• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perbandingan antara Regresi Logistik dengan Analisis Diskriminan - Perbandingan Metode Regresi Logistik dengan Analisis Diskriminan untuk Mengetahui Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Tindakan Diet Penurunan Berat Badan pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perbandingan antara Regresi Logistik dengan Analisis Diskriminan - Perbandingan Metode Regresi Logistik dengan Analisis Diskriminan untuk Mengetahui Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Tindakan Diet Penurunan Berat Badan pa"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perbandingan antara Regresi Logistik dengan Analisis Diskriminan Regresi logistik dan analisis diskriminan adalah suatu metode statistik

multivariat yang tergolong dalam analisis dependensi. Analisis dependensi bertujuan untuk menerangkan atau memprediksi variabel dependen dengan menggunakan dua atau lebih variabel independennya.

2.2 Regresi Logistik

Analisis regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk

menentukan hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain. Variabel penyebab disebut dengan bermacam istilah, seperti variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen atau variabel X (karena

seringkali digambarkan dalam grafik sebagai absis atau sumbu X). Variabel terkena akibat dikenal sebagai variabel yang dipengaruhi, variabel dependen,

variabel terikat atau variabel Y. Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak, namun variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak. Analisis regresi adalah salah satu analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya. Hampir

semua bidang ilmu yang memerlukan analisis sebab-akibat boleh dipastikan mengenal analisis ini.

Regresi logistik merupakan salah satu bagian dari analisis regresi yang digunakan untuk memprediksi probabilitas kejadian suatu peristiwa dengan

(2)

umumnya, metode ini menggunakan satu atau beberapa variabel bebas dengan satu variabel tak bebas bersifat dikotomi. Regresi logistik juga digunakan secara

luas pada bidang kedokteran, ilmu sosial dan bahkan pada bidang pemasaran, seperti prediksi kecenderungan pelanggan untuk membeli suatu produk atau

berhenti berlangganan.

Regresi logistik tidak memerlukan asumsi normalitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi, dikarenakan variabel terikat yang terdapat pada regresi logistik

merupakan variabel dummy (0 dan 1), sehingga residualnya tidak memerlukan ketiga pengujian tersebut. Untuk asumsi multikolinearitas, karena hanya

melibatkan variabel-variabel bebas, maka masih perlu untuk dilakukan pengujian. Untuk pengujian multikolinearitas ini dapat digunakan uji kesesuaian (goodness of fit test) yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis guna melihat variabel bebas mana saja yang signifikan dan dapat tetap digunakan dalam penelitian. Selanjutnya di antara variabel bebas yang signifikan, dapat dibentuk

suatu matriks korelasi, dan apabila tidak terdapat variabel bebas yang saling memiliki korelasi yang tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gangguan multikolinearitas pada model penelitian (David W. Hosmer, 2011).

Regresi logistik merupakan salah satu metode statistik nonparametrik untuk menguji hipotesis. Metode regresi logistik adalah metode matematika yang

menggambarkan hubungan antara satu atau lebih variabel bebas dengan satu variabel tak bebas yang dikotomi yang variabelnya dianggap hanya mempunyai

(3)

solusi atau gagal pada analisis regresi logistik tunggal dan regresi logistik berganda.

Pada umumnya analisis regresi membentuk suatu persamaan untuk memprediksi variabel dependen berdasarkan variabel independennya. Model

regresi logistik ganda adalah model regresi logistik dengan variabel independennya lebih dari satu variabel. Fungsi probabilitas untuk setiap observasi adalah sebagai berikut :

Dimana jika y = 0 maka f(y) = 1-π dan jika y = 1 maka f(y) = π. Fungsi

regresi logistik dapat dituliskan sebagai berikut :

dengan k=banyaknya variabel independen

Nilai z antara - dan + sehingga nilai f(z) terletak antara 0 dan 1 untuk setiap z yang diberikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa model logistik sebenarnya menggambarkan probabilitas atau risiko dari suatu objek. Model

regresi logistik dapat dituliskan sebagai berikut :

Untuk mempermudah pendugaan parameter regresi maka model regresi logistik diatas dapat diuraikan dengan menggunakan transformasi logit dari π(x).

