STRATEGI EKSPOR DI MASA KRISIS :
PASAR TRADISIONAL ATAU PASAR NON TRADISIONAL?
Saat ini perekonomian global mengalami perlambatan akibat krisis. Dikhawatirkan hal ini berpotensi mempengaruhi perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia. Salah satu indikasinya adalah turunnya angka ekspor Indonesia. Berdasarkan data awal tahun 2012, tercatat bahwa aktivitas ekspor menunjukkan penurunan yang semakin
mengkhawatirkan. Berbagai strategi diupayakan oleh Pemerintah dalam usahanya untuk mengatasi isu tersebut, salah satunya adalah dengan diversifikasi pasar ekspor, yang diyakini oleh beberapa kalangan menjadi salah satu alternatif terbaik dalam upaya mencegah penurunan
nilai ekspor Indonesia.
Batasan baku yang dapat dijadikan acuan secara formil untuk dapat mengelompokkan negara
mana saja yang termasuk dalam kelompok pasar tradisional maupun pasar non tradisional belum ditentukan secara jelas oleh Pemerintah. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa istilah pasar tradisional adalah merujuk kepada negara-negara yang merupakan mitra dagang Indonesia
sejak lama seperti negara-negara di kawasan Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Sedangkan negara-negara di luar kelompok negara tersebut dapat dikategorikan sebagai pasar non
tradisional, yang dinilai lebih potensial bagi pertumbuhan ekspor barang dan jasa Indonesia. Lalu, apakah kelompok pasar non tradisional sebagaimana dimaksud memang memiliki peluang yang lebih menjanjikan bagi ekspor barang dan jasa Indonesia?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu perlu diketahui beberapa fakta penting dalam perdagangan dunia; (i) Besaran permintaan, yang diwakili oleh aktivitas impor dunia.
adalah sebesar US$. 18,38 Trilliun, dimana Eropa mencatat angka tertinggi dengan US$. 6,85 Trilliun (37,2%), yang kemudian berturut-turut diikuti oleh Amerika Utara sebesar US$. 3,09
Trilliun (16,8%), Asia sebesar US$. 5,95 Trilliun 32,3%), Timur Tengah sebesar US$. 664 Milyar (3,6%), Amerika Tengah dan Selatan US$.727 Milyar (3,9%), serta Afrika sebesar US$. 555 Milyar(3,0%); (ii) Tingkat pertumbuhan impor barang kawasan. Masih berdasarkan pada
data yang dimiliki WTO, dengan melihat angka rata-rata tahun 2010 – 2011; kawasan yang tercatat memiliki pertumbuhan paling tinggi adalah Asia dan Amerika Tengah dan Selatan
(keduanya 27,3%), diikuti oleh Amerika Utara (19,2%), lalu Afrika (16,6%) dan Timur Tengah (14,3%). Untuk kawasan Eropa sendiri, walaupun mengalami krisis tetap tumbuh sebesar 16,7%; masih lebih baik bila dibandingkan dengan Afrika dan Timur Tengah. Angka-angka tersebut
menunjukkan bahwa impor di Eropa dan Amerika tetap tumbuh relatif kuat, walaupun tidak dapat disamakan dengan angka pertumbuhan di Asia, namun dapat diproyeksikan bahwa
pembentukan permintaan akan barang impor terbesar tetap akan terjadi di kawasan Eropa dan Amerika. (iii) kapasitas Indonesia dalam memenuhi permintaan akan barang impor dari kawasan-kawasan tersebut. Menurut catatan Bank Indonesia, pada akhir 2011 Indonesia mencatat nilai ekspor sebesar US$. 200,6 Milyar. Ini berarti dari total US$. 18,38 Trilliun impor dunia, pembelian dari Indonesia hanya berkisar 1,10%. Perbandingan yang kurang lebih sama
juga tampak pada ekspor Indonesia ke beberapa kawasan seperti Eropa yang tercatat hanya sebesar 0,34% dari total impor Eropa, ekspor ke Amerika Utara sebesar 0,57% dari impor kawasan tersebut, ke Asia dan Timur Tengah sebesar 2,16% dan ke Afrika sebesar 0,73%. Coba
bandingkan angka-angka tersebut dengan negara lain seperti China misalnya, yang mencatatkan total ekspor sebesar 10,3% dari impor dunia pada tahun 2011, atau total ekspor negara-negara
Dikaitkan dengan fakta-fakta tersebut, wacana bahwa pasar Non tradisional lebih menjanjikan dibandingkan dengan pasar Tradisional terasa belum memiliki pembenaran yang mutlak. Tampak
bahwa potensi permintaan justru datang dari pasar Tradisional. Sebut saja jika permintaan di Eropa dan Amerika Utara tumbuh sebesar 10%, maka itu berarti timbul permintaan baru sebesar hampir US$. 1 Trilliun atau dengan kata lain senilai dengan total impor Afrika dan Timur Tengah
digabung jadi satu. Kemudian apabila dengan menambah target pangsa pasar sebesar 1% saja dari Eropa dan Amerika Utara, maka hampir 1/3 dari target ekspor di tahun 2012 yang berjumlah
US$. 36 Milyar akan dapat terpenuhi.
