• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abdulloh Misbahushshudur 170110110013 Pr docx\

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Abdulloh Misbahushshudur 170110110013 Pr docx\"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Abdulloh Misbahushshudur 170110110013

Program Studi Administrasi Negara (A) REVIEW 4

KONSEP MASYARAKAT SIPIL DAN ONROP DALAM KONTEKS POLITIK INDONESIA

Sejak zaman Yunani kuno, konsep mengenai masyarakat sipil telah lama terlalaikan dalam wacana mainstream, kemudian kembali populer pada tahun 1980-1990-an semenjak gelombang demokratis di negeri-negeri Eropa Timur. Inspirasi pemikiran yang ditimbulkannya terhadap perubahan politik dipahami sebagai akibat tak terelakan dari kebangkitan masyarakat sipil. Wacana masyarakat sipil mendapat respons positif di beberapa negeri berkembang yang tengah bergulat dengan rezim otoriter.

Gagasan masyarakat sipil adalah Organisasi Non-Pemerintahan (Ornop) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Masyarakat sipil dipahami sebagai suatu masyarakat yang berusaha membangun kemandirian tidak hanya berhadapan dengan negara melainkan di bidang sektor bisnis (masyarakat ekonomi). Sebagai lembaga volunter dan nirbala, Ornop tidak saja berperan sebagai penguat dan pemberdaya masyarakat, tetapi juga pengimbang dan pengontrol kritis, baik dari luar sektor negara maupun swasta, seiring dengan subtansi dan praksis hidup gerakan masyrakat sipil.

Konsep Masyarakat Sipil

Istilah “masyarakat sipil” atau civil society sering kali dikenal juga dengan masyarakat madani. Masyarakat madani menurut Nurcholish Madjid, berasal dari kata madani yang merupakan sebuah kota di Jazirah Arab yaitu kota Madinah. Madinah berasal dari kata “madaniah” yang berarti peradaban. Maka dari itu masyarakat madani diasosiasikan sebagi masyarakat yang beradab.

(2)

Namun demikian sesungguhnya masyarakat madani memiliki perbedaan. Syed Naqub Al-Attas mengemukakan, bahwa istilah masyarakat madani dan civil society memiliki latar belakang yang berbeda. Madani lebih merujuk pada aktivitas keislaman, sedangkan civil society merupakan produk pemikiran barat yang merujuk pada kegiatan masyarakat yang terbebas dari pengaruh negara yang terkait demokrasi.

Terjemah lain civil society merupakan masyarakat kewarganegaraan, yang merujuk pada sebuah kehidupan masyarakat beradab dalam tatanan komunitas bernegara. Sebagian cendikiawan Indonesia memilih untuk memakai istilah asli “civil society” karena dianggap lebih netral. Namun yang lebih penting untuk dikedepankan ialah subtansi makna dari keseluruhan istilah, ketimbang memperselisihkan istilah yang sifatnya simbolik.

Perkembangan Konsep Masyarakat Sipil

Konsep masyarakat sipil semula berkembang dalam tradisi pemikiran politik Barat. Konsep yang mengalami evolusi cukup panjang dan sempat dilupakan itu bangkit dan diperhatikan lagi dalam kaitannya dengan gelombang demokrasi yang menerpa negeri-negeri Eropa Timur.

Filsuf Marcus Tullius Cicero merupakan orang pertama kali memakai sosietas civilis, yang mencakup kondisi individu atau masyarakat secara keseluruhan menganut norma-norma kesopanan tertentu. Namun ada sedikit perbedaan istilah yang digunakan Aristoteles (384-322 SM), berlatar belakang pada hidup warga Yunani yang lebih menekankan kolektivitas, dimana warga terlibat langsung berbagai ajang ekonomi-politik dan pengambil keputusan. Sedangkan Cicero didasarkan pada pandangan warga Romawi yang sangat menjunjung individualitas dan komunitas yang mendominasi kelompok atau komunitas lain. Dalam versi Hobbes : Masyarakat sipil yang identik dengan negara merupakan wujud dari kekuasaan absolut. Masyarakat sipil hadir untuk meredam konflik dan mencegah masyarakat agar tidak jatuh pada chaos dan anarki. Lalu menurut Locke masyarakat sipil hadir untuk menjaga kebebasan warga dan melindungi hak-hak milik individu. Maka dari itu masyarakat sipil harus demokratis, tidak boleh absolut. Peranannya terbatas pada wilayah yang dapat dikelola oleh masyarakat sendiri dengan lingkupan cukup luas bagi warga untuk mendapatkan hak-haknya secara demokratis.

(3)

merupakan tempat masyarakat untuk mengembangkan kepribadian dan membuka peluang bagi pemuasan kepentingannya. Karenanya masyarakat sipil secara logis harus lebih kuat mengontrol negara dengan keperluan warga negara. Hal terpenting yang ditekankan disini adalah keberadaan masyarakat sipil sebagai entitas berbeda sama sekali serta terpisah dari negara dan masyarakat ekonomi (sektor bisnis).

Pendekatan dikotomis masyarakat sipil dan negara menafikan interasksi di antara masyarakat politik. Dengan kata lain, entitas masyarakat sipil berperan sangat menentukan dalam proses pertumbuhan demokrasi di suatu negeri. Dikotomis tersebut bukan berarti keduanya tidak berhubungan sama sekali. Walaupun masyarakat sipil dan negara merupakan entitas-entitas otonom, ada semacam jalinan interaksi timbal balik diantara keduanya. Dimana Masyarakat sipil merupakan suatu entitas yang keberadaanya menerobos batas-batas primordial dan kelas serta memiliki kapasitas politik cukup tinggi sebagai kekuatan pengimbang (balancinf force) terhadap kecenderungan intervensionis negara, dan pada saat bersamaan mampu melahirkan kekuatan kritis reflektf, naik terhadap lingkungan ekternal maupun dirinya sendiri.

Konsep Masyarakat Sipil dalam Konteks Politik Indonesia

Study yang menggunakan beberapa teori politik ini menolak alur berpikir yang mengundang eksistensi negara sebagai faktor paling penting dan menentukan bagi berlangsungnya proses politik di Indonesia. Konsep yang banyak diperdebatkan adalah hubungan dikotomis antara negara dan masyarakat.

Pendekatan state-society belum menempatkan gagasan masyarakat sipil sebagai sudut pandang tersendiri, tetapi lebih banyak menekankan gejala hegemoni negara Orde Baru yang terkait dengan perkembangan kapitalisme ketimbang peran penting masyarakat sipil di Indonesia.

Proses pemberdayaan, menurut Arief Budiman, akan berlangsung jika :

1. Kelompok masyarakat sipil mendapat peluang untuk lebih banyak berperan, baik di tingkat negara maupun masyarakat.

2. Bila posisi kelas tertindas berhadapan dengan kelas dominan menjadi lebih kuat. Prespektif itu jelas menekankan peran masyarakat sipil sebagai hal utama dalam menciptakan dan melahirkan perubahan politik.

Sumber :

Referensi

Dokumen terkait

atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh

dalam jumlah yang mencukupi dilahan pekarangan, sawah dan kebun untuk kebutuhan ternak. Penelitian Syamsu, 2007 menunjukkan hanya 37.88 % petemak di Sulawesi Selatan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial gaya kepemimpinan, pemahaman good governance, dan ketidakjelasan peran berpengaruh signifikan terhadap kinerja

Ahmadi Usman, MA NIP... Ahmadi Usman,

Selain untuk memperingati berdirinya Jurusan Psikologi FIP Unnes, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan Jurusan Psikologi kepada pihak diluar

Cyberbullying jika ditinjau dari hak yang dilanggar termasuk jarimah takzir yang menyinggung hak individu, karena merupakan kejahatan yang. mengganggu kemaslahatan

Takik rebah dibuat dengan membuat potongan datar (alas takik) dan potongan miring (atap takik) yang bertujuan untuk mengarahkan rebahan pohon sehingga pohon akan rebah

Apituley dan Josepus Makita (2009) telah melakukan penelitian tentang otonomi daerah dengan judul analisis kontibusi pajak daerah dan retribusi daerah terhadap