ii |Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
PROCEEDING CALL FOR PAPERS
Editor : Reskatirini Yastika Prameswari, A.Md.
Layout : Tim Call for Papers
Desain Sampul : Tim Call for Papers
Tebal Buku : 563 Halaman
Ukuran Buku : A4 (8.27” x 11.69”)
Edisi : I, Cetakan Pertama
ISBN : 978-979-3775-61-6
Percetakan : Tiara Jaya-Salatiga
Penerbit : Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW
Jl. Diponegoro No.52-60 Salatiga 50711
Telp.: 0298-311881
Hak Cipta © 2016 pada Penulis
Hak Terbit pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW
TIM REVIEWER
Albert Kriestian Novi Adhi Nugraha, S.E., M.M., Ph.D. Apriani Dorkas Rambu Atahau, S.E., M.Com., Ph.D.
Bayu Wijayanto, S.E., M.Si. Dr. Gatot Sasongko, S.E., M.S.
Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si., Ak., CA, CMA Dr. Suzy Noviyanti, S.E., M.M.
Dr. Theresia Woro Damayanti, S.E., M.Si., Ak. Dr. Usil Sis Sucahyo, S.E., MBA
Ir. Lieli Suharti, M.M., Ph.D. Priyo Hari Adi, S.E., M.Si., Ak. Prof. Supramono, S.E., MBA, DBA Roos Kities Andadari, S.E., MBA, Ph.D.
INSTITUSI PESERTA
Universitas Sekolah Tinggi/Lembaga Penelitian
1. Universitas Setia Budi Surakarta 1. STIE Indonesia Banjarmasin
2. Universitas Nurtanio Bandung 2. STIE AUB Surakarta
3. Universitas Muhammadiyah Ponorogo 3. STIE Satya Dharma Singaraja
4. Universitas Semarang 4. Balai Penelitian dan Pengembangan
5. Universitas Diponegoro, Semarang Hasil Hutan Bukan Kayu, Mataram 6. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
7. Universitas Surabaya 8. Universitas Papua
9. Universitas Pelita Harapan Medan 10. Universitas Muria Kudus
11. Universitas Pancasila Jakarta
12. Universitas Darma Persada (PDIE UNS) 13. Universitas Sebelas Maret Surakarta 14. Universitas 17 Agustus 1945 Semarang 15. Universitas STIKUBANG Semarang 16. Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
17. Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo 18. Universitas Muhammadiyah Surakarta
19. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin 20. Universitas Merdeka Malang
21. Universitas Indonesia
22. Institut Pesantren Mathali’ul Falah Pati
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 63 DETERMINAN INTENSI KEWIRAUSAHAAN ORANG MUDA TERDIDIK
DI KALIMANTAN SELATAN
Riswan Yudhi Fahrianta
STIE Indonesia Banjarmasin [email protected]
Masithah Akbar
STIE Indonesia Banjarmasin [email protected]
Antung Noorasiah
STIE Indonesia Banjarmasin, [email protected]
ABSTRACT
The aims of this study is to provide empirical evidence of the effect of socio-demographic factors (three-dimensional), adversity quotient factors (four-dimensional), and contextual factors (three-dimensional) to the intention of entrepreneurship students. 257 S1 students participated in this study with the results of simultaneous socio-demographic factors, adversity quotient factors and contextual factors contribute significantly to the formation of entrepreneurial intentions. Partially socio-demographic factors of dimensional gender and family background, adversity quotient factors of dimensional control and endurance as well as contextual factors of social support dimension have a significant effect on the entrepreneurial intentions of students. An important finding from this study is that it is important to maintain and or improve the intentions of entrepreneurship students with programs supporting student entrepreneurship which sustainable during studying in college or in other words it is important to develop and improve the atmosphere of entrepreneurship in universities so that students can realize real entrepreneurial action after completing their S1 study.
Keywords: entrepreneurial intentions of students, socio-demographic, adversity quotient, contextual factors
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris pengaruh faktor sosial demografi (tiga dimensi), faktor kecerdasan adversitas (empat dimensi), dan faktor kontekstual (tiga dimensi) terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa. Sebanyak 257 mahasiswa S1 berpartisipasi dalam penelitian ini dengan hasil secara simultan faktor sosial demografi, faktor kecerdasan adversitas dan faktor kontekstual berkontribusi signifikan dalam pembentukan intensi kewirausahaan. Secara parsial faktor sosial demografi dimensi gender dan latar belakang keluarga, faktor kecerdasan adversitas dimensi control dan
bagi perguruan tinggi penting untuk mempertahankan dan atau meningkatkan intensi kewirausahaan mahasiswa dengan program-program penunjang kewirausahaan mahasiswa yang berkelanjutan selama mahasiswa menempuh studi di perguruan tinggi atau dengan kata lain penting untuk mengembangkan dan meningkatkan atmosfer kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi sehingga mahasiswa dapat mewujudkan aksi kewirausahaan yang nyata setelah selesai menempuh studi S1.
Kata kunci: intensi kewirausahaan mahasiswa, sosial demografi, kecerdasan adversitas, faktor kontekstual
PENDAHULUAN
Keterbatasan kesempatan kerja bagi lulusan perguruan tinggi masih menjadi masalah ketenagakerjaan di Indonesia dengan tingginya angka pengangguran intelektual lulusan universitas (sarjana). Per Agustus 2015, BPS (2016) merilis jumlah pengangguran dengan pendidikan sarjana di Indonesia sudah lebih dari 650 ribu orang dari 10,2 juta angkatan kerja dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan adalah sarjana.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan para mahasiswa pada saat menempuh pendidikan tinggi merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mengurangi tingkat pengangguran terdidik, karena para sarjana diharapkan dapat menjadi wirausahawan muda terdidik yang mampu merintis usahanya sendiri. Sejak tahun 1997, Pemerintah RI melalui departemen/kementerian yang terkait dengan pendidikan tinggi (sekarang Kemenristekdikti) memfasilitasi beberapa kebijakan dan program untuk pengembangan budaya dan jiwa kewirausahaan di perguruan tinggi. Salah satunya melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang bertujuan untuk mengantarkan mahasiswa: mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi; mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif; serta mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap, tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni (Kemenristekdikti, 2015).
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 65 Ajzen’s Theory of Planned Behavior (TPB) menunjukkan bahwa anteseden langsung dari perilaku adalah niat untuk melakukan perilaku tertentu dan niat adalah anteseden langsung dari perilaku nyata (Ajzen, 1991; 2002). Krueger et al. (2000) dan Kolvereid & Isaksen (2006) menyatakan bahwa niat adalah prediktor tunggal terbaik dari perilaku yang paling direncanakan, termasuk perilaku kewirausahaan. Niat kewirausahaan (entrepreneurial intentions) adalah niat untuk memulai bisnis baru dan keputusan untuk menjadi seorang pengusaha dan menciptakan bisnis baru adalah keputusan yang disengaja dan sadar yang membutuhkan waktu, perencanaan yang cukup dan proses kognitif tingkat tinggi (Ozaralli & Rivenburgh, 2016).
Dikemukakan oleh Suharti & Sirine (2011) bahwa intensi kewirausahaan seseorang dipengaruhi sejumlah determinan (faktor-faktor yang menentukan) dalam suatu kerangka integral yang melibatkan berbagai faktor internal, faktor eksternal dan faktor kontekstual. Faktor internal berasal dari dalam diri pelaku wirausaha dapat berupa karakter pribadi, maupun faktor sosial demografi seperti umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, latar belakang keluarga dan lain-lain yang dapat memengaruhi intensi kewirausahaan seseorang, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri seseorang yang dapat berupa unsur dari lingkungan sekitar dan kondisi kontekstual.
Kecerdasan Adversitas (Adversity Quotient) adalah salah satu atribut personality, yang disimpulkan oleh Fauziah (2014) bahwa kecerdasan adversitas adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk dapat mengatasi suatu kesulitan, dengan karakteristik mampu mengontrol situasi sulit, menganggap sumber-sumber kesulitan berasal dari luar diri, memiliki tanggung jawab dalam situasi sulit, mampu membatasi pengaruh situasi sulit dalam aspek kehidupannya, dan memiliki daya tahan yang baik dalam menghadapi situasi atau keadaan yang sulit. Sedangkan oleh Wijaya & Gusniarti (2007) menyimpulkan bahwa kecerdasan adversitas adalah kemampuan dan ketahanan seseorang mengatasi segala kesulitan hidup demi mencapai suatu tujuan atau kesuksesan tertentu. Ringkasnya oleh Stoltz (2005) dinyatakan bahwa kecerdasan adversitas adalah kecerdasan menghadapi tantangan dan kesulitan.
