• Tidak ada hasil yang ditemukan

APRESIASI SASTRA BAHASA INDONESIA PROGRA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APRESIASI SASTRA BAHASA INDONESIA PROGRA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

APRESIASI SASTRA BAHASA INDONESIA

PEMBINAAN MENINGKATKAN MINAT MEMBACA DAN SASTRA SEJAK USIA SEKOLAH DASAR

Oleh : Fitrah Ramadhan NIM : 1815164409

Kelas C 2017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2018

PEMBINAAN MENINGKATKAN MINAT MEMBACA DAN SASTRA SEJAK USIA SEKOLAH DASAR

Fitrah Ramadhan

Abstrak

(2)

kemajuan suatu bangsa dan negara. Dibandingkan dengan negara tetangga, negara indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah. Tingginya minat untuk membaca pada masyarakat adalah kunci sukses untuk menjadi negara maju, ilmu pengetahuan bisa didapat dengan membaca. Keluarga, guru, dan masyarakat adalah bagian penting untuk memajukan minta membaca pada anak usia sekolah.

Kata Kunci: minat membaca, masyarakat, lembaga pendidikan

Abstract

Fostering and improving reading interest, especially student is an attempt to eliminate the low level of reading at this time. Read very clearly on the progress of nation and state. Compared with neighboring countries, Indonesia has a very low reading interest. Higher reading to society is the key to success in becoming a developed country, science can be gained by reading. Families, teachers, and communities are an important part of advancing students.

(3)

PENDAHULUAN

Menurut Sulistyo-Basuki tingkat kemampuan membaca dapat dibedakan atas tujuh tingkatan (1991:7) kemampuan membaca seseorang dapat dilihat sebagai berikut: (1) orang yang tidak mampu membaca sama sekali; (2) orang yang memiliki kemampuan teratas dalam membaca; (3) orang yang sedang belajar dalam membaca; (4) orang yang melek huruf namun tidak membaca kecuali membaca bacaan terbatas pada kehidupan sehari-hari; (5) orang yang melek huruf namun bukan pembaca buku; (6) orang yang melek huruf namun bukan pembaca yang tetap; (7) orang yang melek huruf serta merupakan pembaca buku yang tetap.

Dalam berkomunikasi setiap manusia perlu memiliki keterampilan berbahasa, ada empat keterampilan bahasa yang harus dimiliki setiap orang, yaitu menyimak, menulis, membaca, dan berbicara. Dari keempat keterampilan bahasa tersebut dapat kita bagi menjadi dua bagian besar yaitu ketrampilan bahasa keseptif dan keterampilan bahasa produktif. Keterampilan reseptif adalah Keterampilan berbahasa untuk mendapatkan informasi seperti menyimak dan membaca, sedangkan keterampilan bahasa produktif adalah keterampilan yang menghasilkan informasi dalam bentuk bahasa seperti berbicara dan menulis. Semua keterampilan itu tidak dapat langsung muncul sejak lahir, tapi didapat dan dikuasai secara pelan dan bertahap.

(4)

masyarakat kita diajak untuk membaca sebuah buku. Membiasakan masyarakat unutk membaca adalah penting karena dengan tingginya minta dalam membaca, kualitas dan kemajuan perababan diperhitungkan, karena yang paling utama dalam penguasaan segala ilmu didunia diraih dengan cara membaca lalu menyimak atau mendengarkan. Para pelaut didunia akan bisa mengarungi samudra dengan mendengarkan arahan kapten kapal, tapi tidak akan mampu menjaga dan mengoperasikan kapal dengan apik dan mumpuni jika tidak dapat membaca tulisan cara menjalankan kapal dengan benar.

Minat baca merupakan kecenderungan jiwa yang mendorong sesseorang berbuat sesuatu terhadap membaca (Darmono, 2001: 182). Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi atau gairah untuk membaca (Siregar, 2004). Kedua definisi itu cukup jelas menyatakan bahwa sesungguhnya minat dalam baca muncul karena niat yang kuat dari seseorang, jadi dalam meningkatkan minat membaca perlu juga niat yang kuat dari si pelaku, sadar bahwa untuk menjaga ilmu dan kewarasan memerlukan rasa membaca yang tinggi. Sudah terbukti negara yang minat bacanya tinggi menjadi negara-negara yang maju, Oleh sebab itu minat membaca merupakan urgensi penting bagi kemajuan ilmu dan peradaban suatu bangsa.

Indonesia adalah negara yang urutannya paling bawah dalam hal minat membaca dibandingkan dengan negara lainnya,

(5)

Penduduk Indonesia menjadikan membaca sebagai sumber mendapatkan informasi baru hanya sekitar 23,5%, mendengar radio 40,3%, dan yang paling banyak adalah menonton televisi sebesar 85,9%, bersumber dari hasil data survey Badan Pusat Statistik pada tahun 2006. Tingginya minta membaca pada anak usia sekolah dasar kelas VI di Negara ini mendapatkan nilai 51,7. Masih kalah jauh perbandingannya dengan anak usia sekolah dasar di kelas yang sama pada negara Thailand dan singapura yang masing-masing negara mendapatkan nilai 65,1 dan 74,0 berdasarkan hasil survey dari Education in Indonesia from Crisis to Recovery.

Data lain menyebutkan, siswa kelas IV Indonesia mendapatkan urutan ke-42 dari 45 negara dengan nilai rata-rata 428 disusul oleh Qatar, Oman, dan Maroko, hasil ini berdasarkan studi yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2011. Bahkan Indonesia merosot posisinya, sebelumnya pada PIRLS tahun 2006 menempati posisi 36 dari 45 negara.

Ada hal yang lebih menyedihkan lagi, jumlah buku yang dibaca oleh anak SMA dari 13 negara diseluruh Dunia berdasarkan data dari CSM (Center for Social Marketing), jika kita telisik hasil survey hanya melihat dari negara asia saja menurut data CSM; buku wajib baca anak SMA dinegara Jepang sebanyak 22 buku, lalu Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku, sungguh menyedihkan.

Fungsi, Manfaat, dan Tujuan Membaca

(6)

(1) membaca untuk tujuan kesenangan; (2) membaca untuk

meningkatkan pengetahuan; (3) membaca untuk melakukan suatu pekerjaan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia selalu membaca, dijalan membaca papan reklame, membaca banner, membaca rambu-rambu lalu lintas, bahkan membaca guyonan dari pesan yang dikirimkan aplikasi daring pada gawai. akan tetapi bukan seperti itu maksud dari kegiatan membaca yang sesungguhnya, melainkan membaca wacana teks, membaca karena sesungguhnya merasa diri ini masih bodoh dan haus akan ilmu dan pengetahuan baru.

Membaca guyonan dari pesan yang dikirimkan aplikasi daring pada gawai adalah salah satu contoh membaca yang bertujuan untuk hiburan semata atau disebut juga membaca yang bersifat rekreatif. Membaca rekreatif unutk hiburan semata adalah hal yang umum dilakukan masyarakat seperti membaca puisi atau membaca novel. Tapi ada pula orang yang membaca karya sastra tidak untuk hiburan, namun bertujuan untuk melakukan kritik terhadap sesuatu keadaan atau untuk melakukan sebuah penelitian. Biasanya penelitian membaca karya sastra dilakukan oleh mahasiswa fakultas sastra.

Mencari dan menambah pengetahuan dengan membaca dapat dilakukan oleh siapapun, dengan mulai memilih bacaan yang mengandung wacana ilmu dan pengetahuan. Keilmuan adalah hal yang sangat luas sehingga biasanya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin banyak juga hal-hal yang tidak dia ketahui, membaca bacaan yang mengandung wacana ilmu pengetahuan adalah kegiatan bagus yang dapat meningkatkan daya pikir.

(7)

andil penting dalam mendidik anak sedini mungkin terbiasa membaca buku.

Kualitas SDM kita akan meningkat seiring meningkatnya minat membaca. Orang tua, Guru dan pustakawan merupakan bagian utama untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Toko buku, Perpustakaan, taman baca bukan hanya konsumsi mereka yang masih sekolah atau yang masih kuliah. Itu sebabnya berbagai usaha dan tindakan harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan niat minat baca masyarakat.

