BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Setiap makhluk yang hidup di dunia ini pasti akan mengalami kematian. Tidak ada seorangpun yang dapat menghindarinya. Kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun kita. Jika ajal telah menjemput maka kita tidak berdaya untuk menolaknya. Bertentangan dengan dugaan orang munafik pada peristiwa perang uhud, mereka menduga bahwa kematian dapat dihindarkan.1 Padahal, siapapun kita tidak luput dari yang namanya
kematian. Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu. Allah adalah khaliq yang menciptakan segala sesuatu. Maka semua makhluk akan kembali kepada-Nya.
Kematian merupakan kata yang sangat ingin dihindari orang, untuk membicarakannya. Hal ini tidak lain karena kata tersebut identik dengan sesuatu yang menakutkan. Ada beberapa faktor yang menimbulkan perasaan takut pada diri seseorang jika mendengar istilah kematian ini. Selengkapnya akan dibahas pada makalah ini. Namun demikian, rasa ketakutan ini disikapi oleh Islam dengan rasa optimis menghadapi kematian. Bagaimanakah psikologi Islam membahas tentang kematian. Inipun akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Psikologi Kelahiran Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam?
2. Apa yang dimaksud dengan Aging Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam?
3. Apa yang dimaksud dengan Psikologi Kematian (Death and Dying) Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam?
4. Apa yang dimaksud dengan Psikologi Duka cita (Bereavement) Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam?
BAB II PEMBAHASAN
EKSPRESI KEBERAGAMAN MANUSIA
A. Psikologi Kelahiran Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam
Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri, dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.
Dalam bagian pertama ini penulis melukiskan bagaimana manusia mendalami makna kehidupannya, dengan bersyukur, berkembang dan mengabadikannya baik melalui tulisan ataupun cerita-cerita guna membangun bangsa yang lebih baik kedepannya.
Studi psikologi tentang kelahiran relatif baru dibandingkan dengan studi medis, studi psikologis tentang kelahiran lebih difokuskan pada bagaimana pengaruhnya terhadap pasca lahir, dan sejumlah faktor lain yang mempengaruhi perkembangan sebelum dan sesudah lahir. Para ahli psikologi perkembangan membagi proses kelahiran dalam tiga tahap :
1. Terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung 15 hingga 20 menit pada permulaan dan berakhir hingga 1 menit.
2. Dimulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan saluran kelahiran. Tahap ini berakhir ketika bayi benar-benar keluar dari tubuh ibu. Tahap ini berlangsung kira-kira 1,5 jam.
3. Setelah bayi lahir pada waktu ini ari-ari tali pusar dan selaput lain dilepaskan dan dibuang. Tahap akhir inilah yang paling pendek berlangsung hanya beberapa menit saja.2
Studi psikologis dan medis telah menunjukkan beberapa kondisi yang menimbulkan pengaruh kelahiran terhadap perkembangan pasca lahir, diantaranya :
1. Jenis kelahiran 2. Pengobatan ibu 3. Lingkungan pra lahir
4. Jangka waktu priode kehamilan 5. Perawatan pasca lahir
6. Sikap orang tua
Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah sangat menghargai kesulitan dan penderitaan ibu ketika melahirkan. Untuk menghargai hal ini, Allah memberikan kewajiban kepada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya, terutama ibu, karena tanggung jawab reproduksi yang dimilikinya. Dalam hal ini Allah berfirman :
Artinya :
Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan….”(QS. Al-Ahqaf 46 : 15)
Artinya: “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman 31 : 14)
َىللللإإ للججرل ءلَاجل َ:للَاقل ،هنع هللا يضر ةلرلييرلهج يبإأل ث
ج يدإحل
ل
ل ُوللس
ج رل َالليل َ:ل
ل َاللقلفل ،ملللسو هيلع هللا َىلص هللا ل
إ ُوس
ج رل
م
م ثج َ:ل
ل َاقل َ«ك
ل ممأج» َ:للَاقل ؟يتإبلَاحلص
ل ن
إ س
ي ح
ج بإ ق
م حلأ
ل نيمل !هللا
َ:ل
ل َاللقل َ«ك
ل للممأج» َ:للَاللقل ؟نيمل ممثج َ:للَاقل َ«كلممأج» َ:للَاقل ؟نيمل
.َ«ك
ل ُوبجأل ممثج» للَاقل ؟نيمل ممثج
Artinya: “Abu hurairah r.a. berkata: Seorang datang kepada Nabi saw. danberkata: Ya Rasulullah, siapakah yang berhak aku layani? Jawab Nabi saw.: Ibumu. Ditanya; Kemudian siapakah? Jawab Nabi saw.: Ibumu. Ditanya: Kemudian siapakah? Jawab Nabi saw.: Ibumu. Ditanya, kemudian siapakah? Jawab Nabi saw.: Ayahmu. (Bukhari, Muslim).