Diidentifikasi oleh Suharti & Sirine (2011) dari beberapa hasil penelitian, faktor kontekstual yang cukup mendapat perhatian adalah peranan pendidikan kewirausahaan dan pengalaman kewirausahaan serta diyakini bahwa pembekalan pendidikan dan pengalaman
kewirausahaan pada seseorang sejak usia dini dapat meningkatkan potensi seseorang untuk menjadi wirausahawan. Selain pendidikan dan pengalaman kewirausahaan, dukungan akademik (Gurbuz & Aykol, 2008) dan dukungan sosial (Susilawati, 2013) juga diduga merupakan faktor kontekstual yang berpengaruh terhadap intensi kewirausahaan.
2015; Ozaralli & Rivenburgh, 2016), kecerdasan adversitas (Wijaya, 2007; Srimulyani, 2013; Wijaya & Andrew, 2014; Handaru dkk., 2015), serta faktor kontekstual: pembelajaran kewirausahaan, dukungan akademik dan dukungan sosial (Gurbuz & Aykol, 2008; Turker & Selcuk, 2009; Suharti & Sirine, 2011; Yurtkoru et al., 2014; Wiyanto, 2014; Saputra, 2015).
Eksplorasi dan eksplanasi berbasis penelitian empiris kembali dibutuhkan untuk mengkonfirmasi determinan intensi kewirausahaan mahasiswa (orang muda terdidik) dari hasil-hasil penelitian sebelumnya maupun untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan penting dalam literatur pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris pengaruh faktor sosial demografi (gender, pengalaman kerja dan latar belakang keluarga), kecerdasan adversitas dan faktor kontekstual (pembelajaran kewirausahaan, dukungan akademik dan dukungan sosial) terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa.
TELAAH TEORITIS DAN HIPOTESIS
Intensi Kewirausahaan
Untuk memahami fenomena kewirausahaan, mempelajari niat kewirausahaan individu berdasarkan model sosial-kognitif telah menjadi pendekatan yang cocok untuk menganalisis penciptaan usaha baru (Zhao et al. 2005 dalam Ozaralli & Rivenburgh, 2016). Kewirausahaan adalah pola perilaku dan dasarnya adalah konsep dan teori, bukan sifat atau ciri kepribadian dan bukan pula intuisi (Drucker, 1985:26). Kewirausahaan dapat dipelajari dan dikuasai, dan kewirausahaan dapat menjadi pilihan kerja dan pilihan karir bagi lulusan perguruan tinggi, apabila memang dalam diri mahasiswa ada niat dan motivasi untuk menjadi seorang entrepreneur (Sarwoko, 2011). Seseorang dengan intensi untuk memulai usaha akan memiliki kesiapan dan kemajuan yang lebih baik dalam usaha yang dijalankan dibandingkan seseorang tanpa intensi untuk memulai usaha, seperti yang dinyatakan oleh Krueger & Carsrud (1993), intensi kewirausahaan telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan dan intensi kewirausahaan dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha (Indarti & Rostiani, 2008). Bahwa ketika seseorang memulai usaha atau bisnis secara mandiri tidak sebagai refleks, tetapi memang dilakukan dengan sengaja karena adanya intensi (niat) untuk berwirausaha (Krueger et al., 2000).
Pengaruh Faktor Sosial Demografi terhadap Intensi Kewirausahaan
Faktor-faktor yang memengaruhi intensi kewirausahaan mahasiswa yang terkait dengan sosial demografi: gender (perspektif biologis/jenis kelamin); pengalaman kerja dan latar belakang keluarga, dari beberapa hasil penelitian menunjukkan temuan yang beragam.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 67 memiliki hubungan dan pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Diulas oleh Indarti & Rostiani (2008) dari beberapa hasil penelitian terkait hubungan gender dengan intensi kewirausahaan, bahwa: (1) gender mempunyai pengaruh terhadap intensi seseorang untuk menjadi wirausaha, dimana mahasiswa pria memiliki intensi kewirausahaan yang lebih kuat dibandingkan mahasiswa wanita; (2) kaum wanita cenderung kurang menyukai untuk membuka usaha baru dibandingkan kaum pria; (3) minat pria untuk berwirausaha lebih konsisten dibandingkan minat wanita yang berubah menurut waktu; dan (4) ada perbedaan yang signifikan dalam hal kesuksesan usaha dan kesuksesan dalam berwirausaha antara pria dan wanita. Hasil penelitian Indarti & Rostiani (2008) sendiri menunjukkan gender tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi kewirausahaan, sedangkan pengalaman kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa Norwegia, tetapi tidak signifikan memengaruhi intensi kewirausahaan mahasiswa Indonesia dan Jepang.
Hasil penelitian Suharti & Sirine (2011) menunjukkan bahwa latar belakang keluarga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap intensi kewirausahaan, tetapi untuk gender menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Sedangkan hasil penelitian Sarwoko (2011) menunjukkan bahwa gender dan latar belakang keluarga memengaruhi secara signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Terkait pengalaman kerja dan latar belakang keluarga dari beberapa hasil penelitian, Indarti & Rostiani (2008) memberikan ulasan beberapa temuan penelitian terdahulu, yaitu: (1) bahwa seseorang yang memiliki pengalaman bekerja mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah bekerja sebelumnya; (2) bahwa seseorang yang pernah bekerja di sektor pemerintahan cenderung kurang sukses untuk memulai usaha; dan (3) bahwa jika kondisi lingkungan sosial seseorang pada saat dia berusia muda kondusif untuk kewirausahaan dan seseorang tersebut memiliki pengalaman yang positif terhadap sebuah usaha, maka dapat dipastikan orang tersebut mempunyai gambaran yang baik tentang kewirausahaan sehingga memiliki intensi untuk berwirausaha.
Dari uraian pengaruh faktor sosial demografi terhadap intensi kewirausahaan tersebut, maka hipotesis alternatif pertama (H1) yang diajukan sebagai berikut.
H1: Faktor sosial demografi dengan dimensi gender, pengalaman kerja, dan latar belakang keluarga mempunyai pengaruh terhadap intensi kewirausahaan, dimana: (1) mahasiswa
Pengaruh Faktor Kecerdasan Adversitas terhadap Intensi Kewirausahaan
Konsep kecerdasan adversitas dikemukakan pertama kali oleh Paul G. Stoltz dengan istilah Adversity Quotient (AQ), dimana kecerdasan adversitas merupakan teori sekaligus ukuran bermakna dan merupakan seperangkat instrumen yang telah diasah untuk membantu seseorang supaya tetap gigih dalam menghadapi berbagai tantangan (Wijaya & Gusniarti, 2007). Kecerdasan adversitas adalah kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup. Seseorang yang memiliki kecerdasan adversitas akan mampu menghadapi rintangan atau halangan yang menghadang dalam mencapai tujuan (Fauziah, 2014). Stoltz (2005), menyatakan bahwa sukses tidaknya seorang individu dalam pekerjaan maupun kehidupannya ditentukan oleh kecerdasan adversitas, dimana kecerdasan adversitas dapat memberitahukan: (1) seberapa jauh individu mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya; (2) siapa yang akan mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur; (3) siapa yang akan melampaui harapan harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang akan gagal; dan (4) siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan.
Ditelaah oleh Fauziah (2014), beberapa pakar menyebut istilah kecerdasan adversitas dengan resilience, berasal dari bahasa latin yaitu resilire (melompat atau mundur) adalah konsep yang berhubungan dengan adaptasi positif dalam menghadapi tantangan. Dalam ilmu perkembangan manusia, resilience memiliki makna yang luas dan beragam, mencakup kepulihan dari masa traumatis, mengatasi kegagalan dalam hidup, dan menahan stres agar dapat berfungsi dengan baik dalam mengerjakan tugas sehari-hari.
Disimpulkan oleh Wijaya (2007), bahwa kecerdasan adversitas adalah suatu kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan, melalui kemampuan berpikir, mengelola dan mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola-pola tanggapan kognitif dan prilaku atas stimulus peristiwa–peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan.
