• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PENGE MBANGAN TANAMAN HIAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSPEK PENGE MBANGAN TANAMAN HIAS"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Makalah

Budidaya Tanaman Hortikultura

“PROSPEK PENGEMBANGAN TANAMAN HIAS”

Oleh :

Muhammad aris G11112333

Kelas “a”

JURUSAN AGRONOMI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ungkapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat kesempatan dan kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah ini dengan judul ? “Prospek Pengembangan Tanaman Hias”. Ungkapan terima

kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman yang telah memberikan motivasi dan

dukungan baik moril maupun materiil dalam penyelesaian makalah ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat diterima oleh

kita semua.

Makassar, 14 September 2014

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1. Tinjauan Pustaka ... 2.2. Landasa Teori ... 2.3. Kerangka Pemikiran ...

III. METODE

3.1. Metode Penetuan Daerah Penelitian ... 3.2. Metode Pengambilan Sampel ... 3.3. Metode Pengumpulan Data ... 3.4. Metode Analisis Data ... 3.5. Defenisi dan Batasan Operasional ...

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Perkembangan Usahatani (Luas Lahan, Produksi, dan

Produktivitas) dan Pemasaran (Harga dan Potensi Pasar) ... 4.2. Analisis Pengaruh Faktor Produksi terhadap Produksi ... 4.3. Analisis Finansial Tanaman Hias ... 4.4. Masalah-masalah yang Dihadapi Petani dalam Pengembangan

Tanaman Hias ... 4.5. Strategi Pengembangan Tanaman Hias di Masa yang Akan Datang ...

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 5.2. Saran ...

(4)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang peranan yang

penting dari keseluruhan nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk

atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada sektor pertanian atau produk nasional

yang berasal dari pertanian (Mubyarto, 1994). Akhir-akhir ini tanaman hortikultura

mendapatkan perhatian besar dari pemerintah. Terbukti tanaman hortikultura

dimasukkan dalam subsektor tanaman pangan, sehingga sekarang ini ada subsektor

tanaman pangan dan hortikultura. Tanaman hortikultura memperoleh perhatian besar

karena telah membuktikan dirinya sebagai komoditi yang dapat dipakai sebagai sumber

pertumbuhan baru di sektor pertanian (Soekartawi, 1996). Komoditas hortikultura yang

terdiri dari tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat, merupakan

komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat potensi sumberdaya

alam, sumberdaya manusia, ketersediaan teknologi, serta potensi serapan pasar di dalam

negeri dan pasar internasional yang terus meningkat (Hanani, dkk, 2003).

Pengembangan komoditas hortikultura mempunyai karakteristik sendiri, karena

memiliki tujuan utama produksi adalah untuk dijual, bukan untuk dikonsumsi sendiri.

Oleh karena itu, pembangunan hortikultura harus dilaksanakan secara komersial,

berorientasi pasar dan dikelola secara professional, dengan skala ekonomi yang

menguntungkan (Departemen Pertanian, 2006). Secara mikro, pentingnya hortikultura

bukan saja mampu meningkatkan pendapatan dan pendapatan daerah produsen

hortikultura, tetapi agribisnis atau agroindustri hortikultura ini pun mampu menyerap

tenaga kerja, memunculkan industri baru, sehingga hortikultura diyakini dan mampu

dijadikan sumber pertumbuhan di sektor pertanian (Soekartawi, 1994). Indonesia

mempunyai kekayaan alam yang tak ternilai banyaknya, termasuk berbagai jenis

tanamannya. Di antara jenis-jenis tanaman tersebut, ada yang digolongkan ke dalam

(5)

keindahan. Penilaian terhadap keindahan suatu tanaman memang sangat relatif. Akan

tetapi, secara umum keindahan tanaman terletak pada kedua organnya, yaitu daun atau

bunganya. Dari sinilah muncul istilah tanaman hias bunga dan tanaman hias daun

(Annonimous, 1992). Kebutuhan tanaman hias secara umum cenderung meningkat dari

waktu ke waktu. Besarnya minat masyarakat terhadap tanaman hias berkaitan erat

dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, dan taraf hidup masyarakat.

