EDISI 04
|
JAN - APRIL 2013 1K
REDIBEL
M A J A L A H P E N G A D A A N I N D O N E S I A
LPSE Kota Bandung
Kembangkan BIMRS Sebagai Sistem
Pengelolaan Daerah yang Berintegrasi
I N O V A S I
R E G U L A S I
M A N C A N E G A R A
Blacklist, Efek Jera Pembelajaran
Bagi Penyedia dan Penerbit Jaminan
e-procurement di India
EDISI 04
|
JAN - APRIL 2013
9 772089 241131
Diterbitkan oleh :
M E N G E N A L
D A LA M KO N T R A K P E LA K S A N A A N
PROBITY AUDIT
PENGADAAN
KREDIBEL
MENGHEMAT
ANGGARAN
NEGARA
Gedung SME TOWER Lantai 8 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 94 Jakarta 12780 Indonesia Telepon : 021 - 799 1025
Mengenal
Probity Audit
dalam Kontrak
Pelaksanaan
F O K U S U T A M A
i n o v a s i
M A N C A N E G A R A
1 0
3 6
4 5
Beberapa proyek pembangunan dan pengadaan barang/jasa tidak berjalan sesuai dengan kontrak yang ditandatangani, bahkan rentan oleh praktek korupsi. Bagaimana probity audit menyelesaikan masalah ini?
UPT LPSE Kota Bandung yang berada di bawah Bappeda sudah terbentuk sejak tahun 2008 lalu. UPT LPSE Kota Bandung mengembangkan Bandung Intergrated Resources Management System (BIMRS) yang merupakan sistem pengelolaan sumber daya pemerintahan yang terintegrasi dari aktifitas birokrasi hulu sampai dengan hilir (dalam konteks belanja) dalam rangka menunjang pengelolaan keuangan daerah.
LPSE Kota Bandung
Kembangkan BIMRS Sebagai
Sistem Pengelolaan Daerah
yang Berintegrasi
Pemerintah India menghitung, dalam setahun proyek pemerintah mencapai US$156 billion atau sekitar 12-14% dari total PDB India yang mencapai US$1.217 miliar membuat proses tender yang efektif, efisien, harga terbaik dan transparan menjadi tuntutan utama di seluruh negara bagian India.
K I L A S & P E R I S T I W A
06
M E D I A W AT C H
26
R E G U L A S I
28
P E R S P E K T I F
32
TA N YA J A W A B
48
J A L A N - J A L A N
52
S E H A T
54
T O K O H B A N G S A
56
R E F L E K S I
59
R E S E N S I
61
e-procurement
di India
Mencari
Majalah Kredibel
Yth. Pengelola Majalah Kredibel dan Jurnal Pengadaan Indonesia.
Kami ingin mendapatkan Majalah Kredibel dan Jurnal Pengadaan Indonesia versi Cetak, bagaimana caranya, mohon informasinya.
Alamat kami : Jemmy Hosan, Jalan Anoa I No . 117 Palu, Sulawesi Tengah.
Terima kasih perhatiannya.
J e m m y H o s a n P a l u , S u l a w e s i T e n g a h
Yth Bapak Jemmy, terima kasih atas apresiasi bapak terhadap Kredibel. Segera kami kirim Majalah Kredibel ini ke alamat Bapak secara cuma-cuma.
Terima kasih
S U R AT P E M B A C A
Surat Pembaca dapat Anda kirimkan via email: [email protected] atau melalui fax ke 021-7996033.
@chris_epo
Selamat pagi@LKPP_RIsaya sangat mendukung Indonesia bersih dari korupsi dengan adanya E-proc
@adenatama
Sertiikasi PBJ pemerintah boleh juga kok buat yg bukan PNS kaya saya, ujiannya bisa tanya ke @LKPP_RI
@ashariabidin
Mantap, mari kita dukung penuh @ LKPP_RI 2014, LKPP Targetkan Seluruh Pengadaan lewat E-procurement
@ImigrasiID
Selamat untuk @LKPP_RI menerima penghargaan untuk kategori The Winner of Technology Leadership dari FutureGov Forum Indonesia
@ginayustisia
Alhamdulilah @LKPP_RIsy lulus Sertiikasi Pengadaan Barang Jasa Pemerintah \/ horeeeee
@andre_syafrizal
@LKPP_RI buka perwakilan lkpp di masing masing wilayah di indonesia seperti Sumatera , Kalimantan, Sulawesi ..
@41Mugi
@LKPP_RI Kapan realisasi pengangkatan Pejabat Fungsional Pengelola Pengadan Barjas...
@yusro03
@LKPP_RI sy berharap mdh2 han para penyedia barang d berikan informasi yg aktual dan valid
P e m b a c a y a n g T e r h o r m a t ,
ami berbahagia bisa kembali hadir ke hadapan pembaca sekalian, setelah sekian lama mempersiapkan edisi kali ini, melalui proses perancangan yang cukup memakan waktu terutama dalam hal pemilihan tema laporan yang hangat sehingga tak hanya mematik keinginan membaca namun bisa menjadi sebuah referensi bagi pembaca sekalian.
Kerja keras tersebut semata-mata dilakukan demi menjaga semangat Majalah KREDIBEL yang tak akan lepas dari motto LKPP, yaitu untuk mewujudkan sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah yang kredibel, transparan, dan akuntabel demi kesejahteraan bangsa.
Melalui edisi ini Majalah KREDIBEL menyajikan topik utama perihal manajemen kontrak yang kerap memancing pertanyaan hingga keluhan para peminat maupun pemenang peserta tender. Topik yang tak kalah menariknya adalah perihal penerapan daftar hitam (blacklist) terhadap perusahaan penyedia atau penerbit jaminan yang diterapkan untuk menjaga terjaminnya kualitas proyek-proyek yang dilakukan.
Akhir kata, melalui terbitan kali ini Majalah KREDIBEL
berharap mampu terus memberikan informasi dan mengedukasi masyarakat pada umumnya tentang kebijakan seputar pengadaan barang/ jasa pemerintah, sehingga dapat bersama-sama memiliki visi dan pemahaman yang sama akan pentingnya pengadaan yang bersih demi terwujudnya bangsa yang sejahtera.
Salam Pengadaan!
R . A d h a p a m e k a s Pemimpin Redaksi
D I T E R B I T K A N O L E H
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
SME Tower Lt.8 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.94
Jakarta 12780 Telp. 021-7991025 Fax. 021-7996033 www.lkpp.go.id
P E L I N D U N G
Agus Rahardjo
R E D A K T U R A H L I
Eiko Whismulyadi Himawan Adinegoro
Ikak Gayuh P Agus Prabowo Djamaludin Abubakar
P E M I M P I N U M U M
Dharma Nursani
P E M I M P I N R E D A K S I
R Adha Pamekas
R E D A K S I
R Ari Widianto Gigih Pribadi
Suharti Ratna Ayu Maruti Mustika Rosalina Himawan Giri Dahlan
F O T O G R A F E R
Tim Humas LKPP
Redaksi menerima kiriman tulisan dan foto yang relevan dengan isi majalah ini. Kirim ke [email protected] dan
dilengkapi dengan identitas diri yang jelas.
K
K I L A S & P E R I S T I W A
KPP menerima kunjungan
Delegasi dari Public Procurement and Contracting Bureau dan
Kementerian Lingkungan
Hidup Chile. Beberapa agenda dibahas dalam kunjungan kerja bilateral ini diantaranya untuk menjajaki kemungkinan kerjasama di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah seperti pembahasan pengadaan berkelanjutan (sustainable procurement) dan pertukaran informasi seputar pengadaan barang/ jasa di Chile.
Public Procurement and Contracting Bureau merupakan institusi yang berwenang dalam pengadaan barang/ jasa di Chile dan berada di bawah Kementerian Keuangan Chile. Insitusi ini telah berdiri sejak 2003 dan mulai memberikan perhatian pada pengadaan yang berkelanjutan pada 2009.
Dalam kunjungannya, mereka
menuturkan bahwa Chile telah menetapkan aturan pengadaan yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan etika. Lebih lanjut, mereka juga mengutamakan Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam kriteria
sustainability.
Terkait e-procurement, Chile juga memiliki sistem electronic supplier membership
yakni untuk semua penyedia yang telah teregistrasi sehingga dapat mengikuti lelang. Di Indonesia, Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) juga mengharuskan setiap penyedia untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu sebelum mengikuti lelang secara elektronik.
Namun perbedaan yang mendasar antara kedua sistem di dua Negara yang berbeda ini adalah jika di Indonesia, penyedia diwajibkan untuk melakukan veriikasi data sebelum mengikuti lelang sedangkan sistem di Chile sebaliknya, jika telah memenangkan suatu lelang, barulah mereka diveriikasi.
Dalam pertemuan bilateral ini dipahami bersama pentingnya memberikan edukasi baik kepada entitas pengadaan maupun kepada penyedia barang/jasa bahwa dalam
pengadaan, kualitas barang maupun
konstruksi yang ramah lingkungan adalah hal yang penting, bukan hanya sekedar harga termurah. (Gih/RAM) *
J a k a r ta
29 Januari 2013
L
Indonesia dan Chile Diskusikan
Sustainable Procurement
J a k a r ta
6 Februari 2013
L
Bina Sertifikasi Profesi LKPP
Lulus
Surveillance Audit
ISO 9001:2008
embaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah melalui Direktorat Bina Sertiikasi Profesi menyelesaikan kewajiban Sur-veillance audit ISO 9001:2008 dari Badan Sertiikasi ISO British Standards Institution (BSI).
Berdasar hasil audit, LKPP masih direkomendasikan untuk memegang ISO 9001:2008.
“Secara umum sistem masih berjalan
dan masih sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2008. Kami tidak menemukan sesuatu yang sifatnya major, meskipun ada beberapa catatan. Sehingga kami masih merekomendasikan LKPP untuk memegang sertiikat ISO 9001:2008,” kata Auditor Utama BSI, Danang Gunarto di Kantor LKPP, Selasa (06/02).
J a k a r ta
30 Januari 2013
S
61 K/ L Siap Tingkatkan Standar
Layanan LPSE
layanan LPSE telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 Pasal 111 ayat (5) dimana disebutkan bahwa LPSE wajib menyusun dan melaksanakan standar prosedur operasional serta menandatangani kesepakatan tingkat pelayanan (Service Level Agreement) dengan LKPP.
Kepala LKPP Agus Rahardjo mengatakan bentuk layanan LPSE harus terstandarisasi agar memiliki tingkat layanan yang handal.
“Tidak harus sama di seluruh LPSE, karena karakteristiknya mungkin berbeda-beda. Nantinya mungkin akan ada klasiikasi tertentu untuk setiap perjanjian tingkat layanan, seperti misalnya perjanjian tingkat layanan untuk LPSE yang transaksinya besar dan kecil,” kata Agus.
Agus berharap nantinya dengan adanya perjanjian tingkat layanan dan standarisasi layanan LPSE setiap LPSE mampu memfasilitasi pengadaan barang/jasa pemerintah secara 100%, baik melalui e-tendering maupun
e-contracting yang meliputi e-pengadaan langsung, e-penunjukan langsung dan e-swakelola.
* ebanyak 61 Kementerian dan Lembaga yang memiliki Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) menyatakan siap untuk meningkatkan standar layanan LPSE melalui penandatanganan Service Level Agreement atau Perjanjian Tingkat Layanan LPSE dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
Deputi Bidang Monitoring Evaluasi dan Sistem Informasi Ikak G. Patriastomo mengatakan perjanjian tingkat layanan memiliki tiga tujuan pokok.
“Tujuan pertama adalah memastikan kedua belah pihak memahami ruang lingkup, kewenangan dan tanggung jawab yang berkaitan dengan layanan dan pemanfaatan Teknologi Informasi di bidang e-procurement. Kedua, memastikan layanan dan pemanfaatan Teknologi Informasi di bidang e-procurement
telah sesuai dengan kebutuhan Penggunan SPSE, yang terakhir adalah sebagai acuan perbaikan layanan yang telah ada saat ini bagi penggunan SPSE,” terang Ikak dalam sambutannya di Jakarta, Rabu (06/03).
Kewajiban adanya perjanjian tingkat
Gusmelinda Rahmi (kanan) dalam proses audit surveillance.
Foto: Taufan / Humas
program sertiikasi ahli pengadaan tingkat dasar di tahun 2012.
Melalui standarisasi ISO 9001:2008, LKPP telah dijamin proses kerja sertiikasi profesi akan sesuai dengan prosedur dan instruksi kerja yang sudah ditetapkan.
Direktur Bina Sertiikasi Profesi Gusmelinda Rahmi mengatakan surveillance audit merupakan rangkaian proses yang harus dilalui untuk mempertahankan ISO 9001:2008.
“Audit dilaksanakan untuk meninjau dan memastikan kesesuaian sistem manajemen mutu yang diterapkan oleh Bina Sertiikasi Profesi LKPP dengan standar ISO 9001:2008. Kegiatan ini juga untuk meninjau keefektifan implementasi sistem manajemen mutu terhadap manual mutu, prosedur dan dokumen yang ditetapkan,” jelas Gusmelinda.
Surveillance audit BSI dilakukan dengan metode wawancara, telaah dokumen dan tinjauan lokasi kegiatan sertiikasi yang meliputi Sub Direktorat Pengelolaan Sertiikasi dan Sub Direktorat Sarana Sertiikasi.
K I L A S & P E R I S T I W A
etua Muda Pembinaan Mahkamah Agung, Widayatno Sastrohardjono,
menegaskan bahwa Layanan
Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), akan mendukung tugas pokok MA sebagai pemberi keadilan kepada para pencari keadilan.
“Adil dalam pengadaan adalah tidak adanya pembedaan perlakuan terhadap peserta lelang,” kata Widayanto dalam sambutannya di Balairung Mahkamah Agung dalam Launching LPSE Mahkamah Agung, Kamis (14/02).
Widayatno menambahkan bahwa
pengadaan barang dan jasa yang efektif merupakan bagian perbaikan pengelolaan keuangan negara.
Dalam kesempatan yang sama,
Sekretaris Utama LKPP Eiko Whismulyadi mengatakan LKPP telah melakukan berbagai
J a k a r ta
14 Februari 2013
K
LPSE Dukung Tugas Pokok MA
Hadirkan Keadilan
langkah reformasi dalam pengadaan barang/ jasa pemerintah.
Dalam bidang regulasi yakni dengan menerbitkan berbagai peraturan untuk mendukung Peraturan Presiden nomor 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah seperti Standard Bidding Document. *
J a k a r ta
7 Januari 2013
L
Keluarga Besar LKPP Lakukan
Aksi Donor Darah
embaga Kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)
menggelar aksi donor darah
bersama di kantor LKPP, Jakarta, Senin (07/01). Aksi sosial ini adalah yang pertama kalinya digelar oleh LKPP dan serentak diikuti oleh pejabat, karyawan, dan keluarga besar Darma Wanita LKPP.
Kepala LKPP Agus Rahardjo dalam sambutannya mengatakan, aksi sosial ini diharapkan dapat dilakukan secara rutin.
“Saya harap aksi donor darah ini dapat terus kontinyu dilakukan oleh LKPP, setidaknya empat kali dalam setahun,” kata Agus.
Kegiatan donor darah dimulai dari pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.
Para calon donor yang mendaftar pertama-tama dicek kesehatannya, diantara-nya Hb, setelah dinilai memenuhi syarat mereka bergiliran mendonorkan darahnya.
Kepala Biro Keuangan dan Umum Dade Nursahid AY mengatakan kegiatan donor darah berlangsung lancar dan sukses.
“Alhamdulillah, kegiatan donor darah sudah selesai dengan jumlah donor yang sukses sebanyak 56 orang. Sebenarnya ada 89 peserta yang berminat mendonorkan darahnya namun sebagian tertolak. Kebanyakan yang ditolak karena Hb-nya rendah atau terlalu tinggi,” ujar Dade.
alam proses pengadaan barang dan jasa, kontrak tentunya mempunyai peran yang sangat penting. Kontrak berfungsi sebagai pengikat komitmen pihak-pihak yang ikut serta dalam proses pengadaan barang dan jasa. Tanpa kontrak, keberlangsungan proses pengadaan barang/jasa akan berjalan tanpa pengawasan. Maka, tak heran jika penyusunan kontrak pengadaan menjadi kegiatan utama dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Pada dasarnya, kontrak pengadaan barang/jasa adalah kontrak bisnis dalam kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh pengguna dari pemerintah yang biasanya adalah kementerian, lembaga, daerah, atau institusi (K/L/D/I). Kontrak pengadaan ini disepakati oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dengan penyedia atau pelaksana swakelola. PPK sebagai pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan, bertindak mewakili K/L/D/I dalam kontrak pengadaan.
Maka, kontrak pengadaan barang/jasa pemerintah telah disepakati oleh PPK dan pihak penyedia. Kontrak pengadaan diatur dalam Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010, Standard Biding Document (SBD), dan peraturan perundangan lainnya. Perpres ini menjelaskan kontrak pengadaan secara lengkap dan mengatur standar minimal yang harus dipenuhi oleh sbuah kontrak. Perpres ini mewajibkan kontrak pengadaan dalam bentuk perjanjian tertulis.
Membahas kontrak, tentu cakupannya luas. Kontrak sendiri dapat diartikan sebagai persetujuan antara dua orang atau lebih, di mana menimbulkan sebuah kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu bagi setiap pihak. Dan seiring dengan perkembangan dan tingkat kerumitan proses pengadaan barang dan jasa, kontrak mengalami perkembangan, ditambah perkembangan pengadaan barang/jasa pemerintah ditunjang dengan kepastian hukum berupa kontrak dalam mengawal seluruh proses.
Ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas dalam tema kontrak ini, seperti Kontrak Berbasis Kinerja; Konsep probiti audit yang mendampingi proses pengadaan berjalan sesuai dengan kontrak; dan pentingnya studi kelayakan sebelum kontrak dibuat. Ketiga hal ini mempunyai keterkaitan untuk mewujudkan kinerja kontrak pengadaan yang ideal, sekarang dan kemudian hari.
KONTRAK DALAM
PENGADAAN BARANG
DAN JASA
D
>> MENGENAL PROBITY AUDIT DALAM KONTRAK PELAKSANAAN 10 15 20 22
>> KONTRAK BERBASIS KINERJA UNTUK MENJAGA KINERJA PENGADAAN
>> PENTINGNYA STUDI KELAYAKAN UNTUK MENGHINDARI SENGKETA PENGADAAN
F O K U S U TA M A
elaksanaan kontrak tanpa didampingi audit yang ketat, pasti menyisakan potensi masalah yang bakal muncul di kemudian hari. Lihat saja beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang mangkrak tak terurus, ataupun proyek pengadaan barang yang tidak tepat sasaran. Tak hanya satu atau dua kasus, melainkan belasan kasus ketidakberesan implementasi kontrak yang menyebabkan kerugian negara miliaran rupiah.
MENGENAL
PROBITY AUDIT
DALAM KONTRAK PELAKSANAAN
P
Beberapa proyek pembangunan dan pengadaan barang/jasa
tidak berjalan sesuai dengan kontrak yang ditandatangani,
bahkan rentan oleh praktek korupsi. Bagaimana probity audit
Salah satu kasus yang proses penye-lesaiannya masih bergulir sampai saat ini adalah proyek Hambalang. Ini adalah proyek pembangunan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olah Raga Nasional di daerah Hambalang, Bogor. Proyek yang dinahkodai oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga ini terpaksa dihentikan karena konstruksi bangunan yang ambles seluas seribu meter persegi.
Penghentian proyek senilai Rp2,5 triliun ini merugikan beberapa pihak, terutama negara. Taksiran kerugian negara kurang lebih Rp753 miliar dengan rincian Rp253 miliar sebagai dana pembangunan lanjutan isik, sedangkan Rp500 miliar untuk pengadaan sarana pendidikan, olah raga, dan pelatihan.
Dalam pembangunan ini, Kementerian
Pemuda dan Olah Raga mempercayakan proyek ini kepada Kerja Sama Operasional PT Adhi Karya Tbk dan PT Wijaya Karya Tbk.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan beberapa kejanggalan yang mengarah pada penyelewengan dana yang melibatkan beberapa oknum kementerian. Sampai saat ini, proses investigasi KPK tentang kasus Hambalang masih berlanjut. Terkait apakah kasus Hambalang itu adalah kasus korupsi atau tidak, tentu kita bertanya-tanya, bagaimana idealnya kontrak itu dijalani? Pengawasan seperti apa yang harus dilakukan sehingga kualitas dan eisiensi proyek terjaga, sehingga tak ada potensi kegagalan proyek?
“Jika kita melakukan apa yang disebut
probity audit, tentunya kasus seperti yang
b e r m a s a l a h
Proyek pembangunan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olah Raga Nasional di daerah Hambalang, Bogor.
F O K U S U TA M A
terjadi di Hambalang itu, tidak akan terjadi,”
ujar Kasminto, Direktur Pengawasan
Penyelenggaraan Keuangan Daerah Wilayah I BPKP.
Probity audit adalah kegiatan penilaian independen yang dilakukan untuk
memastikan bahwa proses pengadaan
barang/ jasa dilakukan secara adil, dapat dipertanggungjawabkan, dan transparan, sesuai dengan harapan publik dan ketentuan yang berlaku (Independent Commission Against Corruption, New South Wales 2005).
Tentunya, dari deinisi tersebut, kita tahu bahwa pelaksanaan probity audit
benar-benar menekankan ketaatan pada prosedur, proses, atau sistem, bukan hanya mengaudit hasil dari proses pengadaan yang telah selesai. Proses probity audit
harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip penegakan integritas, kebenaran, dan ketentuan perundangan yang berlaku.
Probity audit biasanya dilaksanakan untuk menjaga proses pekerjaan yang bersifat strategis dan melibatkan kepentingan masyarakat, proyek yang menggunakan dana masyarakat, dan proses yang berhubungan erat dengan isu politik.
Pelaksanaan probity audit dilakukan
bersamaan dengan proses pengadaan
barang atau jasa (real time audit), bukan sesudahnya. Dengan demikian, para probity auditor biasanya menggunakan teknik
probity audit yang berupa peninjauan isik, observasi, diskusi, dan wawancara tanpa mengesampingkan teknik-teknik audit yang lainnya.
Probity audit harus dilakukan sesuai dengan prinsip probity yang pada dasarnya merupakan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa, yang telah diatur dalam Perpres 54/2010. Prinsip pertama adalah eisien dan efektif, sehingga belanja pengadaan barang dan jasa bisa mendapatkan nilai yang maksimal. Kedua, proses audit harus dilakukan secara transparan, terbuka, adil/ tidak diskriminatif, dan bersaing. Ketiga, pengadaan barang dan jasa tersebut harus bisa dipertangungjawabkan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku,
dan teriakhir, harus bebas dari konlik kepentingan.
Tujuan probity audit adalah
meningkatkan integritas pelayanan publik melalui efektiitas hasil audit atas proses pengadaan barang/jasa yang berdasarkan pada peraturan dan prosedur yang ada. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan eisiensi dan efektiitas pelaksanaan pengadaan barang/ jasa secara nasional. Maka dari itu, pelaksanaan
probity audit harus mempunyai dasar hukum. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan perubahan Pada Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012.
Pelaksanaan probity audit
dilakukan bersamaan dengan
proses pengadaan barang atau
jasa (real time audit), bukan
sesudahnya. Dengan demikian,
para probity auditor biasanya
menggunakan teknik probity audit
yang berupa peninjauan isik,
observasi, diskusi, dan wawancara
tanpa mengesampingkan
teknik-teknik audit yang lainnya.
benar sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.
Sasaran ketiga, yang tak kalah penting adalah meyakinkan bahwa kuantitas, kualitas, dan harga yang diperoleh melalui proses pengadaan telah sesuai dengan ketentuan dalam kontrak serta diserahterimakan tepat waktu. Keempat, meyakinkan bahwa barang yang diperoleh telah ditempatkan di lokasi yang tepat, dipertanggungjawabkan dengan benar, dan dimanfaatkan sesuai tujuan penggunaannya. Kelima, untuk mencegah penyimpangan dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa. Dan yang terakhir adalah supaya bisa mengidentiikasi kelemahan
sistem pengendalian internal atas pengadaan barang dan jasa, sehingga sistem tersebut bisa disempurnakan.
Selain untuk memastikan proses
penyelenggaraan kegiatan sektor publik, seperti pengadaan barang atau jasa, pembangunan infrastruktur, penjualan aset, dan pemberian hibah berjalan secara baik, obyektif, dan transparan, konsep probity juga digunakan mencegah terjadinya korupsi. Kasminto menjelaskan, berbicara tentang kontrak, masalah pengadaan barang dan jasa memang paling rawan korupsi. Bahkan, menurut penelitian KPK yang sudah diaudit, 70% dari kasus korupsi terjadi dalam proses pengadaan barang dan jasa. Oleh karena itu, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), mulai memperkenalkan
probityaudit ini.
Dibandingkan negara-negara
lain, pencegahan korupsi dalam proses pengadaan barang dan jasa di Indonesia masih tertinggal. Kita ambil contoh negara-negara persemakmuran seperti Australia,
probity audit sudah bukan merupakan hal baru, benar-benar sudah diterapkan. Bahkan standar probity audit di Australia dibuat oleh badan anti korupsi mereka sendiri (ICAC). Ini cukup membedakan dengan negara-negara lain. Probity audit di australia, tidak hanya dilakukan oleh internal auditor, tapi juga termasuk BPK mereka juga melakukan probity audit. Ini dilakukan untuk proyek-proyek yang sifatnya strategis, nilainya besar, dan mempunyai dampak politis luar biasa.
Nah, ketika di negara-negara
persemakmuran, konsep probity audit cukup populer, Amerika Serikat menggunakan
pre-award audit, artinya adalah audit yang dilaksanakan sebelum kontrak ditanda-tangani. Setelah itu, audit dilakukan secara bertahap, seperti ketika pelaksanaan kontrak sebelum dibayar, setiap termin dilakukan
progress payment audit.
Praktek probity audit ini, biasanya sudah akrab dilakukan oleh negara-negara bersih korupsi. “Menurut data 2011, ada 32 negara yang skor 6 ke atas dari ranking 1-10, biasanya mereka adalah negara-negara maju yang sudah menggunakan probity dan pre-award audit,” cetus Kasminto.
a R E N A r e n a n g p o n r i a u
Probity audit sangat penting bagi proyek yang mempunyai nilai strategis, seperti proyek Hambalang, proyek pembangunan sarana PON Riau, ataupun Sea Games Palembang.
F O K U S U TA M A
Dia juga berpendapat, jika di Indonesia ingin memiliki proses pengadaan barang dan jasa yang baik dan aman, probity audit harus diterapkan. Untuk itu, tahun lalu, BPKP sudah membuat pedoman probity audit. Mereka mengharapkan supaya, seluruh internal auditor Indonesia, baik dari BPKP, Pemerintah Provinsi, dan kota, bisa menggunakan pedoman tersebut.
Internal auditor punya kewajiban untuk memastikan bahwa program atau kegiatan pengadaan barang dan jasa itu telah efektif, eisien, dan menaati peraturan. Kasminto mengharapkan internal auditor bisa melakukan audit sejak tahap perencanaan, melihat seberapa penting barang atau jasa yang akan dibeli itu harus diadakan. Jika berkaitan dengan pembangunan proyek, survei pendahuluan dan detailnya perlu diaudit sejak awal.
Bagaimana probity audit bisa men-cegah potensi penyelewengan pada proses pengadaan barang dan jasa, sehingga korupsi bisa diatasi? Dengan probity audit, kita melakukan audit di setiap tahap, dari perencanaan, persiapan, dan proses. Kasminto membenarkan bahwa probity audit sangat penting bagi proyek yang mempunyai nilai strategis, seperti proyek Hambalang, proyek
Probity mengarah pada integritas
orang-orang yang melakukan
kontrak tersebut, sehingga potensi
korupsi terkait akan penyalahgunaan
orang dengan melakukan
ketidakjujuran, tidak akan terjadi
pembangunan sarana PON Riau, ataupun Sea Games Palembang. Probity audit lebih tepat dilakukan oleh internal auditor masing-masing pihak, kementerian, provinsi, ataupun kotamadya.
Rita Berlis, Direktur Penanganan Permasalahan Hukum LKPP mengungkapkan hal yang sama. Probity audit dilakukan ketika rencana pekerjaan dibuat melibatkan masyarakat dan beberapa pihak, sehingga prosesnya transparan dan jujur. Tentunya, ini akan memperkecil kemungkinan terjadinya penyimpangan ke depan, terutama dalam proyek-proyek yang nilainya besar. “Probity
mengarah pada integritas orang-orang yang melakukan kontrak tersebut, sehingga potensi korupsi terkait akan penyalahgunaan orang dengan melakukan ketidakjujuran, tidak akan terjadi,” jelas Rita.
Probity audit memang masih hijau di Indonesia, dan BPKP giat melakukan sosialisasi pengenalan, sudah ada beberapa pihak yang siap menggunakan probity audit untuk proyek-proyeknya. Salah satu di antaranya adalah Kementerian Dalam Negeri yang meminta BPKP mengaudit salah satu proyeknya sejak perencanaan. Selain itu, Kementerian Keuangan juga sudah berencana melakukan probity audit pada 2013 ini. [K]
RITA BERLIS
EDISI 04
|
JAN - APRIL 2013 15Kontrak Berbasis Kinerja berlaku tidak hanya sampai
proses pengadaan selesai. Kontrak ini juga menjaga
pemeliharaan kinerja pengadaan.
KONTRAK BERBASIS
KINERJA
F O K U S U TA M A
B
eberapa waktu lalu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Dirjen Bina Marga berencana menerapkan Kontrak Berbasis Kinerja (KBK) untuk pelaksanaan jalan nasional di empat kota besar, Jakarta, Medan, Semarang, dan Makassar. Dirjen Bina Marga yakin, dengan implementasi KBK yang lebih sempurna, bisa menjadi salah satu solusi untuk penanganan performa jalan. Diharapkan, kerusakan jalan bisa lebih diminimalisir, kondisi jalan pun akan lebih terpelihara.Apa yang dimaksud dengan Kontrak Berbasis Kinerja? KBK atau yang juga dikenal sebagai Performance Based Contract (PBC) merupakan salah satu jenis kontrak terintegrasi yang terbentuk dari beberapa jenis kegiatan, dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan.
Ciri khas utama dari KBK adalah kinerja yang menjadi tolak ukur dalam kontrak. Setelah proyek selesai dikerjakan, tidak serta-merta tugas penyedia selesai. Tanggung jawabnya akan paripurna setelah hasil proyeknya bisa digunakan dengan baik sesuai dengan kontrak sampai batas waktu tertentu. KBK merupakan tantangan baru dalam khazanah kontrak, karena sifatnya adalah kontrak terintegrasi, yaitu penggabungan pekerjaan desain, konstruksi dan layanan yang risikonya menjadi tanggung jawab penyedia.
Secara umum, KBK diimplementasikan pada pengadaan atau pekerjaan yang berkaitan dengan konstruksi. Dengan begitu, pekerjaan konstruksi dengan KBK ini pasti meliputi desain pekerjaan, proses konstruksi, sampai layanan pemeliharaan yang dijalankan secara terintegrasi, dengan tujuan menjamin
j a l a n t o l a m b l a s
Dengan Kontrak Berbasis kinerja, kerusakan dan lambatnya perbaikan diharapkan tidak terjadi lagi. Standar perbaikan kerusakan tertuang dalam konsep kontraknya.
Foto : LKBN ANTARA M.ALI KHUMAINI.
kinerja hasil konstruksi dalam periode waktu tertentu, sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan melalui kontrak tersebut. Sampai sekarang, KBK telah digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan. Dalam proyek pembangunan jalan, kontrak antara pengguna dan penyedia tidak selesai setelah jalan jadi, melainkan berlangsung selama dibutuhkan oleh masyarakat. Idealnya, KBK berlaku antara 5-10 tahun.
Dengan KBK, penyedia akan bekerja seserius mungkin, sebab jika ada kerusakan dalam kurun 5-10 tahun setelah proyek selesai, ini akan menjadi beban bagi penyedia. Maka, mau tidak mau penyedia akan membuat jalan yang berkualitas, yang awet digunakan oleh masyarakat secara umum. Jika penyedia membangun jalan seadanya dan tidak berkualitas, maka dia akan menanggung biaya pemeliharaan yang jauh lebih mahal. KBK juga mengarah pada eisiensi, di mana penyedia hanya cukup sekali saja membangun jalan dengan kualitas yang terjamin, sehingga dia akan mengeluarkan lebih sedikit waktu dan biaya untuk memperbaiki jalan tersebut jika rusak. Pihak penyedia bertanggung jawab terhadap kualitas kinerjanya selama beberapa tahun setelah proyek selesai dibangun.
KBK bisa dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari otoritas pemegang anggaran. Pasalnya, pelaksanaan kontrak berbasis kinerja memang membutuhkan biaya yang lebih mahal di awal, di mana pengeluaran yang bersifat tahun jamak diperlukan. Keuntungannya, akan mendatangkan eisiensi anggaran di kemudian hari, sebab kinerja yang dihasilkan penyedia sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan dan terjaga.
Sebenarnya, KBK memberikan ruang bagi penyedia untuk menentukan desain bangunan dan mengerjakannya sesuai dengan cara mereka. Bahkan penyedia bisa melakukan inovasi terbaiknya supaya bisa memberikan penawaran yang lebih kompetitif kepada pengguna. Penyedia, dengan persetujuan
pengguna dan pemegang anggaran,
bisa mengerjakan perencanaan sampai pemeliharaan. Persetujuan ini merupakan pernyataan tidak keberatan dari pemilik pekerjaan (pengguna) terhadap usulan yang dibuat oleh penyedia. Dengan kemampuan inovasinya, penyedia bisa memberikan berbagai masukan dan usulan untuk proyek yang akan mereka kerjakan. Selain itu, pihak pengguna dan penyedia dapat membentuk komite ahli untuk menilai desain. Dia bakal menilai standar desain, proses konstruksi, dan layanan kinerja, sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.
F O K U S U TA M A
Tujuannya, supaya jalan,
dalam kondisi yang bagus,
sesuai dengan rencana dan
bisa difungsikan secara
optimal untuk melayani
masyarakat. Maka Kementerian
PU, melalui Bina Marga,
mengimplementasikan KBK, di
sektor pembangunan jalan
Arif Rachman
K a s u b a g Ad m i n i s t r a s i K o n t r a k I , B a d a n Pe m b i n a a n K o n s t r u k s i , K e m e n te r i a n Pe k e r j a a n U m u m ( P U ) .
Jasa Marga sejak tahun 2000 lalu dengan menerapkannya di beberapa ruas tol. Jasa
Marga ingin meningkatkan pelayanan
jalan yang baik dan bebas dari kerusakan. Sebelumnya, Jasa Marga menggunakan kontrak tradisional dan masih mengalami beberapa kendala, seperti pembaharuan dan pergantian kontrak yang harus dilakukan setiap tahun, dan deisit sumber daya manusia yang harus melakukan pengawasan pekerjaan perbaikan. Dengan KBK, Jasa Marga berharap kendala-kendala tersebut tidak lagi terjadi.
Sekarang, tidak hanya Jasa Marga yang menerapkan KBK, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sudah melakukan KBK. Oleh PU, KBK menjadi pola baru untuk mengelola pemeliharaan jalan. Arif Rachman, Kasubag Administrasi Kontrak I, Badan Pembinaan Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), menjelaskan bahwa KBK berlaku untuk jangka waktu tertentu, dengan tolak ukur layanan kinerja terhadap penggunaan jalan. “Tujuannya, supaya jalan, dalam kondisi yang bagus, sesuai dengan rencana dan bisa difungsikan secara optimal untuk melayani masyarakat,” ujarnya. “Maka Kementerian PU, melalui Bina Marga, mengimplementasikan KBK, di sektor pembangunan jalan,” ujar Arif.
Bina Marga sudah mengimplementasikan
KBK untuk pemeliharaan jalan. Arif
memberikan contoh, pengerjaan jalan di Pantura jalur Demak-Trengguli, Jawa Tengah. Ruas ini membutuhkan penanganan yang
berbeda karena kondisi tanahnya yang berbeda. Selain wilayah itu, Bina Marga juga sudah menerapkan KBK untuk pemeliharaan di Ciasem-Sukamandi, Jawa Barat, sepanjang 18,5 kilometer.
Sebelum menjalankan proyek
pembangunan jalan, pihak penyedia (dan pengguna) perlu memperhatikan adanya risiko kerusakan yang mungkin terjadi pada jalan setelah selesai dibangun nanti. Risiko kerusakan bisa berasal dari faktor eksternal seperti kondisi tanah, curah hujan, banjir, dan beban kendaraan yang lewat. Penyedia juga harus memperhatikan risiko yang bersifat lebih internal seperti kualitas pengerjaan yang tidak terjaga dengan baik. Pihak penyedia seharusnya bisa menangani risiko internal yang berada dalam kendali mereka.
i n s p e k s i j a l a n t o l
Dua pekerja menginspeksi jalan tol penghubung Bandara Ngurah Rai-Denpasar, Bali.
Foto : LKBN ANTARA NYOMAN BUDHIANA..
diukur ketebalan dan kekuatannya. Informasi tersebut diharapkan bisa membantu penyedia dalam mengerjakan proyek jalan dengan durabilitas tinggi.
Dengan mengimplementasikan KBK,
tersedia ruang terbuka bagi masyarakat untuk ikut berperan dalam mengontrol pembangunan dan pemeliharaan jalan. Apabila masyarakat menemukan adanya kerusakan, mereka bisa menginformasikan kerusakan tersebut pada PPK yang nantinya
akan diteruskan ke penyedia supaya
memperbaikinya. Apabila penyedia gagal memenuhi pelayanan sesuai dengan standar yang disepakati, dia tidak hanya harus memperbaikinya, namun dia juga akan terkena denda. Supaya informasi kerusakan jalan bisa diterima oleh pihak pengguna dengan cepat,
papan informasi tentang rujukan pengaduan kerusakan perlu dipasang. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih mudah untuk turut serta ikut mengontrol kondisi jalan.
Direktur Kebijakan Pengadaan Umum LKPP, Setya Budi Arijanta, menjelaskan bahwa KBK memang sudah diterapkan oleh Jasa Marga dan Kementerian PU. Dia setuju bahwa ke depan nanti, KBK akan menjadi prinsip hukum kontrak yang mempunyai asas kebebasan. Menurutnya, kontrak tak bisa dibatasi oleh berbagai hal, karena nyatanya kontrak bisa berkembang sesuai dengan kebutuhan lapangan. “Performance Based Contract akan terus berkembang, dan harus kita dorong untuk bisa dilakukan di lapangan,” kata Setya. Dia juga menjelaskan bahwa tahun lalu, sudah ada penerapan dua paket KBK. “Tahun ini akan ada tiga paket yang akan dijalankan,” katanya.
Pembangunan jalan yang terjaga
kinerjanya menjadi penunjang kokohnya infrastruktur kita. Dengan menggunakan KBK, kerusakan jalan akan segera diperbaiki, dan lambatnya renovasi jalan diharapkan tidak lagi terjadi. Hasilnya, kemacetan akan berkurang, waktu tempuh akan semakin eisien. Dengan begitu, tentu saja pergerakan perekonomian Indonesia akan semakin maju.
F O K U S U TA M A
eberhasilan proses pengadaan ditentukan oleh perencanaan yang tepat. Jika perencanaan hanya dibuat seadanya saja, tentu bisa menyebabkan pelaksanaan kontrak yang kacau balau. Banyak pelaksanaan kontrak yang bermasalah dari perdata atau pidana berawal dari perencanaan yang buruk. Itulah yang masih sering terjadi dalam proses kontrak pengadaan.
Contohnya, penyusunan anggaran
untuk paket-paket kegiatan kadang asal lolos dari pembahasan, sehingga kualitas dan persiapannya tidak bagus untuk dilelang. Seharusnya sebelum kontrak dibuat, ada studi kelayakan terlebih dahulu. Dalam perpres memang dikatakan perlunya melakukan analisis kebutuhan, walaupun tidak dituliskan secara detail.
Tentunya kita masih ingat kasus Hambalang yang saat ini masih berjalan. Proyek itu menghabiskan dana lebih dari Rp2 triliun. Direktur Kebijakan Pengadaan Umum LKPP Setya Budi Arijanta berpendapat bahwa untuk tahu berapa kebutuhan proyek tersebut, perlu diadakan Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan. Studi kelayakan ini penting untuk menentukan analisis kebutuhan, untuk mengukur nilai ideal dari proyek tersebut. “Proyek yang khususnya punya nilai triliunan rupiah harus didahului dengan studi kelayakan,” ujar Setya.
Setya menceritakan tentang
pengalamannya dulu ketika masih di Bappenas. Kala itu, setiap proyek yang menggunakan studi kelayakan adalah proyek yang mendapatkan dana dari luar negeri. Karena FS merupakan syarat mutlak yang diajukan ketika ingin meminjamkan dana. Penyandang dana asing pasti menagih
studi kelayakan dulu. Tidak hanya syarat dari penyandang dana, sebenarnya studi kelayakan ini akan membantu panitia atau PPK dalam menjawab masalah di pengadaan yang seringkali bermasalah karena mengabaikan proses survei kebutuhan yang sangat penting (walaupun memang prosesnya tidak mudah dan harus teliti). Ketidaktahuan pada pentingnya FS ini menyebabkan PPK sering menggunakan kontrak lama (meniru) untuk kontrak proyek baru, walaupun kebutuhannya berbeda.
Sebelum membuat kontrak, ada
beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, tentu saja pengadaan ini diperlukan apa tidak, apakah dibutuhkan oleh kantor atau kementerian untuk melayani rakyat. Kita tidak bisa mengadakan barang, tanpa mengetahui kebutuhannya secara pasti. Setelah kebutuhan ketemu, baru kita bisa tanya, siapa yang akan memenuhi kebutuhan ini, berapa jumlahnya, penyedianya dari mana, dan apakah bisa diswakelolakan? “ini semua harus tertulis di perencanaan,” ujar Setya.
Dalam membuat perencanaan,
penting bagi panitia PPK untuk merumuskan pemaketan dan spesiikasi barang yang dibutuhkan. Kedua hal tersebut sering meng-akibatkan terjadinya sengketa pengadaan. Setya mengakui, ini juga harus menjadi evaluasi bagi LKPP. Kesalahan yang sering terjadi dalam pemaketan adalah, bentuk paket yang dicampur dengan alasan eisiensi. Sebagai contoh, dalam pengadaan alat rumah sakit, pemaketan tempat tidur dijadikan satu dengan paket alat-alat kedokteran. Padahal, dua barang itu dibuat oleh produsen yang berbeda.
Dengan pemaketan yang campur aduk itu, tentu ketika panitia melakukan lelang
F O K U S U TA M A
PENTINGNYA
K
U N T U K M E N G H I N D A R I S E N G K E TA P E N G A D A A N
pengadaan, bukan produsen atau distributor yang akan ikut lelang, melainkan makelar. “Biasanya peserta lelang ada produsen, agen, distributor, reseler, dan tambah satu, makelar,” kata Setya sambil tertawa. Dan dalam pengadaan, penyedia tidak harus makelar, tapi bisa pabrik atau produsen. “Jika yang ikut lelang para makelar, jelas harga yang didapat akan lebih mahal,” imbuh Setya.
Setya juga menjelaskan, situasi ini
memang tidak sepenuhnya kesalahan
panitia lelang, sebab bisa ditanggulangi dengan adanya studi kelayakan. Jika ada studi kelayakan, mungkin makelar tidak akan menjadi pilihan utama dalam peoses lelang, karena kita bisa menggunakan pabrik atau produsen. Tanpa studi kelayakan, hasilnya bisa sangat fatal dan pemborosan yang bisa menyebabkan kerugian negara. Dalam perpres juga disebutkan bahwa penyedia bisa perorangan dan bisa perusahaan.
Pemahaman tentang tidak boleh
dipecahnya paket disebabkan karena tidak memahami Perpres 54 tahun 2010 secara lengkap. Yang dimaksud dalam Perpres 54 tahun 2010 adalah dilarang memecah paket dengan tujuan menghindari lelang. Maka, sejauh itu tidak bertujuan untuk menghindari lelang, seharusnya tidak ada masalah. Seperti yang kita tahu, strategi pemaketan sangat penting karena berkaitan dengan vendor manajemen. Dengan memecah pemaketan, pabrik atau produsen bisa mengikuti lelang, sebaliknya jika pemaketan digabung, hanya makelar yang bisa ikut lelang. “Lihat saja
proyek Hambalang, Pon Riau, dan Wisma Atlit, mereka melakukan pengadaan dengan pemaketan yang digabung,” ujar Setya.
Setya menceritakan bagaimana dia menerapkan pemaketan terpisah dalam pembangunan jalan. Dia membagi-bagi lelang pengadaan hotmix, lelang sewa alat berat, lelang pengerjaan jalan. Kontraktor hanya mengerjakan jalan saja, tidak bisa menjadi makelar. Dia mengatakan bahwa biaya untuk membuat jalan itu bisa eisien 50%, dan kualitasnya pun bagus. “Sistem pemaketan ini bisa memberikan memberikan peluang pada pengusaha-pengusaha lokal untuk ikut lelang, tidak hanya kontraktor besar saja,” kata Setya.
Sedangkan spesiikasi, akan
berhubungan dengan syarat teknis. Setya mengambil contoh ketika dia bekerja sama dengan KPU dalam pengadaan barang keperluan Pemilu 2009 lalu. Untuk pencetakan surat suara, dia melakukan survei ke seluruh percetakan di Indonesia yang bisa memenuhi syarat untuk mencetak surat suara. Dia menentukan kriteria dari sisi kualitas, kecepatan mencetak, kualitas mesin, dan kapasitas produksi. Jika tidak memenuhi standar, maka percetakan itu akan gugur. Setya menjelaskan dia sangat serius menangani pengadaan untuk pemilu ini. Tak hanya itu, dengan mengadakan FS terlebih dulu, dia bisa menghemat biaya Pemilu itu dari Rp1,7 triliun, menjadi Rp 650 miliar.
[K]
Kesalahan yang sering terjadi dalam pemaketan adalah, bentuk paket yang dicampur dengan alasan efisiensi. Sebagai contoh, dalam pengadaan alat rumah sakit, pemaketan tempat tidur dijadikan satu dengan paket alat-alat kedokteran. Padahal dua barang itu dibuat oleh produsen yang berbeda.
Foto : LKBN ANTARA NILA FU’ADI.
F O K U S U TA M A
F O K U S U TA M A
eperti halnya manajemen di dalam organisasi, Manajemen Kontrak juga meliputi proses Planning, Organizing, Actuating,
sControlling (POAC), atau
Perencanaan , Pengorganisasian, Pelaksanaan dan Pengendalian. Proses perencanaan dan pengorganisasian adalah tahap persiapan, dimana pemberi kerja harus mendeinisikan rancangan kontrak seakurat mungkin, karena rancangan ini akan termuat dalam dokumen pemilihan penyedia. Apa isi dari rancangan kontrak tersebut termuat dalam Pepres 54 beserta perubahannya, dan Standard Bidding Documents (SBD) yang menyertainnya.
Pada tahap pelaksanaan kontrak, pemberi kerja harus mengawal kontrak tersebut agar output yang dihasilkan sesuai dengan rencana. Bagian tulisan ini secara khusus mengupas tahap-tahap pelaksanaan kontrak sesuai Perpres 54 beserta perubahannya.
Dalam proses manajemen kontrak, ada beberapa tahap yang harus dilakukan. Pertama, Kelompok Kerja ULP perlu menyampaikan Berita Acara Hasil Pelelangan (BAHP) kepada PPK sebagai dasar untuk menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/ Jasa (SPPBJ). PPK perlu memeriksa kebenaran formulir isian kualiikasi.
Untuk menerbitkan SPPBJ itu, PPK harus memperhatikan beberapa ketentuan yang ada, antara lain adalah tidak ada sanggahan dari peserta. Jikalau ada, sanggahan dan bandingnya terbukti tidak benar, atau masa sanggah dan masa sanggah banding telah berakhir. Setelah itu baru SPPBJ diterbitkan paling lambat enam hari kerja setelah
pengumuman penetapan pemenang.
Meskipun ada sanggahan, SPPBJ tetap harus diterbitkan paling lambat dua hari kerja setelah semua sanggahan dan sanggahan banding dijawab.
Surat Penunjukan Penyedia Barang/ Jasa (SPPBJ) menjadi acuan dasar proses
penandatanganan kontrak. Kontrak ini ditandatangani antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dengan penyedia paling lambat empat belas hari kerja terhitung sejak SPPBJ terbit. Sebelum penandatangan kontrak, PPK melakukan inalisasi kontrak dengan memeriksa substansi, bahasa, redaksional, angka dan huruf draf kontrak.
Penandatanganan Kontrak
Tahap selanjutnya adalah penanda-tanganan kontrak. Penandapenanda-tanganan kontrak yang bernilai di atas Rp100 miliar untuk paket Pengadaan Barang/ Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Lainnya atau paket pengadaan jasa konsultasi dengan nilai diatas Rp10 miliar dilakukan setelah draf kontrak memperoleh pendapat dari ahli hukum kontrak. Selain itu, penandatanganan kontrak juga sebaiknya dilakukan setelah penyerahan jaminan pelaksanaan untuk pengadaan barang, pekerjaan konstruksi, dan jasa Lainnya yang bernilai di atas Rp200 juta, baik yang dilakukan melalui kompetisi atau dengan penunjukan langsung.
Mengenai Jaminan pelaksanaan berlaku sejak kontrak ditandatangani sampai serah terima barang/jasa lainnya, atau serah terima pertama pekerjaan konstruksi. Penyampaian jaminan pelaksanaan, dikecualikan untuk pengadaan jasa lainnya di mana aset penyedia sudah dikuasai oleh pengguna. Untuk pekerjaan yang dibiayai dengan kredit ekspor, penyerahan jaminan pelaksanaan dapat dilakukan setelah kontrak ditandatangani dan dinyatakan berlaku efektif. Maka, ketentuan jaminan penawaran untuk pekerjaan tersebut berlaku sampai dengan jaminan pelaksanaan diserahkan.
Besarnya nilai jaminan pelaksanaan adalah 5% dari nilai kontrak atau 5% dari nilai total HPS untuk penawaran yang lebih kecil dari 80% nilai HPS. Jaminan pelaksanaan
MEMAHAMI ALUR PROSES
PELAKSANAKAAN KONTRAK
Penerbitan SPJB Finalisasi Kontrak Penyedia Menyerahkan Jaminan Peaksanaan Meminta Pendapat Ahli Hukum kontrak
Nilai Barang, PK, JL > 100 M atau JK > 10 M?
Dana dalam Dok. Anggaran
Tersedia
Penyedia tidak Masuk Blacklist? SKP Cukup Ada Pemenang Cadangan PENGHENTIAN KEGIATAN Penerbitan Surat Pesanan (SP) atau Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) Penyedia Menyerahkan Jaminan Uang Muka Uji Coba Ada Uang Muka? Rencana Penggunaan Uang Muka Disetujui PPK? Perbedaan Signiikan Kondisi Lapangan dengan Kontrak? Keterlambatan Lebih dari 50 Hari? PENGHENTIAN KONTRAK Perubahan Administrasi/ Teknis? Terjadi Keadaan Kahar? Pekerjaan Telah Selesai? Hasil Pekerjaan Sesuai Spek Diterima? Apakah Barang/ Konstruksi /
Jasa Lainnya? Masa Pemeliharaan Melampaui Tahun Anggaran? Keterlambatan Pembayaran oleh PPK? Pekerjaan Dapat Dilanjutkan? Para Pihak Menandatangani
SP atau SPMK
Penyedia Menyusun Program Mutu Permohonan Pengambilan Uang Muka Permintaan Perubahan Pekerjaan Perintah Perubahan Pekerjaan Penyedia Memberitahukan PPK (max 14 hari)
Persetujuan Perubahan Capaian Output Pekerjaan Persetujuan Perpanjangan Waktu Pekerjaan Pengenaan Denda Keterlambatan Negosiasi Teknis dan Harga Inspeksi oleh Panitia/ Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak Surat Pernyataan Pekerjaan Selesai Penyerahan Jaminan Pemeliharaan Pengenaan Bunga atau Kompensasi Sertiikat Garansi Jaminan Pemeliharaan Jaminan Pemeliharaan/ Retensi Penandatanganan Berita
Acara Serah Terima
Hasil Uji Coba Penilaian Hasil Pekerjaan
Denda Keterlambatan Jaminan Uang Muka Dicairkan Jaminan Pelaksanaan Dicairkan Black List Jika Wanprestasi
Perubahan Kontrak Kontrak Tahun Jamak Penyedia Usaha Non Kecil Penyedia Jasa Konsultasi Penyedia Usaha Kecil Max 15 % dari Nilai Kontrak
Max 20 % dari Nilai Kontrak Max 30 % dari Nilai Kontrak Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak Pemeriksaan Bersama Kondisi Lapangan Inspeksi Pabrikasi Hasil Pemeriksaan Bersama Penandatanganan Kontrak Pelaksanaan Kontrak Serah Terima Pembayaran Masa Pemeliharaan Jaminan Pelaksanaan
SP atau SPMK Program mutu
Berita Acara Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y N N N N Y Penyedia yang Ditunjuk Turun ke Peringkat Berikutnya Y Pemberian Uang Muka N N N N N N N N N N Administrasi Teknis Berita Acara Adendum kontrak Adendum kontrak Perbaikan Pekerjaan Berita Acara PEMUTUSAN KONTRAK Barang
Berita Acara Serah Terima
Konstruksi Jasa Lainnya Klaim Jaminan Cukup? Masa Pemeliharaan Berakhir dengan Baik? Pengembalian Jaminan Pemeliharaan dan Pencairan Uang Retensi Pencairan Jaminan Pemeliharaan dan Pengalokasian Dana Tahun Berikutnya Pekerjaan
Selesai 100 %
Pencairan Jaminan Pemeliharaan
Serah terima Akhir Pekerjaan Tahap III
Y
Y N
N
Berita Acara Serah Terima Akhir
Permintaan Tertulis Penyerahan Akhir
Pekerjaan
Y N
D I A G R A M
A L U R P R O S E S M A N A J E M E N K O N T R A K
F O K U S U TA M A
akan dikembalikan setelah pekerjaan
dinyatakan selesai 100%. Untuk pengadaan pekerjaan konstruksi dan beberapa kegiatan pengadaan jasa lainnya, jaminan pelaksanaan dikembalikan setelah penyedia menyerahkan jaminan pemeliharaan.
Yang tak kalah penting, isi dari kontrak harus mengacu pada dokumen pengadaan beserta adendumnya yang telah ditetapkan oleh Pokja ULP dan PPK sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a. Substansi kontrak hanya dapat diubah setelah penandatanganan kontrak, jika terdapat perbedaan antara kondisi di lapangan dengan ketentuan yang tercantum di dalam kontrak. Perubahan substansi kontrak sebelum penandatanganan kontrak hanya dapat dilakukan jika ada perubahan waktu pelaksanaan pekerjaan yang melewati batas tahun anggaran.
Namun, PPK juga dapat menolak penandatanganan kontrak, jika substansi kontrak tersebut tidak sesuai dokumen yang ditetapkan olehnya pada saat persiapan. Selanjutnya PPK dapat meminta kepada PA untuk menyatakan pelelangan gagal. Hal ini mengacu kepada pasal 83 ayat (3) huruf f, dimana PA/KPA menyatakan pelelangan, seleksi, atau pemilihan langsung gagal karena pelaksanaannya tidak sesuai dengan dokumen pengadaan.
Kontrak hanya dapat ditandatangani jika anggaran untuk kegiatan tersebut disahkan dalam jumlah yang cukup untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan. Kondisi ini dikecualikan untuk pekerjaan yang menggunakan kontrak tahun jamak. Untuk kontrak tahun jamak, anggaran yang disahkan hanya sebesar alokasi anggaran untuk tahun pertama. Sedangkan kepastian alokasi anggaran pada tahun berikutnya sudah dituangkan sebelumnya dalam persetujuan Menteri Keuangan/ Kepala Daerah/ Kepala Lembaga/ Menteri yang terkait.
Dalam hal masa berlaku jaminan penawaran Penyedia sudah habis sementara
kontrak belum dapat ditandatangani
karena hal tersebut, maka Penyedia dapat mengundurkan diri tanpa dikenai sanksi. Jika Penyedia bersedia memperpanjang penawarannya sampai dengan anggaran untuk kegiatan tersebut disahkan, maka jaminan penawaran yang akan berakhir harus
segera diperpanjang sampai dengan tanggal perkiraaan pengesahan dokumen anggaran. Perpanjangan jaminan hanya dapat dilakukan sebelum jangka waktu berlaku jaminan tersebut berakhir.
Pelaksanaan Kontrak
Setelah kontrak ditandatangani, PPK
menerbitkan surat pesanan
selambat-lambatnya empat belas hari sejak tanggal penandatanganan kontrak untuk pengadaan barang, dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) untuk pekerjaan konstruksi dan jasa. Untuk pengadaan pekerjaan konstruksi dan jasa, penyedia menyusun program mutu yang nantinya akan dibahas dan disepakati dalam rapat persiapan pelaksanaan kontrak.
Untuk Pengadaan Barang, PPK atau Tim inspeksi yang dapat melakukan inspeksi atas proses pabrikasi barang/peralatan khusus. Jadwal, tempat dan ruang lingkup inspeksi harus sesuai dengan ketentuan dalam Kontrak. Jika terdapat perubahan dari rencana semula, dilakukan perubahan kontrak. Biaya pelaksanaan inspeksi termasuk dalam harga Kontrak.
Pemberian Uang Muka
Pemberian uang muka bukan merupa-kan kewajiban PPK tetapi merupamerupa-kan pilihan. Apabila PPK sudah mencantumkan ketentuan pemberian uang muka pada
rancangan kontrak yang ada dalam
dokumen pengadaan, maka Penyedia
berhak mendapatkan uang muka pada saat pelaksanaan pekerjaan. Namun bila PPK tidak mencantumkan ketentuan pemberian uang muka dalam rancangan kontrak, maka Penyedia tidak dapat menuntut pemberian uang muka.
muka bisa 20% dari kontrak tahun pertama atau 15% dari nilai kontrak, sesuai dengan Pasal 88 ayat 2 Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012.
Pengembalian uang muka
di-perhitungkan berangsur-angsur secara proporsional pada setiap pembayaran prestasi pekerjaan dan paling lambat harus lunas pada saat pekerjaan mencapai prestasi 100%. Untuk kontrak tahun jamak, nilai jaminan uang muka secara bertahap dapat dikurangi sesuai dengan pencapaian prestasi pekerjaan.
Perubahan Kontrak
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan perbedaan yang signiikan antara kondisi lokasi pekerjaan saat pelaksanaan
dengan gambar dan spesiikasi yang
ditentukan dalam dokumen kontrak, maka PPK bersama Penyedia dapat melakukan perubahan Kontrak sesuai ketentuan pasal 87 ayat (1) Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012. Perubahan kontrak yang disebabkan oleh masalah administrasi dapat dilakukan sepanjang disepakati oleh kedua belah pihak (Pasal 87 ayat (5)).
Perubahan kontrak dapat dilakukan untuk pekerjaan yang menggunakan kontrak harga satuan, mengingat volume pekerjaan tidak bersifat mengikat. Dengan demikian perubahan hanya dapat dilakukan terhadap besaran volume dari setiap pekerjaan, sedangkan harga satuan tidak dapat diubah karena yang bersifat mengikat. Perubahan kontrak dilakukan dengan mengalikan perubahan volume dengan harga satuan yang telah ditetapkan dalam daftar kuantitas dan harga.
Pekerjaan yang menggunakan
kontrak lumpsum tidak bisa mendapatkan penambahan atau pengurangan volume, baik terhadap suatu item pekerjaan tertentu maupun keseluruhan pekerjaan. Namun perubahan pada kontrak lumpsum dapat dilakukan jika terjadi perubahan lingkup pekerjaan karena adanya perubahan kondisi lapangan yang tidak dapat diperhitungkan
sebelumnya. Perubahan ruang lingkup
tersebut diperkenankan bila sesuai dengan pencapaian output pekerjaan yang telah ditetapkan.
terjadinya keadaan kahar, maka kinerja yang telah tercapai sesuai dengan kontrak awal, harus diperhatikan. Pengurangan kontrak dilakukan secara proporsional terhadap kinerja yang harus dipenuhi. Hal itu dapat dilakukan jika penghentian kontrak diatur dalam kontrak. Bila tidak, maka kontrak harus direnegosiasi dan disepakati dengan berita acara dan hasilnya dituangkan dalam adendum. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerugian negara.
Namun, jika terjadi keadaan kahar, dan pekerjaan masih dapat dilanjutkan hingga selesai sebagaimana ketentuan dalam kontrak, PPK berdasarkan pertimbangan yang layak dan wajar dapat memberikan perpanjangan waktu pelaksanaan pekerjaan. Persetujuan perpanjangan waktu ditulis dalam adendum kontrak. Sedangkan jika kahar terjadi namun pekerjaan tidak dapat dilanjutkan lagi, PPK dan penyedia sepakat untuk melakukan perubahan capaian output pekerjaan. PPK pun wajib membayar penyedia sesuai dengan prestasi pekerjaan yang telah dicapai.
Serah Terima
PPK menerima penyerahan pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Kontrak. Penyedia yang telah menyelesaikan pekerjaan tersebut mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK untuk penyerahan hasil pekerjaan. Kemudian, PPK menugaskan pejabat penerima hasil pekerjaan untuk menilai kesesuaian hasil pekerjaan dengan kontrak.
Suatu pekerjaan konstruksi dinyatakan selesai ketika dinyatakan sudah sesuai dengan spesiikasi yang tercantum didalam kontrak dan diserahterimakan dari penyedia kepada PPK setelah mendapat persetujuan Pejabat Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP), yang dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST). Pekerjaan dianggap selesai setelah BAST ditandatangani para pihak yang berwenang.
Pembayaran
A W A R D
atau penyerahan sertiikat garansi. Khusus untuk pekerjaan konstruksi atau pekerjaan jasa lainnya yang membutuhkan pemeliharan, kontrak dinyatakan berakhir setelah masa pemeliharaan berakhir.
Pembayaran prestasi kerja diberikan kepada penyedia setelah dikurangi angsuran pengembalian uang muka, dan denda apabila ada, serta pajak. Selain itu, pembayaran bisa dilakukan secara bertahap sesuai capaian pekerjaan yang diukur dengan kontrak. Pembayaran per tahap untuk pekerjaan konstruksi yang sudah memiliki konsultan atau tim pengawas pada saat pelaksanaan pekerjaan tidak harus ditandatangani oleh PPHP pada BAST per tahap kegiatan tersebut. Sedangkan untuk pengadaan barang yang dilakukan per termin atau berdasarkan
monthly certiicate, PPHP menandatangani BAST setiap kali dilakukan penyerahan barang. Jika terjadi keterlambatan pembayaran oleh PPK maka dikenakan bunga atau kompensasi. Untuk pekerjaan yang dinyatakan terlambat, maka pembayaran prestasi dilakukan setelah dikurangi dengan denda yang dikenakan.
Dalam hal kontrak tahun tunggal yang penyelesaian pekerjaannya terlambat dan telah melewati tahun anggaran, pembayaran pekerjaan tidak dapat dilakukan setelah tahun anggaran berjalan berakhir, maka harus segera dilakukan pemutusan kontrak.
Masa Pemeliharaan
Setiap pekerjaan konstruksi harus memiliki jaminan pemeliharaan berapa pun besar nilai pekerjaan tersebut. Untuk jasa lainnya, permintaan jaminan pemeliharaan tergantung sifat dan ruang lingkup pekerjaan.
Dalam hal ini, jika penyedia tidak menyerahkan jaminan pemeliharaan, maka PPK melakukan retensi pembayaran sebesar 5% yang seharusnya dibayarkan kepada penyedia untuk membiayai risiko selama masa pemeliharaan. Retensi dijadikan salah satu pilihan jika masa pemeliharaan berakhir sebelum tahun anggaran berkenaan berakhir. Hal ini dikarenakan sulitnya pengembalian retensi tersebut setelah tahun anggaran dinyatakan berakhir. Pejabat pengadaan tidak dapat menghilangkan ketentuan jaminan pemeliharaan untuk pekerjaan konstruksi atau jasa lainnya, walaupun nilainya di bawah Rp200 juta.
Penghentian dan Pemutusan Kontrak
Penghentian Kontrak dilakukan dalam dua kondisi, yaitu pekerjaan sudah selesai atau terjadi keadaan kahar. Dalam situasi kahar, maka PPK wajib membayar kepada penyedia sesuai dengan prestasi pekerjaan yang telah dicapai. Pembayaran dilakukan setelah ‘kriteria pekerjaan yang dinyatakan selesai (100%)’ pada kontrak awal disesuaikan dengan kondisi setelah terjadi keadaan kahar atau kondisi sebelum dilakukan penghentian kontrak.
Ada sanksi yang harus diterima oleh penyedia, yaitu: Jaminan pelaksanaan dicairkan, sisa uang muka harus dilunasi oleh penyedia. Selain itu penyedia barang dan jasa wajib membayar denda keterlambatan
terhadap bagian kontrak yang telat
berdasarkan ketentuan dalam kontrak. Yang terakhir biasanya paling tidak diinginkan oleh penyedia, yaitu dimasukkan ke dalam daftar hitam.
Untuk memutuskan kontrak, PPK
tidak perlu menunggu sampai nilai denda mencapai 5% jika penyedia dinilai tidak mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan meskipun atau dari penyedia sama sekali tidak menunjukkan itikad baik. Selanjutnya, penyedia tersebut dinyatakan wanprestasi. Setelah memberikan teguran PPK bisa memutuskan kontrak secara sepihak dan mengenakan sanksi black list. Supaya lebih jelas, kondisi dan tahapan pengenaan sanksi dituangkan di dalam kontrak.
Namun jika menurut pertimbangan PPK, penyedia barang atau jasa akan mampu menyelesaikan keseluruhan pekerjaan maka penyedia diberi kesempatan sampai dengan lima puluh hari sejak masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan untuk menyelesaikan
pekerjaan, dengan dikenakan denda
keterlambatan sebesar seperseribu dari nilai kontrak atau nilai bagian kontrak untuk setiap hari keterlambatan.
Perihal pemutusan kontrak yang
disebabkan oleh kesalahan PPK, seperti
penyimpangan prosedur, melakukan
KKN, melanggar persaingan sehat dalam pelaksanaan pengadaan, maka PPK harus dituntut ke pengadilan untuk dikenakan sanksi berdasarkan peraturan perundang-undangan. [K]
Kementerian
Pertahanan Luncurkan
Pengadaan Secara
Elektronik
Kementerian Pertahanan meluncurkan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) untuk mewujudkan transparansi
dalam pengadaan barang dan jasa.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro
mengingatkan penerapan sistem LPSE
tentunya harus dipersiapkan secara baik, mulai dari pembangunan dan penyiapan infrastruktur serta sarana pendukung sampai dengan pemenuhan aturan/ syarat-syarat dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. “Hal ini menjadi perhatian serius bagi setiap pimpinan di jajaran Kemhan dalam rangka mewujudkan pengadaan yang kredibel serta secara administratif, teknis dan akuntabel dapat dipertanggungjawabkan. Disamping itu tentunya perlu diadakan pelatihan bagi anggota untuk pengawakan pelaksanaan LPSE,” kata Menhan.
BISNIS.COM, 15 April 2013
Kejari Libatkan LKPP
Dalam Kasus Korupsi
RSUD
Kejaksaan Negeri Bekasi, Jawa Barat,
akan melibatkan Lembaga Kebijakan
memastikan kerugian negara atas dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan rumah sakit umum daerah setempat. “Pelibatan LKPP adalah upaya kami dalam pengembangan dugaan kasus itu,” ujar Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Bekasi, Semeru.
IND-ONE-SIA.COM, 3 April 2013
Siapkan Logistik
Pemilu, KPU Gandeng
LKPP
Komisi Pemilihan Umum (KPU)
menggandeng Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk melakukan proses pengadaan barang dan jasa keperluan Pemilu 2014 mendatang.
LKPP nantinya bertugas memberikan
pendampingan selama pelaksanaan pemilu hingga memberikan harga perkiraan sendiri (HPS) untuk keperluan pengadaan logistik pemilu. “Misalnya, pengadaan paket surat suara.
Pada 2004 lalu, KPU hanya bekerja sama dengan satu perusahaan pencetak kertas suara. Lalu pada 2009 kita bagi ke dalam beberapa region, sehingga memudahkan proses distribusi juga,” kata Kepala LKPP
Agus Rahardjo usai penandatanganan
MoU tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah antara LKPP dan KPU.
R E G U L A S I
Blacklist
Efek Jera Pembelajaran Bagi
Pen
yedia dan Penerbit Jaminan
Q R c o d e
b l a c k l i s t
Scan QR Code berikut menggunakan ponsel anda untuk membuka tautan laman web LKPP yang akan menampilkan daftar perusahaan -perusahaan yang telah di-blacklist.*
lacklist adalah suatu sanksi yang diberikan sebagai efek jera
dan pembelajaran terhadap
perusahaan penyedia atau penerbit jaminan. Blacklist diberikan harus melalui pertimbangan yang objektif dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut Direktur Monitoring dan Evaluasi Riad Horem, jika kita bicara soal blacklist, harus terlebih dahulu melihat ilosoinya. Blacklist awal-nya adalah sebagai efek jera agar perusahaan yang terkena blacklist
tidak melakukan kesalahan seperti sebelumnya. Sebenarnya, sebelum
blacklist, hukuman sudah diberikan terlebih dahulu misalnya pemutusan kontrak, jika ada kelebihan pembayaran termin harus dikembalikan, uang muka dikembalikan, jaminan pelaksanaan dicairkan. “Hal itu sebenernya sudah termasuk hukum-an,” kata Riad Horem.
Dalam Perka LKPP Nomor 7 Tahun 2011 dijelaskan tentang deinisi daftar hitam, yaitu daftar yang memuat identitas Penyedia Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang dikenakan sanksi oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran berupa larangan ikut serta dalam proses pengadaan barang/ jasa diseluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya.
Setidaknya ada tiga hal menyangkut
blacklist yang tergambar dari deinisi tersebut, yaitu: 1). Subjek yang dapat dikenakan sanksi
blacklist adalah Penyedia Barang/Jasa (baik berupa badan usaha maupun perorangan) dan Penerbit Jaminan (Bank Umum, Asuransi atau Perusahan Penjamin); 2). Subjek yang
mempunyai kewenangan mengenakan
sanksi blacklist adalah Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran; dan 3). Subjek yang dikenakan sanksi blacklist dilarang ikut serta dalam proses pengadaan barang/ jasa diseluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya. Pengenaan blacklist tersebut dapat dilakukan pada tahap proses pemilihan barang/jasa (proses pelelangan/tender) maupun pada tahap kontrak.
Blacklist ini tergantung pada etika kedua belah
pihak yang sudah
atau akan melakukan kontrak. Ini harus sesuai
dengan aturan yang bisa
membatasi kedua belah pihak. Ketika aturan ini dilaksanakan, namun tidak bisa terlaksana dengan baik. Tentunya harus dipikirkan dan dicari jalan keluarnya. Contoh: dalam proses pengadaan barang, yang dipilih adalah badan usaha yang dipercaya, secara harga dan kemampuan. “ ini terlebih dahulu dilakukan seleksi sehingga dia bisa ditunjuk sebagai pemegang kontrak nanti,” tutur Riad Horem.
Jka sudah ada yang terpilih, bisa dilakukan kontrak kedua belah pihak yakni pengguna dan pemberi jasa. Ada tiga yang dijamin di dalam kontrak tersebut. 1. Mengendalikan kualitas 2. Mengendalikan waktu pelaksanaan 3. Mengendalikan uang. Ini merupakan tiga bentuk yang membayangi kontrak. “Inilah sejarah sebelum dilakukan pemutusan kontrak dan blacklist diberlaku-kan,” kata Riad.
Menurut Riad Horem, perusahaan yang melanggar pun tidak semata-mata langsung di lakukan blacklist. Contoh, jika perusahaan yang mengerjakan proyek tidak sesuai dengan waktu pengerjaan yang diberikan, ini layak diberikan teguran. “Jika sudah dilakukan teguran berulang masih saja tidak melakukan perbaikan, ini wanprestasi,” kata Riad Horem.
Kualitas dan waktu sangat
memperngaruhi terjadinya blacklist.
Perusahaan tidak memberikan kualitas
B
Riad Horem
R E G U L A S I
hasil kerja yang sesuai dengan kontrak dan waktu pengerjaan yang diberikan molor dan tidak sesuai. Jika semua ini tidak dipatuhi sesuai dengan kontrak, perusahaan ini layak diberikan peringatan pertama, peringatan kedua, peringatan ketiga. Jika peringatan-peringatan ini tidak digubris, bisa dilakukan pemutusan kontrak. Pemutusan kontrak ini
D E R M A G A T I D A K B E R F U N G S I
Sebuah perahu melintas di dekat dermaga Pelabuhan Nangakeo, Ende, NTT yang tidak berfungsi lagi karena kerusakan dan belum tersentuh perbaikan.
bisa dilakukan secara sepihak.
Deputi Bidang Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia LKPP Agus Prabowo menjelaskan, awalnya untuk menyempurnakan peraturan kepala LKPP mengenai metode blacklist, pihaknya belajar pada pengalaman lembaga lain seperti Bank Dunia dalam menerapkan blacklist terhadap
pengusaha. Bahkan, katanya, blacklist dari Bank Dunia ada yang diberlakukan seumur hidup, misalnya karena terkait korupsi.
Pengenaan sanksi pencantuman dalam daftar hitam (blacklist) secara eksplisit telah diatur melalui Peraturan Kepala (Perka) LKPP Nomor 7 Tahun 2011 tentang Petunjuk Teknis Operasional Daftar Hitam. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)
yang dibentuk berdasarkan Peraturan
Presiden Nomor 106 Tahun 2007 merupakan satu-satunya lembaga pemerintah yang mempunyai tugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.
Sebagai contoh, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah memasukkan 12 kontraktor ke dalam daftar hitam (blacklist) di Layanan Pelelangan Sistem Elektronik (LPSE). Artinya, par