commit to user
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang MasalahUndang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 mengamanatkan bahwa Sisdiknas harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi dan efisiensi pengelolaan manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, internasional, dan global sehingga diperlukan paradigma pembaharuan pendidikan yang diselenggarakan secara terencana, terarah, dan sustainable (berkesinambungan). Dalam Undang-Undang tersebut yang dimaksud pemerataan pendidikan salah satunya adalah memberikan pendidikan yang layak bukan hanya pada anak normal, namun juga kepada anak penyandang kelainan atau ketunaan.
Amanat hak atas pendidikan bagi penyandang kelainan atau ketunaan ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 disebutkan bahwa: “Pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial.”
Pendidikan khusus atau Pendidikan Luar Biasa menurut Nasichin (2001:3) adalah “Pendidikan yang berusaha untuk menumbuhkembangkan semua potensi kemanusiaan peserta didik luar biasa baik yang menyandang kelainan maupun yang dikaruniai keunggulan secara optimal dan terintegrasi agar bemanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.” Pendidikan khusus ini dalam pengembangannya, diharapkan akan menyentuh seluruh aspek dan lapisan masyarakat yang berkebutuhan khusus dalam rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan rakyat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan kebutuhan anak berkelainan usia sekolah dengan profesional.
Anak penyandang kelainan atau ketunaan tersebut memiliki kebutuhan khusus. “Kebutuhan khusus” adalah istilah yang luas mengacu berbagai kebutuhan macam murid dengan masalah yang berbeda dan jauh lebih beragam dibanding dengan anak normal. The departement for education (Departemen Pendidikan) di Inggris dalam Muijs, Daniel & Reynolds, (2008:10) mendefinisikan sebagai berikut:
Sorang anak didefinisikan memiliki kebutuhan pendidikan khusus bila mengalami kesulitan dalam belajar yang secara signifikan lebih besar bila dibandingkan kebanyakan anak seusianya. Atau anak itu, memiliki disabilitas yang membutuhkan fasilitas pendidikan yang berbeda dengan pada umumnya disediakan oleh sekolah untuk anak-anak seusianya di bidang tersebut. Anak yang membutuhkan pendidikan khusus bukan hanya mereka yang memiliki kesulitan belajar yang kasat mata, misalnya disabilitas fisik, tunarungu, tunanetra, tetapi juga termasuk mereka yang memiliki kesulitan belajar yang tidak begitu kasat mata, misal lambat belajar, dan anak-anak yang rentan secara emosional dan mental.
Antara kelainan satu dengan jenis kelainan yang lain memiliki kebutuhan dan pelayanan khusus yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu retardasi mental atau tunagrahita. Tunagrahita dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Mentally Handicaped, Mentally Retardid. Berdasarkan pendapat Bratanata yang dikutip oleh Efendi, (2010:88) seseorang dikategorikan berkelainan mental atau tunagrahita “Jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (dibawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.”
Pada penelitian ini, penulis akan memfokuskan pembahasan pada anak tunagrahita ringan sebagai subyek penelitian, dalam ranah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada kompetensi dasar mengenal jenis-jenis pekerjaan.
Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) penulis kaji lebih dalam pada penelitian, karena melalui disiplin ilmu ini permasalahan pada aspek kehidupan lebih banyak memperoleh perhatian. Sedangkan kompetensi dasar mengenal jenis-jenis pekerjaan penulis pilih, untuk memberikan pemahaman sedini mungkin tentang materi mengenal jenis-jenis pekerjaan yang akan berguna ketika anak tunagrahita ringan terjun di masyarakat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan agar dapat dijadikan bekal hidupnya kelak. Diharapkan dengan adanya pemahaman yang
commit to user
lebih mendalam mengenai jenis-jenis pekerjaan pada anak tunagrahita ringan permasalahan yang mereka miliki, dapat dipecahkan berdasarkan esensi-esensi yang terkandung dalam disiplin ilmu sosial tersebut.
Anak tunagrahita ringan adalah anak yang mengalami/memiliki keterbatasan intelegensi dimana rentang antara 50 sampai 70. Pada umumnya, anak tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal. Oleh karena itu, agak sukar membedakan secara fisik antara anak tunagrahita ringan dengan anak normal. Walaupun tampilan fisik dari anak tunagrahita ringan hampir tidak mengalami kelainan, mereka mengalami hambatan dalam segi kognitif (intelektual), kemampuan fungsi sosial serta mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa dan bicara.
Anak tunagrahita ringan masih dapat mengembangkan fungsi kognitif seperti membaca, menulis dan berhitung sederhana. Namun, mereka memiliki kesetiaan ingatan yang lemah dibanding dengan anak normal. Dengan hambatan yang diderita tersebut, berdampak pula pada kemampuan mereka dalam mempelajari mata pelajaran IPS. Karena daya ingatan anak tunagrahita yang rendah, maka instruksi yang diberikan pada saat pembelajaran berlangsung harus berulang-ulang agar materi dapat diserap dan dipahami oleh anak tunagrahita ringan. Selain itu, untuk menyampaikan materi harus dikenalkan secara konkret serta tidak memakan waktu yang terlalu lama. Hal ini disebabkan, tunagrahita memiliki kecenderungan cepat bosan untuk melakukan hal yang sama secara berulang-ulang.
Disamping memiliki keterbatasan kognitif, Efendi (2010:102) memberikan pernyataan bahwa “Anak tunagrahita juga memiliki kemampuan sosial yang terbatas di masyarakat. Kelancaran seseorang untuk mencapai tugas perkembangan sosialnya, merupakan modal dasar yang sangat berarti untuk melakukan penyesuaian sosial secara baik.”
Kaitan hambatan ini dengan pembelajaran IPS pada anak tunagrahita ringan adalah mereka seringkali mengalami kesulitan untuk menerapkan dan mengembangkan materi mengenai jenis-jenis pekerjaan pada kehidupan sehari-
hari. Padahal pengembangan tersebut dimaksudkan, sebagai bekal pengetahuan bagi anak tunagrahita ringan dan untuk mengetahui kegunaan dan fungsi dari setiap pekerjaan yang ada di lingkungan sekitar. Kesulitan tersebut disebabkan karena rendahnya taraf kecerdasan yang mereka miliki yang berdampak pada ketidakmampuan mereka untuk bersosialisasi dan menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi di masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu strategi dan kerjasama dari pihak terkait untuk membantu anak tunagrahita ringan agar mencapai penyesuaian sosial dengan baik untuk mengaplikasikan pengembangan materi pekerjaan yang telah mereka terima di sekolah.
Anak bermental rendah (tunagrahita) juga mengalami hambatan kaitannya dengan bahasa dan kemampuannya dalam berbicara. Menurut pendapat Sunardi &
Sunaryo (2007:158) “Keterbelakangan mental menjadikan perkembangan bahasa anak tunagrahita terlambat. Penguasaan kosakatanya menjadi sangat terbatas, artikulasinya sering tidak jelas, intonasi datar, secara gramatikal sering terjadi kesalahan.”
Guru dalam memberikan materi pelajaran harus menggunakan bahasa yang sangat sederhana karena miskinnya pembendaharaan kata yang dialami oleh anak tunagrahita ringan. Menurut pendapat Efendi (2006:99) “Seringkali stimulasi verbal maupun non verbal dari lingkungannya gagal ditransfer dengan baik oleh anak tunagrahita.” Bahkan, hal-hal yang tampaknya sedarhana terkadang tidak mampu dicerna dengan baik. Akibatnya peristiwa kebahasaan yang lazim terjadi di sekitarnya menimbulkan keanehan pada dirinya. Kondisi demikian memicu keterlambatan penerimaan materi pelajaran pada anak, serta interaksi mereka terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar pun juga ikut terhambat.
Berdasarkan hasil observasi awal pada anak tunagrahita ringan kelas IV di SDLB C YPAC Semarang Tahun Ajaran 2012/ 2013, anak tidak menunjukkan keantusiasan dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Mereka lebih banyak mondar-mandir di kelas bahkan ada yang keluar dari kelas.
Dalam pengajaran mata pelajaran IPS tentang jenis-jenis pekerjaan, guru lebih banyak menggunakan metode menerangkan materi dengan menulisnya di papan
commit to user
tulis dan memberikan tugas menjawab soal-soal latihan sehingga proses belajar mengajar menjadi monoton dan membosankan.
Dari beberapa ulasan yang telah dipaparkan, maka dibutuhkan metode pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan-kebutuhan khusus anak penyandang tunagrahita ringan. Berbagai metode, telah banyak dikembangkan oleh ahli dibidang pendidikan, dengan pendekatan-pendekatan mengajar yang dianggap efektif untuk membantu anak mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Untuk mengukur efektif tidaknya pengaruh sebuah metode-metode pengajaran tidak hanya dari seberapa besar kita mampu mencapai tujuan dan mata pelajaran tertentu (seperti harga diri, keterampilan sosial, informasi, gagasan, dan kreativitas) tetapi juga seberapa besar kita meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan siswa belajar, yang merupakan tujuan dasar mereka bersekolah.
Cara penerapan suatu pembelajaran akan berpengaruh besar terhadap kemampuan siswa dalam mendidik diri mereka sendiri. Guru yang sukses bukan sekadar penyaji yang kharismatik dan persuasif. Lebih jauh, guru yang sukses adalah mereka yang melibatkan para siswa dalam tugas-tugas yang sarat muatan kognitif dan sosial dan mengajari mereka bagaimana mengerjakan tugas-tugas tersebut secara produktif. Pemilihan metode dalam pembelajaran, harus disesuaikan dengan keadaan anak, dalam pembelajaran pada anak tunagrahita ringan hendaknya strategi pembelajaran tersebut disesuaikan dengan ciri khas dan karakteristik yang mereka miliki.
Berdasarkan pendapat Piaget dalam Masganti, (2010:99) “Melalui bermain anak mempraktikkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya.” Salah satu bentuk bermain pada anak adalah bermain peran atau juga sering disebut dengan metode sosiodrama.
Istilah sosiodrama dan bermain peranan (role playing) merupakan dua istilah yang kembar, bahkan di dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dalam waktu bersamaan dan silih berganti. Metode ini, didasarkan pada tiga aspek utama dari pengalaman peran dalam kehidupan sehari-hari seperti; mengambil peran (Role- taking) yaitu tekanan ekspektasi-ekspektasi sosial terhadap pemegang peran dalam situasi sosial, Membuat peran (Role-making) yaitu kemampuan pemegang
peran untuk berubah secara drastis dari peran satu ke peran yang lain, dan tawar menawar peran (Role-negotiation) yaitu tingkat dimana peran-peran dinegosiasikan dengan pemegang peran yang lain dalam parameter dan hambatan interaksi sosial.
Diharapkan melalui metode ini kemampuan yang masih dimiliki anak dapat berkembang seperti yang dikemukakan oleh Zaini, Munthe & Aryani, (2007:101), “Melalui metode sosiodrama anak tunagrahita ringan mampu mengembangkan komunikasi yang baik, mengembangkan fantasi, terlibat dalam berbagai konteks, benda, angka dan huruf, mengembangkan keinginan yang kuat untuk berinteraksi serta meningkatkan keinginan untuk mengembangkan keakraban antar anak.”
Penulis mengukur keefektifan dari metode sosiodrama (Role Playing), untuk meningkatkan pemahaman pelajaran pada anak tunagrahita ringan. Mereka akan diajak untuk memerankan beberapa jenis pekerjaan yang menghasilkan jasa seperti guru, dokter dan jenis pekerjaan yang menghasilkan barang seperti berdagang dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelas. Menilik dari keunggulan-keunggulan dari metode sosiodrama (Role Playing) diatas, metode ini diharapkan cocok untuk mengakomodir kekurangan- kekurangan yang anak tunagrahita ringan alami yaitu pada kemampuan kognitif, sosial dan bahasa agar pengenalan jenis-jenis pekerjaan pada mata pelajaran IPS dapat meningkat.