Pembangunan komplek perumahan, perkantoran, dan taman kota membuka peluang

untuk pengembangan usaha di bidang tanaman hias (Dinas Pertanian, 2005).

1.2. Identifikasi Masalah

Dalam penelitian ini, masalah-masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perkembangan usahatani tanaman hias (luas lahan, produksi, dan

produktivitas) dan pemasaran (harga dan permintaan pasar) ?

2. Apakah penggunaan faktor-faktor produksi (luas lahan, tenaga kerja, bibit, dan

pupuk) berpengaruh nyata terhadap produksi di daerah penelitian?

3. Berapa besar dan tingkat keuntungan usahatani tanaman hias di daerah penelitian?

4. Berapa tingkat pengembalian modal usahatani tanaman hias di daerah penelitian?

5. Apa saja masalah yang dihadapi dalam pengembangan usahatani tanaman hias di

daerah penelitian?

6. Bagaimana strategi pengembangan tanaman hias di masa yang akan datang?

1.3. Tujuan Penelitian

Dari permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perkembangan usahatani tanaman hias (luas lahan, produksi,

dan produktivitas) dan pemasaran (harga dan permintaan pasar) .

2. Untuk mengetahui penggunaan faktor-faktor produksi (luas lahan, tenaga kerja,

bibit, dan pupuk) berpengaruh nyata terhadap produksi di daerah penelitian.

3. Untuk mengetahui besar dan tingkat keuntungan usahatani tanaman hias di daerah

(6)

4. Untuk mengetahui tingkat pengembalian modal usahatani tanaman hias di daerah

penelitian

5. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi dalam pengembangan usahatani tanaman

hias di daerah penelitian.

6. Untuk mengetahui strategi pengembangan tanaman hias di masa yang akan datang.

1.4. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai bahan masukan bagi petani tanaman hias .

2. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

(7)

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA

PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1. Tinjauan Pustaka

Sebenarnya dan sri rezeki adalah tanaman yang sama, yaitu tanaman hias

dengan nama ilmiah sp. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Asia Tenggara, bahkan

beberapa varietasnya berasal dari Indonesia. Menurut Sutomo (2006) berasal dari

bahasa Yunani, yaitu aglos yang berarti sinar dan nema yang berarti benang. Dengan

demikian, secara harfiah berarti benang yang bersinar.

Tanaman hias dapat tumbuh pada sinar matahari yang sedang, penyiraman

banyak, dan kelembapan tinggi (Prihmantoro, 1997). tumbuh dengan baik di tempat

yang memperoleh cahaya langsung atau di tempat yang teduh. Jika yang tersedia cahaya

buatan memerlukan cahaya buatan ? 150 footcandles (Wianta, 1990). Perbanyakan

tanaman hias dapat dilakukan dengan cara generatif dan cara vegetatif. Memperbanyak

secara generatif adalah dengan cara memperbanyak diri dengan biji sedangkan secara

vegetatif melalui setek batang, setek pucuk, pemisahan anakan/rumpun, dan cangkok

(Dinas Pertanian, 2005). Perawatan tanaman berhubungan erat dengan penampilan. Jika

dirawat dengan baik dan benar bisa tampil menawan. Tanaman terlihat kompak

dengan daun-daun subur dan mengilap. Perawatan meliputi:

- penyiraman

- pemupukan

- pemangkasan

- pemberantasan hama dan penyakit

(Subono dan Andoko, 2005).

2.2. Landasan Teori

Suatu usahatani dikatakan efektif apabila petani atau produsen dapat

mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya; dan

(8)

(output) yang melebihi masukan (input) (Soekartawi, 1995a). Produksi merupakan

hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan

atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah

mengkombinasi berbagai input atau masukkan untuk mnghasilkan output. Hubungan

teknis antara input dan output tersebut dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik

merupakan fungsi produksi. Jadi, fungsi produksi adalah suatu persamaan yang

menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input

tertentu (Joesron, dan Fathorrozi, 2003). Sebagai proses produksi yang komersial, maka

pemasaran pertanian merupakan syarat mutlak yang diperlukan dalam pembangunan

pertanian. Pemasaran pertanian dapat menciptakan nilai tambah melalui guna tempat,

guna bentuk, dan guna waktu. Dengan demikian pemasaran pertanian diangap

memberikan nilai tambah yang dapat dianggap sebagai kegiatan produktif (Sudiyono,

2004).

Biaya usahatani biasanya, diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: biaya tetap (fixed

cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Contoh biaya tetap antara lain: sewa tanah,

pajak, alat pertanian, dan iuran irigasi. Contoh biaya tidak tetap antara lain biaya untuk

sarana produksi (Soekartawi, 1995). Studi kelayakan merupakan studi yang

memberikan gambaran secara umum tentang prospek suatu komoditas dan memberikan

gambaran khusus tentang permintaan pasar, peluang budidaya dalam satuan volume

tertentu, modal, lahan, tenaga kerja, peralatan yang diperlukan, dan analisis keuangan

(Rahardi, 2003). Dalam suatu usaha perlu melakukan analisis lingkungan (lingkungan

luar dan lingkungan dalam) guna meramalkan perubahan lingkungan yang

mempengaruhi usaha tersebut. Menurut Silalahi (2002), analisis lingkungan ini dapat

dilakukan melalui apa yang dikenal sebagai analisis SWOT (akronim dari Strength,

Weakness, Opportunity, and Threat). Analisis kekuatan (strength) dan kelemahan

(weakness) ditujukan untuk lingkungan internal organisasi. Analisis ini membantu

menetapkan satu dasar realistik untuk formulasi strategi untuk semua tingkat organisasi.

Sedangkan analisis peluang (opportunity) dan kendala (threat) ditujukan untuk

(9)

serta hambatan dan kendala dalam hubungannya dengan pilihan atau proses produksi

barang-barang dan jasa-jasa untuk masyarakat secara nyata menguntungkan organisasi.

Untuk mengembangkan strategi dalam perhitungan nilai SWOT, matriks dari

faktor tersebut dapat disusun sebagai berikut:

MATRIKS SWOT

Kekuatan (Strengths)

Kelemahan (Weaknesses)

Peluang (Opportunities)

Strategi S-O

Strategi W-O

Ancaman (Threats)

Strategi S-T Strategi W-T

-Strategi S-O : beranggapan bahwa peluang sesuai dengan kekuatan perusahaan.

-Strategi W-O : mencegah kelemahan menjadi peluang.

-Strategi S-T : mengidentifikasi cara-cara yang dapat digunakan perusahaan untuk

mengurangi kelemahan dan ancaman dengan menggunakan kekuatannya.

-Strategi W-T : menetapkan rencana untuk tetap bertahan mengatasi kelemahan

perusahaan dengan membuat sifat kelemahan yang rentan menjadi ancaman.

(Annonimous, 2006)

2.3. Kerangka Pemikiran

Usahatani tanaman hias merupakan salah satu produksi usaha tani yang

memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan. Karena kebutuhan akan tanaman

hias terus meningkat yang disebabkan oleh pembangunan komplek perumahan,

perkantoran, dan taman kota membuka peluang untuk pengembangan usaha di bidang

tanaman hias. Tidak hanya itu saja, pada saat perayaan hari-hari besar agama atau

(10)

rumah serta menjadi koleksi para penggemar tanaman hias. yang merupakan salah satu

jenis tanaman hias daun yang juga diperkirakan memiliki prospek yang baik untuk

dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan usahatani dan pemasaran,

analisis usahatani, penggunaan faktor-faktor produksi, serta masalah-masalah yang ada

dalam usahatani tersebut. Perkembangan usahatani dan pemasaran dapat dilihat dari

luas areal, produksi, produktivitas, harga, dan potensi pasar. Faktor produksi dan

analisis usahatani sangat dibutuhkan agar dapat menilai kelayakan suatu usaha tersebut.

