ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN PADA TANAMAN TEBU
LAPORAN PRAKTIKUM
Diajukan Guna Memenuhi Laporan Praktikum Mata Praktikum Budidaya Tanaman Perkebunan
Oleh:
NAMA : DIYAH NATALIA A.
NIM : 131510501164
GOLONGAN : A
KELOMPOK : 4 (empat)
LABORATORIUM AGROTEKNOLOGI PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu tanaman yang sangat berguna bagi masyarakat karena sebagai bahan baku untuk membuat gula pasir, dan sumber utama rasa manis pada sebagian besar makanan dan minuman. Tanaman Tebu merupakan tanaman yang saat ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tanaman ini dapat dengan mudah ditemukan di Indonesia, bahkan terdapat perkebunan tebu yang khusus dibuat untuk memproduksi gula pasir. Luas areal tanaman tebu di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 436.500 ha dengan produksi gula nasional sebesar 2.668.427 ton. Industri gula di Indonesia pernah mengalami kejayaan sebelum perang dunia II, yaitu sekitar tahun 1930-an. Pada saat itu Indonesia adalah pengekspor gula terbesar di dunia dengan produksi hampir mencapai tiga juta ton per tahun. Tetapi setelah terjadi krisis ekonomi dunia dan perang dunia II, produksi gula Indonesia menurun dan belum mampu mengimbangi besarnya konsumsi yang semakin meningkat baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan.
Budidaya tanaman tebu yang baik sangat bergantung pada iklim dan cuaca. Tebu akan tumbuh dengan sangat baik di daerah beriklim panas, seperti Indonesia ini, dengan suhu 25 sampai 28 derajat Celsius. Selain itu, daerah yang paling baik untuk ditanami tebu adalah daerah dengan curah hujan 100 mm/tahun. Jenis tanah yang paling baik untuk ditanami tanaman tebu adalah jenis tanah alivial, regosol, podsolik atau mediteran. Kandungan pH dalam tanah yang paling baik untuk tanaman tebu adalah antara 6,4 sampai 7,7 atau keadaan keasaman netral. Hal ini penting dalam teknik budidaya agar bisa menghasilakn tebu yang baik. Budidaya tanaman tebu yang benar sangat menentukan keberhasilan produksi tebu agar dapat memenuhi kebutuhan gula nasional.
memproduksi gula tebu. Kerugian yang disebabkan oleh hama tebu di Indonesia ditaksir dapat mencapai 75%. Lebih dari 100 jenis hama yang menyerang tebu. Sebagian besar hama tersebut berasal dari jenis serangga. Adapun hama dan penyakit yang sering muncul pada tanaman tebu adalah hama tikus, penyakit fusarium pokkahbung juga berpotensi menyerang tebu. Penyebab jamur gibbrella moniliformis. Tandanya daun klorosis pada tebu, yakni pelepah daun tidak sempurna dan pertumbuhan terhambat, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng serta terjadi pembusukan dari daun hingga ke batang. Daun-daun klorotis akan ongering, biasanya pada pucuk daun dan umumnya daun-daun akan melipat sepanjang garisgaris tadi. Jika daun terserang hebat, seluruh daun bergarisgaris hijau dan putih.
Penyakit berikutnya yang umum ditemukan pada tebu yaitu dongkelan. Penyebabnya berupa jamur Marasnius sacchari, yang biasa mempengaruhi berat dan rendemen tebu. Gejala, tanaman tua sakit tiba-tiba, daun mengering dari luar ke dalam. Penyakit Blendok, disebabkan oleh bakteri Xanthomonas albilincans mula-mula muncul pada umur 1,5-2 bulan setelah tanam. Hama penyakit tersebut sangat merugikan dalam budidaya tanaman tebu. Oleh karena itu mengetahui dan mengenali organisme pengganggu tanaman tebu sangat penting untuk diketahui agar dapat menentukan tindakan yang harus diambil ketika hama penyakit menyerang tanaman maupun proteksi pada tanaman.
