Ruang Lingkup Hukuman dan Jarimah dalam Hukum
Pidana Islam
A.
Macam-macam Hukuman dan JarimahHukuman dibagi menjadi beberapa macam sesuai dengan tindak pidana yang dituangkan dalam syara’ ataupun yang tidak terdapat nash hukumnya. Ditinjau dari segi ada dan tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an dan Hadist, hukuman dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Hukuman yang ada nashnya, yaitu hudud, qisas, diyat, dan kafarah. Misalnya, hukuman bagi pezina, pencuri, perampok, pemberontak, pembunuh, dan orang yang mendzihar istrinya;
2. Hukuman yang tidak ada nashnya, yang disebut hukuman ta’zir, seperti percobaan melakukan tindak pidana, tidak melaksanakan amanah, bersaksi palsu dan lainnya.
Ditinjau dari segi hubungan antara hukuman dengan hukuman yang lain ada empat macam hukuman, yaitu:
1. Hukuman pokok (al-uqubat al-ashliyah), yaitu hukuman asal bagi kejahatan, seperti hukuman mati bagi pembunuh dan hukuman jilid seratus kali bagi pezina ghairu muhshan.
2. Hukuman pengganti (al-uqubat al-badaliyah), yaitu hukuman yang menempati tempat pokok apabila hukuman pokok itu tidak dapat dilaksanakan karena alasan hukum diyat, seperti hukuman bagi pembunuh yang sudah dimaafkan qisasnya oleh keluarga korban.
3. Hukuman tambahan (al-uqubat al-thaba’iyah), yaitu hukuman yang dijatuhkan pada pelaku atas dasar mengikuti hukuman pokok, seperti terhalangnya seorang pembunuh untuk mendapat harta waris dari harta orang yang dibunuh.
Berdasarkan ringan dan beratnya hukuman, ulama membagi jinayah atau jarimah menjadi 3 macam:
1) Jarimah Hudud
Kata hudud adalah bentuk jamak dari kata had. Menurut bahasa, had berarti cegahan. Had juga berarti kemaksiatan sebagaimana dalam firman Allah:
...
...
“...Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya...” (Q.S Al Baqarah: 187)
Hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku kemaksiatan disebut hudud karena hukuman tersebut dimaksudkan untuk mencegah agar orang yang dikenakan hukuman tidak mengulangi perbuatan yang menyebabkannya dihukum. Menurut istilah syara’, had adalah pemberian hukuman yang merupakan hak Allah. Jarimah hudud merupakan hukuman yang jenis dan ancaman hukumannya ditentukan oleh nash (hak Allah) serta tidak bisa dihapuskan oleh perseorangan ataupun masyarakat.
Para ulama sepakat bahwa kategori jarimah hudud ada 7 yaitu: zina, menuduh zina (qadzf), mencuri (sirq), merampok, menyamun (hirobah), minum minuman keras (surbah), dan murtad (riddah). Jarimah-jarimah ini termasuk kedalam jarimah yang menjadi hak Tuhan, jarimah ini menyangkut masyarakat banyak, oleh karena itu, hak Allah identik dengan hak jamaah atau hak masyarakat.
Dalam pelaksanaan hukuman jarimah ini, pelaku yang telah terbukti berbuat jarimah yang masuk kelompok hudud, hakim harus melaksanakannya sesuai dengan ketentuan syara’, karena memang tidak ada pilihan hukuman lain bagi jarimah ini. Jadi, fungsi hakim terbatas pada penjatuhan hukuman yang telah ditentukan, tidak berijtihad dalam memilih hukuman.
menghindari keraguan dalam menjatuhkan vonis bagi pelaku jarimah, sebagaimana kaidah hukum menyatakan berikut:
تاهبشلااب دودحلا اوءردإ
“Hindarilah hukuman had (hudud) karena ada keraguan (syubhat)”
Adapun jarimah yang termasuk dala kelompok hudud menurut para ulama ada tujuh macam, yaitu perzinaan, qadzaf, minum-minuman keras, pencurian, pembegalan, pemberontakan dan keluar dari agama islam. Diantara hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah SAW yang tidak boleh diubah adalah sevagai berikut:
1. Hukuman pancung kepada orang yang tidak shalat tiga waktu berurut-turut tanpa udzur syar’i sesudah dinasihatkan
2. Hukuman qisas, yaitu membunuh dibalas bunuh, luka dibalas luka 3. Hukuman sebat kepada orang yang memfitnah orang lain
4. Hukuman rotan 100x bagi pezina yang belum menikah, dirajam sampai mati bagi pezina yang sudah menikah
5. Hukuman cambuk dengan rotan 80x bagi orang yang menuduh orang berzina tanpa bukti yang cukup
6. Hukuman cambuk dengan rotan 80x untuk peminum arak
Al-Qur’an dan Sunnah telah menetapkan hukuman untuk kesalahan tertentu yang mengharuskan adanya hukuman, yaitu berzina, menuduh berzina, mencuri, mabuk, mengacau, murtad dan memberontak. Untuk pelaku zina dikenakan hukuman pukulan jika yang berzina itu jejaka dengan perawan. Akan tetapi, jika keduanya adalah janda dan duda, hukumannya adalah rajam. Firman Allah SWT:
“Dan (terhadap) Para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, Maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya” (Q.S An Nisa: 15)
...
