Meningkatkan Kecerdasan Sosial Melalui Kegiatan Mendongeng
Pada Anak Usia Dini
Novita Al Muthmainnah
Universitas Muhammadiyah malang [email protected]
Abstrak
Kecerdasan sosial adalah kemampuan yang dimiliki oleh orang dalam menjalin hubungan dengan orang lain menggunakan kekuatan-kekuatan yang berasal dari otak dan tubuhnya supaya dapat mengelola dan memahami bagaimana cara berhubungan dengan orang lain dapat berjalan dengan baik dan lebih mudah. Meningkatkan kecerdasan sosial pada anak usia dini dapat dilakukan dengan mendongeng atau kegiatan bercerita kepada anak dengan harapan mampu menanamkan nilai budi pekerti, serta mendorong anak untuk terlibat dalam cerita yang disampaikan. Tujuan penulisan adalah untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai pentingnya kegiatan bercerita untuk anak usia dini dalam meningkatkan kecerdasan sosialnya. Metode penulisan ini adalah kajian literatur. Disimpulkan bahwa mendongeng atau kegiatan bercerita dapat meningkatkan kecerdasan sosial anak karena dalam cerita yang memberikan nilai sosial dan pembelajaran bagi proses perkembangan anak, berkontribusi terhadap pengetahuan anak sehingga dapat merangsang dan mendorong anak untuk berfikir dan sadar untuk mengaplikasikannya dikehidupan nyata.
Kata kunci: Kecerdasan sosial, Mendongeng
Pendahuluan
Pendidikan adalah pembelajaran melalui pengajaran, pelatihan dan penelitian mengenai pengetahuan dan keterampilan yang direncanakan untuk mengembangkan potensi pada masing-masing individu. Pendidikan pada manusia diberikan sejak dari masa dalam kandungan oleh kedua orang tuanya, kemudian pada masa kanak-kanak dan hingga masa tua.
Pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan masa-masa emas yang akan menjadi awal seseorang dalam mengenal hal-hal disekitarnya. Anak usia dibawah enam tahun yang dikenal juga dengan sebutan anak usia dini, diberikan pendidikan berupa pengetahuan-pengetahuan yang dapat meningkatkan kemampuan motorik dan kognitifnya, pengetahuan sosial dan emosi, bahasa, agama dan moral. Salah satu pengetahuan yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah pengetahuan sosial. Kehidupan manusia yang selalu bergantung dan berhubungan dengan orang lain menjadi alasan utama untuk mendapatkan pengetahuan sosial sejak dini.
lingkungan tempat mereka tinggal ataupun dengan orang yang baru dikenal. Membiasakan anak untuk memiliki keterampilan sosial sejak dini sangat dibutuhkan agar dapat mengoptimalkan kecerdasan sosial pada diri mereka.
Kecerdasan sosial atau disebut juga SI yaitu kecerdasan yang dimiliki individu untuk dapat berinteraksi dengan orang lain berupa kemampuan dalam menjalin hubungan yang erat dengan siapapun dalam berbagai situasi apapun. Kecerdasan sosial memiliki kontribusi positif dalam menentukan gaya penyelesaian konflik yang digunakan oleh seseorang (Prihastuti & Wenny R.K., 2012).
Fenomena yang terjadi saat ini, kecerdasan sosial tidak begitu banyak dibahas dan tidak diutamakan, terlebih dilingkungan sekolah yang semestinya menjadi lingkungan pembentuk karakter anak selain dilingkungan keluarga. Ada sekolah yang lebih mengutamakan untuk meningkatkan kognitif anak daripada non-kognitifnya, misalnya mengutamankan nilai-nilai yang bersifat akademik. Akibatnya, anak kurang mampu mengotimalkan keterampilan sosialnya.
Anak yang cerdas secara sosial dapat memahami emosi-emosinya ketika berhubungan dengan orang lain, serta mudah berempati dengan orang-orang sekitarnya. Seperti yang tertera dalam kurikulum pendidikan nasional untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK), kurikulum berbasis kompetensi berisi dua kategori yaitu bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar. Aspek sosial merupakan bagian dari bidang pengembangan kebiasaan. Oleh sebab itu, membiasakan anak melakukan keterampilan sosial merupakan aspek penting agar anak cerdas secara sosial. Selain itu, pendidikan justru harus menyertakan lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar sebagai bagian dari pendidikan (Mahmud, F., 2015).
Anak yang cerdas secara sosial dapat diamati dari cara berbaur dengan teman-temannya, dan keluarganya. Kecerdasan sosial anak akan lebih bermanfaat ketika mereka mulai menginjak usia dewasa. Oleh sebab itu, mengembangkan kecerdasan sosial pada seseorang mulai usia anak-anak sangat dibutuhkan dengan menggunakan bantuan dari orang tua dan guru disekolahnya. Penelitian mengungkapkan bahwa cara yang dilakukan oleh beberapa siswa untuk mengurangi ketegangan etnis dilingkungan, dilakukan dengan meningkatkan kecerdasan sosial pada diri sendiri. Hal ini bisa dibantu oleh seorang guru untuk memberikan pengajaran kepada siswanya berupa toleransi, rasa hormat, kebaikan, kepedulian dan empati, yang mana menjadi sifat-sifat dasar untuk sukses secara sosial dan interaksi antar-budaya, serta berkualitas untuk dipelajari (Latsone, L., 2013).
Kecerdasan sosial ditingkatkan sejak usia dini karena dalam proses perkembangan psikososialnya anak usia dini mulai melakukan hubungan yang realistis dengan dirinya dan orang-orang sekitarnya, mulai memahami emosi-emosi, dan sering bermain dengan teman sebaya (Papalia, D.E & Ruth, D.F., 2014). Kecerdasan harus diasah dari sejak kecil, karena jika tidak diasah melalui proses pembelajara, kecerdasan tidak akan mengalami perubahan. Dengan demikian, kemampuan-kemampuan sosialisasi dalam dirinya dapat ditingkatkan sejak dini dengan memberikan pengetahuan dan stimulus yang mendorong anak agar dapat mengoptimalkan kecerdasan sosialnya di masa yang akan datang.
usia dewasa dituntut untuk lebih cerdas secara sosial, terlebih jika banyak menjalin relasi dengan orang lain. Cerdas secara sosial mempermudah seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.
Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan sosial adalah metode mendongeng atau kegiatan bercerita. Mendongeng merupakan salah satu metode yang dapat membangkitkan semangat anak untuk bisa membaca serta dapat meningkatkan daya imajinasi mereka sesuai dengan apa yang orang lain ceritakan. Metode mendongeng juga dapat menjadi stimulus untuk anak berupa pengaplikasian nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dongeng tersebut. Stimulasi dengan metode mendongeng juga dapat meningkatkan perkembangan moral pada anak prasekolah (Ahyani, L.N., 2010). Cerita memiliki sifat mendidik dan nilai-nilai tertentu. Oleh sebab itu metode bercerita menjadi efektif untuk membentuk karakter anak karena memiliki banyak pembelajaran didalamnya. Akan tetapi perlu dilakukan pengecekan ulang terhadap buku cerita sebelum disajikan kepada anak, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalkan cerita anak yang berbau dewasa.
Kecerdasan Sosial
kemampuan yang dimiliki oleh orang dalam menjalin hubungan dengan orang lain menggunakan kekuatan-kekuatan yang berasal dari otak dan tubuhnya supaya dapat mengelola dan memahami bagaimana cara berhubungan dengan orang lain dapat berjalan dengan baik dan lebih mudah. Manusia memiliki kepekaan dan kemampuan internal diri dalam memaknai segala peristiwa dalam kehidupan, dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan mudah, dan mampu mendorong orang lain untuk tumbuh menjadi lebih baik. (Kihlstrom, J.F & Nancy C., 2000; Buzan, T., 2002). Individu yang memiliki kecerdasan sosial dapat diamati dari perilakunya sehari-hari dalam berinteraksi dengan orang lain, misalnya, kita bersikap tenang ketika ada orang lain yang memusuhi diri kita; peka dengan teman-teman yang membutuhkan bantuan kita tanpa harus berpikir panjang; dan lain sebagainya. Kondisi formal laboratorium tidak dapat menangkap adanya kecerdasan sosial dalam diri seseorang, oleh sebab itu untuk mengamati seseorang yang memiliki kecerdasan sosial bisa mengunjungi tempat-tempat seperti penitipan anak, di taman bermain, sekolah dan tempat-tempat dimana manusia saling berinteraksi satu sama lain (Goleman, D., 2007).
Kecerdasan sosial meliputi kesadaran sosial dan fasilitas sosial. Kesadaran sosial merupakan apa yang individu rasakan mengenai orang lain. Bentuk kesadaran sosial itu meliputi: kemampuan dalam berempati, penyelarasan dengan lingkungan dan orang lain, ketepatan empatik yang diberikan kepada orang lain dalam setiap peristiwa yang terjadi, serta mengetahui bagaimana dunia sosial bekerja. Sedangkan fasilitas sosial merupakan bentuk aplikasi individu dari kesadaran sosial tersebut, berupa sinkroni, presentasi-diri, pengaruh, dan kepedulian pada orang lain (Golmen, D., 2007).
a. Empati dasar. Kesadaran mengenai empati ditampakkan ketika individu mampu memahami emosi orang lain dari raut wajah dan bahasa tubuh lainnya.
b. Penyelarasan. Penyelarasan dilakukan dengan memberikan perhatian sepernuhnya pada orang lain, tidak hanya sekedar mendengarkan saja, akan tetapi mengajukan beberapa pertanyaan yang sesuai supaya ada timbal balik dalam percakapan yang dilakukan dengan orang lain.
orang lain sampaikan ketika melakukan komunikasi baik yang langsung maupun tidak langsung.
d. Kognisi sosial. Individu dengan memiliki kemampuan dalam kognisi sosial ini tahu bagaimana dunia sosialnya bekerja serta mampu menemukan solusi dalam masalah sosialnya. Solusi sosial diperoleh dengan mengumpulkan banyak informasi yang relevan dan realistis. e. Sinkroni. Sinkroni berfungsi untuk menangkap sinyal-sinyal dari orang lain yang sedang
melakukan komunikasi dengan kita, baik secara verbal maupun non verbal. Isyarat non verbal yang kita berikan untuk menyingkronkan dengan apa yang orang lain komunikasikan dapat berupa senyuman atau anggukan, sebagai tanpa bahwa kita merespon orang lain.
f. Presentasi diri. Kemampuan menampilkan diri dibutuhkan untuk menciptakan dampak yang memuaskan dalam behubungan dengan orang lain dan lingkungan sosial.
g. Pengaruh. Orang yang berhati-hati dalam berbicara dan bersikap dapat mempengaruhi orang lain dengan mudah, apalagi jika memiliki otoritas tertentu dalam menghadapi situasi tertentu pula.
h. Kepedulian. Kepedulian pada seseorang berhubungan dengan adanya empati dalam dirinya. Seseorang yang dapat berempati dan merasakan secara emosi mengenai kesusahan yang dialami oleh orang lain, ia cenderung akan lebih peduli untuk menolongnya.
Karl Albrecht menyebutkan bahwa ada lima kompenen dasar untuk mnegasah kecerdasan sosial (Albrecht, K., 2006), yaitu:
a. Kesadaran situasional, adalah kemampuan yang dimiliki oleh orang untuk bisa memahami kebutuhan dan hak orang lain. Ini merupakan kemampuan umum yang harus dimiliki seseorang ketika berada dilingkungan eksternal.
b. Kemampuan membawa diri, adalah kemampuan mengenai bagaimana orang bisa membawa dirinya ketika berhubungan langsung dengan orang lain. Hal ini berupa penampilan, tutur kata, ekspresi non verbal kemampuan mendengarkan, merupakan sejumlah elemen yang tidak terpisahkan. Presence
yang baik atau bahkan lebih buruk dari seseorang akan menjadikan orang lain lebih mudah dalam mengingat siapa seseorang itu.
c. Keaslian, adalah kemampuan orang dalam menghadirkan ketulusan dalam dirinya. orang lain akan menilai bagaimana seseorang bisa dipercaya, jujur, terbuka, dan memiliki ketulusan dalam segala hal yang dilakukan.
d. Kejelasan, adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan gagasan secara baik dan persuasif, agar orang lain bisa menerima secara terbuka mengenai gagasan dan ide yang telah disampaikan tersebut. Kemampuan menyampaikan gagasan harus dilengkapi dengan kemampuan berkomunikasi. Jika seseorang memiliki gagasan yang menarik, tapi tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik, jadi kemungkinan yang kecil untuk dapat diterima oleh orang lain.
e. Empati, adalah kemampuan orang untuk memahami maksud dari pikiran orang lain, baaik yang disampaikan secara verbal maupun yang tampak secara non-verbal. Relasi yang baik dapat terjalin jika antara orang bisa saing memahami satu sama lain, serta dapat menyelaraskannya.
Kegiatan Bercerita
a. Bersifat mendidik. Sebuah cerita mengandung kasus nyata yang mudah diserap dan membuat anak selalu mengingat ketika mengalami kasus yang sama. Orang tua yang memiliki anak dengan permasalahan tertentu bisa menyajikan cerita-cerita yang sesuai dengan permasalahannya. Hal ini menjadi trik agar anak belajar dari cerita tersebut, sehingga orang tua tidak perlu lagi bersusah payah menerapkan peraturan-peraturan yang keras kepada anak-anaknya.
b. Mengajarkan nilai-nilai. Dalam cerita biasanya banyak terkandung nilai-nilai yang dapat diserap, diantaranya berupa nilai sosial dari berbagai latar belakang budaya. Nilai yang terkandung dalam cerita anak biasanya berupa hubungan dengan teman sebaya, norma-norma sosial, kerjasama, menghormati orang tua, dan lain sebagainya.
c. Mengajarkan kedisiplinan. Cerita tidak hanya dapat membentuk perilaku, tetapi juga menyajikan pendengar mengenai konsekuensi disiplin akan kepatuhan dan ketidakpatuhan. Cerita yang mengandung perilaku disiplin merupakan salah satu bahan utama dalam menentukan anak agar tidak mengalami perilaku bermasalah.
d. Membangun pengalaman. Pengalaman adalah guru yang baik dalam kehidupan, juga bisa menjadikan potensi semakin besar untuk belajar dan menangani berbagai tantangan hidup dimasa yang akan datang. Pengalaman hidup dapat diperoleh melalui cerita. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam buku cerita menjadi pengalaman anak yang mungkin beum pernah dialami, kemudian mereka akan belajar dari cerita tersebut ketika suatu saat mereka mengalami kejadian yang sama.
e. Memudahkan dalam penyelesaian masalah. Manusia dilahirkan sebagai penyelesai atau pemecah masalah. Cerita yang disajikan pada anak menjadi stimulus supaya mereka berpikir bagaimana pemecahan atas masalah yang terjadi dalam cerita. Penyaji atau orang tua yang membacakan cerita mampu mendorong anak untuk mencari penyelesaian masalah dalam cerita. Hal ini bisa dilakukan dengan menahan bacaan pada bagian penyelesaian masalah, kemudian menanyakan kepada anak, apa yang seharusnya dilakukan oleh tokoh dalam cerita tersebut.
f. Menyembuhkan dan mengubah perilaku. Cerita bisa menginspirasi sehingga mendorong seseorang untuk melakukan perubahan diri. Pengalaman seseorang dalam cerita dapat memberikan inspirasi, kemudian memunculkan pemikiran-pemikiran anak untuk bisa meniru tokoh dalam cerita tersebut. Jika solusi yang ditawarkan dalam cerita sesuai dengan apa yang dialami oleh anak, maka anak akan mudah untuk menirunya.
Teknik dalam Mendongeng
a. Biblioterapi, adalah teknik yang digunakan dengan menerapi klien melalui buku bacaan. Buku bacaan yang disajikan disesuaikan dengan permasalahan yang dialami oleh klien, atau perilaku tertentu yang sesuai agar dapat memberikan pandangan dan solusi kepada klien mengenai permasalahannya.
b. Drama, adalah teknik yang digunakan dengan bermain peran. Kegiatan bermain peran bisa dilakukan oleh klien dan terapis, atau juga dilakukan dengan sesama klien dengan memerankan karakter masing-masing yang sesuai dengan keadaan klien, sehingga dengan kegiatan ini klien bisa mengidentifikasikan dirinya. Drama dilakukan sesuai dengan buku dalam cerita dan sesuai pula dengan tujuan untuk membentuk karakter tertentu pada klien. c. Terapi video, adalah terapi dengan mempertontonkan video kepada klien. Terapis dapat
efektif karena anak bisa menonton langsung tokoh-tokoh dalam video, sehingga bisa mengidentifikasikan dirinya secara langsung.
d. Metafora mainan, boneka dan wayang. Terapi ini mendorong anak untuk berimajinasi dan mengungkapkan segala permasalahan yang ada dalam dirinya dengan bercerita menggunakan mainan. Mainan ini bisa berupa boneka, patung binatang, dan sebagainya. Terapis bertugas membantu anak dengan menstimulus agar anak mau bercerita.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan sosial adalah kecerdasan yang dimiliki individu untuk dapat berinteraksi dengan orang lain berupa kemampuan dalam menjalin hubungan yang erat dengan siapapun dalam berbagai situasi apapun. Kecerdasan sosial sangat penting untuk menjadikan anak sukses dikemudian hari. Anak yang cerdas secara sosial bisa menjalin relasi yang lebih mudah dengan orang lain, sehingga dalam menjalani kehidupannya bisa menjadi lebih mudah. Mengasah kecerdasan sosial mulai dari usia dini dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan dan menstimulus anak untuk mengalami perubahan. Hal ini merupakan pembelajaran yang akan menjadikan anak terus berkembang.
Referensi
Ahyani, L.N. (2010). Metode Mendongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus, 1 (1).
Albrecht, K. (2006). Social Intelligence: The new science of success. San Fransisco: Jossey-Bass
Burn, G.W. (2005). 101 Healing Stories For Kids And Teens: Using Metaphors In Therapy. Canada: Jhon Wiley & Son, Inc
Buzan, T. (2002). The Power Of Social Intelligence : 10 Way To Tap Into Your Social Genius. United States : HarperCollins Publishers Inc
Golmen, D. (2007). Social Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Kihlstrom, J.F & Nancy C. (2000). Social Intelligence. In R.J. Sternberg (Ed), Handbook Of Intelligence (pp. 359-379). United Kingdom: Cambridge University Press
Latsone, L. (2013). Social Intelligence Intercultural Education. Educational Research Journal, 28 (1-2)
Mahmud, F. (2015, 4 Desember). Pendidikan harus ajarkan peduli lingkungan. Diakses kembali pada 201, 13 Maret dari http://news.liputan6.com/read/2381814/mendikbud-pendidikan-harus-ajarkan-peduli-lingkungan.
Papalia, D.E & Ruth, D.F. (2014). Menyelami Perkembangan Manusia, Ed-12th. Jakarta:
Salemba Humanika