Faktor produksi yang menunjang kegiatan usahatani antara lain: luas lahan, tenaga

kerja, bibit, dan pupuk. Berbagai faktor produksi ini perlu dikombinasikan hingga

memperoleh produksi maksimum usahatani. Dalam mengembangkan usahatani

biasanya terdapat beberapa masalah-masalah yang dihadapi oleh petani. Untuk itu

diperlukan adanya srategi pengembangan guna dapat mengatasi masalah-masalah yang

ada dan dapat diketahui prospek pengembangannya. Dengan demikian prospek

pengembangan usahatani tanaman hias dapat diketahui. Secara skematis kerangka

pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut: Penggunaan faktor-faktor produksi (luas

lahan, tenaga kerja, bibit, dan pupuk) berpengaruh nyata terhadap produksi di daerah

(11)

III. METODE

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian

Daerah penelitian ditentukan secara purposive (sengaja), yaitu , Provinsi

Sumatera Utara dengan alasan bahwa Kota Medan merupakan salah satu kota yang

memiliki potensi lahan yang besar pada usahatani tanaman hias .

3.2. Metode Pengambilan Sampel

Metode yang digunakan dalam penentuan sampel adalah ? Metode Sensus?.

Menurut Sudjana (1992) metode sensus terjadi apabila setiap anggota atau karakteristik

yang ada di dalam populasi dikenai penelitian. Hal ini disebabkan populasi yang ada

kurang dari 30. Populasi adalah petani yang menanam tanaman hias yang berada di

Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Dalam penelitian ini, populasi sekaligus

menjadi sampel sehingga metode yang digunakan adalah metode sensus, dengan

mengambil seluruh populasi menjadi sampel. Jumlah populasi dapat dilihat pada tabel

berikut:

3.3. Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam data yaitu

data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari petani melalui metode

wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi yang berhubungan dengan penelitian

yang dilakukan.

3.4. Metode Analisis Data

Untuk identifikasi masalah 1 digunakan analisis deskriptif yaitu dengan melihat

perkembangan usahatani (Luas lahan, produksi, dan produktivitas) dan pemasaran

(harga dan permintaan pasar) tanaman hias. Untuk hipotesis dan identifikasi masalah 2

(12)

3.5. Defenisi dan Batasan Operasional

3.5.1. Defenisi

1. Petani tanaman hias adalah petani yang saat ini sedang menanam tanaman hias .

2. Usahatani adalah pengalokasian sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien

untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

3. Produksi adalah tanaman hias yang dihasilkan oleh petani. Dimana dalam hal ini

adalah tanaman hias dalam pot.

4. Faktor produksi adalah berbagai input atau masukan yang digunakan dalam proses

produksi untuk memperoleh output yang diinginkan.

5. Biaya produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh petani selama proses

produksi berlangsung samapi siap untuk dipasarkan.

6. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan total biaya

yang dikeluarkan dalam suatu usahatani.

7. Prospek usaha yaitu peluang-peluang dari pengembangan usahatani tanaman hias

agalonema di masa yang akan datang.

8. Masalah adalah faktor-faktor yang menghalangi atau mengurangi kelancaran

(13)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Perkembangan Usahatani (Luas Lahan, Produksi, dan Produktivitas) dan Pemasaran (Harga dan Permintaan Pasar)

4.1.1. Analisis Perkembangan Usahatani

Perkembangan usahatani yang akan dilihat adalah luas lahan yang dimiliki oleh

petani, produksi tanaman hias, dan produktivitasnya. Berikut data yang menyajikan

perkembangan usahatani tanaman hias.

4.1.2. Analisis Perkembangan Pemasaran

Pemasaran merupakan penghubung antara kebutuhan-kebutuhan masyarakat

dengan produsen kebutuhan. Pemasaran tanaman hias biasanya pembeli dapat langsung

membeli ke produsennya karena disini petani bertindak sekaligus sebagai penjual,

sehingga saluran pemasaran untuk tanaman hias pendek. Perkembangan pemasaran

yang akan dilihat adalah harga yang dan permintaan pasar dari tanaman hias tersebut.