(4)

Model tersebut merupakan fungsi dari parameter-parameternya. Pada

regresi logistik, variabel dependen diekspresikan sebagai y = π(x) + dimana

mempunyai salah satu dari kemungkinan dua nilai, yaitu =1-π(x) dengan

peluang π(x) jika y = 1 dan = -π(x) dengan peluang 1-π(x) jika y = 0 dan

mengikuti distribusi binomial dengan rataan nol dan varians (Lemeshow, 2000).

2.2.1 Estimasi Parameter

Dalam regresi linier dikenal istilah last square yang digunakan untuk estimasi parameter model, sedangkan untuk regresi logistik digunakan prinsip estimasi maximum likelihood. Prinsip dari maximum likelihood ini adalah parameter populasi diestimasi dengan cara memaksimumkan kemungkinan dari

data observasi. Setiap observasi untuk model regresi logistik adalah variabel random dari distribusi Bernoulli (Netter et al., 1996).

Menurut Hosmer dan Lemeshow (1989), fungsi likelihood distribusi Bernoulli untuk n sampel independen adalah sebagai berikut :

Untuk log-likelihood atau logaritma natural fungsi probabilitas bersamanya adalah sebagai berikut :

(5)

Taksiran parameter , diperoleh dengan mendiferensialkan fungsi log-likelihood terhadap dengan k = 0;1. Nilai maksimum diperoleh bila hasil diferensial fungsi log-likelihood bernilai nol (0). Diperlukan metode iterasi untuk mendapatkan taksiran pada metode maksimum likelihood karena tidak bisa diperoleh taksiran parameter dari pendeferensialan fungsi log-likelihood.

2.2.2 Uji Signifikansi Parameter

Uji signifikan parameter ini dilakukan untuk mengetahui apakah taksiran parameter berpengaruh berpengaruh terhadap model atau tidak secara signifikan,

serta mengetahui seberapa besar pengaruh masing-masing parameter tersebut. Uji signifikansi parameter terdapat dua tahap, yaitu :

1. Uji signifikansi parameter model secara terpisah (parsial)

Uji signifikansi parameter model secara terpisah (parsial) dilakukan untuk mengetahui signifikansi parameter terhadap variabel dependen. Uji yang

digunakan untuk mengetahui signifikansi parameter model secara terpisah adalah dengan menggunakan uji Wald (Hosmer dan Lemeshow, 2000)

dengan hipotesis sebagai berikut : H0: βj = 0

Ha: βj≠ 0 ; j = 1,2,...,p

SU :

Statistik uji W mendekati distribusi Chi-square dengan derajat

bebas 1 dengan adalah taksiran standart error parameter. Daerah

(6)

2. Uji signifikansi parameter model secara serentak

Uji signifikansi parameter model secara serentak dilakukan dengan uji

rasio likelihood. Suatu statistik uji rasio likelihood G adalah fungsi dari L0 dan L1 yang berdistribusi X2 dengan derajat bebas p. Pengujian secara serentak dilakukan untuk memeriksa kemaknaan koefisien β secara

keseluruhan dengan hipotesis sebagai berikut : H0: β1= β2= ... = βp = 0

Ha : paling tidak terdapat satu βj ≠ 0 ; j = 1,2,...,p

SU :

Daerah penolakan H0 adalah G > X2(v,α) atau p value < α (Hosmer

dan Lemeshow, 2000). 2.2.3 Uji Kesesuaian Model

Uji kesesuaian model digunakan untuk menilai apakah model sesuai

dengan data atau tidak. Untuk mengetahui apakah model sesuai atau tidak terhadap data yang ada menggunakan uji Hosmer dan Lemeshow. Jika uji Hosmer

dan Lemeshow dipenuhi maka model dinilai dapat memprediksi nilai observasinya.

