MENTERIPERHUBUNGAN
REPUBLIK
INDONESIA
PERA'fURAN M ENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOM OR PM . 2 TAHUN 2013
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN DAN PENCAPAIAN STANDAR PELAYANANM INIM ALBIDANG PERHUBUNGAN
DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 8 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang f>edoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan M inimal, serta Pasal 9 ayat (3) da:l Pasal 12 ayat (4) Peraturan M enteri Perhubungan Nomor PM . 81 Tahun
2 0 1 1 tentang Standar Pelayanan M inimal Bidang
Perhubuugan Daerah Provinsi dan Daerah
Kabupaten/Kota, perlu rnenetapkan Peraturan M enteri Perhubul1gan tentang Petunjuk Teknis Penerapan dan
Pencapaian Standar Pelayanan M inimal Bidang
PerhubLi.ngan Daerah Provinsi dan Daerah
Kabu paten/ Kota;
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pcmerintahan Daerah (Lembarun Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah teral<:hir ctengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Tambahan Le1l1haran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
2. Undang-Undang Nomor 17 1'ahun 2008 t.entang
Pelayaraa (Lembaran Negara Republik Indonesiu. Tahun 2008 NomoI' 64, Tambahan Lembaran Negara Rcpublik Indonesia Nomor 4849);
3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 t.entang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara
4. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang
Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar
Pelayanan M inimal (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Pemerintahan Daerah
KabupatenjKota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
6. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 ten tang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011;
7. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011;
8. Peraturan M enteri Perhubungan Nomor KM . 60 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan;
9. Peraturan M enteri Perhubungan Nomor 81 Tahun
2011
tentang Standar Pelayanan M inimal BidangPerhubungan Daerah Provinsi dan Daerah
KabupatenjKota (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 560);
PERATURAN M ENTERI PERHUBUNGAN TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN DAN PENCAPAIAN
STANDAR PELAYANAN M INIM AL BIDANG
PERHUBUNGAN DAERAH PROVINSI DAN DAERAH
KABUPATENjKOTA.
Pelayanan M inimal Bidang Perhubungan yang dalam Peraturan M enteri ini terdiri atas:
a. petunjuk tek.'1.is standar pelayanan minimal
perhubungan daerah provinsi dan
kabupatenjkota sebagaimana tercantum
Lampiran I yang merupakan bagian yang
terpisahkan dari Peraturan M enteri ini; dan
b. penyusunan laporan teknis tahunan kinerja
penerapan dan pencapaian standar pelayanan
minimal bidang perhubungan daerah provinsi dan daerah kabupatenjkota sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan M enteri ini.
Pasal2
Petunjuk teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dipergunakan oleh Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah KabupatenjKota dalam penerapan dan
pencapaian standar pelayanan minimal bidang
perhubungan daerah provinsi dan daerah kabupatenjkota yang dilaksanakan secara bertahap.
Ketentuan mengenai petunjuk teknis penerapan dan
pencapaian standar pelayanan minimal bidang
perhubungan daerah provinsi dan daerah kabupatenjkota jenis pelayanan dasar sumber daya manusia diatur lebih lanjut dalam Peraturan M enteri tersendiri.
Pasal4
Peraturan M enteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan M enteri 1m dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 8 Januari 2013 M ENTERIPERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
Diundangkan di Jakarta
pacta tanggal10 Januari 2013
M ENTERI HUKUM DAN HAK ASASI M ANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd
AM IR SYAM SUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOM OR 73
UM AR S SH M M M H
LAM PIRAN I .
PERATURAN M ENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOM OR PM . 2 TAHUN 2013
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN DAN PENCAPAIAN STANDAR
PELAYANAN M INIM AL BIDANG PERHUBUNGAN DAERAH
PROVINSI DAN DAERAH KABUPATENjKOTA
PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN DAN PENCAPAIAN STANDAR PELAYANANM INIM AL BIDANG PERHUBUNGAN
DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATENjKOTA
A. PETUNJUK TEKNIS STANDAR PELAYANAN M INIM AL BIDANG
PERHUBUNGAN DAERAH PROVINSI
a. Jaringan Pelayanan Angkutan Jalan
1) Pengertian
a) Angkutan adalah perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan umum di ruang lalu lintas jalan.
b) Angkutan Umum adalah angkutan orang menggunakan kendaraan umum dengan dipungut bayaran.
c) Jaringan Jalan adalah serangkaian simpul danj atau ruang kegiatan yang saling terhubungkan untuk penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan.
Tersedianya angkutan umum yang melayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan Provinsi adalah prosentase jumlah jaringan jalan provinsi yang telah terlayani oleh angkutan umum terhadap jumlah total jaringan jalan dalam suatu provinsi.
Nilai capaian tersedianya angkutan umum yang melayani wilayah yang tclah tersedia jaringan jalan unt.uk jaringan jalan provinsi dihitung dengan menggunakan rumus
se bagai beriku t:
% Pelayanan Angkutan Jalan
b) Pem bilang
Jaringan jalan yang telah terlayani oleh angkutan um um dalam suatu provinsi.
c) Penyebut
Jum lah total jaringan jalan dalam suatu provinsi.
d) Ukuran/konstanta
Persen (% ).
a) Data jaringan jalan dari Kem enterian Pekerjaan Um um ; b) Data jaringan jalan dari Dinas Pekerjaan Um um Provinsi; c) Data angkutan um um dari Kem enterian Perhubungan; d) Data angkutan um um dari Dinas Perhubungan Provinsi.
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Undang-Undang Nom or 38 Tahun 2004 tentang Jalan; c) Peraturan Pem erintah Nom or 41 Tahun 1993 tentang
Angkutan Jalan; dan
d) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Um um .
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya angku tan um um yang m elayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan provinsi pada tahun 2014
adalah 100 % .
a) Identifikasi jaringan jalan provinsi;
b) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan um um ; c) Analisis kebutuhan angkutan um um ;
d) Penyusunan rencana pengem bangan layanan angkutan um um ; dan
e) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan um um .
a) Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ruang lalu lintas, term inal, dan perlengkapan jalan m eliputi m arka, ram bu, alat pem beri isyarat lalu lintlil-s, alat
pengendali dan pengam an pengguna jalan, alat
pengawasan dan pengam anan jalan, serta fasilitas pendukung.
b) Term inal adalah pangkalan kendaraan berm otor um um
yang digunakan untuk m engatur kedatangan dan
keberangkatan, m enaikkan dan m enurunkan orang danj atau barang, serta perpindahan m oda angkutan.
c) Term inal Penum pang Tipe A adalah term inal yang berfungsi m elayani kendaraan um um untuk angkutan antarkota antarprovinsi danj atau angkutan !intas batas negara, angkutan antarkota dalam provinsi, angkutan perkotaan dan angkutan perdesaan.
2) Definisi Operasional
Tersedianya term inal angkutan penum pang tipe A pada setiap provinsi adalah prosentase jum lah term inal penum pang tipe A dalam suatu provinsi yang m elayani angkutan um um dalam trayek angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) atau angkutan lintas batas negara (ALBN)pada suatu provinsi.
3) Cara perhitunganjrum us
a) Rum us
Nilai capaian tersedianya term inal angkutan penum pang tipe A pada setiap provinsi untuk m elayani angkutan um um dalam trayek antarkota antarprovinsi (AKAP)atau
angkutan lintas batas negara (ALBN) dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
= L T e r m i n a l P e n u m p a n g T i p e A x 100%
J u m l a h j a r i n g a n p e l a y a n a n A K A PIA L B N
b) Pem bilang
Jum lah term inal penum pang tipe A dalam suatu provinsi.
c) Penyebut
Jum lah jaringan pelayanan antarkota antarprovinsi (AKAP) atau angkutan lintas batas negara (ALBN).
d) Ukuranjkonstanta
a) Data term inal penum pang tipe A dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data term inal penum pang tipe A dari Dinas Perhubungan Provinsi.
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Peraturan Pem erintah Nom or 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan;
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 31 Tahun 1995 tentang Term inal Transportasi Jalan; dan
d) Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nom or SK.1361jAJ.106jDRJDj2003 tentang Penetapan Sim pul Jaringan Transportasi Jalan Untuk Term inal Penum pang Tipe A di Seluruh Indonesia.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya term inal angkutan penum pang tipe A pada setiap provinsi untuk m elayani angkutan um um dalam trayek pada tahun 2014 adalah 100% .
a) Identifikasi terhadap data term inal penum pang tipe A dalam suatu provinsi;
b) Analisis kebutuhan term inal penum pang tipe A dalam suatu provinsi;
c) Penyusunan rencana pengem bangan term inal penum pang tipe A dalam suatu provinsi; dan
d) M onitoring dan evaluasi layanan term inal penum pang tipe A dalam suatu provinsi.
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi perhubungan.
1) Pengertian
b) M arka Jalan adalah suatu tanda yang berada di perm ukaan jalanatau di atas perm ukaan jalan yang m eliputi peralatan atau tanda yang m em bentuk garis m em bujur, garis m elintang, garis serong, serta lam bang yang berfungsi untuk m engarahkan arus lalu lintas dan m em batasi daerah kepentingan lalu lintas.
c) Alat Pem beri Isyarat Lalu Lintas adalah perangkat elektronik yang m enggunakan isyarat lam pu yang dapat dilengkapi dengan isyarat bunyi untuk m engatur lalu lintas orang danj atau kendaraan di persim pangan atau pada ruas Jalan.
d) Lam pu Penerangan Jalan Um um adalah lam pu yang berfungsi m em beri penerangan pada ruang lalu lintas.
2) Definisi Operasional
Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (ram bu, m arka dan
g u a r d r a i i j dan penerangan jalan um um (PJU) pada jalan
provinsi adalah prosentase jum lah tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (ram bu, m arka, dan g u a r d r a i ~ dan penerangan jalan um um (PJU) pada suatu jalan provinsi disertai penetapan kebijakan berupa penetapan pengaturan lalu lintas yang bersifat perintah, larangan, petunjuk dan peringatan pada setiap ruas jalan dengan Keputusan Gubernur terhadap total kebutuhan fasilitas perlengkapan jalan pada suatu jalan provinsi.
3) Cara perhitunganjrum us
a) Rum us
Nilai capaian tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (ram bu, m arka, dan g u a r d r a i ~ dan penerangan jalan um um (PJU) pada jalan provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
= L F a s i l i t a s p e r l e n g k a p a n i a l a n t e r p a s a n g p a d a i a l a n p r o v i n s i x 100%
T o t a l k e b u t u h a n f a s i l i t a s p e r l e n g k a p a n j a l a n p a d a s u a t u j a l a n p r o v i n s i
Keterangan:
Rum us sebagaim ana tersebut di atas dapat dipergunakan untuk m asing-m asing jenis perlengkapan jalan guna m enghitung capaian prosentase.
b) Pem bilang
Jum lah fasilitas perlengkapan jalan yang terpasang dalam suatu provinsi.
c) Penyebut
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data fasilitas pem asangan perlengkapan jalan dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data fasilitas pem asangan perlengkapan jalan dari Dinas Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Peraturan Pem erintah Nom or 32 Tahun 2011 tentang M anajem en dan Rekayasa, Analisis Dam pak, serta M anajem en Kebutuhan Lalu Lintas;
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 60 Tahun 1993 tentang M arka Jalan;
d) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 61 Tahun 1993 tentang Ram bu-Ram bu Lalu Lintas di Jalan;
e) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 62 Tahun 1993 tentang Alat Pem beri Isyarat Lalu Lintas;
f) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 3 Tahun 1994 ten tang Alat Pengendali dan Pengam an Pem akai Jalan; dan
g) Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nom or
SKAJ.003j5j9jDRJDj2011 tentang Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Perlengkapan J alan.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (ram bu, m arka dan guardrill) dan penerangan jalan um um (PJU) pada jalan Provinsi pada tahun 2014 adalah 60 % .
a) Identifikasi terhadap pem asangan fasilitas perlengkapan jalan suatu provinsi;
b) Analisis kebutuhan pem asangan fasilitas perlengkapan jalan dalam suatu provinsi;
c) Penyusunan kebijakan berupa penetapan pengaturan lalu lintas yang bersifat perintah, larangan, petunjuk, dan peringatan pada setiap ruas jalan dengan Keputusan Gubernur; dan
d) M onitoring dan evaluasi kebutuhan pem asangan fasilitas perlengkapan jalan dalam suatu provinsi.
1) Pengertian
a) Angkutan adalah perpindahan orang danj atau barang dari satu tem pat ke tem pat lain dengan m enggunakan kendaraan um um di ruang lalu lintas jalan.
b) Angkutan Um um adalah angkutan orang danjatau barang yang m enggunakan kendaraan um um dengan dipungut bayaran.
c) Keselam atan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari resiko kecelakaan selam a berlalu lintas yang disebabkan oleh m anusia, kendaraan, jalan, danj atau lingkungan.
d) Angkutan Antarkota Dalam Provinsi adalah angkutan dari satu kota ke kota lain yang m elalui antardaerah kabupatenjkota dalam satu daerah provinsi dengan m enggunakan m obil bus um um yang terikat dalam trayek.
2) Definisi Operasional
Terpenuhinya standar keselam atan adalah prosentase terpenuhinya standar keselam atan bagi angkutan um um yang m elayani trayek antarkota dalam provinsi (AKDP) terhadap total angkutan um um antarkota dalam provinsi (AKDP)dalam suatu provinsi.
3) Cara perhitunganjrum us
a) Rum us
Nilai capaian terpenuhinya standar keselam atan bagi angkutan um um yang m elayani trayek antarkota dalam provinsi (AKDP) pada suatu provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
= I A n g k u t a n u m u m A K D P m e m e n u h i s t a n d a r k e s e l a m a t a n x 1 0 0 %
I T o t a l a n g k u t a n u m u m A K D P d a l a m s u a t u p r o v i n s i
b) Pem bilang
Angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang telah m em enuhi standar keselam atan dalam suatu provinsi.
c) Penyebut
Jum lah total angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) dalam suatu suatu Provinsi.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Peraturan Pem erintah Nom or 41 Tahun 1993 tentang tentang Angkutan Jalan; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Um um .
Target pencapaian standar pelayanan m inim al untuk standar keselam atan bagi angkutan um um yang m elayani trayek antarkota dalam provinsi (AKDP) pada tahun 2014 adalah 100% .
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi terhadap angkutan um um yang m elayani angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP);dan
b) Identifikasi fasilitas standar keselam atan angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP).
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan angkutan dengan m enggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir, kanal, dan terusan untuk
m engangkut penum pang dan/ atau barang yang
diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau.
b) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan penum pang dan/atau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
Tersedianya angkutan sungai dan danau untuk m elayani jaringan trayek antarkabupaten/kota dalam provinsi pada wilayah yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari adalah prosentase jum lah jaringan trayek yang telah dilayani oleh angkutan sungai dan danau terhadap jum lah total jaringan trayek antarkabupaten/kota dalam
3) Cara perhitungan/rum us
a) Rum us
Nilai capaian tersedianya angkutan sungai dan danau untuk m elayani jaringan trayek antarkabupaten/kota dalam provinsi pada wilayah yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
= L
Jaringan trayek yang telah dilayani angkutan sungai dan danau x 100%I Total jaringan trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi
Keterangan:
Rum us sebagaim ana tersebut di atas dapat dipergunakan
untuk jaringan angkutan sungai atau danau guna
m enghitung capaian prosentase.
b) Pem bilang
Jaringan trayek angkutan sungai dan danau yang telah terlayani oleh angkutan sungai dan danau dalam suatu Provinsi.
c) Penyebut
Jum lah total jaringan trayek angkutan sungai dan danau dalam suatu Provinsi.
d) Ukuran/konstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data angkutan sungai dan danau dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data angkutan sungai dan danau dari Dinas Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan sebagaim ana telah diubah dengan Peraturan Pem erintah Nom or 22 Tahun 2011; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau sebagaim ana telah diubah dengan Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 58 Tahun 2007.
6) Target
Target pencapaian standar pelayanan m inim al angkutan
sungai dan danau untuk m e1ayani jaringan trayek
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi jaringan trayek angkutan sungai dan danau provinsi;
b) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan sungai dan danau;
c) Analisis kebutuhan angkutan sungai dan danau;
d) Penyusunan rencana pengem bangan layanan angkutan sungai dan danau dalam suatu provinsi; dan
e) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan sungai dan danau.
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
1) Pengertian
a) Pelabuhan Sungai dan Danau adalah pelabuhan yang digunakan untuk m elayani kegiatan angkutan sungai dan danau yang terletak di sungai dan danau.
b) Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan angkutan dengan m enggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir, kanal, dan terusan untuk
m engangkut penum pang danjatau barang yang
diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau.
c) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan penum pang danj atau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
d) Alur-Pelayaran Sungai dan Danau adalah perairan sungai dan danau, m uara sungai, alur yang m enghubungkan 2 (dua) atau lebih antar m uara sungai yang m erupakan satu kesatuan alur-pelayaran sungai dan danau yang dari segi kedalam an, lebar, dan bebas ham batan pelayaran lainnya dianggap am an dan selam at untuk dilayari.
Tersedianya pelabuhan sungai dan danau untuk m elayani kapal sungai dan danau adalah prosentase jum lah pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi yang m elayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek antarkabupatenjkota pada suatu provinsi terhadap total
kebutuhan pelabuhan sungai dan danau dalam suatu
Nilai capaian tersedianya pelabuhan sungai dan danau untuk m elayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi pada wilayah yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari pada suatu provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
= I Pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi x 100%
I Total kebutuhan pelabuhan sungai dan danau dalam provinsi
b) Pem bilang
Jum lah pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi yang m elayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek antarkabupatenjkota pada suatu provinsi.
c) Penyebut
Total kebutuhan pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
a) Data pelabuhan sungai dan danau dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data pelabuhan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan Provinsi.
a) Undang Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 52 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Penyeberangan.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya pelabuhan sungai dan danau untuk m elayani kapal sungai
dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi terhadap data pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi;
b) Analisis kebutuhan pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi;
c) Penyusunan rencana pengem bangan pelabuhan sungai dan danau suatu provinsi; dan
d) M onitoring dan evaluasi layanan pelabuhan sungai dan danau dalam suatu provinsi.
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Keselam atan Kapal adalah keadaan kapal yang m em enuhi persyaratan m aterial, konstruksi, bangunan, perm esinan dan perlistrikan, stabilitas, tata susunan, serta perlengkapan term asuk perlengkapan alat penolong dan radio, elektronik kapal, yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pem eriksaan dan pengujian.
b) Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga m ekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, term asuk kendaraan yang berdaya dukung dinam is, kendaraan di bawah perm ukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
Terpenuhinya standar keselam atan kapal sungai dan danau adalah prosentase terpenuhinya standar keselam atan kapal sungai dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi terhadap total kapal
sungai dan danau yang beroperasi pada trayek
antarkabupatenjkota.
3) Cara perhitunganjrum us
a) Rum us
Nilai capaian terpenuhinya standar keselam atan bagi kapal
sungai dan danau yang beroperasi pada trayek
antarkabupatenjkota dalam provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
% Keselam atan Kapal
= ~pal sungai dan danau yang telah m em enuhi standar keselam atan x 100%
b) Pem bHang
Kapal sungai dan danau yang telah m em enuhi standar keselam atan dalam suatu provinsi.
c) Penyebut
Jum lah total kapal sungai dan danau yang beroperasi pada trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data standar keselam atan kapal dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data angkutan sungai dan danau dari Dinas Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan sebagaim ana telah diubah dengan
Peraturan Pem erintah Nom or 22 Tahun 2011; dan
c) Peraturan Pem erintah Nom or 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan.
6) Target
Target pencapaian standar pelayanan m inim al terpenuhinya standar keselam atan kapal sungai dan danau yang beroperasi pada trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi pada tahun 2014 adalah 100 % .
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi angkutan sungai dan danau yang beroperasi pada trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi; dan b) Identifikasi standar keselam atan kapal sungai dan danau.
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
1) Pengertian
2) Definisi Operasional
Tersedianya jaringan pelayanan angkutan penyeberangan adalah prosentase jum lah angkutan penyeberangan terhadap jum lah total lintas antarkabupatenjkota dalam provinsi yang
m enghubungkan jalan provinsi yang terputus oleh perairan.
3) Cara perhitunganjrum us
a) Rum us
Nilai capaian tersedianya jaringan pelayanan angkutan
penyeberangan yang beroperasi pada lintas
antarkabupatenjkota dalam provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
% Pelayanan Angkutan Penyeberangan
L Jaringan lintas yang telah terlayani angkutan penyeberangan x 100%
L Total jaringan lintas angkutan penyeberangan dalam suatu provinsi
b) Pem bilang
Jaringan lintas angkutan penyeberangan yang telah terlayani oleh angkutan penyeberangan dalam suatu provinsi.
c) Penyebut
Jum lah total jaringan lintas angkutan penyeberangan dalam suatu provinsi.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data angkutan penyeberangan dari Kem enterian
Perhubungan;
b) Data angkutan penyeberangan dari Dinas Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang Un dang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 20 Tahun 2010 tentang Angku tan di Perairan sebagaim ana telah diu bah dengan Peraturan Pem erintah Nom or 22 Tahun 2011; dan
c) Peraturan M enteri Perhubungan Nom or PM . 26 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan.
v
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi jaringan lintas angkutan penyeberangan pada lintas kabupatenjkota dalam provinsi;
b) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan
penyeberangan pada lintas kabupatenjkota dalam
provinsi;
c) Analisis kebutuhan angkutan penyeberangan;
d) Penyusunan rencana pengem bangan layanan angkutan
penyeberangan pada lintas kabupatenjkota dalam
provinsi; dan
e) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan penyeberangan;
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
b. Jaringan Prasarana Angkutan Penyeberangan
1) Pengertian
a) Pelabuhan Penyeberangan adalah pelabuhan yang
digunakan untuk m elayani kegiatan angkutan
penyeberangan.
b) Angkutan Penyeberangan adalah angkutan yang berfungsi sebagai jem batan yang m enghubungkan jaringan jalan danj atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan untuk m engangkut penum pang dan kendaraan beserta m uatannya.
c) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan penum pang danj atau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
2) Definisi Operasional
Tersedianya jaringan prasarana angkutan penyeberangan adalah prosentase tersedianya pelabuhan penyeberangan pada setiap ibukota provinsi pada ibukota kabupatenjkota yang m em iliki pelayanan angkutan penyeberangan yang beroperasi pada lintas antarkabupatenjkota dalam provinsi dan tidak ada alternatif jalan terhadap total kebutuhan pelabuhan penyeberangan dalam suatu provinsi.
3) Cara perhitunganjrum us
a) Rum us
v
= I P e l a b u h a n p e n y e b e r a n g a n d a l a m s u a t u p r o v i n s l x 100%
I T o t a l k e b u t u h a n p e l a b u h a n p e n y e b e r a n g a n d a l a m s u a t u p r o v i n s l
b) Pem bilang
Jum lah pelabuhan penyeberangan pada setiap ibukota provinsi pada ibukota kabupatenjkota yang m em iliki pelayanan angkutan penyeberangan yang beroperasi pada lintas antarkabupalenjkota dalam provinsi dan tidak ada alternatif jalan.
c) Penyebut
Total kebutuhan pelabuhan penyeberangan dalam suatu provinsi.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data jum lah pelabuhan penyeberangan dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data pelabuhan penyeberangan dari Dinas Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 61 Tahun 2009 ten tang
Kepelabuhanan; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 52 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Penyeberangan.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya pelabuhan penyeberangan pada setiap ibukota provinsi pada ibukota kabupatenjkota yang m em iliki pelayanan angkutan penyeberangan yang beroperasi lintas antarkabupatenjkota dalam provinsi dan tidak ada alternatif jalan pada tahun 2014 adalah 75 % .
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi terhadap data pelabuhan penyeberangan suatu provinsi;
b) Analisis kebutuhan pelabuhan penyeberangan dalam suatu provinsi;
c) Penyusunan rencana pengem bangan pelabuhan
penyeberangan suatu provinsi; dan
d) M onitoring dan evaluasi layanan pelabuhan
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
1) Pengertian
a) Keselam atan Kapal adalah keadaan kapal yang m em enuhi persyaratan m aterial, konstruksi, bangunan, perm esinan dan perlistrikan, stabilitas, tata susunan, serta perlengkapan term asuk perlengkapan alat penolong dan radio, elektronik kapal, yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pem eriksaan dan pengujian.
b) Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga m ekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, term asuk kendaraan yang berdaya dukung dinam is, kendaraan di bawah perm ukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
2) Definisi Operasional
Terpenuhinya standar keselam atan adalah prosentase terpenuhinya standar keselam atan kapal dengan ukuran dibawah 7 GT dan kapai yang beroperasi pada lintas penyeberangan antarkabupaten/kota dalam provinsi terhadap total jum lah kapal angkutan di bawah 7 GT dan kapal yang beroperasi pada lintas penyeberangan antarkabupaten/kota dalam provinsi.
3) Cara perhitungan/Rum us
a) Rum us
Nilai capaian terpenuhinya standar keselam atan bagi kapal kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal yang
beroperasi pad a lintas penyeberangan
antarkabupaten/kota dalam provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
= rKapal dibawah 7GT& kapal pnybrngan m em enuhi standar keselam atan x 100%
L Total kapal dibawah 7GT& kapal pnybrngan lintas antarkabupaten/kota dlm prov
b) Pem bilang
Kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal
c) Penyebut
Jum lah total kapal dengan ukuran dibawah 7 GT dan kapal penyeberangan yang beroperasi pada lintas antarkabupatenjkota dalam provinsi.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data standar keselam atan kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal yang beroperasi pada lintas penyeberangan antarkabupatenjkota dalam provinsi dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data angkutan dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal
yang beroperasi pada lintas penyeberangan
antarkabupatenjkota dalam provinsi dari Dinas
Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 20 Tahun 2010 tentang
Angkutan di Perairan sebagaim ana telah diubah dengan Peraturan Pem erintah Nom or 22 Tahun 2011; dan
c) Peraturan Pem erintah Nom or 51 Tahun 2002 ten tang Perkapalan.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al terpenuhinya standar keselam atan kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan
kapal yang beroperasi pada lintas penyeberangan
antarkabupatenjkota dalam provinsi pada tahun 2014 adalah 100 %.
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi angkutan penyeberangan yang beroperasi pada trayek antarkabupatenjkota dalam provinsi; dan
b) Identifikasi standar keselam atan kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal yang beroperasi pada lintas penyeberangan antarkabupatenjkota dalam provinsi;
8) Sum ber Daya M anusia
1 ) Pengertian
a) Angkutan Laut adalah kegiatan angkutan yang m enurut kegiatannya m elayani kegiatan angkutan laut.
b) Angkutan Laut Dalam Negeri adalah kegiatan angkutan laut yang dilakukan di wilayah perairan Indonesia yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan laut nasional.
c) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan penum pang danjatau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
d) Trayek Tetap dan Teratur ( L i n e r ) Arm ada Pelayaran Rakyat Dalam Provinsi adalah pelayanan angkutan pelayaran rakyat yang dilakukan secara tetap dan teratur dengan berjadwal dan m enyebutkan pelabuhan singgah dalam 1
(satu) provinsi.
e) Trayek Tidak Tetap dan Tidak Teratur ( T r a m p e r ) Arm ada Pe1ayaran Rakyat Dalam Provinsi adalah pelayanan angkutan pelayaran rakyat yang dilakukan secara tidak tetap dan tidak teratur dalam 1 (satu) provinsi.
Tersedianya angkutan laut arm ada pelayaran rakyat yang m elayani wilayah yang telah tersedia jaringan trayek l i n e r untuk jaringan trayek dalam 1 (satu) provinsi adalah prosentase jum lah rata-rata m uatan (penum pang atau barang) pada jaringan trayek yang telah terlayani oleh angkutan laut arm ada pelayaran rakyat dalam suatu provinsi per tahun terhadap jum lah rata-rata kapasitas ruang m uat yang tersedia (penum pang atau barang) pada jaringan trayek arm ada pelayaran rakyat yang telah terlayani oleh angkutan laut dalam suatu provinsi per tahun.
Nilai capaian tersedianya angkutan laut arm ada pelayaran rakyat yang m elayani wilayah yang te1ah tersedia jaringan laut untuk jaringan trayek l i n e r dalam 1 (satu) provinsi dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
r Rata-rata M uatan IPenum pang/Barang) per Tahun x 100%
Jum lah rata-rata m uatan (penum pang atau barang) pada jaringan trayek yang telah terlayani oleh angkutan la.ut
arm ada pelayaran rakyat dalam suatu provinsi per tahun.
Jum lah rata-rata kapasitas ruang m uat yang tersedia (penum pang atau barang) pada jaringan trayek arm ada pelayaran rakyat yang telah terlayani oleh angkutan laut dalam suatu provinsi per tahun.
d) Ukuranjkonstanta Persen (% ).
Apabila lebih kedl dari 65% (enam puluh lim a per seratus) tidak akan diizinkan penam bahan kapal dalam satu jaringan trayek tersebut.
Apabila lebih besar dari 65% (enam puluh lim a per seratus) diizinkan penam bahan 1 (satu) unit kapal dalam satu jaringan trayek tersebut.
4) Sum ber Data
a) Data jaringan trayek dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut;
b) Data jaringan trayek dari Dinas Perhubungan Provinsi; c) Data angkutan laut dari Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut;
d) Data arm ada angkutan pelayaran rakyat dari Dinas Perhubungan Provinsi.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan sebagaim ana telah diubah dengan Peraturan Pem erintah Nom or 22 Tahun 2011; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 33 Tahun
2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya angkutan laut yang m elayani wilayah yang telah tersedia jaringan trayek untuk jaringan trayek provinsi pada tahun
2014 adalah 100% .
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi jaringan trayek provinsi;
d) Penyusunan rencana pengem bangan layanan angkutan laut; dan
e) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan laut.
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Pelabuhan adalah tem pat yang terdiri atas daratan danjatau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tem pat kegiatan pem erintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tem pat kapal bersandar, naik turun penum pang, danjatau bongkar m uat barang, berupa term inal dan tem pat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselam atan dan keam anan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tem pat perpindahan intra dan antarm oda transportasi.
b) Angkutan laut adalah kegiatan angkutan yang m enurut kegiatannya m elayani kegiatan angkutan laut.
c) Alur Pelayaran di Laut adalah perairan yang dari segi kedalam an, lebar, dan bebas ham batan pelayaran lainnya dianggap am an dan selam at untuk dilayani kapal angkutan laut.
d) Derm aga adalah tem p at kapal bersandar untuk naik turun penum pang danj atau bongkar m uat barang.
Tersedlanya derm aga pada setiap kabupatenjkota dalam provinsi untuk m elayani kapal laut yang beroperasi pada trayek dalam provinsi pada wilayah yang m em iliki alur pelayaran dan tidak ada alternatif angkutan jalan.
Nilai capaian tersedianya derm aga pada setiap
=
r
Dennaga dalam satu provinsi x 100%r
Kabupaten/kota dalam provinsi tersebut yang m em iliki alur pelayaran dan tidak ada alternatif jalanb) Pem bilang
Jum lah derm aga yang tersedia dalam satu provinsi.
c) Penyebut
Jum lah total kabupaten dan kota dalam provinsi tersebut yang m em iliki alur pelayaran dan tidak ada alternatif jalan.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% )
e) Contoh Perhitungan
Pada kondisi eksisting tahun X di Provinsi B, telah teridentifikasi jum lah derm aga sebanyak 15 buah. Jum lah kabupaten dan kota di provinsi B yang m em iliki alur pelayaran dan tidak ada alternatif jalan adalah 62. Direncanakan pada akhir tahun pencapaian SPM (tahun 2014) telah terbangun derm aga di setiap kabupatenjkota yang m em iliki alur pelayaran dan tidak ada altem atif jalan di provinsi B.
M aka nilai SPM tingkat pelayanan pada akhir tahun pencapaian SPM adalah:
Tingkat pelayanan
=
15 x 100 %=
24,2 %62
Sehingga Standar Pelayanan M inim al di Provinsi B adalah 24,2 %
4) Sum ber Data
a) Rencana Tata Ruang W ilayah ProvinsijKabupatenjKota dari Bappeda atau Dinas Perhubungan;
b) Data fasilitas pelabuhan dari Kem enterian Perhubungan, Dinas Perhubungan Provinsi dan Dinas Perhubungan KabupatenjKota.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; dan
b) Peraturan Pem erintah Nom or 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan.
6) Target
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi dan inventarisasi jum lah derm aga di suatu provinsi;
b) Analisis kebutuhan jum lah derm aga dalam satu provinsi; c) Penyusunan kebijakan berupa penetapan lokasi fasilitas
pe1abuhan yang tertuang dalam RTRW Provinsi; dan
d) M onitoring dan evaluasi kebutuhan derm aga dalam suatu Provinsi.
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Keselam atan dan Keam anan Pelayaran adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselam atan dan keam anan yang m enyangkut angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan lingkungan m aritim .
b) Kelaiklautan Kapal adalah keadaan kapal yang m em enuhi persyaratan keselam atan kapal, pencegahan pencem aran perairan dari kapal, pengawakan, garis m uat, pem uatan, kesejahteraan awak kapal dan kesehatan penum pang, status hukum kapal, m anajem en keselam atan kapal dan pencegahan pencem aran dari kapal, dan m anajem en keam anan kapal untuk berlayar di perairan tertentu.
c) Keselam atan Kapal adalah keadaan kapal yang m em enuhi persyaratan m aterial, konstruksi, bangunan, perm esinan dan perlistrikan, stabilitas, tata susunan, serta perlengkapan term asuk perlengkapan alat penolong dan radio, elektronik kapal, yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pem eriksaan dan pengujian.
d) Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga m ekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, term asuk kendaraan yang berdaya dukung dinam is, kendaraan di bawah perm ukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
a) Terpenuhinya standar keselam atan kapal dengan ukuran
di bawah 7 GT dan kapal yang beroperasi
antarkabupatenjkota dalam provinsi atau daerah
b) Daerah pelayaran perairan daratan adalah perairan sungai, danau, waduk, dan kanal atau terusan (Keputusan
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nom or
UM .008j20j9jDJPL-2012 tentang Pem berlakuan Standar dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia, Pasal 3 ayat (2) huruf f).
Nilai capaian tersedianya kapal dengan ukuran di bawah 7 GT yang beroperasi antarkabupatenjkota dalam provinsi danj atau daerah pelayaran perairan daratan yang m em enuhi standar keselam atan kapal dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
L kapal di baw ah 7 G T
% K eselam atan K apal = ---x 100%
L kapal di baw ah 7 G T yang m em enuhi standar keselam atan
Pem bilang
Jum lah kapal di bawah 7 GT dalam suatu Provinsi.
Penyebut
Jum lah kapal di bawah 7 GT yang m em enuhi standar keselam atan dalam suatu Provinsi.
Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
Nilai capaian persentase pem enuhan alat keselam atan kapal dengan ukuran di bawah 7 GT yang beroperasi antarkabupatenjkota dalam provinsi danj ataU daerah pelayaran perairan daratan yang m em enuhi standar keselam atan kapal dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai beriku t:
L alat keselam atan yang dipenuhi kapal dibaw ah 7 G T
L alat keselam atan yang w ajib dipenuhi
Keterangan:
(1) Pem enuhan alat keselam atan kapal di bawah 7 GT m erupakan indikator untuk m engukur tingkat pem enuhan persyaratan alat-alat keselam aatan kapal.
(2)
L :
alat keselam atan yang dipenuhi adalahbanyaknyajjum lah pem enuhan alat keselam atan untuk kapal di bawah 7 GT secara riil di lapangan.
(3)
L :
alat keselam atan yang wajib dipenuhi adalah jum lah pem enuhan alat keselam atan untuk kapal di bawah 7GT berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Laut Nom or UM .008j20j9jDJPL-2012 dengan nilai konstan sebagai penyebut yaitu 10 (sepuluh).
Nilai konstan yang dim aksud adalah: (a) Pedom an m agnet (nilai 10% );
(b) Pelorus atau alat baring
(pelorus
orcompass
bearing service)
(nilai 10% );(c) Peta Laut (nilai 10% );
(d) Publikasi nautika (nilai 10% );
( e ) Alat ukur kecepatan (nilai 10% );
(f) Perum gem a
(echo sounding device)
(nilai 10% ); (g) Indikator sudut daun kem udi (nilai 10% );(h) Corong pem beritahuan
(public addressori
(nilai 10% );(i) Lam pu isyarat
(day light signa~
(nilai 10% ); danOJ
Reflektor radar (nilai 10% ).Nilai capaian jum lah penilik keselam atan kapalj
marine
inspector
yang disebut pejabat pem eriksa keselam atankapal yang akan m elakukan pem eriksaan dan pengujian terhadap jum lah kapal di bawah 7 GT sebagai pem enuhan persyaratan keselam atan kapal dapat dirum uskan sebagai berikut:
Pejabat Pem eriksa = L kapal di baw ah 7 G Tx 4 jam /hari
K eselam atan K apal ---x 1 orang
8jam /hari
Keterangan:
(2) Pejabat pem eriksa keselam atan kapal adalah pejabat pem erintahan yang m em punyai kualifikasi dan keahlian di bidang keselam atan kapal. Keselam atan kapal ditentukan m elalui pem eriksaan dan pengujian serta penilikan yang dilakukan oleh pejabat pem erintah yang diberi wewenang dan m em iliki kom petensi.
Data jum lah kapal di bawah 7 GT yang beroperasi dalam provinsi dari Dinas Perhubungan.
a) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; b) Peraturan Pem erintah Nom or 51 Tahun 2002 tentang
Perkapalan;
c) Keputusan Presiden Nom or 65 Tahun 1980 tentang Ratifikasi Konvensi
Safety
Of Life at The Sea
1974 (SOLAS7 4 ) ;
d) Peraturan M enteri Perhubungan Nom or KM . 65 Tahun 2009 tentang Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia; dan
e) Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nom or UM .008/20/9/DJPL-2012 tentang Pem berlakuan Standar dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al terpenuhinya standar keselam atan kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal yang beroperasi antarkabupaten/kota dalam provinsi pada tahun 2014 adalah 100% .
a) Identifikasi kapal di bawah 7 GT yang beroperasi antarkabupaten/kota dalam provinsi;
b) Identifikasi tersedianya peralatan keselam atan pada kapal; dan
c) M onitoring dan evaluasi kapal di bawah 7 GT yang harns m enyediakan peralatan keselam atan.
B. PETUNJUK TEKNIS STANDAR PELAYANAN M INIM AL BIDANG PERHUBUNGANDAERAHKABUPATENj K O T A
(1) Angkutan adalah perpindahan orang danjatau barang dari satu tem pat ke tem pat lain dengan m enggunakan kendaraan um um di ruang lalu lintas jalan.
(2) Angkutan Um um adalah angkutan orang dan/atau
barang m enggunakan kendaraan um um dengan
dipungut bayaran.
(3) Jaringan Jalan adalah serangkaian sim pul dan/atau ruang kegiatan yang saling terhubungkan untuk penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan
b) Definisi Operasional
Tersedianya angkutan um um yang m elayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan kabupaten/kota adalah prosentase jum lah jaringan jalan kabupaten/kota yang telah terlayani oleh angkutan um um terhadap jum lah total jaringan jalan dalam suatu kabupaten/kota.
(1) Rum us
Nilai capaian pelayanan angkutan um um yang m elayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan kabupaten/kota dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
% Pelayanan Angkutan Jalan
=
r
Jaringan ialan kabupaten/kota terlayani angkutan um um x 100%r
Total jaringan jalan kabupaten/ kota(2) Pem bilang
Jaringan jalan yang telah terlayani oleh angkutan um um dalam suatu kabupaten/kota.
(3) Penyebut
Jum lah total jaringan jalan kabupaten/kota.
(4) Ukuran/konstanta
(1) Data jaringan jalan dari Kem enterian Pekerjaan Um um ;
(2) Data jaringan jalan dari Dinas Perhubungan Provinsi;
(3) Data angkutan um um dari Kem enterian
Perhubungan;
(4) Data angkutan um um dari Dinas Perhubungan Provinsi;
(5) Data jaringan jalan dari Dinas Pekerjaan Um um Kabupatenj Kota;
(6) Data jaringan jalan dari Dinas Perhubungan KabupatenjKota.
e) Rujukan
(1) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
(2) Undang-Undang Nom or 38 Tahun 2004 tentang Jalan; (3) Peraturan Pem erintah Nom or 41 Tahun 1993 tentang
Angkutan Jalan; dan
(4) Peraturan M enteri Perhubungan Nom or KM . 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Um um .
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya angkutan um um yang m elayani wilayah yang telah
tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan
kabupatenjkota pad a tahun 2014 adalah 75% .
g) Langkah Kegiatan
(1) Identifikasi jaringan jalan provinsi;
(2) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan um um ; (3) Analisis kebutuhan angkutan um um
(4) Penyusunan rencana pengem bangan layanan
angkutan um um ; dan
(5) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan um um .
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
(2) Jaringan Jalan adalah serangkaian sim pul danjatau ruang kegiatan yang saling terhubungkan untuk penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan.
(3) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek-trayek yang m enjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang.
Tersedianya angkutan um um yang m elayani jaringan trayek yang m enghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkem bang adalah prosentase jaringan trayek yang sudah dilayani angkutan um um yang m enghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkem bang terhadap jum lah total jaringan trayek dalam suatu kabupatenjkota.
Nilai capaian pelayanan angkutan um um yang m elayani jaringan trayek yang m enghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkem bang pada wilayah yang telah tersedia jaringan jalan kabupatenjkota dihitung dengan
m enggunakan rum us sebagai berikut:
L Jaringan trayek daerah tertinggal/terpencil terlayani angkutan um um dalam suatu kabupaten/kota
= x 1 0 0 %
L Total jaringan trayek daerah tertinggal/terpencil pada kabupaten/kota
(2) Pem bilang
Jaringan trayek yang telah terlayani oleh angkutan um um yang m enghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkem bang pada
wilayah yang telah tersedia jaringan jalan
kabupatenjkota.
(3) Penyebut
Jum lah total jaringan trayek dalam
kabupatenjkota.
(4) Ukuranjkonstanta
d) Sumber Data
(1) Data jaringan jalan dari Kementerian Pekerjaan Umum;
(2) Data jaringan jalan dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi;
(3) Data angkutan umum dari Kementerian
Perhubungan;
(4) Data angkutan umum dari Dinas Perhubungan
Provinsi;
(5) Data jaringan jalan dari Dinas Pekerjaan Umum KabupatenjKota;
(6) Data jaringan jalan dari Dinas Perhubungan KabupatenjKota.
e) Rujukan
(1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
(2) Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan; (3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang
Angkutan Jalan; dan
(4) Keputusan M enteri Perhubungan Nomor KM . 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum.
Target pencapaian standar pelayanan minimal angkutan
umum yang melayani jaringan trayek yang
menghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkembang pada wilayah yang telah tersedia jaringan jalan kabupatenjkota tahun 2014 adalah 60% .
g) Langkah Kegiatan
(1) Identifikasi jaringan jalan kabupatenjkota;
(2) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan umum; (3) Analisis kebutuhan angkutan umum
(4) Penyusunan rencana pengembangan layanan
angkutan umum; dan
(5) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan umum;
h) Sumber Daya M anusia
Sumber daya manusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang membidangi Perhubungan.
(2) Halte adalah tem pat pem berhentian kendaraan berm otor um um untuk m enaikkan dan m enurunkan penum pang.
b) Definisi Operasional
Tersedianya jaringan prasarana angkutan jalan adalah prosentase tersedianya halte pada setiap kabupatenjkota yang telah dilayani angkutan um um dalam trayek
terhadap total kebutuhan halte pad a suatu
kabupatenjkota.
c) Cara perhitunganj rum us
(1) Rum us
Nilai capaian tersedianya halte pada kabupatenjkota untuk m elayani angkutan dalam trayek dihitung dengan m enggunakan se bagai beriku t:
setiap um um rum us
(2) Pem bilang
Tersedianya halte pada setiap kabupatenjkota yang telah dilayani angkutan um um dalam trayek terhadap total kebutuhan halte pada suatu kabupatenjkota.
(3) Penyebut
Total kebutuhan halte pada suatu kabupatenjkota.
(4) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
d) Sum ber Data
(1)
Data jaringan prasarana angkutan jalan dari Kem enterian Perhubungan;(2 ) Data jaringan prasarana angkutan dari Dinas Perhubungan Provinsi;
(3 ) Data jaringan prasarana angkutan dari Dinas Perhubungan KabupatenjKota.
e) Rujukan
(1) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
(2) Peraturan Pem erintah Nom or 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan; dan
f) Target
Target pencapaianstandar pe1ayanan m inim al tersedianya halte pada setiap kabupatenjkota untuk m elayani angkutan um um dalam trayek pada tahun 2014 adalah
100% .
g) Langkah Kegiatan
(1 ) Identifikasi terhadap prasarana angkutan jalan berupa halte dalam suatu kabupatenjkota;
(2) Analisis kebutuhanprasarana angkutan jalan berupa haltedalam suatu kabupatenjkota; dan
(3) M onitoring dan evaluasi layanan halte dalam suatu kabupatenjkota.
h) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
(1 ) Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ruang lalu lintas, term inal, dan perlengkapan jalan yang m eliputi m arka, ram bu, alat pem beri isyarat lalu
lintas, alat pengendali dan pengam an pengguna jalan, alat pengawasan dan pengam ananjalan, serta fasilitas pendukung.
(2) Tem inal adalah pangkalan kendaraan berm otor um um yang digunakan untuk m engatur kedatangan dan keberangkatan, m enaikkan dan m enurunkan orang danjatau barang, serta perpindahan m oda angkutan.
Tersedianya term inal angkutan penum pang pada setiap kabupatenjkota adalah prosentase jum lah term inal penum pang pada setiap kabupatenjkota yang telah dilayani angkutan um um dalam trayek terhadap total jum lah jaringan pelayanan AKDP, angkutan kota, dan
angkutan pedesaan.
Terminal penumpang
= L - - - - x 100%
Jumlahjaringan pelayanan AKDP, angkutan kota dan angkutan pedesaan
(2) Pem bilang
Jum lah term inal kabupatenjkota.
Jum lah jaringan pelayanan AKDP, angkutan kota, dan angkutan perdesaan.
(4) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
(1) Data term inal penum pang dari Kem enterian Perhubungan;
(2) Data term inal penum pang tipe A dari Dinas Perhubungan Provinsi;
(3) Data term inal penum pang tipe B dari Dinas Perhubungan KabupatenjKota.
e) Rujukan
(1) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
(2) Peraturan Pem erintah Nom or 43 Tahun 1993 ten tang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan;
(3) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 31 Tahun 1995 tentang Term inal Transportasi Jalan; dan (4) Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat
Nom or SK.1361jAJ.106jDRJDj2003 tentang
Penetapan Sim pul Jaringan Transportasi Jalan Untuk Term inal Penum pang Tipe A di Seluruh Indonesia.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya term inal penum pang pada setiap kabupatenjkota yang telah dilayani angkutan um um dalam trayek pada tahun 2014 adalah 40% .
g) Langkah Kegiatan
(1) Identifikasi terhadap data term inal penum pang dalam suatu kabupatenjkota;
(2) Analisis kebutuhan term inal penum pang dalam suatu kabupatenjkota;
(3) Penyusunan rencana pengem bangan term inal penum pang dalam suatu kabupatenjkota; dan
(4) M onitoring dan evaluasi layanan term inal penum pang dalam suatu kabupatenjkota.
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Ram bu Lalu Lintas adalah bagian perlengkapan jalan yang berupa lam bang, huruf, angka, kalim at, danjatau perpaduan yang berfungsi sebagai peringatan, larangan, perintah, atau petunjuk bagi penggunajalan.
b) M arka Jalan adalah suatu tanda yang berada di
perm ukaan jalan atau di atas perm ukaan jalan yang m eliputi peralatan atau tanda yang m em bentuk garis m em bujur, garis m elintang, garis serong, serta lam bang yang berfungsi untuk m engarahkan arus lalu lintas dan m em batasi daerah kepentingan lalu lintas.
c) Alat Pem beri Isyarat Lalu Lintas adalah perangkat elektronik yang m enggunakan isyarat lam pu yang dapat dilengkapi dengan isyarat bunyi untuk m engatur lalu lintas orang danj atau kendaraan di persim pangan atau pada ruas jalan.
Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (ram bu, m arka, dan
g u a r d r a i ~ dan penerangan jalan um um (PJU) pada jalan
kabupatenjkota adalah prosentase jum lah tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (ram bu, m arka, dan g u a r d r a i ~ dan penerangan jalan um um (PJU) pada jalan kabupatenjkota disertai penetapan kebijakan berupa penetapan pengaturan lalu lintas yang bersifat perintah, larangan, petunjuk, dan peringatan pada setiap ruas jalan dengan Keputusan BupatijW alikota terhadap total kebutuhan fasilitas perlengkapan jalan pada suatu jalan kabupatenjkota.
Fasilitas perlengkapan jalan terpasang pada jalan kabupaten/kota
= I
---x
100%Total kebutuhan fasilitas perlengkapan jalan pada jalan kabupaten/kota
b) Pem bilang
Jum lah fasilitas perlengkapan jalan dalam suatu kabupaten/kota.
c) Penyebut
Jum lah kebutuhan fasilitas perlengkapan jalan pada suatu jalan kabupaten/kota.
d) Ukuran/konstanta
Persen (% ).
a) Data fasilitas pem asangan perlengkapan jalan dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data fasilitas pem asangan perlengkapan jalan dari Dinas Perhubungan Provinsi;
c) Data fasilitas pem asangan perlengkapan jalan dari Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota.
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Peraturan Pem erintah Nom or 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan;
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 60 Tahun 1993 tentang M arka Jalan;
d) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 61 Tahun 1993 tentang Ram bu-Ram bu Lalu Lintas di Jalan;
e) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 62 Tahun 1993 tentang Alat Pem beri Isyarat Lalu Lintas;
f) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 3 Tahun 1994 ten tang Alat Pengendali dan Pengam an Pem akai Jalan; dan
g) Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nom or SK.AJ.003/5/9/DRJD/2011 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Perlengkapan J alan.
a) Identifikasi terhadap pem asangan fasilitas perlengkapan jalan suatu kabupatenjkota;
b) Analisis kebutuhan pem asangan fasilitas perlengkapan jalan dalam suatu kabupatenjkota;
c) Penyusunan kebijakan berupa penetapan pengaturan lalu lintas yang bersifat perintah, larangan, petunjuk, dan peringatan m elalui Peraturan Daerah atau Peraturan BupatijW alikota; dan
d) M onitoring dan evaluasi kebutuhan pem asangan fasilitas perlengkapan jalan dalam suatu kabupatenjkota.
Sum ber Daya M anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
d. Pelayanan Pengujian Kendaraan Berm otor
1) Pengertian
a) Pengujian Berkala Kendaraan Berm otor adalah pengujian kendaraan berm otor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan berm otor, kereta gandengan, kereta tem pelan, dan kendaraan khusus.
b) Pengujian Kendaraan Berm otor adalah serangkaian kegiatan m enguji danj atau m em eriksa bagian atau kom ponen kendaraan berm otor, kereta gandengan, dan kereta tem pelan dalam rangka pem enuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.
c) Penguji Kendaraan Berm otor adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak
secara penuh oleh pejabat yang berwenang m elakukan tugas pengujian kendaraan berm otor.
d) Kendaraan Berm otor Um um adalah setiap kendaraan yang
digunakan untuk angkutan orang danjatau barang
dengan dipungut bayaran.
2) Definisi Operasional
Tersedianya unit pengujian kendaraan berm otor bagi kabupatenjkota yang m em iliki populasi kendaraan wajib uji m inim al 4000 (em pat ribu) kendaraan berm otor wajib uji.
3) Cara perhitunganjRum us
a) Rum us
v
Keterangan:
Yang dim aksud dengan SPM Unit Pengujian Kendaraan Berm otor adalah seperangkat alat uji dasar.
b) Pem bilang
Jum lah kendaraan berm otor wajib uji di kabupatenjkota.
c) Penyebut
4000 (em pat ribu) kendaraan wajib uji.
d) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data unit pelaksana uji berkala kendaraan berm otor dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data unit pelaksana uji berkala kendaraan berm otor dari Dinas Perhubungan KabupatenjKota.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Peraturan Pem erintah Nom or 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 71 Tahun 1993 tentang Pengujian Berkala Kendaraan Berm otor.
Target pencapaian standar pelayanan m inim al adalah tersedianya unit pelaksana uji berkala kendaraan berm otor pada kabupatenjkota yang m em iliki populasi kendaraan berm otor wajib uji ~ 4000 (em pat ribu) unit sebesar 60% di tahun 2014.
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi terhadap data jum lah kendaraan wajib uji dalam satu kabupatenjkota;
b) Identifikasi jum lah unit pelaksana uji berkala kendaraan berm otor dalam satu kabupatenjkota yang m em iliki populasi kendaraan berm otor wajib uji ~ 4000 (empat ribu) unit;
d) Penyusunan rencana pengem bangan unit pelaksana uji berkala kendaraan berm otor dalam suatu kabupatenjkota; dan
e) M onitoring dan evaluasi pelayanan unit pelaksana uji berkala dalam suatu kabupatenjkota.
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
1) Pengertian
a) Angkutan adalah perpindahan orang danj atau barang dari satu tem pat ke tem pat lain dengan m enggunakan kendaraan um um di ruang lalu lintas jalan.
b) Angkutan Um um adalah angkutan orang danjatau barang
m enggunakan kendaraan um um dengan dipungut
bayaran.
c) Keselam atan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selam a berlalu lintas yang disebabkan oleh m anusia, kendaraan, jalan, danjatau lingkungan
Terpenuhinya standar keselam atan adalah prosentase terpenuhinya standar keselam atan bagi angkutan um um yang m elayani trayek di dalam kabupatenjkota.
a) Rum us
Nilai capaian terpenuhinya standar keselam atan bagi angkutan um um yang m elayani trayek antarkota di kabupatenjkota dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai beriku t:
I Angkutan umum (perkotaan/pedesaan) memenuhi standar keselamatan
=
---x
100%I Total angkutan umum pada kabupaten/kota
b) Pem bilang
Angkutan um um yang telah m em enuhi standar
keselam atan dalam suatu kabupatenjkota.
c) Penyebut
d) Ukuran/konstanta
Persen (% ).
4) Sum ber Data
a) Data AKDP dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data AKDP dari Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota.
5) Rujukan
a) Undang-Undang Nom or 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan;
b) Peraturan Pem erintah Nom or 41 Tahun 1993 tentang tentang Angkutan Jalan; dan
c) Keputusan M enteri Perhubungan Nom or KM . 35 Tahun 2003 tentang Penye1enggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Um um .
Target pencapaian standar pelayanan m inim al standar keselam atan di setiap kabupaten/kota pada tahun 2014 adalah 100 % .
7) Langkah Kegiatan
a) Identifikasi terhadap angkutan um um yang m elayani AKDP; dan
b) Identifikasi fasilitas standar keselam atan AKDP;
8) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
(1 ) Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan
angkutan dengan m enggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir, kanal, dan terusan untuk m engangkut penum pang dan/atau barang yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau.
(2) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang
m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan
Tersedianya jaringan pelayanan angkutan sungai dan danau adalah prosentase tersedianya kapal sungai dan
danau untuk m elayani jaringan trayek dalam
kabupatenjkota pada wilayah yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari terhadap total jaringan trayek dalam kabupatenjkota.
Nilai capaian angkutan sungai dan danau untuk m elayani jaringan trayek dalam kabupatenjkota pada wilayah yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari pelayanan dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
Jaringan trayek angkutan sungai dan danau dalam kabupatenjkota yang telah terlayani oleh angkutan sungai dan danau.
(3) Penyebut
Jum lah total jaringan trayek angkutan sungai dan danau dalam kabupatenjkota.
(4) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
(1)
Data angkutan sungai dan danau dari Kem enterian Perhubungan;(2 ) Data angkutan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan Provinsi;
(3 ) Data angkutan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan KabupatenjKota;
e) Rujukan
(1) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran; dan
Target pencapaian standar pelayanan m inim al tersedianya kapal sungai dan danau untuk m elayani jaringan trayek dalam kabupatenjkota yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari pada tahun 2014 adalah
7 5 % .
g) Langkah Kegiatan
(1) Identifikasi jaringan trayek angkutan sungai dan danau dalam kabupatenjkota;
(2) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan sungai dan danau;
(3) Analisis kebutuhan angkutan sungai dan danau;
(4) Penyusunan rencana pengem bangan layanan
angkutan sungai dan danau dalam suatu
kabupatenjkota; dan
(5) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan sungai dan danau;
h) Sum ber Daya M anusia
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Pengertian
(1) Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan
angkutan dengan m enggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir, kanal, dan terusan untuk m engangkut penum pang danjatau barang yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau.
(2) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang
m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan
penum pang danjatau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
c) Cara perhitunganjrum us
(1) Rum us
Nilai capaian tersedianya kapal sungai dan danau yang m elayani trayek dalam kabupatenjkota yang m enghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkem bang pada wilayah yang tersedia alur sungai dan danau yang dapat dilayari dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
I K a p a l s u n g a i d a n d a n a u m e l a y a n i t r a y e k d a l a m k a b u p a t e n / k o t a
= --- x 1 0 0 %
I T o t a l k e b u t u h a n k a p a l s u n g a i d a n d a n a u d I m s u a t u k a b u p a t e n / k o t a
(2) Pem bilang
Jum lah kapal danau yang m elayani trayek dalam
kabupatenjkota yang m enghubungkan daerah
tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkem bang pada wilayah yang tersedia alur sungai dan danau yang dapat dilayari.
(3) Penyebut
Jum lah total kebutuhan kapal sungai dan danau dalam suatu kabupatenjkota.
(4) Ukuranjkonstanta
Persen (% ).
d) Sum ber Data
(1) Data angkutan sungai dan danau dari Kem enterian Perhubungan;
(2) Data angkutan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan Provinsi;
(3) Data angkutan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan KabupatenjKota.
e) Rujukan
(1) Undang-Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran; dan
(2) Peraturan Pem erintah Nom or 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan sebagaim ana telah diubah dengan Peraturan Pem erintah Nom or 22 Tahun 20 II.
f) Target
(1) Identifikasi jaringan trayek angkutan sungai dan danau dalam kabupatenjkota;
(2) Identifikasi tersedianya pelayanan angkutan sungai dan danau;
(3) Analisis kebutuhan angkutan sungai dan danau;
(4) Penyusunan rencana pengem bangan layanan
angkutan sungai dan danau dalam suatu
kabupatenjkota; dan
(5) M onitoring dan evaluasi layanan angkutan sungai dan danau;
Sum ber daya m anusia pada Dinas Perhubungan atau SKPD yang m em bidangi Perhubungan.
a) Pelabuhan Sungai dan Danau adalah pelabuhan yang digunakan untuk m elayani kegiatan angkutan sungai dan danau yang terletak di sungai dan danau.
b) Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan angkutan dengan m enggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir, kanal, dan terusan untuk
m engangkut penum pang danjatau barang yang
diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai dan danau.
c) Jaringan Trayek adalah kum pulan dari trayek yang m enjadi satu kesatuan pelayanan angkutan penum pang danjatau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.
d) Alur Pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalam an, lebar, dan bebas ham batan pelayaran lainnya dianggap am an dan selam at untuk dilayari.
Tersedianya jaringan prasarana angkutan sungai dan danau adalah prosentase jum lah pelabuhan sungai dan danau untuk m elayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek dalam kabupatenjkota terhadap total
kebutuhan pelabuhan sungai dan danau dalam suatu
a) Rum us
Nilai capaian tersedianya pelabuhan sungai dan danau untuk m elayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada trayek dalam kabupaten/kota pada wilayah yang telah dilayari angkutan sungai dan danau dihitung dengan m enggunakan rum us sebagai berikut:
J u m l a h p e l a b u h a n 8 u n g a i d a n d a n a u d a l a m 8 u a t u k a b u p a t e n / k o t a
= --- x 100%
T o t a l k e b u t u h a n p e l a b u h a n 8 u n g a i d a n d a n a u d a l a m k a b u p a t e n / k o t a
b) Pem bilang
Jum lah pelabuhan sungai dan danau untuk m elayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada trayek dalam kabupaten/kota pada wilayah yang te1ah dilayari angkutan sungai dan danau.
c) Penyebut
Jum lah total kebutuhan pelabuhan sungai dan danau dalam suatu kabupaten/kota.
d) Ukuran/konstanta
Persen (% ).
a) Data pelabuhan sungai dan danau dari Kem enterian Perhubungan;
b) Data pelabuhan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan Provinsi;
c) Data pelabuhan sungai dan danau dari Dinas
Perhubungan Kabupaten/Kota.
a) Undang Undang Nom or 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; dan
b) Peraturan Pem erintah Nom or 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan.