidak terjadi lagi
pembentukan sel syaraf otak,tetapi hubungan antara sel syaraf otak (sinap) terus berkembang. Begitu pentingnya usia dini, sampai ada teori yang menyatakan pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80 % pada usia delapan tahun. Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik, perkembanagn moral ( termasuk kepribadian, watak ,dan akhlak), sosial, emosional,intelektual dan bahasa juga berlansung amat pesat. Oleh karena itu usia dini juga di sebut tahun emas atau golden age.
Setiap anak bersifat unik, tidak ada dua anak kembar sekalipun yang sama. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda, memiliki kelebihan, bakat dan minat sendiri.Dalam buku Slamet suyanto kecerdasan ganda dari Gardner (1998) menyatakan ada delapan tipe kecerdasan, tetapi amat jarang yang memiliki secara sempurna delapan kecerdasan tersebut. Oleh karena itu guru harus memahami kebutusan khusus dan kebutuhan individu anak untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan belajar dan membimbing anak belajar yang tepat agar anak dapat berkembang sesuaia dengan masa perkembanagnnya. Tentu saja ada banyak faktor yang akan sangat mempengaruhi anak dalam masa perkembangan dan pertumbuhan ini dalam menuju kedewasaan.Tetapi apa yang dapat dan apa yang diajarkan pada anak usia dini akan tetap
2. Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini (0-8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembanagan yang sangat pesat. Bahkan dikatakan sebagai golden age (usia emas) yaitu usia yang sangat berharga di bandingkan usia –usia selanjutnya. Pada usia tersebut merupakan fase kehidupan yang sangat unik. Anak usia dini merupakan pribadi unik yang mampu menarik perhatian orang dewasa. Bahkan tingkah polah mereka mampu membuat para orang tua terhibur karenanya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati karakteristik dari anak usia dini sebagai berikut:
1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Anak usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Pada masa bayi rasa inign tahu ini ditunjukkan dengan meraih benda yang ada dalam jangkauannya kemudian memasukkannya ke mulutnya. Pada usia 3-4 tahun anak sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak juga mula gemar bertanya meski dalam bahasa yang masih sangat sederhana.
2. Merupakan pribadi yang unik
Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, setiap anak
memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu pendidik perlu menerapkan
pendekatan individual dalam menangani anak usia dini. 3. Suka berfantasi dan berimajinasi.
Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata (Siti Aisyah,2008).Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Bahkan terkadang mereka dapat menciptakan adanya teman imajiner. Teman imajiner itu bisa berupa orang, benda, atau pun hewan.
4. Masa paling potensial untuk belajar.
perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
5. Menunjukkan sikap egosentris.
Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlhat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya terpenuhi.
6. Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek.
Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Pehatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya. Sebagai pendidik dalam
menyampaikan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal ini. 7. Sebagai bagian dari makhluk sosial.
Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi sosial ini anak membentuk konsep dirinya. Ia mulai belajar bagaimana caranya agar ia bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajr untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia mulai merasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya B.Kreatifitas
1) Pengertian kreatifitas
Istilah kreatifitas mula-mula di ambil dari bahasa inggris yaitu dari kata dasar “to create”. Creative (kreatif) berarti menciptakan atau membuat sesuatu yang baru yang belum pernah dibuat dan diciptakan orang lain.Dari kata kreatifitas tampak ada unsur penciptaan.Dalam skripsi menurut Clark Mostakis dalam Yeni (2010:13) kreatifitas merupakan pengalaman dalam
mengekspresikan dan mengaktualisasikan idntitas individu dalam bentuk terpadu antara hubungan diri sendiri, alam, dan orang lain.Menurut Baron (dalam Asrori, 2007:61) dalam skripsi kreatifitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru di sini bukan berarti harus sama sekali baru tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya.
2) Tujuan kreatifitas
Kreativitas merupakan suatu ungkapan yang tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari, karena ungkapan kreatifitas sering diberikan kepada orang yang bisa menciptakan ide atau gagasan baru. Khususnya bagi anak usia dini yang serba ingin tahu selalu menciptakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan imajinasinya.
Dalam skripsi menurut Montolalu (2005:3.8), tujuan kreativitas adalah memberikan kesempatan anak untuk mengekspresikan diri, menemukan alternatif cara pemecahan, masalah, keterbukaan dan kepuasan diri. Sedangkan menurut Martini (2006:58) dalam skripsi mengemukakan bahwa tujuan kreatifitas adlah anak yang mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan berbagai inisiatif yang dipikirkannya yang akan berkembang menjadi anak yang percaya diri.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan kreativitas adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mewujudkan atau mengekspresikan apa yang dirasakannya agar dapat melatih kepercayaan dirinya.
3) Karakteristik kreatifitas
Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat rentan dengan pertumbuhan baik fisik maupun mental khususnya usia 3-5 tahun. Sebagian besar anak sering kali tidak sabar menungggu masa-masa pengakuan dari lingkungan sekitarnya terutama orang tua dan teman sebayanya bahwa anak-anak bukan bayi yang penuh dengan ketergantungan melainkan ingin dianggap seperti orang dewasa umumnya.
Dalam skripsi menurut Piers dalam (Asrori , 2007:72) mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah:
a) Memiliki dorongan (drive) yang tinggi b) Memiliki keterlibatan yang tinggi c) Memiliki rasa ingin tahu
d) Memiliki ketekunan yang tinggi
e) Cendrung ketidakpuasan terhadap kemampuan sendiri f) Percaya diri
g) Memiliki kemandirian
j) Senang rumor k) Memiliki intuisi
l) Cendrung tertarik kepada hal-hal yang komplek m) Toleran dan bersifat sensitif
Dapat disimpulkan bahwasanya karakteristik dari kreatifitas anak usia dini adalah anak yang memiliki energi fisik dan mental yang sehat, cerdas, disiplin, bersemangat, punya keingintahuan, percaya diri, sifat terbuka, dan penuh daya cipta.
4) Pengembangan kreatifitas
Kreatifitas anak usia dini akan terlihat saat anak bermain bebas mengeksprikan dirinya. Secara berangsur-angsur akan tergambar kreatifitas anak melalui setiap yang dilakukan anak, karena anak adalah insan yang aktif dan tidak mau berdiam diri saja. Dalam skripsi menurut Utami Munandar (dalam ASRORI, 2007 : 62) mengatakan pengertian pengembangan kreatifitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasikan suatu gagasan.
C.Bermain
1) Pengertian bermain bagi anak
Anak perlu diberikan hah-haknya terutama kesempatan untuk mengekspresikan dirinya melalui kegiatan bermain. Menurut Dr. Seto Mulyadi (kak seto) dalam buku Andrianto (2009)
mendefenisikan pengertian bermain tidaklah mudah. Tetapi secara umum bermain sering
dikaitkan dengan kegiatan yang dilakukan secara spontan dan dalam suasana riang dan gembira. Menurut Garvey (1991) mengemukakan lima pengertian berkaitan dengan pengertian bermain , yaitu:
a) Bermain adalah sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak.
b) Bermain tidak memiliki nilai tujuan ekstrinstik, namun motifasinya lebih bersifat instrinstik. c) Bermain bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak.
d) Bermain melibatkan pran aktif dan keikutsertaan anak.
Dapat disimpulkan bahwa bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan dilakukan secara spontan tanpa ada paksaan, maka anak akan terus melakukanya. Bermain tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak. Dngan kata lain dunia anak adalah bermain. Bermain bagi anak tidak selamanya memberikan dampak negatif bagi perkembangan jiwa anak. Menurut Andrianto dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli menyatakan sebaliknya. Bermain bagi anakdengan terkendali dapat mendorong perkembangan anak kearah lebih maju. Jika dalam kegiatan bermain anak sering dikritisi oleh temannya sendiri , maka akan tampak hal-hal seperti terbinanya persahabatan antara teman sepermainnya.
