• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Emansipatoris Jurgen Habermas. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Etika Emansipatoris Jurgen Habermas. doc"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Etika Emansipatoris Jurgen Habermas

Pendahuluan

Janji yang diusung modernitas1 akan kemajuan bagi umat manusia serta

peningkatan kualitas kemanusiaan telah gagal dipenuhinya. Hingga akhir abad silam

modernitas justru melahirkan banyak permasalahan bagi umat manusia. Kemajuan

teknologi hanya dapat dinikmati segelintir manusia di negara-negara maju guna

menambah kesenjangan kekayaan dibanding manusia di belahan bumi lain. Kapitalisme

yang diusung korporat-korporat raksasa makin mencengkeram di berbagai pelosok bumi

dengan menyingkirkan unit-unit usaha gurem yang gagal memahami mekanisme

persaingan pasar bebas. Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi berlebihan ditambah

berbagai aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan telah mencapai tahap yang

memprihatinkan.

Pemikiran modern (modernism) sendiri pada awalnya adalah satu bentuk gugatan

terhadap dogmatisme gereja yang mengekang perkembangan akal budi manusia atas

nama ajaran Ilahi. Pekik kemerdekaan "Cogito Ergo Sum" Descartes menggulirkan bola

salju subjektivisme dan rasionalisme yang menjadi roda pendorong modernisme.

Rangkaian pemikiran yang selanjutnya menarik sains dan teknologi yang berkembang

pesat dibelakangnya. Mereka percaya bahwa dengan kemajuan sains dan teknologi tidak

akan lagi ada permasalahan yang tidak dapat diatasi. Bahkan, kelak tidak akan ada lagi

misteri yang tidak dapat dipecahkan dengan keduanya, sebuah pernyataan yang

meminggirkan sistem pemikiran lain seperti filsafat dan agama dari arus utama

1 Istilah modernitas perlu dibedakan dengan modernisme terlebih dahulu, modernitas adalah keadaan

(2)

pemikiran. Janji kemajuan bagi manusia segera menjadi keyakinan aklamasi para

penganut modernisme. Sebuah janji yang diucapkan namun gagal dipenuhi sehingga

gugatan deras mengalir kepadanya bahkan dari para pemikir barat sendiri.

Salah satu gugatan besar yang dialami modernisme berawal dari Nietszche

dengan membuka kedok utama kehendak berkuasa yang berada di balik rasionalitas dan

nilai-nilai moral yang dianggap universal oleh pemikir barat. Pada periode selanjutnya

Freud menguak keberadaan alam bawah sadar yang mengenggelamkan subjek sadar yang

dianggap rasional. Puncak gugatan terhadapnya dilahirkan oleh Heidegger yang

menafikan universalisme pemikiran mengingat kedudukan manusia sebagai das sein (ada

disana) yaitu suatu entitas yang berlumuran sejarah dengan selubung tafsirnya

masing-masing. Sebuah pemikiran yang nantinya akan membuka jalan bagi para pemikir

postmodern.

Jauh sebelumnya, dalam sistem sosial, gugatan datang dari Marx terhadap sistem

ekonomi kapitalis yang diusung modernisme dengan pernyataan bahwa eksploitasi

terhadap para pekerja oleh para pemilik alat-alat produksi sebagai suatu perampokan.

Marx juga menganggap bahwa sistem kapitalisme, diakibatkan kontradiksi-kontradiks

yang ada didalamnya akan mengalami kehancuran dan memunculkan satu masyarakat

komunis dengan ciri hilangnya kepemilikan pribadi. Sebuah gugatan yang masih dapat

ditemui bentuknya dalam pemikiran Mahzab Frakfrut di Jerman dan juga menjadi

dogmatis ditangan Marxisme Leninisme di Soviet abad silam.

Abad ke-20 sendiri ditandai dengan dua arus utama gugatan terhadap

(3)

sebagai penerus kritik Marx, yang mempertanyakan keberadaan teori-teori positivis yang

mengaku bebas nilai namun mengabaikan kemungkinan emansipasi dan dianggap hanya

memperkokoh kekuasaan. Mereka mengusung teori-teori baru yang kerap disebut teori

kritis. Gugatan kedua terhadap modernisme datang dari arus posmodernisme, sebagai

pewaris Nietszche, yang memaklumatkan kematian narasi-narasi besar universal dan

membuka jalan bagi keberadaan narasi-narasi kecil dengan keunikan masing-masing.

Sebuah arus pemikiran yang juga banyak berhutang pada pemikiran strukturalisme

bahasa sebagaimana diusung Ferdinand de Saussure dengan perkembangan beragam

bentuk namun memiliki satu warna tersendiri. Para pemikir posmodern beranggapan

bahwa modernisme sudah selesai dan harus ditinggalkan, suatu gagasan yang tidak

disetujui oleh pemikir Mahzab Frakfurt terutama oleh Jurgen Habermas sebagai tokoh

yang disebut pewaris generasi kedua Mahzab Frakfrut. Habermas berpendapat bahwa

modernisme hanyalah satu proyek yang belum selesai sehingga harus dituntaskan

tujuannya.

Tulisan ini mencoba membahas tawaran gagasan Habermas tentang penyelesaian

proyek modernisme. Tulisan akan lebih difokuskan pada sistem etika yang diusung

karena hal ini adalah salah satu pokok bahasan yang menjadi perdebatan dengan kaum

posmodern. Latar belakang intelektual akan memulai tulisan ini dilanjutkan dengan

penjabaran sistem pemikiran etikanya. Tulisan akan diakhiri dengan keberatan-keberatan

dari kaum posmodern terhadap gagasan Habermas sebagai satu perbandingan kritis yang

menarik untuk dilihat.

(4)

Habermas lahir pada 18 Juni 1929, menempuh pendidikan di Universitas

Gottingen dalam bidang sastra, sejarah, ekonomi, psikologi, dan filsafat2. Dia lalu

melanjutkan pendidikan di bidang filsafat pada Universitas Bonn hingga mencapai gelar

doktor pada 1954, dengan disertasi yang bercerita tentang konflik antara yang absolute

dan sejarah dalam pemikiran Schelling3. Disertasi tersebut diberi judul Das Absolute und

die Geschichte (Yang Absolut dan Sejarah). Kemudian dia menekuni pemikiran George

Lukacs dalam History and Class Consciousness (Sejarah dan Kesadaran Kelas),

pemikiran Mahzab Frankfurt seperti karya Adorno dan Horkheimer dalam Dialectics of

Enlightenment (Dialektika Pencerahan), pemikiran Marx muda, dan Hegel muda.

Gurunya adalah Karl Lowith seorang guru besar di Jerman4.

Habermas selanjutnya bergabung dengan Mahzab Frakfurt pada 1956 dan

mendapatkan popularitasnya di kalangan mahasiswa karena kritik-kritiknya yang radikal.

Meskipun demikian, dia lalu meninggalkan Frakfurt pada 1970 karena konflik dengan

mahasiswa akibat ketidaksetujuannya dengan tindak kekerasan yang mereka lakukan.

Baginya tindak kekerasan bukanlah suatu solusi bagi permasalahan yang mendasar

sedangkan bagi mahasiswa dia dianggap tidak konsisten dengan keradikalan

pemikirannya5. Dia lalu bergabung dengan Max Planck Institute yang mempelajari

keadaan di dalam dunia ilmiah yang bersifat teknis hingga pada akhirnya Habermas

kembali lagi ke Frakfurt pada 19826.

Habermas adalah seorang penulis yang produktif dan karyanya banyak bertebaran

di dalam berbagai esai dan buku. Diantara banyak karyanya, terdapat karya-karya yang

2 Ibrahim Ali Fauzi. Jurgen Habermas. (Jakarta, Teraju, 2003) hlm 18-19

3 James Bohman dan William Rehg. "Jurgen Habermas" dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2007

(http://plato.stanford.edu/entries/habermas/)

4 Ibrahim Ali Fauzi. op. cit., hlm 19-20 5Ibid., hlm 30-31

(5)

menandai peralihan fase-fase pemikirannya sebagaimana diklasifikasikan dalam The

Cambridge Dictionary of Philosophy7. Fase pertama ditandai dengan karyanya The

Structural Transformation of The Public Sphere (1961) berisi analisis kesejarahan tentang

kemunculan ruang publik di Eropa pada abad ke-18 dan kemundurannya kemudian. Fase

berikutnya ditandai dengan dua karyanya yaitu The Logic of Social Sciences (1963) dan

Knowledge and Human Interests (1967) yang mengungkap kepentingan-kepentingan di

balik ilmu-ilmu sosial. Fase ketiga dalam perkembangan intelektualnya ditandai dengan

karyanya dua jilid The Theory of Communicative Action (1982) dimana dia mengajukan

satu bangunan teori kritis atas modernitas dengan berdasar pada teori komprehensif

tentang tindak komunikasi. Fase kemudian mewujud dalam Discourse Ethics: Notes on a

Program of Mutual Justification (1982) dengan aplikasi teori yang dia usung ke dalam

permasalahan yang lebih luas mencakup permasalahan etika, politik, dan hukum. Fase

kelima dalam intelektualitas Habermas diwujudkan dalam Between Facts and Norms

(1992) yang menyusun satu sistematisasi atas hukum dan demokrasi dengan landasan

teori normatifnya dan teori sosial yang dia ajukan.

Seting Sosial Kehidupan Habermas

Habermas mengalami masa kecil di masa kekuasaan Nazi masih bercokol. Dia

tumbuh dewasa pada masa kekalahan Nazi, dan bangsa Jerman pada umumnya, setelah

kegagalan penaklukan Hitler atas Eropa pada perang dunia II. Proses sejarah tersebut

diakhiri dengan bunuh dirinya Hitler dan peradilan Mahkamah Internasional di

Nuremberg atas para perwira yang terlibat di dalamnya atas kejahatan terhadap

perdamaian dan kemanusiaan8. Peradilan yang membawa satu kedalaman pemikiran 7 Robert Audi (ed.). The Cambridge Dictionary of Philosophy. (Cambridge, Cambridge University Press,

1995) hlm 359

8 Arno Kappler dan Adriane Grevel. Fakta Mengenai Jerman (terj.: Edith Koesoemawiria dan Dian Nangoi

(6)

Habermas tentang kegagalan moral dan politik bangsa Jerman di bawah rezim Nazi.

Suatu kesan yang muncul kembali ketika dia membaca karya Heidegger, filsuf besar

Jerman yang sekaligus pendukung Nazi, Introduction to Metahphysic (1959) yang

mengandung senjungan terselubung kepada Nazi. Ketika Habermas meminta konfirmasi

terbuka pada Heidegger ternyata yang bersangkutan tidak membalasnya dengan jawaban

apapun. Diamnya Heidegger tersebut menambah keyakinan Habermas akan kegagalan

sistem filsafat Jerman dalam menyediakan satu skema intelektual guna memahami

ataupun mengkritik Nazi9.

Iklim intelektual di Jerman sendiri pada masa Habermas ditandai dengan

perdebatan panjang antara dominasi ajaran positivisme, yang ingin menerapkan

metode-metode ilmu alam ke dalam ilmu sosial, dengan mereka yang menentangnya. Salah satu

puncak perdebatan yang diikuti Habermas sendiri terjadi pada 1961-1965 di Tubingen

antara Adorno dengan Karl Popper dan selanjutnya dilanjutkan oleh Habermas di pihak

Adorno dan Hans Albert sebagai pembela Popper10. Pada dasarnya kritik yang digagas

Mahzab Frakfurt adalah pada tujuan pengetahuan dalam positivisme yang semata-mata

menyelidiki apa yang ada (das sein) tanpa memperdulikan apa yang seharusnya ada (das

sollen). Suatu pengetahuan hanya digunakan untuk menyalin realitas tentu akan berpihak

pada pelestarian keadaan yang ada (status quo) tanpa perduli seberapa buruknya keadaan

tersebut. Celakanya, justru dari pengetahun tersebut dihasilkan satu peramalan,

sebagaimana semboyan positivisme yang diusung August Comte savoir pour prevoir

9 James Bohman dan William Rehg. op. cit., (http://plato.stanford.edu/entries/habermas/)

10 Fransisco Budi Hardiman. Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen

(7)

(mengetahui untuk meramalkan), guna kepentingan rekayasa sosial, dan berbagai

kebijakan sosial politik dalam penanganan masalah-masalah di masyarakat11.