ماع برغتو ةئام دلج ركباب ركبلأ ليبس نهل هللا لعج دق ينع اوذخ ينع اوذخ
مجرلاو ةئام دلج بيشلا اب بيشلاو
“Ketahuilah... ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan untuk mereka. Untuk jejaka dan perawan dihukum dengan seratus kali pukulan dan diasingkan setahun lamanya. Dan untuk duda dan janda dihukum dengan pukulan seratus kali dan rajam”.
Untuk orang yang menuduh zina dikenakan hukuman delapan puluh kali pukulan. Firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S An Nur: 4)
Terhadap pencuri dikenakan hukuman potong tangan. Firman Allah SWT:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S Al Maidah: 38)
Bagi orang yang membuat kerusakan dimuka bumi dikenakan hukuman mati atau disalib atau dipotong tangan dan kainya secara silang atau diusir atau diasingkan ke tempat yang jauh dari kampungnya. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Q.S Al Maidah: 33)
Bagi pemabuk dikenakan hukuman berupa delapan puluh atau empat puluh pukulan. Sementara itu bagi orang murtad dikenakan hukuman mati. Sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:
Bagi perusuh atau pelaku sengketa dikenakan hukuman mati. Firman Allah SWT:
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (Q.S Al Hujarat: 9)
Rasulullah SAW bersabda:
,
عيمج مهو نيملسملارمأ قرفي نأ دارأ نمف تانه يدعب نوكتس هنإ
ناك نم انئاك فيسلاب هوبرضاف
“Nanti akan datang keburukan demi keburukan. Barang siapa yang hendak memecah belah umat islam dalam keutuhannya, maka penggalah dia dengan pedang siapapun orangnya.”
berbagai kejahatan serta kerusakan sendi-sendi kehidupan individu dan masyarakat. Hukuman zina memang lebih ditekankan pada usaha pencegahan serta menakut-nakuti dari pada realisasinya. Begitupun juga dengan qadzf, Tuduhan berzina yang ditujukan kepada pria atau wanita yang masih dalam ikatan pernikahan dapat mengakibatkan putusnya hubungan keluarga atau dapat memisahkan suami istri yang terkena tuduhan. Tuduhan zina bisa meruntuhkan keutuhan rumah tangga. Dengan demikian, ketentuan agama berupa hukuman 80x pukulan terhadap penuduh, jika tidak dapat mendatangkan 4 orang saksi mata sebagai bukti tuduhannya, ini merupakan hal yang sangat bijaksana dan sangat memperhatikan segi kemaslahatan, yaitu agar kehormatan orang tidak terganggu dan nama baiknya tidak dirugikan.
Sayyid Sabiq menegaskan bahwa ketinggian syariat islam tidak dapat ditandingi oleh hukum buatan manusia yang dibuat atas dasar pragmatisme dan hawa nafsu masing-masing. Ketentuan hukum Allah yang diterapkan dinegara-negara yang menjalankannya secara konsekuen telah berhasil secara nyata, baik dari segi mewujudkan keamanan maupun segi pemeliharaan harta benda dari para pelaku kriminal. Misalnya saja Uni Sovyet, hukuman terhadap pencuri adalah hukuman mati (hukuman tembak). Para pembangkang yang sering membuat kerusakan telah dikenakan hukuman potong tangan dan kaki secara menyilang atau diusir dari tempat tinggalnya.
Di Indonesia, ringannya hukuman bagi para pelaku kejahatan tidak meminimalisir tindak kejahatan, sebaliknya tindak kejahatan semakin banyak dengan berbagai modus operandi yang beragam. Hal ini merupakan sebuah indikasi bahwa hukum yang diterapkan tidak menimbulkan efek jera bagi para pelaku kejahatan dan tidak membuat rasa takut para penjahat lainnya.
Dalam hukum pidana islam sendiri dikenal 2 bentuk hukuman, yaitu: had dan ta’zir. Yang termasuk dalam hukuman had adalah, murtad, zina, qadzf, mencuri, merampok, dan meminum khamar. Status hukuman bagi pelanggaran-pelanggaran tersebut terdapat dalam nash, baik didalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Itulah sebabnya, hukuman had merupakan bentuk hukuman yang ditetapkan oleh syariat. Sementara hukuman ta’zir, yaitu bentuk hukuman yang tidak terdapat dalam nash Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, tetapi didasrkan pada pertimbangan akal sehat dan keyakinan hakim untuk mewujudkan maslahat dan menimbulkan rasa keadilan.
Para ulama sepakat bahwa hukuman ta’zir dapat diterapkan pada setiap maksiat pelanggaran yang tidak ada hukuman had-nya. Menurut para ahli, adanya ta’zir dalam hukum pidana islam menjamin rasa keadlilan masyarakat untuk mewujudkan maslahat. An Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
احابص نيعبرأ اورطمي نأ نم لهلريخ ضر لا يف هب لمعي دح
“Suatu hukum yang dilaksanakan didunia adalah lebih baik bagi penduduknya daripada dicurahi hujan selama empat puluh hari”
Dengan demikian, setiap perbuatan atau usaha yang bersifat menghalangi dan menentang terlaksananya hukuman berarti manghalangi hukum-hukum Allah.
