Nama: Rachmatania Putri NPM: 1706983862
SASTRA LISAN
Pengertian Sastra Lisan
Sastra lisan adalah berbagai tuturan verbal yang memiliki ciri-ciri sebagai karya sastra pada umumnya, yang meliputi puisi, prosa, nyanyian, dan drama lisan. Sastra lisan (oral literature) adalah bagian dari tradisi lisan (oral tradition) atau yang biasanya dikembangkan dalam kebudayaan lisan (oral culture) berupa pesan-pesan, cerita-cerita, atau kesaksian-kesaksian ataupun yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya (Vansina, 1985: 27-28).
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan yang jelas bahwa sastra lisan itu sekumpulan karya sastra atau teks-teks lisan yang memang disampaikan dengan cara lisan, atau sekumpulan karya sastra yang bersifat dilisankan yang memuat hal-hal yang berbentuk kebudayaan, sejarah, sosial masyarakat, ataupun sesuai ranah kesusasteraan yang dilahirkan dan disebarluaskan secara turun temurun, sesuai kadar estetikanya.
Unsur-Unsur Sastra Lisan
Sastra lisan menjadi suatu hal yang begitu dekat dengan masyarakat Nusantara. Terkadang hal-hal yang berwujud sastra lisan yang menceritakan tentang sebuah kisahan yang dilisankan, terkadang cerita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, apalagi harus dihakpatenkan sebagai milik individu. Ini terbukti karena sastra lisan memang dimunculkan dan dikembangkan secara turun temurun.
Bentuk-bentuk Sastra Lisan
Bentuk seni sastra lisan yang berkembang di Indonesia, antara lain:
1) Mitos atau Mite
Mitos adalah seni sastra bersifat religius, namun memberi rasio pada kepercayaan dan praktik keagamaan. Masalah pokok yang diulas di dalam mitos adalah masalah kehidupan manusia, asal mula manusia dan makhluk hidup lain, sebab manusia di bumi, dan tujuan akhir hidup manusia. Fungsi mitos yaitu memberi penjelasan tentang alam semesta dan keteraturan hidup dan perilaku.
Mite yang hidup di Indonesia biasanya bercerita tentang proses terciptanya alam semesta (kosmogony), asal usul dan silsilah para dewa (theogony), pencitaan manusia pertama dan pembawa kebudayaan, asal usul makanan pokok (padi), dan sebagainya. Berikut salah satu mite yang hidup di Jawa.
2) Legenda
Legenda merupakan cerita yang bersifat semihistoris mengenai pahlawan, terciptanya adat, perpindahan penduduk, dan selalu berisi percampuran antara fakta dan supernatural. Legenda tidak banyak mengandung masalah, namun lebih kompleks dari mitos. Fungsinya antara lain memberi pelajaran, ajaran moral, meningkatkan rasa bangga terhadap suku bangsa atau moyangnya. Suatu legenda yang lebih panjang berbentuk puisi atau prosa ritmis dikenal dengan epik.
3) Epik
Epik merupakan cerita lisan yang panjang, kadang-kadang dalam bentuk puisi atau prosa ritmis yang menceritakan perbuatan-perbuatan besar dalam kehidupan orang yang sebenarnya atau yang ada dalam legenda.
4) Dongeng
Contoh Sastra Lisan:
1) Pantun Sunda
Seni sastra lisan ini merupakan penceritaan bersyair orang Sunda (Jawa Barat) dengan diiringi oleh musik kecapi. Tradisi ini biasanya dilakukan sebelum atau sesudah upacara tradisional misalnya pernikahan dan merupakan hiburan tunggal. Juru pantun menyanyi sesuai irama kecapi yang ia petik dalam skala pentatonik (lima nada). Kecapi Sunda itu biasanya berbentuk perahu dengan 18 senar. Pantun Sunda biasanya berisi kisah cerita dari masa Kerajaan Hindu Pajajaran. Cerita ditampilkan secara bersamaan antara percakapan dan nyanyian. Salah satu pantun Sunda yang terkenal adalah Lutung Kasarung, syairnya terdiri atas 1.000 baris dan berasal dari abad XV. Semula, tradisi ini disampaikan oleh pendongeng profesional yang berkelana dari desa ke desa. Maksudnya untuk mengajarkan kepercayaan agama, sejarah, mitologi, sopan santun, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, tradisi ini berubah menjadi cerita anak-anak.
2) Rabab Pariaman
Tradisi pertunjukan lisan ini berasal dari Sumatra Barat. Tukang rabab menyampaikan cerita dalam wujud nyanyian dengan ciri dialek Pariaman. Tradisi ini biasa dipertunjukkan pada pesta perkawinan, perayaan nagari, pesta pengangkatan penghulu, dan lain-lain. Cerita yang disampaikan berisi perjuangan untuk mencapai keberhasilan hidup. Tokoh dalam cerita itu menghadapi kesulitan dalam mencapai keberhasilan, kemudian mendapat tanggapan dari penonton.
3) Makyong
Tradisi ini semula berasal dari Pattani, Muangthai, namun berkembang ke selatan hingga pesisir Melayu. Makyong merupakan pertunjukan teater di mana unsur-unsur drama, tari, musik, mimik, dan sebagainya tergabung menjadi satu. Semula, tradisi ini dipertunjukkan di kalangan atas Istana Kelantan dan Riau Lingga hingga tahun 1700-an. Fungsinya bukan untuk menghibur tetapi penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sultan dan istrinya dianggap wakil Tuhan, maka makyong dianggap persembahan kepada Tuhan. Dalam perkembangannya, makyong berubah menjadi pertunjukan desa sebagai hiburan atau upacara penyembuhan. Kisah yang dimainkan sebagian besar berasal dari warisan cerita-cerita istana kerajaan Melayu, biasanya berbentuk prosa tanpa naskah. Makyong antara lain terdiri atas punakawan (pengasuh) yang mengenakan topeng, wak petanda (ahli pembintangan atau orang bijak), serta para pemain yang semua diperankan oleh kaum perempuan. Salah satu kisah yang paling disukai dalam tradisi makyong adalah dewa muda.
4) Wayang Kulit dan Wayang Beber
Contoh Sastra Lisan di Minangkabau
Untuk sastra lisan Minangkabau, jenis sastra lisannya antara lain curito kaba, pantun, pepatah-petitih, dan mantra.
- Curito kaba menjadi sastra lisan yang cukup terkenal dan tersohor di Minangkabau.
Sebab, kaba merupakan cerita yang berbentuk narasi (kisahan), prosanya berirama serta tergolong pada cerita panjang. Kenapa kaba masuk ke dalam sastra lisan? Karena kaba menjadi karya sastra yang disampaikan secara lisan dengan didendangkan atau dilagukan, yang ada kalanya diiringi alat musik saluang atau rebab.
- Mantra menjadi hal yang sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau yang
berbentuk puisi. Hal ini terbukti oleh keberadaannya yang hampir ada di setiap daerah di Minangkabau. Kegunaan dan keberpakaian mantra di masyarakat cenderung di lisankan, sebab sering digunakan dalam beberapa kesempatan tradisi di Minangkabau. Hal inilah membuat mantara menjadi karya sastra yang berbentuk puisi paling tua di Ranah
Minangkabau. Minangkabau sangat kaya dengan mantra-mantra karena kepercayaannya pada hal-hal yang bersifat magis.
- Pantun, kebiasaan orang Minangkabau yang bertutur lisan juga menambah kemahiran di bidang sastra lisan. Kita tahu bahwa masyarakat Minangkabau yang pintar berbalas pantu melahirkan sastra-sastra yang lebih dilisankan. Hal ini terbukti dengan kecakapan para tetua adat dan orang tua di suatu nagari dalam acara-acara yang bersifat resmi. Biasanya akan mengundang mereka untuk saling berbalas pantun. Adapun pantun-pantun yang biasanya digunakan ialah pantun adat yang berisikan fatwa adat dan keagamaan juga.
- Pepatah-petitih, mengapa hal ini hanya cenderung terdengar di Minangkabau? Sebab pepatah-petitih lahir dari pemikiran-pemikiran masyarakat Minangkabua yang
memberikan suatu pengajaran dan larangan pada orang lain dengan cara sindiran. Hal inilah yang membuat kekayaan budaya leluhur Minangkabau menjadi amat dikenal untuk urusan sasra lisan. Bagi orang yang memahami sindiran lewat pepatah-petitih ini juga memiliki jiwa yang bijaksana dan paham dengan sebuah sindiran.
Daftar Pustaka:
- Djamaris, Edwar. 2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
- Taum, Yoseph Yapi. Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapan.
http://arifsastra.blogspot.co.id/2016/09/sastra-lisan-pengertian-jenis-jenis-dan.html