PENYEBAB RENDAHNYA MINAT BACA

Kebiasaan membaca sepertinya memang bukan kebiasaan atau tradisi yang diturunkan oleh leluhur kita. Jika kita lihat tradisi dan kebiasaan masyarakat kita sejak dulu, menyimak adalah hal yang sudah melekat dan diturunkan ke tiap generasi, masyarakat indonesia khususnya jawa zaman dulu kuat menonton pagelaran wayang berjam-jam, tapi lain hal ketika membaca. Banyak tradisi-tradisi di indonesia yang selalu mengutamakan kegiatan menyimak dari pada membaca. Di tanah jawa misalnya saat bayi lahir akan dibacakan surat yusuf oleh satu orang dan disimak oleh banyak orang, lalu ada tradisi macapat, sebuah buku dibaca seseorang dan disimak oleh khalayak banyak. Bahkan Karya sastra tulis seperti Mahabharata tidak setenar sebelum dimasukkan kedalam pertunjukan wayang.

(8)

belajar pada pendidikan formal akan tetapi masih terbatas untuk kaum bangsawan.

Pemerintah Indonesia anatara tahun 1960an sampai 1970an mulai menggalakkan pemberatasan buta huruf. Minat baca generasi muda Pada tahun 1960-an sebenarnya sudah cukup baik, kendatipun masih sebatas bacaan yang bersifat hiburan atau rekreatif. Anak-anak muda pada masa itu banyak yang bertukar komik dan novel, tempat bacaan seperti taman baca yang menyewakan komik dan novel menjamur. Saat berkumpulpun tidak jarang mereka membicarakan tokoh komik atau novel yang mereka baca. Masa-masa itupun tak lepas dari sebuah masalah, yaitu maraknya bacaan yang mengandung pornografi. Terlepas dari masalah tersebut gejolak minat membaca pada saat itu turun drastis ketika munculnya televisi swasta. Rasa asyik membaca mulai terganti dengan asyiknya menonton tayangan televisi atau mendengarkan rekaman dari kaset pita yang saat itu menjadi kesukaan akibat perkembangan teknologi saat itu. Sungguh sangat disayangkan, karena saat itu indonesia baru saja mengambil satu langkha kedepan unutk memberantas buta huruf, akan tetapi tiba-tiba jalan tersebut diputus, banyak taman baca yang bangkrut akibat dari menjamurnya tayagan televisi. Lagi-lagi masyarakat kita kembali dalam kegiatan menyimak dan mendengarkan.

Kegemaran membaca bukan sesuatu yang muncul dengan sendirinya atau otomatis tumbuh sendiri, melainkan membaca harus diajarkan dan ditanamkan sejak dini. Pembinaan membaca tidak hanya di laksanakan begitu saja, tetapi juga harus memperhatikan bahan bacaan, apakah bacaan tersebut baik atau tidak. Semua anak dapat dibina untuk membaca, masalahnya adalah bagaimanakah cara untuk melaksanakan pembinaan minat membaca.

(9)

swasta dengan lembaga pendidikannya, para guru kurang memotivasi para anak didiknya untuk membaca buku-buku selain buku pelajaran; (2) Para orang tua tidak memberi dorongan kepada anak untuk mengutamakan membeli buku dari pada mainan, alat pandang dengar. Mereka biasanya kurang mengetahui jenis buku yang sesuai dan disukai anak, dan mereka biasanya juga kurang memperkenalkan perpustakan kepada anak-anak; (3) Para penerbit media cetak memasang harga buku yang bermutu terlalu tinggi, sehingga tak terjangkau oleh masyarakat luas;

(4) Para pengarang, penyadur dan penerjemah yang semakin berkurang, karena royalti yang tidak menentu dan masih terkena PPH; (5) Perpustakaan Umum yang jumlahnya belum mencukupi di tiap Propinsi untuk melayani masyarakat;

(6) Perpustakaan masjid yang belum terkelola dengan profesional.

UPAYA UNTUK MEMBINA DAN MENINGKATKAN MINAT BACA

Ada beberapa hal yang diperhatikan dalam upaya meningkatkan minat baca, yaitu minat membaca tidak dapat dibebankan pada keluarga saja, masyarakat saja, atau lembaga pendidikan saja. Semua aspek tersebut mempunyai peran yang penting dalam proses meningkatkan minat baca masyarakat. Ketiga aspek itu harus bergerak bersamaan dan bersinergi dalam membangun rasa senang membaca. Sebagai pendidik, orang tua dan guru harus mempunyai minat baca yang tinggi terlebih dahulu, karena contoh keteladanan perlu diperlihatkan sedini mungkin. Jika keluarga, guru dan aspek lainnya tidak memiliki minat baca yang tinggi, mustahil dapat meningkatkan rasa minat membaca kepada masyarakat.