4.2. Analisis Pengaruh Faktor Produksi terhadap Produksi

Dalam suatu usahatani faktor-faktor produksi akan senantiasa mempengaruhi

produksi tanaman. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh faktor-faktor produksi

terhadap produksi suatu usahatani maka dapat dilakukan dengan uji fungsi produksi

Cobb-Douglas. Fungsi Produksi Cobb-Douglas merupakan aplikasi dari analisis regresi

(14)

4.3. Analisis Finansial Tanaman Hias

Analisis finansial suatu usahatani diperlukan untuk mengetahui sejauh mana

keadaan keuangan dari usahatani yang nantinya akan berkaitan dengan prospek

pengembangan usahatani tersebut di masa mendatang. Aspek finansial yang akan

dianalisis dalam penelitian ini adalah besar keuntungan usahatani, tingkat keuntungan

usahatani (R/C ratio), dan tingkat pengembalian modal (Return on Investment).

4.3.1. Analisis Besar Keuntungan Usahatani

Besar keuntungan usahatani dapat dilihat dari pendapatan bersih yang diperoleh

petani. Dimana besarnya pendapatan bersih petani tergantung dari penerimaan dan

biaya produksi selama 1 periode. Biaya produksi pada usahatani tanaman hias terdiri

dari: biaya sarana produksi, tenaga kerja, penyusutan, sewa lahan, transportasi yang

diukur dalam satuan rupiah.

4.3.2. Analisis Tingkat Keuntungan Usahatani (R/C ratio)

Kelayakan usahatani tanaman hias dapat diukur dengan menggunakan analisis

rasio R/C. Rasio R/C merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total

biaya.

4.3.3. Analisis Tingkat Pengembalian Modal (ROI)

ROI (Return on Invesment) digunakan untuk melihat tingkat efisien dari modal

yang telah dikeluarkan. ROI merupakan besar pendapatan bersih dibagi dengan besar

modal yang dikeluarkan dalam usahatani. Yang termasuk modal adalah nilai tanah,

sarana produksi, dan peralatan yang telah digunakan petani. Sedangkan pendapatan

bersih merupakan selisih antara penerimaan dan biaya produksi.

4.4. Masalah-masalah yang Dihadapi Petani dalam Pengembangan Tanaman Hias

Dalam pengembangan usahatani tanaman hias di daerah penelitian, banyak

ditemukan berbagai masalah yang dihadapi oleh petani, baik itu masalah internal

(15)

usahatani tanaman hias yang menyebabkan kurangnya pendapatan yang diperoleh

petani. Dibawah ini akan diuraikan masalah-masalah apa saja yang dihadapi oleh petani

adalah sebagai berikut:

1. Modal Terbatas

Modal merupakan salah satu masalah yang menghambat dalam pengembangan

usahatani tanaman hias . Modal yang dimiliki petani umumnya adalah modal sendiri,

tetapi ada juga beberapa petani yang pernah meminjam modal. Alasan sebagian petani

tidak mau meminjam modal adalah karena bunga yang ditawarkan terlalu besar,

sehingga sulit untuk mengembalikannya. Akibat terbatasnya modal menyebabkan

pemeliharaan yang dilakukan kurang optimal.

2. Kurangnya seni dan hobby

Petani tanaman hias kurang memiliki seni dan hobby karena mereka hanya

mengandalkan pengalaman mereka saja untuk melakukan perawatannya sedangkan

untuk menghasilkan produksi yang bagus dan cantik mereka tidak dapat melakukan

penyilangan sendiri.

3. Persaingan dengan bunga plastik dan tanaman hias lainnya

Masyarakat sekarang cenderung beralih ke bunga plastik karena disamping

harganya murah, bunga plastik juga tahan lama. Persaingan tidak hanya di bunga

plastik, untuk tanaman hias lainnya juga menjadi persaingan. Tanaman hias yang

menjadi saingan tidak hanya yang harga murah saja tetapi harga yang tinggi dari juga

(16)

4. Serangan hama penyakit

Serangan hama penyakit yang sering terjadi adalah busuk akar dan daun yang

disebabkan oleh cuaca yang buruk yaitu hujan. Sedangkan untuk tumbuhnya jamur

biasanya disebabkan oleh luas lahan yang sempit yang dimiliki oleh petani tanaman hias

. Karena dengan lahan yang sempit tempat akan menjadi lembab sehingga jamur mudah

tumbuh.

5. Pemasaran Skala Daerah

Untuk pemasaran tanaman hias masih bersifat skala daerah. Dan juga bila ada

pameran juga masih bersifat skala daerah. Pemasaran dan pameran sudah bersifat skala

nasional.

6. Pengadaan bibit

Para petani tanaman hias memperoleh kesulitan dalam pengadaan bibit. Karena

bibit yang diperoleh harus di beli ke luar kota (Jakarta) dan ke luar negeri (Thailand).

7. Maraknya aksi pencurian tanaman hias

Pencurian tanaman hias sering terjadi pada setiap petani. Mahalnya harga

tanaman hias membuat orang menjadi ?gelap mata? dan tergiur untuk melakukan aksi

pencurian.

8. Permintaan pasar menurun

Permintaan pasar terhadap tanaman hias saat ini sedang mengalami penurunan.

Menurut petani tanaman hias itu ibarat ?mode?, selalu saja muncul tanaman-tanaman

baru sehingga tanaman lama tersebut tergantikan karena trendnya mulai memudar. Oleh

karena itu, telah tergantikan oleh tanaman yang lainnya yang saat ini lagi trend.

4.5. Strategi Pengembangan Tanaman Hias di Masa yang Akan Datang

Dari hasil analisis dan pembahasan masalah dapat ditarik kesimpulan bahwa

usahatani tanaman hias mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan.

Namun untuk itu harus tetap melihat bagaimana strategi pengembangan tanaman hias

di masa yang akan datang guna mempertahankan prospek tersebut. Strategi

(17)

Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths)

dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan

(weakness) dan ancaman (threats). Analisis SWOT membandingkan antara faktor

eksternal (peluang dan ancaman) dengan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang

akhirnya dapat menentukan beberapa strategi.

Berikut ini analisis SWOT usahatani tanaman hias:

4.5.1. Faktor Internal

1. Kekuatan

- Tanaman hias memiliki warna daun mempesona dan beraneka ragam sehingga

membuat pembeli tertarik walaupun dengan harga yang mahal.

- Tanaman hias agalonema dapat dengan mudah tumbuh dengan adanya pengaturan

cahaya dan temperatur.

- Harga tanaman hias mahal Harga tanaman hias bervariasi sesuai jenisnya yang

dihitung perlembar daun. Semakin banyak daunnya semakin mahal harga tersebut.

Harga untuk saat ini mengalami penurunan. Walaupun begitu jika dibandingkan

dengan tanaman hias lainnya agalonema memiliki harga yang mahal.

- Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh petani tinggi, tingkat pendidikan dan

pengalaman petani tinggi sehingga dapat menambah pengetahuan petani dalam

melakukan usahatani tanaman hias tersebut.

2. Kelemahan

- Pemasaran hanya bersifat skala daerah

- Modal yang dimiliki petani terbatas sedangkan kebutuhan dalam pengembangan

usahatani tanaman hias besar.

- Pengadaan bibit yang sulit diperoleh petani sehingga petani harus ke Jakarta atau ke

Thailand untuk memperoleh bibit tersebut.

- Kurangnya seni dan hobi para petani dalam perawatan dan memproduksi tanaman hias

(18)

4.5.2. Faktor Eksternal

1. Peluang

- Saluran pemasaran yang pendek.

Pembeli dapat langsung menjumpai petani tanaman hias sehingga pembeli dapat

berkonsultasi dalam hal perawatan dan pemeliharaannya.

- Trend tanaman hias rental

Pada saat ini perusahaan-perusahaan sering menyewa tanaman hias dari nursery untuk

memperindah dan menyejukkan kantornya. Tanaman hias yang disewakan adalah

tanaman hias indoor (tanaman hias yang dapat hidup di dalam ruangan). Untuk itu

tanaman hias memiliki peluang untuk disewakan ke perusahaan.

2. Ancaman

- Adanya persaingan dari bunga plastik dan tanaman hias lainnya.

- Serangan hama penyakit yang akan menambah besarnya biaya produksi sehingga

pendapatan petani berkurang.

- Maraknya aksi pencurian tanaman hias karena mahalnya harga jual dari tanaman hias

- Permintaan pasar tanaman hias mengalami penurunan.

4.5.3. Penentuan Strategi

Penentuan strategi yang sesuai bagi pengembangan usahatani tanaman hias

adalah dengan cara membuat matriks SWOT. Berdasarkan Matriks SWOT maka dapat

disusun empat strategi utama yaitu: SO, WO, ST, dan WT. Strategi pengembangan

usahatani tanaman hias .

Eksternal

1. Tanaman hias memilki warna daun mempesona dan bagus.

2. Tanaman hias dapat dengan mudah tumbuh

3. Harga mahal.

4. Tingkat pengetahuan petani tinggi.

5. Pemasaran bersifat skala daerah.

(19)

7. Bibit sulit diperoleh.

8. kurangnya seni dan hobby.

Peluang (O) Strategi SO Strategi WO

1. Saluran pemasaran pendek.

2. Trend tanaman hias rental.

3. Lembaga-lembaga yang terkait ikut berperan.

Memperluas jaringan pemasaran

1. Mengikuti pameran dan lomba tanaman hias yang berskala internasional

2. Inisiatif kredit untuk menambah modal

3. Meminta pemerintah untuk menyediakan pengadaan bibit

4. Mengikuti pelatihan untuk menambah kreatifitas

Ancaman (T) Strategi ST Strategi WT

1. Persaingan bunga plastik dan tanaman hias lainnya.

2. Serangan hama penyakit.

3. Maraknya aksi pencurian.

4. Permintaan pasar menurun

 Memanfaatkan pengetahuan petani untuk memberikan sentuhan kreativitas agar

tanaman hias tetap menarik.

 Menggunakan pengetahuan yang ada dalam memberantas serangan hama dan

penyakit

 Membuat rumah kasa dan penjagaan diperketat

 Mencari informasi dari koran, radio, dinas terkait untuk menambah pengetahuan

(20)

4.5.4. Strategi SO

Strategi pengembangan usahatani tanaman hias agalonema dengan

menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada, yaitu dengan

memperluas jaringan pemasaran dengan tujuan agar produksi tanaman hias agalonema

dapat selalu ditampung oleh pasar. Tidak hanya untuk penjualannya saja tetapi juga

dalam tanaman hias yang disewakan perusahaan.

4.5.5. Strategi WO

Strategi pengembangan usahatani tanaman hias dengan meminimalkan

kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang ada, yaitu:

1. Mengikuti pameran dan lomba tanaman hias yang berskala internasional

Bertujuan agar dapat menarik pelanggan dari luar daerah bahkan luar negeri

sehingga dapat petani dapat meningkatkan produksi. Sejalan dengan itu meningkat

juga pendapatan petani.

2. Inisiatif kredit untuk menambah modal

Pada umumnya usaha skala besar membutuhkan modal yang besar. Tetapi dapat

mengecilkan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani, sehingga dapat meningkatkan

pendapatan keluarga.

3. Meminta pemerintah untuk menyediakan pengadaan bibit

Bertujuan agar petani mudah dalam memperoleh bibit. Dengan begitu petani

tidak perlu ke Jakarta ataupun ke Thailand. Untuk itu, biaya transportasi dapat

berkurang sehingga pendapatan keluarga dapat meningkat.

4. Mengikuti pelatihan untuk menambah kreatifitas

Bertujuan agar petani dapat menambah pengetahuan mengenai penyilangan dan

(21)

4.5.6. Strategi ST

Strategi pengembangan usahatani tanaman hias dengan menggunakan seluruh

kekuatan untuk mengatasi ancaman yang ada, yaitu:

1. Memanfaatkan pengetahuan petani untuk memberikan sentuhan kreativitas agar

tanaman hias agalonema tetap menarik. Bertujuan agar konsumen tetap menyenangi

tanaman hias dengan menciptakan warna-warna yang tetap mempesona.

2. Menggunakan pengetahuan yang ada dalam memberantas serangan hama dan

penyakit. Bertujuan agar produksi yang dihasilkan optimal sehingga keuntungan

yang diperoleh petani maksimal.

3. Membuat rumah kasa dan penjagaan diperketat Pembuatan rumah kasa ditujukan

untuk menghindari aksi pencurian. Selain itu, juga memenuhi syarat pertumbuhan

untuk mengatur cahaya dan temperatur. Penjagaan diperketat juga ditujukan untuk

menghindari hilangnya tanaman hias yang petani miliki.

4.5.7. Strategi WT

(22)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Perkembangan usahatani dilihat dari produksi dan produktivitas mengalami

penurunan sedangkan dari luas lahan konstan. Perkembangan pemasaran (harga dan

permintaan pasar) tanaman hias mengalami penurunan.

2. Penggunaan faktor-faktor produksi (luas lahan, tenaga kerja, bibit, dan pupuk)

berpengaruh secara nyata terhadap produksi/penerimaan.

3. Masalah-masalah yang dihadapi antara lain modal terbatas, kurangnya seni dan

hobby, persaingan dengan bunga plastik dan tanaman hias lainnya, serangan hama

penyakit, pemasaran skala daerah, pengadaan bibit yang sulit diperoleh petani,

maraknya aksi pencurian tanaman hias, permintaan pasar menurun.

4. Strategi pengembangan usahatani tanaman hias di masa yang akan datang adalah

memperluas jaringan pemasaran.

5.2. Saran

1. Kepada Petani

Agar menjajaki pasar nasional dan ekspor bekerjasama dengan eksportir tanaman hias serta mengikuti pameran dan perlombaan tanaman hias yang berskala internasional.

2. Kepada Pemerintah

Pemerintah diharapkan agar mendukung petani tanaman hias dengan pengadaan bibit tanamn hias dan membantu petani dalam melakukan pemasaran ekspor.

3. Kepada Pengamat

Pengamat perlu mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai perkembangan pemasaran (permintaan dan harga) tanaman hia.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Beattie, B.R. dan C.R. Taylor, 1994. Ekonomi Produksi. Penerjemah: Dr. Soeratno Josohardjono, MEc. UGM-Press, Yogyakarta.

Dinas Pertanian, 2005. Profil Tanaman Hias. Medan.

Departemen Pertanian, 2006. Analisis dan Evaluasi Pengembangan Komoditas Hortikultura Unggulan. Jakarta.

Hasan, I, 2004. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Bumi Aksara, Jakarta.

Mubyarto, 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES, Jakarta.

Prihmantoro, 1997. Tanaman Hias Daun. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rahardi, R, 2003. Cerdas Beragrobisnis: Mengubah Rintangan Menjadi Peluang Berinvestasi. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Silalahi, U, 2002. Pemahaman Praktis Asas-asas Manajemen. Mandar Maju, Bandung.

Sutomo, B, 2006. : Tanaman Hias Daun Pembawa Hoki.

Referensi

Dokumen terkait

Garis Panduan ini juga adalah selaras dengan keputusan Mesyuarat Pengurusan Universiti Ke 89 telahpun meluluskan Garis Panduan Perbelanjaan Berhemah Tahun 2014 dan di

Dengan banyaknya fasilitas dan besarnya reputasi Pangeran beach hotel, serta ketatnya persaingan pada bisnis perhotelan di kota Padang, maka pihak manajemen haruslah mempersiapkan

proses belajar mengajar, yang meliputi cara memgelola kelas, membuka pelajaran, cara memberikan materi pelajaran, menutup pelajaran serta hal-hal lain yang dapat

Gas dari kawah Candradimuka merupakan gas vulkanik sedangkan gas dari Sumber dan gua Jimat merupakan gas suatu subduction dimana gas tersebut mempunyai nilai isotop sebesar -

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang Asmaul

Dalam proses pembelajaran berpikir, Piaget mengemukakan tiga faktor berikut: (1) perlunya memperhatikan mengapa seorang anak berpikir dengan cara tertentu, (2) perlu

Potensi jamur merang sangat tinggi di wilayah Kalimantan Timur, mengingat banyaknya pabrik kelapa sawit yang mengolah tandan buah sawit menjadi CPO. Sehingga limbah dari

[r]