Pelaksanaan hukuman membutuhkan ketegasan, tanpa pandang bulu. Kasih sayang kepada masyarakat lebih penting dari pada hanya kepada individu. Dalam suatu hadist ditegaskan:
محري نم ىلع انايحأ سقيلف امزاح كي نمو اورجدزيل اسقف
“Bertindak keraslah agar tertib. Barang siapa yang menginginkan ketertiban sesekali bertindak tegaslah kepada orang yang kau kasihi”
berarti menghalangi hakim melaksanakan kewajibannya dan membuka peluang bagi terhentinya hukum dan keadilan. Adapun sebelum perkaranya sampai ditangan hakim, pemberian perlindungan dan pertolongan kepada pelaku pelanggaran masih boleh dilakukan.
Imam Ahmad dan para pengarang kitab As-Sunnan pernah mengeluarkan hadist dari Safwan bin Umayyah yang menceritakan bahwa Nabi pernah berkata kepadanya (Safwan) pada saat akan memotong jari seseorang yang mencuri selendangnya. Menjelang pelaksanaan hukuman, Safwan menjelaskan bahwa dia telah memaafkan orang yang mencuri selendangnya. Keterangan itu dijawab oleh Nabi SAW:
هب ينيتأت نأ لبق نلك له
“Tidak apa-apa diampuni, seandainya engkau belum menyerahkan dia (pencuri) kepadaku”
Hakim dalam menjatuhkan hukuman harus berpegang pada keyakinan. Keraguan bertentangan dengan keyakinan yang menjadi dasar penegakan hukum. Oleh karena itu, majelis hakim dalam menjatuhkan vonis harus berdasarkan keyakinan. Menurut Sayyid Sabiq, madzhab Hanafi dan madzhab Syafi’i menjelaskan beberapa macam keraguan dalam menentukan sanksi hukum, yaitu sebagai berikut:
a. Penganut Madzhab Syafi’i
Kalangan penganut madzhab syafi’i membagi syubhat (keraguan menjadi 3 bagian:
1) Keraguan yang berkenaan dengan sasaran perbuatan, seperti menyetubuhi istri yang sedang haid atau berpuasa dan menyetubuhinya dari belakang. Kedua pintu masuk itu menjadi hak suami. Akan tetapi, pemilikan dan penguasaan sang suami atas dua pintu itu merupakan kesyubhatan yang memungkinkan pelakunya menolak hukuman, tanpa terkait pada pendapatnya tentang haram atau tidaknya melakukan perbuatan melalui jalan tersebut.
Dalam contoh ini, yang menjadi dasar syubhat adalah keyakinan pelaku yang telah berbuat karena dia yakin hal itu bukan pekerjaan yang diharamkan, yakni dia yakin sasarannya itu adalah istrinya. Menurut mereka, kesyubhatan jenis ini memungkinkan seseorang menolak kesyubhatan.
3) Keraguan yang berasal dari kebingungan menentukan sikap terhadap ketentuan hukum atas perbuatan tertentu. Misalnya seseorang yang bingung untuk memilih satu pendapat mengenai hukum disebabkan banyaknya pendapat para ahli tentang hal itu. Keraguan dalam bentuk ketiga ini bisa dijadikan alasan untuk menolong suatu hukuman.
b. Penganut Madzhab Hanafi
Kalangan madhzab Hanafi membagi syubhat dalam dua bagian, yaitu sebagai berikut:
1) Keraguan menyangkut hak seseorang dalam melakukan perbuatannya, yakni mempertanyakan kehalalan atau keharaman perbuatan baginya. Sementara itu, tidak terdapat dalil sam’i yang secara eksplisit menunjukan halalnya perbuatan itu dan tidak adanya dalil dimaksud, justru dianggap sebagai dalil bagi perbuatannya.
Para ulama Hanafi mensyaratkan bagi kesyubhatan jenis ini, yaitu tidak adanya dalil yang mengharamkannya dan pelaku menyangka halal pekerjaan itu. Jika ada dalil yang menunjukan haram atau pelaku tidak menduga halal, tidak dapat dimasukan dalam kategori syubhat. Jika pelaku mengetahui dengan pasti haramnya melakukan persetubuhan dengan istri yang dalam iddah talak tiga atau talak tebus, ia wajib dijatuhkan hukuman zina.
2) Keraguan yang berkenaan dengan tempat disebut syubhat hukmiah. Keraguan ini berasal dari adnya ketidaktegasan hukum syara’ mengenai halalnya tempat persetubuhan (faraj). Syaratnya adalah keraguan itu timbul dari salah satu ketetapan syara’, yairu adanya dalil syara’ yang membatalkan haramnya perbuatan itu.
