BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Diskursus tentang hisab rukyah mendadak menjadi perhatian publik setiap kali akan masuk bulan Ramadhan, Syawwal atau pun Dzulhijjah. Terlebih ketika terdengar berita bahwa awal puasa, perayaan hari raya idul fitri atau idul adha yang diprediksi akan terjadi perbedaan antara ormas di Indonesia. Seketika pembahasan tentang hisab rukyah intens disiarkan lewat media massa, baik cetak maupun elektronik.
Perbedaan seputar awal bulan kamariah sebenarnya tidak hanya terjadi akhir-akhir ini. Snouck Hurgronje mencatat bahwa perbedaan awal bulan kamariyah di Indonesia bahkan telah terjadi pada masa kolonialisme. Dalam surat yang ia kirim untuk Gubernur Jenderal Belanda disebutkan :
“Tak usah heran jika di negeri ini hampir setiap tahun timbul perbedaan tentang awal dan akhir puasa. Bahkan terkadang perbedaan itu terjadi antara kampung-kampung yang berdekatan.” (Ahmad Izzudin, 2007:43)
Padahal pada zaman Rasulullah SAW tidak pernah terjadi perbedaan awal bulan kamariyah dalam satu wilayah negara. Di sinilah penulis menganggap penting membahas historitas hisab rukyah, terutama yang berkaitan dengan penentuan awal bulan kamariah yang terjadi pada zaman Rasulullah dibandingkan dengan kondisi yang terjadi sekarang.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang diungkapkan dalam latar belakang di atas akan dibahas dalam tulisan ini dengan rumusan sebagaimana berikut :
1. Bagaimana sejarah pemikiran hisab rukyat dalam penentuan awal bulan kamariah di zaman Rasulullah?
BAB II
A. Pemikiran Hisab Rukyat dalam Penentuan Awal Bulan Kamariah di Zaman Rasulullah SAW
Rasulullah lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun gajah (Izzudin Ibnu Atsir, 1997:416). Dalam kalender masehi, hal tersebut bertepatan dengan tanggal 5 Mei 570 M (T. Djamaluddin, 2005:122). Pada masa itu, ilmu pengetahuan dan tekhnologi belum begitu maju. Teleskop optik masih belum ditemukan. Baru kemudian ditemukan yakni pada abad 17 M (Moedji Raharto, 2003:1).
Dalam observasi benda langit, umat Islam belum mengenal optik atau alat-alat canggih sekelas teleskop. Mereka melihat fenomena langit cukup dengan mata telanjang. Dalam satu hadist disebutkan (Bukhori, 2001:281) :
اَبَأ ُتْعِمَس :َلاَق ،ٍداَيِز ُنْب ُدّمَحُم اَنَثّدَح ،ُةَبْع ُش اَنَثّدَح ، ُمَدآ اَنَثّدَح
R.A. berkata, “Rasulullah SAW bersabda atau mengatakan bahwa ayahnya Qasim SAW berkata, “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Apabila kalian terhalang mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.Dalam hadist tersebut yang dimaksud dengan rukyah adalah melihat hilal dengan mata telanjang (Susiknan Azhari, 2012:183). Karena memang pada waktu itu umat Islam belum mengenal optik atau pun teleskop. Jadi, praktek rukyah yang dilaksanakan pada zaman Nabi adalah rukyah dengan mata telanjang.
Namun bila hilal terhalang oleh mendung, maka jumlah bilangan bulan itu harus digenapkan menjadi 30 hari terlebih dahulu.
Dalam kondisi seperti itu, Nabi menjumpai 9 kali bulan Ramadhan, yakni mulai dari hari Ahad, 26 Februari 624 M sampai dengan Ahad, 1 Desember 631 M. Dari 9 kali bulan Ramadhan tersebut, terjadi 6 kali bulan Ramadhan dengan umur 29 hari dan 3 kali dengan umur 30 hari (T. Djamaluddin, 2005:134). Lebih jelasnya bisa diperhatikan tabel di bawah ini.
