LITERATUR MEDIA, RUANG PUBLIK DAN CIVIL SOCIETY (ETIKA DAN HUKUM MEDIA)
Albert Pratama Aliambar (004138055994822)
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Green Economy dan Digital Communication
Surya University
Gedung 01 Scientia Business Park Jl. Boulevard Gading Serpong Bl 0/1 Summarecon
Serpong, Tangerang
Telp. 021-71026562-63
E-mail: [email protected]
1. Mengapa pertimbangan etika dan hukum diperlukan atau bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah kemestian berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi media? Jelaskan secara komprehensif dan berikan contoh kasusnya!
Moral dan etika pada hakekatnya merupakan prinsip dan nilai-nilai yang menurut
keyakinan seseorang atau masyarakat dapat diterima dan dilaksanakan secara benar dan layak.
Etika sendiri sebagai bagian dari falsafah merupakan sistem dari prinsip-prinsiop moral
termasuk aturan-aturan untuk melaksanakannya.
Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” dalam bentuk tunggal yang berarti kebiasaan. Etika merupakan dunianya filsafat, nilai, dan moral yang mana etika bersifat abstrak dan
berkenaan dengan persoalan baik dan buruk (Siti Syamsiyatun & Nihayatul Wafiroh, 2013).
Etika berfungsi umumnya untuk melindungi kepentingan manusia, sehingga
pelaksanaan jurnalistik wartawan dapat berlangsung dan dirasakan oleh manusia bahwa
pemberitaan tersebut berfungsi dan berkenan bagi rasa tenteram dan damai (Dahlan, 2011)
Tidak hanya etika yang harus diperhatikan, tapi ada juga hukum yang berperan sebagai
dinding pembatas ketika melakukan hal yang salah. Hukum menurut E. Utrecht adalah
himpunan petunjuk hidup yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya
ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh karenanya pelanggaran terhadap
petunjuk hidup itu dapat menimbulkan tindakan dari pemerintah masyarakat itu (Masriani,
Etika dan Hukum tersebut menjaga sebuah literasi media terhadap konsumennya.
Literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan
mengkomunikasikan pesan - pesan dalam berbagai bentuk literasi secara luas (Potter, 2004).
Menurut Adam dan Hamm literasi media merupakan kemampuan untuk menciptakan
makna pribadi dari simbol - simbol verbal dan visual yang kita dapat setiap hari dari televisi,
iklan, film, dan media digital (Potter, 2004).
Tamburaka (2013) mengutip pernyataan Silverblatt bahwa ada lima elemen literasi
media, yaitu:
1. Kesadaran akan dampak media pada individu dan masyarakat
2. Pemahaman atas proses komunikasi massa
3. Pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media
4. Kesadaran atas konten media sebagai sebuah teks yang memberikan pemahaman
kepada budaya kita dan diri kita sendiri
5. Pemahaman kesenangan, pemahaman, dan apresiasi yang ditingkatkan terhadap konten
media.
Contoh Kasus :
Kasus ini merupakan kasus Nikita Marzani yang menjadi bintang tamu dalam
Talkshow Kakek-Kakek Narsis yang menggoyangkan dadanya dan kasus Duo Serigala yang
dinilai sebagai prostitusi artis.
Apabila tayangan dengan unsur pornografi dan sensualitas menghiasi layar kaca dalam
jangka waktu lama terus terjadi, lambat laun akan menjadi hal biasa yang dianggap umum bagi
masyarakat. Unsur sensual tersebut akan tertanam dalam pikiran dan alam bawah sadar
anak-anak yang mengkonsumsinya (Arum, 2012).
Tayangan-tayangan tersebut dapat memberikan efek negatif bagi pemirsa, khususnya
anak. Efek tersebut dapat berupa efek kognitif, afektif, dan behavioral (E. Ardianto dan L.
Kumala, 2007). Oleh karena itu, Etika dan Hukum media menjadi sebuah filter sebelum sebuah
konsumsi media massa, karena ketika sudah tampil di media massa, semua orang sengaja atau
2. Bagaimana pandangan saudara mengenai ruang publik dan keterkaitannya dengan demokratisasi yang dianut oleh sebuah negara? Penjelasan dilengkapi contoh ruang publik di Indonesia, dikaitkan juga dengan kondisi civil society Indonesia!