Begitupun juga menurut Imam Abu Hanifah, pelaksanaan hukuman harus diserahkan kepada pemerintah dan tidak boleh dilaksanakan sendiri. Apabila pelaksaan hukuman dengan cara main hakim sendiri, pelaku yang dituduh berbuat jarimah tidak memiliki kesempatan membela diri, dan pelaksaan hukum malah menimbulkan kejahatan baru, yaitu pelanggaran hukum oleh orang yang bermaksud melaksanakan hukuman.
Islam juga menganjurkan untuk merahasiakan orang-orang yang berbuat dosa dan tidak tergesa-gesa mengumumkan perbuatan pelaku kepada masyarakat. Sayyid bin Musayyab menerangkan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada seseorang dari suku Aslam, yakni Hazzal, yang datang kepada Nabi untuk mengadukan perihal seorang laki-laki yang telah berzina. Nabi SAW bersabda:
كل اريخ ناك كءادرب هترتسول لازه اي
“Wahai Hazzal! Jika engkau tutupi dia dengan selendangmu, kiranya itu akan lebih baik bagimu”
Jika merahasiakan kesalahan itu dianjurkan, hukum mengumumkannya adalah khilaful aula yang ujungnya bermuara pada makruh tanzih (sangat tidak disukai). Hal ini karena mengumumkan kesalahan orang termasuk kategori sunnah, tetapi merupakan makruh tanzih jika dilihat dari segi tidak melakukannya. Hal ini kaitannya dengan kesalahan seseorang yang belum terbiasa dan sudah terbiasa melakukan kesalahn tersebut. Apabila keadaannya telah mencapai tingakat yang parah, misalnya dalam hal ini adalah perzinaan. Para pezina diumumkan kepada khalayak masyarakat agar merasa malu dan orang lain tidak akan menirunya. Akan tetapi, untuk orang yang baru satu atau dua kali melakukan zina dan itupun dilakukannya secara sembunyi-sembunyi karena merasa takut, kemudian ia menyesali perbuatannya, perzinaan tersebut lebih baik dirahasiakan dulu.
Disamping masalah kedudukan hakim dalam memutuskan hukum, dalam hukum pidana islam dibicarakan juga tempat pelaksaan hukuman dan proses persidangannya. Diantaranya sebagai berikut:
Mayoritas ulama, seperti Imam Malik dan Al Laitsy bin Saad berpendapat bahwa meskipun diwilayah pertempuran, hukuman harus dilaksanakan. Alasannya adalah perintah melaksanakan hukuman bersifat umum serta tidak mengenal perbedaan daerah. Sementara itu, Abu Hanifah berpendapat lain, bahwa seorang amir yang sedang menaklukan daerah tidak boleh melaksanakan hukuman terhadap salah seorang anggota tentaranya, karena melaksanakan hukuman didaerah peperangan dapat menimbulkan pengkhianatan atau terhukum membelot kepihak kafir (musuh). Hukuman harus dilaksanakan oleh amir-amir didaerah yang telah diperintah atau dikuasai.
Hukuman dalam situasi perang dikhawatirkan menimbulkan ekses yang lebih buruk lagi. Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawiyah, Imam Auza’i, dan ulama islam lain melarang pelaksanaan hukuman didalam peperangan. Menunda atau menggugurkan hukuman demi mengingat kemaslahatan yang lebih besar lebih baik bagi kaum muslim, sementara orang yang bersangkutan harus menghukum dirinya sendiri.
b) Larangan melakukan hukuman didalam masjid
Dilarang melaksanakan hukuman didalam masjid karena menjaga agar tidak terjadi pengotoran. Abu Dawud meriwayatkan dari Hakim bin Hazam, ia berkata:
نأو راعشلا هيف دشنت نأو دجسملا ىف داقتسي نأ ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر ىهن
دودحلا هيف ماقت
“Rasulullah pernah bersabda yang berisi larangan melakukan qisas, membacakan syair, dan melakukan hukum (had) didalam masjid”
c) Proses persidangan
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah...” (Q.S An Nisa: 135)
Rasulullah SAW bersabda:
...
هنسلبف عطتسي مل نإف هديب ريغيلف اركنم مكنم ىأرنم
“Barang siapa yang diantara kamu melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya dan jika tidak sanggup dengan lisannya...”
Kedudukan hakim sama dengan orang lain. Ia tidak diperkenankan mengumumkan sesuatu yang disaksikannya selama belum memiliki keterangan alat bukti yang lengkap. Seandainya hakim menuduh seseorang berbuat zina atas dasar kesaksiannya tanpa memiliki keterangan yang lengkap atas tuduhannya, dia menjadi penuduh zina tanpa saksi dan harus dihukum. Pendapat tersebut berdasarkan firman Allah SWT:
...
“...Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta”
(Q.S An Nur: 13)
secara implisit, qisas termasuk dalam kelompok jarimah hudud. Karena qisas/diyat dilihat dari segi ditentukan jenis jarimah dan jenis sanksi hukuman oleh Al-Qur’an dan Hadist Nabi sama dengan jarimah hudud, qisas atau diyat masuk kedalam kelompok hudud. Yang termasu kategori jarimah qisas/diyat antara lain:
Pembunuhan sengaja
Pembunuhan semi sengaja
Pembunuhan keliru Penganiayaan sengaja
Penganiayaan
2) Jarimah Qisas
Diantara jarimah qisas diyat yang paling berat adalah hukuman bagi pelaku tindak pidana pembunuhan sengaja karena hukumannya dibunuh. Pada dasarnya, seseorang haram menghilangkan nyawa orang tanpa alasan syara’, bahkan Allah mengatakan tidaka ada dosa yang lebih besar lagi setelah kekafiran selain pembunuhan terhadap orang mukmin. Dalam suran An Nisa ayat 93 disebutkan:
“Dan Barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Q.S An Nisa: 93)
membayar diyat denda senilai 100 ekor unta merupakan hukuman pengganti (uqubah badaliyah) dari hukuman mati yang merupakan hukuman asli (uqubah ashliyah) dengan syarat adanya pemberian maaf dari keluarganya. Seperti halnya jarimah hudud, jarimah qiyas diyat pun telah ditentukan jenis ataupun besar hukumannya.
Diantara perbedaan jarimah qisas/diyat dengan jarimah hudud adalah jarimah qisas atau diyat menjadi hak perseorangan atau hak adami yang membuka kesempatan pemaafan bagi pembuat jarimah oleh orang yang menjadi korban, wali tau ahli warisnya. Jadi, dalam kasus jarimah qisas atau diyat, korban atau ahli warisnya dapat memaafkan terdakwa, mniadakan qisas dan menggantinya dengan diyat atau meniadakan diyat. Oleh kareana itu seorang kepala negara dalam kedudukannya sebagai penguasa tidak berkuasa memberikan pengampunan bagi tedakwa pembuat jarimah. Akan tetapi, apbila korban tidak mempunyai wali atau ahli waris, wali bagi orang tersebut adalah kepala negara.
Kekuasaan hakim terbatas pada penjatuhan hukuman apabila perbuatan yang dituduhkan itu dapat dibuktikan. Penjatuhan hukuman qisas hanya dijatuhkan hakim selama korban atau ahli warisnya tidak memaafkan pembuat jarimah. Jika hukuman qisas diamanatkan dan korban ahli waris meminta diat, hakim harus menjatuhkan diat.
dan setimpal dengan perbuatannya. Hanya, kalangan pemikir barat menganggap hukuman qisas bertentangan dengan hak asasi manusia, karena tidak memberi kesempatan kepda terdakwa untuk memeperbaiki kehidupanya. Akan tetapi, pandangan ini dalam peraktiknya tidak dapat dibuktikan karena orang-orang barat menerapkan hukuman bagi pelaku pembunuhan dan lainya dengan cara disetrum, disuntik mati, ditembak, bahkan digantung.
Rahmat hakim mengatakan bahwa untuk menjamin ketentraman dan keamanan, qisas di pandang lebih menjamin prinsip keadilan dari pada jenis hukuman lain. Seseorang akan berpikir ulang jika berniat membunuh karena sanksi hukumananya berat.
3) Jarimah ta’zir
Ta’zir menurut artinya al-ta’did yaitu memberi pengajaran. Dalam fiqh jinayah, ta’zir merupakan bentuk jarimah, yang sangsi hukumnya ditentukan penguasa. Jadi, jarimah ini sangat berbeda dengan jarimah qisas/diyat yang macam bentuk hukumanya telah ditentukan oleh syara’, karena jarimah ini berkaitan dengan perkembangan masyarakat dan kemaslahatanya, dan kemaslahatan tersebut selalu berubah dan berkembang. Oleh karena itu jarimah ta’zir sering disebut dengan jarimah kemaslahatan umum.
Dalam menangani kasus jarimah ini hakim diberikan keleluasaan. Dia bebas berijtihad untuk menentukan vonis kepada pembuat jarimah, sesuai dengan jenis jarimah dan keaadaan pelakunya. Jarimah ta’zir seperti ini berlaku abadi diseluruh tempat diseluruh tempat dan tidak akan ada perubahan terhadapnya. Artinya, perbuatan seperti itu tidak akan dianggap selama sebagai jarimah. Jarimah ta’zir yang ditentukan syara’ diantaranya khianat, suap menyuap, memasuki rumah tanpa rumah tanpa ijin, makan-makanan tertentu, ingkar janji, menipu timbangan, riba, berjudi, dan lain sebagainya. Akan tetapi, walaupun bentuk dan hukuman ta’zir ditentukan syara’ penerapan sanksinya diserahkan pada kebijakan hakim.