Menurut Stoltz (2005), kecerdasan adversitas terbentuk dari empat dimensi, dengan akronim CO2RE (Control, Origin and Ownership, Reach, Endurance). Pertama, dimensi
control, yaitu dimensi yang bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak atau seberapa besar pengendalian yang dirasakan oleh individu terhadap suatu peristiwa dan situasi yang sulit. Individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang tinggi merasa bahwa mereka
memiliki pengendalian dan pengaruh yang baik pada situasi yang sulit bahkan dalam situasi yang sangat di luar kendali. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah, merespon situasi sulit seolah olah mereka hanya memiliki sedikit bahkan tidak memiliki control, tidak bisa melakukan apa-apa dan biasanya mereka menyerah dalam menghadapi situasi sulit.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 69 mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan. Dimensi ini berkaitan dengan rasa bersalah. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi menganggap sumber-sumber kesulitan itu berasal dari orang lain atau dari luar. Individu yang memiliki tingkat origin yang lebih tinggi akan berpikir bahwa ia merasa saat ini bukan waktu yang tepat menyalahkan diri sendiri, setiap orang akan mengalami masa-masa yang sulit, atau tidak ada yang dapat menduga adanya kesulitan. Sedangkan individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah cenderung menempatkan rasa bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi. Dalam banyak hal, mereka melihat dirinya sendiri sebagai satu-satunya penyebab atau asal usul (origin) kesulitan tersebut. Selain itu, individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah juga cenderung untuk menyalahkan diri sendiri. Individu yang memiliki nilai rendah pada dimensi origin cenderung berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan, tidak mampu, kurang memiliki pengetahuan, dan merupakan orang yang gagal.
Sedangkan ownership mempertanyakan sejauh mana individu bersedia mengakui akibat-akibat yang ditimbulkan dari situasi yang sulit. Mengakui akibat-akibat yang ditimbulkan dari situasi yang sulit mencerminkan sikap tanggung jawab atau kepemilikan (ownership). Individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi mampu bertanggung jawab dan menghadapi situasi sulit tanpa menghiraukan penyebabnya serta tidak akan menyalahkan orang lain. Rasa tanggung jawab yang dimiliki menjadikan individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi untuk bertindak dan membuat mereka jauh lebih berdaya daripada individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah. Sementara individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah, menolak untuk bertanggung jawab, tidak mau mengakui akibat-akibat dari suatu kesulitan dan lebih sering merasa menjadi korban serta merasa putus asa.
Ketiga, dimensi reach, yaitu dimensi yang merupakan bagian dari kecerdasan adversitas yang mengajukan pertanyaan sejauh mana kesulitan yang dihadapi akan memengaruhi bagian atau sisi lain dari kehidupan individu. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi memperhatikan kegagalan dan tantangan yang mereka alami, tidak membiarkannya memengaruhi keadaan pekerjaan dan kehidupan mereka. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah membiarkan kegagalan memengaruhi area atau sisi lain dalam kehidupan dan merusaknya.
Hasil penelitian Wijaya (2007) dan Srimulyani (2013), menunjukkan bahwa kecerdasan adversitas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Begitu pula hasil penelitian Wijaya & Andrew (2014) dan Handaru dkk. (2015) juga menunjukkan hasil yang konsisten, bahwa kecerdasan adversitas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Empat dimensi kecerdasan adversitas yaitu CO2RE (Control, Origin and Ownership, Reach, Endurance), adalah merupakan komponen-komponen dari karakter wirausaha, pola pikir wirausaha, dan perilaku wirausaha. Maka dapat diduga individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi akan menghadapi rintangan atau kesulitan akan lebih mudah menjalani profesi sebagai seorang wirausahawan karena memiliki kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang (Stoltz, 2005). Individu yang memiliki kecerdasan menghadapi rintangan akan memiliki kemampuan untuk menangkap peluang usaha (wirausaha) karena memiliki kemampuan menanggung resiko, orientasi pada peluang atau inisiatif, kreativitas, kemandirian dalam pengerahan sumberdaya (Wijaya, 2007). Sehingga hipotesis alternatif kedua (H2) yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut.
H2: Kecerdasan adversitas dengan dimensi control, origin and ownership, reach, dan
endurance mempunyai pengaruh terhadap intensi kewirausahaan.
Pengaruh Faktor Kontekstual Terhadap Intensi Kewirausahaan
Model penelitian intensi kewirausahaan seseorang kurang lengkap kalau tidak melibatkan faktor kontekstual disamping faktor sosial demografi dan faktor karakter pribadi, karena ketiga kelompok faktor tersebut membentuk satu kesatuan yang integral di dalam model penelitian intensi kewirausahaan seseorang. Beberapa dimensi faktor kontekstual yang cukup mendapat perhatian peneliti diidentifikasi Suharti & Sirine (2011) adalah peranan pendidikan kewirausahaan dan pengalaman kewirausahaan. Secara teori diyakini bahwa pembekalan pendidikan dan pengalaman kewirausahaan pada seseorang sejak usia dini dapat meningkatkan potensi seseorang untuk menjadi wirausahawan, dimana beberapa penelitian menunjukkan hasil yang mendukung pernyataan tersebut. Selain pendidikan dan pengalaman kewirausahaan, dukungan pihak akademik dan dukungan sosial (Gurbuz & Aykol, 2008) juga diduga merupakan dimensi faktor kontekstual yang berpengaruh terhadap intensi kewirausahaan.
Dukungan akademik (academic support) mengacu pada kondisi yang berkaitan dengan
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 71 Menurut Yohnson (2003), hal yang harus dipahami oleh pihak kampus adalah: (1) kewirausahaan itu adalah proses dan (2) kewirausahaan itu bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri melainkan suatu kegiatan berlanjut terus menerus. Jadi kampus perlu mempertimbangkan banyak hal mengenai proses pembelajaran yang berlangsung baik dalam kurikulum maupun metode pembelajaran sehingga mahasiswa mengalami proses dalam mendapatkan pengalaman yang bermakna dan proses tersebut dapat berlanjut pada saat menjalankan bisnis. Dalam hal ini dukungan akademik dapat melalui pemenuhan sumber-sumber belajar, pendampingan mahasiswa serta infrastruktur dalam rangka meningkatkan intensi kewirausahaan.
Sedangkan dukungan sosial (social support) merupakan aksi mendukung atau membantu orang lain dalam pencapaian tujuan mereka. Dari beberapa definisi yang diacu oleh Wiyanto (2014), disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah dukungan atau bantuan yang berasal dari orang yang memiliki hubungan sosial akrab dengan individu yang menerima bantuan. Dukungan sosial merupakan kepercayaan dan ekspetasi seseorang bahwa individu akan mendapatkan dukungan untuk memulai sebuah bisnis baru dari kerabat dekat (orangtua, saudara kandung dan pasangannya) dan dari kelompok reference seperti teman, kolega dan dosen. Dukungan sosial sangat penting dalam menjelaskan intensi kewirausahaan seseorang, dan beberapa hasil penelitian dan referensi yang diacu oleh Wiyanto (2014) mendukung argumentasi bahwa dukungan sosial merupakan prediktor yang cukup handal dalam memprediksi intensi kewirausahaan mahasiswa di perguruan tinggi.
Hasil penelitian Suharti & Sirine (2011) dan Saputra (2015) menunjukkan bahwa pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Sementara untuk pengaruh dukungan akademik terhadap intensi kewirausahaan, oleh Gurbuz dan Aykol (2008), Turker & Selcuk (2009), Suharti & Sirine (2011), serta Saputra (2015) ditunjukkan mempunyai pengaruh positif dan signifikan, sedangkan oleh Yurtkoru et al. (2014) dan Wiyanto (2014) dukungan akademik ditunjukkan mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan. Untuk pengaruh dukungan sosial terhadap intensi kewirausahaan ditunjukkan mempunyai pengaruh positif dan signifikan (Suharti & Sirine, 2011; Yurtkoru et al., 2014; Wiyanto, 2014; Saputra, 2015), sedangkan oleh Turker & Selcuk (2009) dukungan sosial ditunjukkan mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan.
Dari uraian pengaruh faktor kontekstual, maka hipotesis alternatif ketiga (H3) yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut.