Posisi hisab pada masa itu tidak dipakai sebagai metode penentuan awal bulan Ramadhan atau pun Syawwal. Dalam suatu hadistnya disebutkan (Bukhori, 2001:27) :
ُنْب ُديِعَس اَنَثّدَح ،ٍسْيَق ُنْب ُدَوْس
َ لا اَنَثّدَح ،ُةَبْع ُش اَنَثّدَح ،ُمَدآ اَنَثّدَح
ىّلَص ّيِبّنلا ِنَع ،اَمُهْنَع ُهّللا َيِضَر َرَمُع َنْبا َعِمَس ُهّن
َأ ،وٍرْمَع
، ُبُسْحَن َلَو ُبُتْكَن َل ،ٌةّيّمُأ ٌةّمُأ اّنِإ« :َلاَق ُهّنَأ ، َمّلَسَو ِهْيَلَع ُهللا
َنيِثَلَث ًة ّرَمَو ،َنيِر ْشِعَو ًةَعْسِت ًة ّرَم يِنْعَي »اَذَكَهَو اَذَكَه ُرْه ّشلا
Artinya :
Kita diceritai Adam, kita diceritai Aswad bin Qais, kita diceritai Sa’id bin ‘Amr, bahwa ia mendengar Ibnu Umar RA dari Nabi SAW, beliau berkata : Kita adalah ummat yang ummi, tidak bisa menulis dan menghitung. Bulan itu seperti ini, yaitu terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari.
B. Pemikiran Hisab Rukyat Di Zaman Sekarang
Seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, pemikiran tentang hisab rukyah pun juga turut berkembang. Rukyah yang dulu hanya memakai mata telanjang, kini ada yang mengembangkannya dengan memakai teleskop (Susiknan Azhari, 2007:117). Dan hisab yang dahulu diabaikan dalam penentuan awal bulan Ramadhan maupun Syawwal kini ada golongan yang memakainya sebagai pedoman penentuan awal bulan kamariah, dengan parameter wujud al-hilal atau yang sering disebut hisab wujud al-hilal (Syamsul Anwar, 2012:27). Dari sini permasalahan pun muncul. Yakni ketika hasil hisab wujud al-hilal sudah masuk bulan berikutnya tapi dari hasil rukyat belum. Pada kondisi ini, perbedaan awal bulan kamariah akan terjadi. Ini sebagaimana fenomena yang terjadi di Indonesia belakangan ini.
Dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawwal atau pun Dzulhijjah di Indonesia, setidaknya ada 3 kelompok yang menjadi sorotan, yaitu Pemerintah, ormas Nahdhatul Ulama’ (NU) dan ormas Muhammadiyah. Dalam hal ini, pemerintah memakai hisab imkanurrukyah, sedangkan NU memakai rukyah dan Muhammadiyah memakai hisab wujudul hilal. Bagi pemerintah awal bulan bisa ditetapkan apabila kondisi hilal mungkin untuk bisa dilihat atau memenuhi kriteria imkanurrukyah MABIMS. Adapun bagi NU, awal bulan bisa ditetapkan jikalau hilal berhasil dilihat. Sedangkan bagi Muhammadiyah, awal bulan sudah bisa ditetapkan meskipun belum mungkin untuk bisa dilihat, namun sudah di atas ufuk.
dari Jawa Timur dan Cakung. Sementara itu, Muhammadiyyah sejalan dengan keputusan Pemerintah yaitu 1 Syawal 1413 H jatuh hari Kamis Pon, 25 Maret 1993 M (Slamet Hambali, 2014:4).
Dan dalam penentuan 1 Syawwal 1414 H., tinggi Bulan pada saat itu di POB Pelabuhan Ratu sebesar -1° 56’ 26”. Menteri Agama atas nama Pemerintah RI melalui sidang isbat menetapakan 1 Syawal 1414 H., jatuh pada hari senin Pahing, 14 Maret 1994 M., atas dasar istikmal dan menolak laporan hasil rukyah hilal dari Jawa Timur dan Cakung. Sedangkan NU mengikhbarkan bahwa 1 Syawwal 1414 H., jatuh hari Ahad Legi, 13 Maret 1994 M. atas dasar adanya laporan rukyah dari Jawa Timur dan Cakung. Dan sekali lagi, Muhammadiyyah sejalan dengan keputusan pemerintah yaitu 1 Syawal 1414 H jatuh pada hari Senin Pahing, 14 Maret 1994 (Slamet Hambali, 2014:4).
Seiring berjalannya waktu, NU tampaknya tidak lagi sembarangan melihat hasil rukyah. Tidak semua pengakuan melihat hilal diterima begitu saja. Ada pertimbangan lain ketika memutuskan untuk menerima atau menolak hasil rukyah, yakni dengan mempertimbangkan kriteria imkanur rukyah.1 Hal ini terlihat saat
penentuan awal Syawwal 1418 H./1998 M. Pada waktu itu, tinggi Hilal di POB Pelabuhanratu sebesar 0° 13’ 14”. Menteri Agama atas nama Pemerintah RI melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal 1418 H jatuh hari Jum’at Kliwon, 30 Januari 1998 M atas dasar istikmal dan menolak laporan hasil rukyah hilal dari Jawa Timur.
Dan PBNU pun mengikhbarkan bahwa 1 Syawal 1418 H jatuh pada hari Jum’at Kliwon, 30 Januari 1998 M sama dengan keputusan pemerintah atas dasar istikmal dan menolak kesaksian rukyah dari Jawa Timur dan Cakung karena kesaksian tersebut dianggap belum memenuhi kriteria imkan rukyah dan dianggap bertentangan dengan hisab yang mu’tabar dan telah mencapai tingkat mutawatir. Sehingga pada tahun-tahun setelahnya NU cenderung bersamaan dengan pemerintah dalam menetukan tanggal 1 bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah.
Sedangkan Muhammadiyah pada mulanya dari tahun 1992 M cenderung bersamaan dengan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Ramadhan, Syawwal maupun Dzulhijjah. Terjadinya perbedaan antara Muhammadiyah dan Pemerintah tercatat baru terjadi ketika penentuan awal bulan Syawwal 1418 H./1998 M. Menteri Agama atas nama Pemerintah RI melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal 1418 H jatuh pada hari Jum’at Kliwon, 30 Januari 1998 M. Sedangkan Muhammadiyyah menetapkan 1 Syawal 1418 H. Jatuh pada hari Kamis Wage, 29 Januari 1998 M.
Perbedaan awal bulan kamariah antara Muhammadiyah dan Pemerintah tidak hanya terjadi pada waktu itu. Fenomena itu terulang ketika penetapan awal bulan Syawwal 1427 H./2006 M., 1428 H./2007 M, 1432 H./2011 M., Ramadhan 1433 H./2012 M., 1434 H./2013 M, 1435 H./2014 M., dan Dzulhijjah 1435 H/2014 M (Slamet Hambali, 2014:4).
C. Analisis
Apabila ditelaah lebih lanjut, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya
perbedaan dalam penentuan awal bulan kamariah di Indonesia.
Hadist perintah rukyah, bagi orang NU dipahami secara tekstual. Menurutnya, karena objek rukyahnya berupa materi yang tampak, rukyah harus diartikan dengan “melihat”. Namun tidak demikian dengan orang Muhammadiyah. Menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif melihat juga bisa dengan ilmu pengetahuan atau rukyah bil ‘ilmi
(Susiknan Azhari, 2007:136). Syamsul Anwar mengatakan bahwa perintah rukyat itu didasarkan atas suatu kausa (illat) yaitu karena kondisi ummat Islam pada waktu itu masih ummi. Karena illat dari hadist tersebut dirasa sudah hilang, maka berubah pula hukumnya. Menurutnya, Hisab pun kini boleh dipakai dalam menentukan awal bulan kamariah (2014:272).
Kedua, karena perbedaan metode penentuan awal bulan kamariah yang dipakai. Rukyah yang dipakai oleh orang NU mengharuskan hilal penentu awal bulan kamariah bisa dilihat, tidak cukup berada di atas ufuk. Namun tidak demikian dengan hisab wujudul hilal. Baginya hilal sebagai penentu awal bulan kamariah tidak harus bisa dilihat, namun cukup di atas ufuk. Di sinilah penulis menilai ada pemahaman yang parsial dalam memahami tuntunan penentuan awal bulan kamariah. Ketika perintah rukyah dilanjutkan dengan perintah ikmal (penyempurnaan bilangan bulan menjadi 30 hari) atau iqdar (mengestimaksikan/memperkirakan), yang dikehendaki dari iqdar (estimasi) sendiri adalah perkiraan bisa dilihatnya hilal pada kondisi lazimnya (Muhammad Az-Zarqoni, 1936:154). Maka dari itu, pemahaman yang lebih tepat dengan adanya susulan perintah iqdar adalah cenderung ke metode hisab imkanurrukyah, bukan hisab wujudul hilal.