Dapat disimpulkan bahwa jarimah ta’zir terbagi dalam dua kategori, yaitu ta’zir syara’ dan ta’zir penguasa. Ta’zir syara’ ditentukan oleh syara’ dan bersifat abadi, artinya sejak diturunkan oleh pembuat syari’at, selamanya dianggap sebagai jarimah. Adapun ta’zir penguasa ditentukan oleh penguasa dan bersifat sementara, bergantung pada kedaaan dan dapat dianggap jarimah apabila diperlukan. Sebaliknya, dapat dianggap bukan jarimah jika menghendaki demikian. Adapun persamaan kedua jarimah tersebut terletak pada sanksi keduanya yang ditentukan oleh penguasa.
penguasa adalah menjaga kepentingan umum dan melindungi setiap anggota masyarakat dari segala hal yang membahayakan. Dalam ktab subulus salam diebutkan bahwa selain penguasa, orang yang berhak memberikan hukuman ta’zir adalah:
1. Ayah: seorang ayah boleh memberikan hukuman ta’zir kepada anaknya yang masih kecil dengan tujuan pendidikan.
2. Majikan: seorang majikan boleh men-ta’zir hambanya, baik yang berkaitan denagn dirinya maupun dengan Allah.
3. Suami: seorang suami diperbolehkan melakukan ta’zir kepada istri apabila istri melakukan nusyuz.
Abdul Qodir Audah membagi jarimah ta’zir menjadi tiga, yaitu:
1) Jarimah hudud dan qisas diyat yang mengandung unsur Syubhat (sama) atau tidak memenuhi syari’at, baik syubhat fi al fi’li, fi al-fail, maupun fi al-mahal. Akan tetapi, hal itu sudah dianggap sebagai maksiat, seperti pencurian harta syirkah, pembunuhan ayah terhadap anaknya, dan pencurian yang bukan harta benda
2) Jarimah ta’zir yang jenis jarimahnya ditentukan oleh nash, tetapi sanksinya oleh syari’at diserahkan kepada penguasa, seperti sumpah palsu, saksi palsu, mengurangi timbangan, menipu, mengingkari janji, menghianati amanah dan menghina agama
3) Jarimah ta’zir yang jenis sanksinya secara penuh menjadi wewenang penguasa demi terealisasinya kemaslahatan umat.
Sanksi hukuman ta’zir banyak jumlahnya, antara lain sebagai berikut: 1. Hukuman mati
Pada dasarnya , hukuman ta’zir bertujuan untuk pengajaran, oleh karena itu, dalam hukuman ta’zir tidak boleh ada pemotongan anggota badan atau nyawa. Akan tetapi, ada beberapa ulama memberikan pengecualian dari aturan hukum tersebut, yaitu boleh dijatuhi hukuman mati jika keadaan menghendaki demikian.
2. Hukuman jilid
pendapat yang paling terkenal dari kalangan ulama Maliki bahwa batas tertinggi diserahkan kepada penguasa.
3. Hukuman penjara/kurungan
Ada dua macam hukuman kurungan menurut hukum islam, pertama, hukuman penjara terbatas. Batas terendah dari hukuman ini adalah satu hari, sedangkan batas tertinggi ulam bebeda pendapat. Kedua, hukuman penjara tidak terbatas, hukuman ini berlangsung terus hingga terhukum mati atau bertobat dan kembali menjadi orang yang baik pribadinya. 4. Hukuman salib
Untuk jarimah ta’zir, hukuman salib tidak dibarengi atau didahului oleh hukuman mati. Penyaliban ini, menurut fuqaha tidak lebih dari tiga.
5. Hukuman ancaman (tahdid), teguran (tanbih), dan peringatan 6. Hukuman pengucilan (al-hajru)
Dalam sejarah, Rasulullah pernah melakukan hukuman pengucilan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk, yaitu Ka’ab bin Malik, Miroroh bin Rubai’ah dan Hilal bin Umayyah
7. Hukuman denda (tahdid)
Ada dua aspek yang ditonjolkan dari perbuatan jarimah, yaitu jarimah secara ijabiyyah, artinya aktif melakukan perbuatan jarimha tadi, yang maksudnya adalah melakukan sendiri perbuatan yang dilarang, seperti mencuri, berzina, mabuk membunuh dan lain sebagainya. Sebaliknya, pelaku jarimah salabiyyah, artinya pelaku pasif tidak melakukan sesuatu perbuatan jarimah, seperti tidak melakukan shalat, tidak membayar zakat dan lain sebagainya. Dari sudut pandang ini pula, jarimah terbagi dalam dua bagian. Pertama, jarimah-jarimah yang disengaja atau jaraim al-makshudah, yang dinitakan atau direncanakan. Kedua, jarimah tidak disengaja atau jaraim ghair makshudah. Jarimah seperti ini dapat terjadi karena kekeliruan.
B. Sebab-sebab Terhapusnya Hukuman
Berikut adalah penyebab tehapusnya hukuman 1. Paksaan
menimbulkan pada diri orang yang dipksa suatu keadaan yang mendorong dirinya untuk melkukan perbuatan yang diperintahkan. Ketiga, paksaan merupakan ancaman atas seseorang dengan sesuatu yang tidak disenangi untuk mengerjakannya. Keempat, paksaan adalah sesuatu yang diperintahkan seseorang kepada orang lain yang membahayakan dan menyakitinya.
2. Mabuk
Tidak dijatuhi hukuman oleh sebab ini adalah jika ia dipaksa atau secara terpaksa atau dengan kehendak sendiri, tetapi tidak mengetahui bahwa yang diminumnya itu bisa mengakibatkan mabuk.
3. Gila (majnun)
Orang gila tidak dikenakan hukum jarimah karena tidak mempunyai kekuatan berpikir dan memilih.