METODA PENELITIAN
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Penggunaan variabel-variabel penelitian beserta pengukurannya mengadaptasi kepada variabel-variabel yang telah digunakan oleh peneliti sebelumnya yang menjadi referensi dalam penelitian ini. Variabel penelitian dioperasionalisasikan dalam bentuk instrumen penelitian yang terdiri dari tiga variabel independen, yaitu sosial demografi dengan dimensi: gender; pengalaman kerja; dan latar belakang keluarga, kecerdasan adversitas dengan dimensi: control; origin and ownership; reach; dan endurance (Wijaya, 2007; Srimulyani, 2013; Wijaya & Andrew, 2014; Handaru dkk., 2015), dan faktor kontekstual dengan dimensi: pembelajaran kewirausahaan; dukungan akademik; dan dukungan sosial (Gurbuz & Aykol, 2008; Turker & Selcuk, 2009; Suharti & Sirine, 2011; Yurtkoru et al., 2014; Wiyanto, 2014; Saputra, 2015), serta satu variabel dependen, yaitu intensi kewirausahaan.
Seluruh butir pernyataan diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin (sangat tidak setuju – sangat setuju). Informasi gender, pengalaman kerja, dan latar belakang keluarga (pekerjaan ayah dan atau ibu) juga dikumpulkan dan dioperasionalisasikan dengan skala nominal, 0 = pria dan 1 = wanita; 0 = tidak memiliki pengalaman bekerja atau tidak sedang berwirausaha dan 1 = memiliki pengalaman bekerja atau sedang berwirausaha; dan 0 = memiliki latar belakang keluarga bukan wirausaha dan 1 = memiliki latar belakang keluarga wirausaha.
Sampel dan Pengumpulan Data
Sampel penelitian ini adalah Mahasiswa Prodi S1 Manajemen dan Akuntansi di STIE Indonesia Banjarmasin dengan kriteria telah menempuh mata kuliah kewirausahaan yang merupakan mata kuliah wajib tempuh pada semester empat atau tahun kedua saat mahasiswa menempuh studi.
Pengumpulan data dilaksanakan menggunakan media instrumen penelitian (kuesioner) dengan mendistribusikan kepada mahasiswa yang menjadi responden penelitian pada saat menjelang ujian akhir semester bersama dengan anggota peneliti dan bantuan rekan dosen.
Sebanyak 257 responden (mahasiswa) berpartisipasi dalam penelitian ini, terdiri dari 123 (48 persen) orang dari Prodi S1 Manajemen dan 134 (52 persen) orang dari Prodi S1 Akuntansi dengan rata-rata berusia 21 tahun, dominan pada rentang usia 19-23 tahun (241 orang), termuda 18 tahun dan tertua 34 tahun, dengan jenis kelamin (gender), 97 (38 persen)
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 73 Teknik Analisis
Statistik deskriptif dan statistik inferensi digunakan dalam penelitian ini, dimana statistik inferensi digunakan untuk uji kualitas data, uji normalitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis penelitian. Untuk deskripsi statistik variabel yang diukur dengan skala Likert dilengkapi dengan kategorisasi untuk menggambarkan tinggi rendahnya nilai subjek. Kategorisasi dibuat menjadi tiga bagian, yaitu tinggi, sedang dan rendah berdasarkan distribusi kurva normal dengan menggunakan formulasi yang juga digunakan Wijaya (2007) sebagai berikut.
(RT + (1.SDT)) ≤ RE < (RT + (3.SDT)) = Kategori Tinggi ... 1
(RT - (1.SDT)) ≤ RE < (RT + (1.SDT)) = Kategori Sedang ... 2
(RT - (3.SDT)) ≤ RE < (RT - (1.SDT)) = Kategori Rendah ... 3
Keterangan:
RE = Rerata Empiris;
RT = Rerata Teoritis; dan
SDT = Standar Deviasi Teoritis.
Evaluasi statistik dilakukan sebelum uji hipotesis penelitian, yaitu: (1) uji kualitas data yang terdiri dari uji validitas dan reliabilitas, dimana uji validitas dengan prosedur
Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan uji reliabilitas dengan uji Cronbach’s Alpha; (2) uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-Smirnov (K-S); dan (3) uji asumsi klasik yang terdiri dari uji multikoliniearitas dan heteroskedastisitas, dimana uji multikoliniearitas dengan melihat nilai Tolerance dan lawannya VIF (Variable Inflation Factor) dan uji heteroskedastisitas dengan uji Glejser. Uji autokorelasi sebagai salah satu uji asumsi klasik tidak dilakukan karena menurut Ghozali (2006:100), pada data cross section (silang waktu), masalah autokorelasi relatif jarang terjadi. Seluruh evaluasi statistik pendahuluan ini dilakukan dengan prosedur seperti yang ditunjukkan oleh Ghozali (2006:95-156).
Setelah dilakukan evaluasi terhadap asumsi-asumsi yang mendahului sebelum melakukan uji hipotesis, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) instrumen yang digunakan mengukur variabel/faktor/konstruk yang digunakan dalam penelitian ini adalah akurat dan reliabel atau handal untuk digunakan (Tabel 4 Lampiran); (2) data residual dari model-model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdistribusi normal (Tabel 1 Lampiran); (3) tidak ada gejala multikoliniearitas antar variabel independen (Tabel 2 Lampiran) dan
gelaja heteroskedastisitas (Tabel 3 Lampiran) dalam model-model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Rangkuman atas evaluasi statistik ini disajikan pada Lampiran.
setidaknya dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F (uji signifikansi simultan) dan nilai statistik t (uji signifikansi parameter individual/parsial), dan untuk penerimaan atau penolakan hasil uji hipotesis penelitian menggunakan tingkat signifikansi/keyakinan 95 persen (alpha 5 persen).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Dengan jumlah responden penelitian sebanyak 257 orang, pada Tabel 1 disajikan deskripsi nilai kisaran teoritis, kisaran empiris beserta nilai rerata (rata-rata) dan standar deviasi (SD) berikut kategorisasi nilai rerata empiris serta kesimpulan tinggi rendahnya nilai.
Tabel 1
Statistik Deskriptif dan Kategorisasi Nilai Rerata Empiris (N = 257)
Sumber: Data primer diolah 2016.
Berdasarkan data empiris yang telah diolah pada Tabel 1 ditunjukkan kecerdasan adversitas responden secara keseluruhan, rerata (rata-rata) empiris sebesar 29,26 (rerata teoritis 24,00) dengan standar deviasi (SD) empiris 2,81, dalam kategori sedang (18,67 – 29,33), artinya secara umum dapat disimpulkan kecerdasan mahasiswa dalam kemampuan dan ketahanan mengatasi segala kesulitan hidup demi mencapai suatu tujuan atau kesuksesan tertentu adalah cukup tinggi.
Dimensi pertama dari kecerdasan adversitas adalah control, dalam kategori sedang, artinya secara umum mahasiswa memiliki pengendalian dan pengaruh yang cukup tinggi (cukup baik) pada situasi yang sulit bahkan dalam situasi yang sangat di luar kendali. Untuk dimensi kedua, yaitu origin and ownership ditunjukkan dalam kategori tinggi, artinya secara umum mahasiswa memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengatasi rasa bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi serta mampu bertanggung jawab
MIN. MAX. RERATA SD MIN. MAX. RERATA SD
KECERDASAN ADVERSITAS 8 40 24 5,33 22 37 29,262,81 29,33 - 40,00 18,67 - 29,33 8,00 - 18,67 Sedang
Control 2 10 6 1,33 5 9 7,071,00 7,33 - 10,00 4,67 - 7,33 2,00 - 4,67 Sedang
Origin & Ownership 2 10 6 1,33 5 10 7,620,95 7,33 - 10,00 4,67 - 7,33 2,00 - 4,67 T inggi
Reach 2 10 6 1,33 5 10 7,500,92 7,33 - 10,00 4,67 - 7,33 2,00 - 4,67 T inggi
Endurance 2 10 6 1,33 4 10 7,071,17 7,33 - 10,00 4,67 - 7,33 2,00 - 4,67 Sedang
KONTEKSTUAL 11 55 33 7,33 31 54 42,724,85 40,33 - 55,00 25,67 - 40,33 11,00 - 25,67 T inggi
Pembelajaran Wirausaha 4 20 12 2,67 11 20 16,302,41 14,67 - 20,00 9,33 - 14,67 4,00 - 9,33 T inggi
Dukungan Akademik 4 20 12 2,67 10 20 14,992,07 14,67 - 20,00 9,33 - 14,67 4,00 - 9,33 T inggi
Dukungan Sosial 3 15 9 2,00 6 15 11,431,88 11,00 - 15,00 7,00 - 11,00 3,00 - 7,00 T inggi
INTENSI KEWIRAUSAHAAN 8 40 24 5,33 19 40 28,823,88 29,33 - 40,00 18,67 - 29,33 8,00 - 18,67 Sedang
KESIMPULAN KATEGORI EMPIRIS
VARIABEL
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 75 dan menghadapi situasi sulit tanpa menghiraukan penyebabnya serta tidak akan menyalahkan orang lain.