Krisis yang dialami Eropa dan Amerika membuat para pelaku bisnisnya berada dalam situasi keuangan yang sulit. Cashflow perusahaan-perusahaan, termasuk pelaku impor, menjadi sangat
ketat, terlebih lagidukungan dana yang biasanya diperoleh dari perbankan juga bermasalah. Bank-bank di Eropa dan Amerika jelas sedang tidak berada dalam posisi untuk melakukan
ekspansi dan cenderung untuk menerapkan kebijakan yang terbilang ketat dalam hal penyaluran kredit baru. Alternatif sumber dana modal kerja yang paling memungkinkan dalam kondisi ini adalah kredit yang bersumber dari Pemasok atau bank Pemasok.
Apabila kita cermati dengan seksama, inilah peluang yang cukup baik dalam rangka mengambil alih pangsa pasar negara-negara lain di Eropa dan Amerika. Para eksportir Indonesia dapat
menjadi penyedia modal kerja untuk importir di yang berada di kawasan tersebut. Didukung oleh perbankan nasional, eksportir dapat menyediakan fasilitas kredit pemasok, dengan syarat dan kondisi yang baik yang akan memungkinkan importir Eropa dan Amerika membeli dari
kawasan tersebut, dengan tujuan memperoleh kepercayaan dari para importir di Eropa dan Amerika bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menyediakan pembiayaan baik secara
langsung maupun melalui bank untuk mereka.
Pemikiran bahwa pasar Non Tradisional lebih mudah untuk dimasuki oleh Eksportir Indonesia tidaklah sepenuhnya benar. Jika dilihat secara umum, maka negara-negara yang masuk dalam
kelompok pasar Non Tradisional adalah negara-negara yang secara politis, ekonomi dan hukum belum stabil dan modern; sebagai contoh adalah Amerika Tengah, Amerika Selatan, Timur
Tengah dan Afrika, dimana prinsip coup d’etat adalah hal yang dianggap lumrah. Terlepas dari hal tersebut, isu-isu ekonomi seperti fluktuasi nilai mata uang, lemahnya kapasitas membayar – baik importir maupun bank, juga relatif banyak ditemukan. Hal-hal tersebut tentunya bukanlah
kondisi yang dapat mendukung serta kondusif bagi aktivitas bisnis, terlebih lagi untuk kegiatan ekspor.
Jika bebarapa kalangan mengatakan bahwa tingkat persaingan di pasar Non Tradisional lebih mungkin dimenangkan, hal tersebut tentunya bukanlah cara pandang yang hanya dimiliki oleh Indonesia saja. China, India, Korea, bahkan negara-negara maju pun berlomba untuk
memanfaatkan potensi di pasar Non Tradisional. Kondisi ini membuat pasar-pasar tersebut tidak lagi merupakan pasar yang sepi, melainkan dipenuhi oleh para pelaku yang agresif dengan
pemain-pemain besar yang telah berada di pasar tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama. Adalah bagian dari strategi jangka panjang para pemain-pemain lama untuk mendiversifikasi pasar ekspor mereka, dan bukan hanya merupakan respon sesaat atas permasalahan yang
jaringan distribusi yang luas dan banyak persiapan lainnya. Bukanlah hal yang terbilang mudah bagi pendatang baru seperti Indonesia untuk menghadapi situasi tersebut.
Melihat keseluruhan fakta diatas, tampaknya strategi untuk mengatasi turunnya angka ekspor tidak melulu dapat ditumpukan pada strategi diversifikasi pasar ke pasar Non Tradisional. Persaingan dan kondisi di pasar Non Tradisional ternyata tidak lebih mudah jika dibandingkan
dengan pasar Tradisional. Sebaliknya, pasar Non Tradisional dengan besaran pasarnya yang signifikan dan tingkat pertumbuhan permintaan yang relatif baik, tetap memiliki potensi yang
menjanjikan. Memadukan keduanya tentunya akan menjadi yang terbaik. Diversifikasi pasar adalah keharusan dalam jangka panjang, namun mempertahankan pasar yang ada dan mengembangkannya adalah keharusan untuk saat ini.
Jakarta, 15 Juni 2012
Dilan Sawalius Batuparan
Pengamat Perdagangan Internasional.
Bekerja di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia