Manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy
Kontra & Pro
2
Judul buku:
3
Kata Pengantar
Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang, kami sampaikan pujian serta syukur kepa-da-Nya atas berkat karunia yang dikucurkan sehingga pe-nulisan bahasan yang berkaitan dengan Manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy (SAQJ) dapat terselesaikan.
Berkat kemajuan teknologi, kini banyak situs web yang memuat tentang manakib SAQJ, baik yang kontra maupun yang pro. Argumentasi yang pro biasanya mem-pertahankan atau memberikan bantahan terhadap tulisan yang kontra agar masyarakat dapat memahami cara pikir dan cara pandang terhadap pelaksanaan manakib SAQJ. Namun untuk mendapatkan informasi tentang hal tersebut secara baik tidak mudah, karena beberapa dalil/argumen yang ditulis tidak melihat cara pandang pihak lain.
Oleh karena itu dirasa perlu untuk menyampaikan ulasan melalui pembahasan ilmiah terhadap permasalahan dimaksud berupa buku Manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jai-laniy, Kontra & Pro. Diawali dengan memahami sosok pribadi SAQJ, lalu komentar dari pihak yang tidak setuju dan diikuti penjelasan ulasan pihak yang setuju dengan berbagai argumen yang sesuai dengan bidang pembahas-an, yaitu cara pandang dari sisi tasawuf.
Sebelum muncul internet yang dapat digunakan un-tuk mengakses informasi tanpa batas, pembahasan tentang manakib SAQJ pernah dilakukan dalam forum seminar di Malang. Tulisan ini banyak mengambil dari ca-tatan seminar tersebut dan juga dari informasi via internet. Semoga buku ini dapat memberikan pencerahan kepada yang kontra dan yang pro guna menggapai ridla Allah swt. Amin.
Depok, 06 Oktober 2011
5
Kepada guru-guru kami yang telah mengajarkan kebajikan, Utamanya Allahu yarhamuh K.H. Oesman Mansoer,
Hanya kiriman doa yang dapat kami sampaikan.
7
Daftar Isi
Kata Pengantar 3
I. Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy RA 9 Kiprah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy 11 Beberapa nasihat dan wasiat 13
Karya tulis 29 Karomah 31
Manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy 35
II. Bantahan Terhadap Buku Manakib 38 A. Pendahuluan 38
B. Arti manakib 40
C. Sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy 41 D. Upacara manakib 42
E. Karomah dan cerita aneh 44 F. Hukum membaca manakib 61 G. Tawasul 64
H. Penambahan kalimah waliyyullah 71 I. Kesimpulan 96
III. Argumentasi Eksistensi Manakib 100 A. Pengantar 100
B. Pendahuluan 102 C. Arti manakib 104
D. Wali dalam ilmu tasawuf 107 E. Karomah aulia 110
F. Sosok al-Quthb ar-Rabbaniy dan Sulthan al-Awliya 117
G. La ilaha illallah, muhammadur rasulullah, syaikh abdul qadir al-jailaniy waliyyullah 140
H. Tujuan pembacaan manakib 150 I. Pelaksanaan manakib 162
J. Ziarah ke makam anbiya dan aulia 171 K. Kesimpulan dan saran 185
8
9
I. SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANIY RA1
Nama lengkapnya adalah Abu Shalih Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailaniy bin Abu Shalih Musa bin Abdullah bin Yah-ya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah Abul Makarim bin Musa Junn bin Abdullah al-Kamil al-Mahdli bin Hasan al-Matsaniy bin Imam al-Hasan bin Aliy bin Abu Thalib. Aliy bin Abu Thalib adalah suami Fathimah az-Zahra‟ binti Muhammad saw. Beliau memiliki jalur nasab ayah sampai pada Sayidina Hasan, sedangkan dari jalur ibunya, Syarifah Fathimah binti Sayyid Abdullah as-Shauma‟iy al-Husainiy, sampai pada Sayyidina Husain. Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy adalah seorang alim di Baghdad. Lahir 1 Ramadlan tahun 470 H di desa Jailan, terkadang disebut Kailan, Tabaristan, Iran. Karena itulah nama beliau ditambahkan kata ”al-Jailaniy”, al-Kailaniy, atau al-Jiliy. Beliau wafat pada hari Sabtu setelah maghrib, tanggal 11 Rabiul Akhir 561 H di daerah Babul Azaj, Bagh dad, Iraq.
Sebagai seorang ulama besar, banyak kaum musli-min menyanjungnya dan mencintainya. Sebagian kaum muslimin menjadikan beliau sebagai wasilah atau peranta-ra dalam doa. Mereka beperanta-ranggapan bahwa tawasul adalah salah satu sunnah Nabi saw. Artinya, Nabi saw pun mela-kukan tawasul sebagaimana disebutkan dalam hadits:2
ُّمُأ ٍمِشاَه ِنْب ٍدَسَأ ُتْنِب ُةَمِطاَف ْتَتاَم اَّمَل : َلاَل ٍنِلاَم ِنْب ٍسَنَأ ْنَع َو
اَمُهْنَع ُالله ًَ ِضَر ًٍِّلَع
ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُس َر اَهٌَْلَع َلَخَد
َمَّلَس َو ِهٌَْلَع
ًِّْمُأ َدْعَب ًِّْمُأ ِتْنُك ًِّْمُأ اٌَ ُالله َنَم ِحَر" : َلاَمَف اَهِسْأَر َدْنِع َسَلَجَف
1 Disarikan dari berbagai informasi situs web antara lain fnrtop.com, alkadria.com, pphidayatulmubtadiin.com, id.wikipedia.org, vb.arabseyes.com, dan Jami’ Ushul al-Awliya’, hal. 107
10
اًبٌَِّط َنَسْفَن َنٌِْعَّنَمَت َو ًِْنٌِْسْكُت َو َنٌَْرْعَت َو ًِْنٌِْعِبْشُت َو َنٌِْع ْوُجَت
ِالله َهْج َو َنِلَذِب َنٌِْدٌْ ِرُت ًِْنٌِْمِعْطُت َو
ْنَأ َرَمَأ َّمُث . " َة َر ِخلآْا َراَّدلا َو
ِالله ُل ْوُس َر ُهَبِكَس ُر ْوُفاَكْلا ِهٌِْف ْيِذَّلا ُءاَمْلا َػَلَب اَّمَلَف اًثَلاَث َلَسْؽُت
َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُسَر َعَلَخ َّمُث ِهِدٌَِب َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص
َؤَف ُهَصٌِْمَل
ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُس َر اَعَد َّمُث هلوف دربِب اَهَنَفَك َو ُهاٌَِّإ اَهَسَبْل
ِنْب َرَمُع َو َّي ِراَصْنَلأْا َب ْوٌَُّأ اَبَأ َو ٍدٌَْز ِنْب َةَماَسُأ َمَّلَس َو ِهٌَْلَع
ْوُؽَلَب اَّمَلَف اَه َرَبْل َا َوَرَفَحَف َن ْوُرفْحٌَ َد َوْسَأ اَمَلاُؼ َو ِباَّطَخْلا
َدْحَّللا ا
اَّمَلَف ِهِدٌَِب ُهَبا َرُت َج َرْخَأ َو ِهِدٌَِب َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُسَر ُهَرَفَح
" : َلاَمَف ِهٌِْف َعَجَطْضاَف َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُسَر َلَخَد َغَرَف
ًَح َوُه َو ُتٌِْمٌُ َو ًٌِْْحٌُ ْيِذَّلا ُللهَا
ِتْنِب َةَمِطاَف ًِّْمُلأِ ْرِفْؼِا ُت ْوُمٌَ َلا
ِءاٌَِبْنَلأْا َو َنٌِِّبَن ِّكَحِب ،اَهَلَخْدُم اَهٌَْلَع ْعِّس َو َو اَهَتَّجُح اَهْنِّمَل َو ٍدَسَأ
اًعَب ْرَأ اَهٌَْلَع َرَّبَك َو . "َنٌِْم ِحاَّرلا ُمَح ْرَأ َنَّنِإَف ،ًِلْبَل ْنِم َنٌِذَّلا
اَه ْوُلَخْدَأ َو
ْمُهْنَع ُالله ًَ ِضَر ُكٌِّْدّ ِصلا ٍرْكَب ْوُبَأ َو ُساَّبَعْلا َو َوُه َدْحَّللا
ُهَّمَث َو ٍحَلاَص ِنْب ٌح ْوَر ِهٌِْف َو ِطَس ْوَلأْا َو ِرٌِْبَكْلا ًِْف ًُِّناَرْبَّطلا ُها َوَر
ٌِْحَّصلا ُلاَج ِر ِهِلاَج ِر ُةٌَِّمَب َو ٌؾْعَض ِهٌِْف َو ُمِكاَحْلا َو ٍناَّب ِح ُنْبا
ِح
Imam ath-Thabraniy dalam Mu‟jam al-Kabir dan al-Awsat meriwayatkan kisah kewafatan Sayyidah Fathimah binti Asad bin Hasyim dengan sanad yang jayyid. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam al-Hakim dari Sayyidina Anas ra dan mereka me-mandangnya sebagai sahih. Dalam hadits ini Nabi saw berdoa menyebut dan berwasilah dengan “haq” diri Nabi saw serta dengan “haq” para nabi sebelumnya. Ini berarti bahwa Nabi saw telah bertawassul dengan para anbiya‟ yang telah wafat.
menja-11
mah jenazahnya dengan tangan beliau yang mulia. Setelah itu Nabi saw menanggalkan qamishnya dan dipakaikan ke-padanya lalu dikafankannya. Nabi saw memerintahkan be-berapa sahabat, antara lain Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshariy, dan Umar bin Khatthab untuk menggali kubur. Ketika mereka sampai ke liang lahad, Nabi saw ikut menggali sendiri dan mengeluarkan tanah dengan dua ta-ngan beliau. Setelah liang lahad disiapkan, Nabi saw ber-baring di liang lahad tersebut dan berdoa:
َةَمِطاَف ًِّمُلأِ ْرِفْؼِا ،ُتوُمٌَ لا ًَح َوُه َو ُتٌِمٌُ َو ًٌِْحٌُ يِذَّلا ُ َّللَّا
َحِب ،اَهَلَخْدُم اَهٌَْلَع ْعِّس َو َو ،اَهَتَّجُح اَهْنِّمَل َو ،ٍدَسَأ ِتْنِب
َنٌِِّبَن ِّك
َنٌِْم ِحا َّرلا ُمَح ْرَأ َنَّنِإَف ،ًِلْبَل ْنِم َنٌِذَّلا ِءاٌَِبْنَلأْا َو
Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dialah yang Maha Hidup yang tiada menerima kematian. Ampunilah bagi ibuku Fathimah binti Asad, bimbinglah dia untuk menegakkan hujjahnya (yakni untuk menjawab fitnah kubur), luaskanlah kuburnya, demi haq nabi-Mu dan semua nabi yang sebelumku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih.
Setelah itu Nabi saw mensalati jenazahnya dengan 4 takbir dan memakamkannya ke dalam lahad tersebut de-ngan dibantu oleh Sayyidina al-Abbas ra dan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
Kiprah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy
Pada tahun 488 H ia meninggalkan kota kelahiran-nya menuju Baghdad untuk belajar di Madrasah Nidhami-yah Baghdad, pimpinan Ahmad al-Ghazali, pengganti sau-daranya Abu Hamid al-Ghazali, namun tidak diterima. Di sana beliau belajar kepada beberapa ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein al-Farra‟, dan Abu Sa‟ad al-Mukharrimiy. Beliau mampu menguasai ilmu ushul dan perbedaan pendapat para ulama.
ini-12
lah banyak kamu yang diceritakan yang ditulis oleh murid-murid beliau yang terpercaya.
Sekembalinya dari perjalanan dakwah, Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy diserahi sekolah kecil di sebuah daerah bernama Babul Azaj oleh gurunya, Abu Said al-Mukhar-rimy. Beliau kelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh dan memberikan pelajaran atau nasihat kepada orang-orang di sekitarnya sampai beliau wafat. Nasihatnya mem-buat banyak orang mau bertaubat. Adz-Dzahabiy menye-butkan bahwa 500 orang masuk Islam dan seratus ribu orang bertaubat. Mereka bersimpati lalu berguru kepada-nya. Karena banyak peminatnya, bangunan sekolah kecil tersebut akhirnya diperluas. Murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal seperti al-Hafidh Abdul Ghani pengarang Umdah al-Ahkam Fi Kalami Khair al-Anam, dan Ibn Qudamah pengarang kitab fiqh terkenal al-Mughni.
13
Beberapa Nasihat dan Wasiat
Beliau adalah pendiri atau muassis Thariqah Qadiri-yah dan meletakkan dasar yang kokoh serta prinsip yang benar untuk thariqah yang agung dalam kitab al-Ghaniyah li Tholibii Thoriq al-Haq dan kitab al-Fath ar-Rabbani wal Faidl ar-Rahmaniy. Disamping itu beliau juga memerintahkan muridnya untuk berdzikir kepada Allah pada malam dan siang hari serta setelah salat lima waktu agar dapat wushul atau sampai kepada-Nya.
Diantara ajaran atau nasihatnya yang terkenal ada-lah, ”Hendaknya engkau ittibak kepada Rasulullah dan janganlah berbid‟ah sendiri, taatlah kepada Allah dan janganlah menyalahi ajaran Allah, bersabarlah dan janganlah mengeluh, tetaplah dan jangan berpecah-pecah, tunggulah rahmat Tuhan dan janganlah berputus asa, berkumpullah untuk berdzikir kepada Allah dan jangan sampai bercerai, bersihkanlah dirimu dari dosa dan janganlah bergelimang dalam dosa, dan janganlah engkau berhenti-henti selalu di pintu Allah.” Ajaran tersebut jika di -jabarkan mengandung banyak hal antara lain:
a. Janganlah seseorang menghukumi syirik, kufur, atau nifaq kepada siapa pun dari ahli kiblat, yaitu orang yang melaksanakan salat. Hal itu tidak akan mendekatkan pada sifat kasih sayang dan tidak akan meninggikan derajat, bahkan akan menjauhkan diri dari merasuknya ilmu Allah, tidak akan menjauhkan dari murka Allah, dan tidak pula mendekatkan pada ridla dan rahmat Allah.
b. Perbaikilah akhlak karena merupakan pintu ke-agungan dan kemuliaan di sisi Allah yang akan me-nyebabkan seorang hamba bersikap kasih sayang kepada makhluk semuanya.
c. Belajarlah fiqh dan lakukan uzlah.
14
e. Hakekat syukur adalah pengakuan bahwa semua 7 f. kenikmatan yang dialami berasal dari Sang Pemberi
Nikmat, yaitu Allah.
Adapun wasiat beliau antara lain:
1. Laksanakan perintah Allah, jauhi larangan-Nya, dan ri-dha atas ketentuan-Nya.
Tiga hal yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap mukmin dalam segala ruang dan waktu yaitu adalah (a)menjaga dan melaksanakan perintah Allah dengan tulus dan ikhlas; (b)menghindari diri dari segala yang haram baik nyata maupun samar; dan (c)ridla menerima takdir Allah Yang Mahakuasa. Dengan demikian minimal seseorang yang beriman harus memiliki tiga hal tersebut dan harus diusahakan untuk dapat mendarah daging dalam tubuhnya. Ia harus mengikat diri kepada tiga hal ke mana dan di mana saja ia berada serta dalam keadaan bagaimanapun juga.
2. Ikuti sunnah Rasul saw, jauhi bid‟ah, dan bersikaplah istiqamah.
Apabila seorang muslim ingin mendapatkan rahmat da-ri-Nya, dijauhkan dari api neraka, bertemu Allah di akhirat dan menikmati rahmat-Nya, hidup bahagia di surga yang kekal bersama bidadari, menikmati kendara-an berwarna putih, bersuka ria dengkendara-an hurhur bermata putih, menghirup aneka aroma, diiringi melodi para hamba sahaya wanita yang cantik, serta dimuliakan bersama Nabi, para siddiqin, syahidin, dan salihin lain-nya di surga yang tertinggi, maka seorang muslim seha-rusnya:
a. mengikuti sunnah Rasul dengan penuh keyakinan (keimanan),
b. berhati-hati agar tidak melakukan perbuatan bid‟ah, c. mematuhi segala yang diperintahkan dan dilarang
15
d. menjunjung tinggi tauhid dan tidak menyekutukan Allah,
e. senantiasa menyucikan Allah dan tidak menisbah-kan suatu keburumenisbah-kan pun kepada-Nya,
f. mempertahankan kebenaran-Nya dan jangan mera-gukan sedikitpun atas kebenaran tersebut,
g. selalu bersabar dalam setiap keadaan dan tidak me-nunjukkan sifat sebaliknya,
h. mempunyai sifat istiqamah,
i. mempunyai pengharapan kepada Allah dengan sa-bar dan jangan kesal,
j. bekerja sama dengan sesama muslim dalam menja-lankan amal dan ketaatan, saling mencintai, jangan berpecah-pecah dan mendendam,
k. menjauhi kejahatan dan jangan sekali-kali ternoda oleh kejahatan tersebut,
l. menghiasi diri dengan ketaatan kepada Tuhan, m. tidak menjauhi pintu-pintu Tuhan,
n. tidak berpaling dari-Nya,
o. menyegerakan bertobat atas dosa yang telah dilaku-kan agar tidak tertunda,
p. tidak bosan untuk memohon ampunan kepada Allah siang dan malam.
3. Memohon pertolongan kepada Allah.
16
17
4. Mengharap rahmat Allah.
Jika engkau abaikan ciptaan, semoga Allah merahmati-mu, semoga Allah membunuh kehendakmu yang tak baik dan menempatkanmu dalam kehidupan yang baru dan mulia. Sekarang dirimu mendapatkan karunia be-rupa kehidupan yang abadi, mendapat kekayaan dan kebahagian yang abadi, dan mendapat rahmat dan ilmu sehingga tak mengenal kebodohan. Engkau dilindungi Allah dari rasa takut. Engkau dimuliakan, tidak hina lagi, dan selalu dekat kepada Allah sehingga menjadi tumpuan harapan bagi orang-orang yang memohon ke-pada Allah melalui dirimu. Kau menjadi pengganti rasul, para nabi, dan shidiqqin. Kau adalah puncak wilayat dan para wali yang masih hidup mengerumunimu. Segala masalah dapat kau selesaikan dan kau temukan jalan keluarnya. Sawah ladang berpanen melimpah ru-ah berkat doamu. Penderitaan umat lenyap juga melalui doamu. Orang-orang banyak yang datang dan bergegas menemuimu membawa bingkisan dan hadiah serta mengabdi kepadamu. Pengabdian dalam segala hal kehidupan. Semua itu karena ijin Sang Pencipta. Mereka senantiasa mendoakanmu. Tak ada dua mukmin yang memperselisihkan engkau. Inilah rahmat Allah swt, wahai manusia. Dan Allah Pemilik segala rahmat.
5. Menghindari dunia.
18
Tutuplah hidungmu agar tak menghirup bau amisnya. Tutuplah hidung dan telingamu dari bau dan suara hawa nafsu walaupun segala kenikmatan yang tersimpan di dalamnya menghampirimu. Allah SWT te-lah berfirman kepada nabi pilihan Muhammad saw,
َلا َو
ْعَّتَم اَم ٰىَلِإ َنٌَْنٌَْع َّنَّدُمَت
َو ْزَأ ٓۦِهِب اَن
ٟ
ا ًًۭج
ِة ٰوٌََحْلٱ َة َرْه َز ْمُهْنِّم
ِهٌِف ْمُهَنِتْفَنِل اٌَْنُّدلٱ
ٰىَمْبَأ َو ًٌۭرٌَْخ َنِّبَر ُق ْز ِر َو
Janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada (perhiasan) yang Kami berikan kepada bermacam-macam orang di antara mereka sebagai bunga kehidupan di dunia, supaya mereka Kami cobai denganya. Dan rezeki Tuhanmu (dalam surga) lebih baik dan lebih kekal. (QS Thaha 20:131)
6. Beribadah hanya karena Allah.
Jika melaksanakan perintah Allah, tanggalkan pandang-an mpandang-anusia ypandang-ang tertuju kepadamu, tpandang-anggalkpandang-an kepen-tingan pribadimu, dan hendaknya engkau tujukan kepa-da Allah saja. Untuk menghinkepa-dari pankepa-dangan manusia yang memuji atas amalanmu dalam melaksanakan perintah Allah, menghindarlah dari mereka, asingkan diri sepenuhnya dan bebaskan jiwamu dari segala ha-rapan mereka. Lenyapkanlah segala nafsumu. Tanda kelenyapan nafsu ialah (a)meninggalkan kesibukan me-ngejar duniawi; (b)berhubungan dengan mereka hanya untuk mendapatkan manfaat; (c)cenderung menghin-darkan diri dari kemudlaratan; (d)tidak menggantungkan diri sendiri dalam masalah pribadi; (e)tidak membantu melindungi diri sendiri, tetapi memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah, karena Dia-lah Yang Maha Kuasa.
19
a. tidak pernah menurutkan keinginan, tak merasa per-lu, tak mempunyai tujuan, kecuali hanya satu tujuan dan satu kebutuhan yakni kepada Allah belaka; b. kehendak Allah akan berwujud pada dirimu,
sehing-ga jika kehendak-Nya bereaksi, tubuhmu menjadi pasif, namun hatimu tenang, pikiranmu jernih, nurani dan rohanimu menjadi berseri. Dengan demikian kebutuhanmu tentang kebendaan kau pasrahkan dan engkau bergantung kepada Allah saja;
c. gerakanmu digerakkan oleh kekuasaan-Nya, lidah keabadian memberi hiasan kepadamu berupa nur-Nya yang menempatkan kedudukanmu sejajar de-ngan ulama hikmah yang telah mendahuluimu. Jika mampu seperti demikian, niscaya engkau berhasil menaklukkan diri sendiri sehingga dalam ragamu tidak ada kedirianmu, laksana bejana yang hancur, bersih da-ri air dan endapan. Engkau akan terpisahkan dada-ri sega-la gerak manusiawi karena rohanimu menosega-lak segasega-la sesuatu. Rohmu hanya menerima kehendak Allah saja. Pada peringkat dan kedudukan seperti ini, engkau akan mendapatkan suatu keajaiban. Hal ini seolah-olah ha-nya usahamu dalam melatih diri dan rohmu, padahal sebenarnya adalah kehendak Allah belaka. Pada kedu-dukan ini, engkau mampu menjadi orang yang dapat menundukkan hati sendiri, sifat hewanimu telah mus-nah. Engkau akan mendapat ilham atas kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kenyataan sehari-hari.
di-20
terima Allah. Allah terus menciptakan kemauan baru dalam dirimu agar engkau tidak merasa puas dengan amal dan ibadah yang kau lakukan sampai pada akhir hayatmu.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT berfirman3,
ْيِدْبَع ًََّلِإ ُبَّرَمَتٌَ اَم َو ِب ْرَحْلاِب ُهُتْنَذآ ْدَمَف اًٌِّل َو ًِْل ىَداَع ْنَم
ُب َّرَمَتٌَ ْيِدْبَع ُلا َزٌَ اَم َو ِهٌَْلَع ُتْضَرَتْفا اَّمِم ىَلِإ َّبَحَأ ٍءًَْشِب
اَذِإَف ُهُّب ِحُأ ىَّتَح ِلِفا َوَّنلاِب ًََّلِإ
ِهِب ُعَمْسٌَ ْيِذَّلا ُهَعْمَس ُتْنُك ُهُتْبَبْحَأ
ًِْتَّلا ُهَلْج ِر َو اَهِب ُشِطْبٌَ ًِْتَّلا ُهَدٌَ َو ِهِب ُرُصْبٌَ ْيِذَّلا ُهَرَصَب َو
ُهَّنَذٌِْعُ َلأ ًِْنَذاَعَتْسا ْنِئَل َو ُهُتٌَْطْعَأ ًِْنَلَؤَس ْنِإ َو اَهِب ًِْشْمٌَ
Barang siapa memusuhi wali, maka ia sama saja mengajak Saya bertanding dalam pertempuran. Tidak ada yang lebih penting bagi hamba-Ku untuk mendekati-Ku lebih dari barang-barang wajib yang telah Kutentukan. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah nafilah (salat sunnah) hingga Aku senang padanya. Bila Aku cinta padanya, maka Aku menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar, menjadi matanya dengan itu ia melihat, menjadi matanya dengan itu ia memukul, dan menjadi kakinya dengan itu ia berjalan. Kalau ia memohon kepada-Ku pasti Aku beri padanya. Bila ia memohon perlindungan dari-Ku pasti Kulindungi dia. (HR Bukhariy dari Abu Hurayrah ra).
Oleh sebab itu Dia menyelamatkanmu dari kejahatan para makhluk-Nya, kemudian mendorongmu dalam kebaikan-Nya. Dengan begitu, engkau akan menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagian, kenikmat-an, semangat, damai, dan sentosa.
Para wali terdahulu pun menunaikan ibadah untuk men-dekatkan dirinya sedekat mungkin kepada Allah. Itulah yang menjadi tujuan terakhirnya. Mereka senantiasa beralih dari kehendak yang timbul dari pribadinya
21
sendiri, mengubahnya menjadi kehendak dari Allah. Itulah sebabnya mereka kemudian disebut “badal” (ber -ubah). Bagi mereka, menggabungkan kehendak dirinya sendiri dengan kehendak Allah adalah dosa. Jika mere-ka terbawa tipuan perasaannya sendiri sehingga lalai atau takut, Allah menolong mereka dengan kasih sa-yang–Nya. Allah akan mengingatkan mereka, akhirnya mereka sadar dan berlindung kepada Tuhannya. Mere-ka berlindung dari kemauan pribadinya Mere-karena menya-dari bahwa mereka tak akan mampu membersihkan di-rinya sampai sebersih mungkin dari nafsu dan kemau-an, kecuali malaikat. Para malaikat memang suci dari nafsu dan kehendak, para nabi terbebas dari kedirian, sedangkan jin dan manusia tak terlepaskan dari nafsu yang kelak menuntut pertanggungjawaban moral. Akan tetapi, meskipun manusia itu tak dapat terbebas dari nafsu, para wali mampu melemahkan nafsunya se-hingga dengan bantuan Allah, mereka mendapatkan rahmat yang menguatkan akalnya.
7. Terlepas dari ketertarikan dunia.
Perbaiki dirimu dan tinggalkan olehmu kegelisahan du-nia sesuai kemampuanmu. Nabi Muhammad saw ber-sabda, ”Lepaskan dirimu dari kebingungan urusan du -nia, sejauh kemampuanmu.“
Kalau kau mengetahui apa yang kau cari, kalau dunia kau peroleh, engkau akan menjumpai kelelahan. Kalau kau menaruh perhatian yang berlebihan pada dunia niscaya kau akan merugi. Bebaskan diri dari urusan dunia, lepaskan perhiasan dunia, lucuti pakaian hawa nafsu. Karena kesungguhan diri beribadah pada Allah adalah sebuah hidayah.
22
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (al -Baqarah: 216)
Barangsiapa menginginkan jalan menuju keridlaan Allah, maka didiklah hawa nafsumu sebelum mendidik perbuatanmu. Bersungguh-sungguhlah sampai engkau mendapat ketenangan. Jangan turuti nafsu kecuali eng-kau telah melatih nafsumu dengan pelajaran dan perila-ku baik. Dengan bersungguh-sungguh mata akan terbu-ka dan kebodohan tak aterbu-kan menghampiri kita. Hal ini membutuhkan pengikat dan waktu yang panjang, tidak datang begitu saja.
Pukullah nafsumu dengan cambuk lapar, cegahlah ke-hendaknya. Engkau harus bisa bertahan, karena nafsu hanya bisa berdusta dan tak pernah benar. Janjinya bo-hong dan Iblis adalah pentolannya. Dia tak punya ke-kuatan untuk memusuhi orang yang beriman. Allah ti-dak memberi cobaan kepadamu kecuali disana ada hik-mah dan faedah.
Kalau kau didera musibah, ingatlah dosa-dosamu. Mo-honlah kesabaran pada-Nya, perbanyak istighfar dan bertaubatlah segera. Bergaulah dengan para kekasih Allah, alim ulama, dan teman yang bila kau melihatnya ia mengingatkanmu akan Allah.
Wahai para pelanglang buana, wahai para pelancong dunia, peganglah erat-erat petunjuk-Ku, hingga sampai di tujuan, jangan kau keluar dari petunjuk, maka kau akan Kuberi petunjuk.
Bagaimana kau akan berperilaku baik, kalau tak berte-man dengan Kawan yang berperilaku sopan santun. Bagaimana kau akan menimba ilmu, kalau kau tak senang dengan gurumu.
Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, se-dangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan ra-samu bersama Tuhanmu.
23
Wahai orang muda, janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah „Azza wa Jalla karena kemaksiatan yang telah kau lakukan. Bersihkanlah kotoran dari pakaian agamamu dengan air taubat, dengan taubat yang istiqa-mah dan ikhlas. Kemudian harumkanlah pakaian aga-mamu dengan (air wangi) makrifah. Berhati-hatilah kau dengan kedudukanmu sekarang karena ke arah mana pun engkau menoleh, terdapat hewan yang buas se-dang berada di sekeliling dirimu, dan pengaruh jahat yang merusak sedang bertindak ke atas dirimu. Lepas-kanlah dirimu darinya dan kembaliLepas-kanlah hatimu kepa-da Allah „Azza wa Jalla.
Ada seseorang yang berkata, “Aku ingin menjadi salah seorang yang mencari Wajah-Nya. Hatiku telah terpan-dang ke Pintu Kedekatan dan aku telah melihat para kekasih memasukinya dan kemudian keluar memakai pakaian yang dianugerahkan oleh al-Malik, Allah Taala. Apakah balasan untuk memasukinya?”
Aku menjawab, “Hendaklah engkau korbankan seluruh dirimu. Tinggalkan segala kehendak syahwat dan sega-la rasa kelezatan. Lenyapkan dirimu di dasega-lam-Nya. Ucapkan selamat tinggal kepada segala taman surga dan segala isi kandungannya, dan tinggalkanlah ia. Ucapkan selamat jalan kepada nafsu, hawa dan tabiat-tabiat. Ucapkan selamat jalan kepada segala keinginan, baik duniawi maupun ukhrawii. Ucapkan selamat tinggal kepada setiap sesuatu dan engkau tinggalkan di belakang hatimu. Setelah itu masuklah. Engkau akan melihat apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak per-nah terlintas di hati manusia.”
24
Asas kebaikan ialah mengikuti segala perkataan dan perbuatan Rasulullah saw. Jika hati seseorang telah bersih, ia dapat melihat Rasulullah di dalam tidurnya, yang akan memberitahunya tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dijauhkan.
Seluruh dirinya akan menjadi sekeping hati dan terpisah dengan niatnya. Ia akan menjadi sebuah rahasia tanpa penyataan, satu kebersihan tanpa kekeruhan. Kulit lahirnya akan tertanggal dari dirinya, sehingga yang tinggal adalah inti tanpa kulit.
Ia akan bersama Rasulullah saw dari segi maknawi yang akan melatih hatinya dan berada di hadapannya. Tangannya berada di dalam genggaman tangan Rasu-lullah saw. Beliau akan menjadi penasihat dan penjaga pintu-Nya.
Seorang lelaki tua dalam mimpinya bertanya kepada di-riku, “Apakah yang dapat membawa seorang hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Baginya satu per mula-an dmula-an satu kesudahmula-an. Permulamula-annya ialah wara‟ dmula-an kesudahannya ialah penerimaan, penyerahan, dan tawakkal.”
Jika seseorang bersikap benar dan ikhlas dengan Tuhan, ia tidak lagi mempedulikan setiap sesuatu selain dari-Nya, siang atau malam. Wahai manusia, janganlah mengaku apa yang bukan milikmu. Esakanlah Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya.
ter-25
masuk diri sendiri. Wujud mereka adalah bersama-sama Allah pada setiap keadaan.
Orang yang menuntut kecintaan Allah namun masih di-sertai dengan kewujudan nafsu, maka ia adalah berkha-yal dan berangan-angan. Kebanyakan mereka adalah golongan mutazahhidin (pura-pura seperti orang zuhud) dan muta„abbidin (pura-pura seperti ahli ibadah).
Janganlah merasa sangsi terhadap-Nya. Jika Dia me-nunda pengabulan doa, janganlah berputus asa dalam berdoa kepada-Nya. Jika engkau tidak menerima keun-tungan apa-apa, engkau juga tidak menanggung keru-gian apapun. Jika Dia tidak memperkenankannya di du-nia, maka Dia akan memberikan gantinya di Hari Kemudian.
Selama di hatimu terdapat kecintaan kepada dunia, engkau tak akan melihat keadaan orang-orang yang saleh. Selama engkau masih meminta kepada makhluk dan mempersekutukan Allah, mata hatimu tak akan terbuka. Bersungguh-sungguhlah engkau. Engkau akan melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain.
Jika engkau tinggalkan sesuatu yang kau perhitungkan dan kau gantungkan kepada Allah Taala, bertakwa da-lam keadaan sepi atau ramai, maka Dia akan mengaru-niakanmu rezeki yang tidak disangka-sangka. Engkau tinggalkan, Dia berikan. Engkau berzuhud, Dia temukan hajatmu.
Pada tingkat permulaan adalah meninggalkan dan pada tingkat akhir adalah pengambilan. Awalnya kau tinggal-kan segala syahwat dan dunia meski hati merasa berat, dan akhirnya adalah pengambilannya.
9. Ikutilah sunnah rasul dengan penuh keimanan.
suci-26
kan Allah swt, dan jangan berburuk sangka kepadanya. Pertahankanlah kebenarannya, jangan ragu sedikitpun. Bersabarlah selalu, jangan menunjukkan ketidaksabar-an. Beristiqamahlah dengan berharap kepada-Nya. Be-kerjasamalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, dan jangan saling mendendam. 10. Mulai dari diri sendiri.
Nasihatilah dirimu, kemudian nasihatilah orang lain. Perhatikanlah dirimu, jangan mengurusi orang lain sela-ma dalam dirimu sela-masih ada sesuatu yang harus diper-baiki. Sungguh celaka, engkau mengaku tahu cara menyelamatkan orang lain! Engkau buta, bagaimana dapat menuntun orang lain? Hanya yang memiliki peng-lihatan tajam yang mampu menuntun umat manusia. Hanya seorang perenang andal yang mampu menye-lamatkan mereka dari samudera ganas. Hanya orang yang mengenal Allah swt yang dapat mengembalikan manusia ke jalan-Nya. Seseorang yang tidak mengenal-Nya, bagaimana dapat menuntun manusia ke jalan-Nya?
Hai orang-orang yang lalai! Secara terang-terangan engkau menentang Allah swt yang Maha Benar dengan bermaksiat kepada-Nya tetapi merasa aman dari siksa-Nya. Ketahuilah tak lama lagi rasa aman itu akan ber-ubah menjadi ketakutan, masa luangmu menjadi ke-sempitan, kesehatanmu menjadi sakit, kemuliaanmu menjadi kehinaan, kedudukanmu menjadi rendah, keka-yaanmu menjadi kemiskinan. Ketahuilah! Rasa aman dari siksa Allah yang akan kau peroleh di hari kiamat sesuai dengan rasa takutmu kepada-Nya di dunia ini. Sebaliknya, ketakutanmu di hari kiamat, sesuai dengan rasa amanmu dari siksa Allah di dunia.
27
Rasa rakus terhadap dunia, keinginan untuk mencari dan menumpuk-numpuk harta telah memalingkan kalian dari jalan Allah dan pintu-Nya.
Hai yang ternoda karena ketamakannya, andaikata kau bersama penghuni bumi bersatu untuk mendatangkan sesuatu yang bukan bagianmu, maka kalian semua ti-dak akan mampu mendatangkannya. Oleh karena itu tinggalkanlah rasa tamak untuk mencari rezeki yang te-lah ditetapkan maupun yang tidak ditetapkan untukmu. Apakah pantas bagi seorang yang berakal untuk menghabiskan waktunya guna memikirkan sesuatu yang telah selesai pembagiannya?
Ada empat hal yang menghapus agama kalian: a. Kamu tidak mengamalkan apa yang kau ketahui. b. Kamu mengamalkan apa yang tidak kau ketahui. c. Kamu tidak mau mempelajari apa yang tidak kau
ketahui, maka selamanya kamu bodoh.
d. Kamu mencegah orang lain untuk mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.
28
Perutmu kenyang, tetanggamu kelaparan, tetapi kamu mengaku sebagai mukmin. Imanmu tidaklah sah, jika kamu memiliki banyak makanan sisa, keluargamu telah makan, tetapi kamu tolak seorang peminta yang berdiri di depan pintumu, sehingga ia pergi dengan tangan hampa.
Jika ini kau lakukan, ketahuilah tak lama lagi kamu akan mengetahui beritamu, kamu akan menjadi sepertinya, kamu akan diusir sebagaimana kamu mengusir peminta itu ketika kau mampu memberinya.
Sungguh celaka dirimu, mengapa engkau tidak segera bangun dan memberikan sesuatu yang kau miliki de-ngan tade-nganmu sendiri. Andaikata kamu mau bangun dan memberinya sesuatu, maka kamu telah melakukan dua kebaikan, yaitu merendahkan diri kepada sang pe-minta dan berderma kepadanya. Lihatlah Nabi kita Mu-hammad saw, beliau berderma kepada peminta, meme-rah susu onta dan menjahit pakaian beliau dengan ke-dua tangan beliau sendiri. Bagaimana kamu berani mengaku sebagai pengikut beliau dan meniru perbuat-an beliau. Kamu hperbuat-anya pperbuat-andai mengaku, tetapi tidak memiliki bukti.
29
mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu, ”Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia tidak tahu, sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu, ”Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama Islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”
Thariqah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy dikenal de-ngan Thariqah Qadiriyah. Pede-nganutnya tersebar meluas di Iraq, Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Daratan Afri-ka, dan juga Indonesia.
Karya Tulis
Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy banyak menulis buku, sebagian diterbitkan dan sebagian lagi tidak. Di antara karya tulis beliau adalah
:
1. Ighatsah al-Arifin wa Ghayah Minni al-Washilin. 2. Awrad al-Jailaniy.
3. Adab al-Suluk wa al-Tawasshul Ila Manazil al-Suluk. 4. Tuhfah al-Muttaqin wa Sabil al-Arifin.
5. Jala‟ al-Khatsir fi al-Bathin wa al-Dhahir. 6. Hizb al-Raja‟ wa al-Intiha‟.
7. al-Hizb al-Kabir. 8. Du‟a al-Basmalah.
9. al-Risalah al-Ghautsiyyah.
30
11. al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq (Kitabnya yang terkenal, terdiri dari dua jilid, berisi akhlak dan adab Is-lam).
12. al-Fath al-Rabbaniy wa al-Faydl al-Rahmaniy (berisi nasihat dan petunjuk).
13. Futuh al-Ghayb.
14. al-Fuyudlat al-Rabbaniyyah. 15. Mi‟raj Lathif al-Ma‟aniy.
16. Sirr al-Asrar fi al-Tashawwuf (kitab terkenal dan nas-kahnya terdapat di perpustakaan al-Qadiriyah di Baghdad dan perpustakaan Universitas Istambul). 17. al-Thariq Ila Allah (berkaitan dengan khalwat dan
bai-at).
18. Rasail al-Syaikh Abd al-Qadir. 19. al-Mawahib al-Rahmaniyyah. 20. Hizb Abdul Qadir al-Jilaniy.
21. Tanbih al-Ghabiy ila Ru‟yah al-Nabiy (naskah ini dijum-pai di perpustakaan Vatican di Roma).
22. al-Radd „ala al-Rafidlah.
23. Washaya al-Syaikh Abdil Qadir.
24. Bahjah al-Asrar (berisi nasihat, dikumpulkan oleh Syaikh Nuruddin Abul Hasan Ali bin Yusuf al-Liqamiy). 25. Tafsir al-Quran al-Karim.
26. al-Dalail al-Qadiriyyah.
27. al-Hadiqah al-Mushthafawiyyah (terbit dalam bahasa Persi dan Urdu).
28. al-Hujjat al-Baydla‟.
29. „Umdah al-Shalihin fi Tarjamah Ghaniyyah al-Shalihin. 30. Basyair al-Khayrat.
31
32. Kimya‟ al-Sa‟adah li man Arada al-Husna wa Ziyadah. 33. al-Mukhtashar fi Ilm al-Din (dilengkapi dengan
foto-graf).
34. Majmu‟ah Khithab.
Karomah
Dalam buku manakib berbahasa Arab yang biasa di-baca masyarakat terdapat sanjungan antara lain berupa karamah Syekh Abdul Qadir al-Jailaniy.4
نم هل ةثارو هباٌث ىلع بابذلا سلجٌ لا * هنع الله ًضر ناك
يدنع بابذلا لمعٌ ءًش يأ لامف . نلذ ًف هل لٌمف . صلى الله عليه وسلم هدج
يدنع سٌلو
هتامارك نمو * ةرخلأا لسع لاو اٌندلا سبد نم
روفصع هٌلع قرذف ؤضوتٌ ةرم سلج هنا ًاضٌأ هنع الله ًضر
هب قدصت مث بوثلا لسؽف اتٌم روفصعلا رخف هٌلإ هسأر عفرف
نأ اهنمو * هترافك نلذف مثإ انٌلع ناك نإ لالو روفصعلا نع
أرف ةدهاجملاب هرمؤف . ُهَكلَسٌُل اهدلوب هتتأ ةأرما
ًلاٌحن اموٌ همأ هت
ًضر خٌشلا يدٌ نٌب تدجوو .رٌعش صرل نم لكؤٌ ًارفصم
ًف ىنعملا نع هتلؤسف . ةلولسم ةجاجد ماظع هٌف ًءانإ هنع الله
ماظعلا ىلع ةكرابملا هدٌ هنع الله ًضر خٌشلا اندٌس عضوف نلذ
تمامف * مٌمر ًهو ماظعلا ًٌحٌ يذلا الله نذإب ًمول اهل لالو
مف ةٌوس ةجاجد
لا لولأ * ءاش ام لكؤٌلف اذكه ننبا راص اذإ لا
نأ زاج ًبنل ةزجعم ناك ام لك هنلأ ًبؼ لك لاإ نلذ دعبتسٌ
ءلاضف ةمئأ اهركذ ةصملا هذهو * ًلول ةمارك هلثم نوكٌ
هنأ اهنمو * نودحٌ لاو َنوُّدَعٌُ لا ءلابن نوثدحمو ءاٌمتأ ءاملعو
صب تشوشف حٌرلا دٌدش موٌ ًف ةأدح هسلجمب رم
لامف * اهحاٌ
نع لزنف سأرلا ةعوطمم اهتلول تعلوف . اهسأر يذخ حٌر اٌ
الله مسب *لالو اهٌلع ىرخلأا رمأو هدٌ ًف اهذخأو ًسركلا
32
اهنمو * نلذ نودهاشٌ سانلاو ةٌوس تراطف * مٌحرلا نمحرلا
الله ةمحر ًمٌ ِّرلا كحلا دبع محمد ابأو ًنٌفٌرصلا رمع ابأ نأ
يدٌ نٌب انك لاال امهٌلع
هتسردمب رداملا دبع دٌسلا خٌشلا اندٌس
ؤضوتف ةئامسمخو نٌسمخو سمخ ةنس رفص ثلاث دحلأا موٌ ًف
ىمرو . ةمٌظع ةخرص خرص مث . نٌتعكر ىلصو . هبامبل ًف
نلذك ةٌناث لعف مث . انراصبأ نع تباؽف ءاوهلا ًف هبامبل ةدرفب
فال تمدل مث . هلاإس ىلع دحأ رساجتٌ ملف سلج مث . ىرخلأاب
ةل
اندٌسل انعم نإ اولامف . ؤموٌ نٌرشعو ثلاث دعب مجعلا دلاب نم
بهذ نم ائٌش انوطعؤف . هوذخ لامف . هانذؤتساف ًارذن خٌشلا
نحن امنٌب اولامف . مهانلؤسف هنٌعب بامبملاو زخ نم ًاباٌثو
مهل برع انٌلع تجرخ اذإ رفص ثلاث دحلأا موٌ نورئاس
م اولتلو انلاومأ اوبهتناف نامدمم
انلزنو . نومستمٌ اٌداو اولزنو ان
, رداملا دبع خٌشلا اندٌس انركذ ول انلمف . يداولا رٌفش ىلع
انعمسف . هانركذ نأ لاإ وه امف . انملس نإَ ًائٌش هل انرذنف
نأ اننظف نٌروعذم مهانٌأرو يداولا اتلأم . نٌتمٌظع نٌتخرص
ناو مكلاومأ اوذخ اولالو مهضعب انءاجف مهلثم مهءاج دل
ام اورظ
ءامب ةلتبم ةدرف امهنم لك دنعو نٌتٌم نٌمدمملا اندجوف انمهد دل
هنأ اهنمو* ًامٌظع ؤبن اذهل نإ اولالو . انم اوذخأ ام انٌلع اودرف
نٌمزعملا ىٌعأ دلو عرصت ةلاوم هل ناهفصأ نم لجر هءاج
يداو نم درام اذه هنع الله ًضر خٌشلا اندٌس لامف اهرمأ
* سباح همسا بٌدنرس
دبع سباح اٌ اهنذأ ًف لمف تعرص اذإف
نٌنس رشع لجرلا باؽف . نلهتف دعت لا لومٌ دادؽبب مٌمملا رداملا
ءاسإر لالو . اهٌلإ عرصلا دعٌ ملف لعف هنأ ربخأو مدل مث .
دبع دٌسلا خٌشلا اندٌس ةاٌح ًف ةنس نٌعبرأ تماد دادؽبب مٌزعتلا
ع الله ًضر ىفوت املف عرص اهٌف عمٌ لا رداملا
عرصلا علو هن
33
علوف ىرخأ
* ةلبملا ىلإ هدحو رادف ىرخأ كٌربلإا ىلإو . ًاتٌم
دامح خٌشلا ىلإ ءاج رجاتلا يدادؽبلا مٌمت نب نسحلا نأ اهنمو
ةئامسمخو نٌرشعو ىدحإ ةنس ًف امهٌلع الله ةمحر سابدلا
رانٌد ةئام عبسب ةعاضب اهٌف ماشلا ىلإ ةلفال تزهج دل لالو
نلام ذخأو تلتل ةنسلا هذه ًف ترفاس نإ لامف
ًامومؽم جرخف .
لامف . هل اكحف ذئموٌ باش وهو رداملا دبع خٌشلا اندٌس دجوف.
. ًلع نامضلاو ًامناؼ عجرتو ًاملاس بهذت رفاس هنع الله ًضر
ًسنف .هتجاحل بلج ةٌامس ًف لخدو . رانٌد ؾلؤب اهعابو رفاسف
هتبهتنا برعلا نأ ىأرف مانف . لزنملا ىتأو اهٌف ؾر ىلع ؾللأا
ةلفال ًف
دجوو ًاعزف هبتناف ةلتمف ةبرحب مهدحأ هبرضو مهولتلو
ًاعرسم مامف ؾللأا ركذتو , مللأاب سحأو , همنع ًف مدلا رثأ
دامح خٌشلاب تأدب نأ لالو دادؽب ىلإِ عجرو . ةملاس اهدجوف
. هملاك حص يذلا وهو رداملا دبع خٌشلا يدٌسو نسلأا وهف
با لامف . ناطلسلا قوس ًف دامح خٌشلا ًملف
هنإف . رداملا دبعب أد
ام لعج ىتح ةرم ةرشع عبس نٌف ىلاعت الله لؤس دملو . بوبحم
ءاجف . ًاناٌسن رمفلا نم ردل امو . ًامانم لتل نم نٌلع رِّدـُل
ةرم ةرشع عبس دامح خٌشلا لال : لالو هأدتباف ردملا دبع خٌشلل
ىلإ ةرشع عبسو ةرشع عبس ىلاعت الله تلؤس دمل دوبعملا ةزعو .
ًتٌهلا ًاٌلع خٌشلا نأ اهنمو *ركذ ام ناك ىتح نٌعبس
اندٌس راد لاخد امهٌحور الله سدل ًنٌسحلا مئانؽلا ابأ ؾٌرشلاو
ًف ًاناسنإ ادجوف . رهاطلا هرس سدل رداملا دبع دٌسلا خٌشلا
يدٌس دنع ًف عفشا ًلع خٌشلل لامف . هافل ىلع ىملم زٌلهدلا
هو هل هركذ املف رداملا دبع خٌشلا
لجرلا ىلإ اجرخف . هل هب
ءاوهلا ًف راطو . زٌلهدلا ًف ةوك نم لجرلا مامف هارشبو
لاح نع هلاؤسو هنع الله ًضر ردملا دبع اندٌس ىلإ اعجرف
هتبلسف . لجر دادؽب ًف ام لالو ءاوهلا ًف رم هنإ لامف لجرلا
ابأ خٌشلا نأ اهنمو * هل هتددر ام ًلع خٌشلا لا ولو * هلاح
لا نب نسحلا
خٌشلا اندٌس ةافو موٌ * لال ىلاعت الله همحر ةنطنط
34
جرخف هتجاح بلرتل رهسلا رثكأو رداملا دبع خٌشلا يدٌس ىلع
هتلوانف . ةئامسمخو نٌسمخو ثلاث ةنس رفص ًف هراد نم ةلٌل
حتفناف ةسردملا باب دصلو هذخؤٌ ملف ًامٌربإ
باب مث كلؽنا مث
لخدف . هفرعأ لا دلبب نحن اذإف دٌعب رٌؼ ىشم مث . نلذك ةنٌدملا
ًلإ تؤجتلاو .ملاسلاب هوردابف . ةتس هٌف اذإف طابرلاك ًاناكم
نكس رٌسٌ دعب مث . ناكملا نلذ بناج نم انٌنأ تعمسو . ةٌراس
لخدو بناجلا نلذ نم لاجر لمحٌ جرخو لجر لخد مث .
سأرلا ؾوشكم صخش
يدٌس يدٌ نٌب سلجو . براشلا لٌوط
هسبلاو هبراشو هسأر صلو نٌتداهشلاب دهعلا هٌلع ذخؤف خٌشلا
نع لادب اذه نوكٌ نأ ترمأ ةتسلل لالو . ًامحمد هامسو ةٌلاط
نحن اذإو دٌعب رٌؼ انٌشمو جرخ مث . ةعاطو ًاعمس اولامف تٌملا
ث . نلذك ةسردملا مث ةرم لوؤك حتفناف , دادؽب باب دنع
دؽلا ًف م
نٌلع لاو أرلا ًنب يأ لامف . هتبٌه ًنتعنمف أرلأ تسلج
ًضر لامف * سملأاب هنم تٌأر ام ًل نٌبٌ نأ هٌلع تمسلؤف,
امأو . ءابجنلا لادبلأا مهف ةتسلا امأو دنواهنف دلبلا امأ * هنع الله
ةلمح يذلا امأو . هتافو رضحأ تئج . مهعباسف نٌنلأا بحاص
أ رضخلا سابعلا وبؤف
هٌلع تذخأ يذلا امأو . ةرمأ ىلوتٌل هذخ
ضوع نوكٌ نأ ترمأ . ةٌنٌطنطسملا نم ًنارصنف نٌتداهشلا
ثدحأ لا نأ دهعلا ًلع خٌشلا ذخأو نسحلا وبأ لال . ىفوتملا
نأ ًلصوملا ًنٌسحلا الله دبع خٌشلا ركذو * ًاٌح مادام نلذب
ا اندٌس ىلإ ءاج ؾسوٌ رفظملا ابأ للهاب دجنتسملا ماملإا
خٌشل
نٌب عضوو هاصوتساو رهابلا هرس الله سدل رداملا دبع دٌسلا
اندٌس اهدرف مدخلا نم ةرشع اهلمحٌ ساٌكأ ةرشع ًف ًلاام هٌدٌ
خٌشلا ذخؤف . خٌشلا ىلع حلأو اهلبمٌ نأ لاإ ةفٌلخلا ىبؤف خٌشلا
خٌشلا اندٌس لامف .ًامد لااسف امهرصعو هدٌ ًف اهنم نٌسٌك
الله نم ًحتست امأ ةفٌلخلل
ًشؽف .نٌملسملا ءامدب ًنلبامت ىلاعت
35
ٌل تاماركلا نم ًائٌش دٌرأ .هنع الله
. دٌرت امو لال . ًبلل نئمط
ًف هدٌ خٌشلا اندٌس دمف . قارعلا ًف هناوأ نكٌ ملو. ًاحافت لال
ًف ًتلا خٌشلا رسكو امهادحإ هلوانف . ناتحافت اهٌف اذإف .ءاوهلا
ةفٌلخلا رسكو . نسملا ةحئار اهنم حوفت ءاضٌب ًه اذإف هدٌ
شلا اندٌس لامف .اذه ام لامف . ةدود اهٌف اذإف ىرخلأا
اهتسمل خٌ
ةفٌلخلا هب ءاج يذلا حافتلا ةصل تمدمت دلو . تدودف ملاظلا دب
مظعأو ىصحت نأ نم رثكأ هنع الله ًضر هتاماركو . خٌشلل
* ىصمتست نأ نم
Manakib Syaikh Abdul Qadir Jailani
36
maksiat, gemar belajar dan beramal tidak berkeputusan, ju-jur, dan cinta kepada ibu bapaknya.
Ceritera-ceritera dalam manaqib antara lain pada waktu masih kanak-kanak beliau tak suka bermain dengan anak-anak lain. Kekuatan jiwa batin sejak bayinya berjalan terus dalam hidup kesehariannya yang suci. Ibu dan kakek-nya memberikan didikan yang sesuai dengan bakat dan ke-dudukan sebagai seorang sufi. Ketika beliau akan bermain terdengar olehnya bisikan yang menanyakan ke mana mau pergi. Setiap mendengar suara itu beliau kembali ke pang-kuan ibunya.
Saat berumur 10 tahun beliau diperintahkan menga-ji. Sang guru meminta kepada para muridnya agar beliau diberi kelonggaran tempat untuk duduk belajar. Pada waktu itu gurunya didatangi oleh seorang laki-laki yang tidak dikenal dan menyatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy kelak akan mencapai suatu tingkatan yang tinggi dalam kebatinan dan kerohanian. Beliau hidup dan belajar di Jailan sampai usia 18 tahun. Kecerdasannya luar biasa hingga dapat menghapal lebih cepat dari lainnya. Akhirnya beliau berkelana ke Baghdad, sebuah pusat ilmu yang terkenal saat itu. Beliau berkeinginan keras untuk menam-bah pengetahuan dan meningkatkan kerohanian lewat per-gaulan dengan orang-orang suci di Baghdad.
Ibunya mengizinkannya berangkat. Bekal perjalanan yang jauh telah disiapkan, termasuk uang sebesar 40 dinar yang oleh ibunya disisipkan dalam bajunya lalu dijahit agar tak mudah hilang dan dicuri orang. Ibunya menasihati agar tidak berkata bohong kepada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun juga, meski telah diketahui bahwa anaknya sejak kecil tak pernah berdusta. Beliau bergabung dengan suatu kafilah yang akan berangkat menuju ke Baghdad.
37
baju tersayat, uang 40 dinar itu berjatuhan. Melihat hal itu hati penyamun terpesona dan menanyakan apakah sebab beliau berkata yang sebenarnya.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy menjawab bahwa be-liau telah berjanji kepada ibunya untuk tidak berkata bo-hong pada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun ju-ga. Mendengar jawaban itu pemimpin penyamun meleleh-kan air mata dan menangis karena merasa selama hidup-nya terus menerus melanggar perintah Tuhanhidup-nya, semen-tara pemuda yang dirampok tidak berani melanggar janji meski terhadap ibunya.
38
II. BANTAHAN TERHADAP BUKU MANAKIB
A. Pendahuluan
Bab ini berupa ulasan dan pembahasan orang yang tidak setuju dengan manakib dengan tinjauan dalil dari sisi yang menyebabkan ia tidak setuju. Metode pendekatannya banyak dilakukan dari segi syariah, karena pelaksanaan manakib berkaitan dengan syariah agama Islam. Pemba-hasan ini perlu disampaikan agar mereka yang setuju de-ngan manakib mengetahui dalil dan argumentasi yang di-pakai dalam membantah atau menentang pelaksanaan ma-nakib. Dari sisi ini mereka akan mengetahui permasalahan yang sering dijadikan bahan pembicaraan.
Sebagian orang melihat masalah manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy sebagai masalah serius di kalangan umat Islam. Permasalahannya terkait dengan upacara ma-nakib dan isi dari buku mama-nakib. Karena itu sebagian kaum muslimin menentangnya. Beberapa ulama tidak mene-tapkan hukumnya karena menghindari kehebohan yang ba-kal terjadi.
Meski sebagian kalangan ada yang mengecam masalah upacara manakib namun beberapa tokoh agama, kiyai, dan habaib malah menggerakkannya. Karena itu bagian ini mencoba untuk mengulas dari sisi yang tidak setuju dan menentangnya. Pembahasan di bagian ini perlu untuk dipelajari, karena menyangkut masalah hukum syariat.
dilaku-39
kan melalui kitab para ulama yang muktamad, dapat diper-gunakan pegangan hukum, yang biasa didiper-gunakan oleh orang-orang yang bermadzhab Syafii. Pembahasannya juga menggunakan kitab tasawuf yang muktabar, dianggap sah dan benar oleh para ulama, yaitu Idhahu Asraril Muqarrabin karya Sayid Muhammad bin Abu Bakar Alaydrus, seorang wali ahli makrifat; dan Syarah Hikam karya Ibnu Ibad an-Nafazi yang merupakan penjelasan terhadap kata-kata mutiara (hikam) dari seorang sufi ahli kasyaf Ibnu Athoillah as-Sakandari. Kitab-kitab tasawuf tersebut berisi uraian tentang rahasia para muqarrabin, aulia yang selalu dekat dengan Allah, dan cara-cara serta adab orang melakukan suluk agar dapat sampai (wushul) ke hadirat Ilahi.
Ada sementara orang yang mempertahankan upa-cara manakib dengan menambah dua syahadat dengan kalimat lain secara langsung menggunakan dalil dari al-Quran atau Hadits. Hal ini kurang bijaksana, sebab para pemimpin dan penganjur manakib adalah orang bermadzhab, orang muqallid, dan bukan mujtahid. Dengan menggunakan dalil hukum langsung dari al-Quran dan Hadits berarti mereka telah membuat dua langkah salah meskipun permainannya sejak semula sudah mengalami nasib sial, yaitu:
1. Sebagai orang bermadzhab atau muqallid tidak akan menggunakan dalil mengenai hukum langsung dari al-Quran atau Hadits. Dengan istinbat hukum langsung dari keduanya berarti mereka sudah memasuki bidang ijtihad dan bukan taqlid.
2. Penggunaan al-Quran dan Hadits secara langsung se-bagai dalil untuk mempertahankan manakib berarti telah memotong leher sendiri. Sebab dengan satu hadits saja beberapa isi manakib dan prakteknya akan gugur be-rantakan. Padahal ada hadits sahih yang melarangnya5:
40
ُهَف ُهْنِم َسٌَْل اَم اَذَه اَن ِرْمَأ ًِْف َثَدْحَأ ْنَم
د َر َو
Barang siapa yang mengadakan di dalam perkara kita (agama) ini sesuatu yang tidak dari agama, maka hal itu tertolak. (HR Bukhari Muslim dari Aisyah ra.)
B. Arti Manakib
Manakib adalah bentuk kata jamak dari manqobah. Menurut Imam Qurtubiy berarti sifat-sifat utama yang me-nyebabkan seseorang mendapatkan kedudukan tinggi dan mulia di sisi Allah.6 Manakib biasa diartikan riwayat hidup atau biografi terutama yang bertalian dengan orang-orang suci, para sahabat, para ulama, dan orang-orang keramat seperti Manakib Sayyidina Abi Bakr, Manakib al-Imam as-Syafiiy, Manakib as-Syaikh Abdil Qadir al-Jailaniy dan se-bagainya. Di beberapa tempat di Jawa umum mengartikan dalam hubungan dengan cerita Syaikh Abdul Qadir al-Jaila-niy.
Cerita yang baik dan mengandung sejarah kepahla-wanan, kejujuran, kesetiaan, perjuangan dan sebagainya akan memiliki pengaruh mendalam terhadap para pembaca dan pendengarnya, terutama bagi para angkatan muda. Ia merupakan guru pendidik, contoh teladan, dan pelajaran yang besar sekali manfaatnya.
Di dalam al-Quran banyak diceritakan tentang seja-rah beberapa umat masa lampau, sejaseja-rah para nabi, sejarah perjuangan antara yang hak dan batal yang berakhir dengan kemenangan bagi yang hak. Hal itu agar menjadi contoh teladan dan batu ukuran bagi yang berpikir sehat. Demikianlah Allah swt berkali-kali memperingatkan dengan firman-Nya yang serupa,
ِراَصْبَلأْا ىِلوُ ِلأ ًة َرْبِعَل َنِلَذ ًِْف َّنِإ
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
41
pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (QS Ali Imran: 13)
Cerita dan sejarah yang baik akan mendidik orang supaya berbuat baik, membimbing, dan menciptakan budi perbuatan dan hal-hal yang mulia serta berguna. Sedang-kan cerita yang buruk aSedang-kan membimbing ke arah kejahatan dan kehancuran serta keruntuhan akhlak dan budi. Karena itu angkatan muda perlu membaca dan mendengarkan ce-rita dan sejarah para pahlawannya, cece-rita perjuangan membela kebenaran, tentang budi pekerti yang baik dan sifat-sifat utama, tentang ketahanan dan kesabaran dalam penderitaan dan ujian agar dapat menjadi contoh dan pembimbing mereka ke arah manusia dalam arti yang sebenarnya.
C. Sosok Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy
Beliau adalah seorang ulama besar dan salah se-orang aulia tingkat tinggi, bahkan oleh para pengikutnya diberi gelar Sulthan al-Awliya (raja dari segala para wali). Beliau lahir 1 Ramadlan 470 Hijriyah dan wafat di Baghdad pada 11 Rabiul Akhir 561 Hijriyah.7 Makamnya berada di Baghdad dan hingga sekarang banyak dikunjungi orang Is-lam dengan bermacam-macam tujuan.
Belum dapat diketahui siapa yang pertama kali mengadakan upacara manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jaila-niy. Tetapi buku-buku manakibnya kini telah banyak ber-edar di Indonesia, dicetak dalam huruf dan bahasa Arab dengan bersyakal (tanda baca seperti tulisan dalam al-Qur-an). Ada pula yang disertai dengan terjemahan dalam ba-hasa daerah seperti Jawa dan Sunda oleh penerbitnya. Ka-rena tulisannya bersyakal, maka orang umum yang me-ngerti tulisan Arab mudah membacanya. Buku-buku mana-kib tersebut antara lain:
1. Miftah Bab al-Amaniy, Moh. Hambali Kholid,
42
rang.
2. an-Nur al-Burhaniy, Abu Lutfi Hakim dkk, Semarang. 3. Lubab al-Ma‟aniy, Abu Moh. Soleh, Juana.
4. Nail al-Amaniy, Ahmad Subhi Masyhadi, Pekalong-an.
5. Manaqib Sayyidina Abdil Qadir al-Jailaniy, penerbitan kuno oleh Salim bin Nabhan, Surabaya. 6. Qalaid al-Jawahir fi Manaqibi as-Syaikh Abdil Qadir,
ditulis tanpa syakal oleh Syaikh Muhammad bin Yahya at-Tadafiy al-Hanbaliy, tidak diketahui penerbitnya. Pada tepi buku (hamisy) terdapat kitab Futuh Ghayb berisi fatwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy.
Buku manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy berisi tentang kelahirannya, silsilah keturunannya, kehidupan dan belajarnya, guru-gurunya, cerita kekeramatannya, fat-wanya, meninggalknya, doa istighotsah atau tawasul (minta tolong kepada arwah para wali).
D. Upacara Manakib
Upacara rutin diadakan setiap tanggal 11 bulan Is-lam, yaitu tanggal bertepatan Syaikh Abdul Qadir al-Jaila-niy wafat. Di beberapa tempat di Jawa orang mengadakan pembacaan manakib pada umumnya dengan maksud du-niawi atau pelarisan misal:
1. melepas nadzar berhubung sesuatu maksudnya telah tercapai (tujuan duniawi).
2. agar dagangan atau usahanya banyak laku atau mu-dah mendapat rizki (pelarisan: Jawa).
3. menolak atau menghilangkan gangguan makhluk halus, sihir, dan sebagainya di dalam rumah atau la-innya.
al-43
Fatihah untuk Nabi saw, para sahabat, para aulia, khusus-nya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Pemimpin upacara ke-mudian membaca kasidah atau syair berlagu yang mak-sudnya memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengasih un-tuk menolong segenap kesulitan dan kesusahan para mus-limin. Bacaan bait demi bait tersebut diikuti oleh para hadi-rin sampai bait terakhir. Setelah itu baru dibaca manakib Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy secara bergantian. Ada pula yang dibaca sendiri oleh pemimpin upacara dengan irama naik turun seperti membaca al-Quran, namun ada juga de-ngan irama polos, suara biasa.
Setiap disebut nama Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy dalam bacaan itu diadakan pembacaan al-Fatihah sekali atau tiga kali, terkadang lebih menurut kesukaan tiap pe-mimpinnya. Ketika bacaan sampai pada cerita tulang belu-lang ayam yang dihidupkan kembali oleh Syaikh Abdul Qa-dir al-Jailaniy dan berkokok sambil membaca La ilaha illa-llah, Muhammadur Rasuluilla-llah, Syaikh Abdul Qadir Waliy-yullah, maka hadirin menirukan membaca kalimat tersebut tiga kali atau lebih. Arti bacaan tersebut adalah “Tiada Tu -han melainkan Allah, Muhammad Pesuruh Allah, Syaikh Abdul Qadir Wali Allah.” Demikian pembacaan diteruskan sampai selesai.
Akhirnya sampai pada bacaan istighotsah yang isi-nya mengundang para arwah suci dengan bermacam-ma-cam gelar kewalian agar mereka memberikan bantuan da-lam permohonan kepada Allah swt. Doa diucapkan dada-lam bahasa Arab dengan kata-kata yang sukar dimengerti oleh orang awam.
44
Ayam dipotong-potong selesai upacara dan dibagi-kan kepada hadirin bersama dengan nasinya. Beberapa yang hadir mengambil airnya untuk diminum. Setelah itu upacara selesai.
Ada kepercayaan sebagian orang yang hendak me-laksanakan upacara manakib, yaitu:
1. kaum wanita yang memasak makanan untuk upa-cara manakib harus suci dari haid atau menstruasi, 2. alat-alat masak khusus untuk manakib tidak hendak
digunakan untuk masak keperluan lainnya,
3. periuk dari tanah (kemaron, pengaron: Jawa) dalam keadaan masih baru, dan
4. hadirin yang mengikuti upacara manakib dalam ke-adaan berwudlu, tidak punya hadats.
Peserta upacara manakib pada umumnya memiliki kepercayaan bahwa menghadiri upacara dan membaca manakib akan mendapat pahala. Mereka menganggap upacara manakib sama dengan majelis dzikir atau majelis tahlil dalam memperoleh pahala.
Mungkin orang mengadakan pembacaan manakib ingin tafa‟ul, mendapatkan kebaikan dari Syaikh Abdul Qa-dir al-Jailaniy agar yang sedang menderita, dagangannya sedang sepi, atau nasib hidupnya buruk menjadi baik, da-gangannya laris dan sebagainya. Ibaratnya ayam yang tinggal tulang belulang pulih kembali menjadi hidup. Ini pula sebabnya dalam upacara manakib selalu dihidangkan lauk berupa ayam yang masih utuh.
E. Karamah vs Cerita Aneh
wali-45
Nya.8 Banyak para ulama yang membenarkan keberadaan keramat pada beberapa aulia. Pada beberapa sahabat pun terdapat keramat dan di antaranya diceritakan dalam hadits sahih.
Karena keramat adalah hal yang di luar kebiasaan, maka sudah tentu hal itu tidak masuk akal, tidak dapat di-tangkap oleh akal manusia. Hal ini harus disadari jika kita mengikuti aliran yang membenarkan bahwa keramat itu ada. Jadi masalah keramat an sich tidaklah menjadi pembahasan bagi kita selama tidak ada hal yang bertentangan dengan syariat. Tetapi kalau menimbulkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum, maka syariat harus ditegakkan, hukum harus bicara, dan hal yang dianggap keramat harus batal. Karena menyinggung masalah syariat, maka menyinggung pula masalah akal yakni apakah hal yang menyinggung syariat dapat diterima oleh akal atau tidak.
Mengenai hal ini Syaikh Syarafuddin bin Talmasaniy dalam syarahnya terhadap kitab Luma‟ al-Adillah fi Qawaidi Ahlissunnah karya Imam Haramain mengatakan,9
َّشلا َّنِإ
ُلْمَعْلا ُبِذْكٌَ اَمِب ُهُد ْوُر ُو ُر َّوَصَتٌَ َلاَف ِلْمَعْلاِب ُتُبْثٌَ اَمَّنِإ َع ْر
اًعَم ُلْمَعْلا َو ِع ْرَّشلا ِلْطَبِل َنِلَذِب ىَتَأ ْوَلَف ُهُدِهاَش ُهَّنِإَف
Bahwa syara‟ hanya bisa kukuh dengan akal. Karena itu mustahil kalau ada syara‟ yang bertentangan dengan akal. Sebab akal ini sebagai saksi dari syara‟. Apabila ada yang demikian maka batallah syara'‟dan akal keduanya.
Jadi fokus pembahasan bukanlah dzat keramatnya, bukan keramat an sich, tetapi hal-hal yang bertentangan dengan syariat, hal-hal yang dihubungkan dengan kekera-matan seorang wali. Karena itu perlu dipahami isi manakib atau materinya dan praktek upacaranya. Di antara isi ma-nakib adalah:
46
1. Cerita pintu madrasah
Dalam buku manakib disebutkan10:
ِباَب ىَلَع ٌمِلْسُم َّرَم اَم .... ُل ْوُمٌَ ُهْنَع ُالله ًَ ِضَر َناَكَو
ِةَماٌَِمْلا َم ْوٌَ َباَذَعْلا ُهْنَع ُالله ُهَفَّفَخ َّلاِإ ًِْتَسَرْدَم
Beliau ra pernah berkata ....”Setiap orang muslim yang melewati pintu madrasahku pasti akan diringankan siksanya oleh Allah nanti hari kiamat.
Kalimat ini menunjukkan begitu keramat Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy sampai seorang yang hanya melewati pintu sekolahnya akan mendapat keringanan siksa. Ini berarti diampuni sebagian dari dosanya. Padahal dalam agama dinyatakan bahwa mengampuni dan menyiksa seseorang adalah wewenang Tuhan semata dan bukan hak dari makhluknya. Dalam al-Quran dinyatakan:
ُءاَشٌَ ْنَمِل ُبِّذَعٌُ َو ُءاَشٌَ ْنَمِل ُرِفْؽٌَ
(Tuhan) mengampuni siapa yang dikehendak-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. (QS Ali Imran: 139)
ُالله َّلاِإ َب ْوُنُّذلا ُرَفْؽٌَ ْنَم َو
Dan tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali hanya Allah. (QS Ali Imran: 135)
Dalam doa Nabi mengucapkan11:
َتْنَأ َّلاِإ َب ْوُنُّذلا ُرِفْؽٌَ َلا ُهَّنِإَف ًِْل ْرِفْؼاَف
Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali hanya Engkau. (HR Bukhari dari Syaddad bin Aus.)
Sungguh mustahil kalau seorang ulama dan aulia
47
seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy tidak tahu atau lupa akan ayat dan hadits tersebut hingga dengan mudah mengatakan perkataan yang sedemikian itu. Dalam hati timbul pertanyaan, apa benar Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy demikian? Apa hal tersebut bukan cerita orang yang hanya hendak menyanjungnya saja? Sebab tidak dapat diterima oleh akal kalau seorang aulia berkata demikian dan tak dapat dibenarkan oleh syariat bahwa seseorang akan diringankan dosa atau diampuni hanya karena melalui pintu sebuah madrasah. Dalam al-Quran atau Hadits tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa orang yang melewati pintu masjid Nabi di Madinah akan diampuni atau diringankan siksa-nya meskipun masjid tersebut derajatsiksa-nya lebih seribu kali dari masjid lainnya, kecuali Masjid al-Haram. Dera-jat seribu kali itupun kalau orang salat di dalamnya12, ti-dak sekedar lewat saja. Ati-dakah madrasah Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy lebih mulia dari pada Masjid Nabi, atau adakah pemilik madrasah tersebut lebih tinggi de-rajatnya dari pada pemilik Masjid Nabi?
Seorang aulia tidak akan berani mendakwakan diri de-ngan hal-hal atu sifat-sifat yang menjadi hak Allah swt. Sayid Muhammad Alaydrus mengingatkan,13
ُدْبَعْلا ْرَذْحٌَْل َّمُث
ْنِم اًئٌَْش ُع ِزاَنٌُ ُه َرْظَن َحَمْطٌَ ْنَا ِرَذَحْلا َّلُك
ىَلَع اَمَف ِساَّنلا ىَلَع ًةَلاَطِإ َو اًرُّبَجَت َو اًرْبِك ِةٌَِّب ْوُبُّرلا ِتاَف ِص
ًِف ِلُهاَسَّتلا ِنَع ِةٌَِّد ْوُبُعْلا ِلاَح َزٌٌِْْمَت ْمِهِلاَمْعَأ ْنِم ُّرَضَأ ِساَّنلا
ًِْف ِل ْوُخُّدلا
ْنَأ ِدْبَعْلِل ًِْؽَبْنٌِ َلاَف ِةٌَِّب ْوُبُّرلا ِتاَف ِص ْنِم ٍءًَْش
ْنِم ِصَلَخْلا ُكٌْ ِرَط َوُه َو ٌمٌِْظَع ٌلْصَأ ُهَّنِإَف ِرْمَلأْا اَذَه ًِْف َن ِّوَهٌُ
ْمِهِبَدَأ ِنْسُح َو ْمِه ِزٌٌِْْمَت ِةَّح ِصِل ِزٌٌِْْمَّتلا ْوُذَف ىَلاَعَت ِّكَحْلا ِباَحْصَأ
َعَم
ىَلاَعَت ُّبَّرلا ِهِب َّصَتْخا اَّمِم اًئٌَْش ا ْوُب ِراَمٌُ ْنَأ َن ْوُمِفْشٌُ ْمِهِّب َر
12 Misykat al-Mashabih, hal. 67, HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurayrah ra