Menit-menit pertama setelah kelahiran merupakan waktu yang sangat khusus bagi seorang Ibu. Menurut penelitian 6 sampai 12 jam setelah kelahiran merupakan periode sensitif untuk terjadinya ikatan emosional antara ibu dan anak. Ayah juga mengalami campuran antara emosi negatif dan positif, antara ketakutan dan kegembiraan. Keduanya terpesona terhadap kelahiran bayi dan ingin menyentuh. Namun terdapat beberapa kasus di mana Ibu mengalami kondisi negative yang disebabkan oleh gangguan hormon.3
B. Aging Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam
Aging adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Dengan demikian, proses aging dapat disamakan dengan proses penuaan. Dalam menjalani kehidupan, manusia mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan sejak dari bayi sampai tua hingga ajal menjemput.
Manusia modern memiliki sudut pandangnya berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia percaya bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki jawaban untuk semua pertanyaan termasuk penuaan.
Sudah hari-hari ketika orang-orang yang digunakan untuk berpikir bahwa penuaan dan mati adalah bagian dari proses.
Masa lansia sering dimaknai sebagai masa kemunduran, terutama pada keberfungsian, fungsi-fungsi fisik dan psikologis. Penyebab kemunduran, fisik adalah perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit khusus tetapi karena proses menua. Kemunduran dapat juga mempunyai penyebab psikologis. Sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan dan penghidupan pada umumnya dapat menuju kepada keadaan uzur. Karena terjadi perubahan pada lapisan otak, akibatnya orang menurun secara fisik dan mental dan mungkin akan segera mati.4 Masa lansia biasanya juga disertai
dengan berbagai penyakit yang menyerang dan menggorogoti kehidupan lansia sekalipun tidak semua lansia adalah berpenyakit. Tapi kebanyakan lansia rentan terhadap penyakit-penyakit tertentu akibat kondisi organ-organ tubuh yang telah aus atau mengalami kemunduran, juga fungsi imunisasi (kekebalan tubuh) yang juga menurun.
Masalah-masalah lain seperti kemunduran dari aspek sosial ekonomi. Secara ekonomi, lansia merupakan masa pension. Produktivitas menurun, otomatis penghasilan juga berkurang. Bahkan bisa jadi nihil. Yang menyebabkan lansia menjadi tergantung atau menggantungkan diri pada orang lain seperti anak atau keluarga yang lain. Kemunduran dari segi sosial ditandai dengan kehilangan jabatan atau posisi tertentu dalam sebuah organisasi atau masyarakat yang telah menempatkan dirinya sebagai individu dengan status terhormat, dihargai, memiliki pengaruh, dan didengarkan pendapatnya.5
Di usia lanjut, saat pertumbuhan fisik menyurut, secara psikologis manusia merasa dirinya berada dalam kondisi yang serba terbatas. Dikala itu, kesadaran akan nilai-nilai spiritual menapak perkembangannya.
Artinya : Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(QS. Al-Mukminun 40 : 67)
Pada tahapan umur tua akan tampak tanda-tanda kelelahan seseorang kekuatannya mulai menurun sedx\ikit demi sedikit. Tahapan ini oleh rasulullah dimana masa pergulatan dengan maut yaitu usia enam puluhan hingga umur tujuh puluhan.6
Dengan demikian kita mesti ingat akan kehidupan akhirat. Kita mengingat akan kehidupan yang abadi, tanpa melupakan kebahagiaan di dunia, karena dunia merupakan tempat berladang amal dan akan dipanen nantinya di akhirat kelak. Islam tidaklah mengabaikan perkara dunia pemahaman bahwa kehidupan dunia diabaikan berimplikasi negatif bagi umat manusia dan dapat mengiring mereka kepada kefakiran dan keterbelakangan. Adapun yang perlu dipertegas ialah akhirat menurut Islam lebih kekal dari dunia, idealnya amal yang kekal harus lebih optimal dari pada umat yang fana. Juga perkara dunia harus dibarengi dengan amat baik seperti tidak mengambil hak orang lain. Menolong orang lain dan sebagainya, semuanya itu termasuk amalan akhirat, di mana pelakunya akan mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.7 Allah SWT berfirman :
Artinya : Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
6 Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Alih Bahasa Renungan Tentang Umur Manusia, h.66
(kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. Al-Qasas 28:77)
Jika seseorang sakit, hendaklah ia lelalu bertobat dan memperbanyak istigfar, mengingat Allah dan mohon diampuni segala kesalannya serta dimaafkan segala kelalaiannya dimasa-masa yang lalu. Penyakit-penyakit yang menimpa manusia mengingatkannya kepada akhirat dan mendorongnya untuk kembali kepada Allah SWT maka jika seseorang menderita sakit, ia hendaknya membuat wasiat yang diperlukan tentang hal-hal penting yang berkaitan dengan urusan akhirat dan dunia, terutama jika ada hak-hak orang lain yang masih ada ditangannya.8 Selain itu dalam masa
sakitnya, hendaknya ia menempatkan diri pada puncak persangkaan baik kepada Allah sesuai sabda Rasulullah :
Artinya : “janganlah seseorang di antara kamu mati, kecuali ia menyimpan sangkaan baik kepada Allah SWT.” Hadits Qudsi: “Aku selalu dekat dengan sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan aku bersamanya selama ia mengingat-Ku”.
Hendaknya ia tetap menjaga shalatnya sesuai dengan kondisinya, sambil duduk telentang atau dengan cara apapun yang dapat ia kerjakan. Jangan sampai ia melalaikan tiang agama ini. Kerabat dan teman-teman yang berada disampingnya hendaknya mendorongnya supaya mengerjakan shalat dan membantu serta selalu mengingatkannya. Dan hendaknya ia menyadari bahwa kewajiban shalat itu tidak akan gugur selama akal dan pikirannya masih sehat.9 Kemudian jika memang ajal telah dekat, orang
sekitar juga hendaknya membimbingnya membacakan kalimah tauhid diakhir hayatnya.
C. Kematian (Death and Dying) Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam
Kematian adalah hal yang pasti dan kematian merupakan peristiwa menakutkan, maka kebanyakan orang lebih memilih tidak memikirkannya dan
berusaha menghindarinya agar bisa merasakan kebahagiaan setiap saat yang dilaluinya. Namun untuk orang pada umumnya bayang-bayang kematian yang selalu menghantui bukan karena takut akan masuk neraka tapi takut berpisah dengan duniawi, merasa masih belum melakukan apa-apa , takut kehilangan orang-orang yang disayangi, dan takut meninggal secara “dadakan”, lebih baik diawali sakit karena itu bisa saja pertanda akan datangnya kematian, insting kematian atau yang lebih dikenal dengan death instinct dalam psikologi.
Kata kematian sebenarnya sudah sangat akrab dengan telinga manusia. Namun manakala masih berada dalam kenikmatan hidup, manusia sering lengah dan lupa dengan kematian. Sebaliknya, bila usia semakin sepuh atau didera sakit, maka baying-bayang kematian mulai muncul. Secara psikologis turut mempengaruhi sikap dan prilaku manusia.