Menurut Hosmer dan Lemeshow (1989), uji Hosmer dan Lemeshow yang

biasa ditulis dengan uji Ĉ dihitung berdasarkan taksiran probabilitas. Pada uji ini sampel dimasukkan ke sejumlah g kelompok dengan tiap-tiap kelompok memuat n/10 sampel pengamatan, dengan n adalah jumlah sampel. Jumlah kelompok ada

(7)

Kelompok kedua memuat sampel yang memiliki taksiran probabilitas sukses terkecil kedua, dan seterusnya (Liu, 2007).

Statistik uji Ĉ yang dihitung berdasarkan nilai y = 1 dirumuskan dengan hipotesis sebagai berikut :

H0 : Model sesuai, tidak terdapat perbedaan antara hasil observasi dengan hasil

prediksi.

Ha : Model tidak sesuai, terdapat perbedaan antara hasil observasi dengan hasil

prediksi.

SU :

Dimana adalah rata-rata taksiran probabilitas sukses kelompok ke-k, Ok

adalah jumlah sampel kejadian sukses dalam kelompok ke-k, adalah total

sampel kelompok ke-k dengan k = 1, 2, ..., g. Statistik uji Ĉ mendekati distribusi

Chi-square dengan df = g-2. Daerah penolakan H0 adalah

2.3 Analisis Diskriminan

Analisis diskriminan merupakan teknik menganalisis data, dimana variabel

dependen merupakan data kategorik (nominal dan ordinal) sedangkan variabel independen berupa data interval atau rasio. Analisis diskriminan ini termasuk

dalam analisis multivariat dengan metode dependensi. Ada dua metode dalam analisis multivariat yaitu metode dependensi dan metode interdenpendensi. Metode dependensi yaitu variabel-variabelnya tidak saling bergantung satu

(8)

kategori disebut Two-Group Discriminant Analysis , sedangkan jika lebih dari dua kelompok atau kategori disebut dengan Multiple Discriminant Analysis.

Analisis diskriminan bertujuan untuk mengklasifikasikan suatu individu atau observasi ke dalam kelompok yang saling bebas (mutually exclusive/disjoint)

dan menyeluruh (exhaustive) berdasarkan jumlah variabel independen. Menurut Johnson dan Wichern (2007) analisis diskriminan digunakan untuk mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu dari dua kelompok atau lebih.

Suatu fungsi diskriminan layak untuk dibentuk, bila terdapat perbedaan nilai rataan di antara kelompok-kelompok yang ada.

Persamaan fungsi diskriminan yang dihasilkan untuk memberikan peramalan yang paling tepat untuk mengklasifikasi individu kedalam kelompok berdasarkan skor variabel independen. Sebelum fungsi diskriminan dibentuk,

perlu dilakukan pengujian terhadap perbedaan nilai rataan dari kelompok-kelompok tersebut. Menurut Santoso (2010), terdapat beberapa asumsi yang harus

dipenuhi dalam pengujian ini, yaitu :

1. Multivariate Normality atau variabel independen seharusnya berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal akan menyebabkan masalah pada

ketepatan fungsi model diskriminan.

2. Matriks kovarians dari semua variabel independen seharusnya sama

(equal).

3. Tidak ada korelasi antar variabel independen. Jika dua variabel

(9)

4. Tidak adanya data yang sangat ekstrim (outlier) pada variabel independen. Jika ada data outlier yang tetap diproses, hal ini bisa berakibat kurangnya

ketepatan klasifikasi dari fungsi diskriminan. 2.3.1 Proses Dasar Analisis Diskriminan

Menurut Santoso (2010), terdapat beberapa proses dasar yang harus dilakukan dalam analisis diskriminan, diantaranya yaitu :

1. Memisah variabel-variabel menjadi variabel dependen dan variabel

independen.