2) Tahap-tahap perkembangan anak dalam bermain
Bermain merupakan sarana yang meliputi unsur afeksi, kognisi, dan psikomotorik. Menurut Elizabeth B. Hurlok tahapan-tahapan perkembangan bermain bagi anak adalah:
a) Tahap penjelajahan
Ciri utama dari tahap ini adalah anak mulai berusaha menjangkau atau meraih benda yang ada di sekelilingnya, lalu mengamatinya. Tahap ini dimulai sejak anak masih bayi berumur tiga bulan. b) Tahap mainan
Dimulai anak berusia 5-6 tahun, pada masa ini anak mulai mengeksplorasikan mainanya. Anak belajar bergerak, berbicara dan merasakan benda-benda yang ada di sekelilingnya .
c) Tahap bermain
Dimulai dari usia masuk sekolah (6 tahun). Pada masa ini anak mulai berinteraksi dengan teman dalam berolah raga , hobi dan bentuk permainan semacamnya.
d) Tahap melamun
Semakin anak mendekati masa puber, seseorang anak mulai kehilangan minat dalam permainan. Saat ini disebut dengan memasuki usia remaja.
3) Manfaat bermain bagi anak
Menurut Hurlock (1981) dalam Seto Mulyadi (1999) dalam Andrianto berbagai manfaat dari bermain bagi anak:
a) Manfaat fisik
Bermain fisik membantu anak mematangkan otot-otot dan melatih keterampilan seluruh tubuhnya. Bermain juga bermanfaat sebagai penyalur energi yang berlebihan.
Dengan bermain akan membantu anak mengekspresikan perasaan-perasaannya dan mengeluarkan energi yang tersimpan sesuai dengan tuntutan sosialnya.
c) Manfaat edukatif
Anak dapat memperoleh manfaat edukatif atau hal-hal baru yang berhubungan dengan bentuk, warna, ukuran, dan tekstur suatu benda.
d) Manfaat kreatif
Melalui aktivitas bermainnya anak dapat mengembangkan gagasan baru, baik dengan alat bermain atau tidak sama sekali.
e) Manfaat bagi pembentukan konsep diri
Bermain bersama orang lain (teman-temanya) mengajarkan anak untuk mengrti akan mengerti akan kemampuan dirinya sendiri.
f) Manfaat sosial
Bermain dengan teman-teman(kooperatif) sebaya akan mengajari anak membangun suatu hubungan sosial. Kenyataannya anak menjadi kenal dengan anak-anak lain.
g) Manfaat moral
Bermain dapat dijadikan sarana mengenal moral kepada anak . Misalnya melalui kegiatan bermain kepada anak dapat ditunjukkan hal-hal yang benar dan salah, hal-hal yang adil dan sebaliknya pilih kasih, dan lain-lain.
4) Jenis-jenis bermain
Menurut Andrianto ditinjau dari kegembiraannya, maka bermain dapat di bagi menjadi 2 jenis , yaitu :
1. Bermain aktif
merupakan bentuk permainan aktif yang lebih bersifat mental dari pada bersifat fisik. Jenis bermain ini dapat bersifat reproduksi membuat anak berkhayal mengenai pengalaman dalam kehidupan sehari-hari sebagaiman adanya. Bermain konstruksi yaitu anak dapat membangun sesuatu dengan mempergunakan bahan-bahan yang ada, misalnya anak menyusun balok menjadi rumah, jembatan ,dan kereta api.
2. Bermain fasif
Bermain fasif adalah jenis bermain yang kegembiraan anak dicapai melalaui usaha yang dilakukan orang lain. Pada permainan ini anak memperoleh kegembiraan melalaui usaha yang dilakukan orang lain seperti menonton televisi, mendengarkan dongeng, mendengarkan musik, membaca buku dan sebagainya. Menurut Slamet dalam buku Andrianto (2009) membaca adalah suatu kegiatan yang sehat yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak, sehingga pada anak akan berkembang nilai-nilai kreatifitas dan kecerdasan. Mendengarkan radio dapat
mempengaruhi anak, baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adlah anak akan menjadi bertambah pengetahuannya. Sedangkan negatifnya adalah apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan melalui radio seperti kekerasan, kriminalitas, dan kejahatan lainnya. Menonton televisi sama seperti mendengar radio yang bisa berdampak positif dan negatif.
D. Hubungan kreatifitas dengan anak usia dini
Setiap individu pada hakekatnya sudah diberi oleh Tuhan potensi untuk menjadi kreatif. Anak yang sudah terbiasa melakukan tindakan –tindakan yang kreatif nantinya akan menjadi anak yang tumbuh dengan pribadi yang cerdas, tangguh, ulet, dan mandiri. Sebagaimana bahwa anak usia dini itu adalah insan yang unik, memiliki rasa ingin tahu yang unik, anak yang aktif dan energik, berjiwa petualangan, dan suka berfantasi. Sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang pribadi, bahwa ciri-ciri kreatifitas itu terdapat pada diri anak. Hanya saja tingkatan kratifitas anak itu berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan pada anak –anak itulah yang menunjukkkan adanya keunikan tersendiri pada anak –anak sebagai seorang pribadi. Dengan karakter anak yang seperti itu anak akan mencoba menciptakan hal-hal baru yang sedang difikirkannnya, misalnya saja anak sedang mencoba-coba membuat rumah-rumahan yang
bentuknya agak berbeda dengan yang bias dilihatnya. Tentu akan muncul pertanyaan darimanakah anak kecil tersebut mendapatkan ide?darimana muncul ide-ide tersebut?
kreatif. Melihat hal yang seperti itu tentu orang tua akan tahu bahwa anaknya mampu berimajinasi. Sebagai orang tua tentu harus menghargai karya kreatif anak . Karena dengan penghargaan yang diberikan anak akan merasa bangga dengan hasil karyanya dan akan menjadi terbiasa untuk berkarya kratif.
. Sesuai dengan semboyan anak usia dini adalah “bermain sambil belajar, belajar seraya bermain” bahwa dunia anak adalah bermaian. Dengan memberikan kesempatan bermaian dan berkreasi kepada anak, maka anak akan mendapatkan perasaan senang dan perasan gembira yang akan memunculkan kegiatan-kegiatan spontan dan kratif. Dalam bermain anak akan
mengeksplorasi diri melalui gerakan, penglihatan, dan pendengaran terhadap benda-benda yang disekelilingnya, anak akan bereksperimen terhadap benda-benda yang dilihatnya, anak akan berekspresi dengan benda-benda yang dilihatnya. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. Ia dapat berekperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik, ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan, mereka akan merasa bahagia dan puas atas permainan yang mereka rsakan.
E. Cara meningkatkan kreatifitas anak melalui permainan balok kayu
Balok kayu adalah mainan edukatif anak yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang terdiri dari berbagai macam bentuk geometri. Permainan balok kayu merupakan permainan yang membentuk dan menggabungkan objek, permainan ini sering disebut permaianan konstruktif. Dimana anak secara aktif membangun sesuatu menggunakan bahan/material yang sudah tersedia dengan pengetahuan yang dimilikinya. Anak menyusun serta merangkai balok-balok kayu menjadi sebuah bangunan menara, gedung, rumah, jalan, dan sebagainya. Beberapa keunggulan dari permainan balok yaitu:
1.) Manfaat Fisik
2.) Manfaat Sosial
Mainan balok mendorong anak untuk berteman dan bekerja sama. Balok bermanfaat bagi anak karena balok mendorong interaksi dan imajinasi. Imajinasi anak dapat segera diwujudkan dengan mainan balok. Kreatifitas yang dikombinasikan dengan aksi sangat penting dalam kehidupan sosial.
