• Tidak ada hasil yang ditemukan

air kelapa dapat memerangi batu ginjal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "air kelapa dapat memerangi batu ginjal "

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Usulan Penelitian

sebagai salah satu syarat untuk melakukan Penelitian di Departemen Biokimia

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN

TEMBELEKAN (Lantana camara L.) TERHADAP BAKTERI

PENYEBAB JERAWAT Staphylococcus epidermidis DAN

Propionibacterium acne

ARI PUTRA

DEPARTEMEN BIOKIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)
(5)

Judul Skripsi : Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tembelekan (Lantana camara L.) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Staphylococcus

epidermidis dan Propionibacterium acne Nama : Ari Putra

NIM : G84140012

Disetujui oleh

Prof. Dr. drh. Maria Bintang, MS Pembimbing I

Mega Safithri, MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

(6)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dari bulan April sampai Juli 2017, bertempat di Laboratorium Penelitian Biokimia IPB. Tema yang dipilih sebagai penelitian adalah Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tembelekan (Lantana camara L.) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acne

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. drh. Maria Bintang, MS selaku pembimbing utama dan Ibu Mega Safithri, M.Si selaku pembimbing kedua atas bimbingan dan ilmu baru yang telah diberikan. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Keluarga dirumah, Bapak, Mamah, Kak Ani dan Kak Ana atas kasih sayang, perhatian, semangat dan doanya. Sahabat kontrakan Khanafi, Fadil, Isnan, Ilman, Zul dan teman-teman seperjuangan Biokimia 51 atas bantuan, dukungan dan keceriaannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(7)

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Rumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Hipotesis Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Waktu dan Tempat 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Tembelekan 3

Ekstraksi Maserasi 3

Jerawat 4

Bakteri Uji 5

Penentuan Aktivitas Antimikroba 6

METODE PENELITIAN 7

Bahan dan Alat 7

Prosedur Penelitian 7

DAFTAR PUSTAKA 11

(8)
(9)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang letaknya menutupi seluruh permukaan tubuh dan dapat mencerminkan kesehatan dan kecantikan seseorang. Kulit berhubungan secara langsung dengan lingkungan luar, sehingga sering kali mudah terkena berbagai masalah dan gangguan kesehatan. Salah satu permukaan kulit yang mudah terkena masalah atau kelainan yaitu bagian kulit wajah.

Kelainan pada kulit wajah yang sangat mengganggu penampilan yaitu jerawat (acne). Jerawat merupakan kondisi kulit yang tidak normal, dimana terjadi infeksi dan radang pada kelenjar minyak. Timbulnya jerawat dapat mengurangi penampilan dan rasa percaya diri karena dianggap mengurangi nilai estetika atau kecantikan. Masalah tersebut selalu datang dengan tidak terduga yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya jerawat yaitu faktor genetik, faktor makanan, dan perubahan hormonal yang merangsang masa menstruasi dan stress (Tiwari 2011). Sumber penyebab timbul dan terjadinya jerawat disebabkan pula oleh beberapa hal, yaitu kelenjar minyak yang diproduksi berlebih, aktivitas bakteri dalam pori-pori kulit, dan penggunaan kosmetik (Manasirip et al. 2015).

Bakteri yang umum menginfeksi jerawat yaitu Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis. Propionibacterium acne merupakan bakteri anaerob yang merusak stratum comeum dan stratum geminativum dengan cara mensekresikan bahan kimia yang menghacurkan dinding pori, sehingga dapat menyebabkan inflamasi. Sebagian besar penderita jerawat ingin menghilangkan jerawat secara cepat dengan berbagai macam cara pengobatan, mulai dari dokter kecantikan dan mengkonsumsi obat sintetik anti jerawat. Obat sintetik anti jerawat pada umumnya yaitu antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada jerawat. Antibiotik yang sering digunakan sebagai anti jerawat yaitu tetrasiklin, eritromisin, doksisiklin, dan klindamisin (Saraswati 2015).

Penggunaan obat sintetik tersebut dapat memunculkan efek samping. Efek samping yang dapat ditimbulkan yaitu terjadinya iritasi dan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Kondisi tersebut mendorong penggunaan bahan-bahan yang bersifat alami perlu digunakan sebagai alternatif dengan harapan mengurangi terjadinya efek samping yang tidak diinginkan (Oprica 2004).

Tumbuhan merupakan salah satu sumber yang diperlukan dalam dunia medis sebagai obat penyembuh dan pencegahan penyakit. Berdasarkan penelitian, daun tembelekan mempunyai aktivitas sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan penurun panas. Tidak menutup kemungkinan bahwa daun tembelekan dapat dijadikan sebagai bahan penyembuhan jerawat karena sifatnya sebagai antibakteri.

(10)

2

Rumusan Masalah

Berdasarkan aktivitas kimia yang dimiliki daun tembelekan yang berpotensi sebagai antibakteri, maka perlu mengidentifikasi ekstrak etanol daun tembelekan (Lantana camara L.) terhadap bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis sehingga memberikan alternatif sumber bahan baku obat yang berasal dari alam karena berpotensi sebagai antijerawat yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menguji dan mengidentifikasi kandungan senyawa aktif daun tembelekan yang diduga bertanggungjawab sebagai antijerawat, mempelajari aktivitas antibakteri dari daun tembelekan terhadap bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis.

Hipotesis Penelitian

Hipotesis untuk penelitian ini adalah ekstrak daun tembelekan mampu menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah di bidang kimia, kedokteran, farmasi, dan kesehatan mengenai aktivitas antibakteri ekstrak daun tembelekan, serta memberikan informasi kepada masyarakat bahwa tanaman ini dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis sehingga dapat meningkatkan nilai guna tanaman tersebut.

Waktu dan Tempat

(11)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Tembelekan

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan alam berupa keanekaragaman jenis tumbuhan tropis yang banyak memeberikan manfaat kepada manusia. Tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan makanan, perumahan, dan pengobatan. Salah satunya adalah tanaman tembelekan (Lantana camara). Tumbuhan ini dikenal sebagai tanaman obat tradisional oleh masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan. Tumbuhan ini termasuk dalam famili verbenaceae yaitu tanaman semak atau pohon, yang terdiri dari 100 genera dan banyak didaerah tropis (Dini et al. 2011).

Tumbuhan tembelekan (Lantana camara L.) secara morfologi merupakan herba menahun, batang semak, berkayu, tegak, bercabang, batang berduri. Tinggi batang mencapai 4 m, daun berhadapan, warna hijau, bundar telur, permukaan atas daun berambut banyak dan permukaan bawah berambut jarang. Pinggir daun bergerigi dan berbulu kasar, perbungaan mengelompok, tersusun dalam bulir pada ketiak daun. Warna bunga beragam, seperti merah, putih, kuning, dan jingga. Buah bergerombol di ujung tangkai, berkembang biak dengan biji (Djauhariya 2004).

Nama lain dari tembelekan adalah tanaman tahi ayam, tembelekang (Sulawesi), telek-telekan (Jawa). Tembelekan diklasifikasikan ke dala dunia Tumbuhan, filum Spermatophyta, kelas Docotyledonae, ordo Lamiales, famili Verbenaceae, genus Lantana, spesies Lantana camara L. (Bulan et al. 2004).

Tanaman Tembelekan diketahui mengandung senyawa bioaktif yaitu flavonoid, terpenoid, saponin, kuinon, minyak atsiri dan tanin (Novianti 2013; Dini et al. 2011). Senyawa bioaktif tersebut memiliki sifat antibakteri terutama minyak atsiri (Novianti 2013). Selaiin itu, tumbuhan tembelekan terutama daunnya dapat digunakan sebagai obat yang dpat mempercepat penyebuhan luka, sakit kulit, gatal-gatal, bisul, luka, batuk, dan rematik (Dini et al. 2011). Berdasarkan potensi tersebut, senyawa bioaktif tanaman tembelekan sangat mungkin digunakan sebagai antijerawat terhadap Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Ekstraksi Maserasi

Ekstraksi tumbuhan merupakan proses penarikan zat aktif dalam tumbuhan dengan menggunakan pelarut tertentu. Senyawa atau kandungan bahan dalam tumbuhan memiliki kelarutan yang berbeda-beda dalam pelarut yang berbeda. Pelarut yang biasa digunakan antara lain kloroform, eter, aseton, alcohol, metanol, etanol, dan etilasetat. Pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi harus memenuhi dua syarat, yaitu pelarut terssbut harus merupakan pelarut yang terbaik untuk bahan yang diekstraksi dan pelarut tersebut harus terpisah dengan cepat setelah pengocokan. Ekstraksi dilakukan secara bertahap dimulai dengan pelarut non-polar (kloroform atau n-heksana), semipolar (etilasetat atau dietil eter), dan pelarut polar (metanol atau etanol) (Indriani 2006).

(12)

4

maserasi sederhana, kinetika maserasi, dan maserasi dengan menggunakan tekanan. Maserasi sederhana dilakukan dengan cara merendam sampel dengan pelarut dalam waktu tertentu dengan atau tanpa pengadukan. Kinetika maserasi memiliki metode denga maserasi sederhana, namun pengadukannya konstan. Maserasi dengan menggunakan tekanan menggunakan proses tekanan tertentu bukan tekanan ruang sehingga proses lebih efektif (Indriani 2006).

Kelebihan metode maserasi dibanding metode ekstraksi lainnya antara lain, metodenya sederhana, tidak memelukan alat-alat yang rumit, relative murah, dan bisa menghindari kerusakan komponen senyawa yang tidak tahan panas yang terkandung dalam sampel (Wulandari 2005).

Jerawat

Jerawat merupakan penyakit kulit yang dikenal dengan acne vulgaris, hampir semua orang pernah mengalaminya. Jerawat dapat dikatakan sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. Tidak hanya wanita, pria pun dapat mengalami tumbuhnya jerawat tetapi pada usia 20-30 tahun akan menghilang dengan sendirinya. Berbeda dengan pria, jerawat yang timbul pada wanita usia 14-17 tahun. Terutama pada wanita, jerawat akan menetap sampai dekade umur 30 tahun lebih (Brook et al.2005).

Jerawat merupakan suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar polisebasea. Terdapat dua jenis jerawat yaitu meradang dan tidak meradang. Kedua jenis jerawat tersebut ditandai dengan produksi sebum yang berlebihan. Produksi sebum yang berlebih tersebut tertimbun di folikel sehingga folikel membengkak. Penyebaran jerawat terdapat pada muka, dada, pungung yang mengandung kelenjar sebasea. Kebanyakan jerawat yang menjadi permasalahan yaitu jerawat yang terdapat pada muka (Harper 2007).

Menurut Mitsui (1997) ada tiga penyebab terjadinya jerawat yaitu sekresi kelenjar sebasea yang hiperaktif, hiperkeratosis pada infundibulum rambut, dan efek dari bakteri. Kelenjar sebasea yang hiperaktif menyebabkan produksi lipid yang berlebih sehingga kadar lipid pada kulit tinggi, hal tersebut menyebabkan kulit berminyak. Lipid yang terbentuk berasal dari kelenjar sebasea yang terdapat pada kulit bagian dermis. Hiperkeratosis pada infundibulum rambut yang menyebabkan sel tanduk menjadi tebal dan menyumbat folikel rambut, serta menyebabkan terbentuknya komedo. Sehingga folikel rambut pori yang tersumbat menyebabkan sebum tidak keluar secara normal, akibatnya akan merangsang pertumbuhan bakteri jerawat yang akan menyebabkan peradangan. Kelebihan sekresi dan hiperkeratosis pada infundibulum rambut menyebabkan terakumulasinya sebum. Sebum ini yang menyebabkan banyak timbulnya bakteri penyebab jerawat.

(13)

5 tertutup (whiteahead) berbentuk tonjolan putih kecil di bagian bawah kulit yang tumbuh di atas pori-pori kulit yang tersumbat. Komedo disebabkan oleh sel-sel kulit mati dan kelenjar minyak yang berlebih pada kulit (Dewi 2009).

Jerawat vulgaris (Acne vulgaris) merupakan peradangan yang sering dialami oleh remaja yang beranjak dewasa dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kelenjar yang meradang dapat membentuk papul kecil berwarna merah muda, yang mengelilingi komedo sehingga tampak hitam pada bagian tengahnya, atau membentuk pustul atau kista. Jerawat tersebut banyak tumbuh di daerah kening, biasanya berbentuk tonjolan kecil berwarna kemerahan. Jenis jerawat tersebut terjadi karena pori-pori yang tersumbat dan terinfeksi oleh bakteri (Ichsan dan Muhlisin 2008). Jenis jerawat tuber (akar tumbi) merupakan sejenis jerawat kecil yang menahun serta meradang. Jerawat batu (Cystic acne) merupakan jerawat yang menonjol dan bentuknya keras, terjadi karena membesarnya kelenjar minyak dengan peradangan yang cukup serius. Secara genetik, penderita jerawat batu memiliki kelenjar minyak yang over aktif yang meutupi pori-pori dengan kelenjar minyak, pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak normal, regenerasi sel yang lambat, dan memiliki respon berlebih terhadap peradangan (Dewi 2009).

Bakteri Uji

Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri gram positif yang bersifat aerob atau anaerob fakultatif dengan selnya berbentuk bulat (coccus) dengan diameter 1 µm yang tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur. Bakteri Staphylococcus epidermidis merupakan kingdom Bacteria, divisi Firmicutes, kelas Bacilli, suku Staphylococcaceae (Nilsson et al. 1998).

Bakteri Staphylococcus epidermidis dapat berupa kokus tunggal, berpasangan, dan berbentuk rantai juga tampak dalam biakan cair dengan koloni berwarna putih. Bakteri ini tumbuh optimum pada suhu 37ºC dengan tidak membentuk spora dan tidak bergerak. Bakteri Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal pada manusia yang terdapat pada permukaan kulit, selaput lendir, bisul, dan luka. Bakteri ini umumnya dapat menimbulkan penyakit pembengkakan seperti jerawat, infeksi kulit, infeksi saluran kemih, dan infeksi ginjal. Pertumbuhan jerawat yang diakibatkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis disebabkan adanya pelepasan asam oleat oleh bakteri tersebut. Hasil hidrolisisnya oleh lipase yang diduga berpengaruh terhadap perkembangan jerawat (Saising et al. 2008).

Propionibacterium acne

(14)

6

sampai merah muda dan memiliki bentuk yang khas. Bakteri ini dapat bersifat patogen untuk hewan dan tanaman (Brook et al. 2005).

Mekanisme pembentukan jerawat yang disebabkan oleh Propionibacterium acne berawal dari rusaknya stratum corneum dan stratum germinatum yang selanjutnya akan menghancurkan dinding pori. Propionibacterium acneakan mengeluarkan enzim hidrolitik yang menyebabkan rusaknya folikel polisebasea dan menghasilkan lipase, hialuronidase, protease, lesitinase, dan neurimidase yang berperan dalam peradangan atau inflamasi. Enzim lipase yang dihasilkan dari bakteri tersebut mampu menguraikan trigliserida pada sabun menjadi asam lemak bebas yang menyebabkan inflamasi. Selain itu P. acne akan mengubah asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh yang dapat menyebabkan sebum menjadi padat. Jika produksi sebum bertambah maka akan menyebabkan bakteri Propionibacterium acne bertambah banyak yang keluar dari kelenjar sebasea. Hal tersebut dikarenakan bakteri ini merupakan pemakan lemak (Harahap 2000).

Penentuan Aktivitas Antimikroba

Potensi antimikroba diperkirakan dengan membandingkan zona hambat pertumbuhan mikroorganisme sensitif hasil hambat konsentrasi larutan uji dibandingkan dengan antibiotik. Aktivitas antimiroba dapat ditentukan dengan dua metode, yaitu metode difusi dan metode dilusi. Metode difusi yang termasuk didalamnya yaitu metode disk diffusion, E-test, ditch-plate technique, cup-plate technique. Metode dilusi termasuk didalmnya yaitu metode dilusi cair dan dilusi padat (Pratiwi 2008).

Metode disk diffusion (tes Kirby & Baur) menggunakan piringan yang berisi agen antimikroba, kemudian diletakkan pada media agar yang ditanami oleh mikroorganisme sebelumnya, sehingga agen antimikroba dapat berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengidentifikasi adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan agar (Pratiwi 2008). Metode E-test digunakan untuk mengestimasi kadar hambat minimum, yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbukan yang menunjukkan kadar agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar (Pratiwi 2008).

Ditch-plate technique merupakan metode yang berupa sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba tersebut. Cup-plate technique merupakan metode yang serupa dengan disk diffusion. Sumur dibuat pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji (Pratiwi 2008).

(15)

7 mikroba uji selama 18-24 jam. Media cair yang terlihat jernih setelah diinkubasi ditetapkna sebgai BM (Pratiwi 2008). Metode dilusi padat menggunakan media padat. Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi agen antimikroba yang diuji dapat digunkan menguji beberapa mikroba uji (Pratiwi 2008).

METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat

Penelitian ini menggunakan bakteri Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis yang diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi Klinis, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Bahan yang diperlukan dalam penelitian terdiri atas daun tembelekan, etanol 96% (pelarut), akuades, FeCl3, alkohol 70%, pereaksi dragendorff, HCL pekat, kloroform, spirtus, pereaksi Mayer, serbuk Mg, larutan NaCL (0,9%), pewarna bakteri (uji positif dengan pewarna Gentian violet, pewarna lugol, dan pewarna safranin) dan media agar (Nutrient Agar sebagai media padat dan Nitrient Broth sebagai media cair), Klindamisin.

Peralatan yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain alat-alat gelas, neraca analitik, cawan Petri, kertas saring, seperangkat alat rotary evaporator, inkubator, oven, sentrifuge, autoklaf, stirrer, kertas cakram, kaca objek, pipet mikro, spektrofotometer, pH meter, mikroskop cahaya, bunsen, dan laminar Air Flow.

Prosedur Penelitian

Penyiapan Sampel

Tanaman tembelekan diperoleh dari daerah Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tanaman tersebut diambil daunnya, dicuci bersih (terlihat secara fisik), kemudian dikeringkan dengan diangin-anginkan sampai tiris airnya. Lalu ditimbang berat awalnya. Pengeringan daun dan penentuan kadar air dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biokimia Institut Pertanian Bogor. Proses pengeringan dilakukan dengan oven pada suhu 45ºC sampai kadar airnya stabil selama 3 hari. Simplisia yang didapat dari lab sudah berupa serbuk. Serbuk hasil pengeringan sudah siap di maserasi.

Maserasi( Noorhamdani 2012)

(16)

8

Skrining Fitokimia

Uji alkaloid (Tiwari et al. 2011). Ekstrak ditimbang 0,5 gram, dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dilarutkan dalam HCL, kemudian ditanmbahkan 2-3 tetes pereaksi Dragendorff (larutan potassium bismuth iodida), jika terdapat endapan merah maka positif adanya alkaloid, namun jika ditambahkan dengan 2-3 tetes pereaksi Mayer (larutan potassium merkuri iodida) menghasilkan endapan kuning maka positif mengandung alkaloid.

Uji Flavonoid (Tiwari et al. 2011). Ekstrak ditimbang sebanyak 0,5 gram ditambahkan dengan etanol 70%, kemudian ditambahkan 5-6 tetes HCL pekat, membentuk warna merah yang menunjukkan adanya flavonoid dan pembentukan warna jingga menandakan adanya senyawa flavon.

Uji Saponin (Tiwari et al. 2011). Ekstrak ditimbang 0,5 gram, lalu ditambahkan dengan 2 mL air sampai semua ekstrak terendam dan kemudian dikocok kuat-kuat. Terdapat busa setelah pengocokan, busa ditunggu selama 10 menit tetap konstan maka ekstrak positif mengandung saponin.

Uji Tanin (Markham 1998). Ekstrak sebanyak 0,5 gram ditambahkan 3 mL air hangat. Ekstrak diujikan dengan 1-2 tetes FeCl3 1%, terbentuk warna biru tua atau hijau kehitaman menunjukkan adanya senyawa golongan tannin.

Uji Kuinon (Markham 1998). Ekstrak 0,5 gram ditambahkan dengan 1 mL air hangat. Ekstrak diuji dengan 1-2 tetes pereaksi NaOH 1 N, terbentuk warna merah maka menunjukkan adanya senyawa golongan kuinon.

Uji Aktivitas Antimikroba

Sterilisasi Alat (Raihana 2011). Alat-alat yang akan disterilkan terlebih dahulu dicuci bersih dan dikeringkan. Cawan Petri dibungkus dengan kertas perkamen. Untuk alat-alat gelas ditutup mulutnya dengan kapas steril yang dibalut dengan kain kasa steril, kemudian dibungkus dengan kertas perkamen, disterilkan dalam oven pada suhu 150ºC, selama 2 jam. Kasa, kapas, tali, gelas ukur, pipet merendamnya didalam alcohol 70% selama 5 menit. Laminar Air Flow disterilkan dengan menyalakan lampu UV selama 2 jam, dibersihkan dari debu, disemprot dengan alkohol 70%, dibiarkan selama 15 menit.

Peremajaan Bakteri

Pembuatan Media Agar Miring (Ngajow 2013; Hidayat 1999). Sebanyak 8 gram NA disuspensikan dalam 400 mL akuades steril, kemudian dipanaskan hingga mendidih. Kemudian dilakukan pengadukan dengan magnetic sirer untuk memastikan media telah tersuspensi secara sempurna. Media yang sudah tersuspensi sempurna, disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit.

(17)

9 kemudian dimiringkan sekitar 45º. Bagian mulut tabung disumbat dengan kapas dan dibalut dengan kain kasa steril, media ditunggu sampai memadat.

Peremajaan Bakteri (Aziz 2010). Bakteri yang akan di uji yaitu Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis ditumbuhkan pada medium NA dengan menggoreskan bakteri dari biakan murni menggunakan loop pada permukaan agar miring. Bakteri yang digoreskan kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 48 jam.

Identifikasi Bakteri dengan Pewarnaan Gram (Damayanti 2014).

Perlakuan terhadap identifikasi bakteri, tahap awal dilakukan dengan membuat apusan bakteri uji. NaCl fisiologis, diambil 2 loop, kemudian ditempatkan di atas object glass. Loop yang telah digunakan untuk mengambil NaCl fisiologis dipijarkan terlebih dahulu, kemudian didinginkan. Dengan menggunakan loop yang sama, diambil 1 koloni bakteri dari hasil peremajaan bakteri, ditempatkan di atas NaCl fisiologis yang sudah ada di atas kaca objek. Suspensi diratakan dengan membentuk area apusan, suspensi dikeringkan pada suhu ruang untuk beberapa menit. Suspensi dilewatkan di atas api bunsen untuk fiksasi apusan.

Apusan bakteri yang telah dibuat, ditetesi dengan zat warna I (Gentian Violet) diteteskan ke atas area apusan, dibiarkan selama 60 detik. Hasil pewarnaan dengan gentian violet, dicuci perlahan dengan menggunakan aquades, kemudian dibiarkan 2 detik. Apusan bakteri kemudian ditetesi dengan pewarna lugol, lalu didiamkan selama 60 detik. Hasil pewarnaan dengan lugol dicuci dengan alkohol, hingga larutan yang mengalir sudah tidak bewarna (sekitar 10-20 detik). Dilakukan pencucian lagi dengan menggunakan aquades secara perlahan, didiamkan selama 2 detik. Terakhir, ditetesi dengan zat warna II (Safranin), kemudian didiamkan selama 20 detik. Hasil pewarnaan dengan safranin dicuci perlahan dengan menggunakan akuades, lalu didiamkan kembali selama 2 detik. Dikeringkan di suhu ruang, setelah mengering ditetesi dengan minyak imersi. Objek diamati di atas mikroskop dengan perbesar 100x. Bakteri Gram positif akan menghasilkan warna ungu dan bakteri Gram negatif akan menghasilkan warna merah.

Peremajaan Bakteri dengan Nutrient Broth (Modifikasi Khodijah et al.

2006). Stok bakteri murni yang akan diujikan Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis diremajakan dengan dipindahkan 1 loop kedalam NA agar miring lalu diinkubasi selama 24 jam. Peremajaan bakteri dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh stok bakteri yang masih baru, jadi kemungkinan terkontaminasi cukup kecil. Bakteri yang telah diremajakan diambil 5 loop, kemudian diinokulasi ke dalam 50 ml Nutrient Broth, lalu diinkubasi pada suhu 37ºC (suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri) sambil dilakukan agitasi 120 rpm, tujuan dilakukan agitasi adalah untuk mempercepat bakteri dalam membelah diri.

(18)

10

Pelaksanaan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tembelekan (Lantana camara L.)

Pembuatan Media Uji (Ngajaow et al. 2013). Sebanyak 8 gram Nutrient agar (NA) dilarutkan dalam 400 ml akuades steril. Media dipanaskan sampai mendidih. Dilakukan pengadukan dengan menggunakan magnetic stirer untuk memastikan media tersuspensi sempurna. Setelah media tersuspensi sempurna, kemudian di autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit, lalu ditunggu sampai suhu hangat 40ºC-45ºC. Nutrient Agar (NA) yang sudah siap kemudian dituangkan sekitar 8 ml ke dalam cawan Petristeril dengan tingkat permukaan horisntal untuk memberikan kedalaman seragam ±0.5 cm. Media didiamkan sampai memadat.

Pembuatan Konsentrasi Larutan Uji (Saraswati 2015). Ektrak dibuat larutan induk dengan konsentrasi 100.000 ppm. Ekstrak etanol 96% daun tembelekan ditimbang sebanyak 5 gram, kemudian dilarutkan dengan 50 mL etanol 96%. Dari larutan induk, diencerkan menjadi beberapa seri konsentrasi yaitu 50.000 ppm, 25.000 ppm, 12.500 ppm, 6.250 ppm, 3.125 ppm.

Proses Uji Aktivitas Antibakteri. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi kertas cakram (Jawetz et al. 2005). Hasil daya uji antibakteri didasarkan pada pengukuran diameter daerah hambat (DDH) pertumbuhan bakteri yang terbentuk di sekeliling kertas cakram. Pada masing-masing ekstrak dengan konsentrasi yang berbeda, diambil sebanyak 20 µL dan diletakkan pada kertas cakram steril, lalu ditunggu sampai menjadi jenuh (Ningsih 2013).

(19)

11

DAFTAR PUSTAKA

Aziz S. 2010. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun dan umbi bakung putih (Crinum asiaticum L.) terhadap bakteri penyebab jerawat. [skripsi]. Jakarta (ID): Farmasi UIN Syarif Hidayatullah.

Brook GF, Butel JS, Morse SA. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta (ID): Salemba Medika.

Bulan R, Soedigdo S, Achmad S, Buchari. 2004. Lantade XR glikosida dari daun Lantana camara L. Jurnal Matematika dan Sains. 9(1): 209-213.

Damayanti M. 2014. Uji efektivitas larutan bawang putih (Allium sativum) terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium acne secara invitro [skripsi]. Jakarta (ID): Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah.

Dewi SA. 2009. Cara Ampuh Mengobati Jerawat. Jakarta (ID): Buana Pustaka. Dini I, Muharram, Faika S. 2011. Potensi ekstrak tumbuhan tembelekang

(Lantana camara Linn.) dalam menghambat pertumbuhan bekteri S. aureus dan E. coli. Bionature.12(1): 21-25.

Djauhariya EH. 2004. Gulma Berkhasiat Obat. Jakarta (ID): Penebar Swadaya Jakarta.

Harahap M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta(ID) : Hipokrates.

Harper JC. 2007. Acne Vulgaris. Birmington() : Department of dermatology, University of Alabama.

Ichsan B, Muhlisisn A. 2008. Aspek psikiatri Acne vulgaris. Berita Ilmu Keperawatan. 1(3): 143-146.

Indriani S. 2006. Aktivitas antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.). J II Pert Indon. 11(1): 13-17.

Irianto K. 2006. Mikrobiologi : Menguak Dunia Mikroorganisme. Jilid 2. Bandung(ID) : CV. Yrama Widya

Khodijah S, Tuasikal BJ, Sugoru I, Yusneti. 2006. Pertumbuhan Streptococus agalactiae Sebagai Bakteri Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah. Jakarta (ID): UIN Syarif Hidayatullah.

Markham KR. 1988.Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung (ID): ITB Press. Munadjim. 1988. Teknologi Pengolahan Kakao. Jakarta (ID):

Gramedia.Manasirip CK, Kepel BJ, Rompas SS. 2015. Hubungan stres dengan kejadian acne vulgaris pada mahasiswa semester V (lima) program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal keperawatan.3(1): 1-6.

Mitsui T. 1997. NewCosmetissliense. Tokyo(JP) : Elsevier

Nilsson M, Frykberg L, flock JI, Pei L, Linberg M, Guss B. 1998. A fibrinoge-binding protein of Staphylococcus epidermidis, infection and immunity. 66(6): 2666-2673.

Noorhamdani, Permatasari N, Minerva A. 2012.Ekstrak Metanol Kulit Kakao Ambon Muda (Musa paradisiacal L.) sebagai Antimikroba terhadap Bakteri E. coli Secara Invitro.Malang (ID): Mikrobiologi FK UB.

(20)

12

Oprica C. 2004. Antibiotic resistant Propionibacterium acnes on the skin of patient with moderate to servere acne. Journal of Pharmacology.10(3): 155-164.

Pratiwi ST. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta (ID): Erlangga.

Raihana N. 2011. Profil kultur dan uji sensitivitas bakteri aerob dari infeksi luka operasi laparotomi di bangsal bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang. [Tesis]. Padang (ID): Universitas Andalas.

Saising J, Hiranrat A, Mahabusarakan W, Ongsakul M, Voravuthikunchai SP. 2008. Rhodomyrthone from Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk. As a Natural Antibiotic for Staphylococcus Cutaneous Infection. Journal of Health Science. 54(5) 589-595.

Saraswati FN. 2015. Uji akivitas antibakteri ekstrak etanol 96% limbah kulit pisang kepok kuning (Musa balbisiana) terhadap bakteri penyebab jerawat (Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan P. acne) [skripsi]. Jakarta (ID). Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tiwari P, Kumar B, Kaur M, Kaur G. Kaur H. 2011. Phytochemical screening and extraction: A review. Internationale Pharmaceutica Sciencia.1(1): 88-94. Wulandari NDM. 2005. Perbandingan metode ekstraksi buah mahkota dewa

(21)

13

Referensi

Dokumen terkait

Melihat hasil yang didapat bahwa penurunan kadar albumin sapi bali yang terinfeksi Fasciola gigantica disebabkan oleh adanya penurunan fungsi hati akibat adanya

Saat penulis mengatakan ingin membuat buku ilustrasi berisi panduan merawat bayi pertama untuk ayah, dokter Lusi memberikan tanggapan positif dan menambahkan bahwa buku

Kebawah Dull Yang Maha Mulia Sultan Pahang dliringi Kebawah Dull Yang Teramat Mulla Tengku Mahkota Pahang, Tuanku Canselor Universlti Malaysia Pahang, dan Kebawah Dull Yang

serta dari pengajar dan pihak-pihak yang mendukung berlangsungnya kegiatan pember- dayaan di panti rehabilitasi sosial dapat memberikan perubahan bagi para klien

Dalam Bahasa Dayak Mualang (BDM) prefiks N- akan menimbulkan berbagai makna, sebagai akibat pertemuan prefiks N- dengan bentuk dasarnya. Berikut akan dipaparkan

Perjuangan Fatayat NU tidak terbatas pada sekedar memperjua- ngkan kesetaraan gender , namun juga lebih melihat realita sosial dan fenomena yang dialami oleh

When the Doctor and Romana entered the Great Recreation Hall a moment later, they found Hardin struggling desperately to force open the door of the generator. Silent and unmoving

Korelasi Antara Betalain dan Aktivitas Antioksidan Cookies Tapioka dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Pewarna Serbuk Bit Merah Selama Pemanggangan... Korelasi Antara Tekstur