4. Dibawah Umur
Anak dibawah umur dipandang belum dibebani hukum atau tidak termasuk mkallaf, oleh karenanya, tidak ada kewajiban hukum atasnya dan tidak ada pertanggung jawaban atas perbuatannya sehingga ia mencapai dewasa.
Dari uraian dtersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam hukum pidana islam dikenal empat macam jarimah apabila ditinjau dari berat ringannya hukuman yang diancamkan, yaitu sebagi berikut:
1. Jarimah qisas, yaitu jarimah yang diancam dengan hukuman qisas. Qisas adalah hukuman yang sama dengan jarimah yang dilakukan. Pembunuhan dan penganiayaan dengan sengaja mengakibatkan terpotong atau terlukanya anggota badan termasuk dalam jarima ini.
3. Jarimah hudud, yaitu jarimah yang diancam dengan hukuman had. Had adalah hukuman yang telah ditentukan dalam nash Al-Qur’an atau Sunnah Rasul dan telah pasti macamnya serta menjadi hak Allah, tidak dapat diganti dengan hukuman lain atau dibatalkan oleh manusia. Pencurian (as-sariqah), perampokan (al-hirabah), pemberontakan (al-bughat), zina (az-zina), menuduh zina (qadfz), minum-minuman keras (as-sakr), dan murtad (ar-riddah) termasuk kedalam jarimah hudud.
4. Jarimah ta’zir, yaitu jarimah yang diancam dengan hukuman ta’zir. Jarimah ta’zir adalah hukuman yang tidak dipastikan ketentuannya didalam nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Ada jarimah ta’zir yang disebutkan dalam nash, tetapi jenis hukumannya diserahkan kepada penguasa untuk menentukannya, dan ada pula jarimah yang macam ataupun macam hukumannya diserahkan sepenuhnya kepada penguasa.
KOMENTAR
baik hal itu merupakan hak Allah maupun hak individu. Dalam pengertian ini termasuk hukuman qishash dan diat. Dalam aarti khusus had itu adalah hukuman yang telah di tentukan oleh syara’ dan merupakan hak Allah, seperti hukuman potong tangan untuk jarimah pencurian, dera seratus kali untuk jarimah zina, dan dera delapan puluh kali untuk untuk jarimah qadzaf. Dalam pengertian khusus ini , hukuman qishash dan diat tidak termasuk, karna keduanya merupakan hak individu. Sedangkan pengertian “ta’zir” adalah hukuman yang belum di tentukan oleh syara’ dan untuk penetapan serta pelaksanaannya diserahkan kepada Ulil amri (penguasa) sesuai dengan bidangnya.
Walaupun demikian, meskipun hukuman ta’zir itu ketentuannya diserahkan kepada Ulil amri (penguasa), namun dalam pelaksanaan tetap berpedoman kepada dasar-dasar yang telah ditetapkan oleh Alqur’an dan As-sunnah dengan tujuan untuk mencegah manusia, supaya ia tidak membuat kekacauan dan kerusakan.
Suatu perbuatan dinamai jarimah (tindak pidana, peristiwa pidana atau delik) apabila perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau masyarakat baik jasad (anggota badan atau jiwa), harta benda, keamanan, tata aturan masyarakat, nama baik, perasaan ataupun hal-hal lain yang harus dipelihara dan dijunjung tinggi keberadaannya. Jadi, yang menyebabkan suatu perbuatan tersebut dianggap sebagai suaatu jarimah adalah dampak dari perilaku tersebut yang menyebabkan kerugian kepada pihak lain, baik dalam bentuk material (jasad, nyawa atau harta benda) maupun nonmateri atau gangguan nonfisik, seperti ketenangan, ketenteraman, harga diri, adapt istiadat, dan sebagainya.
Ruang lingkup hukum pidana islam meliputi pencurian, perzinaan (termasuk homoseksual dan lesbian), menuduh orang yang baik-baik berbuat zina (qadzaf), meminum minuman yang memabukkan (khamar), membunuh dan/melukai seseorang, merusak harta seseorang, melakukan gerakan-gerakan kekacauan dan semacamnya berkaitan dengan hukum kepidanaan atau bughot (pembangkang) . Hukum kepidanaan yang di maksud disebut adalah jarimah.1
Mengenai macam-macam jarimah itu sangat banyak macam dan ragamnya. Akan tetapi agar mudah membaginya, secara garis besar kita dapat membaginya dan meninjauinya dari beberapa segi:
1) Di tinjau dari Segi Berat Ringannya Hukuman
Dari segi berat ringannya hukuman, jarimah dapat di bagi kepada tiga bagian, antara lain:
a. Jarimah Hudud
Jarimah hudud adalah jarimah yang di ancam dengan hukuman had. Pengertian hukuman had adalah hukuman yang telah di tentukan oleh syara’ dan menjadi hak Allah (masyarakat).
Ciri khas Jarimah Hudud itu adalah sebagai berikut:
1. Hukumnya tertentu dan terbatas, dalam arti bahwa hukumannya telah ditentukan oleh syara’ dan tidak ada batas minimal dan maksimal.
2. Hukuman tersebut merupakan hak Allah semata-mata, atau kalu ada hak manusia disamping hak Allah, maka hak Allah yang lebih menonjol. Dalam hubungannya dengan hukuman had maka pengertian hak Allah di sini adalah bahwa hukuman tersebut tidak bisa di hapuskan oleh perseorangan (orang yang menjadi korban atau keluarganya) atau oleh masyarakat yang di wakili oleh negara. Adapun jarimah hudud ini terbagi menjadi tujuh macam. Yakni:
1. Jarimah Zina
2. Jarimah Qazdaf
3. Jarimah Syurbul khomri
4. Jarimah Pencurian
5. Jarimah Hirabah
6. Jarimah Riddah
7. Jarimah Al Baghyu (pemberontakan)
b. Jarimah Qisas/Diyat
dikenakan kepada pelaku pidana sebagi sanksi atas perbuatannya. Sedangkan diyat berarti denda dalam bentuk benda atau harta berdasarkan ketentuan yang harus dibayar oleh pelaku pidana kepada pihak korban sebagai sanksi atas pelanggaran yang dilakukakannya.2 Baik qisas maupun diyat keduanya adalah
hukuman yang sudah ditentukan oleh syara’. Perbedaanya dengan hukuman had adalah bahwa had merupakan hak Allah (masyarakat), sedangkan qisas dan diyat adalah hak manusia (individu). Dan adapun yang dimaksud dengan hak manusia sebagaimana dikemukakan oleh Mahmud Syaltut: “Hak manusia adalah suatu hak yang manfa’atnya kembali kepada orang tertentu”. Pengertian hak manusia di sini adalah bahwa hukuman tersebut bisa dihapuskan atau dimaafkan oleh korban atau keluarganya.
Adapun ciri hasnya jarimah qisas dan diyat adalah sebagai berikut:
1. Hukumannya sudah tertentu terbatas, dalam arti bahwa hukumannya telah ditentukan oleh syara’ dan tidak ada batas minimal dan maksimal.
2. Hukuman tersebut merupakan hak perseorangan (individu), dalam arti bahwa koban atau keluarganya berhak memberikan pengampunan terhadap pelaku.
Adapun jarimah qisas dan diyat hanya ada dua macam, yaitu pembunuhan dan penganiayaan. Namun apabila diperluas maka ada lima macam, yaitu:
1. Pembunuhan sengaja
2. Pembunuhan menyerupai sengaja 3. Pembunuhan karena kesalahan 4. Penganiayaan sengaja
5. Penganiayaan tidak sengaja
c. Jarimah Ta’zir
Jarimah ta’zir adalah jarimah yang di ancam dengan hukuman ta’zir. Pengertian ta’zir menurut bahasa ialah ta’dib atau memberi pelajaran. Juga diartikan Ar rad wa Al Man’u, artinya menolak dan mencegah, akan tetapi menurut istilah, sebagai mana di kemukakan oleh imam Al Mawardi yakni:
“Ta’zir itu adalah hukuman pendidikan atas dosa (tindak pidana) yang belum di tentukan hukumannya oleh syara”
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa hukuman ta’zir itu adalah hukuman yang belum di tetapkan oleh syara’, melainkan diserahkan kepada Ulil amri, baik penentuannya maupun pelaksanaannya. Dalam menentukan hukuman tersebut, penguasa hanya menetapkan hukuman secara global saja. Artinya pembuat undang- undang tidak menetapkan hukuman untuk masing-masing jarimah ta’zir, melainkan hanya menetapkan sekumpulan hukuman, dari yang seringan-ringannya sampai yang seberat-beratnya.
Adapun ciri-ciri nya adalah sebagai berikut:
1. Hukumannya sudah tertentu terbatas, dalam arti bahwa hukumannya telah ditentukan oleh syara’ dan tidak ada batas minimal dan maksimal.
2. Penentuan hukumannya adalah hak penguasa.
Berbeda dengan jarimah hudud dan qisas maka jarimah ta’zir tidak ditentukan banyaknya, hal ini oleh karena yang termasuk jarimah ta’zir ini adalah setiap perbuatan maksiat yang tidak di kenakan hukuman had dan qishash, yang di jumlahnya sangat banyak. Tujuan di berikannya hak penentuan jarimah-jarimah ta’zir dan hukumannya kepada penguasa adalah agar mereka dapat mengatur masyarakat dan memelihara kepentingan-kepentingannya.
2) Di tinjau dari segi niat
Jarimah ini terbagi menjadi dua yakni:
a. Jarimah sengaja (jaraim al-makhsudah)
Jarimah sengaja menurut Muhammad Abu Zahrah adalah: “Jarimah sengaja adalah suatu jarimah yang di lakukan oleh seseorang dengan kesengajaan dan atas kehendaknya serta ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut di larang dan di ancam dengan hukuman”
b. Jarimah tidak sengaja (jaraim ghairu makhsudah)
3) Di tinjau dri segi Cara melakukannya. Jarimah ini juga terbagi menjadi dua, yakni: a. Jarimah positif (jaraim ijabiyyah) b. Jarimah negatif (jaraim salabiyyah)