(10)

yang dapat memuaskan dahaga anak-anak akan membaca. (3) tidak adanya pendidikan dan pembinanaan membaca, termasuk pendidikan teknik membaca.

Lingkungan rumah

Waktu yang paling banyak anak habiskan adalah di rumah, berkumpul bersama keluarga. Tumbuh dan berkembang lebih banyak dilingkungan rumah. Pada masa ini orang tua memiliki andil besar dalam meningkatkan kemampuan membaca dan minat terhadap buku. Kegiatan dan hal yang dapat dilakukan orang tua kepada anaknya agar mulai mengenal membaca buku adalah ; (1) mendongeng, (2) menyediakan bahan bacaan di rumah, (3) berdiskusi mengenai buku yang telah dibaca, (4) pergi ke toko buku bersama, (5) dan memberikan hadiah buku kepada anak.

(1) Kegiatan Mendongeng

Kegiatan mendongen dapat menstimulus imajinasi anak, mendongeng dapat dilakukan oleh siapa saja, ibu, ayah, kakak dan sanak saudara lainnya. Dalam mendongeng perlu kita perhatikan bahan bacaan untuk kita dongengkan ke anak, materi-materi seperti kancil dan kura-kura atau nenek dan si rubah merah adalah hal yang masih dapat diberikan ke anak-anak, selain karena cocok anak dapat mengenal hewan-hewan. Masalah yang dialami pendongeng adalah kehabisan materi dongeng karena ada juga anak yang di dongengkan oleh orang tuanya setiap malam, hal ini bisa dihindari dengan memilik banyak refrensi cerita dan membacakan buku tersebut kepada anak.

(2) menyediakan bahan bacaan di rumah

(11)

majalah yang cocok untuk dibaca sekeluarga, atau majalah khusus anak-anak.

(3) berdiskusi mengenai buku yang telah dibaca

Membaca adalah kegiatan berbahasa reseptif, menyerap informasi. Sedangkan berbicara adalah kegiatan produktif atau menghasilkan informasi. Setlah mengajarkan membaca kepada anak-anak dan anak mulai gemar membaca ada baiknya jika orang tua mengajak anak berdiskusi tentang buku yang telah dibaca oleh anak.

(4) pergi ke toko buku bersama

Berkreasi tidak selalu pergi ketempat-tempat wisata, keakraban antara anak dan orang tua bisa terjalin saat pergi bersama ke toko buku. Anak-anak merasa senang dan menambah keingintahuan karena disana banyak pilihan buku yang tersedia.

(5) memberikan hadiah buku kepada anak

Saat anak berulang tahun atau mendapatkan prestasi orang tua biasanya memberikan hadiah yang memiliki harga mahal, misalnya komputer, ps, hp, baju, atau barang keinginan anak yang sifatnya menghibur. Ada baiknya jika orang tua memberikan hadiah berupa buku bacaan yang disukai si anak. Hal ini lebih positif dari pada memberikan barang mahal kepada anak.

Hardjoprakosa (2005 : 146) mengemukakan gagasan untuk meningkatkan minat baca, yaitu bahwa membaca harus dipromosikan sebagai kegiatan keluarga dan sekolah, sebaiknya dijadikan tradisi untuk memberi hadiah buku pada setiap ulang tahun, naik kelas dan lainnya, mengajak anak ke toko buku untuk memberi kesempatan anak memilih sendiri buku yang diinginkan.

(12)

Minat membaca anak dapat terbentuk denganbaik jika lingkungan sekitar turut andil dalam pembinaan minat membaca, tokoh-tokoh masyarakat dapat turut serta dalam memberikan contoh kepada masyarakat agar timbul nilai positif terhadap rasa ingin membaca. Minta membaca bisa dimulai dari membuat perpustakaan skala kecil di lingkungan RW atau taman bacaan anak, danmnegarahkan anak-anak usia SD untuk datang kesana. Atau sebagai contoh didaerah Malioboro ada perpustakaan keliling dengan dibawa oleh gerobak.

Lembaga Pemerintah dan Swasta

Lembaga pemerintah dan swasta juga turut serta dalam pembinaan minat baca untuk masyarakat khususnya anak-anak, misalnya pihak swasta juga harus melihat urgensi membaca anak-anak pada zaman sekarang, bukan hanya memperbanyak, mencetak, dan menjual buku yang menghasilkan profit tapi juga mencetak buku yang mengandung nilai-nilai sikap moral, ilmu dan pengetahuan.

(13)

mempunyai efek timbal balik pada perpustakaan, dan efek timbal balik yang sama akan dihasilkan dari bahan-bahan bacaan dan pelayanan perpustakaan yang disempurnakan; (3) Di Lingkungan Masyarakat : Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah yang terdapat di setiap propinsi seharusnya dapat berperan lebih besar dalam mendorong dan menumbuhkan perpustakaan-perpustakaan umum tingkat Kecamatan, Desa dan Perpustakaan kecil lainnya agar menjangkau masyarakat dipelosok daerah.

Darmono (2001:188-189) menyatakan peran perpustakaan dalam menciptakan tumbuhnya kondisi minat baca di lingkungan sekolah sebagai berikut: (a) memilih bahan bacaan yang menarik bagi pengguna perpustakaan, (b) menganjurkan berbagai cara penyajian pelajaran dikaitkan dengan tugas-tugas di perpustakaan, (c) memberikan kemudahan dalam mendapatkan bacaan yang menarik untuk pengguna perpustakaan, (d) memberikan kebebasan membaca secara leluasa kepada pengguna perpustakaan, (e) perpustakaan perlu dikelola dengan baik agar pengguna merasa betah dan kerasan berkunjung ke perpustakaan, (f) perpustakaan perlu melakukan berbagai promosi kepada masyarakat berkaitan dengan peningkatan minat dan kegemaran membaca, (g) menanamkan kesadaran kepada pemakai perpustakaan ahwa membaca pendting dalamkehidupan, (h) melakukan berbagai kegiatan seperti minat dan kegemaran membaca untuk anak sekolah, (i) Mengaitkan bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional dengan melakukan kegiatan yang menunjang Bulan Buku Nasional, (j) memberikan penghargaan kepada siswa yang paling banyak meminjam buku.

(14)

mempromosikan buku sebagai bacaan yang menarik, sebaiknya penerbit bekerjasama dengan mass media seperti surat kabar, radio, TV untuk mempromosikan buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau oleh masyarakat luas. Dan penerbit menerbitkan buku anak-anak dengan ilustrasi yang menarik dan harga terjangkau, (2) Peningkatan Fasilitas Perpustakaan dan Program Kegiatan Minat Baca, dengan menambah jumlah berbagai jenis perpustakaan : Perpustakaan Daerah Tingkat II, Perpustakaan Keliling, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Tempat Ibadah (Masjid, Gereja, Pura, dan Vihara).

Berdasarkan pernyataan dari hardjoprakosa, pihak penerbit entah itu dari pemerintah atau swsta memiliki andil yang penting untuk membina dan meningkatkan minat membaca anak. Semakin tinggi minta baca masyarakat kita akan berdampak juga pada profit yang dihasilkan penerbit, tapi tidak lupa agar penerbit tetap menjaga agar buku yang di terbitkan bersifat mencerdaskan masyarakat. Di Daerah tingkat II (kota, kelurahan, kecamatan) memang sudah ada perpustakaan tapi belum maksimal dan seperti tak terurus, mobil perpustakaan keliling pun ada, tapi hanya terparkir dihalaman kantor walikota dan kadang keberadaanya tidak tetap.

Pendapat lain dikemukakan oleh Sukarman Kartosedono yang dapat mempengaruhi tumbuhnya rasa minat baca pada masyarakat, khususnya pada anak, yaitu: (1) Tersedianya pilihan yang luas atas bahan bacaan anak, (2) Tersedianya buku-buku anak di rumah, di sekolah, perpustakaan maupun toko buku, (3) Seleksi yang dilakukan oleh pustakawan untuk atau atas nama kebutuhan anak-anak, (4) Tersedianya waktu dan kesempatan anak-anak untuk membaca, (5) Kebutuhan dan kemampuan pribadi dari anak-anak itu sendiri (Kartosedono, 1998: 316).