Berikutnya pada dimensi ketiga dari kecerdasan adversitas adalah reach dengan kategori tinggi, artinya secara umum mahasiswa memiliki kemampuan yang tinggi dalam memperhatikan kegagalan dan tantangan yang mereka alami dan tidak membiarkannya memengaruhi keadaan pekerjaan dan kehidupan mereka. Sedangkan untuk dimensi keempat, yaitu endurance, ditunjukkan dalam kategori sedang, artinya secara umum mahasiswa memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk tetap memiliki harapan dan optimis.
Untuk variabel kontekstual dengan dimensi pembelajaran kewirausahaan, dukungan akademik dan dukungan sosial, diperlihatkan persepsi responden secara keseluruhan maupun dimensinya untuk kontekstual adalah tinggi. Dengan demikian pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan yang telah didapatkan oleh mahasiswa pada saat menempuh studi dipersepsikan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik, baik dalam kurikulum maupun metode pembelajaran (dosen, materi/bahan dan tugas-tugas) sehingga mahasiswa mengalami proses dalam mendapatkan pengalaman yang bermakna dan telah memberikan motivasi yang besar bagi mahasiswa untuk berwirausaha. Begitu pula dengan dukungan akademik yang dipersepsikan oleh mahasiswa, bahwa kampus telah berhasil menciptakan suatu kondisi yang mendukung untuk terciptanya keinginan dan motivasi yang kuat untuk mahasiswa berwirausaha. Demikian juga dukungan sosial yang tinggi dalam hal ini adalah dukungan keluarga terdekat dan teman terdekat serta orang-orang yang dianggap penting oleh bersangkutan dipersepsikan akan mendukung jika mengambil keputusan untuk berwirausaha.
Untuk nilai rerata empiris intensi kewirausahaan seperti diperlihatkan pada Tabel 1 ditunjukkan sebesar 28,82 (rerata teoritis 24) dengan SD empiris 3,88, dalam kategori sedang (18,67 – 29,33), artinya mahasiswa memiliki intensi kewirausahaan atau niat untuk menjadi wirausaha yang cukup tinggi setelah menjadi sarjana, atau dengan kata lain kemungkinan cukup besar mahasiswa setelah lulus kuliah (menjadi sarjana) untuk berprofesi sebagai wirausaha.
Uji Hipotesis
Tabel 2
Rangkuman Hasil Uji Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan untuk uji H1 secara simultan (uji F) faktor sosial demografi dengan dimensi: gender, pengalaman kerja, dan latar belakang keluarga mempunyai pengaruh signifikan (p = 0,000 atau p < 0,05) terhadap intensi kewirausahaan, dengan nilai F sebesar 11,950. Koefisien determinasi nilai Adjusted R2 ditunjukkan sebesar 0,114, artinya 11,4 persen variasi tingkat intensi kewirausahaan mahasiswa yang mencerminkan intensi atau niat berwirausaha dapat dijelaskan oleh variasi dari ketiga variabel independen. Sedangkan sisanya 88,6 persen dijelaskan oleh dimensi atau faktor-faktor lain di luar model.
Secara parsial dengan uji t (parameter individual), dari faktor sosial demografi pada dimensi gender menunjukkan pengaruh signifikan (p = 0,000 atau p < 0,05) terhadap intensi kewirausahaan dengan nilai β koefisien sebesar 0,267, dimana mahasiswa pria memiliki rerata intensi kewirausahaan yang lebih tinggi (30,28) dibandingkan rerata intensi kewirausahaan mahasiswa wanita (27,94). Rerata mahasiswa pria di atas rerata keseluruhan
VARIABEL/FAKTOR
T idak Ada 28,37 (Sedang) F = 11,950
Ada 29,51 (T inggi) Sig. = 0,000*
Control Sedang 0,219 0,000 * Adj.R2 = 0,071
Origin and Ownership T inggi 0,051 0,485 F = 5,900
Reach T inggi -0,123 0,125 Sig. = 0,000*
Endurance Sedang 0,135 0,017 *
KONTEKSTUAL Tinggi
Pembelajaran Kewirausahaan T inggi 0,100 0,057 Adj.R2 = 0,255
Dukungan Akademik T inggi 0,073 0,204 F = 30,184
Dukungan Sosial T inggi 0,327 0,000 * Sig. = 0,000* Dependen Variabel: Intensi Kewirausahaan
Keterangan: * p < 0,05
Sumber: Diolah dari output SPSS dan T abel 1, 2016.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 77 (28,32) dan rerata mahasiswa wanita di bawah rerata keseluruhan, sehingga dapat disimpulkan intensi kewirausahaan mahasiswa pria adalah tinggi sedangkan intensi kewirausahaan mahasiswa wanita adalah sedang (cukup tinggi).
Selanjutnya pada dimensi pengalaman kerja ditunjukkan mempunyai pengaruh tidak signifikan (p = 0,208 atau p > 0,05) terhadap intensi kewirausahaan dengan nilai β sebesar 0,075, dimana intensi kewirausahaan mahasiswa mempunyai pengalaman kerja adalah tinggi (29,51) sedangkan intensi kewirausahaan mahasiswa yang tidak mempunyai pengalaman kerja adalah sedang (cukup tinggi/28,37).
Sedangkan pada dimensi latar belakang keluarga wirausaha ditunjukkan mempunyai pengaruh signifikan (p = 0,004 atau p < 0,05) terhadap intensi kewirausahaan dengan nilai β sebesar 0,170, dimana mahasiswa yang mempunyai latar belakang keluarga wirausaha memiliki rerata intensi kewirausahaan yang lebih tinggi (29,69) dibandingkan rerata intensi kewirausahaan mahasiswa yang tidak mempunyai latar belakang keluarga wirausaha (28,13) jika dibandingkan dengan rerata keseluruhan (28,32), sehingga dapat disimpulkan intensi kewirausahaan mahasiswa mempunyai latar belakang keluarga wirausaha adalah tinggi sedangkan intensi kewirausahaan mahasiswa yang tidak mempunyai latar belakang keluarga wirausaha adalah sedang (cukup tinggi).
Dari hasil pengujian pada hipotesis alternatif pertama (H1) dapat disimpulkan bahwa secara simultan faktor sosial demografi dengan dimensi gender, pengalaman kerja dan latar belakang keluarga mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Secara parsial hanya dimensi gender dan latar belakang keluarga yang berpengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan, dimana mahasiswa pria memiliki intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dan mahasiswa yang memiliki latar belakang keluarga wirausaha mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang keluarga wirausaha.
Untuk uji H2 secara secara simultan kecerdasan adversitas dengan dimensi: control,
origin and ownership, reach, dan endurance mempunyai pengaruh signifikan (p = 0,000 atau p < 0,05) terhadap intensi kewirausahaan dengan nilai F sebesar 5,900. Koefisien determinasi nilai Adjusted R2 ditunjukkan sebesar 0,071, artinya 7,1 persen variasi tingkat intensi kewirausahaan mahasiswa yang mencerminkan intensi atau niat berwirausaha dapat dijelaskan oleh variasi dari keempat variabel independen. Sedangkan sisanya 92,9 persen
dijelaskan oleh dimensi atau faktor-faktor lain di luar model.
Secara parsial dengan uji t, dari faktor kecerdasan adversitas pada dimensi control
reach ditunjukkan mempunyai pengaruh negatif (-0,123) dan tidak signifikan (p = 0,125 atau p > 0,05) terhadap intensi kewirausahaan
Dari hasil pengujian pada hipotesis alternatif kedua (H2) dapat disimpulkan bahwa secara simultan faktor kecerdasan adversitas dengan dimensi: control, origin and ownership,
reach, dan endurance mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Sedangkan secara parsial hanya dimensi control dan endurance yang mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Untuk uji H3 secara secara simultan faktor kontekstual dengan dimensi pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan, dukungan akademik dan dukungan sosial mempunyai pengaruh signifikan (p = 0,000 atau p < 0,05) terhadap intensi kewirausahaan dengan nilai F sebesar 30,184. Koefisien determinasi nilai Adjusted R2 ditunjukkan sebesar 0,255, artinya 25,5 persen variasi tingkat intensi kewirausahaan mahasiswa yang mencerminkan intensi atau niat berwirausaha dapat dijelaskan oleh variasi dari ketiga variabel independen. Sedangkan sisanya 74,5 persen dijelaskan oleh dimensi atau faktor-faktor lain di luar model.