Menurut Islam, kematian pada manusia terjadi ketika ruh terlepas dari tubuh manusia dan tidak kembali lagi. Al-Qur’an menceritakan peran malaikat untuk mengambil ruh manusia dan memisahkannya dari tubuh pada saat kematian. Contoh dari ayat ini adalah :
Artinya: Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut
nyawa)mu akan mematikanmu, Kemudian Hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. Al – Sajadah 11)
Islam juga mengajarkan bahwa kematian bersifat permanen (maut) atau sementara. Kematian dapat bersifat permanen bersifat menetap sampai hari kebangkitan, ia tidak akan hidup kembali. Islam mengajarkan tidur sebagai bentuk kematian kecil, dimana manusia dapat bangun kembali setelah hilang kesadarannya yang bersifat sementara. Dalam al-Qur’an dinyatakan :
Artinya : Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(QS. Ali – Imran 145)
Selanjutnya agama juga mengajarkan tentang adanya hari kebangkitan. Alam baru dalam kehidupan “lain” yang akan dialami oleh manusia mati. Dipercaya bahwa saat itu manusia akan dihidupkan kembali guna diminta pertanggungjawabannya. Perbuatan buruk akan diganjar dengan hukuman berupa siksaan neraka. Oleh karena itu, hari kebangkitan ini juga disebut sebagai hari pembalasan.10
Berikut ini sebuah ungkapan komarudin hidayat dalam bukunya psikologi kematian. “saya merasa kematian dekat”. Perasaan ini sangat mempengaruhi sikap hidup dan keberagamaan saya. Andaikan hati dan fikiran bisa meyakini bahwa kehidupan itu akhir segala-galanya. Yang berarti dibalik kematian tidak ada lagi kehidupan, mungkin saya tak begitu peduli dengan agama, ada benarnya psikolog, it is death that create religion11
Menurut Adnan Syarif, ada beberapa persoalan yang muncul berkaitan dengan kematian. Dan persoalan ini sangat berdampak kepada psikologis manusia dalam menghadapi kematian. Permasalahan tersebut adalah umur yang pendek, menyangkut siksaan kematian, kehidupan pasca kematian, takut sakit dan perasaan was-was, tidak meyakini kematian dan mencintai kehidupan dunia.12
D. Duka cita (Bereavement) Dalam Perspektif Psikologi Agama Modern Dalam Islam
10 Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta : Grafindo Persada, 2008), h. 177 11 Komarudin Hidayat, Psikologi Kematian, (Jakarta : Hikmah, 2006), h. 109
Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasana Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.
Namun dalam masyarakat modern kita akan mengenal sebuah persoalan yang dikenal dengan proses alienasi sebuah persoalan kejiwaan manusia, dimana manusia adalah penyebab munculnya namun juga yang harus menanggung akibatnya dan persoalan alienasi ini sangat berkaitan erat dengan persoalan epistemology. Menyangkut proses alienasi itu manusia pun menjadi haus akan spiritualitas keagamaan yang diyakini sebagai kebebasan dari derita alienasi karena Tuhan adalah Pesona yang Maha hadir (Omnipresent) dan Maha mutlak. Spiritualitas sendiri bila dilihat bukannya sebagai objek keilmuan, melainkan penghayatan posisinya justru menjadi amat sentral. Dan membantu manusia mencari kedamaian.
Setiap manusia sangat menginginkan kehidupan yang makmur, damai, sentosa, bahagia. Namun sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap manusia yang hidup didunia ini pasti akan mengalami perputaran roda kehidupan. Terkadang mereka berada diatas dan terkadang mereka berada dibawah. Terkadang mereka mengalami peristiwa yang membuat mereka sedih, resah, gelisah. Kesedihan, keresahan dan kegelisahan tersebut dapat disebabkan oleh musibah.
manusia, betapa kecilnya musibah dapat menimbulkan penderitaan maupun kesengsaraan bagi korbannya. Oleh karena itu, setiap orang berusaha menghindarkan diri dari kemungkinan tertimpa musibah.13
Musibah disebabkan oleh beragam hal. Ada yang disebabkan oleh perbuatan manusia secara langsung, pengelolaan alam yang keliru atau murni disebabkan oleh alam. Korban tindak criminal mengalami musibah oleh perbuatan manusia secara langsung.14
Menurut psikologi agama, sebenarnya derita batin yang dialami oleh korban musibah terkait dengan ingat keberagamaan. Bagi mereka yang memiliki keyakinan yang mendalam terhadap nilai ajaran agama. Bagaimanapun akan lebih mudah dan cepat menguasai gejolak batinnya. Agama menjadi pilihan dan rujukan untuk mengatasi konflik yang terjadi dalam dirinya. Di kala musibah menimbulkan rasa kehilangan dari apa yang dimilikinya selama ini. Hatinya akan dibimbing oleh nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agamanya.15 Bila ia seorang muslim, ia akan merujuk
pernyataan tuhan.
Artinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS. An-Nahl 53)
Manusia memang bukan pemilik mutlak apa saja yang ia miliki, termasuk tubuh dan nyawa, hakikatnya adalah kepunyaan Allah. Sebagai pemilik mutlak, Tuhan menganugerahkan kepada manusia nikmatnya berupa kehidupan maupun kekayaan. Statusnya hanya sebagai titipan amanah. Dalam menjalani hidupnya manusia senantiasa berada dalam sebuah arena ujian yang sarat dengan berbagai cobaan. Firman Allah :
13 Jalaluddin, Op.cit. h. 169 14 Ibid, h. 170
Artinya : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" QS. Al-Baqarah 155-156)
Musibah merupakan ujian dan cobaan dari Allah kepada hambanya, dan bahwa semua itu Allah menguji kesbaran hamba-Nya dan kesyukurannya, maka dapat diketahui bahwa sabar dan syukur ialah pemberian iman, dan iman tidak dibangun kecuali diatas keduanya.16 Salah
satu aspek terapi pada shalat ialah meditasi. Beberapa hasil penelitian tentang pengaruh transcendental meditation dan zen meditation menunjukkan bahwa meditasi dapat menghilangkan kecemasan tersebut. Selain itu, juga ada aspek sugesti. Selain berisi pujian pada Allah juga berisi doa dan permohonan pada Allah agar selamat dunia akhirat. Ditinjau dari teori hypnosis pengucapan bacaan-bacaan berupa doa tertentu berisikan suatu proses auto sugesti. Bacaan pada shalat mensugesti diri sendiri agar memiliki sifat yang baik.17
16 Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Alih Bahasa, Fadli, Sabar Perisai Seorang Mukmin, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2003), h. 219
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Para ahli psikologi perkembangan membagi proses kelahiran dalam tiga tahap : Terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung 15 hingga 20 menit pada permulaan dan berakhir hingga 1 menit, Dimulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan saluran kelahiran. Tahap ini berakhir ketika bayi benar-benar keluar dari tubuh ibu. Tahap ini berlangsung kira-kira 1,5 jam. Setelah bayi lahir pada waktu ini ari-ari tali pusar dan selaput lain dilepaskan dan dibuang. Tahap akhir inilah yang paling pendek berlangsung hanya beberapa menit saja.
Proses Aging merupakan proses penuaan yang membawa seseorang berlanjut terus mengikuti pertumbuhan dan perkembangannya menuju usia lanjut. Masa usia lanjut ditandai dengan berbagai kemunduran baik dari segi fisik, psikis ekonomi dan sebagainya. Namun demikian, mengalami masa tua bukan berarti pasrah dan putus asa dengan kondisi yang dialami. Dalam istilah psikologi terdapat istilah optimum aging.
Usaha manusia mengalami kematian berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang lebih panjang dan ada yang lebih pendek. Namun sebaliknya kematian juga bukan suatu yang dapat dihindarkan. Setiap manusia akan mengalami kematian.
Bagi keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang berpulang kehadirat maha kuasa, hendaknya tidak larut dalam kedukaan. Hendaknya mereka meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Aliah B. Purwakania Hasan, 2006. Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta : PT. raja Grafindo Persada.
Al-Mu’az, Hamid Alih Bahasa, 2006. Subhan Nur dan Fathurrazak, Jalan Ke surga, Jakarta : Amzah.
Ancok, Jamaludin dan Fuat Anshori Suroso, 2001. Psikologi Islami, .Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Haddad. Allamah Sayyid Abdullah, Alih Bahasa Renungan Tentang Umur Manusia.
Hidayat, Komarudin, 2006. Psikologi Kematian, Jakarta : Hikmah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 2003. Alih Bahasa, Fadli, Sabar Perisai Seorang Mukmin, Jakarta: Pustaka Azzam.
Jalaluddin, 2008. Psikologi Agama, Jakarta : Grafindo Persada.
Shihab, M. Quraish, 2002. Tafsir Al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati,
Santrok, Jhon W, 2002. Life Span Development, perkembangan masa hidup, .Jakarta : Erlangga