Ruang Publik adalah sebuah ruang yang menjadi mediasi antara masyarakat dan negara
di mana publik mengatur dan mengorganisirnya sendiri sebagai pemilik opini public (Calhoun,
1993). Ruang publik ini ditujukan sebagai mediasi antara masyarakat dan negara dengan
memegang tanggung jawab negara pada masyarakat melalui publisitas.
Publisitas diartikan sebagai penyampaian hal-hal yang termasuk dalam "kepentingan
umum" pada negara melalui bentuk-bentuk yang secara sah menjamin kebebasan berbicara,
kebebasan pers dan kebebasan berserikat (Lesly, 1992).
Media massa dalam konteks ini memiliki fungsi memasok dan menyebarluaskan
informasi yang diperlukan untuk penentuan sikap, dan memfasilitasi pembentukan opini publik
dengan menempatkan dirinya sebagai wadah independen di mana isu-isu permasalahan umum
dapat diperdebatkan (Hidayat, 2001).
Oleh karena itu media massa harus memiliki kemandirian serta bebas dari pengaruh
dan dominasi kelompok-kelompok yang ada dalam publik, kepentingan negara serta tekanan
pasar.
Menurut Habermas, pemanfaatan Public sphere di bidang politik secara optimal
ditandai dengan adanya kondisi demokratis dalam skala yang luas yang ditandai dengan
berfungsinya public sphere, yaitu ruang yang mempertemukan kehidupan politis dan sosial, di
luar alat-alat/lembaga-lembaga negara yang formal, yang terdiri atas warganegara yang terlibat
dalam debat-debat publik yang penting (Calhoun, 1993).
Dengan kondisi UU di Indonesia yang terkadang kurang mendalam dan tumpang tindih
menjadikan pemilik modal menggunakan media sebagai instrumen kekuasaan mereka. Pemilik
modal mengontrol dan mengendalikan isi media sesuai
dengan tujuan mereka. Dalam pendekatan ini, pola dan jenis pemberitaan ditentukan oleh
kekuatan-kekuatan ekonomi yang secara dominan menguasai pemberitaan (Kadarsih, 2008).
Indonesia memiliki kecenderungan adanya institusi tertentu menutup terhadap dialog
tentang kebebasan sehingga kebebasan tidak pernah dapat diuji dalam sebuah perdebatan
publik secara terbuka, yang mengakibatkan rendahnya keterlibatan publik yang tentu saja
menghasilkan kebijakan yang rendah derajat kepublikannya. Hubungan antara media dan
pendapat, sedangkan masyarakat merupakan refleksi dari hak untuk memperoleh informasi
(Kadarsih, 2008).
Sedangkan menurut Mc Nair dalam Budi Irawanto (1999) fungsi ideal yang harus
dijalankan oleh media komunikasi dalam mendukung demokratisasi adalah:
1) Menginformasikan pada warga negara apa yang tengah terjadi di sekitar mereka. Artinya
media massa di sini tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari masyarakat.
2) Mengedukasi makna dan signifikasi sebuah fakta. Ini ditunjukkan dengan keharusan
seorang jurnalis untuk menjaga obyektivikasi mengingat perannya sebagai edukator.
3) Memberikan platform bagi diskusi publik mengenai politik, memfasilitasi terbentuknya
opini publik, dan mengembalikan opini itu ke publik kapanpun. Media massa hendaknya
memberikan ruang bagi masyarakat manapun secara seimbang.
4) Pers harus bisa menjalankan fungsinya sebagai anjing penjaga (watchdog). Dengan
demikian opini publik akan benar-benar memiliki makna jika siapapun yang sedang
memegang kekuasaan dapat diawasi secara publik.
5) Media sebagai saluran advokasi bagi beragam pandangan politik. Jika hal tersebut di atas
dapat diwujudkan niscaya ruang publik akan terlindungi dari intervensi ataupun pasar
sehingga akses ke kawasan public sphere akan terbuka lebar bagi semua masyarakat dan
tidak ada pengistimewaan untuk pihak-pihak tertentu.
Realitas kehidupan civil society atau masyarakat sipil di Indonesia sangatlah menarik,
dimana gerakan kemasyarakatan tumbuh dengan subur, mengindikasikan rasa tidak cukup puas
masyarakat sipil terhadap peran negara. Lembaga Swadaya Maysarakat (LSM) pun menjamur
karena sangat dibutuhkan sebagai pengimbang negara dan kekuatan untuk memberdayakan
masyarakat marginal. Fenomena ini perlu disambut dan dilihat secara positif dalam rangka
berlomba-lomba untuk melakukan yang terbaik.
