• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kultur Jaringan Tanaman Gaharu. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kultur Jaringan Tanaman Gaharu. doc"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KULTUR JARINGAN TANAMAN GAHARU

D

I

S

U

S

U

N

O

L

E

H

Fitrianda Ayu Utami

Halimah Mardhiyah M.S.

XI MIA 7

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gaharu merupakan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam bentuk gumpalan, serpihan atau bubuk yang memiliki aroma keharuman khas yang bersumber dari kandungan bahan kimia berupa resin (α-β oleoresin). Gaharu terbentuk dalam jaringan kayu, akibat pohon terinfeksi penyakit cendawan (fungi) yang masuk melalui luka batang (patah cabang). Komoditas gaharu telah cukup lama dikenal masyarakat secara umum. Beberapa jenis tanaman gaharu yang dikenal antara lain (Aquilaria malaccensis Lamk) adalah salah satu jenis tanaman hutan yang memiliki mutu sangat baik dengan nilai ekonomi tinggi karena kayunya mengandung resin yang harum baunya. Gaharu berwarna coklat kehitaman sampai hitam, berbau harum jika dibakar. Gaharu terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis pohon penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur.

Gaharu dimanfaatkan antara lain untuk pengharum tubuh, ruangan, bahkan kosmetik dan obat-obatan sederhana. Banyaknya manfaat gaharu ini telah menjadikannya sebagai salah satu komoditi ekspor penting di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Permintaan ekspor dan harga gubal gaharu yang cukup tinggi telah memacu pesatnya perburuan dan penebangan pohon secara liar, sehingga eksploitasi hutan menjadi tidak terkendali. Akibatnya sumber genetik species Aquilaria sebagai penghasil gaharu di hutan alam semakin terkikis. Untuk mengatasi masalah kelangkaan pohon induk sebagai sumber benih, perlu diadakan pembudidayaan secara kultur jaringan karena selain mencegah kepunahan gaharu ini, pembudidayaan juga dapat meningkatkan produksi gubal gaharu baik secara kualitas maupun kuantitas dan ekspor gaharu dapat berjalan dengan lancar tanpa merusak hutan alam.

1.2 Tujuan

Tujuan dibuatnya makalah ini, yaitu :

(3)

2. Untuk mengetahui lebih jauh pembuatan bibit tumbuhan Gaharu secara kultur jaringan.

3. Untuk mengetahui proses perkembangbiakan kultur jaringan Gaharu secara konkret.

1.3 Manfaat

Tujuan dibuatnya makalah ini, yaitu :

1. Menjadi dasar dalam upaya meningkatkan kualitas gaharu.

2. dapat menjadi salah satu alternatif untuk perbanyakan gaharu dalam pengadaan bibit gaharu dalam jumlah yang banyak dan relatif singkat dan penggunaan takaran zat pengatur tumbuh yang terbaik dalam perbanyakan tanaman gaharu.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sekilas Tentang Gaharu

Secara umum pohon penghasil gaharu merupakan tumbuhan tinggi berkayu. Namun gaharupun dapat dihasilkan oleh tumbuhan liana dan perdu. Kualitas gaharu yang terbentuk berbeda sesuai jenis pohon penghasilnya. Perbedaan ini dapat terjadi pada bentuk, cirri, sifat, dan aroma keharumannya yang dapat diketahui setelah gaharu dibakar.

(4)

Sementara warna gaharu yang terkandung dalam kayu akan berbeda sesuai masa produksi, yaitu : hitam, cokelat, cokelat merah, merah kuning bergaris hitam, dan putih kekuningan. (Sumarna, 2002).

2.1.a Klasifikasi dan jenis Gaharu

Sistematis beberapa tanaman penghasil Gaharu yang dikutip dari Sumarna (2002), adalah sebagai berikut :

Dalam klasifikasi tumbuhan, tanaman penghasil gaharu ini termasuk

divisi Spermatophyta dan kelas Dicotyledoneae. Tanaman penghasil gaharu terdiri dari famili Thymeleaceae, Leguminoceae, dan Euforbiaceae. Dari ketiga famili yang disebutkan diatas, yang penghasil gaharu terbaik dari Genus Aquilaria, akan tetapi dari kelompok Aquilaria inipun ada tiga spesies yang perpotensi penghasil gaharu berkualitas tinggi yaitu : Aquilaria beccanrian, Aquilaria microcarpa, dan Aquilaria malaccensis Lamk. Pada tabel dibawah ini memperlihatkan beberapa genus dan spesies ketiga famili tanaman penghasil gaharu.

Tabel 1. Spesies Tanaman Penghasil Gaharu

Famili Genus Spesies

Thymeleac

eae Aquilaria A. malaccensis Lamk

A. hirta A. microcarpa A. filaria A. becariana A. agalocha

(5)

Gonystylus G. banccanus G. macrophyllus Wikstroemia W. androsaemofolia

W. polyantha W. tenuriamis Gyrinops G. cumingiana

Leguminoc

eae Dalbergia D. parvifolia Euforbiace

ae Excoccaria E. agalocha Sumber: Sumarna (2002)

2.1.b Sebaran Alami dan Tempat Tumbuh

Umumnya tanaman penghasil gaharu yang berkualitas baik tumbuh pada daerah beriklim panas dengan suhu 28°-34°C, kelembaban 60-80%, dan curah hujan 1.000-2.000 mm/tahun. Penyebaran tanaman penghasil gaharu per spesies di Indonesia dan Malaysia bisa dilihat pada tabel berikut. (Sumarna, 2002).

Tabel 2. Jenis tanaman penghasil gaharu dan daerah penyebarannya di Indonesia dan Malaysia.

Nama Latin Daerah Penyebaran

Aquilaria malccensis Lamk

Sumatera, Kalimantan, Seluruh semenanjung Malaysia, Sabah dan Serawak

Aquilaria hirta Sumatera, Trengganu, Johar, dan Pahang.

(6)

Aquilaria microcarpa Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, dan Johor

Malaysia

Aquilaria beccariana Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Johor Malaysia.

Aquilaria filaria Nusa Tenggara, Maluku, Papua (Irian Jaya)

Aetoxylon

sympethallum Kalimantan, Papua, Maluku

Enkleia malaccensis Sumatera, Nusa Tenggara, Papua

Gonystylus bancanus Sumatera, Kalimantan

Gonystylus

macrophyllus Sumatera, Kalimantan

Wikstroemia

androsaemofolia Jawa, Kalimantan, Madura, NTT, Sulawesi Papua Wikstroemia polyanta Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua

Wikstroemia

tenuriamis Sumatera, Bangka, Kalimantan Gyrinops cumingiana Nusa Tenggara

Dalbergia parvifolia Sumatera, Kalimantan

Excoccaria agalocha Jawa, Kalimantan

Sumber: Sumarna (2002)

2.1.c Kegunaan Gaharu

Gaharu banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.

(7)

Oman, daratan Cina, Korea, dan Jepang sehingga dibutuhkan sebagai bahan baku industri parfum, obat-obatan, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis

asesoris serta untuk keperluan kegiatan keagamaan. Seiringnya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu bukan hanya berguna sebagai bahan untuk industri wangi-wangian saja, tetapi juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat. Gaharu bisa dipakai sebagai obat: anti asmatik, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan ,obat sakit perut, penghilang rasa sakit, kanker, diare, tersedak, tumor paru-paru, obat tumor usus ,penghilang stress, gangguan ginjal, asma, hepatitis, dan untuk kosmetik.

2.2 Kultur jaringan

Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.

2.2.a Prinsip

Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan

secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti "di dalam kaca" karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Oleh karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya. Terdapat keuntungan yang diperoleh dari menggunakan kultur jaringan, yaitu bibit yang dihasilkan seragam dalam hal kualitas, ukuran, dan usia, sehingga akan

memudahkan penanaman dan pemanenan; menjaga kontinuitas ketersediaan bibit dalam jumlah besar; menghasilkan bibit bebas dari penyakit. Hal ini dapat

(8)

membutuhkan modal investasi awal yang tinggi, dan diperlukan persiapan sumber daya manusia yang handal. (Tini dan Amri, 2002).