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan maka penulis mengambil judul dari penelitian yang akan dilaksanakan yaitu: “Efektivitas Metode Sosiodrama (Role Playing) untuk Meningkatkan Pengenalan Jenis- jenis Pekerjaan pada Mata Pelajaran IPS bagi Anak Tunagrahita Ringan Kelas IV SDLB C YPAC Semarang Tahun Ajaran 2012/2013.”
B. Identifikasi Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah “Efektivitas Metode Sosiodrama (Role Playing) untuk Meningkatkan Pengenalan Jenis-jenis Pekerjaan
commit to user
pada Anak Tunagrahita Ringan Kelas IV SDLB C YPAC Semarang Tahun Ajaran 2012/2013.” Sehubungan dengan hal tersebut ada empat masalah yang dikaji dalam skripsi ini:
1. Hambatan yang dialami oleh anak tunagrahita membutuhkan layanan khusus untuk dapat mengembangkan potensi yang masih dimilikinya.
2. Masih banyak kemonotonan pada proses belajar mengajar, karena metode pengajaran yang belum sesuai dengan kebutuhan anak penyandang tunagrahita ringan.
3. Kemampuan mengenal jenis-jenis pekerjaan pada mata pelajaran IPS bagi anak tunagrahita ringan, merupakan faktor yang penting sebagai bekal pengetahuan ketika berada lingkungan masyarakat.
4. Metode sosiodrama (role playing) memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan hanya bermain, seperti misalnya: kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial yang diharapkan efektif untuk meningkatkan pengenalan jenis-jenis pekerjaan pada mata pelajaran IPS bagi anak tunagrahita ringan.
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini pembatasan masalah yang akan dibahas peneliti adalah:
1. Subyek dalam penelitian adalah anak tunagrahita ringan kelas IV SDLB C YPAC Semarang Tahun Ajaran 2012/ 2013.
2. Mata Pelajaran yang akan dibahas adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
3. Kompetensi dasar dalam penelitian adalah mengenal jenis-jenis pekerjaan tentang materi jenis-jenis pekerjaan yang menghasilkan barang, dan jenis- jenis pekerjaan yang menghasilkan jasa.
4. Metode yang digunakan adalah metode sosiodrama (Role Playing) yang digunakan untuk mengenalkan jenis-jenis pekerjaan kepada anak tunagrahita ringan.
D. Rumusan Masalah
Untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai arah penelitian, di bawah ini disajikan rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian, yaitu:
“Apakah metode sosiodrama (Role Playing) efektif terhadap peningkatan pengenalan jenis-jenis pekerjaan pada mata pelajaran IPS bagi anak tunagrahita ringan kelas IV SDLB C YPAC Semarang tahun ajaran 2012/2013?”
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian yang digunakan sebagai pedoman dan arah penelitian ini adalah: Untuk mengetahui efektivitas metode sosiodrama (Role Playing) terhadap peningkatan pengenalan jenis-jenis pekerjaan pada mata pelajaran IPS bagi anak tunagrahita ringan kelas IV SDLB C YPAC Semarang tahun ajaran 2012/2013.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan ilmiah dalam bidang pendidikan anak berkebutuhan khusus, khususnya tentang pentingya penerimaan orang tua terhadap anak tunagrahita serta dapat diterapkannya metode sosiodrama (Role Playing) pada pembelajaran di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Pembelajaran anak tunagrahita
Memberikan metode yang tepat unuk meningkatkan dan dapat memaksimalkan kemampuan anak tunagrahita khususnya kemampuan untuk mengenal jenis-jenis pekerjaan dan meningkatkan prestasi belajar.
commit to user
b. PenelitiMemberikan pengalaman yang nyata dalam melaksanakan penelitian sederhana dalam rangka mengembangkan diri melalui teknik – teknik ilmiah.
c. Peneliti lain
Diharapkan hasil penelitian yang telah dilakukan ini dapat dijadikan referensi untuk dilakukan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam dengan topik yang sama.