(15)

Upaya untuk membina dan meningkatkan minat membaca pada anak-anak usia sekolah dasar merupakan tanggung jawab kita bersama, orang tua, guru, pustakawan dan masyarakat sekitar. Secara profesi, guru dan pustakan memiliki andil yang cukup signifikan untuk membimbing rasa minat membaca terhadap anak-anak. Selain adanya niat diri sendiri yang besar untuk membaca, anak harus diberikan pembiasaan dan latihan agar terbiasa membaca, dan ringan hati ketika berniat untuk membaca buku, bukan hanya buku yang bersifat rekreatif akan tetapi juga buku yang menambah wawasan, pengalaman, dan pengetahuan. Dalam membina anak agar suka membaca buku tidak boleh dengan keterpaksaan, misalnya mengajarakan anak kelas 3 sekolah dasar untuk membaca buku sebnyak-banyaknya. Dan tidak baik juga menyuruh anak untuk membeli buku sebanyak-banyaknya.

(16)

REFRENSI

Nasution, A.S. dkk. 1987. Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Pusat Pembinaan Perpustakaan Depdikbud.

Siregar, A. Ridwan, 2004. Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa. Medan : Universitas Sumatera Utara,

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

Darmono. 2001. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Grasindo.

(17)

Koswara, Engkos (editor) 2005 , Dinamika Informasi dalam Era Global. Bandung :

IPI dan Remadja Rosdakarya.

Tarigan, Henry Gntur. 1986. Membaca: Seagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Tim Penulis MPK Bahasa Indonesia. 2011. Menulis Ilmiah:Buku Ajar MPK Bahasa Indonesia. Suraaya: Unesa University Press.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan. Jakarta Rineka Cipta, 1993.

Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia, 1991.

E. St. Harahap., dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Balai Pustaka, 2007

Effendi, Onong Uchjana.1993. Ilmu, teori dan filsafat komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti

Hermawan, R. Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan Terhadap Kondisi Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006.

Hernandono. Perpustakaan dan Kepustakaan Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka, 1997.

Hurlock, E.B. Child development. New Delhi: McGrow-Hill, 1992

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

Margono, Slamet. Mutu jasa pendidikan. Institut Pertanian Bogor.www.scribd.com

Pamuntjak, Rusina Syahrial. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Jakarta: Pustaka Jaya, 1998.

(18)

REPUBLIKA.co.id. Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih Rendah.Jakarta, 02 November

2013.

Soeatminah.Perpustakaan, Kepustakaan dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Soeharto, Lily Soewarni Bohar. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: DIKTI, 1987.

http://repository.ut.ac.id/2609/1/fkip201047.pdf

http://lib.unnes.ac.id/24486/1/1401412449.pdf

http://penilaian.kemdikbud.go.id/e-jurnal/index.php/jevas/article/download/13/10

http://www.iea.nl/sites/default/files/fileadmin/user_upload/General_Assembly/ 56th_GA/Study_presentations/PIRLS_2016_Progress_Report_GA.pdf

https://sirusa.bps.go.id/sirusa/index.php/sektoral/pdf?kd=102986&th=++++

http://jurnal.fisip.unila.ac.id/index.php/prosidingkom/article/viewFile/217/117

https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/download/365-376/1678

http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/pdfteguh/kemampuan %20dan%20minat%20baca.pdf

http://www.iea.nl/pirls

Referensi

Dokumen terkait

dari lokok sangkabira ini mereka bergerak kearah barat kira – kira 100 meter,di sinilah mereka mulai membangun tempat tinggal yang baru, mereka membuat bangunan yang petama

Membangun aplikasi yang mempunyai fungsionalitas untuk mengelola dan memberikan informasi mengenai kegiatan- kegiatan di kalender akademik, plotting guru dan siswa,

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor keagamaan nasabah terhadap keputusan menabung, untuk mengetahui dan

Di akhir pekan teknisi tetap dapat melakukan kunjungan untuk perbaikan dan perawatan produk MODENA di rumah Anda, sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. Spesifikasi dan

Sindroma Guillain Barre (SGB) merupakan suatu sindroma klinis yang ditandai adanya paralisis yang ditandai adanya paralisis flasid yang terjadi secara akut berhubungan dengan

Gambar 4.13 Foto permukaan membran selulosa diasetat dari serat daun nanas dengan penambahan TiO 2. Gambar 4.14 Foto permukaan membran selulosa diasetat standard dengan penambahan