Secara parsial dengan uji t, dari faktor kontekstual dimensi dukungan sosial menunjukkan pengaruh positif (0,327) dan signifikan (p = 0,000 atau p < 0,05) terhadap intensi kewirausahaan. Sedangkan dimensi pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan dan dukungan akademik menunjukkan pengaruh positif (0,100 dan 0,073) dan tidak signifikan (p = 0,057 dan 0,204 atau p > 0,05) terhadap intensi kewirausahaan.
Dari hasil pengujian pada hipotesis alternatif ketiga (H3) dapat disimpulkan bahwa secara simultan faktor kontekstual dengan dimensi pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan, dukungan akademik, dan dukungan sosial mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Sedangkan secara parsial hanya dimensi dukungan sosial yang mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial demografi dimensi gender dan latar belakang keluarga mempunyai pengaruh signifikan (penting) terhadap intensi kewirausahaan, sedangkan faktor kecerdasan adversitas dimensi control dan endurance mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan, serta faktor kontekstual dimensi dukungan sosial yang mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Sedangkan dimensi pengalaman kerja dari faktor sosial demografi, dimensi
origin and ownership dan reach dari faktor kecerdasan adversitas, serta dimensi pembelajaran kewirausahaan dan dukungan akademik dari faktor kontekstual mempunyai pengaruh tidak signifikan (tidak penting) terhadap intensi kewirausahaan.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 79 memiliki pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan, maupun beberapa hasil penelitian sebelumnya yang diulas oleh Indarti & Rostiani (2008), bahwa gender mempunyai pengaruh terhadap intensi seseorang untuk menjadi wirausaha, dimana mahasiswa pria memiliki intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita. Walaupun hasil penelitian Indarti & Rostiani (2008) sendiri menunjukkan gender tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Begitu pula dengan Suharti & Sirine (2011) yang menunjukkan bahwa gender menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Untuk faktor sosial demografi dimensi latar belakang keluarga ditunjukkan mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa, dimana mahasiswa yang memiliki latar belakang keluarga wirausaha mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang keluarga wirausaha. Hasil ini kembali mendukung hasil penelitian Gurbuz & Aykol (2008), Suharti & Sirine (2011) dan Sarwoko (2011) yang menunjukkan bahwa latar belakang keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Serta mendukung ulasan Indarti & Rostiani (2008) atas beberapa hasil penelitian sebelumnya, bahwa jika kondisi lingkungan sosial seseorang pada saat dia berusia muda kondusif untuk kewirausahaan dan seseorang tersebut memiliki pengalaman yang positif terhadap sebuah usaha, maka dapat dipastikan orang tersebut mempunyai gambaran yang baik tentang kewirausahaan sehingga memiliki intensi untuk berwirausaha.
Sedangkan faktor sosial demografi dimensi pengalaman kerja mahasiswa ditunjukkan mempunyai pengaruh tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa, dimana mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman kerja. Hasil ini mendukung temuan penelitian Indarti & Rostiani (2008) yang menunjukkan pengalaman kerja memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa Indonesia dan Jepang.
Bahwa faktor kecerdasan adversitas secara simultan dengan dimensi control, origin and ownership, reach, dan endurance ditunjukkan mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Secara parsial hanya dimensi control dan endurance yang mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Hasil penelitian secara
Hasil penelitian untuk faktor kontekstual dimensi dukungan sosial yang ditunjukkan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa konsisten atau mendukung hasil-hasil penelitian sebelumnya (Suharti & Sirine, 2011; Yurtkoru et al., 2014; Wiyanto, 2014; Saputra, 2015). Pengaruh positif menunjukkan bahwa peningkatan dukungan sosial bagi mahasiswa akan meningkatkan intensi kewirausahaan mahasiswa serta dukungan sosial berkontribusi penting (signifikan) dalam pembentukan intensi (niat) berwirausaha.
Untuk faktor kontekstual dimensi pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan menunjukkan pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan, dimana hal serupa juga dengan hasil penelitian Suharti & Sirine (2011) dan Saputra (2015) yang menunjukkan bahwa pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Sedangkan untuk faktor kontekstual pada dimensi dukungan akademik juga menunjukkan pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Hasil ini juga serupa dengan hasil penelitian Yurtkoru et al. (2014) dan Wiyanto (2014), bahwa dukungan akademik ditunjukkan mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap intensi kewirausahaan, tetapi berbeda pada sisi signifikansi dengan temuan penelitian Gurbuz & Aykol (2008), Turker & Selcuk (2009), Suharti & Sirine (2011), serta Saputra (2015) yang ditunjukkan bahwa dukungan akademik mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Dari model yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat dinyatakan bahwa intensi kewirausahaan dalam kerangka integral dipengaruhi secara signifikan oleh faktor sosial demografi, faktor kecerdasan adversitas dan faktor kontekstual.
Sedangkan dari dimensi-dimensi yang membentuk faktor yang berkontribusi penting (signifikan) dalam pembentukan intensi berwirausaha dapat dibahas sebagai berikut.
Pertama, gender (perspektif biologis/jenis kelamin) berpengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan, dimana: mahasiswa pria memiliki intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita. Intensi kewirausahaan mahasiswa pria lebih tinggi (kuat) dari mahasiswa wanita dapat dinyatakan konsisten, walaupun hubungan atau pengaruh gender terhadap intensi kewirausahaan menunjukkan hasil yang bervariasi. Tampaknya memang kewirausahaan adalah bidang yang didominasi oleh pria dan ini konsisten di
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 81 bisnis mereka dalam kondisi yang kurang menguntungkan untuk berwirausaha dibandingkan dengan pria.
Kedua, latar belakang keluarga berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha, dimana mahasiswa yang memiliki latar belakang keluarga wirausaha mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang keluarga wirausaha. Seperti juga gender, latar belakang keluarga (family background) terbukti konsisten mempunyai hubungan atau pengaruh signifikan terhadap intensi (niat) berwirausaha. Latar belakang keluarga dalam penelitian ini di-eksplorasi dari pekerjaan orangtua (ayah dan atau ibu responden). Oleh Ozaralli & Rivenburgh (2016) dikemukakan bahwa ayah dan atau ibu memainkan peran yang paling kuat dalam membangun keinginan perilaku kewirausahaan, dimana model peran orangtua menjadi faktor paling signifikan terhadap niat kewirausahaan. McElwee & Al-Riyami (2003) juga menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan orangtua adalah pengusaha memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memilih karir berwirausaha, demikian pula Fairlie & Robb (2005) menunjukkan bahwa pengusaha cenderung memiliki ayah atau ibu berwirausaha dalam sejarah keluarga mereka (dalam Ozaralli & Rivenburgh, 2016). Orangtua yang berprofesi sebagai wirausaha diyakini dapat menjadi panutan (entrepreneurial role model) yang akan membentuk minat anak untuk berwirausaha di masa depan (Dunn & Holtz-Eakin, 2000; Galloway et al., 2006 dalam Suharti & Sirine, 2011).