3.) Manfaat Intelektual
Anak dapat mengembangkan kemampuan kata-kata saat mereka mecoba mengambarkan ukuran, bentuk dan posisi. Anak mengembangkan kemampuan matematik melalui pengelompokan, penambahan, pengurangan. Dua buah segitiga sama sisi jika digabung akan menjadi persegi empat. Hal tersebut bisa juga akan dimengerti melalui bermain balok standar. Dengan bermain balok, anak akan mengalami bahwa balok jika tidak seimbang akan jatuh, anak belajar tentang keseimbangan dan gravitasi. Belajar geometri dari mainan balok akan meningkatkan stimulasi intelektual. Penelitian yang dilakukan di Universitas Washington juga menunjukkan hasil, bahwa anak yang bermain menggunakan balok kemampuan bahasanya lebih tinggi dari
teman-temannya.
4.) Manfaat Kreatif
Mainan balok merupakan pemicu stimulasi kreatifitas, karena anak akan membuat desain mereka sendiri dengan balok. Dalam (bermain-dan-kreativitas-pada-anak-usia.html )Plato Seorang Philosofi Yunani (428-348 SM) menulis bahwa arsitek masa depan adalah anak yang mainannya membuat bangunan.
Semua anak akan melalui tahapan dalam bermain menggunakan balok :
1. Anak akan membawa balok-balok berkeliling.Dengan demikian mereka belajar tentang balok misalnya berapa berat balok tersebut, bagaimana rasanya dan berapa banyak bisa diangkat sekali jalan.
2. Anak memajang balok atau menidurkannya di lantai, karena anak masih belajar karakter balok.Bagaimana meletakkan yang satu di atas lainyya untuk membuat menara. Jalan. 3. Cara baru menyambung balok : memagar, jembatan, pola-pola dekoratif dan kejelian
dramatik. Memagar mengarahkan anak-anak untuk mengenal bentuk-bentuk geometrik dan lapangan. Membuat jembatan dengan dua balok ditancapkan dalam posisi antara satu dan lainnya diberi jarak lalu jarak ini dihubungkan dengan satu balok lagi di bagian atasnya.
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bermain merupakan salah satu hak asasi manusia, begitu juga pada anak usia din bermain adlah dunianyai. Ada banyak manfaat yang didapatkan dari kegiatan bermain, salah satunya adalah pengembangan kreativitas ana. Bermain dalam bentuk apapun, baik aktif maupun pasif, baik dengan alat maupun tanpa alat dapat menunjang ktreativitas anak dalam menciptakan hal-hal yang baru. Misalnya saja permainan balok kayu, dimana dengan permainan ini anak akan belajar bagai mana cara menyusun atau membangun kayu sehingga menjadi sebuah bentuk. Biasanya hal-hal yang ingin di bentuk atau di bangun anak adalah benda-benayang sering dilihatnya, seperti rumah, menara, dan jalan. Dengan cara inilah anak dapat mengembangkan imajinasinya sehingga memunculkan kreatifitas anak dalam berkarya. Disinilah peran orang tua dan guru pembimbing untuk dapat menjadi fasilitator pengembangan kreativitas anak, dengan
memfasilitasi anak agar dapat bermain dengan cara dan alat yang tepat sesuai dengan bakat, minat, perkembangan, dan kebutuhan anak.
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Suyanto, Slamet.2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.JAKARTA. Rofi,Imam.2011.Game Edukatif di Dalam dan Luar Sekolah.Yogyakarta:Diva Press.
Andrianto.2009.Membentuk Anak Cerdas dan Tangguh.Yogyakarta:Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Zaman, Badrun.2005.Media dan Sumber Belajar TK.Jakarta.Universitas Terbuka
Bermain dan Kreativitas Pada Anak Usia Dini _ PAUD ANAK CERIA BERBUDAYA LINGKUNGAN.htm