1.2 Tujuan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Tebu merupakan suatu tanaman jenis rumput-rumputan yang termasuk kelas Monocotyledonae, ordo Glumiflorae, keluarga Gramineae dengan nama ilmiah Saccharum officinarum L. Terdapat lima spesies tebu yang diketahui, yaitu Saccharum spontaneum (glagah), Saccharum sinensis (tebu Cina), Saccharum barberry (tebu India), Saccharum robustum (tebu Irian) dan Saccharum officinarum (tebu kunyah). Sejak ditanam sampai bisa dipanen, umur tanaman tebu mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tanaman tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera (Chandel et al, 2011). Tanaman tebu merupakan tanaman tropis yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan gula. Gula yang dihasilkan dari tebu merupakan satu dari sembilan bahan pokok yang menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang merupakan komoditi penting di Indonesia karena tanaman tebu memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jumlah permintaan tebu sebagai bahan baku gula setiap tahunnya meningkat sehingga diharapkan produksi tebu meningkat pada tiap tahunnya (Suwarto dkk, 2014).
tahun 2008 mencapai 436.500 ha dengan produksi gula nasional sebesar 2.668.427 ton (Andaka, 2011).
Kebutuhan gula di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun dan belum mampu dipenuhi hingga saat ini. Salah satu kendala dalam budidaya tebu adalah adanya serangan berbagai jenis hama disepanjang pertumbuhan tanaman. Serangan hama dan penyakit pada pertanaman tebu merupakan hambatan utama dalam memproduksi gula tebu. Kerugian yang disebabkan oleh hama tebu di Indonesia ditaksir dapat mencapai 75%. Lebih dari 100 jenis hama yang menyerang tebu. Sebagian besar hama tersebut berasal dari jenis serangga. Jenis serangga yang menyerang tebu diantaranya adalah hama penggerek tebu (Admin dkk, 2012).
Hama penggerek merupakan hama yang paling merugikan pada tanaman Graminae di seluruh dunia. Hanya tebu di kawasan Australia dan Fiji yang bebas dari serangan penggerek yang ganas. Penggerek termasuk dalam ordo Lepidoptera, yang terdiri dari ngengat (sayap berwarna kusam) dan kupu-kupu (sayap berwarna warni dan cerah). Penggerek dari jenis Lepidoptera biasanya menimbulkan kerusakan paling besar dibandingkan dengan penggerek dari jenis Coleoptera. Bagian tanaman yang diserang, ngengat penggerek dibedakan atas penggerek pucuk, penggerek batang, penggerek tunas, dan penggerek akar. Penggerek tunas kadang juga menjadi penggerek batang jika menyerang tanaman tua. Jenis penggerek tebu yang sering merusak dan menimbulkan kerugian yang cukup besar salah satunya adalah penggerek pucuk tebu (Scirpophaga excerptalis). Hama ini dapat ditemui di beberapa negara di Asia Tengah hingga Tenggara, Papua Nugini, dan Indonesia (Widiastuti dkk, 2014).
membengkoknya batang tanaman tebu akibat gejala lanjutan dari stadium dua. Pada stadium ini jamur F. moniliformae menyerang titik tumbuh dan menyebabkan pembusukan yang disertai bau tidak sedap dan serangan yang lanjut dapat menyebabkan matinya tanaman (Pratiwi dkk, 2013).
Penyakit Ratoon Stunting Disease (RSD) atau penyakit pembuluh tebu adalah penyakit yang sulit dideteksi berdasarkan gejala visual. Saat ini penyakit tersebut telah tersebar di seluruh pertanaman tebu di Indonesia dengan persentase serangan antara 10–100%. Penyakit pembuluh (RSD) disebabkan oleh bakteri Clavibacter xyli. Batang yang terserang penyakit pembuluh tidak mesti menunjukkan gejala luar, tetapi apabila batangnya dibelah maka di bagian dalamnya akan terlihat perubahan warna (discoloration) kemerahan pada bagian pembuluh terutama di bagian buku. Perubahan warna ini dapat pula disebabkan oleh penyakit tebu lainnya sehingga belum tentu dapat dikatakan sebagai gejala pasti penyakit pembuluh. Satu–satunya yang dapat memastikan adalah uji serologi. Pada beberapa varietas, tunas–tunas muda juga akan mengalami perubahan warna menjadi berwarna pink. Penularan utama penyakit pembuluh adalah melalui benih. Benih tebu yang terinfeksi berpotensi menularkannya pada benih sehat, baik pada saat penebangan, pemotongan ataupun pengangkutan. Untuk mencegah penyebarannya, maka diupayakan penyediaan benih tebu yang bebas/tidak terinfeksi penyakit pembuluh, salah satunya yaitu dengan penyediaan benih tebu yang berasal dari kultur jaringan. Metode yang digunakan untuk mencegah penularan penyakit pembuluh pada benih konvensional adalah dengan perlakuan Hot Water Treatment (HWT) sebelum penanaman (Ghai et al, 2013).
menyempit. Pengendalian yang pernah dilakukan terhadap penyakit sereh tanaman tebu yakni dengan melaksanakan program perbaikan yang intensif melalui persilangan antar spesies tanaman tebu, yaitu antara tebu (Saccharum officinarum) dan gelagah (S. Spontaneum). Pada tahun 1901 telah dihasilkan beberapa klon unggulan harapan (Mangoendidjojo, 2003).
Whip Smut merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Ustilago Scitamineae. Klamidisopora berwarna hijau zaitun sampai coklat, bulat atau berbentuk tidak teratur, dengan garis tengah 4-9 µm permukaannya licin atau dengan tonjolan-tonjolan halus. Klamidiospora berkecambah membentuk promiselium yang pendek, bersel 3 atau 4. Tiap sel membentuk hifa yang dapat mengadakan infeksi atau membentukhifa atau membentuk sporadium sekunder. Daun muda berubah bentuk dan fungsinya. Bentuk bulat memanjang menyerupai cambuk, berwarna hitam, berukuran lebih kurang sebesar pensil. Pada cambuk tersebut menempel berjuta-juta spora jamur yang menyerupai jelaga hitam, diliputi oleh selaput tipis dan akan pecah setelah masak sehingga spora tersebar. Spora-spora ini mudah tersebar oleh angin, sehingga dari cambuk tadi hanya pusatnya yang tertinggal (Farooq et al, 2014).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum mata kuliah “Budidaya Tanaman Perkebunan” dengan acara praktikum Organisme Pengganggu Tanaman Tebu dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 17 Oktober 2015, pukul 07.00 sampai 09.00 WIB di Agrotechno park Jubung.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
1. Alat tulis 2. Kamera
3.2.2 Bahan 1. Tanaman tebu 2. Worksheet
3.3 Cara Kerja
1. Mengamati OPT pada tanaman kakao sesuai dengan worksheet yang ada. 2. Mengambil gambar OPT maupun gejala serangan yang ada di lapangan dengan
menggunakan kamera.
3. Menggambar yang telah diperoleh dan mendekripsikan secara singkat dan membandingkan dengan gambar dari literature.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 4.1 Tabel Pengamatan Hama Tanaman Kopi
No Nama Gambar Keterangan
Tabel 4.2 Hasi Pengamatan Penyakit Tanaman Kopi
3. Penyakit RSD 1. Pertumbuhan tanaman
oleh virus 1. Terdapat warna merahpada jaringan floem dan dibatasi buku-buku. penyakit yakni penggerek pucuk, penyakit mosaik, penyakit sereh, pokahbung dan RSD. Gejala serangan yakni sebagai berikut :
1. Penggerek pucuk pada tanaman tebu sangat merugikan. Gejala serangan pada helai daun terdapat lubang melintang dan ibu tulang daun terlihat bekas gerekan berwarna coklat. Daun yang terserang akan menggulung dan kering yang disebut mati puser. Apabila batang dibelah maka akan kelihatan lorong gerekan dari titik tumbuh ke bawah kemudian mendekati permukaan batang dan sering menembus batang. Oleh karena itu serangan penggerek pucuk dapat menyebabkan kematian. Pada ruas batang yang muda yaitu di bawah titik tumbuh terdapat lubang keluar ngengat (Widiastuti dkk, 2014). Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan teknik Pengendalian Hama Terpadu yang dapat diterapkan diantaranya :
a. Pengendalian mekanis
ulat atau pupa atau serangga dewasa pada bagian tanaman yang terserang secara langsung dan membunuhnya.
b. Pengendalian Kultur Teknis atau Budidaya
Pengendalian dengan cara kultur teknis atau budidaya dapat dilakukan dengan cara penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk berimbang yang sesuai dengan jenis, dosis, waktu dan cara pemakaian yang dianjurkan, pengaturan pola tanam, penanaman serentak, pengaturan jarak tanam dan pergiliran tanaman.
c. Pengendalian Hayati atau Biologis
Pengendalian dengan cara konservasi musuh alami yang merupakan cara yang paling murah dan mudah dilakukan oleh petani baik sendiri atau berkelompok. Konservasi musuh alami merupakan usaha kita untuk membuat lingkungan kebun disenangi dan cocok untuk kehidupan musuh alami terutama kelompok predator dan parasitoid. Selain konservasi dilakukan pula pelepasan musuh alami Pelepasan musuh alami dilakukan dengan mencari atau mengumpulkan musuh alami dari tempat lain, kemudian langsung dilepas di kebun yang dituju. Musuh alami hama penggerek pucuk berupa parasit telur dan parasit larva. Parasit telur misalnya Trichogramma japonicum. Pada 1 (satu) periode dilakukan 8 (delapan) kali aplikasi dan dilakukan tiap minggu sejak tanaman usia 1,5 bulan. Tiap aplikasi dibutuhkan 50 pias/ha.
d. Aplikasi insektisida kimia hanya dilakukan jika persentase serangan hama penggerek pucuk dengan kategori serangan berat sudah mencapai 40 %. Jenis insektisida yang dianjurkan adalah golongan karbamat, antara lain Karbofuran Furadan 3GR, Petrofur 3GR, Furio 3GR konsentrasi yang digunakan sesuai rekomendasi 10kg/Ha.
klorosis pada hijau daun. Daerah klorosis menyebar, tetapi bisa jadi tampak lebih jelas pada beberapa koloni yang terinfeksi oleh beberapa strain virus. Infeksi bisa disertai oleh bermacam-macam tingkat memerahnya daun atau nekrosis. Daerah klorosis paling jelas tampak pada dasar daun, pelepah daun, tetapi jarang terdapat pada batang. Tanaman muda yang tumbuh dengan cepat lebih rentan terinfeksi dibandingkan tanaman yang lebih tua yang pertumbuhannya lebih lambat (Viswanathan et al, 2011).
Strategi pengendalian untuk mengurangi penyebaran virus secara terus-menerus yang ditularkan oleh kutu ini adalah Barrier crops (tanaman sela). barrier crop yang cocok digunakan diantara pertanaman tebu antara lain tanaman palawija seperti jagung. Jenis dan saat tanam barrier crop (tanaman sela) dengan menggunakan tanaman jagung, tidak berpengaruh nyata terhadap indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, tinggi tanaman, dan jumlah anakan per rumpun tebu. Hal ini disebabkan oleh habitus tanaman dan sistem perakaran yang berbeda, tebu lebih tinggi, memiliki sistem perakaran lebih luas sehingga dalam berkompetisi dengan tanaman palawija seperti jagung terhadap kebutuhan cahaya, CO2, air dan unsur hara dimenangkan tebu. Jenis tanaman palawija tidak berpengaruh nyata terhadap berat batang tebu saat tebang.
Pada tahun 1901 telah dihasilkan beberapa klon unggulan harapan (Mangoendidjojo, 2003).
4. Pokahbung merupakan salah satu penyakit yang banyak dijumpai pada tanaman tebu. Penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium Moniliformae memiliki 3 stadia. Stadium 1 ditandai dengan gejala yang hanya terdapat pada daun yakni berupa munculnya klorotis pada helaian daun yang baru saja terbuka yang akan timbul titik-titik atau garis-garis merah. Stadium 2 terdiri dari gejala yang terdapatanya garis-garis merah kecoklatan yang dapat meluas menjadi rongga-rongga yang dalam. Stadium 3 memiliki gejala spesifik berupa membengkoknya batang tanaman tebu akibat gejala lanjutan dari stadium dua. Pada stadium ini jamur F. moniliformae menyerang titik tumbuh dan menyebabkan pembusukan yang disertai bau tidak sedap dan serangan yang lanjut dapat menyebabkan matinya tanaman (Pratiwi dkk, 2013).
Agensia hayati digunakan untuk mengendalikan jamur patogen Fusarium moniliformae adalah jamur antagonis Trichoderma sp. Jamur antagonis ini telah banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman dan 90% aplikasi yang telah dilakukan berasal dari berbagai macam strain Trichoderma. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan perendaman bibit tebu pada larutan fungisida digunakan untuk mengendalikan beberapa penyakit tebu termasuk pokahbung.
akan mengalami perubahan warna menjadi berwarna pink. Penularan utama penyakit pembuluh adalah melalui benih. Benih tebu yang terinfeksi berpotensi menularkannya pada benih sehat, baik pada saat penebangan, pemotongan ataupun pengangkutan. Untuk mencegah penyebarannya, maka diupayakan penyediaan benih tebu yang bebas/tidak terinfeksi penyakit pembuluh, salah satunya yaitu dengan penyediaan benih tebu yang berasal dari kultur jaringan. Metode yang digunakan untuk mencegah penularan penyakit pembuluh pada benih konvensional adalah dengan perlakuan Hot Water Treatment (HWT) sebelum penanaman (Ghai et al, 2013).
Pencegahan terhadap serangan opt pada tanaman tebu dapat dilakukan yakni meliputi langkah – langkah sebagai berikut :
1. Penggunaan bibit yang sehat dan terbebas dari hama penyakit. 2. Ada perlakuan pendahuluan sebelum bibit di tanamkan.
3. Mengadakan pengamatan secara intensif terhadap tanaman, untuk mementau setiap perubahan yang terjadi pada bibit.
4. Sanitasi lingkungan dengan cara membuang sumber sarang hama penyakit baik dengan cara pembakaran maupun pemberian agen hayati disekitar lahan. 5. Mengusahakan kondisi lingkungan sebaik mungkin, terutama drainase hingga
tercipta lingkungan yang baik.
6. Membersihkan gulma yang dapat berfungsi inang bagi hama penyakit
BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Hama dan penyakit yakni penggerek pucuk, penyakit mosaik, penyakit sereh, pokahbung dan RSD.
2. Pada tanaman tebu serangan penggerek pucuk mampu menyebabkan penurunan hasil panen tanaman tebu sampai dengan 51%. Serangannya juga mampu menurunkan bobot tebu dan panjang tebu berturut-turut sebesar 30,08% dan 24,39%. Serangan virus ini sangat membahayakan tanaman tebu karena dapat menyebar secara sistematik serta dapat menurunkan produksi tebu hingga mencapai 40 persen. RSD telah tersebar di seluruh pertanaman tebu di Indonesia, prosentase serangan berkisar 10 – 100 % dengan prosentase kerugian sebesar 5 – 15 % dalam menurunkan produksi.
3. Pencegahan terhadap serangan opt pada tanaman tebu dapat dilakukan yakni meliputi langkah – langkah sebagai berikut : Penggunaan bibit yang sehat dan terbebas dari hama penyakit. Ada perlakuan pendahuluan sebelum bibit di tanamkan. Mengadakan pengamatan secara intensif terhadap tanaman, untuk mementau setiap perubahan yang terjadi pada bibit. Sanitasi lingkungan dengan cara membuang sumber sarang hama penyakit baik dengan cara pembakaran maupun pemberian agen hayati disekitar lahan. Mengusahakan kondisi lingkungan sebaik mungkin, terutama drainase hingga tercipta lingkungan yang baik. Terakhir adalah membersihkan gulma yang dapat berfungsi inang bagi hama penyakit.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Admin., I. A. Wicaksono dan Zulfanita. 2012. Persepsi Petani Tebu Terhadap Program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Surya Agritama, 1(2): 10-19.
Andaka, G. 2011. Hidrolisis Ampas Tebu Menjadi Furfural dengan Katalisator Asam Sulfat. Teknologi, 4(2): 180-188.
Chandel, A. K., S. S. Silva,. W. Carvalhoa dan O. V. Singh. Sugarcane Bagasse and Leaves: Foreseeable Biomass of Biofuel and Bio-products. Chem Technol Biotechnol, 18(5): 11-29.
Farooq, M. A., A. Rasool,. M. Zubair,. A. Bahadar,. S. Ahmad dan S. Afghan. 2014. Loss Of Resistance In Hsf-240 Against Whip Smut Of Sugarcane Over Consecutive Ratoons. Agronomy, 29(10): 112-125.
Ghai. M., L. Martin., S. Mcfarlane., V. Antwerpen dan Rutherford. 2013. Rapid Diagnosis Of Ratoon Stunting Disease By Loop-Mediated Isothermal Amplification. Proc S Afr Sug Technol Ass, 86(12): 255 – 260.
Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.
Pratiwi, B. N., L. Sulistyowati., A. Muhibuddin dan A. Kristini. 2013. Uji Pengendalian Penyakit Pokahbung (Fusarium moniliformae) Pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) Menggunakan Trichoderma sp. Indigenous Secara In Vitrodan In Vivo. Hpt, 1(3): 1-11.
Suwarto., Y. Octavianty dan S. Hermawati. 2014. Top 15 Tanaman Perkebunan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Viswanathan, R.., R. Karuppaiah dan V. G. Kumar. 2011. Expression Of Sugarcane Streak Mosaic Virus (Scsmv) Coa Tprotein In Expression Vector As a Fusion Protein With Mal Tose Binding Protein. Sugarcane Research, 1(1) : 63 – 68.