2. Menentukan metode untuk membuat fungsi diskriminan. Pada prinsipnya

ada dua metode dasar, yaitu : a. Simultaneous Estimation

Semua variabel dimasukkan secara bersama-sama kemudian dilakukan

proses diskriminan. b. Step-Wise Estimation

Variabel dimasukkan satu per satu ke dalam model diskriminan. Pada proses ini tentu ada variabel yang tetap ada pada model, dan ada kemungkinan satu atau lebih variabel independen yang dibuang dari

model.

3. Menguji signifikansi dari fungsi diskriminan yang telah terbentuk dengan

menggunakan Wilk’s Lambda, Pilai, F-test dan lainnya.

4. Menguji ketepatan klasifikasi dari fungsi diskriminan, termasuk

(10)

5. Melakukan interpretasi terhadap fungsi diskriminan tersebut. 6. Melakukan uji validasi fungsi diskriminan.

2.3.2 Uji Normalitas

Untuk menguji kenormalan ganda (Multivariate Normality) adalah dengan

mencari nilai jarak kuadrat untuk setiap pengamatan yaitu dengan rumus sebagai berikut :

Dimana :

= Nilai jarak kuadrat untuk setiap pengamatan ke-i

Xi = Pengamatan ke-i (i=1, 2, ..., n)

= Rata-rata variabel independen

S-1 = Kebalikan (inverse) matriks varians-kovarians S

Kemudian diurutkan dari yang paling kecil ke yang paling besar.

Selanjutnya dibuat plot dimana i = urutan 1, 2, ..., n. Bila hasil plot dapat

didekati dengan garis lurus maka dapat disimpulkan bahwa peubah ganda menyebar normal.

2.3.3 Uji Kesamaan Matriks Kovarians

Dalam analisis diskriminan, matriks kovarians seluruh variabel independen seharusnya sama (equal). Untuk menguji kesamaan matriks kovarians

digunakan rumus dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : S1=S2

Ha : S1≠S2

(11)

Dengan :

Keterangan :

S = Matriks kovarians dalam kelompok gabungan

Si = Matriks kovarians kelompok ke-i (i = 1, 2, ..., k) ni = Jumlah responden pada kelompok ke-i

k = banyaknya kelompok

p = Jumlah peubah pembeda (Y) dalam fungsi diskriminan = 1

Daerah penolakan H0 adalah jika .

2.3.4 Persamaan Fungsi Diskriminan

Analisis diskriminan membentuk suatu persamaan yang dikenal dengan

persamaan fungsi diskriminan. Suatu fungsi diskriminan dibentuk, bila terdapat perbedaan nilai rataan di antara kelompok-kelompok yang ada. Fungsi

diskriminan dapat dibentuk dengan menggunakan uji Wald yaitu :

Dimana :

X = Vektor pengamatan

= Vektor rata-rata variabel independen

(12)

Dimana uji Wald tersebut diatas akan menghasilkan model atau persamaan fungsi diskriminan sebagai berikut :

Y = b0 + b1Xi1 + b2Xi2 + ... + bjXij Dimana :

Y = Skor fungsi diskriminan dari responden ke-i b0 = Konstanta (intercep)

bj = Koefisien fungsi diskriminan dari variabel ke-j

Xij = Variabel bebas ke-j dari responden ke-i (i = 1, 2, ..., n) (Johnson dan Wichern, 2007).

2.3.5. Cut Off Score

Hasil z-score yang didapat dari persamaan fungsi diskriminan yang terbentuk selanjutnya dibandingkan dengan cut off score untuk mengetahui apakah responden tersebut termasuk kedalam grup tidak diet atau grup diet. Pembuatan cut off score dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Dimana :

Zcu = Angka kritis yang berfungsi sebagai cut off score.

NA = Jumlah sampel di grup tidak diet. NB = Jumlah sampel di grup diet.

(13)

Jika angka skor kasus lebih besar dari nilai angka kritis (Zcu), maka responden tersebut masuk kedalam grup tidak diet. Sedangkan jika angka skor

kasus lebih kecil dari nilai angka kritis (Zcu), maka responden tersebut masuk kedalam grup diet (Santoso, 2010).

2.4 Diet Penurunan Berat Badan

Diet berasal dari bahasa Yunani, yaitu diaita yang berarti cara hidup. Menurut Saraswati (2006), diet adalah membatasi dengan cermat konsumsi kalori

atau jenis makanan tertentu. Pada prinsipnya diet adalah membatasi konsumsi makanan sampai di bawah kebutuhan ideal tubuh. Dengan demikian, diet tidak

saja berarti menurunkan berat badan, tetapi mengatur dan membatasi jumlah asupan makanan yang dibutuhkan tubuh yang bersangkutan agar terjadi keseimbangan energi.

Menurut tim kedokteran EGC tahun 1994 (dalam Hartantri, 1998) diet adalah kebiasaan yang diperbolehkan dalam hal makanan dan minuman yang

dimakan oleh seseorang dari hari ke hari, terutama yang khusus dirancang untuk mencapai tujuan dan memasukkan atau mengeluarkan bahan makanan tertentu.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa fungsi diet itu

sendiri bermacam-macam. Saraswati (2013) membagi diet itu sendiri menjadi diet normal, diet untuk menaikkan dan menurunkan berat badan, diet khusus penyakit

tertentu, diet alergi makanan, diet kelompok usia tertentu, dan diet ibu menyusui dan mengandung. Akan tetapi didalam masyarakat pada umumnya, diet dilakukan

(14)

Hill, dkk (1992) berpendapat bahwa perilaku diet menjadi populer di masyarakat, termasuk di kalangan remaja karena dipandang sebagai usaha yang

mudah dilakukan, ekonomis, dan yang terpenting tanpa efek samping yang nyata. Menurut French (1995), diet dapat memberi keuntungan psikososial yaitu

berkurangnya berat badan maka penampilan diri menjadi semakin baik. Hal ini tentu membuat seseorang dengan bentuk badan yang tidak ideal atau memiliki berat badan lebih dari normal akan melakukan tindakan diet penurunan berat

badan untuk memperbaiki penampilannya dan menumbuhkan rasa percaya diri akan bentuk tubuhnya.

Tubuh ideal menjadi dambaan bagi kebanyakan kaum perempuan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kaum lelaki tidak menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Untuk itu baik kaum perempuan maupun kaum lelaki melakukan

banyak cara untuk dapat menurunkan berat badan agar terlihat lebih menarik dan lebih percaya diri dalam beraktifitas.

2.4.1 Jenis Diet

Kim dan Lennon (2006), menjabarkan beberapa perilaku diet kedalam dua kelompok, yaitu :

1. Diet Sehat

Diet dapat diasosiasikan dengan perubahan perilaku ke arah yang lebih

sehat, seperti mengubah pola makan dengan mengkonsumsi makanan rendah kalori dan melakukan aktifitas fisik secara wajar. Diet sehat adalah

(15)

mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah lemak, menambah aktifitas fisik secara wajar. Diet sehat dilakukan dengan memperhitungkan

asupan makanan sehari hari yang diperbolehkan. 2. Diet Tidak Sehat

Orang-orang yang melakukan diet semata-mata bertujuan untuk memperbaiki penampilan akan cenderung menempuh cara-cara yang tidak sehat untuk menurunkan berat badan. Diet tidak sehat adalah penurunan

berat badan yang dilakukan dengan melakukan perilaku-perilaku yang membahayakan kesehatan, seperti melewatkan waktu makan dengan

sengaja, penggunaan obat-obatan penurunan berat badan, mengkonsumsi penahan nafsu makan serta muntah dengan sengaja.

2.4.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tindakan Diet

Menurut McDuffie dan Kirkley dalam Kurnianingsih (2009) mengemukakan secara umum faktor-faktor yang memengaruhi tindakan diet

penurunan berat badan pada remaja yaitu : 1. Status Gizi

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan

dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2001). Cara untuk mengetahui status gizi seseorang ada berbagai macam cara, salah satunya dengan

menghitung nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan berat badan dan tinggi badan seseorang tersebut.

(16)

memiliki berat badan lebih ringan. Pada umumnya memang seseorang yang memiliki berat badan lebih melakukan banyak cara untuk dapat

menurunkan berat badanya sampai seperti yang diinginkan. 2. Citra Tubuh

Citra tubuh merupakan gambaran kombinasi tentang keakuratan satu persepsi mengenai ukuran tubuh, perasaan dan perilaku yang menerima atau menolak perasaan tersebut (Heinberg, 1996). Seseorang

yang menilai buruk akan bentuk tubuhnya cenderung akan melakukan tindakan diet untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal.

3. Pengetahuan tentang Diet

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2003).

Pengetahuan tentang diet berarti seseorang tersebut telah

melakukan penginderaan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan diet, baik melalui indera penglihatan maupun pendengaran.

4. Sikap Keluarga

Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap sikap dan

(17)

(2009), komentar negatif dan sindiran tentang bentuk tubuh dan ukuran tubuh yang dilontarkan oleh keluarga akan menyakiti hati anak dan

mengakibatkan anak tersebut mengembangkan hubungan dan kebiasaan yang tidak sehat dengan makanan.

5. Sikap Teman Sebaya

Davis (1999) mengatakan bahwa teman sebaya dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kebiasaan yang tidak sehat seperti melakukan

upaya penurunan berat badan dan kebiasaan makan yang salah dan timbulnya persaingan sekaligus tekanan untuk menjadi yang terkurus dan

terkecil. Pada umumnya para remaja merasa lebih nyaman berteman dengan seseorang yang sebaya karena dapat memberikan keamanan emosional dan memiliki masalah yang sama. Levine dalam Field (2001)

berpendapat bahwa perilaku mengontrol berat badan berhubungan dengan teman sebaya, tekanan yang ditimbulkan oleh teman sebaya ditemukan

dapat meningkatkan resiko terjadinya perilaku makan menyimpang. 6. Media Massa

Media massa memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan

sikap dan perilaku remaja, apalagi di jaman yang modern seperti sekarang ini. Malinauskas (2006) menyatakan bahwa media massa dipercaya

mendorong dan memberi tekanan pada remaja putri untuk membentuk tubuh yang ideal, hal ini akan mengakibatkan seseorang menjadi cemas

(18)

diet di majalah juga dapat memengaruhi perilaku diet, sebesar 44% remaja putri tingkat menengah yang membaca artikel tentang diet akan

menunjukkan perubahan perilaku makan menjadi ekstrim, lebih ketat, dan tidak sehat selama lima tahun kedepan, selain itu juga menimbulkan

perilaku makan dan kesehatan yang salah seperti penggunaan pil diet, laksatif, memuntahkan makanan dengan sengaja untuk mengontrol berat badan.

2.4.3 Dampak Perilaku Diet

Menurut Hawks (2008), tindakan diet penurunan berat badan

menimbulkan beberapa dampak bagi seseorang yang melakukannya, yaitu : 1. Dampak Biologis

Diet akan meningkatkan level systemic cortisol. Cortisol merupakan pertanda dari timbulnya stress yang merupakan predictor terhadap level rasa lapar dan hal lain merupakan faktor yang beresiko terhadap timbulnya

tulang yang rapuh. 2. Dampak Psikologis

Individu yang melakukan diet biasanya akan lebih depresi dan emosional

dari pada individu yang tidak diet, dan akan mengalami kecemasan serta kurangnya penyesuaian diri yang baik pada area sosialisasi, kematangan,

tanggung jawab dan struktur nilai intrapersonal. 3. Dampak Kognitif

(19)

yang disebabkan oleh kecemasan yang dihasilkan oleh efek stress terhadap diet.

2.4.4 Remaja

Istilah remaja berasal dari kata latin, yaitu adolescere yang berarti perkembangan menjadi dewasa (Monks, 1999). Menurut Santork (2003), masa remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial.

Masa remaja memiliki batasan yang berbeda-beda menurut beberapa ahli. Hall (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa usia remaja adalah masa antara

usia 12 sampai 23 tahun. Monks (1999) berpendapat bahwa batasan usia remaja antara 12 sampai 21 tahun yang terbagi dalam tiga fase, yaitu remaja awal (12-15 tahun), remaja tengah/madya (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun).

2.4.5 Perkembangan Remaja 1. Perkembangan Fisik

Menurut Dacey & Travers (2004), perkembangan fisik remaja ditandai dengan adanya suatu periode yang disebut pubertas. Pada masa pubertas, hormone seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon yang berhubungan

dengan pertumbuhan, yaitu Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH).

Perkembangan secara cepat dari kedua hormon tersebut menyebabkan terjadinya perubahan sistem biologis seorang anak. Pada anak perempuan,

(20)

periode haid pertama. Selain itu terjadi juga pertumbuhan otot yang cepat, tumbuhnya rambut pubis serta suara yang semakin halus.

Perubahan yang terjadi pada anak laki-laki yaitu suara yang semakin berat, pertumbuhan otot dan pertumbuhan rambut tubuh. Perkembangan fisik remaja

akan berlangsung sangat cepat sejak awal terjadinya pubertas. 2. Perkembangan Kognitif

Tahap ini merupakan tahap yang paling tinggi dalam perkembangan

kognitif individu, dimana remaja mempunyai kemampuan untuk memanipulasi informasi dan mempunyai pemikiran yang lebih luas lagi. Pada masa remaja,

proses pembentukan gambaran tubuh sudah diikuti dengan proses kognisi. Pproses kognisi tersebut berupa pemikiran dan keinginan untuk mengidentifikasikan diri sesuai dengan tokoh idolanya. Proses pembentukan

gambaran tubuh yang baru pada masa remaja ke dalam diri adalah bagian dari tugas perkembangan yang sangat penting (Dacey & Kenny, 2001).

3. Perkembangan Sosial

Menurut Handel (dalam Rice, 1990), sejak masa puber, remaja umumnya mulai memperhatikan dan membandingkan hal-hal khusus seperti penampilan

fisik (misalnya bentuk tubuh) dan kemampuan sosialisasinya dengan lingkungan pergaulan dan tokoh idolanya.

Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian social. Remaja harus menyesuaikan diri dengan

(21)

menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Hurlock, 1999).

2.5 Kerangka Konsep

Berdasarkan rumusan teori diatas maka peneliti dapat merumuskan

kerangka konsep penelitian berdasarkan variabel-variabel yang akan diteliti sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independen

1. Indeks Massa Tubuh 2. Citra Tubuh

3. Pengetahuan Tentang Diet 4. Sikap Keluarga

5. Sikap Teman Sebaya 6. Media Massa

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Tugas Perkembangan Keluarga Tahap II (Childbearing Family) dengan Kelengkapan Imunisasi DPT pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Mangli Kabupaten Jember

Memelihara jangan sampai terjadi kebocoran udara seperti terjadinya kebocoran pada klep pemasukan udara dan mejaga sistem pendinginan mesin tetap dalam keadaan baik agar suhu

Pada prinsipnya teknologi tersebut dapat menentukan kadar hara tanah melalui metode analisis tanah secara uji cepat ( quick test ) dengan menggunakan perangkat uji

Dalam sekolah alam tentunya akan banyak berhubungan dengan zona ruang luar atau tapak, dalam merancang tapak nantinya akan mengaplikasikan kebun buah-buahan dalam

Ketua Pengawas mengarahkan calon mengisi butiran pada muka hadapan Kertas Soalan dan Helaian Tambahan.

jelas lidak akurat. Populasi itu sendiri masill belum jclas, karena itu perlu dibuat targct populasi. Target populasi ilulah yang dipakai dal-i mana sampel akan

Alasan peneliti menggunakan jenis PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dengan menerapkan

Secara statistika hasil belajar kelompok eksperimen lebih besar, tetapi kenyataannya hasil tersebut masih rendah (berada di bawah batas ketuntasan belajar), 2) terdapat