Ada beberapa tujuan menurut Suwondo (2005) dibangunnya Civil Society di Indonesia, yaitu:
a. Kemandirian individu sebagai warga negara
Kemandirian individu sebagai warga Negara yang dimaksud adalah individu bisa mengerti
akan pentingnya peranan mereka dalam membatu perkembangan bangsa Indonesia.
b. Jaminan Hak Asasi Manusia
Sebagaimana yang telah tertulis dalam Undang Undang Dasar Negara Rebublik Indonesia
bertujuan agar warga Negara dapat dengan tenang melakukan segala aktivitasnya dan
pastinya tidak mengganggu kepentingan orang lain.
c. Kebebasan bicara dan menyatakan pendapat
Civil Society yang memiliki tujuan untuk menjadi masyarakat yang patuh akan hukum dan
juga memiliki prinsip demokrasi dan juga dapat mempengaruhi kebijakan umum hal
tersebut diperlukan dengan adanya keberanian mengungkapkan pendapat yang kemudian
disatukan dalam sebuah wadah (LSM).
d. Keadilan yang merata
Keadilan merata bagi seluruh warga Negara baik dalam bidang hukum maupun pelayanan
masyarakat lainnya.
e. Pembagian sumber daya ekonomi
Pembagian sumber daya ekonomi yang merata sehingga masyarakat dapat hidup lebih
mandiri dan tidak selalu tergantung kepada pemerintah saja dan menunggu bantuan bantuan
yang diberikan oleh pemerintah.
Kesimpulan
1. Etika dan Hukum media adalah sebuah prasyarat sebelum sebuah melakukan produksi,
distribusi, dan konsumsi media. Hal ini harus sangat ditata mengingat, bahaya yang
dihasilkan ketika hal ada konten pornografi, kekerasan, pencemaran nama baik, dan
sebagainya tersebar akan menimbulkan perpecahan dan memperngaruhi mental bangsa,
khususnya generasi penerus bangsa yang belum mengerti tentang hal seperti itu.
2. Indonesia merupakan negara yang berasaskan demokrasi yang berarti semua orang
dapat berpendapat dan menyalurkan aspirasinya. Ruang publik di Indonesia saat ini
sudah semakin baik semenjak beralih dari orde baru yang kala itu di monopoli oleh
pemerintahan Suharto. Namun, masih ada beberapa kali oknum yang tidak bertanggung
jawab memprovokasi untuk mencemari ruang publik Indonesia. Oleh karena itu, sangat
diperlukan wadah untuk lebih ketat menjaga keseimbangan ruang publik, dan lebih lagi
setiap masyarakat harus memiliki kesadaran akan ruang publik yang berarti bukan
References
Arum, T. S. (2012). LITERASI MEDIA TELEVISI PADA ORANGTUA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERILAKU MENONTON ANAK.
Calhoun, C. (1993). Habermas and The Public Sphere. New York: MIT Press.
Dahlan, A. C. (2011). HUKUM, PROFESI JURNALISTIK, DAN ETIKA MEDIA MASSA. Jurnal Hukum, Vol. XXV.
E. Ardianto dan L. Kumala. (2007). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Hidayat, D. N. (2001). Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LKiS. Irawanto, B. (1999). FILM, IDEOLOGI, DAN MILITER. Yogyakarta: Media Pressindo.
Kadarsih, R. (2008). DEMOKRASI DALAM RUANG PUBLIK: Sebuah Pemikiran Ulang untuk Media Massa di Indonesia. Jurnal Dakwah Vol. IX.
Lesly, P. (1992). Public Relation Handbook. New York: Prentice Hall.
Masriani, Y. T. (2004). Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta: PT. Sinar Grafika.
Potter, W. J. (2004). Theory Of Media Literacy: A Cognitive Approach. America: Sage Publication. Rakhmat, J. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Siti Syamsiyatun & Nihayatul Wafiroh. (2013). Filsafat, Etika, dan Kearifan Lokal untuk Kontruksi Moral Kebangsaan. Geneva: Globethics.net.
Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara. Suwondo, K. (2005). Civil Society di Aras Lokal. Semarang: PT. Pustaka Percik.