Sementara itu di bidang ekonomi dalam masa Habermas, ramalan Marx akan

runtuhnya sistem Kapitalisme makin jauh dari kenyataan. Kapitalisme makin

memperkokoh dirinya dalam masyarakat barat dengan menarik kaum proletar, kaum yang

diduga Marx akan menjadi subjek revolusi, ke dalam sistemnya. Kapitalisme,

sebagaimana dikumandangkan kaum revisionis seperti Eduard Bernstein, telah mampu

menyesuaikan dirinya dengan perkembangan jaman guna menghindarkan

kehancurannya12. Ajaran Marx sendiri justru terbelah menjadi tiga arus utama13, di Uni

Sovyet ajarannya dijadikan dogma yang menjadi legitimasi rezim partai komunis Lenin

dan penerusnya, di Eropa diusung oleh sayap moderat dalam tubuh partai sosial demokrat

namun telah kehilangan sisi revolusionernya, dan terakhir adalah ajaran Marx yang

diusung oleh Mahzab Frakfrut, dimana Habermas tergabung didalamnya, yang lebih

menonjol sisi akademis dan kritisnya.

Pengaruh Intelektual

Pemikiran Habermas adalah kombinasi yang unik dari berbagai tradisi pemikiran

barat. Sebagai salah satu pewaris Mahzab Frakfurt maka tak heran jika ajaran Marx

menjadi tulang punggung pemikirannya. Namun Habermas juga melampauinya dengan

mengadopsi berbagai pemikiran kontemporer yang dipelajarinya. Dia mengadopsi

pemikiran Kant, Max Weber, dan juga psikoanalisis Freud. Perhatiannya juga tak luput

dari perkembangan filsafat bahasa sebagaimana diusung Ludwig Wittgenstein sebagai

11 Fransisco Budi Hardiman. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode

Ilmiah dan Problem Modernitas. (Yogyakarta, Kanisius, 2003) hlm 21-24

12 Fransisco Budi Hardiman. Kritik Ideologi, hlm 27-28

13 Martin Jay. Sejarah Mahzab Frankfurt: Imajinasi Dialektis dalam Perkembangan Teori Kritis (terj.:

(8)

wakil Lingkaran Wina. Filsafatnya tentang modernitas mencoba menembus jalan buntu

teori kritis yang sudah dirintis Mahzab Frankfurt. Berikut akan coba diuraikan beberapa

tokoh yang mempengaruhi pemikiran Habermas dan gagasan-gagasan kunci mereka yang

turut memberi warna dalam ide-ide yang nantinya diusung olehnya.

Immanuel Kant

Pemikiran etika Kant14 adalah salah satu pilar utama pemikiran etika Habermas.

Karenanya Habermas kerap mendapatkan label sebagai penganut Neo-Kantian dalam

klasifikasi pemikiran etikanya. Etika Kant sendiri dibangun atas dasar kemutlakan

kehendak baik sebagai satu hal yang baik pada dirinya sendiri (an sich). Nilai moral

berpusat pada kesadaran subjek atau satu niatan akan perbuatan baik yang disebutnya

“maksim”. Maksim sendiri dibagi atas maksim empiris dan maksim a priori. Maksim

empiris mempertimbangkan akibat dari satu tindakan sedangkan maksim a priori tidak

sehingga maksim jenis kedualah yang dapat diuniversalkan. Maksim a priori inilah yang

dicari oleh Kant sebagai dasar satu tindakan etis.

Karl Marx

Gagasan utama Marx yang memberi pengaruh kuat bagi Habermas kelak adalah

konsepnya tentang keterasingan dalam kerja dan perjuangan kelas. Gagasan pertama

diambilnya dari filsafat Hegel tentang pekerjaan dan Feuerbach tentang agama sebagai

bentuk keterasingan. Gagasan kedua adalah hasil pemikirannya tentang keberadaan

sistem ekonomi yang menjadi basis dari sistem lainnya seperti agama, ideologi, dan

sistem sosial. Alur sejarah pada dasarnya hanyalah satu sejarah perjuangan kelas. Kedua

gagasan inilah yang nantinya akan dikembangkan lebih lanjut oleh Habermas.

14 Uraian ini didasarkan pada Fransisco Budi Hardiman. Filsafat Modern. (Jakarta, Gramedia Pustaka

(9)

Gagasan tentang pekerjaan dapat dijelaskan sebagai berikut15. Menurut Hegel,

manusia tidak dapat menenali dirinya sendiri dari definisi positif seperti aku adalah

sesuatu tapi dia hanya dapat memahami dirinya dengan definisi negatif terhadap

objek-objek disekitarnya seperti aku bukanlah kursi, aku bukanlah meja, dan sebagainya.

Negasi ini adalah dasar dari pembentukan subjektivitas manusia. Namun, dengan

objek-objek yang ada disekitarnya pulalah manusia dapat mewujudkan subjektivitasnya ke

dalam wujud yang nyata. Ketika seorang penulis membuat satu puisi diatas kertas yang

tadinya kosong maka dia mendapatkan keakuan dirinya dalam bentuk puisi yang

ditulisnya. Ketika melihat puisi yang ditulisnya dia melihat perwujudan dirinya sendiri di

alam nyata. Penitisan ke dalam wujud abstrak inilah yang dimaksud dengan pekerjaan.

Pekerjaan adalah suatu kebahagiaan bagi manusia karena dengannya dia dapat

mewujudkan eksistensi dirinya di alam. Pekerjaan adalah satu hakikat eksistensi diri

manusia.

Marx mengambil pendapat Feuerbach tentang agama sebagai bentuk keterasingan

manusia namun melanjutkannya dengan mempertanyakan apakah yang menyebabkan

manusia terpaksa harus mengasingkan dirinya sendiri dalam agama. Marx menjawab

bahwa apa yang terjadi adalah adanya keterasingan dalam pekerjaan. Dalam sistem

ekonomi yang ada, manusia justru diasingkan dari pekerjaan yang seharusnya

mewujudkan eksistensi dirinya di alam. Apa yang terjadi dengan seorang buruh yang

harus terus menerus melinting rokok tanpa pernah mengerti seperti apakah bentuk utuh

rokok yang dia buat dan tanpa pernah bisa memiliki apa yang telah menjadi hasil

kerjanya adalah satu pengasingan terhadap pekerjaannya, terhadap eksistensi dirinya.

15 Uraian ini didasarkan pada Franz Magnis Suseno. Pemikiran Karl Marx. (Jakarta, Gramedia Pustaka

(10)

Jadi, dengan sistem ekonomi yang ada ternyata menghasilkan manusia yang terasing dari

dirinya sendiri16.

Gagasan kedua Marx adalah tentang kelas. Marx memahami sejarah manusia

dalam kerangka dialektika Hegel namun bersifat materialis. Pada dasarnya sejarah

manusia ditentukan oleh cara dia memproduksi barang dan kepemilikan terhadap alat-alat

produksi17. Pada mulanya dalam masyarakat kuno tidak ada hak kepemilikan pribadi,

kemudian dilanjutkan dengan masa feodal abad pertengahan, diikuti dengan sistem

kapitalisme yang ada pada masa Marx yang diramalkan akan jatuh dan digantikan dengan

sistem masyarakat sosialis tanpa hak milik. Kejatuhan sistem kapitalisme sendiri

diakibatkan oleh eksploitasi yang makin memuncak dari kaum borjuis, para pemilik

alat-alat produksi, terhadap kaum proletar yang menurut Marx adalah subjek utama pelaku

revolusi. Kaum borjuis sendiri makin lama akan makin sedikit jumlahnya, mengingat

sistem kapitalis menuntut efisiensi tinggi dalam persaingannya sehingga memaksa

mereka melakukan merger demi merger sehingga mewujudkan penumpukan modal pada

sedikit orang dan memunculkan banyak kaum proletar baru dari kaum borjuis yang gagal

dalam bersaing sehingga terpaksa menjual alat-alat produksi yang semula dikuasainya.

Max Weber

16 Franz Magnis Suseno. op. cit., hlm 87-109

17 Antony Giddens dan David Held. Perdebatan Klasik dan Kontemporer Mengenai Kelompok, Kekuasaan,

(11)

Gagasan utama Weber18 adalah tentang rasionalisasi di dalam masyarakat.

Faktor-faktor apa saja yang mendorong munculnya rasionalisasi di dalam satu masyarakat

sementara dalam masyarakat lain faktor apa yang menghambat munculnya rasionalisasi

tersebut. Hasil penelitiannya terhadap beberapa agama menghasilkan satu hipotesis

bahwa agama Calvinis adalah satu ajaran yang rasional sehingga mampu mendorong

terwujudnya satu sistem ekonomi yang rasional yaitu kapitalisme. Sedangkan

agama-agama lain seperti Hindu dan Taoisme justru menghambat munculnya kapitalisme

meskipun Weber menjelaskan bahwa hambatan tersebut hanya sementara karena pada

dasarnya semua sistem sosial termasuk ekonomi pada akhirnya akan cenderung menjadi

lebih rasional19.

Rasionalisasi yang dimaksud adalah apa yang disebut dengan rasionalitas formal

yaitu suatu proses berpikir subjek dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan yang

ingin dihasilkannya. Pilihan tersebut juga didasarkan pada kebiasaan, peraturan, dan

hukum yang universal dan berasal dari satu sistem besar seperti birokrasi dan ekonomi.

Weber mengambil contoh birokrasi, dalam arti luas, adalah satu sistem yang rasional.

Contoh lain dikemukakan Ritzer pada masa sekarang adalah bagaimana restoran siap saji

(fast food) melayani pembelinya dengan cara yang paling efisien yang berarti sesuai

dengan rasionalisasi20.

Sigmund Freud

18 Berdasarkan uraian George Ritzer dan Douglas J Goodman. Teori Sosiologi Modern (terj.: Alimandan).

(Jakarta, Kencana, 2004) hlm 37-40

19 Ibid., hlm 39 Gagasan ini sekaligus satu bantahan terhadap tesis Marx bahwa sistem ekonomi akan

menghasilkan sistem kepercayaan religius namun justru Weber menunjukkan sistem keyakinan itulah yang menghasilkan satu sistem ekonomi.

(12)

Jasa terbesar Freud adalah gagasannya tentang keberadaan alam tak sadar dalam

manusia. Apa yang menjadi ide dasar rasionalitas manusia ternyata kerap tenggelam

dalam gejolak dalamnya alam tak sadar yang dipunyainya. Pada awalnya Freud hanya

mengenali keberadaan alam sadar, alam prasadar, dan alam tak sadar. Kemudian konsep

tersebut mendapat bentuk dalam istilah id, ego, dan superego. Id adalah kawasan dimana

bercokol naluri-naluri dasar manusia seperti naluri seksual dan agresif. Ego adalah lokasi

dimana kepribadian seseorang dipertahankan sejalan dengan prinsip realitas. Superego

adalah daerah yang dibentuk melalui internalisasi larangan-larangan dan

perintah-perintah yang berasal dari luar individu yang mengalami perubahan sehingga melekat di

dalam kepribadian seseorang21. Lingkaran Wina

Lingkaran Wina22 adalah satu kelompok yang didirikan berbagai cendekiawan di

kota Wina, Austria. Mereka diantaranya adalah Rudolph Carnap dan M Schilck. Ajaran

mereka termaktub dalam sebuah manifesto yang dikeluarkan oleh Carnap, H Hanh, dan

Otto Neurath berjudul Wissenscahfte Weltauffassung der Wiene Kreis (Pandangan Dunia

Ilmiah Kelompok Wina). Di dalamnya tercantum pokok-pokok pemikiran yang kelak

lebih dikenal dalam aliran positivisme logis. Pandangan ini bersifat anti terhadap

metafisika ad merupakan penerus empirisme yang diusung Hobbes dan David Hume

yang dalam proses sejarahnya diradikalkan menjadi positivisme oleh Comte.

Beberapa pemikir yang tidak tergabung secara resmi namun menjadi juru bicara

utama pemikiran Lingkaran Wina adalah Ludwig Wittgenstein dan Karl Popper.

21 Kees Bertens (ed.). Psikoanalisis Sigmud Freud (terj.: Kees Bertens). (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama,

2006) hlm 32-33

(13)

Wittgenstein mengusulkan konsep verifikasi terhadap kebenaran yang pada intinya

mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dicek kebenarannya oleh pengalaman

empiris adalah tidak mempunyai nilai kebenaran. Konsep ini kemudian hari ditolak dan

direvisi dengan gagasan falsifikasi, yang menyatakan bahwa tidak harus diverifikasi

secara empiris namun dapat dicek melalui kebenaran penalaran, oleh Karl Popper.

Habermas bersama gurunya Adorno terlibat dalam satu perdebatan dengan Karl Popper

dan muridnya Hans Albert tentang metodologi yang pas bagi ilmu-ilmu sosial.

Mahzab Frankfurt

Mahzab Frankfurt23 didirikan pada tahun 1923 sebagai kelanjutan tradisi kritis

yang pudar dengan berdirinya negara Uni Sovyet yang menjadikan tradisi kritis Marx

menjadi satu dogma Marxisme-Leninisme. Mahzab ini terkenal dengan teori kritis yang

dimaksudkan sebagai satu kritik ideologi dan kritik terhadap positivisme. Kritik ideologi,

sejalan dengan pemikiran Marx, menggugat ideologi yang sudah dibakukan oleh

kekuasaan sebagai pendukungnya. Ideologi seharusnya mempunyai sifat dialektis

sehingga tetap mendorong unsur kritis di dalamnya. Kritik terhadap positivisme

mempunyai nada yang sama karena klaim bebas nilai dan bebas kepentingan yang

diusungnya akan menjadikan ilmu sebagai pelestari status quo semata.

Selain itu, kritik juga dilontarkan oleh Mahzab Frakfurt terhadap masyarakat

modern. Kritik terutama diarahkan terhadap rasio instrumental yang telah mendominasi

masyarakat modern. Rasio instrumental adalah suatu pemikiran yang memandang segala

sesuatu hal yang lain dalam kerangka manipulasi bagi kepentingan seseorang. Rasio ini

telah digunakan dengan baik oleh Nazi dalam pemusnahan etnis Yahudi melalui cara

yang efektif dan efisien yaitu dengan pembangunan kamp-kamp konsentrasi. Rasio

(14)

serupa digunakan oleh kaum borjuis, terutama di Amerika, guna mengebiri potensi

revolusi kaum proletar sebagaimana ramalan Marx. Kaum proletar telah terintegrasi ke

dalam kapitalisme itu sendiri melalui budaya konsumerisme. Mereka tidak bisa lepas dan

menyadari keberadaan kelasnya sehingga amat jauh dari revolusi yang menurut Marx

akan menjatuhkan kapitalisme. Sayangnya, dominasi tersebut telah sedemikian kuatnya

sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk membongkarnya. Mahzab Frakfurt

hanya dapat menemukan jalan buntu teori kritisnya yang berujung pada pesimisme.

Disinilah Habermas, sebagai generasi kedua Mahzab Frankfurt, akan tampil dengan

terobosan pemikirannya.

Fase Awal Pemikiran Filsafat Habermas

Pemikiran Habermas bertolak dari karyanya The Structural Transformation of the

Public Sphere (1961), yang mengisahkan sejarah perkembangan ruang publik borjuis

pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 serta kemundurannya kemudian24. Habermas

mencatat dua fase perubahan didalamnya yaitu dari masyarakat monarkis feodal

(monarchical feudal status society) menjadi masyarakat liberal (liberal bourgeois public

sphere) dan selanjutnya menjadi masyarakat modern dalam negara kesejahteraan

(modern mass social welfare state). Dalam keadaan masyarakat monarkis feodal tidak

didapati pembedaan antara negara dan masyarakat sipil, publik dan privat, dan dimana

politik diorganisasikan melalui representasi simbol dan status. Pergantian kemudian

menghasilkan satu konstitusi beorjuis liberal yang membedakan antara ruang privat dan

publik dimana didalamnya dimungkinkan satu perdebatan rasional dan kritis untuk

membentuk satu opini publik. Pergeseran kemudian di dalam negara kesejahteraan justru

menghasilkan kembali pengaburan batas antara ruang publik dan privat. Hal ini salah

(15)

satunya adalah akibat buruk dari komersialisasi ruang publik dengan adanya media

massa, hubungan masyarakat (public relation), dan budaya konsumen25.

Fase awal intelektual Habermas juga ditandai dengan kritik derasnya terhadap

positivisasi ilmu-ilmu sosial. Dia terlibat langsung berhadapan dengan Hans Albert dalam

perdebatan tentang metode yang diawali oleh Adorno melawan Karl Popper sebagaimana

telah dijelaskan sebelumnya. Pada pokoknya, kritik Habermas, sejalan dengan Mahzab

Frankfurt, adalah tentang klaim bebas nilai dan bebas kepentingan yang digagas oleh

kaum positivis.

Etika Emansipatoris Jurgen Habermas

Dalam dua karyanya The Logic of Social Sciences (1963) dan Knowledge and

Human Interests (1967), Habermas, dengan menerapkan teknik psikoanalisis terhadap

pengetahuan di masyarakat, berhasil mengungkapkan tiga kepentingan utama dibalik

pengetahuan yang ada. Kepentingan-kepentingan itu26 adalah pengetahuan yang didorong

oleh kepentingan bersifat teknis, praktis, dan emansipatoris. Ketiganya dapat dipahami

berhubungan dengan tiga anasir eksistensi manusia secara sosial yaitu kerja, komunikasi,

dan kekuasaan. Kepentingan pertama terkait dengan kebutuhan untuk kelestarian diri

manusia akan menghasilkan satu pengetahuan yang bersifat teknis dengan rasio

instrumental guna pengendalian alam bagi kepentingan manusia. Pengetahuan kedua

terkait dengan kebutuhan sosial manusia untuk saling memahami dalam lingkungan

masyarakatnya dan menghasilkan satu pengetahuan yang bersifat sosial-hermeneutis.

Pengetahuan ketiga terkait dengan kepentingan pengembangan tanggung jawab sebagai

manusia dan menghasilkan pengetahuan yang kritis dan emansipatoris demi tercapainya

(16)

kedaulatan manusia itu sendiri. Pengetahuan jenis ketiga ini dapat mentransendensikan

kedua pengetahuan sebelumnya27.

Gagasan Habermas tentang pembedaan kepentingan selaras dengan pembedaan

rasionalitas yang telah digagas sebelumnya oleh Kant. Kant dalam pemikiran filsafatnya

membedakan rasio ke dalam tiga fakultas utama. Pertama adalah rasio murni yang terkait

rasio pengkalkulasi berhubungan dengan permasalahan ilmu pengetahuan dimana

patokan validasinya adalah kebenaran (truth). Rasio kedua adalah rasio praktis yang

terkait dengan masalah normatifitas yang akan berhubungan dengan moralitas dan politik

dengan patokan validitasnya adalah kebenaran normative (normative rightness). Rasio

ketiga adalah rasio estetis terkait dengan keindahan atau seni yang akan berhubungan

dengan masalah estetika dimana patokan validitasnya hanyalah kejujuran (truthfulness)28.

Keberhasilan ilmu-ilmu alam dalam menaklukan alam dan memenuhi kebutuhan

manusia membawa popularitas baginya sehingga memunculkan gagasan akan

penggunaan metodenya bagi seluruh ilmu pengetahuan. Dengan demikian, jenis

pengetahuan lain tenggelam dalam metode ilmu-ilmu alam. Celakanya, orang lupa bahwa

kepentingan utama yang melandasi ilmu alam tersebut adalah kepentingan manipulasi

bagi kepentingan manusia. Apabila hal tersebut digunakan guna menyelidiki manusia lain

maka yang terjadi adalah ilmu-ilmu tersebut rentan untuk diselewengkan guna

kepentingan tertentu seperti kepentingan pemilik modal misalnya. Akan terjadi satu

manipulasi oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. Selain itu, adanya jarak yang

diambil oleh peneliti dengan subjek hanya akan menghasilkan satu pengetahuan yang

27 David Jay dan Julia Jay. The Harper Collins Dictionary of Sociology. (New York, Harper Perennial,

1991) hlm 203-204

28 John Rundell. "Jurgen Habermas" dalam Peter Beilharz (ed.). Teori-teori Sosial: Observasi Kritis

(17)

afirmatif atau mengamini kekuasaan yang ada (status quo)29. Perkembangan kapitalisme

yang dahsyat dengan segala penghisapannya yang terjadi diduga banyak memanfaatkan

ilmu-ilmu dengan karakter seperti ini.

Dominasi rasio instrumental dalam peradaban modern inilah yang mengakibatkan

banyak problematika. Suatu patologi dalam modernitas menurut istilah Habermas. Cara

mengatasi masalah tersebut adalah dengan memunculkan kembali rasio komunikatif

dalam percaturan ilmu-ilmu sosial. Penyelidikan Habermas kemudian beralih kepada

tindak komunikasi yang akan menghasilkan teori tindak komunikatif, salah satu gagasan

orisinil utamanya. Disini Habermas banyak berhutang pada teori tindak komunikatif dari

para filsuf analitik bahasa seperti Wittgenstein dan J L Austin30.

Konsep language games Wittgenstein adalah satu penjelasan dalam teori tindak

komunikasi yang diusung Habermas. Tindak komunikasi, sebagai satu unsur utama

kebudayaan, adalah satu sistem penyampaian makna melalui tindakan dan praktek

komunikasi. Apa yang gagal tersampaikan dalam praktek komunikasi dilengkapi dengan

tindakan, sedangkan apa yang menjadi maksud tindakan disampaikan melalui praktek

komunikasi. Dengan demikian, terwujudlah satu jalinan interpretasi hingga maknanya

dapat tersampaikan. Dalam tindak komunikasi di masyarakat terjadilah interaksi tersebut

antar individu di masyarakat sehingga mencapai satu objektivitas yang berasal dari

intersubjektivitas. Nilai-nilai yang mendasari tindak komunikasi masing-masing subjek

akan saling berdialog sehingga mewujud menjadi satu sistem nilai yang disepakati

bersama. Apa yang disebut oleh Habermas sebagai struktur-struktur normatif seperti

dalam contoh pranata sosial31.

(18)

Perwujudan satu struktur normatif bersama adalah satu gagasan yang selaras

dengan ide universalisasi dari sistem etika Kant. Menurut Kant32, suatu kewajiban moral

baru dapat bernilai etik setelah memenuhi proses penguniversalan dalam artian bahwa hal

tersebut dapat diberlakukan sebagai undang-undang secara umum, begitu juga

sebaliknya. Contoh sederhana perbuatan mencubit adalah perbuatan yang tidak baik

karena kita sendiri tidak ingin dicubit dan akan menyakitkan kalau semua orang boleh

mencubit seenaknya saja. Penguniversalan satu patokan etik tersebut diberi tambahan

oleh Habermas dalam bentuk dialog intersubjektivitas dalam keadaan yang ideal. Jadi,

suatu norma hanya dapat diterima apabila hal tersebut selaras dengan konsensus

argumentasi mereka yang nantinya akan mengalami akibatnya33. Oleh karena itu, akan

dihasilkan satu sistem etika yang bersifat emansipatoris karena melibatkan mereka yang

terkena akibatnya.

Konsensus dalam satu tindak percakapan hanya akan tercapai dalam satu situasi

percakapan ideal (ideal speech situation). Prasyarat yang harus dipenuhinya adalah tidak

adanya satu pihak yang lebih dominan dibandingkan pihak lainnya, tidak ada

pembatasan-pembatasan yang menghambat, dan tidak adanya distorsi ideologis di

dalamnya34. Suatu situasi yang menunjukkan kebebasan masing-masing subjek dalam

argumentasi yang terbuka dan saling menghargai. Orientasi yang ada haruslah mengacu

pada pemahaman, bukan keberhasilan35.

Kegagalan mencapai konsensus menunjukkan satu distorsi dalam komunikasi.

Satu distorsi yang kerap diakibatkan oleh tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh

32 Donny Gahral Adian. op. cit., hlm 123-124 33 Robert Audi (ed.). op. cit., hlm 359

34 David Jay dan Julia Jay. op. cit., hlm 203-204

35 Jurgen Habermas. Teori Tindakan Komunikatif I: Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat (terj.: Nurhadi).

(19)

suatu otoritas yang mengekang. Bagi Habermas suatu tindak komunikasi haruslah

bersifat partisipatif dan emansipatif sehingga tercapai tujuannya yaitu solidaritas dan

keadilan36. Partisipatif dalam artian menuntut peran serta aktif semua subjek didalamnya.

Emansipatif dalam artian menghilangkan unsur-unsur represif dalam tindak komunikasi37.

Pada masa sekarang, Habermas memberikan contoh satu norma yang telah

mencapai konsensus global adalah permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM)38. Habermas

menganggap HAM sudah menjadi satu bahasa internasional yang tidak hanya

mencerminkan satu budaya tertentu namun dapat diterima diberbagai belahan dunia.

HAM tidak lagi mencerminkan satu hal yang khas bagi masyarakat Eropa, namun telah

digunakan sebagai bahasa perlawanan bagi gerakan-gerakan masyarakat dalam

menghadapi bahasa kekerasan yang diusung otoritas yang sewenang-wenang. Sebuah

konsensus normatif yang dapat melandasi dunia ditengah-tengah perdagangan bebas yang

makin global.

Teori tindak komunikasi Habermas menegaskan bahwa modernitas tidak perlu

ditinggalkan begitu saja. Modernitas adalah satu "proyek yang belum selesai" dan sedang

mengalami gangguan semata. Pemunculkan kembali rasio yang tidak semata-mata

instrumentatif maka rasionalitas akan mampu menyehatkan kembali modernitas.

Habermas beranggapan bahwa unsur-unsur emansipatif dalam modernitas yang dapat

diangkat ke permukaan guna menghindari penyakit-penyakit yang dideritanya seperti

pada contoh keterasingan dari pekerjaan yang digagas oleh Marx.

36 Ibrahim Ali Fauzi. op. cit., hlm 124

37 Ali Mudhofir. Kamus Filsafat Barat. (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001) hlm 207-210

38 Jurgen Habermas. Religion and Rationality: Essays on Reason, God, and Modernity.. (Cambridge, MIT

(20)

Teori Habermas tersebut sejalan dengan Marx39 tentang sikap kritisnya. Berbeda

dengan Marx yang menganggap penting peran kaum proletar dalam revolusi menggugat

sistem yang mengasingkan manusia, Habermas lebih menaruh perhatian pada para

ilmuwan sebagai pelaku revolusi mengingat pengetahuan mereka dalam permasalahan

empiris dan kecakapan mereka dalam tindak komunikasi40. Berbeda pula dengan Marx

yang menganggap kerja sebagai eksistensi utama manusia, Habermas lebih

mementingkan tindak komunikasi yang emansipatoris terutama dalam mencapai

objektivitas norma etika dari proses intersubjektivitas.

Habermas dan Kaum Posmodern

Keteguhan Habermas dalam memegang janji modernitas menjadi satu kekhasan

sistem filsafatnya apabila dibandingkan sekelompok filsuf yang kerap diberi julukan

kaum posmodern. Berbeda dengan Habermas, dengan mewarisi semangat Nietzche dan

Heidegger, mereka beranggapan bahwa modernitas sudah tidak layak dihidupi dan harus

dikubur dalam-dalam sejarahnya. Kini telah masuk kepada masa dimana modernitas

dengan narasi-narasi besarnya telah mati digantikan dengan cerita-cerita kecil yang

mengandung unsur lokalitas dan temporalitas. Kritik Habermas terhadap mereka,

terutama terhadap Lyotard dan Foucault akan coba diuraikan dalam pembahasan berikut.

Lyotard adalah filsuf yang menggagas kematian narasi besar dengan segala klaim

universalitasnya dalam abad modern untuk kemudian digantikan dengan narasi-narasi

kecil dalam era posmodern. Ketimbang mencari konsensus sebagaimana digagas

Habermas, Lyotard lebih mengusulkan untuk menerima disensus, merayakan perbedaan

dan keragaman. Kritik utama yang diusung Habermas terhadapnya adalah ketiadaan satu

39 Jurgen Habermas. Teori Tindakan Komunikatif II: Kritik atas Rasio Fungsionalitas (terj.: Nurhadi).

(Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2007) hlm 504-545

(21)

standar penilaian, suatu standar untuk menilai tentang benar salah ataupun baik buruk

sesuatu hal, yang akan menggiring kepada irasionalitas, suatu yang dituduhkan Habermas

kepada Lyotard. Sebaliknya Lyotard menuduhkan kepada gagasan yang diusung

Habermas sebagai narasi besar41.

Foucault terkenal dengan keberhasilannya melihat relasi antara diskursus,

pengetahuan, dan kuasa. Dia menengarai keberadaan kuasa dalam setiap relasi terkait

wacana dan pengetahuan. Habermas menyesalkan reduksi Foucault terhadap segala

formasi wacana, tindakan, dan pengetahuan hanya sekedar sebagai satu fungsi dari

kekuasaan. Tuduhan Habermas terhadap Foucault adalah atas presentisme, relativisme,

dan kriptonormativisme. Presentisme adalah suatu reduksi segala wacana dalam sejarah

ke dalam struktur khusus kekuasaan yang mendasarinya. Relativisme adalah konsekuensi

dari reduksi segala sesuatu ke dalam kekuasaan, sedangkan kekuasaan relatif, maka klaim

kebenaran itu turut menjadi relatif pula. Kriptonormativisme gagasan Foucault berarti

ketiadaan dasar atas sikap kritis yang diajukannya42. Sementara itu Foucault menganggap

situasi ideal (ideal speech situation) yang diusung Habermas sebagai prasyarat tindak

komunikatif adalah utopis dan tidak berpijak atas realitas. Keyakinan Habermas akan

keberadaan situasi semacam itu dipandang naïf bagi Foucault. Pencarian terhadap situasi

tersebut adalah suatu hal yang membuang waktu saja karena tidak akan ditemukan43. Kritik Lain terhadap Pemikiran Habermas

Selain kritik deras dari kaum Posmodern, terdapat beberapa hal yang dapat kita

pertanyakan dalam sistem pemikiran Habermas. Kritik pertama berkaitan dengan asumsi

41 Yasraf Amir Piliang. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan.. (Bandung,

Jalasutra, 2004) hlm 225-226

42Ibid hlm 223-225

43 Bryan S Turner. Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas (terj.: Imam Baehaqy dan Ahmad

(22)

penggunaan rasio instrumental terhadap alam adalah didasarkan asumsi fisika Newtonian.

Habermas tidak menengok kepada perkembangan fisika modern yang diusung Einstein

dengan teori relativitasnya dan munculnya teori kuantum yang memperbarui cara

pandang kita kepada alam fisik. Suatu pandangan yang akan merubah cara pandang kita

terhadap keseluruhan realitas sehingga, sebagaimana diungkapkan Capra, menjadi titik

balik peradaban44. Suatu pandangan yang menurutnya akan menemukan kesejajaran

dengan cara pandang manusia di belahan bumi lain yang tertuang dalam ajaran

mistisisme timur45.

Kritik kedua masih terkait dengan permasalahan tersebut, penggunaan rasio

instrumental terhadap alam adalah satu hal yang dibenarkan oleh Habermas. Padahal

penggunaan rasio instrumental dalam artian eksploitasi semata-mata alam guna

kepentingan manusia telah terbukti pada masa sekarang menimbulkan banyak kerusakan

alam yang pada gilirannya akan berakibat buruk juga bagi manusia. Diperlukan satu

relasi, dengan mengambil istilah Habermas, yang bertujuan saling memahami antara

manusia dengan alam. Dengan demikian pada akhirnya tercapai satu keselarasan yang

saling menguntungkan antara manusia dengan alam.

Penutup

Habermas adalah salah satu pemikir terbesar yang masih hidup pada abad

sekarang. Gagasannya tentang tindak komunikasi dan etika emansipatoris pada dasarnya

adalah kelanjutan semangat humanisme dari Marx guna membebaskan manusia dari

keterasingan dan secara lebih luas membebaskan modernitas dari patologi yang

44 Untuk gagasan Capra tentang titik balik peradaban dapat dilihat pada Fritjof Capra. The Turning Point;

Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan (terj.: M Thoyibi). (Yogyakarta, Jejak, 2007)

45 Pembahasan tentang kesejajaran antara fisika modern dengan mistisisme timur dapat dirujuk pada Fritjof

(23)

dideritanya. Habermas lebih memilih menyelesaikan modernitas ketimbang

meninggalkannya sebagaimana yang dilakukan seteru intelektualnya, kaum posmodern.

Habermas percaya manusia masih memerlukan satu landasan normatif etik yang dapat

digapai dengan satu tindak komunikatif yang partisipatif dan emansipatif dalam satu

situasi ideal. Suatu kepercayaan yang banyak dikritik dari lawan-lawannya dan dianggap

sebagai satu utopia belaka. Arti penting gagasan Habermas adalah dukungannya terhadap

demokrasi di dalam peradaban global, suatu demokrasi dalam arti sesungguhnya dimana

masing-masing subjek didalamnya bebas dalam melakukan tindak komunikasi dengan

rasionalitasnya. Bebas dari distorsi dari otoritas berkuasa dan bebas dari rasa takut dalam

mengeluarkan pendapat sendiri. Suatu cita-cita yang tidak terlalu buruk untuk

diperjuangkan ditengah era dimana kapitalisme dan birokrasi negara telah mencekam

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral. Percik Pemikiran Kontemporer. (Bandung, Jalasutra, 2006)

Anonim. "Jurgen Habermas" dalam Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/J %C3%BCrgen_Habermas). 2007

Anonim. "Karl Marx" dalam Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_marx). 2007 Anonim. "The Transformation of The Public Sphere" dalam Wikipedia

(http://en.wikipedia.org/wiki/The_Structural_Transformation_of_the_Public_Sph ere). 2007.

Audi, Robert (ed.). The Cambridge Dictionary of Philosophy. (Cambridge, Cambridge University Press, 1995).

Bertens, Kees (ed.). Psikoanalisis Sigmud Freud (terj.: Kees Bertens). (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2006).

Boeree, C George. Personalitiy Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia (terj.: Inyiak Ridwan Muzir). (Yogyakarta, Prismasophie, 2007)

Bohman, James dan William Rehg. "Jurgen Habermas" dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy. (http://plato.stanford.edu/entries/habermas/).2007

Capra, Fritjof. The Tao of Physic: Menyingkap Kesejajaran Fisika Modern dan Mistisisme Timur (terj.: Aufiya Ilhamal Hafizh). (Bandung, Jalasutra, 2005) Capra, Fritjof. The Turning Point; Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat, dan

Kebangkitan Kebudayaan (terj.: M Thoyibi). (Yogyakarta, Jejak, 2007) Fauzi, Ibrahim Ali. Jurgen Habermas. (Jakarta, Teraju, 2003)

Giddens, Antony dan David Held. Perdebatan Klasik dan Kontemporer Mengenai Kelompok, Kekuasaan, dan Konflik (terj.: Vedi R Hadiz). (Jakarta, Rajawali Pers, 1987)

Habermas, Jurgen. Religion and Rationality: Essays on Reason, God, and Modernity. (Cambridge, MIT Press, 2002)

Habermas, Jurgen. Teori Tindakan Komunikatif I: Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat (terj.: Nurhadi). (Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2006)

(25)

Hardiman, Fransisco Budi. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. (Yogyakarta, Kanisius, 2003) Hardiman, Fransisco Budi. Filsafat Modern. (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004) Hardiman, Fransisco Budi. Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan

Bersama Jurgen Habermas. (Yogyakarta, Buku Baik, 2004)

Jay, David dan Julia Jay. The Harper Collins Dictionary of Sociology. (New York, Harper Perennial, 1991)

Jay, Martin. Sejarah Mahzab Frankfurt: Imajinasi Dialektis dalam Perkembangan Teori Kritis (terj.: Nurhadi). (Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2005)

Kappler, Arno dan Adriane Grevel. Fakta Mengenai Jerman (terj.: Edith Koesoemawiria dan Dian Nangoi Panjaitan). (Jakarta, Katalis, 1995)

Mudhofir, Ali. Kamus Filsafat Barat. (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001)

Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. (Bandung, Jalasutra, 2004)

Ritzer, George dan Douglas J Goodman. Teori Sosiologi Modern (terj.: Alimandan). (Jakarta, Kencana, 2004)

Rundell, John. "Jurgen Habermas" dalam Peter Beilharz (ed.). Teori-teori Sosial: Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka (terj.: Sigit Jatmiko). (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002)

Suseno, Franz Magnis. Pemikiran Karl Marx. (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1999) Turner, Bryan S. Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas (terj.: Imam Baehaqy

dan Ahmad Badlowi). (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2000)

(26)

Referensi

Dokumen terkait

“ Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “ Strategi Preventif Perilaku Seksual oleh Orangtua pada Anak Tunagrahita Ringan Usia Dini ”. ini beserta seluruh

Edward Thorndike berpendapat bahwa transfer belajar dari satu bidang ke bidang studi lain atau dari bidang studi ke kehidupan sehari hari, terjadi berdasarkan adanya unsur

Skripsi: Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta. This study discussed the development of Jamu Jago Factory that was

[r]

Ide Ornamen Ragam Hias Rumah Gadang Tradisi Minangkabau”. Pengantar Karya Tugas Akhir: Jurusan Kriya Seni/Tekstil Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas

Tujuan : Untuk mengetahui Efektivitas pemberian rebusan daun seledri dan jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas

Hasil ini membuktikan bahwa semakin tinggi komisaris independen yang ada di perusahaan maka akan menurunkan nilai CETR, sehingga hal ini menunjukkan bahwa

Puncak realitas konflik berkepanjangan yang terjadi antara kelompok mahasiswa Ambon dengan kelompok mahasiswa Sumba di Malang terjadi padatahun 2016, yang berdampak