2.2.b Prasyarat

Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan Hal yang paling esensial adalah wadah

dan media tumbuh yang steril. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh

menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya.

2.2.c Jenis kultur jaringan

Berdasarkan jenis eksplan (sel atau jaringan asal), jenis kultur jaringan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :

a. Meristem culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan dari jaringan muda atau meristem.

b. Pollen atau anther culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan dari serbuk sari atau benang sari.

c. Protoplast culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan

menggunakan eksplan dari protoplasma ( sel hidup yang telah dihilangkan dinding selnya).

d. Chloroplast culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan dari kloroplas dengan tujuan perbaikan sifat tanaman dengan membuat varietas baru.

e. Somatic cross atau silangan protoplasma, yaitu penyilangan 2 macam protoplasma menjadi 1, kemudian dibudidayakan hingga menjadi tanaman yang mempunyai sifat baru.

2.2.d Media

Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat

(9)

komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan

perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Sebelum membuat media, maka terlebih dahulu kita harus menentukan media apa yang akan kita buat. Jenis media dengan komposisi unsur kimia yang berbeda dapat digunakan untuk media tumbuh dari jaringan tanaman yang berbeda pula. Kita mengenal beberapa macam media dasar yang pada umumnya diberi nama sesuai dengan nama penemunya, antara lain adalah:

1. Media dasar Murashige dan Skoog (MS): digunakan untuk hampir semua macam tanaman, terutama tanaman herbaceous. Media ini mempunyai konsentrasi garam-garam mineral yang tinggi dan senyawa N dalam bentuk NO3- dan NH4+.

2. Media dasar B5 atau Gamborg: digunakan untuk kultur suspensi sel kedele,

alfalfa dan legume lain.

3. Media dasar White: digunakan untuk kultur akar. Media ini merupakan media dasar dengan konsentrasi garam-garam mineral yang rendah.

4. Media Vacin Went (VW): digunakan khusus untuk media anggrek.

5. Media dasar Nitsch dan Nitsch: digunakan untuk kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel.

6. Media dasar Schenk dan Hildebrandt: digunakan untuk kultur jaringan tanaman monokotil.

7. Media dasar Woody Plant medium (WPM): digunakan untuk tanaman yang berkayu.

8. Media dasar N6: digunakan untuk tanaman serelia terutama padi.

(10)

2.2.e Teknik kultur jaringan

1. Sumber Eksplan

Eksplan adalah bagian pada tanaman yang digunakan sebagai sumber perbanyakan dalam kultur jaringan.

Syarat :

1) Mudah disterilisasi

2) Dari jaringan muda, karena lebih mudah diregenerasi

3) Responsif terhadap media pertumbuhan

Sumber eksplan pada tanaman gaharu, yaitu :

a. Tunas pucuk dan tunas buku

1) Tunas pucuk ataupun tunas buku dapat diambil dari kecambah in vitro atau dari bibit di polybag. 2) Tunas dari bibit sebaiknya

diambil dari bibit di polibag yang memiliki tinggi sekitar 1 m, karena :

a. Lebih mudah penanganan dan pemeliharaan.

b. Tunas dapat langsung dipotong dan disterilisasi.

3) Untuk mengurangi kontaminasi jamur waktu eksplan pertama kali dikulturkan, bibit di polibag disemprot dengan fungisida seminggu sebelum sterilisasi eksplan.

(11)

Biji merupakan bagian tumbuhan yang bersifat rekalsitran (cepat kehilangan daya tumbuh) sehingga disarankan untuk memilih biji yang baru dipanen dari pohon.

2. Sterilisasi

Sterilisasi diperlukan untuk mencegah adanya mikroba berupa bakteri dan jamur yang terdapat pada eksplan maupun alat yang digunakan.

i. Sterilan

Sterilan adalah zat yang mempunyai karakteristik dapat mensterilkan. Sterilan yang biasa digunakan untuk sterilisasi peralatan, yaitu etanol, atau larutan kaporit. Untuk sterilisasi eksplan dapt dilakukan dengan menggunakan alkohol, bahan pemutih pakaian, atau HgCl2.

(12)

3. Perbanyakan (Multiplikasi)

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar air flow cabinet untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan diletakkan di tempat yang steril pada suhu kamar. Proses perbanyakan dalam kultur jaringan tanaman Gaharu terdiri dari 3 macam, yaitu :

i. Perbanyakan tunas aksilar

ii. Perbanyakan tunas adventif

iii. Embriogenesis somatik

Hal-hal yang dibutuhkan dalam proses perbanyakan (multiplikasi) yaitu :

1) Media : sebagai sumber makanan (nutrisi) bagi eksplan untuk tumbuh dan berkembang. Formulasi media yang banyak dipakai di kultur jaringan gaharu yaitu Murashige and Skoog (MS),

diformulasikan tahun 1962. Komposisi media kultur jaringan meliputi:  Unsur hara makro (> mg/L) : N, P, K, Ca, Mg, S

 Unsur hara mikro (< mg/L) : Fe, B, Mo, Zn, Cu, Mn

 Vitamin : myo-inositol, nicotinic acid, thiamin (B1), Pyridoxin (B6)  Asam amino : Glycine

 Sumber karbon : sukrosa  Fitohormon :

a. Auksin

 Merangsang pertumbuhan akar dan pembentukan kalus.

 Auksin alami, yaitu IAA, diproduksi di ujung tunas dan dialirkan ke tunas lateral dan akar.

 Auksin sintetik : NAA, 2,4-D, IBA, picloram, 2,4,5-T. b. Sitokinin

 Merangsang pembentukan tunas adventif.  Sitokinin alami, yaitu zeatin, diproduksi di

(13)

2) Kondisi tumbuh

Kondisi tumbuh yang diperlukan pada proses multiplikasi, yaitu :

 Suhu : 22-250C

 Kelembaban

 Cahaya

 Aseptik

4. Induksi Akar

Induksi akar adalah tahap dimana eksplan menunjukkan adanya pertumbuhan akar, yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar, serta melihat ada tidaknya kontaminasi jamur/bakteri.

5. Aklimatisasi

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptik ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memeberikan sungkup. Sungkup

(14)

serangan hama penyakit & udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya, maka secara bertahap sungkup dapat dilepas & pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama seperti pada pemeliharaan bibit secara generatif.

BAB III

6. plastik prophopilen (PP) 0,3 mm

7. hand sprayer

8. magnetic stirrer

9. hot plate

 media Murashige and

(15)

 desinfektan

(Clorox/bayclin)

 sabun cuci

(16)

3.3 Langkah Kerja :

a) Sterilisasi alat

1. Peralatan meliputi botol kultur, scalpel, dan pinset dicuci dengan menggunakan sabun cuci, dibilas, kemudian dikeringkan. Alat-alat yang sudah kering dibungkus dengan aluminium foil (kecuali botol kultur).

2. Semua alat tersebut disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1,5 Psi selama 45 menit.

3. Kemudian, peralatan diletakkan di tempat yang bersih. b) Pembuatan larutan stok

1. Pembuatan larutan stok dilakukan dengan cara menimbang bahan-bahan kimia, hara makro, hara mikro, serta ZPT sesuai komposisi media MS.

2. Bahan-bahan tersebut dilarutkan dengan akuades steril lalu diaduk menggunakan magnetic stirrer, lalu dimasukan ke dalam botol dan disimpan dalam lemari pendingin.

c) Pembuatan media tanam

1. larutan stok dilarutkan dengan akuades sampai volume larutan mencapai 250 ml (¼ liter).

2. Kemudian ditambahkan gula sebanyak 7,5 g.

3. Larutan dimasukkan dalam beker gelas dan diaduk dengan menggunakan magnetic stirer.

4. Lalu, Larutan dikondisikan pada pH 6,3 dengan menambahkan NaOH bila pH terlalu rendah dan bila pH terlalu tinggi ditambahkan dengan HCl.

5. Kemudian, larutan ditambahkan agar-agar sebanyak 2 g.

6. Larutan tersebut diaduk dan didihkan dengan magnetic stirer dan hot plate. Setelah mendidih, larutan tersebut dituangkan ke botol kultur ± 25 ml setiap botolnya. Botol ditutup dengan aluminium foil.

7. Media disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121°C, tekanan 1,5 psi selama 30 menit. Setelah itu, botol-botol ditempatkan pada rak-rak kultur

d) Sterilisasi eksplan gaharu

1. Siapkan tunas pucuk muda tanaman gaharu. Potong menjadi

bagian-bagian pendek.

(17)

3. Kemudian, rendam dalam larutan desinfektan (Clorox/bayclin) selama 20 menit.

4. Cuci dengan air steril 3-4 kali hingga bersih dari desinfektan.

e) Penanaman eksplan

1. Penanaman eksplan dilakukan pada media inisiasi tunas in vitro di dalam Laminar Air Flow Cabinet (LAFC).

2. Botol ditutup dengan aluminium foil dan melapisinya dengan plastik PP 0,3 mm.

f) Pemeliharaan

Tunas-tunas yang ditanam dalam media in vitro, disimpan di ruang steril. Botol steril disimpan pada rak kultur yang diberi cahaya lampu TL dengan intensitas cahaya 1000-4000 lux. Lampu TL diatur 16 jam menyala dan 8 jam padam agar sesuai dengan keadaan siang dan malam. Ruangan tempat penyimpanan dijaga suhunya di temperatur 22-250C. Inisiasi in vitro pertama adalah saat tunas berusia 3 minggu dan pemanjangan tunas 3-4 minggu.

g) Memindahkan tanaman eksplan (induksi akar)

1. Keluarkan tanaman eksplan yang akan dibersihkan kalusnya dengan menggunakan pinset.

2. Letakkan di sebuah wadah dengan kapas diatasnya.

3. Jepit bagian batang eksplan dengan pinset, kemudian potong bagian kalusnya menggunakan pinset dengan hati-hati.

4. Potong kalus dari keempat sisinya, jangan sampai kalus tersebut terpotong semua.

5. Setelah selesai, bersihkan kalus tersebut dari media dengan menggunakan kapas steril.

6. Pindahkan tanaman eksplan yang telah bersih dengan

menggunakan pinset kedalam media agar pada botol yang baru. 7. Untuk menginduksi pembentukan akar digunakan auksin NAA 1.0

mg/l

8. Kemudian, Tutup botol dengan aluminium foil, jaga agar tetap steril.

(18)

Setelah tanaman menghasilkan akar, perlu adanya proses aklimatisasi (adaptasi), yaitu:

1. Tanaman di botol dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan sisa agar dan media yang melekat di akar.

2. Kemudian, Tanaman dipindahkan ke pot yang berisi media kompos, lalu ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembaban.

3. Tanaman kemudian diletakkan di dalam rumah kaca.

4. Selama masa aklimatisasi maka dalam perawatannya dapat diberi makan berupa ramuan MS (murashige and Skoog) dengan 1/2 dosis dan di tambah kandungan Kalsium dan kaliumnya menjadi dua kali lipatnya. Proses aklimatisasi bisa berlangsung sekitar 1 - 2 bulan.

5. Lalu, larutan Larutan dikondisikan pada pH ± 5,5 – 5,8 dengan menambahkan NaOH bila pH terlalu rendah dan bila pH terlalu tinggi ditambahkan dengan HCl.

6. Setelah itu, plastik penutup dapat dibuka.

i) Proses Pembesaran Bibit

1. Dimulai dari pemindahan bibit hasil kultur jaringan di dalam bak semai ke dalam pot atau polibag.

2. Kemudian, diletakkan pada nursery yang diberi paranet dan agar bibit hasil kultur jaringan dapat terkena sinar yang memadai baik intensitas maupun durasinya.

3. Sebaiknya masih terlindung dari hujan. Dalam perawatannya boleh mulai pakai pupuk lengkap, tetap di tambah kalsium dan kaliumnya serta dibantu dengan hormon sedikit.

4. Yang harus dijaga adalah jangan sampai bibit tersebut dehidrasi kekurangan air, kondisi iklim dan fluktuasinya jangan sampai terlalu ekstrim. Proses pembesaran bibit dapat berlangsung selama 1 bulan.

BAB IV

(19)

Dalam pelaksanaan kultur jaringan sangat diperlukan ketelitian dan keterampilan supaya tidak terjadi kontaminasi pada eksplan yang dapat berimbas pada kegagalan seluruh proses pembuatan kultur jaringan. Adapun macam-macam dari kontaminasi antara lain :

1. Tipe-tipe kontaminasi

Eksplan atau kultur dapat terkontaminasi oleh berbagai mikroorganisme seperti jamur, bakteri, serangga, atau virus. Organisme-organisme tersebut secara umum terdapat pada jaringan tumbuhan. Banyak yang bersifat non-patogenik (pada kondisi normal), namun pada in vitro yang mengandung sukrosa, zat hara, dan kelembaban tinggi disukai mikroorganisme yang seringkali tumbuh & berkembang sanagt cepat, mengalahkan eksplan.

2. Kontaminasi permukaan

Kontaminasi mungkin terjadi pada permukaan tanaman, antar sel ataupun di dalam sel tanaman. Kontaminasi permukaan dapat diatasi dengan pencucian menggunakan berbagai bahan kimia. 3. Kontaminasi endogenus

Organisme yang hidup pada jaringan tanaman lebih susah

ditangani. Hal ini dapat diminimalisir dengan pemberian pestisida atau fungisida sistemik yang diberikan pada tanaman stok sebelum dijadikan eksplan/ dapat juga diberikan pada kultur itu sendiri.

Teknik kultur jaringan yang meliputi pemilihan eksplan, sterilisasi, perbanyakan (multiplikasi), induksi akar, dan aklimatisasi akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan yang berkualitas sebagai bahan dasar pembentukan kalus, penggunaan media yang cocok, dan keadaan yang aseptik. Kelebihan bibit hasil kultur jaringan yaitu :

 Kontinuitas ketersediaan bibit dalam jumlah besar akan terjaga sepanjang waktu.

 Bibit yang sama memiliki sifat yang sama dengan induknya.  Bibit yang dihasilkan bebas dari penyakit dan virus.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.blogku-agroteknologi.com/2013/kultur-jaringan/

http://www.eshaflora.blogspot.com/2012/05/budidaya-gaharu-super-intensif/ http://www.rintise.blogspot.com/2011/09/variasi-kultur-jaringan/

http://www.gaharublog.files.wordpress.com/kultur-jaringan-gaharu/ http://www.luqmanmaniabgt.blogspot.com/kuljar-gaharu/

http://www.pasaiagarwood.blogspot.com/teknik-kuljar-gaharu/ http://www.wikipedia.org.id/kultur-jaringan/

Gambar

Tabel 1. Spesies Tanaman Penghasil Gaharu
Tabel 2. Jenis tanaman penghasil gaharu dan daerah penyebarannya di Indonesiadan Malaysia.

Referensi

Dokumen terkait

Kultur jaringan/Kultur In Vitro/Tissue Culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang

Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ dan ditumbuhkan pada media

Teknik perbanyakan menggunakan kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuh-kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi yang aseptik secara..

Kultur in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan, atau organ yang steril, ditumbuhkan pada medium

Kultur jaringan adalah metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ atau bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali?. Tanaman

Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian tersebut dalam media

Penerapan teknik kultur jaringan didasarkan pada prinsip bahwa tanaman dapat ditumbuhkan dan diperbanyak secara in vitro dari sekelompok sel atau sebagian kecil jaringan tanaman

Kultur jaringan atau kultur in vitro atau tissue culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi sel, jaringan, dan organ tanaman kemudian menumbuhkan bagian tersebut pada medium buatan