Ketiga, tidak adanya otoritas tunggal yang diakui dan diikuti oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
Pada masa Rasulullah SAW, beliau sendirilah yang menjadi pemimpin agama sekaligus negara bagi semua umat Islam. Sehingga ketika ada suatu permasalahan yang muncul, beliaulah satu-satunya tempat meminta pendapat atau fatwa. Dan tidak ada satupun yang berani berbeda dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Rasul.
Namun, fenomena yang terjadi di Indonesia sangatlah berbeda. Kendati seluruh umat Islam di Indonesia sepakat untuk menaati ulil amri, namun mereka mempunyai pandangan sendiri terkait ulil amri. Bagi mereka ulil amri yang mereka ikuti bukanlah pemerintah, melainkan ormas yang dipilihnya. Di sinilah kerumitan untuk menyatukan perbedaan awal bulan kamariah di Indonesia.
Menurut hemat pebulis, meskipun pada awalnya terdapat perbedaan antara ormas, namun ketika pemerintah sudah memberikan ketetapan, seharusnya ormas yang ada juga harus mengikui ketetapan tersebut. Karena dalam suatu kaidah fiqih disebutkan :
افلخلا عفري و ماللا مكاحلا مكح
“Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat” (Kemenag, 2013:390)
KESIMPULAN
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada zaman rasulullah, penentuan awal bulan kamariah hanya sebatas dengan rukyah 2. Seiring berkembangnya tekhnologi dan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam,
muncul pula metode baru dalamm menentukan awal bulan kamariah, yakni hisab. Dari sini, muncul perbedaan awal bulan Ramadhan dan Syawwal di Indonesia.
3. Apabila ditelaah lebih lanjut, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan awal bulan kamariah di Indonesia, yaitu :
a. Perbedaan pemahaman nash-nash yang berkaitan dengan masalah hisab rukyat b. Perbedaan metode penentuan awal bulan kamariah yang dipakai
DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Aini, Badruddin, tt, ‘Umdatul Qari Syarhi Shohih al-Bukhori, Beirut: Daru Ihya’ Turast Azhari, Susiknan, 2007, Hisab&Rukyat (Wacana untuk Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan), Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Anwar, Syamsul, & Kawan-kawan, 2012, Hisab Bulan Kamariah (Tinjauan Syar’i tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah), Yogyakarta : Suara Muhammadiyah Anwar, Syamsul, 2014, Diskusi & Korespondensi Kalender Hijriah Global, Yogyakarta : Suara Muhammadiyah
Azhari, Susiknan, 2012, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Az-Zarqoni, Muhammad, 1936 Syarh Az-Zarqoni ‘ala Muwatthoi al-Imam Malik, Beirut : Darul Fikr
Bukhori, 2001, Shahih Bukhori, Damaskus:Daru Thouqi al-Najah
Djamaluddin, T., 2005, Menggagas Fiqih Astronomi, Bandung :Kaki Langit
Hambali, Slamet, 2014, “Kriteria Penampakan Hilal”, Makalah, International Confrence dengan tema “Crescent Visibility: An Effort to Find an Objective Crescent Visibility Criterion”, Semarang, 10 November
Kementrian Agama, 2013, Ephemeris Hisab Rukyat, Jakarta : Direktorat urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jendral Bimbingan Islam Kementrian Agama RI
Nashirudin, Muh, 2013, Kalender Hijriyah Universal (Kajian atas Sistem dan Prospeknya di Indonesia), Semarang : el-Wafa
Raharto, Moedji, 2003, “Teknologi Optik Sebagai Pembantu Penetapan Awal Bulan Hijriyah/ Kamariah,” Makalah, Seminar Hisab Rukyat Badan Litbang Agama dan Dklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jakarta, 20-22 Mei
+ Referensi,