Ketiga, Kecerdasan Adversitas (Adversity Quotient) mahasiswa mempunyai pengaruh signifikan terhadap intensi kewirausahaan. Kecerdasan adversitas atau kecerdasan dalam menghadapi rintangan hidup terbukti sebagai prediktor yang signifikan dalam pembentukan intensi (niat) berwirausaha, dimana semakin tinggi tingkat kecerdasan adversitas mahasiswa maka akan semakin tinggi pula intensi untuk berwirausaha. Secara deskriptif kategori rerata kecerdasan adversitas mahasiswa pada penelitian ini adalah pada kategori sedang (cukup tinggi). Oleh Stoltz (2005), dikemukakan bahwa kecerdasan adversitas merupakan konsep kecerdasan yang diperoleh individu melalui proses belajar, artinya kecerdasan adversitas seseorang bisa berubah sesuai dengan tingkat usaha yang dilakukan. Stoltz (2005) menganalogikan suatu kesuksesan pada dasarnya mirip dengan sebuah pohon, dimana bagian paling atas menunjukkan kinerja seseorang yang dipengaruhi oleh bagian paling bawah (akar) tempat tumbuh pohon itu dan akar tersebut adalah genetika, pendidikan dan keyakinan
(belief). Meskipun salah satu faktor (akar) dari kecerdasan adversitas tersebut adalah genetika, bukan berarti termasuk dalam kategori sifat yang diturunkan secara genetis sebagaimana karakteristik fisiologis seseorang, hanya saja karena kecerdasan adversitas adalah hasil dari proses belajar individu, maka pembentukannya membutuhkan kemampuan dasar yang harus terpenuhi (Stoltz, 2005).
yang dirasakan oleh mahasiswa maka akan semakin tinggi pula intensi untuk berwirausaha. Dengan demikian dorongan dari unsur-unsur lingkungan sosial seperti motivasi dari keluarga, teman dekat dan orang-orang yang dianggap penting oleh mahasiswa ternyata terbukti berkontribusi positif dan penting terhadap intensi (niat) kewirausahaan mahasiswa. Terakhir yang kelima, pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan dan dukungan akademik tidak terbukti sebagai prediktor yang penting (tidak signifikan) dalam pembentukan intensi berwirausaha mahasiswa, namun tetap berkontribusi positif terhadap intensi berwirausaha mahasiswa, dapat diduga karena intensitas kehidupan mahasiswa selama menempuh studi lebih banyak di luar kampus dibandingkan di dalam lingkungan kampus.
PENUTUP
Simpulan
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris pengaruh faktor sosial demografi dengan dimensi: gender; pengalaman kerja; dan latar belakang keluarga, kecerdasan adversitas dengan dimensi: control; origin and ownership; reach; dan endurance, dan faktor kontekstual dengan dimensi: pembelajaran kewirausahaan; dukungan akademik; dan dukungan sosial terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa.
Hasil penelitian menunjukkan secara simultan bahwa faktor sosial demografi, faktor kecerdasan adversitas dan faktor kontekstual berkontribusi penting (signifikan) dalam pembentukan intensi (niat) berwirausaha mahasiswa setelah menyelesaikan studi sarjananya. Secara parsial faktor sosial demografi dimensi gender dan latar belakang keluarga mempunyai pengaruh penting terhadap intensi kewirausahaan, faktor kecerdasan adversitas dimensi control dan endurance, serta faktor kontekstual dimensi dukungan sosial mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi kewirausahaan.
Implikasi
Menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dalam proses pembelajaran kewirausahaan untuk terus berusaha: (1) meningkatkan intensi (niat) berwirausaha mahasiswa secara keseluruhan terutama mahasiswa wanita, mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman kerja dan mahasiswa yang tidak mempunyai latar belakang keluarga berwirausaha ke level yang lebih tinggi, serta memelihara dan mempertahankan tingginya intensi berwirausaha mahasiswa pria, mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja dan mahasiswa yang
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 83 satunya saat seseorang menempuh pendidikan formal (kuliah); dan (3) mengembangkan dan meningkatkan bentuk pendidikan atau pembelajaran kewirausahaan dan dukungan akademik yang lebih kreatif dan inovatif.
Sehingga dibutuhkan program-program penunjang kewirausahaan yang berkelanjutan (bukan program insidentil) setelah mahasiswa menempuh mata kuliah kewirausahaan, seperti memfasilitasi merealisasikan ide bisnis mahasiswa yang benar-benar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bisnis yang prospektif dan menguntungkan (tidak hanya menjadi tugas pada saat menempuh mata kuliah kewirausahaan), sehingga tercipta lingkungan kampus yang bersahabat dengan dunia kewirausahaan, dengan kata lain kampus tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan atmosfer akademik (academic atmosphere) yang baik, tetapi juga untuk mengembangkan dan meningkatkan asmosfer kewirausahaan (entrepreneurial atmosphere) yang bersahabat dalam lingkungan kampus.
Keterbatasan dan Rekomendasi
Penelitian ini memiliki keterbatasan, sehingga keterbatasan tersebut menjadi rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dalam rangka mendapatkan gambaran yang utuh atas faktor-faktor yang memengaruhi intensitas kewirausahaan mahasiswa, yaitu: (1) keterbatasan dari ruang lingkup subjek penelitian (responden) yaitu hanya mahasiswa di STIE Indonesia Banjarmasin, sehingga menjadi rekomendasi untuk penelitian berikutnya untuk memperluas ruang lingkup subjek penelitian pada mahasiswa pada beberapa perguruan tinggi; dan (2) dalam penelitian ini, semua variabel dari kelompok demografi, kecerdasan adversitas dan kontekstual diletakkan sebagai kelompok variabel bebas (predictors) terhadap intensi kewirausahaan mahasiswa, tanpa memperhatikan hubungan kausal yang mungkin terjadi antar ketiga kelompok variabel tersebut, sehingga dapat dipertimbangkan untuk membangun sebuah model yang lebih komprehensif dengan memerhatikan logika ilmiah urutan antar variabel, dimana terdapat kemungkinan pembelajaran kewirausahaan akan memengaruhi kecerdasan adversitas dan selanjutnya memengaruhi intensi kewirausahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, Icek. 1991. The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes. 50: 179-211. (https://www.researchgate.net/publication/256619280 _The_Theory_of_Planned_Behavior, diakses Februari 2016)
BPS. 2016. Tabel Statis Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kegiatan Selama Seminggu yang Lalu, 2008-2015: Jakarta.
Drucker, Peter F. 1985. Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. PerfectBound™. (http://www.untag-smd.ac.id/files/Perpustakaan_Digital_1/, diakses Februari 2016)
Fauziah, Nailul. 2014. Empati, Persahabatan, dan Kecerdasan Adversitas pada Mahasiswa yang sedang Skripsi. Jurnal Psikologi UNDIP. Vol.13 No.1 April: 78-92. (http://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/viewFile/8068/6619, diakses Maret 2016)
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Cetakan IV. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gurbuz, Gulruh and Sinem Aykol. 2008. Entrepreneurial Intentions of Young Educated Public In Turkey. Journal of Global Strategic Management (4): 47-56.
(http://isma.info/uploads/files/047-entrepreneurial-intentions-of-young-educated-public-in-turkey.pdf, diakses Maret 2016)
Handaru, Agung Wahyu; Widya Parimita dan Inka Winarni Mufdhalifah. 2015. Membangun Intensi Berwirausaha Melalui Adversity Quotient, Self Efficacy, dan Need For Achievement. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol.17 No.2 September: 155-166. (http://jurnalmanajemen.petra.ac.id/index.php/man/article/view/ 19350, diakses Maret 2016)
Indarti, Nurul dan Rokhima Rostiani. 2008. Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan antara Indonesia, Jepang dan Norwegia. Jurnal Ekonomika dan Bisnis Indonesia. Vol.23 No.4: Oktober. (http://directory.umm.ac.id/Wirausaha/indarti-rostiani-jebi-2008.pdf, diakses Februari 2016)
Kemenristekdikti. 2015. Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Jakarta: DRPM Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan.
Kolvereid, Lars and Espen John Isaksen. 2006. New Business Start-Up and Subsequent Entry Into Self-Employment. Journal of Business Venturing. 21(6): 866–885. (https://www.researchgate.net/profile/Lars_Kolvereid/publication/222960007_New_Bu siness_Start-Up_and_Subsequent_Entry_Into_Self-Employment/links/, diakses Maret 2016)
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 85 OECD. 2009. Universities, Innovation and Entrepreneurship: Criteria and Examples of
Good Practice. Booklet. (https://www.oecd.org/cfe/leed/43201452.pdf, diakses Maret 2016)
Ozaralli, Nurdan and Nancy K Rivenburgh. 2016. Entrepreneurial Intention: Antecedents to Entrepreneurial Behavior in The U.S.A. and Turkey. Journal of Global
Entrepreneurship Research. A SpringerOpen Journal 6(3).
(http://download.springer.com/static/pdf/559/, diakses Maret 2016)
Saputra, Riyan Dani. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Berwirausaha Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB. Vol.3 No.2. (http://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/viewFile/2130/1944, diakses Februari 2016)
Sarwoko, Endi. 2011. Kajian Empiris Entrepreneur Intention Mahasiswa. Jurnal Ekonomi Bisnis. Vol.16 No.2 Juli: 126-135. (http://fe.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/6-Endi-Sarwoko.pdf, diakses Februari 2016)
Shinnar, Rachel S; Olivier Giacomin and Frank Janssen. 2012. Entrepreneurial Perceptions and Intentions: The Role of Gender and Culture. Entrepreneurship Theory And Practice: 462-493. (http://ps.innovation.upatras.gr/documents/18941/25841/j.1540-6520.2012.00509.x.pdf, diakses Maret 2016)
Srimulyani, Veronika Agustini. 2013. Analisis Pengaruh Kecerdasan Adversitas,Internal Locus Of Control, Kematangan Karir terhadap Intensi Berwirausaha pada Mahasiswa Bekerja (Studi Empiris pada Mahasiswa Kelas Karyawan Unika Widya Mandala Madiun). Vol.37 No.1 Januari: 96-100. (http://download.portalgaruda.org/ article.php?article=116798&val=5324, diakses Maret 2016)
Stoltz, Paul G. 2005. Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Alih Bahasa: T. Hermaya. Jakarta: Grasindo.
Suharti, Lieli dan Hani Sirine. 2011. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Niat Kewirausahaan (Entrepreneurial Intention) (Studi terhadap Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga). Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol.13 No.2 September: 124-134. (http://puslit2.petra.ac.id/gudangpaper/files/2050.pdf, diakses Maret 2016)
Susilaningsih. 2015. Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi: Pentingkah untuk
Semua Profesi? Jurnal Economia. Vol.11 No.1 April: 1-9.
(http://journal.uny.ac.id/index.php/economia/article/view/7748/6665, diakses Februari 2016)
Turker, Duygu and Senem Sonmez Selcuk. 2009. Which Factors Affect Entrepreneurial Intention of University Students? Journal of European Industrial Training. Vol.33 No.2: 142-159. (http://www.pogc.ir/portals/0/maghalat/890707-16.pdf, diakses Maret 2016)
Wijaya, Andi dan Richard Andrew. 2014. Pengaruh Kecerdasan Adversitas dan Kematangan Karir terhadap Intensi Berwirausaha pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara. Laporan Penelitian. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. (http://fe.tarumanagara.ac.id/penelitian, diakses Februari 2016)
Wijaya, Hariz Enggar dan Uly Gusniarti. 2007. Perbedaan Kecerdasan Adversity antara Etnis Cina dan Jawa dalam Berwirausaha. Naskah Publikasi. Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia: Yogyakarta.
(http://psychology.uii.ac.id/images/stories/jadwal_kuliah/naskah-publikasi-01320200.pdf, diakses Maret 2016)
Wijaya, Tony. 2007. Hubungan Adversity Intelligence dengan Intensi Berwirausaha (Studi Empiris pada Siswa SMKN 7 Yogyakarta). Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol.9 No.2 September: 117-127. (http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ man/article/viewFile/16784/16764, diakses Februari 2016)
Wiyanto, Hendra. 2014. Dukungan Akademik dan Dukungan Sosial sebagai Prediktor Niat Berwirausaha Mahasiswa (Studi pada Mahasiswa Peminatan Kewirausahaan Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara). Laporan Penelitian. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. (http://fe.tarumanagara.ac.id/penelitian, diakses Februari 2016)
Wu, Sizong and Lingfei Wu. 2008. The Impact of Higher Education on Entrepreneurial Intentions of University Students in China. Journal of Small Business and Enterprise Development, 15(4): 752–774. (http://www.emeraldinsight.com/doi/abs/10.1108/ 14626000810917843, diakses Maret 2016)
Yohnson. 2003. Peranan Universitas dalam Memotivasi Sarjana Menjadi Young Entrepreneurs (Seri Penelitian Kewirausahaan). Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol.5 No.2 September: 97-111. (http://jurnalmanajemen.petra.ac.id/ index.php/man/article/viewFile/15637/15629, diakses Maret 2016)
Yurtkoru, E. Serra, Zeynep Kabadayi Kuşcu and Ahmet Doğanay. 2014. Exploring The
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 87 Zamzami, Zally Sidi. 2015. Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Intensi Berwirausaha
LAMPIRAN
Gender .968 1.033 Control .905 1.105 Duk.Akad. .781 1.280 Peng.Kerja .957 1.044 Origin & Own. .723 1.384 Duk.Sosial .856 1.169 Latar Bel.Kel. .983 1.018 Reach .634 1.578 Pemb.KWR .716 1.396
Endurance .789 1.268
Peng.Kerja .815 Origin & Own. .149 Duk.Sosial .168
Latar Bel.Kel. .633 Reach .440 Pemb.KWR .090
Endurance .679
Dependen Variabel: Nilai Absolut Residual Intensi Kewirausahaan
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga | 89
Saya mampu mengendalikan diri di bawah tekanan. 0,712 0,886
Saya memiliki kendali yang besar terhadap peristiwa/keadaan yang sulit. 0,736 0,822
Origin and Ownership 0,809
Saya mengetahui sumber-sumber kesulitan saya. 0,701 0,859
Saya mengetahui kapasitas saya menghadapi kesulitan. 0,695 Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. 0,840
Reach Approx. Chi-Square 610,476
Saya mengerti jangkauan kesulitan saya. 0,719 df 6
Saya mengerti penyebab dari semua kesulitan saya. 0,716 Sig. 0,000
Endurance Dukungan Akademik 0,642
Saya mengetahui lama kesulitan hidup berlangsung. 0,781 0,751
Saya sanggup menjalani kesulitan yang datang. 0,789 0,609
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. 0,726 0,610
Approx. Chi-Square 288,517 0,729
df 28 Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. 0,646
Sig. 0,000 Approx. Chi-Square 154,431
INTENSI KEWIRAUSAHAAN 0,741 df 6
Saya ingin menjadi pemilik sebuah bisnis/usaha. 0,738 Sig. 0,000
Saya akan memilih karir sebagai seorang wirausaha. 0,711 Dukungan Sosial 0,851
Saya akan memulai bisnis/usaha saya setelah saya lulus jadi Sarjana. 0,775 0,748
Saya tidak pernah berniat menjadi seorang karyawan/pegawai. 0,761 0,742
Keluarga saya, rata-rata adalah pengusaha. 0,669 0,666
Saya tinggal di lingkungan yang tepat untuk berbisnis/berwirausaha. 0,718 Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. 0,714
Saya melihat ada peluang besar untuk membuka bisnis/berwirausaha. 0,739 Approx. Chi-Square 344,876 0,774
df 3
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. 0,732 Sig. 0,000
Approx. Chi-Square 489,357
df 28
Sig. 0,000
Bartlett's Test of Sphericity
Saya kenal dekat beberapa pengusaha dengan bidang yang sama dengan usaha yang akan saya tekuni.
Bartlett's Test of Sphericity
Bartlett's Test of Sphericity
Saya tahu beberapa mahasiswa di ST IE Indonesia Banjarmasin yang sukses berwirausaha (memulai usaha mereka sendiri).
Di ST IE Indonesia Banjarmasin, mahasiswa secara aktif didorong untuk mengeluarkan ide-ide mereka sendiri.
Di ST IE Indonesia Banjarmasin, saya bertemu dengan banyak mahasiswa atau dosen yang memiliki ide bagus untuk memulai usaha baru. Di ST IE Indonesia Banjarmasin, tersedia dukungan infrastruktur yang baik untuk untuk praktik pendirian usaha baru.
Jika saya memutuskan berwirausaha setelah lulus (Sarjana), keluarga terdekat saya, akan menganggap keputusan saya tepat.
Jika saya memutuskan berwirausaha setelah lulus (Sarjana), teman-teman terdekat saya, akan menganggap keputusan saya tepat.
Jika saya memutuskan berwirausaha setelah lulus (Sarjana), orang-orang yang penting bagi saya, akan menganggap keputusan saya tepat. Mata Kuliah Kewirausahaan telah memberikan motivasi besar bagi saya Dosen Pengampu Mata Kuliah Kewirausahaan telah memberikan motivasi Materi/Bahan Perkuliahan Mata Kuliah Kewirausahaan telah memberikan T ugas-tugas yang diberikan saat Perkuliahan Mata Kuliah Kewirausahaan
Bartlett's Test of Sphericity